Menu

Bukit Makrifat:Tuhan dalam Spiritualitas Seni

Makrifat berasal dari kata ‘arafa’ (عرف) yang berarti mengetahui atau mengenal, makrifat menjadi pengetahuan tertinggi hasil penyaksian dan penyingkapan keberadaan Allah, yang bukan saja melibatkan pengetahuan teoritis dan intelektual, namun mencakup keseluruhan potensi akal dan rohani. Seorang yang mencapai maqam makrifat memiliki pemahaman mendalam tentang Tuhan, alam semesta, sekaligus dirinya sendiri. Makrifat adalah puncak perjalanan spiritual seorang Muslim berupa pemahaman mendalam tentang Tuhan beserta sifat-sifat-Nya.

Pencapaian makrifat membutuhkan latihan spiritual intens, seperti: zikir, tafakkur, dan muraqabah (pendekatan ke Tuhan). Hal itu bertujuan semata-mata untuk mengenal Allah melalui tahapan taubat, zuhud (asketis, pemurnian hati), sabar, tawakal, ridha (penerimaan), dan puncaknya ialah makrifat.

Beberapa tokoh besar Islam mengalami makrifat. Contohnya Rabi’ah Al-Adawiyah (713-801 M), yang sangat mencintai Allah menggunakan istilah hubb (cinta) dalam pengalaman makrifatnya. Abu Yazid al-Bustami (804–874 M) dengan ittihad (penyatuan), Mansur Al-Hallaj (858 – 922 M) yang masyhur dengan pernyataan “Ana al-Haq” (Akulah Kebenaran) menggunakan hulul (Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia yang telah fana, dan lenyap sifat kemanusiaannya). Imam Al-Ghazali (1058-1111 M), mencapai makrifat dengan istilah kasyaf dan menuliskannya dalam karya magnum opus “Ihya Ulumuddin”,  Ibnu Arabi (1165 -1240 M) dengan wahdat al-wujud, makrifat Jalaluddin Rumi (1207 -1273 M) sebagaimana tertulis dalam kitab Matsnawi, dan Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (1077- 1166 M) dalam kitab Manaqib.

Tokoh-tokoh tersebut menggambarkan kisah bagaimana para sufi mencapai maqam makrifat melalui perjuangan spiritual yang panjang dan berat. Meskipun menggunakan istilah yang berbeda, semua merujuk pada pencapaian pengetahuan mendalam tentang Tuhan (makrifat).

Mengalami Makrifat dalam Keseharian

Beberapa kejadian sehari-hari dapat menggambarkan konsep makrifat. Misal memandang alam, matahari terbit, lautan luas, gunung yang megah, dapat menumbuhkan rasa kagum, syukur, dan merasakan kebesaran Tuhan. Seseorang yang merenungi dirinya, asal-usulnya, keunikannya, potensinya, juga dapat melahirkan kecintaan pada Allah. Sebagian yang lain menyadari kehadiran Allah melalui pengalaman religius (Religious experience) dari peristiwa harian biasa. Begitu pula merenungi nasihat agama dan melakukan ibadah salat, zikir, atau membaca Al-Quran dengan penuh kekhusyukan, bisa mengantarkan pada kesadaran Allah hadir dalam hidupnya. Hal ini menggambarkan bahwa makrifat bisa terjadi dan dialami dalam kehidupan sehari-hari melalui refleksi, pengalaman spiritual, dan praktik keagamaan yang dilakukan dengan khusyuk.

Beberapa kejadian sehari-hari dapat menggambarkan konsep makrifat. Misal memandang alam, matahari terbit, lautan luas, gunung yang megah, dapat menumbuhkan rasa kagum, syukur, dan merasakan kebesaran Tuhan.

Para Sufi mencapai Makrifat

Apa yang dapat kukatakan tentang-Mu?

Bagiku, Engkau adalah Segalanya.

Apa yang dapat kulihat selain Diri-Mu?

Bagiku, Engkaulah yang Maha Ada.

Dalam puisi singkat ini Syaikh Abu Sa’id Abu al-Khayr mengungkapkan puncak pengalaman spiritualnya. Ia menyatakan bahwa tidak ada yang dapat ia katakan tentang Tuhan, karena Tuhan adalah segalanya. Ia juga tidak dapat melihat apa pun selain-Nya, karena baginya hanya Dia yang ada. Ungkapan padat mendalam ini menggambarkan pencapaian makrifat atau pengalaman spiritual yang intim dengan Tuhan, sehingga segala yang ada hanyalah manifestasi (tajalli) Tuhan.

Maulana Jalaluddin Rumi menggunakan berbagai simbol dan metafora untuk menggambarkan kesatuan diri manusia dengan Tuhan:

Dunia ini adalah cermin,

Di dalamnya terpancar Wajah Tuhan.

Jika kau memandang dengan mata hati yang bersih,

Maka kau akan melihat Keindahan-Nya.

Aku adalah angin, Engkau adalah daun.

Aku adalah hujan, Engkau adalah bunga.

Aku adalah laut, Engkau adalah ombak.

Aku adalah siang, Engkau adalah terang.

Aku mengenal diriku, maka aku mengenal Tuhanku.

Aku melihat Tuhan dalam setiap yang Ia ciptakan.

Tiada yang lain selain Dia, di mana pun aku menatap.

Dia adalah Satu-satunya, yang Maha Tunggal.

Di sini Rumi menyatakan bahwa barang siapa mengenal dirinya, maka seseorang itu dapat mengenal Tuhannya. Tuhan hadir di setiap ciptaan dan hanya Dialah satu-satunya yang layak disembah dan dicintai. Abu Yazid Al-Busthami menggambarkan pengalaman ittihad (penyatuan) dengan Tuhan-Nya:

“Aku bermimpi melihat Tuhan.
Aku pun bertanya: Tuhanku, jalan apa yang harus kutempuh untuk sampai kepada-Mu?
Tuhan menjawab: Tinggalkan dirimu dan datanglah.”

Para sufi mencapai makrifat yang menjadi puncak pengalaman spiritual mereka, merasakan penyatuan dengan Tuhan, kemudian mendapat kebebasan dari segala keterikatan yang membelenggunya.

Makrifat Tidak Hanya untuk Sufi

Makrifat tidak hanya terdapat dalam tradisi sufi. Meskipun dalam khazanah sufisme pembahasan makrifat lebih dominan, namun konsep ini juga dibahas oleh para ulama dan cendekiawan Islam pada umumnya.

Dalam Ilmu Kalam misalnya, para teolog (mutakallimun) membahas konsep makrifatullah (pengenalan Allah) sebagai bagian dari pembahasan sifat dan zat Tuhan. Dalam hermeneutika Al-Qur’an, para mufasir menekankan pentingnya makrifat kepada Allah untuk bekal komprehensif memahami ayat. Selain itu, ulama fikih juga membahas makrifatullah sebagai fondasi pelaksanaan ibadah dan hukum-hukum syariat. Jadi, konsep makrifat bukan hanya terbatas pada tradisi sufisme, melainkan menjadi bagian integral dari pemikiran dan praktik keagamaan Islam secara menyeluruh.

Makrifat dan Pencerahan

Pencerahan merujuk pada kondisi seseorang yang mencapai pemahaman mendalam tentang suatu hal, yang bisa dicapai dengan berbagai cara. Dalam konteks ini makrifat berbeda dengan pencerahan (terutama yang mengacu pada perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa. Pencerahan (aufklärung, enlightenment) seperti pada gerakan intelektual Eropa pada abad ke-17, yang menekankan akal rasio untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Sementara, makrifat berfokuskan pada pengetahuan rohani, bersifat intuitif, melalui pembersihan jiwa, sehingga bukan saja melahirkan transformasi intelektual tetapi juga spiritual. Jadi meskipun sama-sama pemahaman mendalam, namun akar dan tujuannya berbeda. Pencerahan terfokus rasio dan intelektual, sementara makrifat transformasi spiritual.

Makrifat juga berbeda dengan hidayah, namun berkaitan. Hidayah petunjuk dan bimbingan  Allah, sementara makrifat  pemahaman mendalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya melalui perjuangan spiritual.

Makrifat juga berbeda dengan hidayah, namun berkaitan. Hidayah petunjuk dan bimbingan  Allah, sementara makrifat  pemahaman mendalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya melalui perjuangan spiritual. Hidayah bisa menjadi pintu seseorang mencapai makrifat, dan sebaliknya makrifat juga dapat memperdalam hidayah. Jadi, hidayah adalah bimbingan Allah dan  makrifat adalah pencapaian pengetahuan spiritual tentang-Nya.

Mungkinkah Makrifat di Luar Agama?

Di luar agama ditemukan konsep yang mirip makrifat tetapi dengan istilah berbeda. Misalnya dalam filsafat. Aliran filsafat, seperti platonisme, idealisme, dan fenomenologi, membahas pencapaian pemahaman esensial terhadap realitas, kebenaran, atau hakikat. Dalam sains, para ilmuwan mencapai pemahaman mendalam tentang alam. Mereka mengalami  semacam “makrifat” sains. Dalam psikologi, terutama psikologi transpersonal, terdapat konsep pencapaian kesadaran diri yang searti makrifat. Pun dalam bidang seni, seniman menyingkap dan mengungkap keindahan di balik realitas. Mereka menggapai semacam “makrifat” seni.

Di sini makrifat mengalami perluasan arti dari mengenal Allah menjadi pemahaman mendalam (deep understanding), wawasan intuitif (intuitive insight), pencerahan (enlightenment), penyingkapan kebenaran (unveiling of truth), dan pengenalan esensial (essential knowing). Istilah yang terakhir mengacu pada pemahaman hakikat suatu hal melampaui pengetahuan konvensional. Meskipun istilah-istilah ini berbeda dengan “makrifat”, namun pada dasarnya merujuk ide serupa, yaitu pencapaian pemahaman mendalam melampaui pengetahuan biasa.

Makrifat Seni

Seni telah lama dianggap sebagai media menggapai dan mengungkapkan pengalaman spiritual. Dalam konteks ini, seni tidak hanya menjadi produk mimesis alam, namun juga mengandung pesan keberadaan Tuhan. Sebagaimana dilakukan para seniman besar, Tuhan menjadi sumber inspirasi dan kekuatan terbesar dalam proses pengkaryaan. Seni menjadi sarana menghadirkan ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian batin, sehingga manusia mencapai pemahaman tentang Tuhan melalui pengalaman artistik. Spiritualitas seni kemudian melahirkan getaran religius yang menjadi sumber kebaikan, kesalehan dan kebijaksanaan.

Melalui seni, manusia memperoleh pandangan holistik tentang keajaiban dunia. Seniman memadukan kontemplasi ketuhanan dengan keterampilan artistik mereka, membantu mereka memahami prinsip-prinsip esensial dari keberadaan Allah SWT. Dalam kunjungan ke museum seni, galeri, atau seni pertunjukan seni, orang bukan saja  menyelami langit estetika, tetapi  juga lebih dalam lagi mengalami keindahan spiritualitas.

Makrifat seni merupakan pencerahan spiritual seniman yang terilhami agama, alam, dan peristiwa. Sumber agama melahirkan karya tokoh agama, kisah suci, dan simbol spiritual. Keindahan alam menginspirasi lukisan alam lahir batin yang menakjubkan. Sementara peristiwa atau pengalaman marah, sedih, dan gembira mengilhami tema cinta, kehilangan, harapan, dan rasa sakit dalam celupan pencerahan spiritual. Para seniman menyampaikan pengalaman spiritual mereka dalam karya seni, menginspirasi orang berefleksi dan berpikir tentang hakikat kehidupan, serta hubungan antara manusia, Tuhan dan alam semesta.

Makrifat dalam seni merupakan ekspresi spiritual yang indah. Karya seni makrifat memiliki potensi transformatif yang dapat membangkitkan spiritualitas, inspirasi, kedamaian dan ketenangan penikmatnya. Seniman yang mendedikasikan karyanya untuk mengungkapkan pengalaman batin berperan mempromosikan nilai-nilai universal seperti cinta, kasih sayang, perdamaian, serta penghormatan.

Bukit Makrifat adalah metafora perjalanan spiritual menggapai pencerahan batin. Setiap langkah diwarnai rintangan yang menimbulkan keraguan dan ketakutan. Sebuah perjalanan yang penuh rintangan sekaligus keajaiban dan keindahan. Semakin tinggi mendaki semakin tipis kabut menyelimuti. Pada puncak pendakian, terhampar panorama luar biasa: luasnya samudra pengetahuan, kilauan bintang kebijaksanaan, dan kehangatan cinta Ilahi:

Pada kedalaman tafakurnya, tiba-tiba segala sesuatu terlihat sebagai Allah.

Apa pun Allah. Segalanya Allah, Allah segalanya.

Kebebasan dan ketenangan meliputinya.

Tak lagi terikat ruang waktu, keinginan dan kecemasan.

Ia fana, lebur, menyatu dengan-Nya.


Editor: Mohammad hagie

Ilustrator by Emad Rizk

0
564