Menu

Author Archives: Donny Danardono

Tak seorang pun bisa menghadirkan kota secara utuh. Tak juga seorang perancang kota. Warga kota dan pendatang akan menghadirkan kota sebagai penggalan-penggalan pengalaman, imajinasi, atau pun gabungan antara imajinasi dan pengalaman. Sementara seorang perancang kota akan menghadirkan kota sebagai sebuah tata imajinasi yang rasional: cetak biru kota. 

Tentu saja sebagai perancang ia pernah berjalan mengelilingi kota itu, tapi sulit baginya untuk memahami bagian-bagian tertentu kota itu sebagai sebuah pengalaman. Baginya kota lebih hadir sebagai sebuah cetak biru yang rasional. Saat ia berada di sebuah sudut kota, ia langsung membayangkan kaitan antara sudut itu dengan berbagai sudut lainnya di kota itu. Bagaimana pun seorang perancang kota adalah seorang produsen yang rasional. Ia senantiasa melihat kota itu dari jarak, dari ketinggian, dengan mata burungnya. Ia tak mereproduksi kota itu dari pengalaman.

Kumpulan cerpen Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai (Akar Indonesia, 2018) karya  Raudal Tanjung Banua, berkisah tentang pengalaman seorang penutur pertama (“aku”) saat menjalani berbagai sudut dari berbagai kota kecil di Indonesia. Pengalamannya itu dibentuk oleh pengetahuan awal tentang kota itu sebelum ia jalani dan juga oleh berbagai sensasi inderawinya saat menelusuri berbagai tempat di kota-kota itu. 

Gabungan antara imajinasi dan sensasi inderawi, saat menelusuri berbagai sudut kota, menyatukan masa lalu—imajinasi tentang kota yang diperoleh melalui berbagai sumber—dan masa kini—sensasi inderawi saat menelusuri kota. Gabungan keduanya merupakan proses reproduksi kota dalam diri seorang pelancong, seperti Raudal Tanjung Banua ini, bukan dalam diri seorang perancang kota. Itu sebabnya judul dari kumpulan cerpen ini menyiratkan peran imajinasi (yang Diangan) dan pengalaman inderawi (Kujumpai) dalam mereproduksi kota-kota kecil di Tanah Air.

Maka bagi seorang pelancong, seperti Raudal, tempat atau kota tidak pernah hadir sebagai sebuah latar (setting), tapi sebagai sebuah proses. Seorang pelancong akan senantiasa menafsir ulang setiap kisah dan peta tentang kota yang saat ini ia jalani. Baginya setiap penanda di kota itu—ruas jalan, bangunan, pohon beringin tua, atau tugu batas kota—bukanlah artefak yang mati. Tapi adalah penanda-penanda yang selalu membentuk makna dan kisah baru yang patut ia catat. Tentang hal ini Raudal menulis:

Selama ini latar kerap dianggap sebagai abstraksi belaka dari peristiwa dan kehidupan tokoh-tokohnya. Ia nyaris tak berbicara, hanya dituturkan narator sebagai pembuka atau penghias (aksesoris) dari dialog/monolog atau aksi-reaksi tokohnya. Latar dianggap pasif, tidak dinamis, mati rasa, tak bergerak kecuali kemurahan hati narator menyelipkannya sebagai pemanis. (…) Lebih sebagai transisi penciptaan, pilihan yang saya jalankan berhasrat menjadikan realitas ruang sebagai “keseluruhan” atau unsur utama pembentuk cerita; sekaligus menguji lokalitas di luar etnisitas dan hal-hal yang berbau identitas. Untuk diketahui, kendati kota-kota itu tumbuh relatif seragam (trotoarisasi, pasar, perkantoran, persimpiangan, dan seterusnya), namun tetap ada hal-hal spesifik yang perlu dicatat, baik era sekarang maupun masa silamnya: sejarah, tata-ruang, lanskap, geografi, watak orang-orangnya hingga langgam kekuasaan yang mengaturnya.

Begitulah, maka cerpen-cerpen Raudal Tanjung Banua di buku Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai ini merupakan catatan tentang “hal-hal spesifik” dari kota-kota yang ia jumpai.

Tapi bagaimana cara ia menuliskan kisah-kisahnya itu? Kisah-kisah ini bukan laporan pandangan mata seorang pewarta tentang sebuah sudut kota. Seorang pelapor, seperti halnya seorang perancang, akan memandang dari kejauhan untuk menciptakan jarak emosional dari berbagai benda dan orang yang ia laporkan. Jarak emosional ini akan menghasilkan kebenaran obyektif sebuah laporan, yaitu kebenaran yang bisa diraih oleh setiap orang yang mengambil jarak emosional yang sama dengannya. 

Di buku ini Raudal tidak tampil sebagai seorang pewarta. Ia menulis kisah-kisah. Karena itu ia menempuh cara yang berbeda dari cara seorang pewarta. Seperti tercermin dari judul kumpulan cerpennya, berbagai cerpen (laporan) ini adalah gabungan antara pengetahuan dan pengalaman pribadi tentang berbagai benda dan sudut yang ia jumpai dari kota-kota yang ia kunjungi. Maka ia tak sedang menyampaikan fakta obyektif. Ia menyampaikan pergumulan emosionalnya dengan berbagai benda, sudut, jalan, bangunan yang ada di kota-kota itu. Dengan cara ini ia bisa secara spontan mengkaitkan kalimat-kalimat dalam cerpen-cerpennya ini dengan teks-teks lain (Kota-Kota Imajiner dari Italo Calvano), bait-bait puisi, naskah drama atau karya sastra; dan ia merasa nyaman dengan itu.

Meskipun demikian, saya merasa ada satu dan lain hal yang mempertalikan saya dengan Kota-Kota Imajiner, sebagaimana pertalian paragraf atau kalimat yang saya buat tiba-tiba nyambung dengan ungkapan teks lain, seperti puisi para penyair, naskah drama atau bahkan judul sebuah karya (bisa dilihat di catatan akhir), saya biarkan. Semuanya melintas begitu saja. Dan lagi-lagi saya merasa klop atas kehadirannya. 

Karena itu, walau kita bisa membuktikan keberadaan kota-kota dan berbagai benda di kota-kota yang ia kisahkan itu, tapi narasi-narasi yang ia sampaikan adalah sepenuhnya kisah atau dongeng yang tak mendorong kita untuk melakukan verifikasi pada saat kita mengunjungi kota-kota itu. Kisah-kisah itu malah akan mendorong kita untuk memahami kota-kota itu dengan cara yang berbeda dari ketika kita membaca tulisan sejarawan atau wartawan tentang kota-kota yang sama. Cerpen-cerpen ini akan mendorong kita mereproduksi kota dengan pengetahuan dan pengalaman kita yang berbeda.

Karena itu kumpulan cerpen ini lebih tepat disebut—dirumuskan oleh Michel Foucault (1926-1984)—sebagai heterotopia. Heterotopia (ruang lain) adalah sebuah konsep tentang ruang yang ada di antara ruang-nyata (real space) dan utopia (un-real space). Ruang-nyata adalah ruang yang bisa dikenal oleh pancaindera (empiris). Utopia adalah makna (konsep) ruang yang mau diwujudkan, yang diidealkan, atau yang sedang dipertahankan.

Menurut Foucault, pada dasarnya manusia tak bisa secara langsung menangkap makna (konsep) suatu ruang melalui pengenalan inderawinya. Makna (konsep) suatu ruang hanya hadir ketika, bersamaan dengan pengenalan empiris atas ruang-nyata, manusia juga  mengenal berbagai konsep ruang-lain (heterotopia). Dengan kata lain sebagai sebuah makna, utopia tak bisa hadir begitu saja untuk memaknai ruang-nyata (real space) ketika seseorang melihat atau berada di sebuah ruang-nyata. Heterotopia adalah ruang lain yang bertingkah sebagai cermin pemantul makna (utopia) ruang-nyata (real space). Karena itu heterotopia adalah sekaligus sebuah ruang nyata dan utupia. Ia adalah ruang yang ambigu, karena ia secara harmonis menampung kisah-kisah yang kontradiksi dan bahkan menyimpan waktu-waktu yang tidak saling terkait, masa lalu dan masa kini.

Contohnya adalah kuburan yang secara harmonis menyimpan kisah kehancuran badan kembali menjadi tanah dan kebangkitan badan di akhir zaman. Karena itu kuburan penting untuk meyakinkan keimanan. Hal yang sama juga ditamilkan oleh perpusatakaan dan layar bioskop yang menjadi tempat untuk menampilkan kisah-kisah dari ruang dan waktu yang berbeda.

Nah, cerpen-cerpen Raudal Tanjung Banua, seperti tercermin dari judulnya, adalah sebuah heterotopia yang secara harmonis, karena cara bertutur tertentu, menampung ruang-ruang dan waktu-waktu yang berbeda. Dengan cara ini pembaca bisa memperoleh makna yang lain tentang sebuah kota dari yang disampaikan oleh pewarta. Cerpen-cerpen ini adalah studi perkotaan yang ditampilkan dalam bentuk sastra. Ia adalah sebuah reproduksi makna kota.