Pelayaran, Perdagangan, dan Silang Budaya

Ada sebuah sabda yang sangat terkenal dari Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya di Tanah Hejaz (Semenanjung Arabia) pada abad VII M: “Carilah ilmu walau sampai di Negeri Cina”. Kalau sabda ini kita tempatkan dalam konteks sejarah geopolitik dan ekonomi, di mana jalur pelayaran dan perdagangan kuno yang menghubungkan antara daerah semenanjung Arabia, Persia, India, Cina dan Nusantara telah dikenal sejak lama, bahkan menurut sejarawan Brandell (Habib Moestopo, 2001: 126) telah berlangsung sejak tahun 700 SM, maka kita menemukan banyak makna menarik di luar makna normatif sabda tersebut sebagai kewajiban mencari ilmu. Dari sudut pandang kita yang sedang mempelajari dinamika lokalitas di dalam relasi budaya antara kawasan Nusantara dengan kawasan Arab, maka kita akan seperti mendengar suatu respon kawasan Nusantara terhadap sabda tersebut, “Kalau pergi ke Negeri Cina, pastikan singgah dan mampirlah juga di Tanah Jawa, di Nusantara. Semoga ada hikmah untuk kita bersama“. Kelak respon ini terbukti efektif, ketika kita lihat fakta hari ini yang menunjukkan bahwa jumlah para Habaib (keturunan Nabi Muhammad) yang tinggal di wilayah Nusantara merupakan yang terbesar dibanding dengan kawasan-kawasan lain di dunia.

Sebagaimana ditulis Agus Sunyoto dalam “Islam di Indonesia” (naskah buku yang tidak diterbitkan), orang-orang Jawa Kuno sejak masa Mataram Kuno sampai Majapahit telah mengenal satuan mata uang seperti Picis (terbuat dari bahan tembaga, dengan nilai terendah), yang merupakan mata uang Cina. Hal ini menunjukkan bahwa perniagaan antar bangsa melalui jalur laut sudah dikenal masyarakat Jawa Kuno. Sejak Dinasti Han berkuasa sekitar abad ke-3 Masehi, catatan-catatan tentang Asia Tenggara mulai ditulis dalam teks-teks Cina (Wang Gungwu, 1958). Pulau-pulau di Nusantara yang awal sekali disebut pada tahun 132 Masehi oleh berita Dinasti Han dengan sebutan Ye-tiao adalah Jawa (Ferrand, 1916), kemudian pendeta-pendeta Buddha pada abad ke-5 Masehi yang berlayar dengan kapal niaga yang berdagang dari Cina ke India dan dari India ke Cina pernah singgah di Jawa (Wolters, 1967). Ditemukannya tembikar Cina dan benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di Sumatera selatan dan Jawa Timur, adalah bukti dari berkembangnya jalur perdagangan di Nusantara pada jaman kuno (Bellwood, 2000).

Sebagai lintasan jalur laut dari Cina ke India dan dari India ke Cina, perkembangan perdagangan di Nusantara terjalin pula dengan India. Menurut Wolters (1967) perkembangan perdagangan India ke Asia Tenggara didukung oleh pelayaran yang dilakukan para penutur Bahasa Austronesia yang pergi ke India (dan kemudian ke Madagaskar), yang kiranya telah dimulai sejak beberapa abad pertama Masehi dengan dikuasainya cara pelayaran mengikuti angin muson untuk menyeberangi Teluk Bengal. Ditemukannya sejumlah tembikar India di Sembiran, Bali, membuktikan keberadaan jalur perdagangan tersebut (Bellwood, 2000).

Jalur perdagangan laut yang menjadikan Nusantara sebagai satu-satunya “pintu” bagi kapal-kapal dagang Basrah, Siraf, Oman, Persia, India, dan Srilangka yang akan ke Cina dan sebaliknya, telah melimpahkan bermacam-macam keuntungan bagi masyarakat Nusantara atau setidaknya bagi penguasa-penguasa di Nusantara, baik dalam kaitan dengan pajak yang dipungut dari kapal-kapal dagang yang singgah maupun dari perdagangan antara bangsa dengan komoditas yang menguntungkan. Cina yang menjadi produsen utama sutera dan keramik maupun India yang produsen utama kain katun, membutuhkan hasil hutan, pertanian, tambang, rempah-rempah, dan hasil-hasil produksi yang hanya bisa diperoleh di Nusantara seperti lada, pala, gading, kayu gaharu, kayu cendana, kapur barus, timah, emas, permata, malam, mutiara, dan kulit penyu. Keberadaan keramik Cina dari zaman Dinasti Han, Tang dan Song yang banyak ditemukan di candi Ratu Baka dan candi Sewu (Woodward, 1977), dan keramik dari Dinasti Ming yang banyak ditemukan di sepanjang pantai utara Jawa dan Sulawesi selatan (Lombard, 1972) menunjukkan bukti betapa besar alur perdagangan laut di Nusantara dari abad ke-9 sampai abad ke-17. Demikianlah, kerajaan maritim Srivijaya yang dilanjutkan Majapahit, menuai keuntungan ekonomi sebagai penguasa ‘jalur perdagangan laut’ dari utara (Cina) ke selatan (India, Persia, Basrah, Oman, Madagaskar) dan sebaliknya.

Perdagangan melalui jalur laut di Nusantara tersebut, yang juga sudah dicatat oleh Claudius Ptolemeus dalam Geographike Hyphegesis pada tahun 150 Masehi, berkembang menjadi perdagangan antar bangsa seiring perubahan waktu yang diikuti berkembangnya teknologi kelautan yang dikembangkan penduduk Nusantara. Demikian pula al-Mas’udi, seorang sejarawan Arab yang hidup pada abad ke-9 sewaktu di Kanton melihat kapal-kapal dagang yang berasal dari Basrah, Siraf, Oman, kota-kota India, kepulauan Javaga, Campa dan kerajaan-kerajaan lain (Meynard, 1962). Akibat perdagangan antara bangsa itu, mentalitas penguasa-penguasa yang mengandalkan perdagangan melalui jalur laut ikut berkembang menjadi kosmopolit, terutama dalam menyikapi perbedaan ras, bahasa, agama, dan adat kebiasaan penduduk yang tinggal di wilayah kekuasaannya. Prasasti-prasasti yang berasal dari abad ke-9 dan ke-10 seperti Prasasti Kuti yang berasal dari tahun 762 Saka (840 M) yang menyebutkan asal negeri kelompok hamba raja (warga dalem): Cempa (Campa), Kling (Keling), Haryya (India utara), Singha (Srilangka), Gola (Bengali, Cwalika, Tamil), Malayala (Malayalam), Karnnake (Karnataka), Reman (Pegu), Kmir (Khmer), menunjuk pada indikasi kebanggaan raja-raja Jawa memiliki hamba sahaya orang asing, bahkan pada abad-abad berikut  para pedagang asing banyak yang menjadi penduduk di kota-kota pelabuhan dan memperoleh kepercayaan raja sebagaimana isi Prasasti Taji dari tahun 823 Saka (901 M), prasasti Kaladi tahun 831 Saka (909 M), prasasti Palebuhan tahun 849 Saka (927 M) tentang para banyaga (pedagang) yang berasal dari India utara (Haryya), India selatan (kling, pandikidya, pandikira), Srilangka (singha), Pegu (Ramman), yang sebagian diberi kepercayaan raja menjadi kilalan (mangilala drwya haji), yakni hamba raja yang ditugasi memungut pajak (Sarkar, 1971-1972).

Melalui mobilitas dan migrasi orang-orang antara bangsa, termasuk para pedagang dari Arab di dalam hubungan perdagangan itu pada gilirannya juga melahirkan pertukaran budaya. Terjadinya kontak budaya melalui perdagangan itu dapat ditunjukkan oleh adanya kosa kata bahasa Arab yang diserap ke dalam bahasa Jawa kuna pada masa Kerajaan Kediri sekitar abad XII. Dalam disertasinya, Soetjipta Wirjosoeparto (1960: 259) mengemukakan bahwa paling tidak tiga kosa kata bahasa Jawa Kuna yaitu gedah, gajih dan kaluwa yang terdapat dalam karya Kakawin dan epigrafi zaman Kadiri, berasal dari bahasa Arab. Kata gedah diserap dari bahasa Arab qadah, yaitu gelas minum yang besar. Kata itu akhirnya berubah menjadi gedah karena huruf “Q” diucapkan menjadi “G” menurut ucapan logat bahasa Arab Selatan. Kata gedah tersebut terdapat di dalam kekawin Gatotkacasraya karangan Empu Panuluh. Gedah yang berarti gelas minum merupakan barang perdagangan dari Timur Tengah (Arab). Kata kedua, gajih terdapat dalam Kekawin Bharatayudha, pupuh XIII bait 18, dalam konteks kalimat: ramya n wira sapandawanayuh aghosti pinigajihana n arames musuh. Artinya: “meriahlah di antara orang-orang pahlawan Pandawa; mereka mengadakan tarian tayub sambil bersorak-sorak, sedangkan kepada mereka yang telah membinasakan musuh diberi upah/gajih”. Gajih, dalam arti upah, merupakan serapan dari bahasa Arab jaza’, yang berarti balasan/upah/penghasilan. Sementara itu kosa kata bahasa Arab lainnya yang juga diserap dalam bahasa Jawa kuna zaman Kadiri adalah Kaluwa. Kata itu terdapat dalam prasasti Plumbangan di Wlingi, Blitar (Brandes, 1913 no. LXIX: 160 baris 18). Dalam prasasti tersebut terdapat kalimat: wnanamanana salwirni kaluwa, artinya: akan mendapat hak untuk makan segala macam kaluwa. Kaluwa adalah makanan yang manis, semacam manisan, yang di dalam bahasa Arab disebut dengan hulwa atau hal(u)wa. Di Langkat, Sumatera Utara, saya mendapati sampai sekarang masih banyak jenis makanan tradisional yang juga dinamakan haluwa ini. Berupa ragam buah-buahan, seperti mangga, kedondong, pepaya, cerme dan sebagainya yang diolah menjadi manisan.

Silang Budaya, Silang Agama

Wahyu-wahyu Islam yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW pada awal abad VII M, tentu saja membawa motivasi baru di dalam hubungan antara kawasan Arab dengan Nusantara, yaitu dakwah atau penyampaian ajaran. Ini digerakkan oleh sabda Nabi yang juga sangat terkenal, “Sampaikan ajaran-ajaran dariku, walau hanya satu ayat”. Catatan sejarah memberitakan para pedagang Persia dan golongan Alawiyin (keturunan Ali bin Abi Thalib, menantu Nabi) sudah singgah di kota-kota pelabuhan Sumatera dan Semenanjung Malaya dalam perjalanan ke Cina sejak pertengahan abad ke-7. Cerita-cerita rakyat di Buton, Sulawesi Tenggara, juga mengisahkan kedatangan dua orang sahabat Nabi yang datang dan menetap di sana, sehingga tempat mereka mendarat dan tinggal diabadikan dengan nama mereka, Batauga.

Sebuah cerita kehadiran saudagar Arab (tazhi) pada masa kekuasaan Ratu Simha di Kerajaan Kalingga pada awal abad VIII, diberitakan sumber-sumber Cina dari Dinasti Tang yang mencatat suatu peristiwa di mana akibat ulah seorang saudagar Arab yang tidak memercayai bahwa di wilayah Kalingga tidak ada penduduk yang melakukan tindak kejahatan – kemudian saudagar Arab itu menguji penduduk dengan menaruh emas satu peti di jalan yang ternyata tidak disentuh siapa pun sampai dua tahun – telah mengakibatkan putera mahkota Kalingga dipotong kakinya gara-gara menendang peti emas tersebut (Groeneveldt, 1960). Sebuah spekulasi juga pernah dilontarkan, bahwa fakta Ratu Simha menerapkan hukuman potong tangan atau kaki untuk para pencuri menunjukkan suatu pengaruh dari Arab.

Prof A.Hasjmi (1979) yang mengulas naskah tua berjudul Idharul Hak Fi Mamlakatil Peureulak karangan Syekh Ishak Makarani Al-Pasi mengungkapkan bahwa Islam masuk ke Peureulak sekitar tahun 173 H (800 M) bersama datangnya sebuah kapal yang dipimpin Nahkoda Khalifah yang membawa 100 orang juru dakwah asal Arab Kuraisy, Palestina, Persi dan India. Mereka itu menikahi perempuan setempat dan beranak-pinak. Seorang pemuda Arab Kuraisy keturunan Ali Bin Abi Thalib yang bernama Sayid Ali menikahi adik kandung Raja Peureulak, Meurah Syahir Nuwi. Dari pernikahan itu lahir Sayid Abdul Aziz yang menikah dengan putri Makhdum Khudawi, putri sulung Raja Meurah Syahir Nuwi. Pada 1 Muharram 225 H (840 M), Sayid Abdul Azis dinobatkan menjadi sultan Kerajaan Islam Peureulak pertama dengan gelar Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Syah.

Betapa sangat intensifnya perjumpaan bangsa Arab dengan wilayah Nusantara, terutama wilayah Sumatera, sehingga di dalam Sajarah Melayu disebut: “Hatta maka tersebutlah perkataan sayyidi Ali Ghiyatsuddin muwafakat di negeri Samudera Pasai, [awal abad ke 14] dengan segala menteri yang tua-tua; ia berbuat sebuah kapal dan membeli dagangan Arab, karena segala orang Samudera pada zaman itu semuanya tahu bahasa Arab.” Nama Pasai sendiri menurut J.L.Moens berasal dari istilah Parsi yang diucapkan menurut logat setempat sebagai Pa’se (Hasjmi, 1989).

S.Q. Fatimy (1963) mencatat bahwa pada abad ke-9 Masehi, terdapat migrasi suku-suku dari Persia ke Indonesia yaitu suku Lor, Yawani dan Sabangkara. Orang-orang Lor mendirikan pemukiman-pemukiman di pantai utara Pulau Jawa yang disebut Loram dan Leran. Terdapatnya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatallah di Leran, Gresik, yang menunjuk kronogram abad ke-10 Masehi adalah petunjuk yang mengarah kepada kebenaran berita tersebut. Dalam Kitab Musarar Babon Saka ing Rum yang dikutip dalam Primbon Ramal Jayabaya susunan R Tanaya (1956), diungkapkan bahwa dalam usaha mengisi Pulau Jawa yang masih dihuni jin, siluman, brekasakan, dan berjenis-jenis makhluk halus, Sultan Al-Gabah, penguasa negeri Rum (istilah orang Jawa untuk menyebut Persia-pen) mengirim 20.000 keluarga muslim Rum ke Pulau Jawa di bawah pimpinan Patih Amirul Syamsu dan Jaka Sengkala. Mereka tinggal di Gunung Kendheng di pantai utara Jawa. Dikisahkan bahwa ke-20.000 keluarga muslim itu diserang makhluk-makhluk halus, banyak yang mati dan tersisa hanya 200 keluarga. Mendapat laporan itu, Sultan al-Gabah marah dan mengirim ulama, orang sakti dan syuhada ke Jawa untuk memasang “tumbal” guna mengusir makhluk-makhluk halus. Akibat keampuhan “tumbal” para ulama, orang sakti dan syuhada, terjadi pralaya (kebinasaan besar) di Jawa.

Di dalam babad-babad lain juga diceritakan bahwa Prabu Jayabaya, raja Kediri yang besar, mempunyai seorang guru spiritual dari Persia yang dalam lidah Jawa disebut Syekh Samsujjen, yang makamnya diyakini masyarakat Kediri sekarang ada di Setono Gedong Kediri dengan nama (aslinya) Syekh Syamsudin al-Washil. Jejak pertukaran budaya dari hubungan tersebut ditunjukkan pada ilmu meramal yang dimiliki oleh Sang Prabu Jayabaya, yang sangat terkenal dan masih dipercayai hingga hari ini, dalam berbagai serat “Ramalan Jayabaya”. Menurut sejarawan Prancis, Denys Lombard, kata “ramalan” berasal dari bahasa Arab “ar-ramal” yang berarti “pasir”. Jejak lain dari peninggalan Prabu Jayabaya juga dapat dilihat dari rajah-rajah kesaktian dalam kultur Jawa yang masih “dipakai” hingga hari ini, juga menggunakan angka-angka dan huruf hijaiyah Arab. Kehadiran dan pengaruh para syekh ini juga terekam dalam kitab yang lebih tua zaman Prabu Airlangga, Kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Sedah, di mana seperti terjemahan kutipan Ir. Sri Mulyono dalam buku “Asal-Usul Wayang” terdapat ungkapan metaforik yang menggambarkan rumpun pohon bambu yang merunduk menyentuh sungai digambarkan seperti orang berkopiah sedang merunduk menghirup dan berkumur mengambil air (untuk wudlu).

Demikianlah, sekalipun dakwah Islam di Nusantara sudah dilakukan sejak pertengahan abad ke-7, namun Islam sebetulnya berkembang lambat sekali di kalangan penduduk bumi putera. Islam masih dianut oleh pedagang-pedagang dan pendatang dari Arab, Persia, India, dan Cina. Dalam tujuh kali muhibahnya, Cheng Ho yang menjadi legenda bagi penduduk Nusantara dalam sejumlah historiografi lokal, dikisahkan meninggalkan mubaligh-mubaligh untuk berdakwah di Jawa dan Sumatera. Namun para mubaligh tersebut belum bisa menyebarkan secara luas ajaran Islam di kalangan penduduk pribumi. Haji Ma Huan yang mengikuti perjalanan ketujuh Cheng Ho ke Jawa yang berlangsung antara tahun 1431-1433 Masehi, menuturkan bahwa di Jawa ketika itu terdapat tiga golongan penduduk. Golongan pertama, adalah penduduk Islam dari barat yang telah menjadi penduduk setempat. Pakaian dan makanan mereka bersih dan pantas. Golongan kedua, adalah orang-orang Cina yang lari dari negerinya dan menetap di Jawa. Pakaian dan makanan mereka baik, dan banyak di antara mereka yang memeluk Islam serta taat melaksanakan ibadah agamanya itu. Sedang golongan ketiga, adalah penduduk asli yang sangat jorok dan hampir tidak berpakaian. Rambut mereka tidak disisir, kaki telanjang, dan mereka sangat memuja roh (Arnold, 1913; Budiman, 1978; Hirth,196).

“Arab Digarap, Jawa Digawa”

Ketika Kerajaan Majapahit dengan peradaban Hindu-Budha-nya mengalami kemerosotan karena perang saudara yang berlarut-larut, di antara para bangsawan dalam memperebutkan tahta kerajaan sepeninggal Prabu Hayam Wuruk, yang menyebabkan demoralisasi dan krisis tatanan nilai besar-besaran di semua sektor kehidupan,  berdirinya Kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak pada akhir abad XV, merupakan momentum penting dalam konteks pertemuan budaya antara kawasan Arab dengan Jawa. Kerajaan Demak yang disangga oleh para tokoh-tokoh spiritual yang sangat mumpuni, yang dikenal dengan Walisanga, segera mengambil langkah-langkah strategis untuk mengembangkan agama sekaligus membangun kembali secara baru Peradaban Jawa yang sedang runtuh tersebut. Prinsip terpenting yang dikembangkan dalam proses transvaluasi nilai-nilai lama dan melahirkan nilai-nilai baru itu adalah “keselarasan” dan keseimbangan. Sebagaimana diungkapkan oleh Sunan Kalijaga, tokoh penting Walisanga dalam proses transvaluasi ini, di dalam suluk Syekh Melaya: “anglaras ilining banyu, angeli tan keli” (menyelaraskan berbagai aliran air di dalam sungai, ikut mengalir tapi tidak terbawa arus).

Prinsip keselarasan ini menjadi sangat signifikan, karena rupanya, bersamaan dengan merosotnya Hindu-Budha di lingkungan brahmana dan ksatria Majapahit, dibarengi dengan kemunculan kembali agama-agama rakyat kuno pemujaan leluhur Jawa di satu sisi dan di sisi lain oleh gerak pasang Peradaban Islam di berbagai kawasan dunia seperti Imperium Turki Utsmani di Timur Tengah, Imperium Moghul di India dan Imperium Shafawiyah di Persia, yang gelombang ekspansinya juga melanda kawasan-kawasan pesisir Nusantara.

Kisah simbolik mengenai peralihan damai dan kesinambungan serta keselarasan ruhani antara Peradaban (Hindu-Budha) Jawa ke Peradaban (Islam) Jawa, dikisahkan oleh Elizabeth Inandiak melalui adaptasi dari tembang-tembang dalam Serat Centini, dalam dialog antara Sunan Kalijaga dengan Prabu Yudhistira:

~~

Kalijaga berupaya menemukan kiblat di kerimbunan hutan, menghadap ke Mekah, selesai menyebut nama Allah, Bismillahirrahmanirrahim, lalu menggurat di tanah sepenuh empat deret kali empat baris, ke enam belas bilangan empat angka surat Al-Fatiha yang ia baca dalam hati dan ia tebarkan di hembusan napasnya. Mantra angka itu menggetarkan nyanyian serupa di dada Yudhistira dan tangan kanannya tiba-tiba membuka, melepaskan jimatnya. Itulah sebuah daun pandan halus dan digulung dan diikat benang sutera. Kalijaga membuka simpul benang itu dan membaca: Kalimasaada.

Yudhistira masih terpana:

Itu nama buku wasiat yang berkekuatan menghidupkan kembali para pahlawan yang mati belum waktunya. Tapi kematianku sebaliknya tak kunjung tiba. Kecuali barangkali bila membaca kelima usaada, kelima obat sang buddha untuk melewati kehidupan tanpa terlalu duka.”

Kalijaga berbicara, hati-hati tetapi pasti:

Oh, raja Yudhistira, masing-masing membaca melalui mata keyakinannya. Melalui mata baru Islam, aku membaca kalimah syahadat, pernyataan orang-orang Islam bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad SAW adalah utusan Allah. Adapun paduka tidak menemukan jalan kematian, itu karena terikat pada jimat, tiada lain adalah agama bentuk, agama paduka, agamaku dan agama lain–lain yang bahkan kita belum kenal. Mesti agama adalah pedoman mutlak manusia di dunia, ia bisa menjadi rintangan saat waktu tiba untuk meninggalkan raga demi kemanunggalan kawula gusti. Untuk mati dalam kemanuggalan, kita harus bisa melupakan rupa dan tak menyebut lagi. Kita harus naik menuju niat tunggal yang memancarkan kebhinekaan rupa dalam sebutan. Oh raja Yudhistira, begitulah paduka telah terbebaskan dari segala rintangan.

Yudhistira membuka kotak itu dan dari dalamnya mengeluarkan daun lontar yang diatasnya tergurat lima sosok: dirinya dan keempat saudara pandawanya. Ia membeberkan sisilah marga bharata, sejak malam perkawinan Shantanu dengan Dewi Gangga serta mengisahkan Bharatayudha kepada Kalijaga:

“Semoga saudara bisa menceritakan kisah ini sebagai renungan kenangan wajib. Untuk itu, dandanilah sosok-sosok itu dengan kulit seekor kerbau, hiasilah dengan tulangnya yang ditumbuk halus dengan bubuk berwarna dan gerakkanlah mereka dengan tanduk kerbau tadi yang dihaluskan menjadi tongkat tangkas. Namailah pagelaran wayang karena, lihatlah saudaraku, baru saja rupa sirna, bayangannya berkilau sudah.’’

Raja Yudhistira lalu langsung redup dalam pancaran aram temaram, ia berhasil naik ke surgaloka. Kalijaga mengubur jenasahnya di kaki beringin secara Islam dan pergi menyusuri jalan–jalan di Tanah Jawa untuk menyiarkan Nur Muhammad berbekal Quran serta kotak wayang.’’

~~

 

Tampak, medium peralihan damai dan kesinambungan yang selaras itu ditandai dengan digunakannya seni pertunjukan wayang. Memang, pertunjukan wayang sebagai ritual pemujaan leluhur sudah dikenal orang-orang Jawa sejak zaman pra-sejarahnya. Namun, para wali kemudian melakukan pembaharuan format pertunjukan wayang secara dinamis, estetis dan fungsional sebagai medium pendidikan masyarakat. Sebagaimana diakui oleh Th.G.Pigeaud dalam Javaansche volkvertoningen. Bijdrage tot de beschrijving van land en volk (1938). Ia menegaskan bahwa dugaan pertunjukan boneka wayang sebagai permainan yang terpisah sudah ada sejak dulu dan kemudian diisi dengan mistik Islam adalah tidak benar, karena semua orang tahu bahwa berita-berita mengenai wali-wali penyebar Islam, mereka itulah yang memberi peranan penting pada tujuan pertunjukan wayang dalam bentuknya yang sekarang. Itu berarti, pertunjukan wayang purwa adalah benar-benar hasil kreasi para Walisanga terutama Sunan Kalijaga dalam mereformasi secara menyeluruh seni pertunjukan wayang.

Para wali di dalam Dewan Walisanga banyak bermusyawarah untuk mengembangkan rumusan-rumusan ajaran dasar Islam secara tepat untuk diselaraskan dengan berbagai kecenderungan keagamaan, budaya dan kesadaran yang sedang saling bersaing silang sengkarut di tengah-tengah masyarakat. Demikianlah, sambil memasukkan nilai-nilai baru yang dibutuhkan masyarakat, seperti sabar, lilo, ngalah, iklas, musyawarah, mufakat, adil, akal, nalar, dan sebagainya, pada saat bersamaan beberapa ajaran Islam dipribumisasikan ke dalam istilah yang sudah dikenal masyarakat seperti kalimat syahadat dikenalkan sebagai kalimasada, shalat disebut dengan sembahyang, shaum/shiyam dikenalkan sebagai puasa (upawasa) dan sebagainya. Demikian juga, mulai diselaraskan pula sistem penanggalan antara kalender Hijriyah dari Arab dengan kalender Saka dan Jawa, yang nanti baru efektif diberlakukan pada masa Sultan Agung di Mataram.

Tidak lupa, para Walisanga juga menggali khazanah kuno Jawa yang tertulis dalam naskah-naskah berbahasa Kawi peninggalan kerajaan-kerajaan sebelumnya, dari Mataram Kuno sampai zaman Majapahit. Kitab-kitab tersebut, dibaca ulang, ditafsirkan kembali, diselaraskan dengan ajaran-ajaran (terutama tasawuf) Islam untuk kemudian diajarkan kembali ke tengah-tengah masyarakat. Hasil dari kajian dan kerja para wali dan komunitas keilmuan yang mereka bentuk saat itu, menghasilkan suatu model “perpaduan” yang khas, yang kelak mudah disalahpahami sebagai sinkretis. Seperti termuat dalam Serat Centini, ada kisah mengenai “Pêrmusyawarataning para dewa”, yang secara ringkas:

~~

Hyang Basuki nêranakên wêjanganipun Peksi Rukmawati bab cahyaning gêsang, anasir latu, bumi, angin, toya//Bhatara Basuki (Sriyana) bab pralambanging aksara Jawi, pasangan, sandhangan tuwin rekan//Hyang Endra bab ênêng-êning//Bhatara Wisnu bab lênggahipun aksara Arab ing awakipun manungsa, sarta minangka pralambanging ngèlmu agami. Dumadakan gègèr, jagad horêg, para jawata sami dhawah kantu, wungu sami kêsupèn ing sadaya ingkang winêdhar, kajawi Bhatara Wisnu ingkang têtêp èngêt.//Miturut Ngusmanajid, gurunipun Wisnu, dununging bumi, dahana, maruta, tirta ing badaning manungsa awujud jasat, napsu, napas, rokyat.//Hyang Guru ngêmpalakên sakathahing kawruhipun para dewa, kaimpun dados “Sastra Jendra Yuningrat” ingkang kajlèntrèhakên, ananging têtêp dados kêkêraning dewa”.

~~

 

Rumusan-rumusan ajaran dan nilai-nilai baru di atas, yang dilakukan dengan prinsip kerja penyelarasan “Arab Digarap, Jawa Digawa”, ditulis dalam bentuk popular cerita-cerita dan tembang-tembang, suluk serta serat-serat. Di samping penyebaran melalui media cetak (para Walisanga juga membawa teknik produksi kertas ke Jawa), ajaran dan nilai-nilai baru di atas disebarkan melalui medium-medium seni musik, suara, gambar, tari dan lain-lain, yang puncak dari kolaborasi berbagai seni itu diwujudkan dalam bentuk pagelaran wayang kulit. Pertunjukan seni dan pagelaran wayang, di samping untuk keperluan pendidikan masyarakat, juga menghibur dan menjadi sarana memakmurkan desa.

Bubukane dennya nedhak/ nukil Srat Kalimasada/ pan katedhak ing dalancang/ dados ringgit beber nama// Kalampahan jaman purwa/ kang dados kalangenannya/ ingkang amengku nagara/ ila-ilane punika// Anggemahaken ing desa/ barekat mupakat barkat/ ing ratu tumrah sapraja//

(Pembukaan lakon wayang ini dinukil dari Serat Kalimasada, yang dipindah di atas kertas, sehingga menjadi wayang beber. Ini adalah cerita dari zaman purwa, menjadi kegiatan menghibur milik negeri, untuk memakmurkan desa, dengan penuh keberkahan dan mufakat dari sang raja dan seluruh rakyat negeri).

 

Kebanyakan Walisanga adalah seniman, pendakwah dan ulama sekaligus. Mereka pandai memainkan wayang, gamelan dan menciptakan tembang-tembang. Salah satu yang terkenal adalah Sunan Kalijaga. Beliau dikenal dan dikenang oleh seantero penduduk Jawa sebagai seniman dan pendakwah yang berkeliling ke berbagai penjuru tanah Jawa menyebarkan agama Islam melalui berbagai kesenian. Sebagaimana dikisahkan oleh Babad Cirebon berikut ini:

Dadi dadalang kekembung/ anama Ki Seda Brangti/ apahe yen ababarang/ ika kalimah kakalih/ singa gelem ngucapena/ ya dadi tanggane nyuling// Sakedap dadalang pantun/ sang pajajaran dumadi/ akeh Islam dening tanggapan/ katelah dalang pakuning/ sakedap dadalang wayang/ maring Majapait dumadi// Akeh Islam dening iku/ katelah dalang kang nami/ sang Koanchara konjara purba/ tanggape bari gampil/ mung muni Kalimah Sahadat/ dadi akeh sami Muslim//

Keragaman Bahasa, Kemampuan Menafsir, dan Kosmopolitanisme Bangsa Jawa

Alexander Sudewa, dalam kajiannya terhadap mengenai fungsi Kawi dan pujangga dalam kasus Serat Dewa Ruci, menemukan bahwa sejak masuknya Islam ke Nusantara, berbahasa Arab membantu orang-orang Nusantara memaknai bahasa secara berbeda dari cara orang-orang Hindu-Budha dulu. Sebelumnya, bahasa lebih merupakan mantra atau yantra. Setelah kedatangan Islam, bahasa mulai bertransformasi. Berkat pengaruh bahasa Arab, berbahasa mulai identik dengan cara menafsirkan yang tepat dan ‘membebaskan’. Para Walisanga dan generasi pelanjutnya mengangkat istilah “patitis kang mardikani”, yang semakna dengan tafsir dan ta’wil dalam literatur Islam (Ahmad Baso: Pesantren Studies, 2012, hal 22-23). Konsep “patitis kang mardikani” dan bagaimana itu membantu orang Jawa membaca teks secara dinamis dan transformatif, kita temukan dalam satu bait dalam Serat Cebolek:

Punapa malih rasaning kawi/ Bima Suci kalawan Wiwaha/ Pan sami keh sasmitane/ Ngenting rasaning ngelmu/ Yen patitis kang mardikani/ Kadyangga Kawi Rama/ Punika tesawuf//

(Makna serat-serat kawi seperti serat Bima Suci dan [Arjuna] Wiwaha diungkap dalam bahasa-bahasa kiasan yang menguasainya bisa mendalami ngelmu asalkan menafsirkannya dengan titis dan mardika, demikian pula serat Rama dalam bahasa Kawi, semua itulah [ajaran] tasawuf)

 

Demikianlah, tampak bahwa para Walisanga di samping menyampaikan materi ajaran-ajaran secara sederhana dan popular melalui berbagai medium teks, mereka melalui berbagai teks itu ternyata juga mendidik masyarakat untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam menggunakan akal mereka untuk menafsirkan teks, bahasa-bahasa kiasan, sehingga mereka tidak terikat kepada “agama bentuk” tetapi dapat membebaskan diri dari “agama bentuk” itu untuk tujuan-tujuan mengenal dan manunggal dengan Tuhan secara lebih baik. Dengan kata lain, dalam kutipan di atas, tasawuf.

Dalam jangka panjang, kemampuan dalam menafsirkan teks, membebaskan diri dari “agama bentuk” serta dan meningkatnya pengenalan dan kemanunggalannya dengan Tuhan akan mendewasakan keberagamaan orang-orang Jawa dan mendidik mereka untuk mempunyai sikap toleran. Tentang toleransi orang Jawa ini, ada termuat dalam  Serat Centini:

Sampun tamat cariyosing para nabi// kang mêngku sarengat// jêjêripun nênêm nabi// mirib kang kasêbat Kitab.// Mèsêm-mèsêm Ki Ajar ngandika aris// kulup ingsun rasa// laku-lakuning agami// Buddha lawan kanabeyan.// Amung gèsèh laku nanging jogge sami// andhêku rahadyan.

(Terjemah bebas: Sudah selesai uraian ceritera tentang para Nabi yang memegang syariat seperti disampaikan oleh Jayengsari dari Kitab Bayanudayan. Dengan tersenyum bijak, Ki Ajar berujar, ‘Kulup [Anakku], kurasa perbedaan antara tata-cara agama Budha [agama pra-Islam yang dianut komunitas Tengger] dan tradisi para Nabi itu sungguh hanya terletak pada soal cara dan laku; sedangkan tujuannya sendiri adalah sama’. Jayengsari tunduk mengiyakan …)

 

Berkembangnya kebudayaan melalui baik teks maupun seni pertunjukan, menyebarnya pengetahuan melalui penggunaan bahasa yang beragam dan dengan pikiran yang terbuka serta jiwa yang toleran, pada gilirannya akan membangun peradaban Jawa tumbuh menjadi kosmopolitan. Suatu kutipan fragmen “Gatholoco Bantah Kalihan Guru Tiga” dari Suluk Gatholoco (Sastradipura, 1905) menunjukkan bagaimana kosmopolitanisme semacam itu ditunjukkan oleh santri-santri pesantren yang merupakan hasil dari pengembangan strategi kebudayaan para Walisanga di atas:

Kawruh Landa, Jawa, Cina// Myang Bênggala Koja Turki lan Kêling// Kabeh iku wus kacakup// Sun simpen aneng kasang// Kawruh Arab ajar timur kongsi lamur// Ngelmu Jawa nora kurang// Dhasar ingsun bangsa Jawi

(Pengetahuan tentang bahasa-bahasa Belanda, Jawa, Cina, Bengali [Persia], Koja [Arab], Turki dan Keling [India, Sansekerta]. Kami santri bertiga [Mat Ngarip, Ngabdul Jabar, Ngabdul Manap dari Pesantren Arjasari] sudah menguasai semuanya, kami punya semua [kamusnya] di dalam tas kami, kami mempelajari bahasa Arab dari masa muda hingga di masa tua. Demikian pula Ngelmu Jawa [kami sudah kuasai], tiada satupun yang kurang karena kami sendiri adalah orang-orang Jawa …)

***


Sumber Gambar:

Lukisan karya Hardi berjudul “Guru Bangsa Kanjeng Gusti Abdurrahman Wahid, Senopati Kalifatulah, Panotosomo ing Nusantara”, 2018.