Mara Sesepuh

1

Pada umumnya, sebuah desa pasti memiliki sesepuh, pinisepuh, atau para sepuh, mereka terkadang disebut dengan istilah kamitua. Di desa-desa, istilah kamitua ini dipakai untuk menyebut individu-individu yang dari segi usia memang sudah sepuh namun sekaligus memiliki kematangan batin. Mereka menjadi paran pitakonan (tempat untuk mencari solusi) bagi setiap persoalan yang ada ditengah masyarakat, dan perananya yang terpenting ialah sebagai penjaga tradisi dan ritual yang ada di desa. Oleh masyarakat, mereka dianggap sebagai orang yang memiliki kebijaksaanaan.

Sekadar untuk referensi, pengertian “sepuh” yang lebih mendalam sebagaimana disebutkan dalam Serat Wedatama, ialah orang yang sudah mencapai kapasitas sepi hawa dan awas loro-loroning atunggil. Sepi hawa dapat dimaknai secara sederhana, bahwa segala keputusan dan tindakannya sudah tidak lagi dikendalikan oleh hawa nafsunya, sehingga, tindakan yang lahir sebagai manifestasi kondisi batiniahnya, yang dalam istilah Jawa disebut sak solah bawane sarwa nengsemake (seluruh tindak tanduknya serba mempesona).

Inilah yang dalam istilah dunia pedalangan disebut semu: suatu kapasitas yang dimiliki oleh seorang dalang untuk dapat menghidupkan, atau memberi ruh (urip) pada pertunjukan wayang, sehingga penonton dapat menyerap masuk kedalamnya hingga menyentuh sisi kesadarannya. Suatu pencapaian estetis tertinggi dalam jagad pedalangan.

Awas loro-loroning atunggil dapat dimaknai, bahwa mereka (red: para sepuh) sudah tidak lagi melihat realitas yang tergelar ini sebagai suatu irisan yang terpecah belah, semisal antara madu dan manisnya atau antar oposisi yang terkadang dibenturkan, seperti: baik dan buruk; atas dan bawah; laki-laki dan perempuan; desa dan kota; dan banyak lagi contohnya. Namun mereka melihat kesemuanya itu sebagai satu kesatuan yang utuh yang memiliki esensi yang satu dan tunggal, ora ana aku karo kowe, sing ana awake dewe (tidak ada aku dan kamu, yang ada adalah kita). Kesadaran semacam itu mencerminankan pribadi yang memiliki integritas, jiwa yang tak terkoyak, akal dan hati yang tak retak, pribadi yang paripurna.

2

Dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat, seorang sesepuh yang ideal setidaknya harus memiliki tiga kualitas sekaligus, yakni sembur, tutur, dan uwur-wur. Sembur adalah suatu kemampuan yang bersifat spiritual, seperti menyembuhkan orang sakit, atau menghilangkan balak dan lain sebagainya melalui perantara do’a-do’a. Hal ini menandakan bahwa seorang sesepuh harus memiliki kedekatan dengan yang Maha Kuasa. Tutur adalah kemampuan untuk memberikan nasehat kepada anak cucu atau masyarakatnya agar tindak-tanduk mereka tidak menyimpang, atau lebih tepatnya selalu sejalan dan selaras dengan sarak dan tatanan. Kemampuan seperti itu mensyaratkan kedalaman ilmu, pengalaman dan  kebijaksanaan. Sedangkan uwur-wur ialah kepemilikan sumberdaya, dahulu dapat berupa benih serta ladang yang dapat diwariskan kepada anak cucunya sebagai bekal bagi kehidupan mereka di dunia.

Seperti cerita yang telah diturunkan turun temurun di desa kami, dimana setiap lebaran para sesepuh inilah yang masuk daftar utama untuk dikunjungi. Kami akan memohon maaf dan meminta do’a dari mereka dengan cara sungkem, atau bersalaman dan menundukkan kepala serendah-rendahnya di atas pangkuan mereka sambil mengucapkan kalimat “Bismilla hirrakhma nirrakhim. Ngaturaken sugeng riadi, sedaya lepat kula nyuwun pangapunten, lan nyuwun do’a pangestunipun“.

Pada umumnya, jawaban yang akan diberikan oleh para sesepuh itu kepada kami adalah  “Ya pada-pada, nyong wong tua akeh lupute, sing enom sing gede pangapurane, cok kongkonan, cok nyeneni. Tak dongakke muga-muga tetep iman islame, khasil maksude, pinter ngaji sekolah, bisa nemomi bada tahun ngarep“. Ketika mereka mengucapkan kalimat itu, mulut kami tak henti-hentinya melafalkan kata amin, sampai kalimat itu selesai diucapkan. Tradisi seperti itu di tempat kami disebut bekti, dan ditempat lain ada yang menyebutnya ujung.

3

Masyarakat Jawa menyebut lebaran atau Idul Fitri dengan istilah riadi, yang berasal dari dua suku kata, ri dan adi, yang artinya hari raya, hari besar atau hari yang agung. Riadi ini memiliki nilai yang sangat penting bagi masyarakat Jawa karena merupakan puncak dari serangkaian ritual keagamaan yang sudah dimulai sejak bulan Rajab, Ruwah dan Puasa, sebagai satu rangkaian yang utuh, dan sebagai bentuk napak tilas dari perjalanan spiritual para nabi untuk menuju hari yang agung.

Di hari raya, semua orang akan mengenakan pakaian baru, memakai wewangian, menghiasi rumah dan lingkungannya dengan dekorasi yang serba indah, memasak masakan yang spesial, menabuh bedug dan kentongan selama berhari-hari sambil mengumandangkan takbir menyebut asma kebesaran Allah. Karena pada hari itu, seperti seekor ular yang nglungsi, setiap pribadi akan kembali menjadi muda, menjadi alfata, dan memancarkan cahaya yang berseri-seri, kembali pada fitrahnya yang asali: kullu mauludin yuladu ‘ala fitratil islam.

4

Di desa kami dan desa-desa sekitar, setiap memasuki bulan rajab akan sering terdengar suara pujian menjelang shalat dari corong-corong masjid dan langgar yang berbunyi “Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’bana wa ballighna romadhana”. Suatu pujian yang berisi harapan agar diberkahi untuk dapat menjumpai momen-momen penting yang terkandung di dalam bulan itu dan menjalaninya dengan penuh hikmat. Pada setiap malamnya, masyarakat akan membaca Maulid Barzanji secara bergiliran dari satu rumah ke rumah berikutnya. Di masjid dan langgar desa, pada tanggal yang sudah dijadwalkan akan diadakan peringatan isra’ mi’raj untuk memperingati perjalanan Nabi Muhammad dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsa, kemudian naik ke Sidratul Muntaha untuk berjumpa dengan Gusti Allah. Hajat isra’ mi’raj ini akan dihelat secara besar-besaran.

Bulan Ruwah, seperti namanya, adalah bulan yang dikhususkan untuk mengirim doá kepada arwah para leluhur dan mengunjungi pusaranya. Di desa kami, pada setiap malam Jum’at di bulan tersebut akan digelar pembacaan Surat Yasin untuk mendoakan arwah para leluhur. Kata para orang tua, rumah yang kami tempati dan tanah yang kami garap untuk hidup, itu semua adalah hasil dari jerih payah perjuangan simbah-simbah kami, para sesepuh kami. Maka sudah sepantasnya setiap malam Jum’at kami mendo’akan arwah mereka dan khusus untuk bulan Ruwah, kami harus mengunjungi pusaranya.

Sehari menjelang puasa kami harus sudah berada di rumah, saudara-saudara yang merantau jauh pun biasanya juga pulang. Kami akan bersama-sama ziarah ke makam simbah-simbah kami. Pesarean yang biasanya sepi, tiba-tiba menjadi ramai. Orang-orang akan berjalan kaki ke makam yang berada di atas bukit dengan membawa bunga dan sapu lidi, berbondong-bondong mangunjungi makam leluhur mereka. Makam-makam menjadi harum wangi aneka bunga dan pandan, rumput-rumput liar dan daun-daun berguguran yang meranggas bersih tersapu sapuan sapu lidi. Makam berubah menjadi tempat pertemuan yang besar antara manusia yang masih hidup dengan yang sudah meninggal. Ada ikatan emosional dan sejarah yang selalu terus dijaga, yang memberikan kesadaran mengenai keberadaan kami di dunia ini. Setidaknya, kami ingat bahwa kami memiliki asal usul, dan hidup ini memiliki tujuan yang pasti, sebagaimana yang diperjuangkan oleh leluhur kami dengan segala pergulatan melelahkan yang memeras keringat, senyum, dan air mata, namun pada akhirnya, muaranya adalah ke pemakaman. Tradisi pada bulan Ruwah itu disebut Ruwahan, atau Majemukan, atau Sadranan, tiga kata yang sering dipertukarkan penggunaannya sebagai bentuk dasa nama.

5

Pada pertengahan bulan Ruwah biasanya akan diadakan peringatan malam nisfu sa’ban, yang disebut Sa’banan, karena pada malam itu buku catatan amal manusia akan diangkat ke langit. Di desa kami, sehari menjelang acara, kaum perempuan akan sibuk menyiapkan ubarampe selamatan dengan memasak nasi dan pelas dengan segala kelengkapannya. Pelas merupakan jenis makanan yang di daerah Yogyakarta disebut Bothok.

Pada sore harinya, masakan itu akan saling ditukarkan dengan masakan tetangga, dan akan diantarkan, istilahnya Munjung, kepada para orang tua serta kerabat yang lebih tua. Dan malam harinya, masyarakat akan berbondong-bondong datang ke Masjid atau Langgar terdekat dengan membawa masakan mereka untuk mengadakan selamatan dan makan kembulan bersama. Acara itu biasanya diselenggarakan selepas Isya’.

Kaum perempuan dalam setiap upacara ritual yang diselenggarakan oleh masyarakat Jawa menduduki peran yang sangat vital. Karena merekalah yang memiliki kemampuan dan pengetahuan terkait dengan ubarampe, yang terkadang sangat banyak sekali jenisnya, yang harus ada dalam setiap upacara. Segala kebutuhan ritual yang berkaitan dengan ubarampe, dari awal sampai akhir, dari mulai belanja ke pasar sampai ke penyajian, berada dalam pengelolaan mereka. Oleh karenanya, pasar-pasar tradisional di Jawa, setiap menjelang upacara tradisi, akan rame dikunjungi pembeli, yang dalam istilah Jawa disebut Prepegan.

Pada malam menjelang puasa, orang jawa akan menjalankan tradisi Padusan, yaitu mandi kramas sebagai simbolisasi penyucian lahir dan batin, sebagai bentuk persiapan diri dan peneguhan hati untuk memasuki bulan dimana setiap individu akan berupaya semampunya mendidik dirinya masing-masing. Menata setiap tindakan dan ucapan, gerak-gerik hati dan pikiran, agar meningkat menjadi lebih baik. Pada bulan puasa itu, terbentang sederet kegiatan keagamaan yang produktif, seperti shalat tarawih, tadarusan, nuzulul Qur’an, selikuran, tirakatan hari ganjil, zakat, dan lain sebagainya.

Demikianlah sekelumit ringkasan yang saya dapatkan dari penuturan sesepuh di desa saya. Berbagai pernik adat di atas, saya dapati masih lestari di desa saya, dijaga oleh para sesepuh. Pengetahuan ini tidak hilang. Kita hanya perlu bertanya kepada mereka agar tahu ihwal apa saja adate (red: yang biasanya) dilakukan untuk memule leluhur: “Mikul dhuwur mendhem jero” . Wallahu a’lam.

 

Muhammad Luthfi
Mahasiswa Jurusan Seni Pedalangan ISI Yogyakarta. Saat ini tinggal dan berproses di Pondok Pesantren Budaya Kaliopak sebagai Juru Sapu.