Melawat ke Yogya: Buku dan Sunan Kalijaga

Berkunjung ke kota Yogyakarta selalu meninggalkan kesan yang mendalam bagi diri saya, entah itu kesan yang berkaitan dengan wisata sejarah, atau wisata belanja ataupun kuliner.  Biasanya ketika saya mengunjungi kota pelajar itu, saya hanya mengunjungi Borobudur, Keraton, atau sekadar belanja di Malioboro sambil menikmati gudeg. Beda dengan sebelumnya, kunjungan saya kali ini punya cerita lain. Perjalanan saya ke Yogya yang kesekian kali ini, memang saya niatkan untuk belajar penerbitan dan bertemu beberapa tokoh pengelola lembaga yang sudah berpengalaman dalam dunia tersebut. Dari berbagai tempat yang saya kunjungi, terdapat beberapa corak atau keunikan dari tiap-tiap tempat itu.

Awalnya saya berkunjung ke Langgar.co di sana saya bertemu dengan Mas Irfan Afifi salah satu budayawan muda yang menyambut kami dengan hangat malam itu. Saya berbincang-bincang lumayan panjang dengan beliau mulai dari habis Maghrib sampai hampir jam dua belas malam. Waktu yang cukup panjang untuk ukuran sebagai tamu. Pada obrolan yang panjang tersebut, Mas Irfan menjelaskan banyak hal terkait sastra Jawa, tasawwuf, sejarah, sampai pada perbukuan, dan penerbitan.

Hari kedua kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi toko-toko buku yang menurut saya sangat apik dan tertata dengan rapi. Hal ini berbeda dengan toko-toko buku konvensional yang pernah saya kunjungi di Jakarta. Terlihat sekali dalam toko buku yang saya kunjungi tersebut, para penjaga kedai sangat jeli dan lihai dalam menata buku-bukunya.

Selepas mengunjungi toko buku, saya langsung berkunjung ke Bumi Langit, sebuah yayasan yang khusus dalam mengajarkan kearifan lokal dan perkebunan lewat metode Permakultur. Sampai di sana, kami menikmati hidangan lokal yang nikmat dan terasa sangat segar dibanding dengan restoran-restoran biasa yang pernah saya kunjungi. Mungkin karena bahan-bahan pangannya diambil langsung dari  alam sehingga masih terasa alami. Dengan ditemani alam sekitar yang cukup indah, makan di sana menciptakan suasana hati yang damai dan nyaman.

Selang beberapa jam setelah kami menyantap makanan, saya menghampiri  Pak Iskandar (pendiri Bumi Langit) dengan niat bersilaturahmi dan bercengkrama untuk menimbah ilmu. Topik perbincangan kami, tak jauh beda dengan apa yang sudah dibicarakan di Langgar.co pada malam sebelumnya, karena kedua lembaga ini menggeluti isu yang relatif sama terkait kebudayaan. Dalam hal ini budaya yang memiliki pengertian seusai akar katanya yakni buddi yang mencangkup di dalamnya ada budi pekerti dan akal manusia. Sehingga kebudayaan ini tidak hanya mencakup wilayah kesenian seperti lukis, tari, atau gambar saja. Tetapi lebih luas dari hal itu, bahwa budaya memiliki tujuan untuk mengolah jiwa manusia sehingga menuntunnya menjadi insan kamil (manusia sempurna). Dalam perbincangan kami bersamanya banyak menitikberatkan pada pembahasan mengenai budaya, terdapat istilah yang beliau kutip yang dapat merangkum perjalanan saya yaitu ihsan atau keindahan.

Toko Buku Akik

Selepas dari Bumi Langit saya tiba-tiba teringat akan sabda kanjeng Nabi Muhammad bahwa “sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan,” kalimat ini menyadarkan warna-warna keindahan yang memberikan makna lebih dalam pada perjalanan saya, ihsan jadi terlihat di mana-mana dalam penghilatan saya. Terutama keindahan kota Yogya melalui orang-orang yang saya temui, dari bangunan kuno seperti keraton, dan banyak hal lainnya seperti makanan, musik, dan buku-buku yang saya pegang dan lihat saat berkunjung ke kedai buku. Dalam Al-Qur’an, disebutkan  juga bahwa “Tidak ada balasan ihsan kecuali kebaikan ihsan,” ihsan di ayat ini bisa bermakna kebaikan atau keindahan, karena hasan (baik) dan ihsan (keindahan) berpangkal dari akar kata yang sama ḥ-s-n. Maka jelaslah bahwa manusia terutama umat muslim dianjurkan dengan sangat untuk mencintai insan dan berlaku ihsan supaya menjadikan dirinya menjadi ahsan (terbaik).

 Selepas dari Bumi Langit saya tiba-tiba teringat akan sabda kanjeng Nabi Muhammad bahwa “sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan” kalimat ini menyadarkan warna-warna keindahan yang memberikan makna lebih dalam pada perjalanan saya, ihsan jadi terlihat di mana-mana dalam penghilatan saya.

Dari masa ke masa ihsan terlihat jelas dalam kesenian, yang mempunyai fungsi mengemas kebenaran dengan bungkus keindahan. Dalam Islam keindahan (ihsan) menempatkan posisi  ketiga dalam dimensi Islam sebagaimana diutarakan dalam hadits Jibril: (1) kebenaran (iman), (2) kebaikan (Islam), dan (3) keindahan (ihsan). Ihsan dari waktu ke waktu mampu mempengaruhi cabang keilmuan seperti etika (akhlak), spiritual (tasawwuf), dan kesenian (ilm al-Fann). Seperti saya ceritakan di atas, perihal ihsan telah banyak berpapasan dengan saya dalam perjalanan selama tiga hari di kota Yogya tersebut.

Tidak hanya itu, ada kejadian menarik yang meninggalkan kesan yang lagi-kagi mendalam bagi diri saya, yaitu ketika saya melihat pementasan wayang kulit di Museum Sonobudoyo. Pementasan tersebut tersebut diawali dengan adegan pertengkaran diantara tokoh wayang, sehingga membuat gamelan menciptakan suara melengking dan nyaring. Di seberang yang lain terlihat pasangan turis mancanegara menutup kedua telinganya.  Kejadian itu mungkin membuat prasangka dari kita sebagai warga lokal dengan mencap si turis sebagai penonton yang abai dan barangkali secara serampangan— mengatakan mereka bodoh. Sebagai pemula dalam mengikuti pementasan wayang saya rasa acara ini dapat dikatakan sebagai pengalaman kesenian yang representatif akan tradisi Jawa, karena sangat terlihat efek suntikan tradisi intelektual, seni, sastra, dan musik Jawa. Boleh jadi, apa yang membedakan reaksi saya dari si pasangan turis merupakan karena alasan kesenjangan bahasa—namun nyatanya, saya sendiri tidak mengerti bahasa Jawa, hal ini menjadikan saya sederajat dalam kesenjangan bahasa dengan si pasangan turis terhadap dialog berbahasa Jawa yang digunakan dalang dalam pementasan wayang.

Sewajarnya, sesuatu yang sederajat akan bertemu dengan titik yang membedakan, titik pembeda itu ditemukan pada saat pewayangan dipentaskan hingga pada titik suara melengking menciptakan suasana adegan perkelahian lebih mencekam. Lantaran makna yang muncul lewat imajinasi pikiran akan kecintaan dan pengetahuan saya mengenai Wali Sanga, saya terharu sampai meneteskan air mata. Di saat yang sama si pasangan turis masih menutup telinganya. Terbesit di benak pikiran sebuah pertanyaan, “jika karya yang ditampilkan mempunyai mutu yang sangat tinggi dan keindahan yang melampaui zaman, lalu bagaimana keadaan hati si pencipta kesenian ini?” Dari pertanyaan ini muncul nama Sunan Kalijaga yang tak lain pencipta kesenian yang sedang saya saksikan.

Pemantasan Wayang di Museum Sonobudoyo

Sudah pasti— hati sang Sunan telah terasah dan melewati proses kimia yang menjadikannya bening seperti cermin. Berangkat dari kemurnian hati, muncul hasrat untuk mengajak keluarga, tetangga, sahabat, hingga masyarakat untuk ikut menapaki proses pemurnian yang telah dilalui sang Sunan. Memikirkan hati sang Sunan memantik saya untuk menjabarkan  pemahaman dasar ihwal hati dalam tradisi Islam, sebagaimana Sunan Kalijaga salah satu empu daripada tradisi tersebut. Hati, suatu pancaindera (faculty) batin yang merasakan sesuatu, hati juga terhubung dengan kata kalbu (qalb). Dalam bentuk kata benda, kalbu bermakna pusat terdalam jiwa manusia yang senantiasa menilai benar salahnya perasaan, niat, hasrat dan tindakan. Jika kalbu dilanjutkan menjadi bentuk kata kerja (taqallabu) maknanya berkembang menjadi sesuatu yang mengombang-ambingkan, berubah-ubah, dan terbolak- balik.

Sang sunan serupa dengan para wali-wali Allah lainnya, mengenal kalbu dengan segala keutamaan dan sifatnya yang terbolak-balik, mengikuti doa Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ “Ya Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘alaa Diinik” (Wahai Yang Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hatiku senantiasa di atas agama-Mu) supaya mengukuhkan hati sang sunan dan menolong para masyarakat Jawa masa itu. Lewat prinsip dan sifat kalbu, sang sunan bertafakur bagaimana menyentuh dan menusukan jarum untuk mengobati hati masyarakat Jawa agar intipati batin mereka (kalbu) dapat diputar (inqalaba) sampai berhenti pada titik kemurnian hati yang tidak terganggu akan godaan-godaan duniawi dan memusatkan hati mereka hanya kepada sang-Gusti.

Dengan kecintaan yang mendalam akan masyarakatnya, sang sunan menelusuri khazanah ilmu, kebudayaan, kesenian, dan pastinya kepekaan hati masyarakat Jawa untuk menciptakan obat hati (tombo ati). Dengan piawainya sang sunan menciptakan salah satu obat hati dengan menggubah pementasan wayang menggunakan efek suara yang “mengganggu”, menyentuh, dan menusuk titik sensitifitas hati manusia terutama orang Jawa hingga hari ini, kendatipun jarak ratusan tahun, sang sunan berhasil menyentuh hati saya dan mengganggu telinga barangkali sampai menyentuh hati si pasangan turis. Wallahu a’lam.