Elitz Keempat: Puisi-Puisi Kim Al Ghozali AM

Elitz Ketiga

Tubuhku t’lah senyap, siang menjelang patah
di palang perlintasan kereta api,
ketika ramalan beku oleh cuaca
kanal dangkal bangkit mencari ujung
kota, mataku jadi burung, di batas kenyataan
batu menjulang di tiang pancang
tanganku t’lah sembunyi di lubang ular
menjalar sepanjang gerbang pulau,
aku meluncur dari ketinggian,
bayangku menginjak api yang muncul dari ekor hari.
 
(Sby, 2020)

 

 

Elitz Keempat

 
Kerja kami, mata yang menggali batu,
tangan legam bergerak sepanjang abad,
kami mesin kami hantu kami komoditi
menggali diri dalam gelap tanah.
 
Siapa menari di kepala angsa hitam,
kami budak sepanjang tahun,
dengan ludah pekat dan lidah berdarah
tak henti kami mencipta.
 
Kerja kami, mata yang menggali batu,
ada yang kenyang di muka kolam
kami ada urusan dengannya.
Darah kami lama sudah dihisap
dan kini dunia disergap lapar.

 

Kami mesti merampas buah mangga
di kebun-kebun milik saudagar barbar
membagikannya sama rata ke mereka
yang terkurung dalam lumpur.
 
(Sby, 2020)

 

 

Elitz Keenam

Kukubur jasad tidur siangmu di pinggir
pondasi paling dalam, ketika kota
sayup-sayup menerima kepak kupu-kupu,
hantumu akan melagu, membangkitkan
bintang-bintang pemberontakan,
setelah kerja usai, setelah mata kita
yang sangsai sembunyi dalam doa
keselamatan atas pembangkangan
dan duka kita yang meleleh sepanjang
gerak kaki massa yang bimbang
lelap dalam kelopak mawar hitam.  
 
(Sby, 2020)
 

 

Elitz Kesembilan

Sepasang sepatu bootsmu berjalan meniti
matahari pagi, angkasa memberi ruang
lengang bagi kedua tanganmu yang tak henti
mencipta, kedua bahumu yang memikul besi,
O tembang bimbang k’las pekerja,
Bella Ciao, Bella Ciao, Bella Ciao, Ciao, Ciao!
mengalun dari lubang-lubang gelap
dasar sungai, darah terhisap menjadi
tembok putih istana sebelas srigala,
tapi kesadaranmu terus bangkit,
menyentuh cakrawala yang memagari kota,
dan di selat kapal-kapal merapat
menanti keberanianmu mengangkat
mawar hitam dan senjata.
(Sby, 2020)

 

 

Via, Vue, Voila Pertama

Raung tangan mesin menggaruk lantai,
ruang pengap—neraka meledak pukul dua,
surga menggumpal di elevator
setengah jadi, mulut debu memakan waktu,
hasrat semen kendalikan angin dari ubin.
 
Tuhan di gondola menuju balkon 28.
Kami melabur matahari bulan kesembilan.
 
Kini tak ada hujan lebih asam dari
keringat k’las pekerja, mengalir ke langit
lewati terowongan gelap
tempat mimpi prematur para kuli tidur
dan hantu berulang kali mewujudkan diri.
 
Kami menjulang, hari menjulang,
lapar menggelepar di sudut gelap kamar
apartemen belum usai. Ruang-ruang
melahap segala kami serahkan setengah hati,
bur mengubur yang tak kami hendaki
 
di basemen yang nyimpan tulang belulang
kota yang terus membangun.
(Sby, 2020)
 

 

Via, Vue, Voila Kelima

Angin melintas di atas kepala kami yang sangsi.
Selat tak lagi tampak. Kami mencari
perhatian lanskap, burung-burung, dan malaikat
di ketinggian. Kami tak membuat gunung
tapi gedung demi gedung telah kami susun
dengan ludah kelelawar, dengan konstruksi dari
tulang mayat menggelepar di medan perang,
dengan lantai dari jantung mawar, mata api
para kuli yang muncul dari bukit roh kabut,
kami mencipta sesuatu dari yang tiada.
 
(Sby, 2020)
 

 

Via, Vue, Voila Keenam

Bagaikan Tuhan, aku sendirian di ketinggian.
Gerak kakiku telah melemparku
ke ruang paling sunyi, menapaki angkasa,
disaksikan sejuta atap rumah setengah ngantuk.
 
Aku membangun menaramu menuju arsy
menciumi langit tempat seribu bunga
telanjang dan menari untuk matahari.
 
Tanganku terus bekerja, berlumur lumpur dan
kapur, lidahku menjilati udara, karunia
pepohonan ramah, lewati lintasan seribu
malaikat, jembatan gaib angkasa kota.
 
Dan di puncak siang yang cerlang
laparku menagih daging awan muda.
 
(Sby, 2020)
 

 

Via, Vue, Voila Ketujuh

Kesepian telah merenggutmu dari
bulan berkabut, membenamkan
tanganmu pada kerja, melelehkan
kedua kakimu ke kaca hitam
tempat seratus harimau mengintip
malaikat di kolam. Setelah hari usai,
jendela menampakkan padamu
gedung yang mengisap matahari,
pulau terluar berlayar, dan sungai
bangkit ke batas kota, kau pun
meledakkan diri ke atap rumah
yang mencuri tidur siangmu.
(Sby, 2020)

 


Ilustration: Digital lansdcape by Karan Gunjar

Buku Langgar Shop
Kim Al Ghazali AM
lahir di Probolinggo, 12 Desember 1991. Kini mukim di Surabaya. Selain menulis puisi, ia juga menulis prosa, dan tulisannya telah tersebar di pelbagai media cetak, media online, juga buku bersama. Bukunya yang telah terbit: Api Kata (2017), Rock Alternatif di Telinga Kirimu (2020), dan Angin Pertama (2020).