Menu

Mempertanyakan Sedekah Bumi Atau Menyampah di Bumi

Sedekah Bumi bagi masyarakat Jawa merupakan sebuah tradisi yang harus dilaksanakan pada setiap tahunnya. Ritus ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat pedesaan akan panen yang melimpah hingga sering kali digunakan sebagai medium tolak balak agar sebuah desa terhindar dari bermacam balak dan bencana. Dari hal itu, hampir setiap tahun di penjuru-penjuru desa di seluruh pelosok Nusantara menggelarnya dengan ramai dan gegab gempita.

Tradisi ini memang banyak dilakukan di desa-desa agraris maupun nelayan. Tercatat di beberapa tradisi yang pekerjaan utamanya adalah bertani dan nelayan masih mempunyai tradisi sedekah bumi ini. Biasanya pada ritus ini selalu diiringi dengan pagelaran tari-tarian, musik tradisional sampai yang modern, wayang ataupun ketoprak (teater tradisi), hingga desa yang pada hari itu mengelar sedekah bumi dihias dengan aneka janur ataupun lampu-lampu yang meriah.

Sedekah Bumi di beberapa daerah di Indonesia mempunyai banyak nama. Semisal Nyadran di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Gelar Pitu di Banyuwangi, Petik Laut di daerah Pesisir, Seren Taun di Masyarakat Sunda, sedekah bedusun di Palembang, Sipha Lima dari Batak, dan masih banyak lagi. Setiap daerah tentu mempunyai keunikan budayanya masing-masing. Sehingga bisa dikatakan bahwa bentuk tradisi masyarakat tradisional ini merupakan hasil dari keunggulan intelektualitas untuk merespon alam dengan cara mereka masing-masing.

Prosesi sedekah bumi ini, juga merupakan bentuk penghormatan masyarakat terhadap leluhur yang telah mendahului mereka yang dulu babat alas daerah tersebut. Nenek moyang atau leluhur ini masih dipercaya menjaga desa tersebut agar tetap makmur. Penghormatan terhadap nenek moyang merupakan hal yang wajar, karena kehidupan mereka sangat tergantung sepenuhnya dengan alam, meliputi hasil pertanian dan nelayan yang mereka lakukan.

Prosesi sedekah bumi ini, juga merupakan bentuk penghormatan masyarakat terhadap leluhur yang telah mendahului mereka yang dulu babat alas daerah tersebut

Franz Magnis Suseno dalam bukunya Etika Jawa (1988), mengatakan bahwa manusia itu harus mensyukuri nikmat apapun yang diberikan oleh Tuhan dengan cara melaksanakan ritual-ritual yang ada dalam setiap tradisi Jawa misalnya: sedekah bumi, suronan, upacara bulanan, dan tradisi-tradisi Jawa lainnya. Hal ini merupakan bentuk syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan cara dituangkan melalui upacara-upacara tersebut.

Dalam kepercayaan Orang Jawa bahwa hidup ini penuh dengan upacara, hal ini dilakukan dalam rangka untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang akan membahayakan bagi kelangsungan kehidupan manusia, tentu dengan upacara diharapkan agar hidup senantiasa dalam keadaan selamat. Namun, sebenarnya esensi dari segala daya upaya yang dilakukan masyarakat melalui uapacara tersebut, senantiasa untuk diberi perlindungan dan ungkapan rasa syukur atas keberkahan hasil bumi yang ditujukan pada Tuhan Yang Maha Esa.

Sedekah bumi sendiri berarti menyedekahi bumi atau niat bersedekah untuk kesejahteraan bumi. Semua dilakukan sebagai ungkapan syukur atas rejeki dan segala nikmat yang diperoleh dari bumi kepada Yang Maha Kuasa. Bersedekah ini juga dapat menjauhkan diri dari sifat kikir dan dapat pula menjauhkan diri dari musibah.

Tradisi ini, biasanya dilakukan dengan berdoa atau slametan di tempat-tempat yang dianggap sakral oleh penduduk desa, lalu dilanjutkan dengan penduduk desa secara bersama-sama dan berbondong-bondong akan menuju pendopo desa atau atau alun-alun desa untuk merayakan pesta rakyat. Seluruh warga berkumpul untuk menikmati acara pesta rakyat sambil menikmati sesaji yang telah mereka bawa dan kumpulkan sebelumnya.

Semua dirayakan secara kolosal hingga mengundang banyak orang untuk hadir. Keunikan tradisi di masing-masing daerah kerap mengundang banyak wisatawan untuk datang. Era sosial media juga memicu banyak orang untuk hadir dalam prosesi ritual ini. Kadang para wisatawan ini menganggu kesakralan upacaranya, tapi kadang saya juga melihat banyak dari mereka yang berharap berkah dari prosesi ini.

Namun yang paling menyebalkan bagi saya, pada ritual tradisi di desa-desa sekitar Jawa adalah masalah sampah. Pasar dadakan yang kian tahun semakin banyak varian dagangannya membawa bungkus yang dengan seenaknya dibuang oleh pembelinya. Sampah menjadi pemandangan yang tidak mengenakan dalam ritual ini. Seusai sedekah bumi, selalu ada sampah yang tercecer berserakan.

Namun yang paling menyebalkan bagi saya, pada ritual tradisi di desa-desa sekitar Jawa adalah masalah sampah. Pasar dadakan yang kian tahun semakin banyak varian dagangannya membawa bungkus yang dengan seenaknya dibuang oleh pembelinya. Sampah menjadi pemandangan yang tidak mengenakan dalam ritual ini. Seusai sedekah bumi, selalu ada sampah yang tercecer berserakan.

Menyedihkannya tentu sampah yang mayoritas plastik ini pasti banyak ke sungai yang merupakan komponen utama pertanian. Mungkin panitia akan membersihkan setelahnya, tapi apa panitia bisa membersihkan sampah plastik itu yang sudah terbang terkena angin lalu tercebur sungai? Patut dicurigai tidak. Sampah plastik yang sangat susah terurai ini merupakan sumber utama banjir dan juga yang belum banyak orang ketahui yaitu mikroplastik.

Mikroplastik adalah potongan plastik yang sangat kecil dan dapat mencemari lingkungan. Meskipun ada berbagai pendapat mengenai ukurannya, mikroplastik didefinisikan memiliki diameter yang kurang dari 5 mm. Sampah plastik yang terbuang di sungai ini nantinya akan terurai pecah-pecah hingga memunculkan serpihan yang bisa mencemari air. Mikroplastik ini akan dimakan ikan dan hewan air lainnya hingga mengakibatkan ketidakstabilitasan sungai.

Sungai yang airnya banyak digunakan warga untuk kehidupan sehari-hari ini menjadi tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Pada jaman dulu kita sering melihat banyak orang yang berenang dan bermain di sungai, namun sekarang tidak bisa karena sungainya sudah tercemar. Ini merupakan pemandangan yang menyedihkan apalagi jika ada banjir yang sering kali membawa penyakit di desa-desa.

Sedekah bumi juga membawa pertanyaan tentang banyaknya orang yang buang-buang makanan. Konsep berterimakasih kepada Bumi yang selalu memberi, sering kali dirayakan dengan tidak hati-hati sehingga banyak hasil bumi ini menjadi mubazir. Mungkin sampah makanan ini bisa diolah, tapi saya tidak percaya bahwa panitia bisa mengolah dan berkenan sisa makanan yang sudah tercecer, membusuk, dan terinjak-injak seperti itu.

Di beberapa tradisi yang menyuguhkan rebutan makanan, seringkali membuat makanan hasil bumi jatuh ke tanah hingga terinjak-injak. Makanan yang semestinya kita hargai sebagai pemberian dari Tuhan menjadi terbuang sia-sia. Belum lagi ketidaksiapan panitia yang bisa tiba-tiba mendapatkan banyak makanan dari masyarakat membuat makanan tersebut tidak sempat dibagikan hingga dibiarkan hingga membusuk.

Makanan yang melimpah ruah tidak dirasakan sebagai rahmat atas berkah panen yang melimpah, namun dirayakan secara rakus hingga banyak terbuang. Pesan-pesan kepada anak-anak tentang jika tak menghabiskan nasi akan ditakut-takuti dengan peringatan bahwa butir-butir nasi yang tak termakan akan menangis menjadi diacuhkan. Jika pesan itu benar adanya, betapa banyak padi yang menangis melihat ini semua.

Sedekah Bumi sekarang ini terasa hanya dirayakan ueforianya hingga lupa akan esensinya. Orang sekarang lebih mementingkan bungkus daripada isi. Para hadirin yang datang hanya merasa mendapatkan hiburan yang dihadirkan tanpa memikirkan apa yang telah mereka perbuat.

Tradisi sedekah bumi semestinya menyimpan nilai moral, sosial dan spiritual antara lain rasa syukur, hidup harmoni dengan alam dan kebanggaan terhadap budayanya sendiri. Generasi selanjutnya semestinya sekarang ini lebih peduli dengan isu lingkungan dengan bermacam caranya. Para pegiat sedekah bumi mestinya mempertimbangkan masalah ini demi kemaslahatan Bumi selanjutnya.

Sedekah Bumi mestinya dirayakan sebagai bentuk penghormatan kepada Bumi yang tidak pernah berhenti memberi. Menyakiti alam berarti menyakiti manusia sendiri. Merusak alam berarti merusak manusia sendiri. Menghormati alam adalah menghormati manusia. Nenek moyang yang telah mengenal sistem kosmologi menjadi banyak terlanggar karena ulah masyarakat modern yang menganggap bumi ini benda mati.

Semoga Dewi Sri dan para Leluhur tidak marah kepada kita.

0
66