Mbah Mutamakkin dan Toponimi Kajen, Catatan untuk Agus Sunyoto

 

Haji Ahmad Mutamakkin namanya. Seorang pangeran dari Pajang yang lebih memilih ‘keraton akhirat’ ketimbang ‘keraton dunia’. Sosok yang bernama Jawa Hadikusuma ini memilih berdakwah di tengah masyarakat. Ia tidak tertarik dengan tawaran ayahandanya, Sunan Benawa II untuk melanjutkan takhta. Pada akhir hidupnya, Haji Ahmad Mutamakkin menetap dan wafat di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Haji Mutamakkin hidup di masa peralihan kekuasaan Amangkurat IV dan Pakubuwana II (1645-1740 M). Orang-orang lebih familier dengan nama Mutamakkin. Mutamakkin berarti orang yang meneguhkan hati, atau orang yang diyakini kesuciannya. Nama gelar ini diperoleh Hadikusuma saat nyantri di Yaman.

Bagi warga Kajen seperti saya, sosok ini lebih akrab dipanggil Mbah Mutamakkin. Tempat pemakamannya terletak di tengah-tengah desa. Tidak jauh dari makam tersebut, kira-kira 50 meter di arah timur laut, ada bangunan masjid yang diyakini masyarakat setempat sebagai peninggalan Mbah Mutamakkin. Termasuk di dalamnya sebuah mimbar dengan penyangga dua naga raja. Ada juga papan bersurat dan rangkaian kaligrafi di langit-langit masjid yang berisi wirid dan simbol-simbol.

Barangkali para pembaca sejarah Mbah Mutamakkin akan berkerut jidat. Sebab Mbah Mutamakkin, oleh para peneliti terdahulu dikisahkan mempunyai nama Jawa Sumohadiwijaya. Konon nama tersebut diperoleh dari sebuah manuskrip dan tradisi tutur masyarakat Kajen. Namun setelah saya membaca ulang manuskrip yang dimaksud, ternyata nama Jawa Mbah Mutamakkin adalah Hadikusuma.

Mereka, para peneliti terdahulu, merujuk pada manuskrip Teks Kajen. Sebuah manaqib tentang Mbah Mutamakkin yang ditulis oleh KH. Ahmad Rifai Nasuha. Manuskrip ini ditulis dengan bentuk prosa dan dilengkapi dengan silsilah Mbah Mutamakkin yang menyambung ke atas, meliputi Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, hingga sampai Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Manuskrip Teks Kajen beraksara pegon dan berwujud fotokopian tersebut, nampaknya medium kertasnya adalah jenis folio bergaris dan berjumlah 74 halaman. KH. Rifai sendiri, merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Iíanah (PPAI), Kajen. Letaknya dari Masjid Kajen ke arah tenggara. Persisnya 200 meter dari arah barat Pasar Bulumanis, sebuah desa yang berbatasan dengan Desa Kajen di sisi timur.

Mukadimah Teks Kajen menunjukkan angka tahun penulisannya. Yakni pada Jumat Pahing, tanggal 13 Jumadil Akhir. Jika dikonversi menjadi 27 Februari 1953 M. Meskipun selisih angka tahun tersebut sangat jauh dengan masa kehidupan Mbah Mutamakkin, namun Teks Kajen berisi cerita yang secara turun temurun dilestarikan oleh para dzuriyah dan kiai sepuh di Kajen.

Teks Kajen juga menunjukkan dengan terang kedudukan Mbah Mutamakkin bagi Pakubuwana II, raja Kraton Kertasura. Dikisahkan, Pakubuwana II ingin bertemu Mbah Mutamakkin. Ia pun memanggilnya agar menghadap di paseban bagian belakang istana. Sang Raja ingin mengetahui tekad Mutamakkin, yang justru dengan senang hati berkenan diadili di Mahkamah Kertasura. Bahkan, Mutamakkin ingin dihukum dengan cara dibakar.

Dikisahkan, Pakubuwana II ingin bertemu Mbah Mutamakkin. Ia pun memanggilnya agar menghadap di paseban bagian belakang istana. Sang Raja ingin mengetahui tekad Mutamakkin, yang justru dengan senang hati berkenan diadili di Mahkamah Kertasura. Bahkan, Mutamakkin ingin dihukum dengan cara dibakar

Tekad tersebut membuat Pakubuwana II berkerut jidat. Ditambah, suasana pengadilan cukup alot. Dari 100 an lebih ulama yang menghadiri pengadilan, sebagian di antaranya bersikeras menuntut agar Mutamakkin segera dihukum. Sementara sebagian yang lain tetap kekeh membelanya.

Saat menghadap raja, Mutamakkin nampak sungkan. Tak mau berada dekat dengan Sang Raja. Padahal Sang Raja ingin berbincang secara serius, ingin mengetahui alasan di balik pilihan Mutamakkin. Demikian pula perihal kedalaman ilmu Mutamakkin, yang dikisahkan pernah belajar di Yaman dan gemar dengan lakon wayang Dewa Ruci untuk mendakwahkan Islam di Jawa.

Sekali dua kali Sang Raja membujuk Mutamakkin, namun tetap tidak berkenan untuk menjawabnya. Sang Raja pun masih berusaha membujuk Mutamakkin untuk menjelaskan tekadnya. Alhasil, Mutamakkin mau memenuhi permintaan Sang Raja dengan satu syarat. Sebelumnya, Sang Raja harus berkenan untuk dibaiat sebagai murid.

Hal ini, kata Mutamakkin, merupakan syarat sebelum dirinya mewedar keyakinannya yang demikian teguh. Selain itu, syarat lain yang harus dipenuhi, yakni Sang Raja harus mengamalkan wedaran rahasia tersebut untuk dirinya sendiri. Percakapan tersebut digambarkan dalam naratif berikut ini:

Tuan Haji Mutamakkin matur sembah: Sang Nata, menika mekaten. Kula aluwung pejah ing ngarsa dalem Gusti yen Sang Nata boten Bai’at dateng kula inggih menika ingkang kawula kajengaken mugiha Sang Nata kersa melebet geguru ing kula. Sang Nata ngendika: Kaki iya sak karep ira. Sun turuti. Pancen iku bakal ingsun anggo dhewe.

Tuan Haji inggal tambah sarana maju kaliyan nyepang astanipun Sang Nata terus dipun wirid ilmu I’tiqad kaliyan cetha.

Ing mriku Sang Nata kaget manahipun. Usiking manah mekaten: saupami aku ora ngalap atur katah marang Haji Mutamakkin mengkono ingsun mati kafir. (TK: Hal. 17-18)

Artinya:

Tuan Haji Mutamakkin menghaturkan sembah (dan berkata), “Sang Raja, begini (maksud hamba). Hamba lebih baik mati atas kehendak Allah jika Sang Raja tidak hamba baiat, yakni yang hamba harapkan semoga Sang Raja berkenan menjadi murid hamba.” Sang Nata berujar, “Iya eyang terserah keinginanmu. Aku penuhi. Memang (penjelasan) itu akan aku pakai untuk diriku sendiri.

Tuan Haji bergegas mendekat serta meraih tangan Sang Raja kemudian memberikan wejangan I’tikad dengan terang.

Kemudian Sang Raja terkaget hatinya. Gumamnya demikian, “Seumpama aku tidak diberi wejangan oleh Haji Mutamakkin seperti itu, aku mati kafir.” (TK: Hal. 17-18)

Usai peristiwa tersebut, Sang Raja lantas semakin mantap hatinya untuk membubarkan pengadilan. Pasalnya, menurut Raja, pengadilan sudah tidak relevan. Kedua pihak dianggap sama-sama benar. Akan tetapi, isi wejangan tersebut tidak digambarkan secara jelas oleh manuskrip tersebut. Boleh jadi wejangan yang dibisikkan secara rahasia tersebut berisi tentang pengetahuan spiritual Mutamakkin, terutama ikhwal keyakinan mistiknya yang membuatnya tak gentar jika dihukum bakar.

Boleh jadi wejangan yang dibisikkan secara rahasia tersebut berisi tentang pengetahuan spiritual Mutamakkin, terutama ikhwal keyakinan mistiknya yang membuatnya tak gentar jika dihukum bakar.

Di sisi lain, babak pembaiatan tersebut menunjukkan kedudukan Mbah Mutamakkin. Babak ini tidak terdapat dalam Serat Cabolek. Manuskrip anggitan Yasadipura II itu hanya menyebutkan bahwa Pakubuwana II mengakui kesucian atau ‘kewalian’ Mbah Mutamakkin. Sebagaimana naratif berikut ini:

Mesem ngandika Sang Prabu:/ ‘Iku Bapang wus pinasthi/ tinitah dhapurer ala/ sinungan atine suci/ dadi panggawening Suksma/ pinasthi atine suci.’ (Serat Cabolek, Pupuh IV Kinanthi, Bait 33)

Artinya:

Sang Prabu senyum berkata:/ “Itulah, Bapang, telah menjadi suratan,/ ia diciptakan dengan tampang dungu/ tapi diberi hati yang suci;/ untuk menjadi petugas Sukma/ (ia telah) ditakdirkan memiliki hati suci.”

Seputar Toponimi Desa Kajen

Dalam sejarah Jawa, Mbah Mutamakkin lebih akrab disebut Kiai Cabolek. Sebagaimana narasi yang termaktub di dalam Serat Cabolek. Manuskrip yang ditulis pada abad ke-19 ini secara umum menggambarkan konflik orang-orang Jawa yang terjadi akibat persinggungan mereka dengan ajaran Islam. Sebagian yang lain berkisah tentang lakon Dewa Ruci, serta sosok Mbah Mutamakkin yang dianggap sesat lantaran keyakinan mistiknya.

Untuk memperingati perjuangan Mbah Mutamakkin, masyarakat Kajen menggelar hajatan setiap bulan Suro. Rangkaian acaranya antara lain tahlilan, khataman Al-Qur’an, buka kelambu, hingga diramaikan dengan karnaval keliling kampung. Aneka permainan khas pasar malam pun turut memeriahkan, di samping lapak para pedagang yang memenuhi kanan-kiri jalanan.

Namun demikian, hajat 10 Suro, atau yang kerap disebut Suronan itu diperingati secara berbeda pada tahun ini. Mungkin benar Suronan tahun ini lebih khusyuk dan hening. Maklum, masih dalam suasana pandemi. Tidak ada ramai-ramai karnaval dan pasar malam. Pengurus Makam Mbah Mutamakkin kemarin hanya menggelar acara di dalam makam. Seperti khataman dan buka kelambu. Tentu saja digelar secara terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan.

Mengalami Suronan yang berbeda dari tahun sebelumnya, jemari saya tergerak untuk mengetik nama ‘Mbah Mutamakkin’ di kolom pencarian Youtube. Tujuannya untuk mengobati kerinduan dan dahaga seputar kisah Sang Mutamakkin. Muncullah beberapa video yang mencakup keyword yang telah saya ketik. Alhasil saya menjatuhkan arah kursor mouse pada salah satu video.

Video berdurasi 54 menit 4 detik tersebut cukup menarik. Pada 2018 lalu, KH. Agus Sunyoto berceramah dalam sebuah pengajian di Desa Kajen. Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU itu membabar sejarah perjuangan walisanga di Jawa. Mulai awal kedatangan, sampai dinamikanya yang kompleks. Satu hal yang membuat saya tertarik, Agus Sunyoto juga menyinggung perjuangan Mbah Mutamakkin, serta asal usul nama ‘Kajen’. Meskipun hanya sepintas lalu pada 15 menit terakhir.

Menurut penulis buku Atlas Walisanga itu, penamaan ‘Kajen’ bukanlah akronim dari Kaji-Ijen, sebagaimana yang diyakini masyarakat setempat secara turun temurun. Namun berasal dari kata dasar ‘Aji’, yang berarti ‘Raja’. Selanjutnya kata ‘Aji’ mendapat imbuhan di awal dan akhir (konfiks), menjadi ‘ka-Aji-an’, lalu dibaca ‘Kajen’, yang berarti tempat bersemayamnya raja. Agus Sunyoto menyamakannya dengan ‘Kabupaten’ sebagai tempat bupati, atau ‘Keraton’ yang menjadi tempat seorang ratu bertakhta.

Setahu saya, dalam dokumentasi tulis maupun ingatan kolektif, tempat persemayaman raja lebih sering disebut sebagai Keraton (ka-Ratu-an), Kerajaan (ka-Raja-an), ataupun Kedaton (ka-Datu-an). Ketiganya merupakan pembentukan dari kata dasar dengan konfiks ­ka-an yang kemudian bermakna kata benda.

Dimaknai menurut kata dasar ‘Aji’, ataupun ‘Kaji’, sah-sah saja. Justru hal ini menarik sebagai wujud respons masyarakat yang memberikan penafsiran baru. Akan tetapi, ada diskusi lebih lanjut yang perlu dilakukan sebagai pertanggungjawaban tafsir.

Dokumen-dokumen kesusastraan Jawa yang pernah saya pelajari, lebih sering menggunakan istilah ‘keraton’, ‘kerajaan’, atau pun ‘kedaton’ untuk merujuk pada tempat raja bertakhta. Jika pun Agus Sunyoto mengaitkannya dengan era Jawa Kuno, istilah ‘Kajen’ yang merujuk pada tempat persemayaman raja tidak pernah disebut. Setidaknya dalam Kamus Jawa Kuna Indonesia (1995) yang disusun oleh P.J. Zoetmulder.

Kamus tersebut mulanya disusun Zoetmulder pada tahun 1982 dengan judul Old Javanese-English Dictionary. Di dalamnya terdapat 25.000 entri yang Zoetmulder susun berdasarkan lontar-lontar berbahasa Jawa Kuna. Adapun kamus tersebut hanya mencantumkan kata ‘Kahajyan’, yang berasal dari kata dasar ‘Aji’ atau ‘Haji’ yang berarti: raja, keluarga raja, ataupun pangeran.

Zoetmulder menukil kata tersebut dari Kakawin Nagarakertagama lempir 14 bait 4. Bunyi lengkapnya sebagai berikut:

Muwah tan i gurun sanusa manaran ri lombok mirah, lawan tikan i saksak adinikalun / kahajyan kabeh, muwah tanah i banatayan pramukha banatayan len / luwuk, tken uda makatrayadini-kanaɳ sanusapupul

Artinya:

Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah, dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya/ Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk, sampai Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk. (KG 24.4)

Bait tersebut menjelaskan kebesaran Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk. Sang pujangga, Mpu Prapanca, menyebutkan wilayah kekuasaan Sang Prabu yang kala itu tengah melakukan kunjungan, tepatnya pada tahun 1359 M. Wilayah yang disebutkan meliputi Nusantara dan Mancanegara.

Sepenggal bait yang dinukil Zoetmulder tersebut, menunjukkan kata ‘Kahajyan’ dalam konteks kepemimpinan raja atas suatu wilayah. Bukan merujuk pada sebuah tempat persemayaman seorang raja. Naratif tersebut secara terang menunjukkan bahwa Pulau Gurun (Lombok Merah) dan Sasak, tunduk di bawah perintah Sang Raja.

Sementara itu, dalam kamus yang sama, lebih banyak digunakan kata ‘Kadhatwan’ untuk merujuk tempat raja. Istilah tersebut berasal dari kata dasar ‘Dhatu’ yang berarti raja atau ratu. Zoetmulder menemukan istilah tersebut dalam Kakawin Wrhaspatitattwa, Sumanasantaka, Arjunawiwaha, dan Korawasrama (Zoetmulder, 1995: 204).

Demikian juga dalam kamus-kamus yang lain. Tidak ada istilah ‘Kajen’ untuk merujuk pada sebuah tempat persemayaman raja. Kamus Javaansch Nederduitsch Woordenboek (1847) yang disusun J.F.C. Gericke dan diedit oleh T. Roorda, mengartikan ‘Kajen’ sebagai: dihargai, dipuji; terhormat; kehormatan, hormat.

Istilah tersebut berasal dari akar kata ‘Aji’ yang tidak hanya berarti raja. Tetapi, ‘Aji’ tersebut juga mempunyai arti kedua dan ketiga, yakni berarti sihir dan nilai. Arti ketiga itulah yang kemudian mendapat konfiks ‘ka-an’ sehingga menjadi ‘Kajen’. Arti yang sama terhadap kata ‘Kajen’ juga dapat dijumpai dalam kamus Baoesastra Jawa (Purwadarminta, 1939), Giri Sonta Course for Javanese (Bakker, 1964), dan Bausastra: Jarwa Kawi (Padmasusastra, 1903).

Di samping itu, ingatan kolektif masyarakat Kajen menunjukkan fakta yang berbeda dengan dokumen tertulis dalam kamus-kamus tersebut. Istilah ‘Kajen’ berkaitan dengan cerita lokal yang diyakini secara turun temurun, serta mempunyai kesesuaian dengan manuskrip Teks Kajen. Yakni berkaitan dengan cerita pertemuan Haji Ahmad Mutamakkin dengan Haji Syamsuddin atau Surya Alam di sebuah wilayah.

Misalnya menurut penuturan KH. Husein Jabar.  Mbah Husein, sebagaimana sapaan saya kepada beliau, merupakan kiai sepuh Kajen pengasuh Pondok Pesantren An-Nur. Kediaman Mbah Husein hanya selang beberapa rumah dari tempat tinggal saya. Mbah Husein juga masih mempunyai garis keturunan dengan Mbah Mutamakkin.

Kata Mbah Husein dalam sebuah perbincangan hangat, dalam penulisan aksara latin, ‘Kajen’ berarti ‘Ijen’, atau sendirian. Sedangkan dalam aksara Arab tertulis ‘Hajaini’, yakni berarti dua orang yang sudah berhaji. Ini merujuk kepada Mbah Mutamakkin dan Mbah Syamsuddin, yang dalam suatu perjumpaan di masa lalu, sudah menyandang gelar haji.

Sementara itu, dalam manuskrip Teks Kajen, pertemuan kedua haji tersebut digambarkan sebagai berikut. Dikisahkan pada suatu hari, Mbah Mutamakkin melihat cahaya yang memancar dari arah barat. Kala itu Mbah Mutamakkin bermukim di Cebolek, sebuah desa di sebelah utara wilayah yang kemudian disebut Kajen. Melihat pancaran cahaya tersebut, Mbah Mutamakkin lantas menghampirinya.

Mereka kemudian berjumpa di sebuah gundukan tanah wilayah barat kediaman Mbah Syamsuddin. Persisnya, di sebelah barat Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM). Dalam pertemuan tersebut keduanya saling menyapa dengan diliputi kebahagiaan. Terutama bagi Mbah Syamsuddin. Pasalnya, selama ini baru kali itu wilayahnya didatangi oleh seseorang. Ulama pula.

Perjumpaan tersebut, sebagaimana yang digambarkan Teks Kajen sebagai berikut:

Wonten ing tugu Mbah Syamsuddin majeng ngaler ngetan dadak wonten tiyang melampah ngangge jubah. Lampahipun kados ulama’. Ing ngriku Mbah Syamsuddin sanget angsalipun manah kamergi boten nate wonten tiyang tumandang, wonten kok kados ulama’. Saestu menika tiyang tansah caket. Sareng sampun caket, malah uluk salam kaliyan Mbah Syamsuddin, terus dipun jawab hingga taken-takenan hingga terus dipun ampiraken wonten dalemipun. (TK hal. 4-5)

Artinya:

Di sebuah tugu, Mbah Syamsuddin menghadap ke arah timur laut dan tampak seseorang berjubah sedang berjalan (menghampirinya). Langkahnya seperti seorang ulama. Mbah Syamsuddin senang hatinya sebab belum pernah ada orang datang, (begitu) ada kok seperti seorang ulama. Seseorang yang dimaksud semakin dekat. Begitu sudah dekat, malah ia mengucap salam kepada Mbah Syamsuddin, kemudian dijawab dan keduanya saling bertanya dan selanjutnya (Mbah Mutamakkin) dipersilakan menuju kediaman (Mbah Syamsuddin).

Selanjutnya, Mbah Mutamakkin menyampaikan maksud kedatangannya. Yakni ingin berguru kepada Mbah Syamsuddin. Namun permintaan tersebut ditolak oleh Mbah Syamsuddin. Justru dirinya lah yang ingin berguru kepada Mbah Mutamakkin. Hingga pada akhirnya Mbah Mutamakkin diambil sebagai menantu Mbah Syamsuddin dan menetap di Desa Kajen untuk menyebarkan ajaran Islam.

Dengan demikian, agaknya tafsir Agus Sunyoto tersebut di atas perlu ditinjau lagi. Baik dari kaidah kebahasaan sebagaimana tradisi kesusastraan Jawa, maupun penggunaan istilah ‘Kajen’ yang ia maksud sebagai tempat persemayaman raja. Meskipun dalam riwayatnya Mbah Mutamakkin adalah seorang pangeran dari Kraton Pajang.

Dengan demikian, agaknya tafsir Agus Sunyoto tersebut di atas perlu ditinjau lagi. Baik dari kaidah kebahasaan sebagaimana tradisi kesusastraan Jawa, maupun penggunaan istilah ‘Kajen’ yang ia maksud sebagai tempat persemayaman raja.

Pasalnya, tafsir tersebut masih sulit dipertanggungjawabkan dan terkesan mengabaikan cerita lokal masyarakat setempat, maupun dokumen manuskrip yang ada. Hendaknya dalam upaya menafsir, dari mana pun sumber yang dirujuk, perlu membandingkannya dengan sumber-sumber lain. Dalam hal ini sumber lokal yang sejak dulu diyakini masyarakat setempat.

Kalaupun tafsir ‘ka-Aji’an’ masih ingin dipertahankan, lantas mengapa hanya Desa Kajen tempat persinggahan terakhir Mbah Mutamakkin yang dinamai ‘ka-Aji-an’? Bagaiamana dengan kampung halaman Mbah Mutamakkin di daerah Tuban, juga Desa Cebolek yang juga pernah disinggahi Mbah Mutamakkin? Mengapa kedua daerah tersebut juga tidak dinamai ‘ka-Aji-an’?

Taufiq Hakim
Pelajar filologi, khususnya menekuni manuskrip-manuskrip Jawa dan Islam. Menyelesaikan program Sarjana Sastra Jawa di UGM. Selain co-Founder Komunitas Jagongan Naskah, dia juga bergiat di Padepokan Kaneman Kajen Jonggringan dan Perpustakaan Mutamakkin.