Mencandra Muhammad: Orang Jawa Melukiskan Nabinya

Syahdan. Suatu siang di bulan Maulud pertengahan 2019, seseorang kawan karib lama berkunjung di kediaman saya di Dusun Cepokojajar, Bantul, DIY. Kedatangannya kali ini sedikit berbeda. Ia banyak berkisah, tidak seperti sebelumnya. Ia berkisah apapun. Apa saja. Apapun remeh-temeh yang bisa dijadikan obrolan dan canda. Entah tentang kepindahan rumah kontrakannya yang baru, tentang awal pernikahannya di tahun ini, hingga cerita atau barangkali tepatnya, kisah kelakuan dan perilaku tetangga-tetangga barunya, yang kali ini, bisa sedikit membuatnya tersenyum kecil. Maklum, ia baru saja menikah. Dan saya kira, pernikahan, apalagi yang baru tentu saja, akan menyibak banyak kisah dan cerita. Cerita yang mulai keluar dari fokus dirinya, meluber ke orang terkasihnya, tetangga, sekelilingnya, atau bahkan orang-orang yang ditemuinya di jalan. Saya tak heran. Barangkali memang pernikahan, batin saya saat itu, sejenis fase yang mengajak orang “keluar” dari dirinya. Keluar sedikit demi sedikit dari kesenangan diri menuju seseorang di luar dirinya, terutama kepada “yang terkasih”. Atau bahkan semakin melecut seorang mengawasi hal-hal yang di luar “interest” dirinya. Mungkin.

Namun, ada satu cerita darinya yang barangkali tak ‘kan terlupa hingga hari ini. Suatu waktu, juga masih di bulan Maulud tahun yang sama, ia, teman saya itu, menceritakan bahwa ia terlibat perbincangan santai dengan tetangga barunya di Kota Gede. Ia bertanya dengan sedikit iseng kepada tetangganya. Ia menanyakan bagaimana pendapatnya terkait nabinya: Muhammad. Tetangganya itu menjawabnya dengan ringan, nyaris tanpa beban: “Nabi Muhammad itu, menurut saya lho mas, seseorang yang jiwanya, pikiran, perkataan, dan perbuatannya telah selaras dan manunggal.” Saya terhenyak mendengar kisahnya. Saya terperanjat pada jawaban tetangganya. Seumur-umur, saya tak pernah mendengar jawaban seperti ini. Seketika, tanpa benar-benar saya sadari, seingat saya, tiba-tiba dari mulut saya secara lirih terucap salawat, “Allahumma, shalli ‘ala Muhammad.” Setelahnya, saya tak lagi ingat lanjutan kisahnya. Saya hanya mengingat jawaban tetangganya itu. Saya nyaris lupa diri.

Tetangganya itu menjawabnya dengan ringan, nyaris tanpa beban: “Nabi Muhammad itu, menurut saya lho mas, seseorang yang jiwanya, pikiran, perkataan, dan perbuatannya telah selaras dan manunggal.” Saya terhenyak mendengar kisahnya. Saya terperanjat pada jawaban tetangganya. Seumur-umur, saya tak pernah mendengar jawaban seperti ini. Seketika, tanpa benar-benar saya sadari, seingat saya, tiba-tiba dari mulut saya secara lirih terucap salawat, “Allahumma, shalli ‘ala Muhammad.”

Jujur, ini jawaban orang Jawa-awam yang menampar kesadaran intelektual saya. Jawaban ini, saya bayangkan, tidak mungkin lahir dari refleksi seseorang sehabis mendengarkan pengajian tentang kisah dan riwayat Nabi misalnya, atau bahkan didapat dari membaca buku ringkasan sirah Nabi. Ia seolah lahir dari pergulatan intim batinnya yang tak terpisah dari laku-hidupnya. Ya laku hidup seorang awam yang berusaha menjangkau nabinya dalam keseharian laku-hidupnya sehari-sehari. Sesosok Nabi yang bukan pertama-tama muncul dari kisah-kisah dari luar yang dibacanya sehingga semata akan menjadi “diskursus kenabian”, melainkan sosok Nabi yang muncul “dari dalam”, yang intim dialaminya dalam kehidupan. Sesosok Nabi yang muncul dari “diri-batin”-nya dan pergulatannya sendiri. Seorang nabi yang tak lagi berjarak dalam diskursus. Seorang Nabi yang menjadi pandu “diri-batin”-nya sendiri dalam menapaki lelakon kehidupannya.

Jawaban ini benar-benar menghentak saya untuk waktu yang lama. Bahkan nyaris hingga hari ini. Dalam tanya sanya, lanskap kultural macam apa yang memungkinkan orang-orang ini, sebut saja seorang Jawa-awam dalam kasus cerita saya di atas, memiliki jawaban yang begitu “genuine” ini? Bagaimana orang Jawa membayangkan, sekaligus menjangkau nabinya yang begitu jauh? Atau tepatnya, bagimana orang Jawa memahami nabinya, serta melukiskannya? Atau dalam konteks yang lebih historis, cadangan dan khasanah kultural macam apa yang membentuk lapisan simbolik yang begitu dalam pada rentang sejarah masyarakat Jawa sehingga memungkinkan masyarakat ini, bahkan bagi orang yang paling awamnya sekalipun, mampu menjangkau nabinya, bukan semata hanya pada level lahir diskurusus, kisah, dan sosoknya saja yang begitu luaran, melainkan menghunjam kepada sosok batin yang intim dialaminya dalam kesadaran laku ruhaniah perjalanan kehidupannya. Sayangnya, saya harus bersabar menjawabnya.

***

Dalam sebuah kesempatan yang tak lagi saya ingat tanggalnya di tahun 2020, saya tiba-tiba berada di tengah-tengah keriuhan dan kegembiraan pembacaan “Salawat Emprak” di Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Dusun Klenggotan, di pinggiran timur Yogyakarta. Sebuah pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad dengan “cara Jawa” yang konon diajarkan oleh para wali tanah Jawi dan telah dimasifkan serta ditradisikan oleh masyarakat Jawa sejak zaman Sultan Agung, masa kesultanan Mataram empat abad yang silam. Barangkali “Salawat Emprak”, yang merupakan salah satu dari banyak kesenian salawat yang disebut di Serat Centhini yang masyhur itu, yang digelar di Pondok Budaya Kaliopak malam itu, telah mendapat banyak tambahan dan tambal-sulam di sana-sini. Namun aura pembacaannya, yang banyak didominasi bunyi-bunyi syi’iran berbahasa Jawa, gerakan tari-tarian para paraga laki-laki yang mengirinya, warna dan jenis pakaian lengkap Jawa tradisional yang dikenakan para pemainnya, juga komposisi bunyi dan alunan yang dikeluarkan dari alat-alat musiknya seperti kendang, kempul, gong, kentang, serta kentengnya, maupun liukan nyaring dan tinggi para penyenandungnya, atau bahkan model penceritaan dari seorang dhalang [seorang perawi] dalam mengkisahkan riwayat sang Nabi (baca: rawen) di sela-sela pembacaan tembang-tembang dan senandung salawatan, benar-benar menghentak dalam sebuah rangkaian pagelaran wingit yang tak terkatakan. Plus bau menusuk pengaharum dupa yang saya lihat telah menyala di pojok-pojoknya, sungguh membuat saya larut atau malah terserap seutuhnya.

Seingat saya, saya begitu larut malam itu. Larut dalam alunan tembang-tembang yang dilantunkan, yakni seturut ayunan musiknya yang menggerakkan juga menggetarkan hati itu. Beberapa kisah atau rawen yang dibacakan perihal kelahiran Nabi beserta “cahaya” yang menyertai dalam bahasa Jawa lamanya, lamat-lamat saya tangkap dengan keterbatasan pendengaran telinga beserta jangkauan arti yang menyertainya, secara tak utuh. Namun dari-nya, saya sempat tersedot agak kuat. Beberapa pendaran makna yang memancar dari pembacaan kisah kelahiran “Sang Cahaya” [Muhammad], memeranjat saya. Saya seolah terbawa, tersapa kehadiran Nabi dalam pengertian ruhani-batinnya yang tak berjarak. Diri-batin kenabian yang hadhir dalam relung kesadaran hati yang terpancar dari kisah serta kedalaman “rasa” alunan musiknya yang telah mangunggal dalam gerakan tarian para peraganya. Saya nyaris hilang.

Diri-batin kenabian yang hadhir dalam relung kesadaran hati yang terpancar dari kisah serta kedalaman “rasa” alunan musiknya yang telah mangunggal dalam gerakan tarian para peraganya. Saya nyaris hilang.

***

Di belakang hari, saya lamat-lamat bisa sedikit mengingat “kisah-kisah” yang menggetarkan yang menghunjam itu. Bahkan di waktu selanjutnya, saya mulai memburu manuskrip yang menjadi pandu “Salawat Emprak” ini dalam memandu pergelarannya. Tak lama, seorang teman, yang juga merupakan santri senior di Pesantren Kaliopak, bernama Munir, menyodori saya hasil karya skripsinya di UIN Sunan Kalijaga tentang “Salawat Emprak” [Misbachul Munir, Skripsi SKI, 2012]. Munir ternyata telah menyeleseikan research-nya perihal “salawat Emprak” yang menjadi tugas akhir S-1-nya di tahun 2012. Dengan bekal itulah, saya kemudian dipertemukan dengan Luthfi, santri senior lain di Kaliopak, yang menurut keterangan Kiai Jadul Maula, pengasuh dan muassis pondok ini, telah berhasil mengalih-aksarakan manuskrip pegon tinggalan leluhur, yang terus-menerus diwariskan pada “simbah-simbah” pelaku “Emprak” antar generasi.

Berkahnya, saya segera mendapat naskah latin alih aksara pegon plus salinan manuskrip aksara pegon-nya sekaligus dari Luthfi. Naskah ini samar-samar diingat para pelaku Emprak, bernama “Tladha” yang ditulis-ulang Gusti Yudanegara, seorang pangeran Kesultanan Yogyakarta di masa penjajahan Belanda dulu. Namun begitu, hasil alih-aksara latin dari manuskrip pegon ini, belum mendapat sentuhan editing yang cukup. Juga, yang tak kalah krusialnya, pengerjaan “terjemahan” setidaknya hingga saya mendapatkan manuskrip ini, belum dikerjakan sama sekali. Dari naskah yang belum terterjemahkan ini, saya kemudian mengambil alih tugas tersebut. Yakni dari sejak pembenahan ejaan dan bunyi, mengambil keputusan membenarkan kata-kata asing yang tak dikenali, hingga menerjemahkannya secara utuh arti tiap-tiap bait tetembangan, cerita-rawinya, hingga senandung arti kidung macapat dan bunyi salawatan-nya secara utuh. Dari hasil terjemahan ini, saya mulai sedikit bisa menduga serta bisa meraba syair-syairnya, tetembangan, juga kisah-kisah metaforisnya yang dulu sempat menghentakkan diri itu. Dan ternyata, sejak saat itu, naskah itu mulai lamat-lamat menyusun semesta simbolik makna tersendiri di dalam diri. Saya benar-benar sedang diterjang kegembiraan.

Poster pengajian rutin “Ngaji Dewa Ruci” di Pesantren Budaya Kaliopak dengan tema “Mencandra Muhammad”.

***

Sekira tiga tahun yang lalu, ketika saya merampungkan karya saya yang telah mendapat banyak apreseasi dan tanggapan, “Saya, Jawa, dan Islam”, [TandaBaca: 2019], saya dihantui sebuah pertanyaan yang akut. Seturut sodoran tesis yang saya kemukakan dalam buku di atas, jika sufisme dalam kasus Jawa telah mengubah secara menyeluruh bangun “aksioma kebudayaan” Jawa secara mendasar kepada alas Islam–dan bahkan telah menjadi penyatu identitas “pandangan dunia” Jawa yang berpaut dan tak lagi bisa dipisahkan dengan Islam setidaknya dari sejak abad 16 hingga 19–maka apa penanda utama kulturalnya? Pra-andainya, Jika tujuan puncak metafisika sufisme adalah maqam kecintaan memuncak pada “Kanjeng Nabi” beserta manifestasi “realitas” batin Nur Muhammad-nya, bagaimana orang Jawa menerjemahkan ini dalam praktik kulturalnya yang lebih spesifik?

Berberapa pertemuan dengan para sesepuh, sepertinya membantu saya menyibak lapisan simbolik ini. Perayaan Sekaten misalnya [baca: Syahadatain], yang oleh keraton Ngayogyakarta maupun Surakarta, atau bahkan hingga Kesultanan Cirebon yang sering dinamai sebagai “garebeg mulud” itu, dianggap merupakan perayaan yang terbesar–yakni sebuah perayaan agung menyambut kelahiran Nabi Muhammad. Di banding perayaan garebeg-garebeg lain, seperti “garebeg sawal” [Idul Fitri] atau “garebeg besar” [Idul Adha], “Garebeg Mulud” akan dirayakan begitu megah di pusat-pusat keraton-keraton Jawa–plus replikasinya di tiap kabupaten pada sekujur wilayah kadipaten di pulau Jawa–yakni sebagai perayaan paling besar dari seluruh ritus perayaan-perayaan lain di Keraton. Bahkan dipandang dari durasi waktu beserta jumlah gunungan makanan dan sayuran yang diperebutkan masyarakat di alun-alun kerajaan itu, ia boleh dipandang sebagai yang maha besar. Ia mirip “hari rayanya” orang Jawa, jauh lebih besar melebihi perayaan “garebeg sawal” atau yang kita kenal hari ini sebagai hari raya Idul Fitri itu.

Oleh karenanya perayaan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad melalui garebeg mulud-nya, setidaknya hingga abad 19, adalah siklus kosmologis “hari raya”-nya orang Jawa lama.

Oleh karenanya perayaan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad melalui garebeg mulud-nya, setidaknya hingga abad 19, adalah siklus kosmologis “hari raya”-nya orang Jawa lama. Saya kadang bertanya, dimanakah di belahan bumi ini peristiwa kelahiran Nabi dirayakan sebegitu megah, dengan durasi waktunya yang begitu lama [berhari-berhari], dengan segala atribut kemewahannya; saya kira tak berlebihan jika saya menyebut Jawa. Sebuah siklus kosmologis-ruhani “hari-raya”-nya Jawa yang berusaha menghubungkan masyarakatnya dengan realitas “cahaya kenabian” Muhammad. Nur cahya. Nur Rasa. Sang Hyang Nur Cahya. “Rasa iku rasul-ku,” kata primbon Jawa.

Namun saya tentu sangat sadar, sejak kolonialisme Belanda mencengkram secara utuh kekuasan politik kerajaan Jawa setidaknya pada awal abad 19, tradisi ini kian melentur. Subyek masyarakat Jawa yang dulu diikat tunggal dalam nafas “sufisme Jawa” akhirnya terpecah belah-dalam spektrum aliran [santri, abangan, priyayi] yakni dalam proses pengutuban menaik yang, menurut saya, by design diciptakan Belanda atas nama interest kelanggengan kekuasaannya [baca; Nancy K Florida, Jawa-Islam di Masa Kolonial, Langgar, 2021]. Dan, sayangnya, nalar benturan “politik pecah-belah” dan pengutuban aliran ini masih terawat bahkan dalam narasi akademik kita. Sehingga kita justeru abai terhadap warisan dan “keilmuan” megah ini.

***

Pembacaan “salawat Emprak” di Pesantren Kaliopak malam itu, setelah berusaha lamat-lamat saya susun-ulang, seolah sedang memendarkan makna dan lapis simbolik yang memberi jejak. Ia, salawat ini seolah ingin memendarkan kecintaan lahir-batin seperti yang dialami orang-orang Jawa lama, dan dengan segera berusaha memendarkan ‘cita-rasa’ terdalam itu dalam rumusan gubahan alunan tetembangan, se-syi’ir-an, beserta alunan tabuhan musiknya, yang tentu khas dengan “cara Jawa” agar pertemuan rasa intim itu memendar ke “ra[h]sa” terdalam orang Jawa kebanyakan [baca; Syirr]. Lihat bait-bait pembuka Salawat Emprak ini,

Dzikir Maulud Nabi cara
Mengenang Maulud Nabi cara Jawa

Sarèhipun dèrèng sumêrêp dhatêng basa Arab
Karena banyak yang belum mengenal bahasa Arab

Dados kadamêl basa Jawi kémawon
 
Sehingga dibuat berbahasa Jawa saja

Supados ènggal sumêrêp sarta mangêrtos 
Agar segera mengerti dan memahami

Kamirêngakên garwa putra wayah  
Diperdengarkan istri, anak, dan cucu

Utawi ingkang sami lêlênggahan sêdaya 
Atau yang sedang duduk sekalian

Cariyosipun Maulud Nabi     
Cerita kelahiran Nabi [Muhammad]

Ingkang mugi angsala  
Semoga mendapat

bêrkah syufa’atipun Kanjêng Gusti 
Berkah dan syafa’at-nya Kanjeng Nabi

Dados sêrat cahya kayuwanan 
Yakni menjadi sebuah tulisan dari pendar “Sang Cahaya keselamatan”

Pembuka awal cerita ini merupakan ungkapan lugas Salawat Emprak. Ia, saya bayangkan, sejenis ungkapan kerendahan hati untuk mendekatan subjek orang-orang Jawanya dengan cara ungkap relasi intim dengan Sang Nabi yang bukan semata pada kisah pribadinya yang masih berjarak, melainkan sang Nabi sebagai cahaya sejati [nur muhammad] yang bisa menerangi dengan syafa’at dan berkahnya kepada kalbu atau “rasa” terdalam para pengikut orang Jawa. Sang Cahaya Keselamatan.

Oleh karenanya, Salawat ini seolah ingin memancarkan dan memendarkan kisah Sang Nabi beserta pendar “cahya”-nya di dalam nafas pemahaman yang–mengutip bait rawen yang tertulis di dalamnya–diajarkan para wali tanah Jawi. Yakni pendaran cahya yang muncul pada malam kelahiran sang Nabi berdasar galur pembabaran keilmuan sejati para wali tanah Jawi yang telah mendapat cercah sejati Nur Muhammad-nya [Ing wênginé wiyosé Kanjeng Gusti Muhammad lan ababar ilmu kuwaliyan térang nyata séjatinira].

Ia juga bisa dikatakan, saya kira, sebagai cara ungkap Jawa menjangkau Nabinya sebagai cahaya yang semakin mendekat dalam realitas kedirian orang Jawa itu sendiri. Maka tak salah jika ia, salawat ini secara keseluruhan, bisa dipandang sebentuk persaksian ataupun wujud kekidungan atau nyayian yang digemakan semesta beserta seluruh isinya untuk menyambut kelahiran Sang Cahaya Nabi. Kekidungannya Semesta.

Mantra-mantra kidungane sabuwana
Doa-mantra, nyayiannya seluruh semesta

Sasi maulud, Turune cahya kang mulya
Bulan Maulud, Turunnya cahaya yang mulia

A Nur A Nur
Sang cahaya

Sorotanipun kang sasangka
Sorot cahaya Matahari

Kasorotan-kasorotan
[Kalah] Tertimpa sorotan

Wadanane sang Sudibya
Wajah Sang Mulya/Unggul [Muhammad]

Muncar-muncar amadangi sabuwana
Berpancaran menerangi seluruh semesta

Anyar-anyar anggenira
Serba baru dalam [pakaiannya]

Busanane nur kang mulya
Berbaju cahaya yang mulia

Sapa mulat-sapa mulat
Siapa yang menyaksikan

Ing Gustinya ilang akalnya
Kepada gustinya [Muhammad], hilang akalnya

Baskara ilang sunarnya
Sang surya kehilangan sinarnya

Pan kasoran-pan kasoran
Karena kalah

Ing warnane gusti kula
Dengan rupa baginda kami [Muhammad]

Saya benar-benar tertegun membaca bait-bait kisah awal rawen ‘Salawat Emprak’ ini, juga lukisan kekidungan beserta alunan suara-intonasi musiknya yang begitu khas. Ia dikatakan sejenis “kekidungannya semesta dalam menyambut kelahiran sang Nabi”. Sebuah Kidung yang menjadi persaksian, bahwa di malam kelahiran sang Nabi [bulan mulud], memancarlah seberkas cahaya yang menyebar, menerangi jagad semesta seluruhnya. Matahari seketika redup, diterpa cahayanya. Semesta, beserta seluruh makhluk yang mengisinya, menyambut gembira kedataangannya. Seberkas cahaya yang telah ditunggu-tunggu oleh alam semesta. Perhatikan bait-bait di bawah ini,

Cahyané nalèndra tama
Cahya sang raja utama [Muhammad yang baru-saja lahir]

Jumbuh lan soroté Baskara
Bertemu dengan sorot matahari

Campur lan sênêné ima-ima
yang bercampur dalam sorot mendung

Kawimbuhan sunaring Baskara
Yang tertimpa dari pancaran sorot matahari

Yèn tingalan sumundhul ngéndra buwana
[Cahya Nabi] jika dilihat, menerobos ke atas angkasa

Surêm sang hyang giwangkara
Reduplah cahaya matahari [seketika]

Kasorotan cahyané nalèndra tama
Tersorot cahanya Sang Raja Utama [Nabi]


Wondéné kutu-kutu
Sedangkan para binatang

sato kumelip sato dumadi
Baik kecil maupun besar

Yèn bisaha tata jalma
Jika bisa berbuat cara manusia

Samya asung salam sêdaya
Pada memberi salam semuanya

Hormat angluhurakên panjênênganira
Menghormat meluhurkan Beliau

Sang prabu ingkang misésa
Sang Raja yang berkuasa

Kanjêng Rosululloh
Baginda Rasulullah

Wondéné kayu watu sêgara
Adapun pohon, batu, dan samudera

Gunung angin mina myang tirta
Gunung, angin, ikan di air

Buron darat miwah samudra sak isiné
Amphibi, serta samudera besera seluruh isinya

Hormatira béda-béda datan padha
Salam-hormat mereka berbeda-beda, tak sama

Yèn rinungu sangking mandrawa
Jika didengar dari kejauhan [salam mereka]

Suwaranira arum
Suaranya begitu lirih nan manis

Dahat langênnya mawulêtan
Begitu indah, jalin-menjalin

Tansah mulêk kongasing asmara
Senantiasa padu menebarkan semerbak asmara

Asmaratapa miwah tantra
Asmara-kerinduan ber-bala pasukan

Miwah isèn-isèné bumi sapta

Seluruh makhluk [penghuni] bumi berlapis 7

Langit sapta samya hormat sêdaya
Tujuh langitnya [juga] memberi salam hormat semua

Tikbrasurya baskara rêkta
Pancaran cahaya merah sang surya

Myang kontha-kontha
Beserta bulatan bentuk wujudnya

Samya asung salam sêdaya
Memberi salam semua

Apadéné sato kèwan
Adapun semua hewan

Myang dêrbakan suku loro suku papat
Baik yang berkaki dua maupun empat

Jim miwah manungsa
Bangsa Jin beserta manusia

Samya asung salam sêdaya
Pada memberi salam semuanya

Mawarna-warna
Beraneka rupa

Yèn tiningalan ing mandrawa
Jika dilihat dari kejauhan

Lir puspita kasorotan sang hyang Rudétya
Bak bunga-bunga tersorot oleh “Sang Matahari” [Nabi]

Sungguh, ini lukisan yang menggetarkan. Dengan seluruh pralampita, pasemon, dan kedalaman metaforanya, saya tidak lagi bisa mengelak untuk memberi kesaksian akan kedalaman “Kidung Semesta” ini. Sebuah jalinan indah “doa-mantra” berbentuk tetembangan–seperti dibenarkan sendiri di dalam naskah ini–yang merupakan hasil gubahan para wali tanah Jawi yang telah diterpa “Cahaya Kenabian” di relung batin kalbunya. Yakni sebuah “zikir maulud cara Jawi” untuk memberi pujian dan salam-hormat atas kelahiran dan kemunculan sosok sang cahaya mulya, yang tak lain bernama–meminjam segenap aneka gelar yang disematkan dalam cerita rawen dalam salawatan ini–sang ”Kanjêng Gusti Nabi Muhammad”, atau “Sri Maha Raja Kanjêng Rosulullah shollallohu ‘alaihi wasallam“, atau “Sang Prabu Nabi Malikuningrat”, atau “ Sri Prabu Niyakaningrat”, atau juga ”Bêndara Radèn Mas Gusti Muhammad”. Yakni seorang nabi agung bergelar lengkap “Kanjêng Nabi Malikuningrat Muhammadinil Musthofa Khabibul Mukhtar Panatagama”.

Seorang manusia mulya yang akan menjadi pelita yang menerangi orang-orang yang sedang diselubungi kegelapan dan kebodohan [dadya diyan, Amadhangna ing atiné kawulaningsun]. Seorang manusia, yang dari sudut ruhani, “telah ada sejak 1000 tahun sebelum Nabi Adam terlahir” [anggèn manira sujud sèwu tahun], menyembah di hadapan hadirat-Nya sejak itu [Manira saweg dados ênur, sowan wontên pangayunan Dalêm], dan dari “cahaya sang Muhammad” inilah pendarannya menghidupkan Nabi Adam as [lan dawêk manira diparingakên manuksma wontên tapêlé èyang Adam]. Yakni Sang “pemula” sekaligus “penutup ruhaninya” para Nabi.

Adalah juga Dia sang sosok cahaya, dimana siapapun manusia yang tercerahi oleh sorot cahaya ini dalam kalbunya [Sintên-sintên ingkang katurunan nur dalêm], meski ia lahir dari seorang ayah-ibu yang jauh dari tercerahi [dêlah ibu utawi rama dipun uncati nur Dalêm], akan ditingkatkan derajat kemulyaannya [sami mulya sêdaya], yakni bagaikan kalbu-batin yang seketika terbersihkan [kadiya sinaponing tiyasira]. Alias, sosok yang telah dinubuatkan dan telah tertulis pada ketetapan di singgasana Arsy’-Nya Allah [angsal pawênang sangking ‘arsyi kursi kêncana], yakni yang akan membawa mandat-kuasa “syari’at yang ke-enam” [Ingkang ngasta kuasa saréngat ingkang kaping nêm]. Pembawa syari’at terakhir yang paripurna.

Bahkan lebih jauh, rawen-cerita salawat ini juga menaburi kisah kedahsyatan yang mengiringi kelahiran Sang Nabi dari sisi zahirnya. Lukisan yang juga berbalut lapis simbolik yang bisa menggetarkan para pendengarnya. Sebuah gambaran sakral yang mengiringi saat-saat genting ketika Aminah, sang ibunda Nabi, mulai merasakan sakit sebagai pertanda waktu kelahiran sang bayi yang sedang dikandungnya.

Wauta sang dyah rêtna Ratu Aminah
Tersebutlah kisah tentang Dyah retna Ratu Aminah

Kacarita nalika sampun kêraos gêrahipun
Diceritakan saat mulai merasakan sakit

Badhè kagungan putra
Hendak melahirkan putera

Wondéné ingkang nênggani

Adapun yang menunggui

Sang dyah Siti Aminah
Sang Dyah Siti Aminah [Ibunda Muhammad] adalah

Tilas garwanipun sang Raja Firngon
[almarhum] istrinya Raja Fir’aun [yakni Aisyah]

Kalian sang Siti Maryam
ditemani Siti Maryam [ibunda Nabi Isa]

Ingkang putra èstri bagé[n]dha Ngimêron
Yang merupakan putri Baginda Imron

Wondéné ingkang ngladosi
Adapun yang menjadi pembantunya

Ibu Maryam lan ibu Asiyah
Ibundanya Maryam dan Ibundanya Aisyah

Wondéné para widadari samya
Sedangkan para bidadari bersama-sama

Tumurun sangking suwarga sêdaya
Turun dari surga semuanya

Badhê têtulung dhumatêng
Hendak menolong kepada

Sang dyah Ratu Aminah
Dyah Ratu Aminah

Gandanira mulêk ngambar mulêk arum
Bau kuat semerbak harum segera menyebar

Sawêk kalêrêsan mbotên wontên dilah
Di saat bersamaan, juga tak ada lampu

Wondéné ingkang dados dilah
Adapun yang jadi lampunya

Cahyanipun para widadari
Cahaya yang memancar dari para bidadari

Ingkang samya têtulung punika
Yang bersama-sama memberi pertolongan

Lah ingriku sang Ratu Aminah
Di saat itulah Aminah

Lajêng bingar pênggalihira
Lega hatinya

Ical kuwatirira
Hilang rasa khawatirnya

Wondéné ingkang anyudhang ibu Asiyah
Sedangkan Ibundanya Aisyah yang menimangnya

Ingkang anjagèni ing pangayunan
Yang menjaga dari depan [yaitu]

Ibu Maryam
Ibundanya Maryam

Wondéné sêkathahé para warênggana
Adapun sekalian para anggota bidadari

Sami amuji mujèkakên sugêng
bersama menghatur salam-puji keselamatan

Ing wiyosipun Gusti Muhammad
Untuk kelahiran Kanjeng Nabi

Suwaranira têrus mara ngidêri buwana
Suara salam mereka bersahutan menyebar ke seluruh penjuru semesta

Tak sebatas itu. Bahkan terdapat pula lukisan yang lebih epik dan filmis ihwal bagaimana para malaikat dan bidadari semua, juga ikut merayakan kedatangan gustinya. Coba lihat di bawah ini,

Cinarita duk miyosipun
Diceritakan saat kelahiran

Pêrtapanipun Gusti Ratu Aminah
Di rahim ‘pertapaan’ kandungan Aminah

Brol saking marga ina
Yang segera keluar dari jalan gua-garbanya

Sampun ngagêm cêlak
[alis Sang Bayi] sudah terhiasi celak

Lan sampun sunat sampun pagas pusêr

Sudah disunat, usus pusarnya juga sudah tanggal

Lah ing ngriku lajêng
Saat itulah lalu

[...] êmban dhumatêng Malaikat Jabrail
Dimomong oleh malaikat Jibril

Dipun unjukakên
Dihaturkanlah

Wontên pangayunan Dalêm
Ke hadapan hadirat-Nya

Gusti kang Agung kang Maha Mulya
Allah yang Maha Agung nan Mulya

Ingkang punika dhawuh dalêm
Titah dari-Nya [Allah]

Dipun karsa akên
Diminta

Ngubêng-ubêngakên ibêjajahan
Dibawa berkeliling mengitari-menjelajahi

Pinggiripun bumi pitu langit
Pinggir seluruh bumi dan langit yang berlapis tujuh

Dharat miwah samudra

Di darat maupun samudera

Lan sak isènipun sêdaya
Serta ke bagian semua isi semestanya

Sarêng sampun têlas sêdaya
Setelah tuntas seluruh bagiannya

Lajêng dipun wangsulakên wontên
Lalu dikembalikan ke dalam

Wêngkang wê[n]tisipun sang dyah Ratu Aminah
Ke gua-garba Aminah melalui selangkangannya

Nalika badhé miyosipun Kanjêng Gusti Timur
Ketika hendak lahir sang Gusti Kecil kita

Lajêng miyos pangarsanipun tirta-paminta marga
Segera keluar air ketuban di depannya

Byar kumréwés gandanira
Seketika merebaklah bau harum

Ngambar manêrus ing suwarga angla
Menyeruak, terusan dari Surga A’la

Lah ingriku lajêng wontên
Di situlah lalu ada

Suwara magura-gura
Suara menggelegar

Kadiya manêngkêr buwana
Laksana membelah semesta

Ana déné sêtmitané suwara
Adapaun pertanda suaranya

Aih aih isiné bumi kabèh
Aih... aih... [mewakili suara] Seisi bumi semua

Ingsun ora nitahakên apa-apa
Aku [Allah] tak menitahkan apa-apa

Ambungaha isiné bumi kabèh
[selain] membahagiakan seisi bumi

Anging iya anitahakên ingsun
Tak lain sungguh aku [Allah] menitahkan

Ing kêkasih ingsun sawiji
Kekasihku satu-satunya

Kang bakal angêrayah
Yang bakal menjangkau

... ingsun ing ngalam kabèh
[para makhluk]-Ku Seluruh Alam

Lah ingriku sarêng badhé
Di situlah setelah [rasa] hendak

Gêrêngsêng wiyosipun Gusti Timur
berlangsung kelahiran Nabi terasa

Ingkang badhé mungkasi saréngat
[Nabi] yang hendak menutup seluruh syari’at

Lajêng kapang baris kubêng
Lalu berdiri berbaris melingkarlah

Pêryayi Malaikat ingkang agung-agung sêdaya
Para malaikat utama

Samya ambèbèr suwiwinira
Bersama-sama merentangkan sayapnya

Dipun karya wêran
Membentuk tameng melingkar

Supados sang dyah Ratu Aminah

Agar Dyah Ratu Aminah

Sampun katingal ing kathah
Jangan sampai terlihat oleh orang banyak

Malaikat Mikail
[dipimpin] Malaikat Mikail

Wondéné ingkang jumênêng
Adapun yang berdiri

Wontên pangayunan, Malaikat Jabaroil

di bagian depan Malaikat Jibril

Wondéné pêryayi agung Malaikat
Sedangkan para malaikat utama

Samya ramé a[ng]gènipun muji
Bersama-sama memuji [kepada Tuhan]

Wontên sawênèh Malaikat
Terdapat juga malaikat-malaikat lain

Maos dalil subêkhanalloh ai walkhamdulillah
Membaca bacaan “Subhanallah” dan “Alhamdulillah

Hu Allah hu akhêbar 3x
Allahu Akbar” tiga kali

Samya ramè anênuwunakên pangapura
Begitu riuh memintakan ampunan

Ingkang sifat Jalal Kamal
Kepada Yang maha Jalal nan Kamal

Wondéné ingkang ngrompaka
Adapun yang menyusun kidung

Kanjêng Ratu Aminah
Kanjeng Ratu Aminah

Para widadari ingkang samya rawuh
Para bidadari pada berdatangan

Ingkang ngambar gandanira
Dengan semerbak bau harumnya

Wondéné para wêrênggana wau sêdaya
Sedangkan anggota bidadari sekalian tadi

Samya amuji mujèkakên
Bersama menghaturkan doa-pujian

Wilujêngipun sang dyah Ratu Aminah sêdaya
Untuk keselamatan Aminah sekalian

Lan sami ngêréh-réh ing Ratu Aminah
Juga turut memberi pelipur-lara untuk Aminah

Lan samya ambawur ing
Serta bersama “menyilau-butakan”

Paningalira kang bangsa manungsa
Penglihatan mata para manusia

Lan angudang-kudang
Serta memberi pengharapan

Ing bêjané Ratu Aminah
Untuk keselamatan Aminah

Yèn badhé angsal bêja salaminipun
Bahwa Ia akan mendapat kebahagiaan selamanya

Lan amaringi priksa
Juga memberinya tahu

Yèn ingkang badhé miyos punika
Jika yang hendak lahir itu

Ingkang nama musthikaning wulan
Yang disebut sebagai “mustikanya sang rembulan”

Titisé Nur Muhammad
Ejawahtah “Nur Muhammad”

Lah ingriku suwaranira Malaikat
Di situlah suara para malaikat

Miwah para widadari
Serta para bidadari

Gumrê[ng]gêng
Berdengung [suaranya]

Kadya tawon gabu adon kèlang
Seperti lebah yang saling beradu berbagi madu

Lurahé widadari têtiga samya amuji
Ketiga kepala bidadari bersama melantunkan doa-puji

Ka[ya] mangkana pujènira mara-mara têka
Begitulah doa-puji mereka seketika hadir

Ga[m]pang olèha marga gampang
Semoga dimudahkannya jalan

Aja ana kang sikara-kara
Jangan sampai ada yang mencelakai

Sungguh peristiwa agung yang membuat hati kita gentar sekaligus terpesona. Sebuah peristiwa kelahiran yang menyentuh ihwal kedatangan “mustikanya sang rembulan”, ejawantah dari Nur Muhammad yang telah dinanti-nanti makhluk semesta. Namun begitu, lukisan ini baru separuh jalan. Cahayanya tak semata hanya disambut oleh para malaikat, para nabi, dan para bidadari, melainkah juga memberi berkah pada orang terdekatnya; sang ibunda, sang ayah, orang yang menyusuinya, serta orang-orang terdekat yang mengelilinginya.

Sang Ibunda misalnya, sejak ia membobot Sang Nabi sejak dari awal bulan umur kandungannya hingga waktu kelahiran, berganti-ganti ditemui para nabi utama dalam mimpinya, yang pertama Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Ismail, Musa, Hud, Dawud, dan Sulaiman, serta yang terakhir Isa as. Bahkan petanda kelahiran sang Nur Cahya ini sudah dirasakan sejak awal oleh sang Ibunda.

Diceritakan bahwa tiba-tiba perut kandungan Aminah diterpa cahaya [byar mêncorong wontên lambungé Ratu Aminah]; yakni seberkas cahaya yang memancar juga dari dahi sang Ibu [mêncorong

sumunar maya-maya kaya téja wontên larapanipun Ratu Aminah]. Inilah pertanda bahwa nur kenabiaan telah mengejawantah dalam kandungan Aminah [Nur Buat sampun tumètès manuskma marang sang Ratu Aminah]. Wajah sang ibunda seketika bercahaya laksana rembulan [sang retna ayu… cahyané maya-maya anglir sêsangka].

Tak hanya sang Ibunda, Sang Ayahanda, Abdullah, juga mendapati pendar cahaya Nur Nubuwwah yang sama [Radèn Ngabdulloh sarêng katurunan Nur Buat]. Ia menyaksikan sendiri saat masih berada di luar rumah, segebyar pancaran cahya yang memenuhi semesta [gumêbyar cahyanira angêbêki sabuwana], menyentuh batas terjauh semesta [sumundhul marang ngawiyat]. Seketika, ia menjadi penyaksi akan salam hormat kilat petir yang terlihat menggelegar, menyambar ujung barat dan timur [gêtêr mawaruhan jumêgur lor wètan kidul miwah kulon]. Seorang bapak pria agung, yang sebelumnya telah mendapat bisikan suara sejati [wontên jati suara dumêling], bahwa di dalam nutfah yang bersemanyam pada tubuhnya sedang berdiam cahaya mulia [sira iku kanggonan cahya Nur Buat], yakni benih yang akan menurunkan seorang bayi yang akan menjadi “mustikanya semesta” [bakal anurunakên sira Nabi musthikaning rat].

Tak berhenti di situ, berkah ini juga akan menimpa sosok beranama Halimah Sa’diyah, sang emban yang bertugas menyusui Sang Nabi sebelum Ibunda Aminah wafat. Halimah yang berasal dari Bani Sa’ad ini, yang saat itu klan sukunya dilanda kekeringan, paceklik, dan kemeleratan [dhahat saking langipira lan saking apês mlarat], benar-benar akan ditimpa kebahagiaan yang tanpa kira. Perempuan inilah, bersama suaminya Qais, sedikit dari banyak orang yang paling awal ikut menyaksikan pendar cahaya kenabian yang membuatnya pingsan berkali-kali [sêkala lajêng sumaput malih ilang ngakalira kamitênggêngên].

Ia jugalah yang membopong Sang Nabi, yang berada dalam situasi lemah, haus, dan letihnya karena kemiskinan klan-nya, menyaksikan betapa Sang Bayi yang digendongnya bisa menyebabkan pohon kering yang disinggahinya seketika tumbuh subur bersama buahnya [kayu aking, Ijo royo-royo pradapa ndadak sêkala] ; Onta kurus nan lemah yang sebelumnya ia tunggangi sekejap menjadi gemuk dan kuat [onta kuru siji, dadak rosa ndadak sakala]; Air susunya yang telah berhenti lama tiba-tiba mengalir deras; Hewan-hewan ternaknya yang kurus-kerontang seketika menjadi gemuk dan beranak pinak begitu cepat [wedhus kuru sawiji, gemblah-gemblah sanalika]. Seorang Bayi yang menjadikan Klan Bani Sa’ad seluruhnya mendapati hujan deras setelah sebelumnya dilanda kekeringan [Nêgara Bani Sangad, Larang udan, larang pangan, dadak sakala prepet, jawah bres]; hingga akhirnya keseluruhan anggota suku ini ditimpa kemulyaan, kesuburan, dan kesejahteraan.

Sebuah pen-candra-an sempurna, yang dilukiskan para manusia Jawa, ihwal datangnya kelahiran sang pembawa cahaya. Terutama teruntuk bagi manusia juga bagi segenap makhluk yang siap menyambut kedatangan kelahiran “sang pemukanya para Nabi” ini [pramugarining para nabi].

Sebuah pen-candra-an sempurna, yang dilukiskan para manusia Jawa, ihwal datangnya kelahiran sang pembawa cahaya. Terutama teruntuk bagi manusia juga bagi segenap makhluk yang siap menyambut kedatangan kelahiran “sang pemukanya para Nabi” ini [pramugarining para nabi]. Sebuah kelahiran yang membuat seluruh isi semesta terpesona. Namun begitu, sang cahaya ini tidak hanya semata memesonakan, ia juga menggetarkan sendi-sendi ajaran lama sebelumnya, termasuk orang-orang yang akan menyangkalnya. Lihat bait tembang Dhandang Gula seperti tertera naskah Salawat Emprak ini,

Sakala padhang tanpa damar…
Seketika muncul terang cahaya tanpa pelita

Rêtna di … Mirah yèn diluta…
[pancaran] Mutiara Yakut merah, menyusul

Byar pating palêncur…
Terang serba berpancaran

Kang tetirah sesotya
Jejak sorot intan beraneka warna

Lan nuli jungkêl kabèh
Lalu terjungkallah semua

Sêmbahané wong kafir
Batu sesembahan orang kafir

Bêrhala watu lan bêrhala kayu
Berhala batu maupun kayu

Lan amadhangi ing sakèhé
Juga [cahyanya] menerangi

Wong kang pada mupêt-mupêtan
Orang yang bersembunyi di kegelapan

Bisik-bisik kalingan dursila
Yang berbisik-bisik menutupi perbuatan nistanya

Sawusira miyos Kanjêng Gusti Muhammad
Setelah lahir Kanjeng Gusti Muhammad

Lajêng kapadhangan
Lalu tertimpa pancaran sorotnya

Byar anulya kawêlèh angêrasa yèn ina
Seketika terang, terlihat merasa hina

Lah ingriku gilapên Sètan ing paningalira
Di situlah setan tersentak penglihatannya

Tan bisa mabur marang akasa
Tak bisa terbang lagi ke angkasa

Dahat kasulapan déné cahya
Begitu tersilaukan matanya oleh Sang Cahya

Pating galu[n]dhung
Tergelepar [tanpa daya]

Kaya manuk ilang panjawaté
Bak burung kehilangan bulu sayapnya

Mabur-mabur tan bisa
Tak mampu terbang

Malah-malah kadya surya têngengé
Malah seperti kaku penglihatannya

Mabyur sunarira
Sorot sang Cahaya berterbangan [ke atas]

Tiningalan kadiya
Jika dilihat seperti [terjadi]

Gêrahana [gêrhana] ping pitu sêdina
Gerhana tujuh kali sehari

Wondéné isinéng rat kabèh
Adapun seisi semesta sekalian

Padha anêrka yèn dina kiyamat

Menerka kalau akan datang kiyamat

Ingkang punika gua pèrèng sungil-sungil
Di mana gua, lereng, jurang-jurang yang tersembunyi

Kapadhangan sêdaya
Tersorot cahayanya semua

Lan banjur pêcah dhamparé Ratu Kisra
Seketika hancurlah Kursi singgasana Ratu Kisra [Persia]

Gêniné sêmbahané wong Farsi
Juga api sesembahan orang Persia

Lan padha sigar brahalané kayu
Pecah terbelah dua berhala kayunya

Samya ta’lim sêdaya
Pada bersimpuh semua memberi hormat

Ing Gusti kang Mêksih timur
Kepada Sang Gusti Kecil [kita]

Lan nuli ngêrasa ina lan kawêlèh kabèh
Serta kemudian merasa rendah, tampak hina semua

Saithon olèhe maling pêngrungu
Setan dengan kebiasaannya mencuri dengar

Lan pangrasa angrasa
Serta Mencuri kabar

Tan bisa anggodha
Tak bisa lagi bisa menggoda

Sebuah gambaran yang membuat gentar para makhluk semesta, terutama makhluk yang masih dilimputi kegelapan dan kekafiran, beserta daya nista yang dibawanya. Lukisan indah tentang munculnya sosok Muhammad sang Nabi pilihan yang dilahirkan pada waktu yang mendahului fajar pagi [ngajêngakên fajar sidik], yakni pada malam senin tanggal 12 Rabiul Awwal [Ing malêm Isnèn tanggal kaping rolas ing sasi Robingul Awal], berbarengan dengan Tahun Gajah [marêngi tahun Fil], tepat pada musim Sinta dengan rasi bintang “Aturida” [ing mangsa Sinta ing buruj maqom

Ngatho Urida]. Alias berbarengan tanggal dengan Hijrahnya Nabi Ibrahim menuju Makkah bersama puteranya [amaréngi…hijrahipun Kanjêng Nabi Ibrohim wontên nêgara Mêkah]. Orang-orang Jawa menamai bulan ini dengan sebutan “Sasi Maulud” [Bulan Maulud], alias sebuah bulan maha penting. Bulan “hari raya”-nya orang-orang Jawa. Bulan datangnya sang Nur-Cahya. Bulan yang tepat untuk melantunkan serta melangitkan kekidungan semesta untuk menyambutnya.

***

Ingatan saya tetiba kembali ke pergelaran Salawat Emprak malam itu. Saya terseret. Saya seperti kembali ke waktu di Pesantren Kaliopak. Lamat-lamat saya mengingat cerita-rawen yang mengisahkan Sang Kakek sang bayi, saking girangnya, segera membopong Baginda Nabi memasuki Kakbah, sembari berdoa. Lalu ia keluar, membawa sang bayi ber-thawaf mengelilingi Ka’bah dengan menyenandungkan Kidung “Allahumma”. Sebuah kidung Jawa yang terhiasi dan bertaburan bahasa Melayu lama di dalamnya.

Alon-alon lumakumu ndak kesandung 2x
Pelankanlah jalanmu agar tak tersandung

Yèn kusandhung 2x
Karena jika tersandung

Badan alus mandhêg mayung
Diri sukmamu berhenti-berdiri seketika

Gusti Allah nyuwun ngapura
Gusti Allah [saya] meminta ampunan

Sarta saya liat cucu-cucu saya ini
Saya lihat cucu saya ini

Yang saya arêp jadi raja
Saya harapkan bisa menjadi Raja

Yang pêrtama baik mémang 2x
Cucu pertama yang begitu ganteng

Ambuk sukur yang puji
Saya mengajak bersukur memuji

Kêpadha tuan-tuan
Kepada Tuan-tuan sekalian

Allah kasih cucu saya
Allah menganugerahi cucu saya

Sukak mana ati lêbih goyang turun
Kegembiraan yang membuat hati menari

Lalu amat .... Bolé raja-raja
Karena begitu… Semoga raja-raja

Sukak minta tolong Allah
dengan senang hati memintakan tolong kepada Allah

Allah yang punya ..…
Allahlah sang pemilik…

Sarta orang meliat
Orang-orang yang sedang menyaksikan

Sukak atinya
2x
Bergembira hatinya

Dhilindhungkên jauh dari
Terlindungi jauh dari

Pêkêrjaan orang jahat
Perbutan orang-orang nista

Jauh dari musibat yang
Jauh dari musibah

Mata dua 2x
Dua bola mata ini [bersaksi]

Sunggu[h]-sunggu[h] Tuan
Sungguh telah Gusti

Allah mêngatakên dhalêm karaan [Qur’an]
Allah tuliskan di dalam Al Qur’an

Nama Akhmad disurat
Sesosok bernama Ahmad yang tercatat

Atas suwarga 2x
Di Surga

Tuan Allah punya rakhmat
Allah-lah yang berhak menurunkan rahmatnya

Dhikasihkên umur panjang
Diberikan umur panjang

Ala sujudana pagugahé badan sukma

Sujutilah sang penggugah hidup badan-suksmamu

Ana-ana tangis rayung-rayung
[seperti] Ada suara tangis mengalun

Wong ngalam donya
Tangisnya manusia seluruh alam semesta

Gusti Allah nyuwun ngapura
Ya Allah ampunilah [Kami]

Ada dhi dhang ading dhang dhi dha dhu lahing
Da di dang, ding, dang di da du lahing

Ala tua raja cucunya dhi ikêt
Sang Kekek Raja mengikat cucunya

Kain dhibawa
Dengan kain, lalu dibawanya

Putêr towaf tuju kali lantas .......…
Bertawaf tujuh kali mengelilingi [Kakbah. Lalu..

Hu ya Alloh ta’ala, Dat kang Maha Mulya

Hu ya Allah Ta’ala, Duhai Zat Maha Mulya

Mendengarkan kekidungan ini saya terbawa dalam barisan jalan di belakang sang Kakek Abdul Muthalib. Saya benar-benar membayangkan ada dalam barisan thawaf itu. Ikut serta mengiring kegembiraan sang Kakek. Namun tiba-tiba, suara musik Emprak mengambil jalur senggakan nada lain. Sekejap terdengarlah bunyi “Asraqal Badru ‘alaina’ min saniyatil wada’”. Orang-orang segera berdiri [baca: mahalul qiyam]. Melantunkan Salawat Badar, menyambut kedatangan “ruhani” Nabinya. “ Ya Nabi, Salam sejahtera untukmu.” “Ya Rasul salam Sejahtera untukmu”. “Telah terbit sang Rembulan.” “Andalah sang Rembulan.” “Andalah Sang Matahari.” Saya tak ingat lagi. Gerakan tarian para peraga laki-lakinya dengan liukan gerakan tangannya semakin menyedot saya. Tiba-tiba mata saya terpejam tanpa diminta. Seketika itu, bau harum menusuk hidung begitu kuat. Mata saya, tanpa benar-benar saya bisa kendalikan, menitikkan air-mata. “Marhaban, ya Marhaban” [Selamat Datang], “ya Nural Aini…”[Sang Cahaya yang menerangi mataku]. Saya menggeru. Sekuat tenaga. Memekik. Mengeraskan suara. Saya tergulung tangisan kegembiraan. Lautan Cahaya Batin Kenabian.

Shallallahu ‘ala Muhammad, Ya nabi salam ‘alaika, Ya rasul salam ‘alaika, Ya habib salam alaika. Ya Nabi salam ‘alaika, Shalawatullah ‘alaika.

Saya tersadar. Teringat perkatakan ibu saya di desa dulu. “Muhammad itu di sini, Le,” sambil menelangkupkan kelima jari tangan ke dadanya.

Klandungan, Malang, 5 Januari 2023

Daftar Pustaka

Anonim Manuskrips, Tlada [Salawat Emprak], Yogyakarta, Tanpa Tahun.

Anonim, Jawab Slawatan Jawi, dalam https://www.ꦤꦮꦏ꧀ꦱꦫ.id, Diakses 1 Januari 2021.

Irfan Afifi, Slawat Emprak: Terjemah dan Suntingan, Belum diterbitkan, Yogyakarta, 2023.

Irfan Afifi, Saya, Jawa, dan Islam, TandaBaca, Yogyakarta, 2019.

Nancy K. Florida, Jawa-Islam di Masa Kolonial: Suluk, Santri, dan Pujangga Jawa, Terj. Irfan Afifi, Buku Langgar, Yogyakarta, 2020.

Keterangan

Tulisan ini pernah diterbitkan dalam buku bunga rampai “Nyame Braya, Nyame Slam: Tradisi Islam Nusantara” oleh penerbit Buku Republika. Dimuat kembali di sini untuk tujuan pendidikan.