Menu

Batik Tok Wi

Di keluargaku, ada meja altar yang biasa digunakan untuk sembahyang menghormati arwah leluhur. Meja altar dipelihara turun temurun berikut hiolonya. Hiolo adalah tempat abu sembahyangan. Kebiasaan sembahyang tetap kupelihara sampai sekarang.

Pada waktu-waktu tertentu, di hari sembahyang besar seperti Tutup Tahun, Ceng Beng, dan Chit Gwee—sembahyang untuk memperingati arwah leluhur, aku—Gan Swie Hiang, generasi keempat dari keluarga Gan Sam Gie—akan menyiapkan sesaji pelengkap sembahyang. Hanya di sepanjang acara-acara khusus, kain altar dipasang di depan altar. Kain altar atau tok wi  tak sembarang digunakan. Di atas meja, aku menata sesaji sembahyang, tak lupa potret leluhur-leluhurku, lantas menyalakan hio atau dupa. Asap tipis membumbung selepasnya mengantar doa-doa ke langit.

Gambar: Altar cloth with mythical representation (Kain altar dengan gambar-gambar mitologis) Tahun pembuatan: ca. 1950, Ukuran 107 x 106 cm, [Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen TM-5663-1098]

Tok wi atau tok ui di jaman dahulu dipakai sebagai penutup meja kerja raja dan pejabat-pejabat di tiongkok,” ungkap Ning M Widjaja, praktisi dan pemerhati budaya Tionghoa & Peranakan dari Jatinegara, Jakarta Timur kepadaku pada suatu hari. Sebagai peranakan, rasa ingin tahuku pada tradisi dan sejarah leluhur mulai terjawab sedikit demi sedikit. “Kebiasaan menutup meja kerja,” lanjutnya, “sudah dilakukan turun temurun, awalnya sebatas di kalangan bangsawan dan pejabat kerajaan hingga kemudian dikenal secara luas.”

Tidak jelas kapan pastinya persebaran kultural itu terjadi. Sebab ribuan tahun sebelumnya, di Tiongkok, meja-meja altar biasanya pada bagian bawahnya dibiarkan terbuka atau bolong begitu saja. Namun lambat laun demi menjaga estetika, bagian depan meja sembahyangan ditutupilah dengan tok wi agar kolong meja dan benda-benda yang ada di bawah sana tidak terlihat. Pada era Dinasti Zhou (ca. 1066 SM-221 SM), kain altar sudah dibuat dari sutra dan disulam dengan beraneka warna benang: merah, emas, perak, kuning, hijau, dan lain sebagainya.

Tok wi atau tok ui di jaman dahulu dipakai sebagai penutup meja kerja raja dan pejabat-pejabat di Tiongkok. Kebiasaan menutup meja kerja, sudah dilakukan turun temurun, awalnya sebatas di kalangan bangsawan dan pejabat kerajaan hingga kemudian dikenal secara luas.

Salah satu artefak tertua, pernah dipamerkan dalam even bertajuk “Auspicious Designs: Batik for Peranakan Altars” pada 11 April- 24 Desember 2014 di Peranakan Museum Singapura, berasal dari era Dinasti Ming (1368-1644), tok wi yang terbuat dari sutra yang disulam dengan menggunakan teknik kesi atau “memotong sutra”, yakni membuat ilusi visual dari potongan benang yang berbeda warna dengan area yang tak terpotong.

Kain altar Batik sendiri lebih banyak ditemukan di Indonesia, yakni di Jawa. Meskipun sebagian besar tok wi yang ada di pasaran adalah versi bordir yang diimpor dari Tiongkok, kaum Tionghoa Peranakan di Jawa biasanya lebih memilih memesan batik tok wi untuk menghias altar rumah mereka. Kain altar batik yang diproduksi memang masih didominasi oleh pengaruh corak ragam dari Tiongkok, misalnya motif naga (liong), swastika (banji), kilin (ki lin), phoenix (burung hong), dan singa (sai), termasuk dalam pemilihan latar berwarna merah. Perjumpaan kultural itu lambat laun juga memasukkan unsur-unsur dan motif lokal sampai motif Eropa di era kolonial.

Gambar: Ancestral Altar Cloth (tok wi), Asal: Indonesia, Tahun pembuatan: 1900-1920. Batik tulis (handdrawn on cotton ground). [The Neusteter Textile Collection: Fund from Mrs. McIntosh Buell, by exchange]

Tok wi  di atas sebagai salah satu contoh bentuk yang telah mengalami perjumpaan kultural. Coba cermati, Delapan Dewa ada yang digambarkan bak centaur—makhluk mitologis dari Yunani yang menari pada bagian atas panel.

Dr. Alan Chong, Direktur “Asian Civilisations and Peranakan Museums” Singapura, dalam ekshibisi itu mengungkapkan, “campuran banyak budaya itu sungguh mengejutkan dan benar-benar luar biasa. ”

Dalam perkembangannya, ragam hias tok wi ada juga yang memasukkan unsur motif jawa, seperti wayang, flora dan fauna.  Satu hal yang secara umum tidak berubah adalah ragam hias pada tok wi  tetap mengandung nilai keindahan religius, bukan sebatas pada persoalan estetis belaka apalagi sekadar penutup meja altar. Ada yang lebih dari itu, sebab visual pada tok wi bukan dihadirkan nirmakna.

Selembar batik tok wi terbagi dalam dua bagian, dunia atas dan dunia bawah. Dunia atas melambangkan dunia roh dan dimaknai sebagai “Yang”. Sedang pada bagian bawah adalah “Yin” yang melambangkan kehidupan manusia, flora, fauna, kilin, hulu dan lain-lain.

Selembar batik tok wi terbagi dalam dua bagian, dunia atas dan dunia bawah. Dunia atas biasanya digambarkan dengan Delapan Dewa, pagoda atau gunung yang tinggi yang melambangkan dunia roh dan dimaknai sebagai “Yang”. Mereka yang berada di dunia atas alias para dewa, dipercaya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan di dunia sekaligus sebagai ungkapan atau perlambang keberuntungan. Sedang pada bagian bawah adalah “Yin” atau dunia bawah yang melambangkan kehidupan manusia, flora, fauna, kilin, hulu dan lain-lain. Kain altar ini juga merepresentasikan gambar-gambar mitologis.

Foto altar sembahyang dengan tok wi delapan dewa, lengkap dengan sesajen, hiolo, dan potret leluhur saat pernikahan Gan Tjiang Liem dan Tan Kiok Nio (Dokumen keluarga), Pekalongan, 1956

Sesaji yang ditata di meja altar biasanya berupa masakan, minuman, dan buah-buahan. Sesaji itu dihadirkan untuk mengenang para leluhur. Beberapa yang disajikan adalah yang menjadi kesukaan mereka semasa hidup.

Hiolo diapit vas bunga, dan cek tay (tempat lilin) sebagai persembahan utama dalam persembahyangan resmi. Adapun dupa dipersembahkan melalui hiolo disertai tiga macam manisan seperti gula batu, tang kwee, dan angco kering; tiga macam bunga seperti melati, mawar merah, dan kenanga; ditambahkan buah-buahan seperti pisang raja, jeruk manis, apel merah, rambutan, dan srikaya yang kesemuanya berjumlah ganjil. Nasi dan teh pahit disiapkan sesuai dengan jumlah arwah yang disembahyangi. Di masa sekarang, kadang masih ditambahi lagi dengan jajanan yang jumlahnya juga ganjil, seperti kue moho, kueku, nogosari, wajik, kue lapis—yang ini di keluargaku wajib ada, yang disajikan dengan menganut unsur lima, baik untuk buah, jajanan maupun makanan.

Setiap akan menggelar sembahyangan, aku biasanya menyajikan masakan dan kesukaan semasa para almarhum masih hidup, seperti rokok, arak putih, dan cerutu—yang ini kesukaan Kongco Gan Sam Gie, dan kinang lengkap—favorit Makco.

Meja altar biasanya diletakkan di dalam rumah. Pada meja altar tradisional umumnya tatanannya dibuat beberapa tingkat dengan bunga atau persembahan lain, berupa foto orang-orang yang telah berpindah ke dunia roh, termasuk hiolo, lilin dan vas bunga.

Saat proses sembahyangan itulah ada interaksi dengan pernak-pernik yang disajikan di atas altar. Ada foto-foto mereka. Ada gambar. Dan ini yang paling penting, ada proses “melihat” dan sekaligus “dilihat”. Ada interaksi. “Seolah Papi dan Mami, Engkong dan Emak, Kongco dan Makco, Koh Loky menjagaku. Mereka datang mengunjungiku!” Perasaan itu tak bisa dijelaskan dalam ranah menilai keindahan secara estetis belaka yang terwakili dalam tok wi atau sesajen.

Prosesi sembahyang sendiri biasanya dilakukan sebagai sarana untuk mengingat dan merayakan leluhur, anggota keluarga, dan kerabat yang telah meninggal.

Prosesi sembahyang sendiri biasanya dilakukan sebagai sarana untuk mengingat dan merayakan leluhur, anggota keluarga, dan kerabat yang telah meninggal. Di sini roh-roh yang telah pergi ke alam lain disambut kembali.

Menurut Maria Khoo Joseph, kurator pameran “Auspicious Designs: Batik for Peranakan Altars”, “Tekstil ini penting dalam mendemarkasi ruang suci. Kain altar  meningkatkan momen seperti itu.”

Dekorasi meja altar dengan menggunakan tok wi seperti hendak menegaskan adanya “sacred space” atau ruang suci yang memisahkan dari ruang sehari-hari, membangun ruang yang bisa membawa pada proses “terhubung” dengan roh-roh leluhur meskipun wilayah “sacred” tersebut berada di rumah, ruang yang relatif biasa saja dalam kesehariannya. Penegasan ini ditambah dengan desain yang dimunculkan di atas meja sembahyang, berupa sesajen hingga potret para leluhur.

David Morgan dalam The Sacred of Gaze mengungkapkan bahwa tindakan “melihat” dan “dilihat” dalam konteks persembahyangan semacam ini bukan semata perbuatan tanpa nilai. Pengalaman “terhubung” dalam sembahyang dengan segala sajian visualnya, lebih dari pengalaman menikmati keindahan. Tok wi hanya sarana. Potret dan sesaji yang ada di situ hanya alat. Di satu sisi, foto leluhur hanya bentuk presentasi—“tentu itu bukan lagi Mami atau Papi!” Gambar-gambar itu adalah representasi. Sebagaimana halnya di klenteng, figur-figur seperti Fu, Lu, Shou yang dihadirkan sebagai simbol berkah, kekayaan, dan panjang umur adalah bentuk representasi. Gambar-gambar dewa direproduksi ke dalam berbagai bentuk, mulai patung porselen, sketsa, atau tok wi salah satunya, termasuk makna dalam kain yang dilekati gambar dan figur dapat dimaknai sebagai simbol kesucian.

Gambar, baik itu figur dan motif dalam tok wi, berikut potret leluhur pada mulanya hanya alat. Dalam proses sembahyangan, alat itu kemudian memudar dari sekadar alat menjadi sesuatu yang lebih dari itu, mereka memproyeksikan apa yang diingini oleh para pendoa—mereka menjadi sarana proyeksi organik dari mata hingga seseorang akan “mengalami” gambaran kehadiran mereka. “Seolah Papi dan Mami, Engkong dan Emak, Kongco dan Makco, Koh Loky menjagaku. Mereka datang mengunjungiku!” yang di antaranya proses mengalami kehadiran. Presentasi gambar dan potret itu merepresentasikan kehadiran, bahwa gambar dan potret bisa menjadi bahan mediasi bagi orang yang melihat dan mewakili apa yang ada digambar. Sederhananya, dengan menatap potret Kongco dan Makco Gan Sam Gie seakan-akan sudah mewakili ungkapan bahwa aku mengagumi mereka. Pengalaman “terhubung” itu membuatku melakukan proyeksi-subyektif. Aku menggunakan potret-potret itu untuk merevisi atau re-visi tubuhku sendiri, artinya aku membayangkan versi alternatifku sendiri.

Foto: Tok wi dengan dunia atas istana di ketinggian, naga (liong) dan phoenix (burung hong) di dunia bawah. Batik tulis dengan pewarnaan sintetis. Ukuran 100 x 100 cm. [Koleksi Gan Swie Hiang]

Dari ragam coraknya, hiasan-hiasan di tok wi di atas dikelilingi oleh hiasan berbentuk pola geometris tradisional Tiongkok. “Dunia atas digambarkan dalam bentuk istana kekaisaran yang menyimbolkan kekuasaan,” urai Suhana Lim, seorang Konsultan Fengshui Internasional.

Pada bagian dunia atas, shou atau siu yang ada di sebelah kiri berarti umur panjang. Sedang di sisi kanan adalah hok atau fu, artinya keberuntungan. Lalu phoenix (burung hong) di kiri adalah simbol perempuan, lambang kelembutan yang identik dengan “Yin”. Di sisi kanan ada naga (liong) sebagai simbol laki-laki, lambang kekuasaan atau “Yang”. Di sentralnya ada kaligrafi shou yang dapat dimaknai sebagai umur panjang, sedang pada bagian kanan bawah ada hooloo.

Menurut David Kwa, pengamat budaya Tionghoa dan Peranakan dari Bogor, “Hooloo (Hulu) adalah labu air. Pada jaman dulu, Hulu seringkali dijadikan tempat minuman. Salah satu Ba Xian di tok wi membawa Hulu sebagai aksesoris.” Ia adalah Dewa Li Tie Guai atau Li, Si Tongkat Besi.

Selain sembahyang besar seperti yang telah kusebut, ada juga sembahyang besar khusus, seperti sembahyang Bian Kie—sembahyang hari lahir mendiang yang diperingati satu kali saja setelah selesai upacara berkabung tiga tahun. Lalu sembahyang Co Kie—sembahyang peringatan hari kematian yang biasanya diambil tanggal jip bok mendiang (proses memasukkan jasad ke dalam peti hingga ditutup dan dipasang paku) dan bisa dirayakan rutin setiap tahun. Namun bila co kie leluhur terlalu banyak, bisa diperingati co kie leluhur tertua saja yang masih diingat dan dibarengi dengan leluhur yang lain atau mengambil co kie leluhur yang terakhir kali meninggal.

“Kalau tok wi 12 shio biasanya digunakan pada saat tahun shio, misal tahun 2018 adalah tahun anjing yang dipasang ya tok wi anjing. Atau di saat kematian orang yang bershio anjing sehingga pelayat yang shionya chiong (nahas) dan abu di tengah misal selisih enam tahun bisa lebih berhati-hati,” jelas The Han Tong, pengurus klenteng Hok Tek Tong dan pengurus yayasan kematian di Parakan.

Manusia merenungkan diri lewat tindakan. Bagiku sederhana saja, proses sembahyangan senantiasa membuatku ingat, “Tanpa leluhur, kita tak pernah ada.”

~~~

Petikan dari buku familiography “BATIKA: Jejak Batik Keluarga Gan Tjioe Liam”

 


 

0
100