Sedikit Manfaat dari Belanda

Kehadiran kolonialisme Belanda membawa dampak yang besar, terutama yang banyak dibahas adalah dampak ekonominya. Tapi sebenarnya, jika dikalkulasi menggunakan metode pertumbuhan ekonomi (economic growth), justru indeks kesejahteraan pada masa Hindia Belanda bisa dianggap sedang baik-baiknya. Sudah banyak sekali tulisan yang membahas betapa berhasilnya Belanda membawa bangsa kita keluar dari keterbelakangan mental maupun ekonomi. Misal tulisan Justus M. van Der Kroef (1951) dalam Indonesia and the Origins of Dutch Colonial Sovereignty, kemajuan ekonomi lokal dalam bayangan kolonial ditopang oleh perspektif development of the national territory, sebuah mazhab ekonomi Belanda yang terinspirasi oleh The Wealth of Nation-nya Adam Smith (1778). Jadi menurut Kroef, ide dasar kolonialisme Belanda itu adalah ide positif tentang interkoneksi dunia baru. Basis visinya adalah national sovereignty, humanitarianism, dan development of the national territory and its resources. Tulisan yang lainnya misalnya, Purnawan Basundoro (2019) dalam Arkeologi Transportasi: Perspektif Ekonomi dan Kewilayahan Karesidenan Banyumas 1830-1940 , juga menunjukkan latar belakang transportasi, kereta misalnya, yang secara implisit menerangkan pengaruh Belanda yang sekarang masih dirasakan.

Tulisan-tulisan seperti Kroef mungkin oleh seorang Indonesianis akan dianggap melakukan ‘cuci tangan’. Model tulisan ‘cuci tangan’ ini memang banyak sekali ditulis. Indonesianis pasti akan gelagapan membantah paradigma yang mereka bangun, terutama dalam hal ekonomi. Satu contoh lagi, misal tulisan  artikel A. Vandenbosch The Effect of Dutch Rule on The Civilization of The East Indies. Artikel ini terbit lebih tua (1943) daripada tulisan Kroef (1951), tapi memiliki tarikan nafas yang sama yakni terkesan membersihkan nama baik Belanda. Vandenbosch mengatakan, segala tindakan amoral, menjajah, atau merampas, seringkali diselenggarakan diluar instruksi resmi Belanda atau ilegal. Tindakan ilegal itu disponsori oleh perusahaan swasta dan para misionaris agama diluar kontrol pemerintah Belanda atau order agama umum yang diakui kolonial Belanda (Kristen dan Katolik). Wajah buruk Belanda, rata-rata ditampilkan oleh mereka, dan menjadi generalisasi di kalangan masyarakat.

Analisis dua tokoh (Kroef dan Van Den Bosch) tersebut mengabaikan aspek politis kolonial maupun lokal. Tentu tidak semua pejabat Belanda benar-benar humanis, misal jika kita lacak track record kebijakannya di wilayah pendekatan empiris. Tapi alih-alih berkata demikian, lewat dua tulisan itu kita bisa melacak jejak positif yang ditinggalkan Belanda, terutama dalam bidang ekonomi. Tentu ‘positif’ disini dalam bingkai welfare state yang dibangun oleh Belanda. Tahun 1916 ada tulisan bagus dari L.A. Kuperus untuk membuktikan bahwa kehadiran kolonial Belanda juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kelas menengah kebawah. Tulisan itu terangkum dalam tema besar yang berjudul hoe bakoels aan bedrijfskapitaal komen (bagaimana bakul mendapat modal kerja). Tulisan ini kemudian dinukil ulang (dalam versi terjemahan) oleh Maria Ulfah Subadio dan Ny. T.O Ihromi, diterbitkan Gadjah Mada University Press tahun 1978 dalam buku ‘Peranan dan Kedudukan Wanita di Indonesia’.

Bakulan dan Kesejahteraan

Tulisan L.A. Kuperus ini membuktikan bahwa kebijakan ekonomi kolonial Belanda, berusaha menyentuh kehidupan ekonomi mikro pribumi. Kuperus secara tersirat menunjukkan bahwa watak developmentalisme kolonial Belanda bukanlah isapan jempol semata. Tidak banyak catatan terkait nama Kuperus yang bisa saya temukan, sementara ini informasi tentang nama L.A. Kuperus saya dapatkan dari buku yang berjudul European Street Gangs and Troublesome Youth Groups karya Scott H. Decker dan Frank M. Weerman. Disitu tertera nama Leonie Kuperus, salah satu anggota Europegang Expert Survey, yang berusaha melakukan reportase tentang kehidupan masyarakat tanah jajahan. Jika L.A Kuperus adalah Leonie Kuperus, maka ini menjadi hal menarik karena analisis tentang ‘bakulan’ dengan (watak) developmentalisme dilakukan oleh orang-orang diluar pemerintah kolonial sendiri. Jika bukan, misal Kuperus memang ahli ekonomi Belanda, ini juga tetap menjadi hal menarik untuk melandasi realisme melengkapi tulisan Kroef dan Vandenbosch.

Bakul dari penelusuran Kuperus identik dengan pedagang kecil wanita. Kuperus memetakan kondisi Bakul di tahun 1916 yang mengalami kesenjangan perlakuan ekonomi. Kuperus membedakan antara bakul besar dan bakul kecil. Bakul besar adalah mereka yang langsung punya akses terhadap sumber produksi, biasanya terletak di pegunungan atau hulu produksi (produsen). Bakul besar memiliki peran yang hampir sama dengan supplier lokal. Mulanya kehadiran bakul besar tidak terlalu berkembang. Hal ini dikarenakan karakteristik masyarakat gunung yang cenderung menerapkan ekonomi subsisten,. Apalagi tidak semua dari mereka (bakul besar) memiliki akses langsung terhadap bakul kecil yang ada di dataran rendah, tempat aktivitas ekonomi pasar. Bakul besar biasanya tidak tertarik melakukan transaksi yang bersifat kecil, selain karena letaknya jauh dari pasar, ‘perdagangan kecil’ juga tidak banyak meningkatkan kesejahteraan mereka.

Kepentingan Belanda terhadap kenyataan ini adalah bagaimana caranya menjembatani hubungan ekonomi antara bakul besar dan kecil agar terjalin transaksi ekonomi yang padat. Belanda juga mempunyai kepentingan untuk mengedarkan uang, mengingat sampai tahun 1920 Belanda masih punya masalah dengan peredaran uang yang kurang merata. Kuperus juga membahas strategi edukasi sistem tanam, supaya bakul kecil tidak terlalu bergantung dengan bakul besar yang ada di pegunungan. Terhadap bakul besar yang ada di pegunungan, langkah yang paling logis menurut Kuperus adalah membangun pinjaman modal agar para bakul besar bisa memiliki alat transportasi yang memadai berhubungan dengan para bakul kecil. Bakul kecil adalah pedagang yang sangat tergantung terhadap suplai dari bakul besar. Mereka biasa kulakan tiap periode tertentu ke bakul besar dengan jarak tempuh yang sangat jauh (daerah dataran tinggi pedesaan). Modal bagi bakul kecil adalah manifestasi dari upayanya memutar uang yang didapatkan dari distributor yang ada di pegunungan (atau sawahnya sendiri) dan laba penjualan.

Kurangnya ‘motif ekonomi’ dalam perdagangan dan tidak adanya suntikan modal dalam aktivitas simpan pinjam, menurut Kuperus membuat bakul besar dan kecil mengalami stagnasi ekonomi. Bahkan dalam momen tertentu, hasil bakulan tidak bisa menghidupi kebutuhan keluarga, sehingga diperlukan usaha-usaha sambilan (mburuh) untuk mencukupi hidup. Kekurangan biasanya ditimbulkan karena gagal panen atau faktor-faktor pasar lainnya (dalam skala mikro yang tak terduga). Ketika gagal panen melanda, sementara seluruh keperluannya habis untuk mencukupi kehidupan subsistennya, bakul tidak lagi memiliki modal. Satu-satunya cara yang dilakukan bakul adalah melakukan hutang. Biasanya hutang dilakukan bukan dalam bentung uang, melainkan beras. Hutang beras menimbulkan masalah baru yang tidak terselesaikan. Tidak semua beras akan dijadikan modal usaha, separuhnya dijual dan separuh lagi dikonsumsi sendiri. Beras yang dijual juga tidak sepenuhnya bisa mencukupi untuk membayar hutang, karena harus dibagi dengan dibelikan lauk-pauk, yang separuh lauk-pauk itu juga dijual. Untungnya, pada masyarakat Jawa, tidak menerapkan sistem bunga sehingga masalah ekonomi bisa lebih mudah teratasi.

Tidak semua bakul akan dengan lancar menjual dagangannya. Menurut Kuperus, lebih banyak dari mereka yang jatuh tersungkur dalam hutang-hutang yang berkelanjutan. Mekanisme ekonomi yang semacam ini akan menjatuhkan bakul ke dalam lingkaran setan, karena tidak akan menopang kemajuan ekonomi di tingkat mikro. Apalagi orang-orang kaya di desa tidak semuanya bisa bermurah hati. Dalam temuan Kuperus, banyak juga yang menerapkan  sewelasan atau rolasan, sebuah sistem bunga dalam transaksi hutang. Misalnya sewelasan, untuk setiap gulden yang dihutang mereka (bakul) harus membayar bunga 10%. Memang tidak cukup tinggi, tapi ini sudah sangat memberatkan bakul. Belum lagi di masyarakat sudut-sudut perkotaan, banyak pengusaha dari Cina yang menerapkan sistem hutang yang bernama ngalap-ngayur (mengambil-melunasi). Sebelum melunasi hutang dan bunga hutang, bakul dilarang mengambil barang untuk jualan lagi. Menurut Kuperus, cara ini banyak diterapkan pada pedagang Jawa, terutama pedagang beras. Yang lebih parah dari itu, ada juga pola ngijo, yang menebus hutang dengan cara membeli semua komoditas pertanian yang belum siap panen.

Bagi bakul yang mengalami nasib terlilit hutang seperti diatas, maka dia ke pasar dengan membawa modal yang sangat sedikit. Untuk menyiasatinya, biasanya mereka menjadi makelar dari bakul lainnya. Kuperus menyebut istilah makelar ini dengan ebir-ebir, cara dagang yang memang sudah marak dilakukan masyarakat pedesaan. Kondisi ini menurut Kuperus, membuat orang-orang Jawa(pedesaan) tidak banyak berkembang dalam aspek perdagangan. Kehadiran ‘bank daerah’ (kota) tidak banyak yang menolong mereka. Sampai kemudian J.A. Boeke menawarkan adanya operasi administrasi untuk memberlakukan ‘bank desa’ (pertama di Bank desa Pagotan, Ponggok – kemungkinan satu wilayah di Jawa Timur). Perhatian pemerintah kolonial Belanda melalui J.A. Boeke untuk mensignifikankan ‘bank desa’ adalah usaha ‘positif’ membangkitkan daya saing ekonomi lokal. Bank desa adalah contoh dari kebijakan ekonomi fiskal kolonial Belanda, yang secara utuh (berdasar penjelasan Kuperus), memahami kebutuhan-kebutuhan sosial-ekonomi masyarakatnya.

J.A Boeke dalam kutipan Kuperus menyatakan bahwa hadirnya bank desa (di Pagotan-Jawa Timur), memang berusaha untuk mengisi kebutuhan nyata dari masyarakatnya. Meski tulisan Kuperus tidak menjelaskan secara detail bagaimana ‘bank desa’ menyelesaikan problem masyarakat (misal, efek pembentukan sistem simpan-pinjam), tapi cukup untuk membuktikan adanya ‘sedikit’ watak kebermanfaatan dari kehadiran kolonial. Hadirnya ‘bank desa’ sekaligus menunjukkan upaya pemerintah kolonial untuk merubah persepsi masyarakat tentang alat tukar, uang. Dalam pendekatan ekonomi politik, berubahnya persepsi masyarakat tentang ekonomi bisa jadi bahan kritikan terhadap Belanda, karena berkaitan dengan preferensi kebahagiaan dan kesejahteraan yang sama sekali baru. Tapi, apa salahnya kita sedikit berkhusnuzhon? Ya, mungkin hanya sedikit.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Erie Harianto. Burgerlijk Wetboek: Menelusuri Hukum Sejarah Pemberlakuannya di Indonesia. Sumber file bisa dicari di:  www.ejournal.stainpamekasan.ac.id /index.php /alihkam /article /viewFile/268/ 259.

 

Justus M. Van Der Kroef. Indonesia and The Origins of Dutch Colonial Sovereignty. JSTOR-Belanda: Association for Asian Studies- Dalam sebuah Jurnal The Far Eastern Quarterly, 1951.

 

A.Vandenbosch. The Effect of Dutch Rule on The Civilization of The East Indies. JSTOR-Belanda: The University of Chicago Press, dalam sebuah Jurnal American Journal of Sociology, 1943.

 

Scott H. Decker dan Frank M. Weerman. European Street Gangs and Troublesome Youth Groups. Amerika: AltaMira Press, 2005.

 

Maria Ulfah Subadio dan Ny. T.O Ihromi, Peranan dan Kedudukan Wanita Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1978.

 

Irfan Al-Ayat
Mahasiswa S2 Ilmu Sejarah Universitas Gajah Mada (UGM). Koordinator umum Pusat Studi Intelegensia Manusia (Pusat_STIGMA) di Surabaya. Pusat_STIGMA sampai hari tercatat aktif melakukan diskusi tiap minggu di Surabaya, membahas pemikiran-pemikiran filosofis maupun intelegensi manusia dalam menghadapi persoalan kekinian. Bisa dikatakan Pusat_STIGMA adalah laboratorium intelektual, yang setiap hari anggotanya melakukan dan riset dan pengembangan diri. Baik secara spiritual maupun intelektual.