Orang-orang Arab pertama kali singgah di Nusantara sejak masa Khulafaur ar-Rasyidin. Hal ini dibuktikan dengan catatan sejarah yang menyatakan bahwa para pedagang dari golongan Alawiyin (keturunan Ali bin Abi Thalib) pernah singgah di pelabuhan Sumatera dan Semenanjung Malaya dalam perjalanan ke Cina pada pertengahan abad ke-7. Melalui jalur laut mereka mampu menjangkau Persia, Afrika, India, hingga China hingga kemudian mencapai Nusantara. Darisanalah tepatnya orang-orang Arab ini singgah di Samudra Pasai yang sekarang sering dikenal sebagai Kota Serambi Makkah.

Kedatangan orang Arab di Nusantara tentunya tidak sekadar untuk lewat ataupun untuk berdagang, namun mereka juga meninggalkan jejak kehadirannya melalui kebudayaan tekstual yang lebih sering disebut kesusasteraan Arab. Penyebaran pengetahuan tekstual Arab awalnya hanya diikuti oleh masyarakat di daerah pesisir saja, sebelum menjangkau masyarakat di daerah pedalaman atau perbukitan. Baru kemudian pada abad ke-13 hingga abad 17 Masehi, perkembangan budaya tekstual Arab ini menunjukkan produktifitas yang tinggi di Nusantara. Pemikiran Arab disadur dan dikembangkan dalam bentuk pengetahuan baru di Nusantara yang nantinya menjadi sebuah budaya yang khas dengan keislaman dan dianggap sebagai karakter Islam pada era sekarang.

Pemikiran Arab disadur dan dikembangkan dalam bentuk pengetahuan baru di Nusantara yang nantinya menjadi sebuah budaya yang khas dengan keislaman dan dianggap sebagai karakter Islam pada era sekarang.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam pengembangan teks Arab menjadi budaya baru di Nusantara sering disebut sebagai ulama seperti yang kita kenal hari ini. Pada masa awal di pulau Sumatera banyak ulama yang mashur di kenal seperti Syekh Hamzah Fansuri, Abdur Rouf al-Singkili, Syamsudin Asumaterani, Nurrudi Ar-Raniri sebagai penyebar awal teks Arab. Kemudian di Jawa sendiri mereka dikenal sebagai Walisanga. Para ulama ini lebih jauh mendialogkan tekstual Arab menjadi sebuah keilmuan baru, di antaranya: sastra sufistik, tauhid, dzikir, dan sastra profetik yang bisa kita kenali hari ini.

Keilmuan-keilmuan tersebut hingga kini menjadi sebuah karakter utama dari keislaman Nusantara, terutama Islam di Jawa. Sebagaimana yang dituturkan Sunan Kalijaga “Arab digarap, Jawa digawa”. Bahwa meskipun Arab menjadi dogma dalam keIslaman Nusantara, justru Jawa itu sendiri menjadi paradigma kuat dalam ritual keIslaman Nusantara. Hal ini sesuai dengan ungkapan Sunan Kalijaga dalam Suluk Melaya “Anglaras ilining banyu, angeli ananging ora keli” yang berarti menyelaraskan berbagai aliran air di dalam sungai, ikut mengalir tapi tidak terbawa arus.

Hal ini sesuai dengan ungkapan Sunan Kalijaga dalam Suluk Melaya “Anglaras ilining banyu, angeli ananging ora keli” yang berarti menyelaraskan berbagai aliran air di dalam sungai, ikut mengalir tapi tidak terbawa arus.

Jika kita lihat bahasa Jawa Kawi yang seringkali digunakan oleh kaum Brahmana atau umat yang memiliki kasta tinggi justru menyerap bahasa Arab ke dalam bahasa mereka. Misalnya untuk menyebut gelas dalam bahasa Jawa Kawi biasanya mereka menggunakan istilah kidah yang dalam bahasa Arab “al qaadah” yang berarti gelas. Bahkan M. Jadul Maula, menuturkan dalam webiner “Peran Sastra Arab di Bumi Nusantara” bahwasannya aksara Kawi dapat digunakan untuk membaca tulisan Arab. Namun dalam perkembanganya aksara Jawa Kawi hanya mampu digunakan untuk membaca tulisan Latin hingga sekarang. Perlu diketahui juga bahwa, aksara Jawa yang dipelajari hari ini adalah aksara Jawa yang telah digubah oleh Sunan Kalijaga dan memiliki kerumitan yang rendah sehingga semua kalangan bisa mempelajarinya.

Sastra Arab dan Sastra Islam

Hingga hari ini banyak pandangan yang mengatakan bahwa mempelajari sastra Arab berarti mempelajari sastra Islam. Sebuah argumentaasi yang tidak sepenuhnya bisa disalahkan, namun juga kurang tepat. Dalam pengetahuan dan kajian Sastra Arab, para pembelajar banyak mengkaji kesusasteraan Arab nonmuslim seperti Khalil Gibran an lain sebagainya. Bahkan teori yang digunakan untuk menelisik keilmuan sastra Arab masih menerapkan teori Barat karena memang hingga hari ini kajian Sastra Arab belum menemukan teori Arab yang sesuai dalam keilmuan.

Masuknya kesusasteraan Arab ke Nusantara sendiri, memengaruhi tiga ranah, yakni ranah kultural, tekstual, dan estetik. Seperti yang disinggung sebelumnya bahwa ketika membicarakan sastra Arab berarti ia membicarakan sastra Islam. Sastra Islam di sini lebih kepada pengertian wacana kebudayaan Islam dalam ruang lingkup teks atau pengetahuan keilmuan, simbolik atau ritual keagamaan, seperti irama atau seni. Tetapi yang paling dominan saat ini adalah seni Islam, yang hari ini memunculkan banyak genre seperti; sholawat, pujian, dan syiir Islami.

Kemudian dalam ranah estetika, kesusasteraan Arab memengaruhi sastra Indonesia kontemporer yang dimulai pada abad ke-17 Masehi. Beberapa sastrawan terkenal seperti; Amir Hamzah, Hamzah Fansuri, dan Ibnu Hajj mengulik kesusasteraan Indonesia kontemporer dengan ciri khas sastra Arab dalam bidang sufistik. Selain dalam ranah sufistik, sastra pesantren, sastra zikir, sastra profetik juga terpengaruh dari kesusasteraan Arab. Sedangkan dalam ranah tekstual, kelahiran teks-teks sastra lisan maupun tulisan di seperti suluk, babad, serat, syair, sajak, pantun, hikayat, dan lainnya juga bagian dari proses tekstualisasi sastra Arab itu sendiri di Nusantara.

Sedangkan dalam ranah tekstual, kelahiran teks-teks sastra lisan maupun tulisan di seperti suluk, babad, serat, syair, sajak, pantun, hikayat, dan lainnya juga bagian dari proses tekstualisasi sastra Arab itu sendiri di Nusantara.

Namun sangat disayangkan, perkembangan kesusasteraan Nusantara di abad 20 Masehi seperti mandeg tanpa jejak ataupun karya yang dihasilkan. M. Jadul Maula sendiri mengatakan seakan-akan praktisi keilmuan hari ini mengamini kesusasteraan Nusantara sebagai kesusasteraan yang pasif tanpa mencetak karya dan generasi di masanya. Justru era sekarang orang-orang hanya meniru karakter terluar dari pengetahuan Arab dan langsung memakainya begitu saja.

Sebagai contoh adalah semakin eksisnya istilah “hijrah” yang dimaknai sebagai budaya arab dengan ciri khas kaum lelaki berjenggot dan berjubah serta perempuan bercadar. Fenomena lain yang membuat praktisi kesusasteraan Arab geleng-geleng kepala adalah fenomena mensakralkan huruf Arab. Kalimat “yamin” dan “syimal” yang ditulis pada sandal sebagaimana pernah trending di media sosial menuai kritik karena dianggap menginjak-injak bagian dari Al-Quran. Padahal “yamin” sendiri memiliki arti kanan dan “syimal” berarti kiri. Begitupula yang pernah dialami artis Agnes mo yang pernah mengikuti konser besar di Indonesia dan menggunakan jaket bertulis kalimat arab “almuttahidah” yang berarti persatuan.

Orang-orang awan bahkan fans yang tidak mempunyai pengetahuan keilmuan Arab memberi protes kepada Agnes mo yang dianggap melecehkan Islam karena menggunakan atribut Islam dengan gerakan dan kostum yang tak sepantasnya. Hal-hal seperti ini terjadi karena pengetahuan tekstual Arab kurang diperhatikan serta dipahami dan hanya sekadar mencomot istilah atau simbolik Arab tanpa mengetahui makna asalnya. Orang-orang ini begitu awam dalam pemahaman literasi Arabnya, namun memiliki ideologi bahwa hal-hal yang berkaitan atau berbau dengan Arab sudah pasti Islam.

Maka sebelum mengkritik hal-hal yang berbau Arab yang selalu diidentikan dengan Islam, sudah seharusnya untuk memahami literartur tekstual Arab dengan berbagai kajian dibelakangnya. Mulai dari sosio historis, dan perkembangan wacana yang ada dibelakangnya juga.

Disamping itu perlu adanya pengetahuan mendasar dan tidak memberatkan orang awam (bukan sarjana atau pembelajar tekstual Arab) agar mereka mampu memahami dan membedakan konteks daripada tekstual Arab. Dalam hal ini peran praktisi keilmuan sangat diperlukan untuk mengembangkan dan menghidupkan kembali kesusasteraan Arab di Nusantara yang mengalami masa redup. Karena kesusasteraan Arab yang dipakai hari ini adalah produk-produk keilmuan beberapa puluh tahun bahkan ratusan tahun yang lalu. Paradigma keilmuan kesusteraan Arab era sekarang kembali pada kajian: nahwu, sharaf, balaghah, dan lainnya yang merupakan produk para cendekiawan masa Dinasti Umayyah, yang seharusnya sebagai bangsa yang besar dalam bingkai peradaban Nusantara mampu menggeret sastra Arab dalam kultur local masyarakat kita sendiri. Seperti yang pernah diajarkan para ulama-ulama kita sebelumnya.


*Foto Ilustrasi di atas; Lukisan Arahmaini di yang Pamerkan di ARTJOG 2020