Dari Ranjang ke Ranjang

Untuk saya, seorang pembaca awam kisah-kisah pesantren, membaca petualangan Engkus seolah membuat saya semakin meyakini cara pandang Pak Poe (Edgar Allan Poe) bahwa manusia tidak mampu menafikan kodratnya memiliki lobang hitam yang menganga di lapis dasar kesadarannya yang bisa menghajarnya kapan saja tanpa ampun, tak terkendali, hingga seseorang tak lagi berkuasa atas dirinya dan hanya mampu menampakkan sosok terburuknya sebagai seorang manusia.

Pendapat ini di abad 19 menjadi sebuah anti thesis atas cara pandang romantisme dan transendentalisme yang saat itu menjadi roh dunia kesusastraan Amerika, hingga Pak Poe dianugerahi gelar sebagai Bapak dark romanticism. Imajinasi liar saya mengantar saya pada sebuah pengandaian: jika novelet ini ditulis seorang Poe, maka ia akan menelisik jauh ke dalam motif-motif instinctive yang pada akhirnya mengajak pembaca untuk lebih memahami mengapa si tokoh mampu bertindak jauh di luar batas kepatutan yang secara konvensi disetujui oleh masyarakat.

Lebih lanjut, imajinasi visual saya membayangkan si Engkus berlari-lari di antara batas-batas covert dan overt culture, atau ia menjelma seperti sosok shapeshifter yang mampu berubah wujud entah jadi baik atau buruk sesuai dengan mood-nya yang kemudian Jung mengemasnya dalam konsep shadow-persona-nya.

Apa pun itu istilahnya, semua pemikir besar itu sepertinya bersepaham bahwa manusia adalah makhluk yang kesadarannya dibelah menjadi biner: baik-buruk, hitam-putih, patut-tidak patut, jahat-baik hati dan seterusnya. Dan area abu-abu (jika pembaginya adalah hitam-putih) adalah perpaduan keduanya. Hal ini konsekuensi dari status ganda yang mau tak mau dimilikinya; pada saat yang sama harus berbagi peran sebagai individu dan makhluk sosial.

Si Engkus ini memang tokoh yang dibungkus dengan sangat uniknya. Mas Fathul menampilkan Engkus dalam dua wajah ekstrim: cantik terpuji, santri, ahli mengaji, tumbuh di lingkungan yang sangat Islami (penokohan yang sangat stereotypically a perfect guy); namun wajah lainnya menampakkan si Engkus sebagai seorang diri yang tak mampu mengendali nafsu birahi; melanglang ranjang menjadi (istilah Mas Fathul) lelananging jagad. Di awal novelet ia diceritakan sebagai perjaka kecil yang ditakdirkan memiliki drive erotik yang lebih dari anak seusianya, sekaligus memiliki kesempatan untuk mencicipinya. Dihadirkanlah proses si Engkus mengasah bakatnya, semacam bertemu Mamang penjual jangkrik yang awalnya saya pikir akan menjadi pencipta monster Engkus hingga pengalaman pertama Engkus terekspose video porno; yang kesemuanya adalah kemungkinan-kemungkinan umum yang ada di kepala pembaca mengapa Engkus begitu terobsesi dengan seks.

Hingga ketika sampai pada bagian kehidupan Engkus di pesantren, kenyataan yang dipentaskan dalam novelet menurut imajinasi visual saya nyaris surealis. Ia dimunculkan sebagai ROTI yang siap disantap tiap saat. Terus terang sungguh seram membayangkan ketika Engkus menjelma menjadi cantik dan akhirnya menjadi sasaran pelampiasan nafsu seks kakak kelasnya. Satu hal yang mengganjal dalam benak saya adalah, masa Engkus tidak bangun ketika ia disantap, dan mengira bahwa seseorang telah menghadiahi dia ingus yang sangat banyak, hehe…

Dari foreword novelet yang dipasang di status WA Mas Fathul pra penerbitannya, saya terkaget-kaget bahwa sumber inspirasi dari novelet ini adalah kisah nyata seseorang yang dengan percaya diri mengakukan dosanya ke penulis. Luar biasa!

Apa yang saya rasakan mungkin adalah representasi dari perasaan yang umum dimiliki orang Indonesia kebanyakan. Sungguh, Mas Fathul ambil bumbu yang cukup spicy untuk karyanya ini: seks, pesantren, dan kisah nyata! Keberanian apakah yang merasukinya? Jika memang apa yang dilakukan Engkus adalah bukanlah imajinasi penulis belaka, apakah memang demikian adanya cuilan hitam kehidupan pesantren? Mengingat kembali bahwa Mas Fathul menyajikan pesantren sebagai latar tempat yang sangat akrab dengannya, sangat tidak asing, bahwa yang bercerita benar-benar mengalami hidup sehari-hari di sana, bahwa kemungkinan apa yang dialami Engkus ini mungkin terjadi mengangkat saya kembali untuk akhirnya berfikir, “Oh, okay ini lah dia realita, semacam apa pun pahitnya harus dikatakan bahwa ia ada.”

Kisah yang sama pernah disajikan Nathaniel Hawthorne dalam Scarlett Letter yang juga berkisah tentang terciptanya dosa zina yang dilakukan seorang pendeta yang sangat terhormat. Dengan mengambil latar Massachusetts di era Puritan Amerika, banyak argumen mengatakan bahwa Hawthorne mencoba mengedepankan sisi individualitas tokoh-tokohnya dari hegemoni superstructure yang menurut Hawthorne penuh dengan paradoks, yang tentu saja membuat novelnya menjadi sangat kontroversial di eranya.

Apa pun itu, novelet ini sangat enjoyable untuk dibaca, bisa selesai only in one-sit reading. Bahasanya lugas, lancar, renyah. Hal ini yang paling saya kagumi dari novelet ini, ringan namun mampu mendaras topik yang berat semacam kehidupan seks yang disandingdekatkan dengan agama yang sifatnya dogmatik. Yang membuat saya lebih heran, bahasa yang terkesan ringan tadi justru mencipta kesan innocence yang kuat pada tokoh Engkus; ya, dia pemuda pesantren biasa yang mahir membaca Al-Qur’an yang juga sangat biasa berkelana dari ranjang ke ranjang. Ditambah, ilustrasi-ilustrasi indah yang memancing komentar bahwa novelet ini dijual terlalu murah, hehe…

Namun, pasti semua pembacanya penasaran terhadap akhir petualangan Engkus: apakah ia berakhir dalam terang atau gelap, atau tetap terdampar dalam remang? Alur cerita disajikan bagai potong-potongan puzzle yang berlompat-lompat cepat sehingga pembaca harus membangun jembatan sendiri untuk menghubungkannya.

Pada sebuah halaman saya berhenti membaca dan bergidik, “Tak lama, mereka berdua sudah bersatu dalam selimut. Di atas ranjang cokelat yang berdebu. Jantung mereka berdetak keras saling pacu. Tiba-tiba bunyi murrotal terdengar dari Hp Engkus…..“ Selamat membaca!

Buku Langgar Shop