Tren pada permulaan tahun 2020 menunjukkan bahwa pertumbuhan berbagai kerajaan baru yang terinspirasi pada pola pikir tradisional dan sejarah sangat dimungkinkan. Bercermin dari kenyataan itu, kita tidak dapat memungkiri bahwa konstruksi sosial dalam bentuk kepercayaan dan aspek kultural sangat memengaruhi pola tindakan manusia Indonesia. Sesungguhnya, perkembangan keilmuan kita yang sangat pesat tidak disertai dengan perubahan mendasar pola pikir masyarakat. Dengan demikian, pisau bedah analisis keilmuan kita yang progresif pada akhirnya tidak dapat memberikan jawaban praktis atas permasalahan yang dihadapi masyarakat yang masih mempertahankan konstruksi tradisional.

Salah satu contoh kegagalan keilmuan untuk menganalisis masalah semacam ini dapat kita lihat dari fenomena perkembangan kapitalisme di Jawa. Sejak ekonomi menemukan dasar-dasarnya sebagai ilmu pada abad ke-18, pembahasan mengenai keterlibatan manusia dalam kegiatan-kegiatan untuk memenuhi kebutuhannya selalu dipandang dari sisi logis matematis. Kemerosotan ekonomi suatu masyarakat akan dipandang dari hubungan perdagangan dan ketersediaan barang kebutuhan yang mengendalikan kemakmuran bangsa tersebut. Dengan demikian, aspek-aspek humaniora mulai disingkirkan dari alat analisis ekonomi.

Kita dapat melihat bahwa terdapat banyak penelitian yang membahas kehidupan ekonomi di Asia Tenggara, khususnya dalam kasus masyarakat Jawa. Salah satu penelitian yang mencoba memberikan alasan mengenai kurangnya keterlibatan masyarakat Jawa pada praktik kapitalisme telah selesai dilakukan oleh Yoshihara Kunio (1988).  Dalam bahasannya, Yoshihara Kunio memandang bahwa absolutisme raja-raja Jawa telah membuat rakyat Jawa enggan untuk menumpuk kekayaan yang bersifat tidak bergerak. Dengan demikian, masyarakat Jawa lebih cenderung mengumpulkan kekayaan dalam bentuk logam mulia dan kawula dibanding tanah-tanah luas dan instrumen produksi.

Dengan pola yang demikian, kapitalisme yang berkembang di Jawa—dan seluruh Asia Tenggara yang mengamalkan absolutisme—adalah kapitalisme yang bersifat semu.

Sekalipun telah memberikan suatu penjelasan yang logis dan didukung dengan berbagai bukti angka, Kunio tidak dapat menjelaskan penyebab masyarakat Jawa tidak memunculkan sosok kapitalis besar selain Sultan Hamengkubuwono IX. Bila syarat terciptanya kapitalis di Asia Tenggara adalah peran seseorang sebagai sosok penguasa pada pola kekuasaan yang absolut, kapitalis yang berasal dari luar Jawa justru tidak berada pada golongan penguasa. Selain itu, masyarakat lain di luar Jawa lebih banyak menghasilkan sosok kapitalis besar dibanding masyarakat Jawa. Kapitalis di luar Jawa memang terkadang memiliki kedekatan dengan sosok penguasa, namun hal ini justru meninggalkan pertanyaan lebih mendasar mengenai apakah tidak ada orang Jawa yang dekat dengan penguasa. Berangkat dari fakta ini, seharusnya muncul perhatian pada instrumen humaniora yang melingkupi masyakat Jawa.

Sejarawan terkemuka, Ong Hok Ham (1933–2007), telah membuat tulisan (2002) mengenai pengaruh kepercayaan masyarakat Jawa kepada lelembut terhadap beberapa tindakan ekonominya. Salah satu kasus yang diamati oleh Ong adalah kepercayaan mengenai thuyul (atau tuyul) yang selalu berkembang di kalangan petani Jawa. thuyul adalah sosok lelembut yang termasuk dalam jenis hantu perewangan atau hantu yang dapat dipelihara. Tugas dari thuyul adalah mengambil uang orang lain secara diam-diam. Secara ringkas, thuyul dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat menciptakan konstruksi sosial bahwa menjadi kaya di tengah masyarakat petani yang subsisten adalah hal yang tidak baik. Bila seseorang menjadi kaya, kekayaan itu dapat membuatnya dituduh memelihara sosok thuyul.

Kita dapat memandang bahwa menjadi kaya di tengah masyarakat petani yang mengamalkan prinsip subsisten memang dapat mengganggu hubungan sosial seseorang. Bila muncul sosok yang lebih kaya dalam lingkungan petani, para petani akan menghadapi suatu tekanan tambahan. Munculnya seseorang dengan kapasitas ekonomi berlebih di antara masyarakat subsisten menimbulkan hubungan sosial vertikal terhadap kelas lain selain kelas penguasa. Orang-orang kaya dengan kekayaannya dapat mengendalikan kehidupan subsisten petani dengan berlaku sebagai pemberi utang, perantara jual-beli, dan bahkan pengijon atau tengkulak. Dengan demikian, para petani menciptakan kontrol sosial dengan mengonstruksikan kepercayaan bahwa orang-orang kaya tadi telah menjadi kaya karena memelihara sosok thuyul. Pada akhirnya, orang-orang ini akan dipinggirkan dalam hubungan sosial. Atas dasar inilah sesungguhnya kehadiran orang Cina (kini disebut Tionghoa) di tengah kehidupan masyarakat tani Jawa tidak dapat diterima karena bertindak sebagai kapitalis dan tidak dapat dikendalikan melalui konstruksi sosial lokal, misalnya berupa thuyul tadi.

Berangkat dari pengetahuan itu, hubungan antara kepercayaan terhadap lelembut dan kapitalisme menghasilkan dua skema yang memungkinkan. Pertama, kapitalisme yang mengganggu tata masyarakat Jawa muncul terlebih dahulu dan kemudian menghasilkan konsep lelembut sebagai instrumen kontrol masyarakat. Kedua, konsep kepercayaan terhadap lelembut muncul terlebih dahulu dan justru membuat kapitalisme tidak dapat bertumbuh dalam masyarakat Jawa. Kedua skema ini sama-sama dimungkinkan karena masyarakat Jawa memiliki kecenderungan untuk mengamati dengan seksama dan merumuskan berbagai hukum atas pengamatan itu. Pengamatan dan perumusan ini dalam kebudayaan Jawa disebut sebagai ilmu titen.

Melalui contoh kepercayaan terhadap lelembut tadi, kita dapat melihat bahwa tradisi lisan memainkan peranan yang sangat penting dalam menentukan tindakan ekonomi suatu masyarakat. Perkembangan tradisi lisan yang berbeda juga sesungguhnya dapat menjelaskan kenyataan berbeda yang muncul antara kasus Jawa dan wilayah lainnya. Bila kita bersandar sepenuhnya pada aspek ekonomi dan politik, kita tidak akan mampu menjawab pertanyaan mengenai perbedaan Jawa dan wilayah lain. Kenyataan bahwa Jawa hanya memunculkan satu kapitalis besar hanya mampu dijawab melalui pembahasan kebudayaan Jawa, salah satunya melalui tradisi lisan. Munculnya Sultan Hamengkubuwono IX sebagai kapitalis besar tentu berkaitan dengan kekuasaan dan harta keturunan yang memang telah mapan karena status kekuasaannya. Berbeda dengan itu, tradisi lisan dapat menjelaskan bagaimana pemupukan harta ini di kalangan rakyat tidak dapat terwujud karena pengaruh kepercayaan yang telah dijelaskan tadi. Kepercayaan mengenai sosok lelembut yang merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat juga sesungguhnya dapat menjelaskan aspek lain dalam bidang ekonomi.

Pembicaraan mengenai tradisi lisan dapat menjadi cerminan moral ekonomi yang diamalkan oleh masyarakat Jawa. Scott (1994) telah menganalisa bahwa masyarakat Asia Tenggara—termasuk Jawa—mengamalkan prinsip subsistensi sebagai moral ekonomi mereka. Sekalipun demikian, Scott hanya menjelaskan aspek sosial masyarakat yang dinilainya dapat mendukung moral ekonomi mereka ini, yaitu dengan sikap saling membantu dan distribusi kekayaan melalui dana-dana seremonial. Namun, bila kita menjelaskan aspek budaya, kita akan menemukan bahwa tradisi lisan dalam bentuk kepercayaan pada mitos, lelembut, dan hal lainnya adalah instrumen yang juga berperan sangat kuat untuk menjaga moral ekonomi subsisten tadi. Dengan demikian, tradisi lisan berfungsi untuk menjaga perilaku ekonomi masyarakat Jawa agar tetap berada pada jalur ekonomi moral. Terjaganya perilaku ekonomi ini pada akhirnya menghindarkan masyarakat Jawa dari pola-pola kapitalisme seperti yang berkembang di Eropa.

Dengan demikian, tradisi lisan berfungsi untuk menjaga perilaku ekonomi masyarakat Jawa agar tetap berada pada jalur ekonomi moral. Terjaganya perilaku ekonomi ini pada akhirnya menghindarkan masyarakat Jawa dari pola-pola kapitalisme seperti yang berkembang di Eropa.

Melalui sudut pandang kelestarian lingkungan dan sosialisme, tercapainya ekonomi moral seperti pada kasus Jawa adalah suatu kualitas yang baik. Namun demikian, tentu bila kita menggunakan sudut pandang kapitalisme, hal ini adalah suatu kondisi yang menghambat peningkatan taraf hidup dan perkembangan ekonomi. Simpulan—dari sisi lain—semacam ini hanya dapat ditarik bila kita mempertimbangkan aspek humaniora dalam analisis ekonomi. Ketika kita hanya berkutat pada aspek numerik sepenuhnya, kita tidak akan mampu menjawab banyak kejanggalan yang muncul di dalam praktik ekonomi masyarakat. Untuk menghadapi masyarakat Indonesia masa kini yang tetap terpengaruh konstruksi sosial tradisional, humaniora berfungsi dengan baik sebagai ilmu bantu analisis berbagai bidang ilmu lain.

 


Daftar Sumber dan Bacaan Lanjutan

Brown, Ian. 1997. Economic Change in Southeast Asia c. 1830–1980. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Endraswara, Suwardi. 2004. Dunia Hantu Orang Jawa: Alam Misteri, Magis dan Fantasi Kejawen. Yogyakarta: Penerbit Narasi.

Endraswara, Suwardi. 2018. Mistik Kejawen: Sinkretisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa. Yogyakarta: Penerbit Narasi.

Gottschalk, Louis. 1975. Mengerti Sejarah: Pengantar Metode Sejarah. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Kunio, Yoshihara. 1988. The Rise of Ersatz Capitalism in Southeast Asia. London: Oxford University Press.

Lapian, Adrian B. 2017. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17. Jakarta: Komunitas Bambu.

Ong, Hok Ham. 2002. Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara. Jakarta: Kompas.

Ong, Hok Ham. 2008. Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina, Sejarah Etnis Cina di Indonesia.Depok: Komunitas Bambu.

Reid, Anthony. 1992. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450—1680, Jilid I: Tanah di Bawah Angin. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Scott, James C. 1994. Moral Ekonomi Petani: Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES.

Wolf, Eric R. 1985. Petani: Suatu Tinjauan Antropologis. Jakarta: CV. Rajawali.

Christopher Reinhart
Christopher Reinhart adalah peneliti bidang sejarah kuno dan sejarah kolonial wilayah Asia Tenggara dan Indonesia. Sejak tahun 2019, menjadi asisten peneliti Prof. Gregor Benton (School of History, Archaeology, and Religion, Cardiff University). Sejak tahun 2020, menjadi asisten peneliti Prof. Peter Carey (Trinity College, University of Oxford; Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia).