Menu
Irfan Afifi
Deskripsi gambar
Bilik
Irfan Afifi
Pendiri Langgar.co sebuah laboratium pemikiran, kajian, dan ruang kreatif penciptaan pada isu-isu kebudayaan dan keindonesiaan.
Semua Tulisan Langgar

“Banser! Selamat datang di abad ke-2 Nahdlatul Ulama.” Begitu kira-kira sepenggal ungkapan Gus Ketum NU dengan pidatonya yang menggelegar di resepsi 100 Abad NU.

Wahai kader-kader PBNU, di abad kedua NU ini kelak di setiap acara-acara PBNU bukan hanya asap udud atau asap dupa saja yang bakal mengepul di udara tapi bakal ada pendatang baru yang ikut serta membumbung ke langit; yakni, selamat datang di keluarga besar PBNU, wahai asap batubara!

Di abad ke-2 Nahdlatul Ulama ini PBNU telah memastikan untuk mengajukan izin tambang. Alasan utama pengajuan ini adalah karena PBNU sedang BU (butuh uang). Untuk menjalankan organisasi sebesar ini tentu saja membutuhkan uang. Wong butuh, gimana lagi?

Ketua Umum PBNU, Gus Yahya, bilang “Masa imajinasi kembangkan sumber daya NU kok iuran warga. Ini gara-gara kelamaan melarat ini.” Ya, kok iuran warga, sih, uang dari tambang batu bara, lah.

Hal ini bermula dari pemerintah Presiden Jokowi yang ingin mencari jalan supaya distribusi pengelolaan sumber daya alam dapat terbagi secara merata. Seperti kita ketahui bersama ada ketimpangan distribusi dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia ini. Perusahaan-perusahaan tambang besar telah menguasai jutaan hektare, kalau dilelang lagi nanti akan jatuh ke perusahaan tambang besar itu lagi, dan enggak akan terjadi distribusi. Pemerintah melakukan ini dengan itikad yang baik.

Dari kenyataan demikian Gus Yahya menjelaskan “maka dijadikan lah ormas-ormas agama itu dijadikan sasaran, tapi sasaran masuk akal. Ormas dipakai urusan agama dan sampai pada umatnya” ucapnya dalam pidatonya di acara ‘Halaqah Ulama’ di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa (11/6) seperti dikutip CNN Indonesia.

Tapi apakah Pemerintah sampai hati untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah yang memberikan kesempatan bagi ormas dan komunitas keagamaan saja. Bagaimana dengan perasaan aktivis-aktivis di organisasi non-keagamaan, semisal teman-teman di komunitas pecinta reptil. Kenapa pemerintah tidak memberikan kebijakan afirmasi untuk mereka, misal dengan memberikan konsesi lahan hutan untuk suaka dan pengembang-biakan reptil-reptil yang dicintai oleh komunitas tersebut.

Atau bila memang usulan tersebut terlalu muluk-muluk dan berlebihan, kenapa Pemerintah harus membagi-bagikan sumber daya alam tersebut kepada ormas-ormas pusat yang ada di Jakarta, kenapa tidak membiarkan warga setempat untuk mengelola ruang hidupnya sendiri? Tentu mereka akan menjaga kekayaan tersebut, ruang hidup yang menopangnya, dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Bahaya Melaratnya Semangat Khidmah

Sebelum ini semangat khidmat Nahdliyin dalam kegiatan-kegiatan yang dilangsungkan oleh NU begitu luar biasa. Gotong royong, patungan, dan iuran, menjadi oli yang menggerakan roda organisasi.

Salah-satunya adalah karena ada kesadaran kolektif bahwa NU tidak mempunyai banyak dana, maka warga tidak keberatan untuk turut serta membantu, mempertebal solidaritas. Dari kita, oleh kita, untuk kita.

Namun, apa yang akan terjadi bila Nahdliyin tahu bahwa PBNU telah memiliki dana dari hasil tambang? Apakah akan tetap semangat untuk berkhidmat secara cuma-cuma? Membayangkan ini menjadi mengerikan.

Lalu bagaimanakah uang dari tambang tersebut akan didistribusikan dalam program-program PBNU, apabila distribusi kelak tidak adil, hal tersebut akan mengikis kepercayaan sosial, kohesi antar Nahdliyin dan bahkan para pengurusnya, serta melemahkan solidaritas. Lebih jauh dari itu akan melemahkan kebahagian dalam ber-NU.

Tentu Para Kiai Tahu Mana yang Lebih Penting

Tentu saja yang terhormat para pengurus PBNU telah mengetahui dampak krisis ekologis yang terjadi akibat dari aktivitas ekonomi ekstraktif.

Toh, sebelumnya, di tahun 2015 PBNU telah mengeluarkan rekomendasi hasil dari putusan bahtsul masail yang tidak memperkenankan eksploitasi berlebihan kekayaan alam, yang menimbulkan mudharat lebih besar.

Para kiai dengan empati yang penuh dan rasa hormat yang tinggi atas batas-batas planet, atas masyarakat di sekitar lokasi penambangan dan bagi generasi yang akan datang, telah bersikap untuk menjunjung tinggi kemaslahatan yang utama. Tentu telah mengetahui apa yang lebih penting.

Apakah kita akan ikut berlari-lari dalam treadmill tak berkesudahan untuk menopang terus pertumbuhan ekonomi, untuk terus membakar fosil, dengan ongkos mahal yang harus dibebankan pada Bumi, masyarakat-masyarakat di pinggiran, generasi yang akan datang, dan lebih umum stabilitas kosmis. Atau kita bergerak menjadi agen utama yang menarik tuas rem darurat krisis ekologis ini.

Di abad ke-2 Nahdlatul Ulama ini, tentu para pengurus PBNU lebih tahu mana yang lebih penting untuk dunia, untuk O Universe dan Ayyuhal’alam. Sebagaimana pidato berapi-api Gus Yahya di resepsi 1 abad NU silam.

“Engkau mengirim surat kepada kami namun tak ada keterangan waktu di dalamnya,” Sayyidina Abu Musa Al-‘Asy’ari menulis kalimat itu dalam sepucuk surat kepada Sayyidina Umar ibn Khattab yang saat itu menjabat sebagai Amirul Mukminin.

Membaca surat balasan sahabat Rasulullah yang juga sahabatnya itu, Sayyidina Umar langsung mengumpulkan para sahabat yang lain. Mereka berembuk untuk merumuskan almanak guna melengkapi administasi kenegaraan dan mempermudah urusan waktu dalam ritual keagamaan. Singkat cerita, pada masa kekhalifahan sahabat bergelar Singa Padang Pasir inilah Kalender Hijriah resmi diterapkan di kalangan umat Islam.

Tahun Hijriah dimulai sejak hijrah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Mekkah ke Madinah. Di Mekkah, Nabi mengajarkan dasar-dasar ketauhidan kepada kerabat dan sahabatnya. Setelah berpindah ke Madinah, Nabi mengajarkan ketauhidan itu diwujudkan dalam sistem-sistem sosial.

Pada periode Madinah, tauhid tidak hanya menjadi pemahaman yang membeku dalam diri, tapi menjadi gerakan sosial dalam berbagai sektor kehidupan manusia. Di Madinah pula Nabi kemudian mengorganisasi masyarakat, menjaga teritorialnya, hingga terbentuklah satu kedaulatan yang hari ini kita istilahkan sebagai negara. Setelah negara terbentuk dan berdaulat, Nabi tidak hanya mengajarkan tata cara bersembahyang, tapi juga menyusun pertahanan militer, menerapkan hukum, serta menjaga stabilitas sosial dan ekonomi rakyatnya.

Suku dan klan-klan yang semula hidup sendiri berdasarkan geneologi kekerabatan, jaringan perdagangan, atau koneksi-koneksi kultural dirangkul dan disatukan oleh Nabi dalam satu panji kemanusiaan berdasarkan ajaran-ajaran Islam. Di Madinah, Islam kemudian menjadi pemersatu bagi apa dan siapa pun yang semula tercerai-berai karena stratifikasi sosial, konflik ekonomi-politik, maupun perbedaan iman. Di Madinah pula lahirlah konsensus, kanun, atau regulasi-regulasi yang disepakati bersama demi terbentuknya harmoni antarmanusia apa pun latar belakangnya.

Hijrah memang hanya terjadi di zaman Nabi, tapi Hijriah terjadi setiap saat. Apabila hijrah bermakna pindah, maka hijriah bermakna kepindahan atau perpindahan. Falsafah yang dapat kita ambil dari peristiwa hijrah adalah hijriah: suatu proses perpindahan dari fase kebaikan yang satu fase ke kebaikan yang lain. Dalam perpindahan ini, kita belajar dari strategi Nabi dan para sahabatnya dalam memproduksi kebaikan demi kebaikan untuk menciptakan keselarasan dan keindahan di muka bumi.

Memproduksi kebaikan, keselarasan, dan keindahan adalah tugas kemanusiaan dan kehambaan. Tiga nilai inilah yang mestinya kita perjuangkan kapan pun, di mana pun, melalui profesi apa pun. Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun, demikianAllah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an.“Sungguh tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” Ibadah, jangan dipahami hanya sembahyang di atas sajadah. Ibadah juga kebaikan, keselarasan, dan keindahan apa pun yang kita serap dari hadirat-Nya, lalu kita perjuangkan di lingkungan sosial masing-masing demi menjaga alam dan kehidupan.

Karena Alam dan kehidupan amanah Tuhan yang mesti kita jaga bersama, maka menjadi manusia-manusia hijriah sungguh keniscayaan. Sebagai manusia, kita bukanlah makhluk yang tercipta kebetulan. Kita bukan entitas yang diciptakan sebatas perangkat-perangkat materi demi mencari kepuasan materi belaka. Kita, ciptaan yang diciptakan dengan ruh, dengan jiwa, dengan spiritualitas, yang dengannya pula kita diminta membangun peradaban keindahan di dunia ini.

Membangun peradaban keindahan bisa kita mulai dari institusi kebudayaan paling kecil tapi sekaligus paling utama: keluarga. Dari keluarga kemudian kampung, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga negara serta antarnegara dan antarbangsa. Proses hijriah inilah yang dilakukan Nabi dalam hijrahnya ke Madinah. Sebuah upaya yang terus-menerus dalam membangun peradaban yang berkeadaban dari struktur sosial yang paling dasar.

Proses hijriah inilah yang dilakukan Nabi dalam hijrahnya ke Madinah. Sebuah upaya yang terus-menerus dalam membangun peradaban yang berkeadaban dari struktur sosial yang paling dasar.

Penamaan hijriah sebagai tahun tidak hanya menandai hijrah Nabi dan kaum Muhajirin dari Mekkah saja, tidak pula sebatas mengingat kemuliaan jiwa sahabat-sahabat Anshar di Madinah saat menerima mereka. Hijriah, proses yang tak kunjung usai dalam memperjuangkan kebaikan, keselarasan, dan keindahan. Hijriah adalah upaya terus-menerus untuk menata alam dan kehidupan dengan nilai-nilai profetik.

Sepanjang tahun Hijriah, selama rembulan masih mengitari alam raya, perpindahan-perpindahan menuju tatanan keindahan sepantasnya terus kita upayakan. Dari yang semula memperjuangkan kepentingan personal, berpindah memperjuangkan kepentingan sosial. Yang menjadi pejabat negara dengan niat memakmurkan diri dan keluarga, berpindah orientasinya demi memakmurkan rakyat dan menjaga negara dari rongrongan bandit dan mafia. Dengan begitu, hijriah tidak hanya beku sebagai nama bagi waktu, tapi menjelma gerakan kemuliaan dalam diri yang berdampak bagi seluruh makhluk di bentala ini.

Pemaknaan tentang hijrah dan hijriah semacam ini perlu kita sadari, kita jiwai, dan kita resapi, karena hijrah Nabi dari Mekkah ke Madinah bukan hanya transmigrasi melainkan transformasi. Dan manusia hijriah adalah manusia yang tak hanya bertransmigrasi dari keburukan ke kebaikan, tapi manusia yang terus bertransformasi dengan cara melakukan kebaikan dan terus menyebarkan kebaikan kepada apa dan siapa pun sebagaimana tuntunan Nabi.

Akhirnya, mengucapkan “Selamat Tahun Baru Hijriah” penting, tapi menjadi manusia-manusia hijriah sungguh jauh lebih penting.

Awal bulan Juni lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri acara Kirab Budaya di Universitas Indonesia. Acara yang mengusung tema “Upaya Pelestarian Lingkungan melalui Kearifan Lokal,” tersebut cukup berkesan bagi saya. Karena harus saya akui, tampaknya baru pertama kali saya mengikuti Kirab Budaya dengan model tradisional semacam ini. Acaranya sederhana, tetapi entah kenapa acara ini cukup menggugah rasa dan kesadaran saya akan model kehidupan (bukan hanya sekedar wacana teoritis) yang selaras antara manusia, alam dengan Tuhan.

Sebelum jauh pada poin yang ingin saya sampaikan. Sebelumnya saya ingin menceritakan sekilas mengenai alur kegiatan Kirab Budaya UI. Dalam acara ini, ada serangkaian acara mulai dari talkshow, workshop, dan Sedekah Bumi (penamanan pohon, pelepasan burung dan bibit ikan) hingga akhirnya ditutup dengan berbagai macam pertunjukkan seni dan musik. Awalnya acara Sedekah Bumi dilaksanakan di pagi hari, kemudian dilanjutkan siang harinya  dengan Sarasehan Budaya dengan narasumber perwakilan adat Suku Badui yaitu Ambu Misna, Pak Yoyo Yogasmana selaku Jambatan Cipta Gelar, Pak Eko Wirid Arengga dan Abah Asep Santana budayawan dari Kabupaten Garut.

Masih dalam suasana asri pagi hari di kampus UI. Acara Kirab Budaya menjadi acara pertama untuk membuka acara Sedekah Bumi dengan berjalan iring-iringan ke hutan UI. Iring-iringan ini, ditemani dengan alunan musik dog dog lajor dari kelompok Ciptagelar. Menurut Pak Yoyo selaku Jambatan Ciptagelar, musik tradisional ini memang biasa mengiringi berbagai macam kegiatan di desa seperti saat musim panen atau saat ada hajatan. Iring-iringan pun akhirnya tiba di hutan UI. Lalu dilanjutkan dengan pentas musik dari Ciptagelar, yang menyuguhkan penampilan musik dengan instrument tradisional (salah satunya yaitu karinding). Dengan lirik berbahasa Sunda, samar-samar saya pahami liriknya seperti puji-pujian untuk Nabi dan rasa terima kasih kepada Tuhan karena sudah memberikan limpahan anugerah.

Pentas musik terus berjalan, perwakilan adat berdiri satu per satu menari mengikuti alunan musik bersama dengan penari lain. Bagi saya yang baru pertama kali ikut acara Kirab budaya semacam ini, awalnya agak kaget dengan model acara semacam ini. Bagaimana tidak, acara penanaman pohon dan talkshow diiringi dengan tarian, musik tradisional lengkap dengan bau dupa disekitar area. Membuat saya menganggap acara ini tidak sekedar formalitas semata, karena saya merasakan ada nuansa spiritual yang dibangun dari suasana ini. Saya bisa merasakannya, terutama dari para perwakilan masyarakat adat yang memainkan alat musik dan menari dengan khidmat dalam acara itu.

Setelah berbagai rangkaian acara iring-iringan dan penanaman pohon selesai, acara dilanjutkan dengan “Sarasehan Budaya” yaitu bincang-bincang di Makara UI dengan para perwakilan masyarakat adat. Sebelum bincang-bincang dimulai, Pak Ngatawi direktur UI memberikan sambutan terlebih dahulu. Ia menyampaikan bahwa Tradisi dan Kearifan lokal adalah sumber mata air jernih yang bisa menjadi jawaban bagi persoalan kerusakan lingkungan yang terjadi sekarang ini. Namun selama ini banyak sumbatan-sumbatan yang menghalangi mata air ini untuk mengalir, sumbatan-sumbatan berupa sampah-sampah peradaban sehingga masyarakat tidak bisa lagi mandi dan bersuci dengan mata air yang bersih. Maka ia berharap acara sedekah hutan UI ini dapat menjadi gorong-gorong yang mengalirkan air jernih berupa nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal.

Budayawan yang tidak pernah lepas dari blangkonnya itu juga menambahkan bahwa ia bersuudzon karena ada insiden pohon hilang pada acara penanaman pohon yang lalu. Bila yang dicuri adalah tulisan UI yang terbuat dari tembaga itu memang pantas dicuri karena akan laku dijual, namun pohon tidak akan bernilai bila dijual kembali. Maka ia bersuudzon ada orang yang menganggap acara seperti ini adalah bidah. Karena sepertinya Pak Ngatawi lelah menghadapi tuduhan bahwa acara model seperti ini dianggab bidah.

“Daripada dituduh terus-menerus akhirnya ya mengaku saja bahwa memang acara sedekah hutan UI adalah acara yang bertujuan untuk mensyiarkan bidah. Karena dengan bidah-lah masyarakat Indonesia mendapat hidayah di abad saat ajaran dari walisongo berkembang. Maka acara sedekah UI juga adalah upaya untuk mensyiarkan bidah syariah agar kita mendapat hidayah.” Ungkap Pak Ngatawi memancing gemuruh tawa dari para peserta talkshow.

Acara talkshow dilanjutkan bincang-bincang dengan para wakil masyarakat adat. Abah Asep Santana dari Kabupaten Garut menceritakan bahwa semua kampung adat yang ada di Garut selalu ada rasa santun kepada alam. Karena alam sudah memberikan sumber-sumber kehidupan bagi mereka. Masyarakat adat tidak pernah menganggap pohon dan air adalah benda mati, namun bagian dari mahluk Tuhan yang senantiasa bertasbih memujiNya.

“Mari kita sama-sama, kita bina lagi, kita tanamkan lagi bahwa semua ini makhluk, tanah yang kita pijakpun ini makhluk. Jangan dianggap benda mati, maka leluhur kita setiap melangkah ia akan selalu bertasbih subhanallah walhamdulillah walailahaillallah Wallahu Akbar La haula wala quwwata illa billahil. Tanah pun bahagia ketika dipijak dengan orang-orang yang selalu bertasbih.”

Abah Asep juga menceritakan bahwa orangtua jaman dahulu bila mengambil buah tidak berani membunuh pohonnya, maka ketika panen dia akan memakai etem (ani-ani) karena merasa tidak enak mengganggu pohon yang sedang asyik bertasbih kepada Allah SWT.

Acara bincang-bincang dilanjutkan oleh Pak Yoyo Yogasmana dari kampung Cipta Gelar. Pak Yoyo panggilan akrabnya mengatakan bahwa ia selama ini hanya menjalani tugas sebagai penerus leluhur yang memang sudah menemukan Kesejatian. Titipan leluhur tidak boleh bercampur dengan ilmu dan perangkat modern, semua harus dijalani secara manual dan tradisional. Misalnya pada prosesi ngunjal yaitu memindahkan padi dari gelumbung padi ke lumbung. Padi harus dipikul dengan orang satu per satu meski di desanya juga ada mobil truk atau kendaraan bermotor. Semuanya itu adalah titipan tradisi yang memang harus dilakukan secara manual. Semua bangunan yang dibangun juga harus berbahan alam beserta dengan tatanan pembagian ruang, struktur bangunan semuanya adalah aturan dari leluhur. Semua memiliki nilai tersembunyi dan filosofi yang terkandung, generasi penerus hanyalah meneruskan titipan dari leluhur dan menggali nilai-nilai keluhuran yang ada di dalamnya.

Saresehan budaya siang itu semakin menarik dan membuat saya semakin penasaran. Abu Misna selaku perwakilan dari Badui juga turut menjelaskan filosofi Badui, melengkapi Abah Asep dan Pak Yoyo. Ambu Misna ditemani oleh anaknya Kang Marno yang kebetulan sedang berkuliah di UI untuk ikut mengisi talkshow. Ambu Misna bilang bahwa ada filosofi adat dari Sunda Wiwitan yaitu “Gunung teu Meunang dilebur, Lebak teu Meunang diruksak” artinya “Gunung tidak boleh dihancurkan, Lebak tak boleh dirusak”. Filosofi ini dipahami oleh suku Badui untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam. Ambu Misna memberikan contohnya bahwa kita harus menanam pohon untuk menyuburkan gunung-gunung biar nggak kena longsor. Kang Marno juga turut menjelaskan contoh penerapan dari filosofi tersebut adalah agar kita tidak sembarangan membangun rumah dan berladang di sembarang tempat. Lebih lanjut Kang Marno menguraikan hikmah dari salah satu aturan “Badui Dalam” dalam bermasyarakat dan menjaga alam, yaitu ada aturan tidak boleh mandi menggunakan sabun karena suku Badui Dalam ada di Hulu sehingga bila mandi memakai sabun, orang yang tinggal dibawah hilir sungai akan memakai air yang tercemar.

Ambu Misna bilang bahwa ada filosofi adat dari Sunda Wiwitan yaitu “Gunung teu Meunang dilebur, Lebak teu Meunang diruksak” artinya “Gunung tidak boleh dihancurkan, Lebak tak boleh dirusak”. Filosofi ini dipahami oleh suku Badui untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam.

Yuthika J

Kang Marno menjawab dengan lugas bahwa saat ini ia belum ada rencana apa-apa namun ia tidak berniat untuk mendorong orang-orang Badui bersekolah ke luar, karena ia menganggap pelajaran di kampus bisa kontradiktif dengan apa yang menjadi filosofi budaya Badui. Dan juga belum tentu orangtua dari anak-anak yang bersekolah bisa bersikap seperti orangtuanya. Orangtua Kang Marno selalu menegaskan untuk tetap memegang nilai-nilai tradisi meski belajar di luar. Bapaknya berpesan “Jangan lupa dengan apa yang harus kita jalankan di Badui”. Maka Kang Marno dituntut untuk selalu pulang setiap minggunya dan mendahulukan acara adat meskipun ada UAS. Kang Marno juga turut menyayangkan ada anak-anak Badui yang suka gaya-gayaan ketika balik ke kampung halaman seperti pakai tindik atau rambutnya dicat pirang. Ia mengakui memang banyak godaan ketika bersekolah diluar untuk keluar dari aturan-aturan Badui. Ia tidak mau teman-temannya tidak lagi menjalani adat istiadat dari Badui.

Pak Kyai Jadul Maula ketua Lesbumi PBNU yang baru turun dari kereta kemudian langsung hadir di acara akhirnya menjadi penutup dari acara diskusi siang itu. Beliau mengatakan bahwa penampilannya hari itu kurang rapih bila dibandingkan dengan peserta dan pembicara. Beliau menyatakan bahwa penampilannya agak kacau karena mengambil baju dan ikat kepala tanpa bercermin dahulu. Sambil berkelakar, bahwa penampilannya saat itu, mungkin mewakili makna Sarasehan Budaya hari ini yang menunjukkan kebingungan masyarakat modern dalam segala carut-marut pikiran-nya. Orang modern hidup dalam kebingungan-kebingungan dan pertikaian tanpa ada contoh bagaimana menjalani kehidupan.

Orang modern hidup dalam kebingungan-kebingungan dan pertikaian tanpa ada contoh bagaimana menjalani kehidupan.

Yuthika J

Dalam kesempatan ini, Pak Kyai Jadul berterima kasih pada para perwakilan adat yang sudah memberikan contoh pada generasi sekarang. Generasi yang saat ini belum kunjung selesai dari segi pikiran, ideologi dan kedaulatan alamnya, masih bingung, meraba-raba dan terangsur-angsur. Pak Kyai merasa beruntung karena akhirnya kita bisa merasakan dari mereka hidup yang sebegitu rupa dalam keutuhan, manunggal dalam kesatuan, tentram dan berdaulat dalam kehidupan. Beliau juga menyatakan apresiasi yang luar biasa karena masyarakat adat masih konsisten, menekuni apa yang mereka yakini dalam menjalani kehidupan hingga terus diwariskan sampai turun temurun.

Masyarakat saat ini  juga ada kerinduan-kerinduan untuk mencari makna kehidupan ke dalam tradisi. Karena melalui tradisilah ternyata kita punya jalan hidup yang lebih utuh dibandingkan situasi sekarang yang justru membuat banyak gejala depresi pada anak muda hari ini. Beliau berharap acara sarasehan ini menjadi awalan, sebagai sebuah strategi kebudayaan dalam menjaga keseimbangan ekologi dalam kerangka menjaga nilai-nilai keindonesiaan.

Tampak api dari lampu teplok menghasilkan kepulan asap yang seolah naik perlahan secara spiral. Tampak kepulan asap membentuk empat figur, yaitu: petani, tentara kolonial, penguasa Jawa, dan putri Jawa. Sayang, pancar cahaya api dari lampu teplok tidak memberikan penerangan yang cukup sehingga sekeliling masih tampak gelap. Penampakan semua itu merupakan gambaran kover buku Kisah-kisah yang Terpendam dalam Pelita (2024) karya sepuluh peserta workshop program Mencari #7 (kelas menulis fiksi sejarah yang diampu oleh Yudhi Herwibowo dan digagas oleh Maysanie Foundation). Gambaran kover buku tersebut meletupkan kepenasaranku terhadap bagaimana sajian setiap api dari lampu teplok yang dimiliki sepuluh peserta.

Dalam buku Kisah-kisah yang Terpendam dalam Pelita, aku mengutip penggalan pengantar pertama, Berbagi Sinau, Sinau Berbagi, dari Sanie B. Kuncoro (pendiri Maysanie Foundation), yaitu: “Materi dalam buku ini adalah cerita pendek bertema sejarah. Kiranya akan menjadi sebuah cara mengulik sejarah dengan beragam misterinya dan menghadirkannya sebagai cerita pendek yang menarik sekaligus menumbuhkan kenangan masa silam.”[1] Lalu, aku mengutip penggalan pengantar kedua, Memendam untuk Menulis Fiksi Sejarah, dari Yudhi Herwibowo, yaitu: “Sejarah yang kita tahu sangatlah luas. Tapi menjadi semakin mengerucut saat kita mulai menentukannya dalam tema yang akan digarap. Para peserta memang masih terpaku pada daerahnya, atau yang terkait dengan daerahnya…”[2]

Aku menghubungkan pembacaan kutipan penggalan pengantar Sanie B. Kuncoro dan Yudhi Herwibowo dengan gambaran kover buku Kisah-kisah yang Terpendam dalam Pelita. Penghubungan tersebut menarik diriku untuk mengibaratkan api dari lampu teplok sebagai cerpen bertema sejarah. Dan aku membayangkan api dari lampu teplok berbahan bakar fakta dan fiksi. Aku memahami bahwa fakta dan fiksi harus tepat diramu oleh setiap peserta agar cerpen bertema sejarah dapat selalu menyala di hadapanku. Juga, aku memahami bahwa fakta dan fiksi dapat memengaruhi pancaran cahaya cerpen bertema sejarah. Dua hal yang aku pahami itu berdasarkan kesadaran pembaca yang menyikapi ketegangan antara fakta dan fiksi dengan menitikberatkan acuan.

Ketegangan antara fakta dan fiksi dalam cerpen bertema sejarah disebabkan kemungkinan aku yang berjarak terhadap peristiwa masa lalu. Apalagi terlalu kental fakta memungkinkan tidak ada kesempatan bagiku untuk urun mengimajinasikan fiksi. Atau, justru terlalu kental fiksi sehingga aku—selaku pembaca—merasa fakta yang disodorkan penciptanya terasa tidak berguna. Sebab itu, titik berat acuan dapat meluweskan diriku agar selalu sadar mana bagian fakta dan fiksi. Perihal titik berat acuan, aku mengingat tulisan Acuan (2) karya Sapardi Djoko Damono yang membahas empat larik puisi Krawang—Bekasi karya Chairil Anwar: “//Teruskan, teruskan jiwa kami/ Menjaga Bung Karno/ Menjaga Bung Hatta/ Menjaga Bung Sjahrir//”. Berikut aku mengutip salah satu paragraf dari tulisan Acuan (2), yaitu:

Dengan demikian, pada hakikatnya dalam karya sastra fakta harus menyesuaikan diri pada dunianya yang baru, yakni fiksi—agar bisa dimanfaatkan sebagai pegangan dalam penafsiran. Fakta harus sudah menjadi pengertian yang ditafsirkan kurang lebih sama oleh anggota masyarakat sehingga tidak merupakan “benda asing” dalam karya sastra. Jadi, acuan dalam Krawang—Bekasi itu sebenarnya tidak berbeda dari yang dipergunakan penyair yang sama dalam sajak-sajaknya yang lain; Eros, Ahasveros, Romeo dan Juliet, adalah mitos, yang fungsinya sama dengan Bung Karno dan Bung Sjahrir. Dalam sastra, nama-nama itu hanya bisa ditafsirkan sebagai mitos; hanya dengan begitu ia bisa diacu dan dipahami.[3]

Kutipan paragraf dari tulisan Acuan (2) di atas telah menginformasikan bahwa nama-nama tokoh (Bung Karno; Bung Hatta; dan Bung Sjahrir) dalam puisi Krawang—Bekasi adalah fakta yang diketahui pembaca. Fakta yang mengandung latar belakang bagi pembaca agar tidak buta menelusuri puisi Krawang—Bekasi. Lalu pembaca menyadari nama-nama tokoh telah berada dalam dunia puisi sehingga mengalami perubahan dari fakta ke fiksi. Meski begitu, aku sempat berpikir apakah ada pembaca yang menolak perubahan itu dan mengembalikan ke awal mula (dari fiksi kembali ke fakta). Atau ada pembaca yang mempertahankan fakta tanpa mengubah ke fiksi. Kalau ada pembaca begitu, aku membayangkan fakta dan fiksi seperti sepasang anjing yang sama-sama lehernya terjerat dan saling menggonggongi.

Meski begitu, aku sempat berpikir apakah ada pembaca yang menolak perubahan itu dan mengembalikan ke awal mula (dari fiksi kembali ke fakta). Atau ada pembaca yang mempertahankan fakta tanpa mengubah ke fiksi. Kalau ada pembaca begitu, aku membayangkan fakta dan fiksi seperti sepasang anjing yang sama-sama lehernya terjerat dan saling menggonggongi.

Apa yang dibahas Sapardi Djoko Damono mengenai acuan pembacaan puisi Krawang—Bekasi bisa aku terapkan pada pembacaan cerpen bertema sejarah. Aku menganggap penerapan bisa terjadi karena cerpen bertema sejarah mengandung fakta dan fiksi. Sekarang, aku memasuki buku Kisah-kisah yang Terpendam dalam Pelita dengan mengambil tiga cerpen dari sepuluh cerpen karya peserta. Tiga cerpen itu hanya perwakilan untuk membahas sinau acuan cerpen bertema sejarah. Aku ingin mengetahui bagaimana tiga cerpen itu menampilkan fakta dan fiksi dengan menitikberatkan acuan. Tiga cerpen itu adalah cerpen Diana Sari, Dia dan Reformasi karya Angelina Enny; cerpen Seorang Penyair Bertandang karya Artie Ahmad; dan cerpen Lukisan Merah Daun Jati karya Puitri Hati Ningsih.

Cerpen Diana Sari, Dia dan Reformasi

Cerpen Diana Sari, Dia dan Reformasi menceritakan Diana Sari—seorang lady companion—yang berakhir mati dibunuh oleh prajurit ninja, anak buah bos perusahaan minyak, di ruang karaoke. Lalu, mayat Diana Sari dibuang prajurit ninja di bioskop yang keesokannya dibakar oleh kerusuhan pada era reformasi. Alasan Diana Sari dibunuh oleh prajurit ninja adalah dia dianggap wartawan investigasi yang menyamar sebagai lady companion untuk memata-matai kegiatan nepotisme yang dilakukan bos perusahaan minyak. Padahal wartawan investigasi yang menyamar sebagai lady companion adalah Dian Rani, kolega Diana Sari yang baru kerja beberapa minggu. Beruntung penyamaran Dian Rani tidak pernah terbongkar. Artinya, pembunuhan Diana Sari salah sasaran.

Sesuai judul cerpen Diana Sari, Dia dan Reformasi, tema sejarah yang diambil adalah era reformasi di Indonesia, atau tahun 1998. Beberapa isu pada era reformasi diceritakan, seperti isu nepotisme: “…Konon, susah sekali menembus kerja sama dengan perusahaan yang sudah dimonopoli oleh keluarga presiden….”[4] Atau, isu kebebasan pers: “Dian Rani bergidik ngeri. Dia mendengar selentingan kabar beberapa kawan wartawannya ditahan, ada pula yang tak pulang…”[5] Juga suasana pada era reformasi lewat diskripsi ini: “Layar televisi di ruang karaoke itu berganti menayangkan berita. Rupanya, si bos sudah bosan bernyanyi. Tertangkap oleh mata Diana yang lentik, beberapa kelompok masyarakat sudah ramai berdemonstrasi siang tadi. Reformasi bergaung di sana sini karena bapak presiden terpilih kembali.”[6]

Beberapa isu dan suasana pada era reformasi membuat cerpen Diana Sari, Dia dan Reformasi bukan sekadar pembunuhan salah sasaran yang diterima Diana Sari. Era reformasi sebagai fakta dalam cerpen tersebut menjadi bumbu yang berefek sensasi bagiku. Sensasi yang menebalkan rasa kasihan terhadap ketidakberuntungan Diana Sari, kesebalan terhadap kelakuan Dian Rani, kemarahan terhadap kejahatan bos perusahaan minyak, serta kengerian terhadap suasana di luar tokoh-tokoh (Diana Sari; Dian Rani; dan bos perusahaan minyak). Ketegangan antara fakta dan fiksi membikin aku bertanya: “Apakah tokoh-tokoh dalam cerpen tersebut memang nyata pada era reformasi?” Entahlah. Tapi aku enggan mengetahui jawabannya agar tidak mengganggu imajinasi terhadap tokoh-tokoh dalam cerpen tersebut.

Cerpen Seorang Penyair Bertandang

Sebaris puisi bahasa Prancis membuka cerpen Seorang Penyair Bertandang. Di bawahnya, ada sebaris puisi bahasa Indonesia, hasil alihbahasa dari sebaris puisi bahasa Prancis, begini: “Ke negeri rempah-rempah pedas dan basah.…”[7] Dan, sebaris puisi (bahasa Prancis dan hasil alihbahasa ke bahasa Indonesia) memiliki catatan, yaitu: “Sebaris puisi milik Arthur Rimbaud, tertulis di plakat rumah dinas walikota Salatiga ditanda tangani oleh duta besar Prancis tertanggal 6 Mei 1997: ‘Arthur Rimbaud datang dan tinggal di Salatiga selama dua pekan, tertanggal 2 sampai 15 Agustus 1876.’”[8] Lewat catatan sebaris puisi, aku mengetahui sosok yang tersurat judul cerpen adalah Arthur Rimbaud. Setelah membaca cerpen tersebut, aku menangkap cerita utama bukan perihal Arthur Rimbaud di Salatiga, melainkan tokoh-aku.

Tokoh-aku, seorang pribumi, dalam cerpen Seorang Penyair Bertandang menginformasikan bagaimana kehidupan sebagai serdadu KNIL di barak, seperti: “…Di sini, kami memanglah membutuhkan asupan tenaga. Hutan-hutan kecil di sebelah selatan harus segera dibuka, gundukan-gundukan tanah harus digali dan diratakan untuk membuka jalan baru….”[9]; “…Sebagai seorang serdadu kami ditempa untuk kuat dan tegar dalam segala macam keadaan, tapi itu tak kulihat di wajah seorang serdadu muda…”[10]; “…Seorang serdadu muda yang baru datang meninggal dunia karena sakit setibanya di barak….”[11] hingga “Tak jauh dari tempat Isaac, aku membuka pintu sebuah bilik. Asap langsung menyapa wajahku. Walter, Hong, dan beberapa teman lainnya telah terlebih dahulu mengisap candu….”[12]

Aku mencatat bahwa tokoh-aku mengaku tidak begitu akrab dengan orang Prancis. Tapi, mungkin gara-gara perilaku Arthur Rimbaud yang terlihat tak bersemangat telah membuat tokoh-aku tertarik. Setelah bertanya kepada Walter, tokoh-aku mengetahui masa lalu Arthur Rimbaud yang seorang penyair. Lain itu, tokoh-aku mendapatkan informasi kepenyairan Arthur Rimbaud setelah berbincang dengan Louis Durant, orang Prancis yang mahir berbahasa Belanda dan sedikit Melayu. Pelarian diri yang dilakukan Arthur Rimbaud pada 15 Agustus 1876 seolah menginspirasi tokoh-aku untuk berbuat serupa. Pada akhirnya, tokoh-aku melarikan diri demi menemui Charlotte, perempuan yang dicintainya. Sayang, tokoh-aku gagal melarikan diri setelah pelor dari tembakan pengejar menghantam kepala belakang.

Cerpen Lukisan Merah Daun Jati

Gusti Saloka—salah satu putra Sinuhun dari garwa ampil—suka melukis lanskap taman. Ada satu tempat yang ingin dilukis oleh Gusti Saloka, yaitu: Keadaan di dalam taman Balekambang. Gusti Saloka tahu bahwa dirinya tidak bisa masuk karena keadaan di dalam taman Balekambang yang sangat tertutup dan terbatas untuk keluarga Mangkunegaran. Kesempatan memasuki taman Balekambang muncul ketika Gusti Saloka ikut Gati—abdi dalem—untuk mengantarkan buntalan kain. Sebelum masuk atau masih di gerbang taman Balekambang, Gusti Saloka meminjam alat lukis kepada Surya—teman sesama pelukis—yang entah kenapa berada di situ. Dan, setelah memasuki dalam taman Balekambang, Gusti Saloka meminta izin kepada Kabul—penjaga taman—untuk melukis.

Putri bertopi beludru sedang duduk di atas perahu dengan tukang pendayung dan mbok pengasuh, serta kijang di pinggir danau, juga sakura Jawa dan bunga flamboyan yang diwarnai merah dari pupus daun jati merupakan hasil lukisan Gusti Saloka. Keesokannya, Gusti Saloka terkejut mengetahui putri bertopi beludru menghilang dari lukisan itu. Gati menenangkan Gusti Saloka agar lukisan itu ditambahkan lagi putri bertopi beludru. Lalu, Gusti Saloka menambahkan lagi putri bertopi beludru di lukisan itu. Gati meminta Gusti Saloka untuk menyimpan lukisan itu di rumahnya. Tapi, Gusti Saloka terperangah mengetahui lukisan itu berada di dalem Kepanjen. Gusti Panji—pengrajin batik tulis—menerangkan bahwa lukisan itu karya pelukis Yogya yang telah dipesan oleh kerajaan Belanda.

Dalam cerpen Lukisan Merah Daun Jati, Gusti Saloka tidak pernah mengetahui lukisannya telah dilaporkan Gati kepada pengageng. Gusti Saloka tidak pernah mengetahui pesuruh dari Raden Mas Lahab—pedagang barang kuno dan kolektor lukisan yang bekerja sama dengan pengageng—mencuri lukisannya dan mengganti dengan lukisan duplikat tanpa putri bertopi beludru. Penduplikat lukisan itu dilakukan Surya. Juga, selain mencuri dan menduplikat, Surya bersama Jahal telah menjalankan tugas dari Raden Mas Lahab untuk plagiasi lukisan-lukisan karya Gusti Saloka. Semua lukisan (curian dan plagiasi) dijual oleh Raden Mas Lahab di pasar gelap. Jadi, aku memahami bahwa Gusti Saloka terlalu lugu untuk menyadari bakat lukisnya selama ini telah dimanfaatkan orang-orang terdekatnya.

Fakta Sejarah dan Cerita untuk Cerpen

Aku membaca esai Sejarah, Cerita, dan Fiksi karya Aprinus Salam yang dimuat di rubrik Halte, Jawa Pos (Sabtu, 16 Maret 2024). Aku merangkum salah satu bagian esai itu, kurang lebih begini: “Sejarah—peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu—mengandung cerita dari sudut pandang atau kepentingan tertentu. Karena itu, cerita (narasi subjektif) tidak bisa menghindari kemungkinan fiksi (imajinasi subjektif). Tapi, fiksi memungkinkan ada cerita yang dinarasikan secara imajinatif-subjektif. Juga, cerita dalam fiksi tetap berhenti sebagai cerita meski terkait fakta sejarah. Bagi penulis sejarah, fiksi pada cerita harus diminimalkan lewat teori dan metodologi agar peristiwa masa lalu bisa ‘dibakukan’.” Lalu, contoh yang diberikan Aprinus Salam dalam esai itu memudahkan aku untuk memahami di mana letak sejarah, cerita, dan fiksi, yaitu:

Sebagai misal, “Arya Penangsang adalah seorang sakti.” Arya Penangsang adalah sejarahnya. Sakti adalah ceritanya, secara sejarah masih bisa dilacak walaupun tidak perlu sesuai dengan kenyataan. Akan tetapi, jika “Arya Penangsang adalah seorang sakti yang tidak ada tandingannya.” Pernyataan “yang tak ada tandingannya” adalah fiksi karena tidak bisa diacu kecuali dalam pernyataan ceritanya itu sendiri.[13]

Apa hubungan antara rangkuman salah satu bagian dan contoh yang diberikan Aprinus Salam pada esai Sejarah, Cerita, dan Fiksi dengan tiga cerpen (cerpen Diana Sari, Dia dan Reformasi; cerpen Seorang Penyair Bertandang; dan cerpen Lukisan Merah Daun Jati) dalam buku Kisah-kisah yang Terpendam dalam Pelita? Hubungan itu adalah ekspektasiku—sebelum membaca tiga cerpen tersebut—akan menghadapi fiksi yang kemungkinan ada pada cerita. Fiksi yang belum diminimalkan pada peristiwa yang hendak “dibakukan” demi kepentingan sejarah. Ternyata, ekspektasiku salah. Setelah membaca tiga cerpen tersebut, aku menemukan cerita dalam fiksi yang dinarasikan secara imajinatif-subjektif dengan pengambilan fakta sejarah. Jadi, tema sejarah dalam tiga cerpen tersebut tetaplah berhenti sebagai cerita tanpa menyinggungnya sebagai sejarah.

Pengambilan fakta sejarah pada tiga cerpen tersebut seolah hanya berkepentingan membentuk latar. Sehingga, aku mengganggap tiga cerpen tersebut dapat berlatar yang sama-rasa-beda-bentuk apabila pengambilan fakta sejarah berganti, misal: era reformasi berganti revolusi Prancis; Arthur Rimbaud berganti Herman Willem Daendels; dan keadaan di dalam taman Balekambang berganti keadaan di dalam kebun binatang Sriwedari. Andai tanpa pengambilan fakta sejarah, latar tidak memengaruhi cerita pada tiga cerpen tersebut. Alasannya, aku masih dapat berimajinasi tanpa pengambilan fakta sejarah, bahwa pembunuhan Diana Sari tetap terjadi karena ketakutan bos perusahaan minyak; tokoh-aku yang hanya butuh alasan kuat untuk melarikan diri; dan penipuan terhadap Gusti Saloka tetap terjadi karena keluguannya.

Tapi, aku tidak menganggap pengambilan fakta sejarah pada tiga cerpen tersebut adalah sesuatu yang buruk. Meski hanya berkepentingan membentuk latar, pengambilan fakta sejarah justru bikin aku dapat menikmati dramatisasi pada tiga cerpen tersebut. Dramatisasi yang mengacu pembunuhan Diana Sari dengan mengetahui situasi era reformasi; keberanian tokoh-aku melarikan diri akibat mengenal Arthur Rimbaud dan situasi Hindia Belanda pada tahun 1876; dan keluguan Gusti Saloka dengan situasi Mangkunegaran sekitar tahun 1921-an. Dramatisasi semakin kental ketika tiga cerpen tersebut menyelipkan cerita, seperti: beberapa isu di era reformasi; kegiatan serdadu KNIL di Salatiga; dan taman Balekambang sebagai hadiah tanda cinta dari Gusti Mangkunegara VII kepada dua putrinya, yaitu: Partini dan Partinah.

Aku menikmati dramatisasi pada tiga cerpen tersebut bukan hanya gara-gara pengambilan fakta sejarah. Tapi, aku turut mengacu pengambilan fakta sejarah dengan keterkaitan latar belakang tokoh pada tiga cerpen tersebut. Memang, secara kebetulan, tiga cerpen tersebut sama-sama menarasikan latar belakang tokoh. Sehingga, aku mengetahui pengalaman buruk yang dialami Diana Sari sewaktu SMP yang pernah dilecehkan pacar dan guru olah raga; tokoh-aku yang patah hati setelah tidak direstui oleh orang tua kekasihnya karena perbedaan status sosial; dan alasan Gusti Saloka dapat lebih akrab dengan Gati daripada saudara-saudara sesama anak Sinuhun dari garwa ampil. Di bawah ini, aku mengutip narasi perihal latar belakang tokoh (Diana Sari; tokoh-aku; dan Gusti Saloka), yaitu:

“Pelan-pelan, dong, Sayang,” kata si bos minyak. Tangannya masih meremas bokong Diana yang sedang duduk di pangkuannya. Diana Sari tidak suka  bokongnya diremas, mengingatkannya pada pacarnya yang kurang ajar di SMP dulu. Guru olah raganya, Pak Agus diam-diam juga ikut meremas bokong Diana yang tubuhnya sudah melebihi keranuman teman-teman seusianya. Diana remaja diam saja, apalagi nilai volinya selalu bagus dan jadi kebanggaan tersendiri di antara mata pelajaran lain di rapornya. (cerpen Diana Sari, Dia dan Reformasi)[14]

…Aku sendiri tak begitu akrab dengan orang Prancis, selama ini aku lebih sering dekat dengan orang Belanda, Inggris atau seringnya dekat dengan kaum Indo-Eropa seperti Lottie Dekker. Perempuan nan manis itu, begitu baik perangainya, namun harus kutinggalkan lantaran hubungan kami tak bisa diteruskan. Orang Tua Lottie tak pernah menghendaki putri mereka bersuami seorang pribumi, meski ibunya dulu seorang gundik namun konon derajatnya telah diangkat selepas James Dekker menikahi gundiknya secara sah. Kutinggalkan Lottie seorang diri dan tenggelam di barak tentara, bagiku kisah dengan Lottie telah berakhir sore itu. (cerpen Seorang Penyair Bertandang)[15]

…Sal adalah salah satu putra dari banyaknya putra Sinuhun dari garwa ampil. Meski putra dalem Sinuhun tapi ia bisa akrab dengan semua abdi dalem termasuk Gati. Mungkin justru karena tidak bisa dekat dengan saudara-saudara lain ibu tersebut sehingga Sal lebih suka menyendiri di setiap acara, seperti pisowanan ageng atau jumenengan yang ramai saat semua keluarga keraton hadir. Gusti Sal ada tapi menepi. Lebih memilih menjadi pengamat dan mengambil yang menggoda hati untuk dipenjara pada kanvasnya. (cerpen Lukisan Merah Daun Jati)[16]

Barangkali bermain cerita dalam fiksi dengan pengambilan fakta sejarah dan penyelipan cerita pada tiga cerpen tersebut adalah materi yang diperoleh peserta workshop program Mencari #7. Materi yang diperoleh itu telah menyajikan tiga cerpen tersebut perihal dunia alternatif untuk melihat sejarah lewat simulasi meng-ada-kan tokoh. Dan, materi yang diperoleh itu turut menjadi pembelajaran bagiku—selaku pembaca—untuk menengok hal yang tidak dicatat oleh sejarah. Hal yang berasal dari manusia kalah (cerpen Diana Sari, Dia dan Reformasi), manusia biasa (cerpen Seorang Penyair Bertandang), dan manusia pinggiran (cerpen Lukisan Merah Daun Jati). Begitulah, aku membaca tiga cerpen tersebut yang termaktub dalam buku Kisah-kisah yang Terpendam dalam Pelita.**

Daftar Pustaka

Angelina Enny, Faridhatun Nafiah, Dkk (2024), Kisah-kisah yang Terpendam dalam Pelita, Surakarta: Maysanie Foundation.

Aprinus Salam (Rubrik Halte, Jawa Pos, 16 Maret 2024), Sejarah, Cerita, dan Fiksi, Hal: 4.

Sapardi Joko Damono (Rubrik Apresiasi, Majalah Sastra Horison Nomor 10 Tahun XXI September 1986), Acuan (2). Hal: 349.


  • [1] Angelina Enny, Faridhatun Nafiah, DKK (2024), Kisah-kisah yang Terpendam dalam Pelita, Surakarta: Maysanie Foundation. Hal: 7.
  • [2] Ibid. Hal: 9.
  • [3] Sapardi Joko Damono (Rubrik Apresiasi, Majalah Sastra Horison Nomor 10 Tahun XXI September 1986), Acuan (2), Hal: 349.
  • [4] Angelina Enny, Faridhatun Nafiah, DKK (2024), Kisah-kisah yang Terpendam dalam Pelita, Surakarta: Maysanie Foundation. Hal: 12.
  • [5] Ibid. Hal: 16.
  • [6] Ibid. Hal: 13.
  • [7] Ibid. Hal: 29.
  • [8] Ibid. Hal: 46-47.
  • [9] Ibid. Hal: 29.
  • [10] Ibid. Hal: 31.
  • [11] Ibid. Hal: 32.
  • [12] Ibid. Hal: 38.
  • [13] Aprinus Salam (Rubrik Halte, Jawa Pos, 16 Maret 2024), Sejarah, Cerita, dan Fiksi, Hal: 4.
  • [14] Angelina Enny, Faridhatun Nafiah, DKK (2024), Kisah-kisah yang Terpendam dalam Pelita, Surakarta: Maysanie Foundation. Hal: 14.
  • [15] Ibid. Hal: 32.
  • [16] Ibid. Hal: 86-87.

Makrifat berasal dari kata ‘arafa’ (عرف) yang berarti mengetahui atau mengenal, makrifat menjadi pengetahuan tertinggi hasil penyaksian dan penyingkapan keberadaan Allah, yang bukan saja melibatkan pengetahuan teoritis dan intelektual, namun mencakup keseluruhan potensi akal dan rohani. Seorang yang mencapai maqam makrifat memiliki pemahaman mendalam tentang Tuhan, alam semesta, sekaligus dirinya sendiri. Makrifat adalah puncak perjalanan spiritual seorang Muslim berupa pemahaman mendalam tentang Tuhan beserta sifat-sifat-Nya.

Pencapaian makrifat membutuhkan latihan spiritual intens, seperti: zikir, tafakkur, dan muraqabah (pendekatan ke Tuhan). Hal itu bertujuan semata-mata untuk mengenal Allah melalui tahapan taubat, zuhud (asketis, pemurnian hati), sabar, tawakal, ridha (penerimaan), dan puncaknya ialah makrifat.

Beberapa tokoh besar Islam mengalami makrifat. Contohnya Rabi’ah Al-Adawiyah (713-801 M), yang sangat mencintai Allah menggunakan istilah hubb (cinta) dalam pengalaman makrifatnya. Abu Yazid al-Bustami (804–874 M) dengan ittihad (penyatuan), Mansur Al-Hallaj (858 – 922 M) yang masyhur dengan pernyataan “Ana al-Haq” (Akulah Kebenaran) menggunakan hulul (Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia yang telah fana, dan lenyap sifat kemanusiaannya). Imam Al-Ghazali (1058-1111 M), mencapai makrifat dengan istilah kasyaf dan menuliskannya dalam karya magnum opus “Ihya Ulumuddin”,  Ibnu Arabi (1165 -1240 M) dengan wahdat al-wujud, makrifat Jalaluddin Rumi (1207 -1273 M) sebagaimana tertulis dalam kitab Matsnawi, dan Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (1077- 1166 M) dalam kitab Manaqib.

Tokoh-tokoh tersebut menggambarkan kisah bagaimana para sufi mencapai maqam makrifat melalui perjuangan spiritual yang panjang dan berat. Meskipun menggunakan istilah yang berbeda, semua merujuk pada pencapaian pengetahuan mendalam tentang Tuhan (makrifat).

Mengalami Makrifat dalam Keseharian

Beberapa kejadian sehari-hari dapat menggambarkan konsep makrifat. Misal memandang alam, matahari terbit, lautan luas, gunung yang megah, dapat menumbuhkan rasa kagum, syukur, dan merasakan kebesaran Tuhan. Seseorang yang merenungi dirinya, asal-usulnya, keunikannya, potensinya, juga dapat melahirkan kecintaan pada Allah. Sebagian yang lain menyadari kehadiran Allah melalui pengalaman religius (Religious experience) dari peristiwa harian biasa. Begitu pula merenungi nasihat agama dan melakukan ibadah salat, zikir, atau membaca Al-Quran dengan penuh kekhusyukan, bisa mengantarkan pada kesadaran Allah hadir dalam hidupnya. Hal ini menggambarkan bahwa makrifat bisa terjadi dan dialami dalam kehidupan sehari-hari melalui refleksi, pengalaman spiritual, dan praktik keagamaan yang dilakukan dengan khusyuk.

Beberapa kejadian sehari-hari dapat menggambarkan konsep makrifat. Misal memandang alam, matahari terbit, lautan luas, gunung yang megah, dapat menumbuhkan rasa kagum, syukur, dan merasakan kebesaran Tuhan.

Para Sufi mencapai Makrifat

Apa yang dapat kukatakan tentang-Mu?

Bagiku, Engkau adalah Segalanya.

Apa yang dapat kulihat selain Diri-Mu?

Bagiku, Engkaulah yang Maha Ada.

Dalam puisi singkat ini Syaikh Abu Sa’id Abu al-Khayr mengungkapkan puncak pengalaman spiritualnya. Ia menyatakan bahwa tidak ada yang dapat ia katakan tentang Tuhan, karena Tuhan adalah segalanya. Ia juga tidak dapat melihat apa pun selain-Nya, karena baginya hanya Dia yang ada. Ungkapan padat mendalam ini menggambarkan pencapaian makrifat atau pengalaman spiritual yang intim dengan Tuhan, sehingga segala yang ada hanyalah manifestasi (tajalli) Tuhan.

Maulana Jalaluddin Rumi menggunakan berbagai simbol dan metafora untuk menggambarkan kesatuan diri manusia dengan Tuhan:

Dunia ini adalah cermin,

Di dalamnya terpancar Wajah Tuhan.

Jika kau memandang dengan mata hati yang bersih,

Maka kau akan melihat Keindahan-Nya.

Aku adalah angin, Engkau adalah daun.

Aku adalah hujan, Engkau adalah bunga.

Aku adalah laut, Engkau adalah ombak.

Aku adalah siang, Engkau adalah terang.

Aku mengenal diriku, maka aku mengenal Tuhanku.

Aku melihat Tuhan dalam setiap yang Ia ciptakan.

Tiada yang lain selain Dia, di mana pun aku menatap.

Dia adalah Satu-satunya, yang Maha Tunggal.

Di sini Rumi menyatakan bahwa barang siapa mengenal dirinya, maka seseorang itu dapat mengenal Tuhannya. Tuhan hadir di setiap ciptaan dan hanya Dialah satu-satunya yang layak disembah dan dicintai. Abu Yazid Al-Busthami menggambarkan pengalaman ittihad (penyatuan) dengan Tuhan-Nya:

“Aku bermimpi melihat Tuhan.
Aku pun bertanya: Tuhanku, jalan apa yang harus kutempuh untuk sampai kepada-Mu?
Tuhan menjawab: Tinggalkan dirimu dan datanglah.”

Para sufi mencapai makrifat yang menjadi puncak pengalaman spiritual mereka, merasakan penyatuan dengan Tuhan, kemudian mendapat kebebasan dari segala keterikatan yang membelenggunya.

Makrifat Tidak Hanya untuk Sufi

Makrifat tidak hanya terdapat dalam tradisi sufi. Meskipun dalam khazanah sufisme pembahasan makrifat lebih dominan, namun konsep ini juga dibahas oleh para ulama dan cendekiawan Islam pada umumnya.

Dalam Ilmu Kalam misalnya, para teolog (mutakallimun) membahas konsep makrifatullah (pengenalan Allah) sebagai bagian dari pembahasan sifat dan zat Tuhan. Dalam hermeneutika Al-Qur’an, para mufasir menekankan pentingnya makrifat kepada Allah untuk bekal komprehensif memahami ayat. Selain itu, ulama fikih juga membahas makrifatullah sebagai fondasi pelaksanaan ibadah dan hukum-hukum syariat. Jadi, konsep makrifat bukan hanya terbatas pada tradisi sufisme, melainkan menjadi bagian integral dari pemikiran dan praktik keagamaan Islam secara menyeluruh.

Makrifat dan Pencerahan

Pencerahan merujuk pada kondisi seseorang yang mencapai pemahaman mendalam tentang suatu hal, yang bisa dicapai dengan berbagai cara. Dalam konteks ini makrifat berbeda dengan pencerahan (terutama yang mengacu pada perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa. Pencerahan (aufklärung, enlightenment) seperti pada gerakan intelektual Eropa pada abad ke-17, yang menekankan akal rasio untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Sementara, makrifat berfokuskan pada pengetahuan rohani, bersifat intuitif, melalui pembersihan jiwa, sehingga bukan saja melahirkan transformasi intelektual tetapi juga spiritual. Jadi meskipun sama-sama pemahaman mendalam, namun akar dan tujuannya berbeda. Pencerahan terfokus rasio dan intelektual, sementara makrifat transformasi spiritual.

Makrifat juga berbeda dengan hidayah, namun berkaitan. Hidayah petunjuk dan bimbingan  Allah, sementara makrifat  pemahaman mendalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya melalui perjuangan spiritual.

Makrifat juga berbeda dengan hidayah, namun berkaitan. Hidayah petunjuk dan bimbingan  Allah, sementara makrifat  pemahaman mendalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya melalui perjuangan spiritual. Hidayah bisa menjadi pintu seseorang mencapai makrifat, dan sebaliknya makrifat juga dapat memperdalam hidayah. Jadi, hidayah adalah bimbingan Allah dan  makrifat adalah pencapaian pengetahuan spiritual tentang-Nya.

Mungkinkah Makrifat di Luar Agama?

Di luar agama ditemukan konsep yang mirip makrifat tetapi dengan istilah berbeda. Misalnya dalam filsafat. Aliran filsafat, seperti platonisme, idealisme, dan fenomenologi, membahas pencapaian pemahaman esensial terhadap realitas, kebenaran, atau hakikat. Dalam sains, para ilmuwan mencapai pemahaman mendalam tentang alam. Mereka mengalami  semacam “makrifat” sains. Dalam psikologi, terutama psikologi transpersonal, terdapat konsep pencapaian kesadaran diri yang searti makrifat. Pun dalam bidang seni, seniman menyingkap dan mengungkap keindahan di balik realitas. Mereka menggapai semacam “makrifat” seni.

Di sini makrifat mengalami perluasan arti dari mengenal Allah menjadi pemahaman mendalam (deep understanding), wawasan intuitif (intuitive insight), pencerahan (enlightenment), penyingkapan kebenaran (unveiling of truth), dan pengenalan esensial (essential knowing). Istilah yang terakhir mengacu pada pemahaman hakikat suatu hal melampaui pengetahuan konvensional. Meskipun istilah-istilah ini berbeda dengan “makrifat”, namun pada dasarnya merujuk ide serupa, yaitu pencapaian pemahaman mendalam melampaui pengetahuan biasa.

Makrifat Seni

Seni telah lama dianggap sebagai media menggapai dan mengungkapkan pengalaman spiritual. Dalam konteks ini, seni tidak hanya menjadi produk mimesis alam, namun juga mengandung pesan keberadaan Tuhan. Sebagaimana dilakukan para seniman besar, Tuhan menjadi sumber inspirasi dan kekuatan terbesar dalam proses pengkaryaan. Seni menjadi sarana menghadirkan ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian batin, sehingga manusia mencapai pemahaman tentang Tuhan melalui pengalaman artistik. Spiritualitas seni kemudian melahirkan getaran religius yang menjadi sumber kebaikan, kesalehan dan kebijaksanaan.

Melalui seni, manusia memperoleh pandangan holistik tentang keajaiban dunia. Seniman memadukan kontemplasi ketuhanan dengan keterampilan artistik mereka, membantu mereka memahami prinsip-prinsip esensial dari keberadaan Allah SWT. Dalam kunjungan ke museum seni, galeri, atau seni pertunjukan seni, orang bukan saja  menyelami langit estetika, tetapi  juga lebih dalam lagi mengalami keindahan spiritualitas.

Makrifat seni merupakan pencerahan spiritual seniman yang terilhami agama, alam, dan peristiwa. Sumber agama melahirkan karya tokoh agama, kisah suci, dan simbol spiritual. Keindahan alam menginspirasi lukisan alam lahir batin yang menakjubkan. Sementara peristiwa atau pengalaman marah, sedih, dan gembira mengilhami tema cinta, kehilangan, harapan, dan rasa sakit dalam celupan pencerahan spiritual. Para seniman menyampaikan pengalaman spiritual mereka dalam karya seni, menginspirasi orang berefleksi dan berpikir tentang hakikat kehidupan, serta hubungan antara manusia, Tuhan dan alam semesta.

Makrifat dalam seni merupakan ekspresi spiritual yang indah. Karya seni makrifat memiliki potensi transformatif yang dapat membangkitkan spiritualitas, inspirasi, kedamaian dan ketenangan penikmatnya. Seniman yang mendedikasikan karyanya untuk mengungkapkan pengalaman batin berperan mempromosikan nilai-nilai universal seperti cinta, kasih sayang, perdamaian, serta penghormatan.

Bukit Makrifat adalah metafora perjalanan spiritual menggapai pencerahan batin. Setiap langkah diwarnai rintangan yang menimbulkan keraguan dan ketakutan. Sebuah perjalanan yang penuh rintangan sekaligus keajaiban dan keindahan. Semakin tinggi mendaki semakin tipis kabut menyelimuti. Pada puncak pendakian, terhampar panorama luar biasa: luasnya samudra pengetahuan, kilauan bintang kebijaksanaan, dan kehangatan cinta Ilahi:

Pada kedalaman tafakurnya, tiba-tiba segala sesuatu terlihat sebagai Allah.

Apa pun Allah. Segalanya Allah, Allah segalanya.

Kebebasan dan ketenangan meliputinya.

Tak lagi terikat ruang waktu, keinginan dan kecemasan.

Ia fana, lebur, menyatu dengan-Nya.


Editor: Mohammad hagie

Ilustrator by Emad Rizk

Banyumas atau yang dahulu bernama Wirasaba, memiliki sejarah yang panjang. Penelusuran sejarahnya dapat ditelisik dari historiografi (Babad Banyumas). Pengkajian Babad Banyumas terbilang pekat berkat kerja-kerja riset dan penerjamahan oleh: Soegeng Priyadi dan Nassirun Purwokartun. Membincang perihal babad, ia merupakan karya sastra berbahasa Jawa yang mengisahkan peristiwa-peristiwa bersejarah, seperti peperangan dan kepahlawanan. Secara etimologis, babad bermakna “tebang, buka, riwayat, sejarah”. Isi cerita babad memang mengandung sejarah, tetapi tidak selalu mengandung fakta. Banyumas memiliki babad yang sangat melimpah. Dalam penelitian Soegeng Priyadi, sekiranya terdapat 62 naskah Babad Banyumas atau 12 versi (lihat Babad Banyumas dan Versi-Versinya, 2006). Beragamnya Babad Banyumas ditengarai adanya kecenderungan dari para keluarga penguasa (bupati) sebagai legitimasi kekuasaan. Bisa dibilang isi cerita babad memang mengandung sejarah, tetapi tidak selalu mengandung fakta. Sebab babad merupakan perpaduan antara fakta sejarah, kepercayaan, dan mitos. Demikianlah babad, “betapapun memang campuran data, dongeng, pelipur lara, dan pembenaran kekuasaan, pewarisan nilai-nilai,” kata Goenawan Mohamad.

Muasal Sebuah Kota: Banyumas

Dalam naskah Wirasaba diceritakan, sekira abad 15 berdiri sebuah kadipaten di bawah Kerajaan Pajang bernama Wirasaba. Kadipaten Wirasaba dipimpin oleh Adipati Warga Utama 1 atau Raden Bagus Swarga. Ia memiliki 4 anak: 1) Rara Kartimah; 2) Ki Ngabehi Warga Wijaya; 3) Ngabehi Wira Kusuma; 4) Rara Sukartiyah. Putri Sulung (Rara Kartimah menikah dengan Raden Joko Kahiman), sedang putri bungsu (Rara Sukartiyah). Muasal berdirinya Kabupaten Banyumas terjadi pada era Kerajaan Pajang. Kala itu, Sultan Pajang menginginkan putri Adipati Warga Utama (Wirasaba) untuk dijadikan pelara-lara (penari serimpi di keraton dan bisa diambil selir oleh raja). Setelah putri Adipati Warga Utama diserahkan, munculah pemberitaan dusta. Adalah putra Demang Toyareka yang melapor: putri Adipati Wirasaba merupakan perempuan yang telah beristri. Mendengar berita tersebut Sultan Pajang tersulut marah. Ia serta merta menyuruh utusan untuk membunuh Adipati Wirasaba (lihat Sejarah Kota Banyumas 1571 Hingga Kini, 2018:107).

 Sultan Pajang (Sultan Hadiwijaya) teramat menyesali perbuatannya. Ia kemudian mengundang para putra Adipati Wirasaba ke Pajang. Dari berbagai putra Adipati Wirasaba, hanya menantunya (Joko Kahiman) yang berani menghadap Sultan Pajang. Demi menebus kesalahannya, Sultan Pajang melantik Joko Kahiman sebagai Adipati Wirasaba. Ia kemudian membagi wilayah kadipaten menjadi empat yakni : Senon, Wirasaba, Toyareka, dan Pasir. Wirasaba inilah muasal Banyumas (lihat Menuju Keemasan Banyumas, 2015:126). Seiring berjalannya waktu, Banyumas yang semula diurus Kerajaan Pajang, beralih tangan ke kerajaan Kasunan Surakarta. Waktu itu wilayah Karisedenan Banyumas meliputi: Kabupaten Purbalingga; Kabupaten Banjarnegara; Kabupaten Banyumas; Kabupaten Cilacap; dan Kabupaten Purwokerto. Baru pada zaman kolonial Banyumas dijadikan kota Residente (Karisedenan) sekaligus Ibu Kota Kabupaten Banyumas. Segera pemerintah kolonial melakukan pembangunan di sekitar Ibu Kota Kabupaten Banyumas.

Untuk mencandra Banyumas di masa lalu, saya akan menceritakan kisah-kisah mainstream yang ada. Pasalnya, hal semacam itu sayup dalam sejarah. Perubahan status Banyumas, yang pada dasarnya merupakan akal-akalan administratif, yang tidak mengubah gaya pemerintahannya. Ujung-ujungnya Banyumas tetap diperintah sebagai daerah wilayah barat mengingat jaraknya yang jauh dari ibu kota dan susunan pemerintahannya. Banyumas yang asli sudah diperintah sebagai provinsi wilayah barat Surakarta sampai 1773, ketika kedudukannya diubah menjadi bagian Negara Agung demi melegakan perasaan Sultan Mangkubumi yang keberatan bahwa Yogya menguasai sedikit saja daerah di ujung barat wilayah Mataram lama.

Wilayah Banyumas dahulu merupakan daerah “Mancanegara Kulon” dari kerajaan-kerajaan Jawa sejak: Majapahit; Demak; Pajang; Mataram; Kartasura hingga Kasunanan Surakarta. Pasca Perang Jawa (1825-1830), Kadipaten Banyumas dilepaskan dari kekuasaan Kasunanan Surakarta dan menjadi wilayah kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda pada 1830. Bagi kolonial, menumpas Perang Jawa sama halnya melindungi kepentingan 2 kerajaan: Kerajaan Yogyakarta dan Kerajaan Surakarta dari pemberontakan oleh kerabat kerajaan (Pangeran Diponegoro). Kerugian besar diderita oleh pihak kolonial nyaris dibebankan kepada pihak kerajaan. Akhirnya, sebagai tebusan pihak kolonial meminta wilayah “Mancanegara Barat”: Banyumas dan Bagelen, dan “Mancanegara Timur: Kediri dan Madiun.

Wilayah Banyumas dahulu merupakan daerah “Mancanegara Kulon” dari kerajaan-kerajaan Jawa sejak: Majapahit; Demak; Pajang; Mataram; Kartasura hingga Kasunanan Surakarta. Pasca Perang Jawa (1825-1830), Kadipaten Banyumas dilepaskan dari kekuasaan Kasunanan Surakarta dan menjadi wilayah kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda pada 1830.

Banyumas dalam Cengkraman Kolonial

            Sebelum jatuh dalam cengkraman kolonial, Banyumas merupakan daerah yang sangat terisolasi. Beratus-ratus tahun, Kota Banyumas tak gampang diakses sebab terkungkung oleh pegunungan terjal yang terbelintang di sepanjang sisi utara dan selatan, diiris lembah Sungai Serayu. Kota Banyumas merupakan salah satu kota di lembah Sungai Serayu yang memiliki hulu di pegunungan Dieng serta bermuara di Samudera Hindia. Sungai Serayu membelah wilayah Banyumas. Selain itu, wilayah Banyumas juga merupakan wilayah dengan gunung-gunung dan bukit-bukit sehingga cukup merepotkan untuk dijangkau wilayah-wilayah tertentu. Posisi Banyumas strategis bagi daerah-daerah sekitar Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen. Akan tetapi dengan kondisi geografis yang demikian, wilayah Banyumas yang berada di pinggiran Sungai Serayu diberkahi kesuburan tanah yang bagus dan subur. Karena itulah ada ungkapan yang galib terdengar: “cedak gunung, adoh ratu”. Artinya : dekat dengan gunung (kemakmuran), jauh dari pusat pemerintahan (Kerajaan Surakarta). Perihal Gunung Slamet dan Sungai Serayu, saya terngiang lagu keroncong yang menjadi bel kedatangan kereta di Stasiun Purwokerto, “Di Tepi Sungai Serayu” karya penyanyi Banyumas: Soetedja Poerwodibroto. Begini :

“Gunung Slamet nan Agung,

 Tampak jauh di sana, bagai sumber kemakmuran serta kencana,

Indah murni alam semesta,

Tepi Sungai Serayu,

Sungai pujaan bapak tani,

Penghibur hati rindu”.

Sungai Serayu turut memberikan berkah terhadap Kota Banyumas menjadi kota tepi sungai, meski tak sebesar sungai Bengawan Solo, tapi tercatat dalam sejarah transportasi Banyumas. Saya membayangkan, Banyumas yang konon berasal dari sungai kecil di perbatasan Desa Kalisube dan Desa Dawuhan. Sungai ini bernama Sungai Banyumas sebab menghanyutkan kayu berwarna tembaga. Pertemuan antara Sungai Banyumas dan Sungai Pasinggangan menjadi patokan awal letak Banyumas. Kemudian banyaknya sungai di sekitar Kota Banyumas saya amsalkan “Venesia di Mancanegeri Kilen”. Meski soal kemiripan dengan “Venesia yang sejati”, entahlah. Bukan hal yang tak mungkin jika zaman dahulu sungai menjadi lintasan transportasi. Ingatan saya melayang pada Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) menaiki gethek di Sungai Bengawan untuk menemui Sutawijaya. Kota Banyumas, dikenal sebagai kota perdagangan. Dalam hal ini, Sungai Serayu yang memainkan denyut transportasi perdagangan.


       Peta Kota Banyumas tahun 1920-an (Sumber: troppenmuseum.nl)

Kompleks Kota Banyumas 1948 (Sumber : freisfotoarchief.nl)

Barangkali itulah salah satu pertimbangan Belanda menjadikan Kota Banyumas sebagai ibu kota. Bayangan Ibu Kota Banyumas oleh Kapten Godfrey Phipps Baker (1786-1850) : sebagai yang terpenting di antara kota-kota wilayah barat dalam hal penduduk dan sumber daya. Diperintah oleh dua bupati setempat yang berpengaruh, ibu kota ini sangat menderita akibat kesewenang-wenangan Bupati, Wedana, Kepala Pemerintahan provinsi wilayah barat terdahulu. Kepala pemerintahan ini, Raden Tumenggung Yudonegoro, yang kemudian dipecat dari jabatannya menyusul persekongkolan Sepoy di Jawa Tengah Selatan, September-Oktober 1815. Digambarkan sebagai tokoh paling hitam oleh Residen Inggris di Surakarta, Mayor Jeremiah Martin Johnson: Bila ia berada di Banyumas, waktunya dihabiskan untuk main judi atau main tandak (perempuan, penari, pelacur), sementara tugas memerintah kabupaten yang terluas di wilayah kekuasaan kaisar (sunan), sama sekali ditelantarkan atau diserahkan kepada putra-putra dan orang suruhan, yang semua sama borosnya bermewah-mewah, yang dipikirkannya hanya bagaimana menguras duit dari penduduk untuk membiayai kesenangannya. Akibatnya, pertanian dan perniagaan banyumas terlantar (lihat Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855, 2011: 24).

Pada paruh abad 18, Banyumas mengalami modernisasi melalui politik etis. Bermula dari buku Van Deventer berjudul “Utang Budi” yang mengkritik atas penderitaan negara jajahan Belanda, Ratu Wilhelmina lantas membuat sebuah kebijakan: politik Etis. Politik etis yakni sebuah politik balas budi (Trias Van Deventer): irigasi, emigrasi, dan edukasi. Setelah penerapan politik etis pembangunan di Banyumas semakin signifikan, di antaranya: infrastruktur transportasi; industri; irigasi perkebunan; fasilitas pendidikan; fasilitas kesehatan; hingga arsitektur kota Banyumas.

Suasana Kota Lama Banyumas. (Sumber : freisfotoarchief.nl)

Dalam pengembangan infrastruktur transportasi, pada pertengahan abad 19 dibangun jalan post (post weg) Banyumas-Buntu-Gombong-Rawalo. Kemudian jalan-jalan darat lain bermunculan dan bercabang serupa ranting pohon. Pihak kolonial juga membagun transportasi modern: rel keret api (Trem Serajoedal Stoomtram Maatschappij) pada Mei 1895. Proyek rel ini dipimpin oleh Ir. C. Groll, melintasi pada tiap-tiap pabrik gula yang merentang Banyumas-Banjarnegara-Cilacap-Purwokerto. Namun, rel ini tidak melintas di daerah Ibu Kota Banyumas, sebab pihak kolonial memproyeksikan sebagai kepentingan ekonomi, bukan pemerintah. Belanda membuat kota Banyumas menjadi menjauhi tepian sungai: memilih keramaian dengan banyak membangun jalur darat dan rel kereta api. Lagi pula, transportasi darat yang dibangun kolonial tetap menyusuri Sungai Serayu. Pengembangan Pendidikan: Pemerintah Kolonial membangun Holland-Indies School (HIS), di belakang HIS dibangun Kazerne Politie (tangsi polisi Belanda), di sebelah barat HIS dibangun gedung Inlander 2e School (Sekolah Ongko Loro). Pengembangan Kesehatan: pada 1925 Pemerintah kolonial membangun rumah sakit Julianna, yang sekarang dikenal RSUD Banyumas.

Pada 1836, Residen De Seriere membuka akses Kota Banyumas, membangun kanal yang kemudian dinamakan Kali Yasa. Jadilah Banyumas menjadi sebuah kota dalam rancang kolonial. Arsitektur: pemerintah kolonial Belanda berhasrat membangun Kota Banyumas dengan gaya arsitektur Eropa. Sebelum Kota Banyumas dalam kekuasaan Belanda, bangunan rumah warga ialah tradisional Jawa Banyumasan (tidak sama dengan bangunan Yogya dan Solo). Pasca kedatangan Belanda bangunan tradisional Jawa Banyumasan itu tereduksi bangunan berasitektur kolonial. Dalam esai di langgar.co “Bangunan Besar di Kampoeng Londo Gresik” (2023) karya Aji Ramadhan. Begini: “arsitektur kolonial merupakan proses adaptasi mereka agar mampu bertahan hidup di lingkungan yang jauh dari asalnya”. Dalam perkembangannya, mungkin saja seseorang yang bukan londo dan menginginkan berbagai kebutuhan ruang, lebih mendirikan bangunan berarsitektur Belanda daripada bangunan tradisional Jawa Banyumasan.

Kota Banyumas adalah kota lama yang masih memperlihatkan corak tata kota tradisional Jawa yang ditunjukan dengan keberadaan alun-alun, yakni lapangan terbuka yang pada bagian tengahnya ditanami dengan sepasang pohon beringin. Alun-alun lebih dari lapangan terbuka saja. Ia menjadi semacam pelataran sakral yang mengamsalkan keserasian antara langit yang disimbolkan dengan pohon beringin dan bumi yang disimbolkan dengan pasir halus (Handinoto, 2015). Sebagai sebuah kota yang memiliki sejarah panjang sejak zaman kerajaan-kerajaan nusantara, pola tata ruang pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas menunjukan filosofi kuat antara manusia dan alam. Ada semacam garis lurus imajiner antara gunung (baca: Gunung Slamet); pusat pemerintahan (baca: Pendopo Kabupaten, Kantor Karesidenan) dan laut (baca: Pantai Selatan).  Pendopo Kabupaten menghadap ke arah selatan, berseberangan dengan alun-alun, di sebelah barat alun-alun terdapat Masjid Agung Banyumas dan Kampung Kauman Pemerintah  kolonial membangun gedung penjara di sebelah timur, antara alun-alun dan pendopo kabupaten.Di antara jalan yang menghubungkan pendopo kabupaten dan kantor residen dibangun gedung Societeit Harmonie, gedung tempat bersosialisasi dan rekreasi bagi kalangan elit di Kota Banyumas.

Dalam amatan Ronald. G Gill, Kota Banyumas adalah wujud tata kota tradisional Jawa yang masih terpelihara dengan baik, bahkan bila dibanding Yogyakarta atau Surakarta. Tata kota Banyumas benar-benar masih murni dan antik, belum ada sentuhan tata kolonial modern yang diperkenalkan oleh arsitek-arsitek pendatang dari Eropa seperti Kotabaru di Yogyakarta dan Villapark di Surakarta (Lihat De Indische Stad op Java en Madoera, 1994). Satu-satunya bangunan Eropa hanyalah rumah Residen dan itupun letaknya jauh di selatan kota, tidak mengganggu tata letak bangunan yang dibangun sebelum kekuasaan pemerintah kolonial. Dalam pada itu, Gill menggolongkan Banyumas ke dalam jenis kota Oud Indisiche Stad, kota indis lama. Kota Oud Indische Stad adalah kota yang memadukan unsur kota tradisional Jawa dengan kota kolonial. Jenis kota Oud Indische Stad muncul pasca pemerintahan kolonial memberlakukan tanam paksa pada tahun 1830an. Untuk mendukung kegiatan eksploitasi, pemerintah kolonial menempatkan pegawai-pegawai kolonial di kota-kota yang sudah lama menjadi kedudukan penguasa lokal.

Ciri dari kota Oud Indische Stad ditandai dengan adanya kediaman bupati dan residen yang letaknya terpisah. Terletak di sebelah utara alun-alun, terdapat kompleks yang disebut kabupaten. Berbeda di masa sekarang dimana sebutan kabupaten merujuk pada satuan wilayah di bawah provinsi, di masa lalu kabupaten juga menjadi sebutan untuk kediaman bupati. Pada era Jawa pra-kolonial, bupati merupakan kepala daerah di wilayahnya sekaligus seorang abdi kepada raja yang lebih senior. Kekuasaan seorang bupati tidak dihitung dari seberapa luas wilayah yang di milikinya, namun dari seberapa banyak rumah tangga atau cacah. Sebagai bentuk “penghormatan” terhadap masyarakat pribumi, pada masa kolonial kedudukan bupati masih dipelihara dengan memasukan mereka ke jajaran birokrasi kolonial. Para bupati diberi wewenang mengatur nasib rakyat kecil seperti halnya penguasa negeri, namun ketundukan mereka yang semula kepada Raja Jawa kini dialihkan kepada Ratu Belanda. Gengsi sebelum era kolonial juga dijaga sebagai cara agar mereka bergantung kepada pemerintah kolonial. Dapat dikatakan, mereka semacam berada di perbatasan antara kepala negeri dan pamong pemerintah (Lombard, 2018). Gemerlapnya jabatan bupati dapat dilihat dari mewahnya kediaman mereka yang menjadi bagian utama tata kota kolonial.

Sekelompok militer Belanda berdiri di sisa lantai Pendapa Si Panji menghadap bekas rumah Bupati Banyumas pada tahun 1947(Sumber : freisfotoarchief.nl)

Banyumas sebagai salah satu kota lama di Jawa menempatkan kediaman penguasa sebagai inti kota. Bangunan ini didirikan pada masa Tumenggung Yudanegara yang bertahta sekira (1708-1743). Perombakan yang senantiasa dilakukan oleh penerusnya menjadikan sulit untuk mengetahui bentuk asli dari bangunan kabupaten banyumas. Kini, bekas kediaman Bupati Banyumas dimanfaatkan sebagai kantor kecamatan Banyumas. Meskipun turun status, namun sisa keagungan Kabupaten Banyumas masih dipertahankan dengan baik. Secara umum, semua kota-kota kolonial memiliki persamaan, yakni fakta bahwa mereka terbagi menjadi dua bagian: pertama, bagian yang berasal dari penduduk/budaya lokal; kedua, bagian yang merupakan hasil dari cipta karya/budaya pendatang/orang asing, karena proses dari imposisi kota yang mereka hasilkan. Oposisi antara belahan campuran & asing ini berakar pada sifat komunitas kolonial yang menekankan, dan karena hal ini, kota-kota kolonial sering kali dikarakterisasikan sebagai duality atau kota ganda.

Lehman (2008) menjabarkan tiga elemen dari penyusunan kota: kraton; ruko; dan Benteng yang mengatur sebuah konfigurasi yang bisa dianggap umum bagi kota-kota kolonial di Indonesia. Kota Banyumas memiliki beberapa kelompok permukiman, antara lain: kauman; kepatihan; kepangeranan; pacinan; dan permukiman Eropa. Kawasan kauman berada di sebelah barat Masjid Nur Sulaiman, sementara kepatihan dan kepangeranan berada di sekitar tempat tinggal patih dan pangeran. Pacinan atau tempat tinggal kelompok masyarakat Tionghoa berada di dekat pasar Banyumas dan Sudagaran. Salah satu rumah bergaya Tionghoa di Sudagaran memperlihatkan serambi depan yang lumayan besar. Pada tahun 1850, jumlah penduduk Tionghoa di Banyumas sudah mencapai 200 jiwa. Dahulu selain berprofesi sebagai pedagang, orang Tionghoa di Banyumas juga menjalankan usaha batik. Sementara itu, orang-orang Eropa tinggal di sepanjang Jalan pengadilan lama mengarah ke Sungai Serayu.

Pemerintah kolonial juga turut memasang benteng-benteng kecil di Kota Banyumas. Pengisahan P. Bleeker (1846): benteng tersebut diperkuat sesudah Perang Jawa karena militer Belanda saat itu sedang menyiapkan strategi pertahanan Pulau Jawa untuk menahan serbuan bangsa asing. Pada 1846, benteng tersebut pernah menjadi markas untuk pasukan  Jayeng-Sekar , pasukan keamanan. Kota Banyumas pada 1846 memiliki 26 pasukan Jayeng Sekar. Tujuan pembentukan Jayeng Sekar adalah untuk menyerap penggangguran dari anak-anak elit pribumi yang tidak tertampung dalam birokrasi kolonial dan mengisi kekurangan tenaga keamanan. Mereka diberi pelatihan militer, senjata, dan kuda. Mereka inilah yang menjadi cikal bakal dari satuan kepolisian di masa kolonial. Institusi keamanan kemudian digantikan dengan datasemen velpolitie atau polisi lapangan yang menempati markas di tenggara kota (Verslag BOW 1921-1924).

Peralihan Pusat Pemerintahan: Kota Banyumas- Kota Purwokerto

            Pada 1937, di masa pemerintahan Bupati Banyumas, K.P.A.A Gandasoebrata, Ibu Kota Banyumas beralih ke Purwokerto. Peralihan ini berasal dari kebangkrutan pabrik-pabrik gula; lesunya komiditi ekspor perkebunan; geografis Banyumas. Tentang tenggelam dan munculnya kota, saya teringat dengan cerpen Raudal Tanjung Banua “(Hidup) Matinya Sebuah Kota” (Jawa Pos, 15 Juli 2012). Dalam cerpen tersebut Raudal menceritakan bagaimana kota-kota itu memilki biografi, ciri fisik, dan wataknya sendiri. Pendek kata kota itu seperti makhluk hidup, dan karena itu bisa mati. Kiranya pasang-surut, hidup-matinya kota, terjadi sebab beberapa siklus. Penyebabnya beragam. Mulai tangan panjang kekuasaan bertangan panjang yang mencomot setiap jengkal, apakah bedanya? Habisnya sumber daya alam, berubahnya peta dan jalur utama sampai keroposnya kebijakan lokal, mungkin juga bencana yang membuat karam.  Tepat 1861 kota Banyumas nyaris ditelan air banjir sungai Serayu. Peristiwa ini galib dikenal hikayat “Blabur Banyumas”.

Konon, kedahsyatan banjir sekira 3,5 meter, dan melibas kawasan Kabupaten dan Pendopo Sipanji. Karena itulah ungkapan yang lazim dalam cerita rakyat “besuk bakal ana bethik mangan manggar” (ikan bethik makan bunga kelapa) Pencandraan banjir Banyumas diabadikan melalui lukisan Raden Saleh berjudul “Eene overstrooming op Java” (suatu banjir di Jawa).

(Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:A_Flood_on_Java)

Ekses banjir Banyumas dicatat oleh William Barrington D’Almeida (1861), dalam safari ke Banyumas, Kedu, dan sekitarnya. Konon, banjir berselang pada 21-23 Februari 1861. Dalam lukisan kita melihat: wedana yang meminta bantuan; anak laki-laki dengan sorot mata yang ketakutan; perempuan tua yang memeluk erat leher putranya, dan beberapa orang yang berusaha berenang menyelamatkan diri. Lukisan ini menjadi bukti kedahsayatan banjir sekaligus penanda bahwa Banyumas rawan banjir.

Ibu Kota Banyumas (Kota Banyumas) terpaksa dipindah ke Kota Purwokerto. Kata Purwokerto berasal dari “purwo” yang artinya wiwitan atau asal muasal, dan “kerto” yang artinya kemakmuran, jadi purwokerto: awal; mula kemakmuran. Peralihan ini menjadikan Kota Banyumas menjadi ibu kota kecamatan Banyumas, sedangkan Purwokerto menjadi ibu kota Kabupaten Banyumas sekaligus kota penyanggah (hinterland) bagi Banyumas dengan beberapa alasan sejarah: industri; tempat wisata; sarana transportasi; pabrik dan sebagainya. Kota Banyumas Kota tanpa terminal? Lihatlah bus-bus dari Jawa maupun luar Jawa selalu mencantumkan Purwokerto sebagai trayek utama. Orang rantau akan tahu Purwokerto ketimbang Banyumas. Oleh karenanya, Banyumas menjadi kota kedua yang dirujuk setelah menyebut nama kota “induk”. Tersebutlah Banyumas, ingatan pembaca melayang ke Purwokerto, kota mungil dengan deretan kampus-kampus, yang berlari menjadi kota pelajar. Kampus (swasta dan negeri) banyak bercokol; Lembaga kursus (swasta dan negeri) kian bersemai; ruko-ruko berdesak-desakan. Kota Purwokerto mencipta banyak jalan dan persimpangan. Jalan purwokerto: jalan kecil yang punya hasrat terlalu besar, semua bernafsu tumbuh di sisinya, tak kenal ruang, tak kenal waktu. Meminjam istilah J.J, Helsdingen (1928) : masalah jalan adalah masalah hidup matinya kota.

Begitulah, ada begitu banyak kota yang dulu jaya, kini surut, hilang gema. Kota-kota kecil di Banyumas muncul berebut tumbuh, sebut saja: Ajibarang; Sokaraja; Baturraden; Kota Lama Banyumas. Ajibarang tumbuh dengan jalan-jalan membujur lapang. Kota ini memilki sumber daya alam berupa sawah yang luas, perkebunan, dan tanah yang subur. Kota ini mulai dicaplok industri: pabrik semen.  Sokaraja tumbuh manis dengan industri pangan dan sandang. Kota ini juga pernah menyandang kota lukis. Baturraden, kota kecil yang permai, dikelilingi sawah bertingkat, air terjun dan bukit biru. Destinasi wisata tumbuh mekar menghias lanskap Gunung Slamet. Baturraden terasa sejuk meski kerap saya merasa panas sendiri, sebab saya ketahui diam-diam banyak perempuan tebal bergincu berkeliaran. Dan kota lama Banyumas tak hendak menyerah, susah payah menjaga apa yang pantas dijaga. Kota Banyumas menjadi kota kebudayaan. Kota tua dan murung tengah mencari ruh untuk mewartakan diri pada dunia tentang jejak peradaban manusia. Kota Lama Banyumas menjelma kota nostalgia dan utopia. Banyak event kebudayaan dan gedung-gedung sisa kolonial. Inilah hikayat kota lama yang berbagi peran dengan kota kecil yang menjadi penyanggah. Bagaimanapun peran kota lama Banyumas tidak akan terganti, sebab kota lama telah menjadi cerita, legenda, bahkan kenangan. “Kota-kota, seperti halnya mimpi, terjadi karena hasrat dan ketakutan,” kata toko Marco Polo kepada Kublai Khan dalam salah satu kisah ajaib Italo Calvino.

Kota Banyumas menjadi kota kebudayaan. Kota tua dan murung tengah mencari ruh untuk mewartakan diri pada dunia tentang jejak peradaban manusia. Kota Lama Banyumas menjelma kota nostalgia dan utopia. Banyak event kebudayaan dan gedung-gedung sisa kolonial. Inilah hikayat kota lama yang berbagi peran dengan kota kecil yang menjadi penyanggah.

Saya tinggal di Purwokerto, di kota kecil ini semua jalan beraspal, jumlahnya terus bertambah, seperti labirin. Terbaru, terdapat simpangan di jalan kota: Jalan Bung Karno. Simpangan jalan memiliki porsfektif untuk berkembang deretan gedung-gedung, menara, restaurant, tempat publik. Kemudian sawah-sawah diratakan dan ditanam beton dan cor, lalu mencipta gudang kebutuhan dan pusat konsumsi. Saya merasa beruntung tinggal di Purwokerto. Tapi kadang ngelangut sedih teringat banyak area persawahan banyak tercaplok pembangunan.

Jalan Bung Karno dilihat dari Menara Teratai. Sumber: (suara merdeka banyumas.com)

Alun-Alun Purwokerto dan sebuah Mall yang berhadapan. Sumber: (suara merdeka banyumas.com)

Tata bangunan (arsitektur) kota purwokerto cukup indah. Dulu, alun-alun purwokerto terdapat dua beringin kurung yang akarnya terjela-jela. Ada jalan tengah yang membelah alun-alun menjadi: sisi timur dan sisi barat. Kini apa yang tinggal? Pohon beringin kurung sudah ditebang; pondasi alun-alun ditinggikan; jalan tengah alun-alun dihilangkan; dan sebuah mall yang menghadap alun-alun. Bangunan Mall ini, meminjam selarik puisi Chairil Anwar, ia seolah “iseng sendiri”. Kemegahan dan gemerlapnya menandingi gegap gempitanya suasana alun-alun.  Pembaruan, seperti biasa. Tapi terutama di zaman kiwari ini, Menyitir Goenawan Mohammad, kaum nouveaux riches (Orang Kaya Baru) telah mengambil alih arsitektur kota. Mereka yang baru saja memperoleh kekayaan; kekuasaan; dan kesempatan, telah merombak apa yang bagi mereka tak memikat lagi. Dan bila keindahan yang mereka coba utarakan itu tidak ada sangkut pautnya dengan keindahan lama, apa mau dikata?

Kota Purwokerto dan berbagai kota di Indonesia mengalami revolusi. Yakni perubahan-perubahan golongan yang berkuasa; ledakan penduduk; uang. Semuanya menghasilkan penjungkirbalikan. Alun-alun sekrang terasa ruang terbuka: sosial dan ekonomi. Sedangkan dulu, ketika saya kecil, alun-alun terasa akan makna spiritual, filosofis, politis, historis dan budaya. Dalam buku “Banyumas: fiksi & fakta sebuah kota” (2013) karya: Abdul Aziz Rasjid; Arif Hidayat; dan Teguh Trianton, kumpulan esai tentang Banyumas: sebagai kota kecil yang cukup unik dan sebagai subkultur Jawa, maka kontestasi penataan alun-alun Purwokerto ditengari sebagai lunturnya karakter wong Banyumas: Bawor. Ikonisitas Bawor mengejawantahkan : Cablaka (transparan); jujur, nrima ing pandum (apa adanya).

Makam Dawuhan : Kisah dan Hikmah

Kembali ke Banyumas,tidak jauh dari Kota Banyumas, di bukit kecil Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, terdapat kumpulan makam tokoh elit Banyumas (Bupati dan Pejabat Banyumas). Kompleks ini semacam makam Imogiri. Bangunan makam tergolong terawat, mesti tetap rawan dengan pengikisan: iklim. Apa sebenarnya yang harus dipertahankan pada Makam Dawuhan Banyumas? Mungkin kenang-kenangan, sesuatu yang rupanya begitu penting. Manusia adalah makhluk khusus: ia mengingat-ingat. Dihadapannya, kematian menjadi sebuah paradoks: ajal berarti jalan ke keabadian, tapi sekaligus juga ancaman akan ambruknya kenangan. Sementara itu, kita tak mau lupa. Sebab itulah sejarah ditulis.

Foto penulis di Makam Dawuhan. Tepat di belakang Makam Raden Djaka Kahiman, Bupati Pertama Banyumas. Sumber: (Dokumentasi Pribadi)

Apa, misalnya, yang kita ketahui tentang riwayat Makam Dawuhan dan para elit Banyumas? Kita tak tahu apakah rakyat hidup sejahtera di tengah tren zaman dahulu yang feodal. Kita tak tahu bagaimana sehari-hari mereka hidup dan berpikir, bagaimana mereka bebas atau ditindas. Penulis sejarah sebagaimana para wartawan cenderung lebih memilih kejadian yang dramatis dan manusia yang tidak biasa. Pembaca sejarah, umumnya sebagaimana pembaca surat kabar memang lebih menyukai hal seperti itu. Perang dan kejatuhan; kekejaman dan perselisihan; kebejatan dan kesalahan. Lantas orang berkata bahwa dengan mudah sejarah akan bercampur baur dengan dongeng, dan tokoh menjadi mitos. Napoleon bahkan menganggap sejarah hanya sebuah fabel yang disepakati bersama.

Komplek makam bersuasana sepi dan wingit: kita dapat bertanya kepada kasepuhan dan juru kunci tentangnya. Bukan semacam makam yang keramat lagi sakral ; : “Sssst,” peziarah jangan keras-keras bicara. Dan semua diam. Oleh karenanya, jika kita ingin tergetar oleh kisah hidup para tokoh elit banyumas, kita mesti banyak membaca naskah babad; dan tak ketinggalan penuturan dari kasepuhan, kita tak sepatutnya membuat ceritanya berhenti. Jangan nobatkan mereka jadi orang keramat. Orang terkadang ingin menghentikannya tanpa tahu apa yang dilakukannya: orang tak sadar bahwa tokoh mati untuk kedua kalinya dan tak akan hidup lagi ketika ia jadi orang keramat.

Demikianlah asumsi ataukah pretensi saya yang merasa memiliki kota ini (Banyumas dan Purwokerto) karena menjadi bagian komplet dari biografi diri dan keluarga. Tulisan ini semacam sengatan agar pembaca sadar terhadap kota sebagai ruang hidup dan imajinatif. Pengisahan sejarah kota semacam ini memeberi kemungkinan penyelamatan biografi kota ketika tak tergarap dalam studi sejarah, sosiologi, politik, arsitektur atau ekonomi. Setiap tahun Banyumas berulang tahun, tepat di tanggal 22 Februari. Perayaan dihelat dengan meriah dan suka cita. Tapi sejauh mana kita (warga Banyumas) memaknai perayaan tersebut? Saya memaknai dengan beropini. Sebab saya tak ingin disiksa dengan kenangan. Persis yang diucapkan Montaigne:  “Orang tersiksa oleh opini mereka tentang hal ikhwal, bukan hal-ikhwal itu sendiri”.