Het Boek Van Bonang adalah salah satu naskah Islam Jawa tertua yang awalnya merupakan koleksi pribadi seorang professor Latin di Universitas Leiden yang bernama Bonaventura Vulcanius. Ia memiliki naskah Het Boek Van Bonang ini dari muridnya yang bernama Damaius, yang pada awal masa pelayaran Belanda ke dua ke Nusantara –abad ke 16– ia sempat mampir ke Tuban dan membawa naskah tersebut ke Belanda. Naskah Het Boek Van Bonang ini kemudian oleh Vulcanius disimpan katalog perpustakaan pribadinya hingga dua abad, dan dihibahkan kepada perpustakaan Leiden di tahun 1870an, naskah tersebut kemudian dianotasi oleh B.J.O Schrike.

Anotasi naskah Het Boek Van Bonang dilakukan oleh Schrike dalam desertasinya, awalnya naskah ini tidak berjudul namun karena di belakang teks tertulis “tamat carita cinitra kang pakerti pangeran ing Benang“,penanda tersebut kemudian digunakan oleh Schrike untuk menamai naskah tersebut sebagai: Het Boek Van Bonang. Tetapi bila dilihat isinya, naskah Het Boek Van Bonang hanya berisikan pitutur-pitutur yang diwejangkan seorang tokoh yang bernama ‘Seh Bari‘ (merujuk pada nama tempat) kepada ‘Rijal‘ (yang merupakan istilah tasawuf Jawi, bukan nama) dan tidak ada tokoh yang bernama Sunan Bonang dalam teks tersebut.

Argumentasi B.J.O Schrike terkait penamaan naskah ini merujuk pada petanda yang ada di akhir naskah, ia kemudian menyimpulkan bahwa Seh Bari ini adalah guru dari Sunan Bonang yang berasal dari Persia, keterangan ini diutarakan Schrike dalam desertasinya.

Namun pendapat B.J.O Schrike itu dibantah oleh G.W.J. Drewes, Drewes menemukan keterangan dalam Primbon Wanayasa yang menyebutkan kata “Karang” atau “Kawis” yang merujuk pada sebuah pesantren di Banten. Oleh Drewes, naskah Het Boek Van Bonang anotasi Schrike kemudian dianotasi kembali, dan diberikan penamaan baru yaitu: The Admonitions of Seh Bari, menurut Drewes keseluruhan isi dari teks ini adalah tentang: “Wirasaning usul suluk” atau konsep-konsep mendasar mengenai ilmu suluk (baca: tasawuf Jawa).

***