Mulyana: Bahtera Rahayu, Sebuah Pencarian Bentuk Baru

Ruang yang diapit dua dinding besar dengan model bangunan industrial tersebut tampak seperempat lantainya dipenuhi pasir hitam. Warna yang sesuai dengan suasana gelap mendung sore, Selasa (26/10) Galeri Sarang Building, Tirtonirmolo Bantul, tempat saya mengunjungi ruang pameran. Tidak kurang satu kubik pasir dibentangkan dalam ruangan itu. Di tengah dominasi warna gelap yang pekat terdapat tiga instalasi utama yang tegak hampir tidak saling sapa. Sebelah kiri ruang di atas bentangan pasir terdapat satu fragmen instalasi berbentuk gunungan beserta ubarampe-nya, ada tumpeng rombyong dan sesajen. Dengan warna-warni yang begitu kuat dan mencolok, dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Lalu dalam fragmen instalasi kedua terdapat dua sosok yang terbungkus jaring dengan sorot lampu yang menyerupai mata menyala dari balik lapis-lapis jaring yang disusun sedemikian rupa. Kemudian sebuah sosok terkulai terbuat dari plastik hitam berbentuk entah apa; dari dekat tampak seperti ekor putri duyung tapi tak berkepala layaknya monster yang tak bernama.

Dua fragmen utama tersebut menyapa pengunjung dalam pameran tunggal Mulyana yang bertajuk “Bahtera Rahayu” (18-28 Oktober). Mendengar ungkapan bahtera, saya lalu membayangkan sebelumnya bahwa pameran ini tidak akan jauh dengan laut; bisa jadi terkait perahu atau dalam kerangka filosofis suatu ungkapan dari perjalanan mengarungi gelombang kehidupan. Lalu kata rahayu menarik saya pada suatu idiom lokal atau lebih tepatnya istilah Jawa yang berarti keselamatan.

Hal tersebut semakin diperkuat dengan visualisasi dari tiga instalasi utama yang telah saya gambarkan di atas. Jika kita jeli melihat dalam fragmen pertama, bentuk-bentuk seperti gunungan, tumpeng, dan sajen mencitrakan makna yang mendalam sekaligus memiliki makna spiritual dalam pemahaman orang Jawa. Menariknya semua bentuk tersebut dibuat dengan cara rajut yang tentu di dalamnya juga membutuhkan semesta kesabaran. Sedangkan lainnya menggunakan kolase material dari pendekatan kolase modular sebagai titik berangkatnya.

Simbol gunungan yang berbentuk  kerucut lancip ke atas kita pahami dalam masyarakat Jawa terinspirasi dari pertunjukan wayang yang melambangkan kehidupan manusia. Artinya semakin tinggi ilmu dan semakin tua usia manusia harus semakin mengerucut menjadi satu menyatukan jiwa, rasa, karsa, dan cipta untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta. Kemudian dari konsep tersebut masyarakat Jawa mengilustrasikan sebagai bentuk gunungan lain yang tersusun dari buah-buahan dan sayur-sayuran. Yang mana bentuk artistik tersebut selalu ada dalam ritual-ritual penting seperti Garebeg Mulud, Sura, yang selalu ada di keraton Jawa. Bagi masyarakat pesisir bentuk artistik yang penuh makna tersebut biasanya juga digunakan dalam acara sedekah laut (labuhan), suatu ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang didapatkan.

Bentuk tumpeng sendiri kalau tidak salah, dari bentuk yang ditampilkan dengan lilitan warna hijau yang mengitarinya lalu ada telur dan cabai serta bawang merah ditancapkan di atas tumpeng. Tidak salah jika ini dikatakatan jenis tumpeng rombyong. Salah satu jenis tumpeng yang mempunyai makna khusus. Misalnya bawang merah atau disebut brambang yang menyimbolkan keseimbangan yang mana manusia harus terus menimbang-nimbang untuk mencapai keseimbangan diri. Telur putih merupakan simbol kesucian lahir batin kita, dan cabai merah adalah semangat kita. Semuanya itu ditancapkan di atas tumpeng yang menyimbolkan perjalanan mencapai keabadian [Tuhan] dengan kemurnian jiwa dan semangat seperti warna merah dalam cabai.

Belum lagi dua fragmen lainnya dengan material utamanya yang terbuat dari jaring dan plastik. Terlepas bentuknya yang masih sulit dipahami, tapi saya menangkap ada satu keresahan Mulyana dalam melihat kondisi laut yang tidak lagi menjadi bagian dari daur hidup manusia yang saling melengkapi. Jaring dengan bentuk menyerupai moster yang menyeramkan, saya tangkap sebagai upaya Mulyana untuk menyuarakan kekayaan laut sekarang ini hanya jadi obyek eksploitasi keserakahan manusia yang banyak menghancurkan ekosistem biota laut di dalamnya. Sedangkan dalam instalasi yang bahan materialnya dari plastik, saya lihat adalah respon Mulyana atas penggunaan sampah plastik yang sudah begitu mengancam lingkungan laut yang sering kita lihat beritanya belakangan ini.

Dua bentuk instalasi dengan segala makna interpretatif yang saya sodorkan di atas membawa saya pada kesimpulan sementara bahwa apa yang ingin disampaikan oleh Mulyana melalui karyanya ini, adalah sebentuk usaha untuk melihat fenomena yang terjadi antara yang di darat dan yang di laut serta ekosistem kebudayaan yang melingkupinya secara lebih realistik. Bahwa dalam satu sisi laut hanya menjadi obyek kebrutalan manusia namun di sisi lain laut dengan ekosistem kebudayaan yang melingkupinya memunculkan kesadaran atas relasi yang lebih subtansial kepada sang pencipta dengan ritual atau doa melalui bentuk-bentuk artistik sebagai medium konektivitasnya.

Dua bentuk instalasi dengan segala makna interpretatif yang saya sodorkan di atas membawa saya pada kesimpulan sementara bahwa apa yang ingin disampaikan oleh Mulyana melalui karyanya ini adalah usaha untuk melihat fenomena yang terjadi antara yang di darat dan yang di laut serta ekosistem kebudayaan yang melingkupinya secara lebih realistik.

Menemukan Bentuk Baru

Pameran tunggal Mulyana seperti dikatakan Ignatia Nilu kurator dalam pameran ini adalah upaya Mulyana memasuki ruang baru eksplorasi kesenimanannya. Sejak tahun 2006 Mulyana memang memilih medium rajut dan mixed sebagai wahana eksplorasi keseniannya. Namun setelah hampir satu dekade, Mulyana bergelut dengan sosok “moniker”-nya atau lebih dikenal dengan istilah “MOGUS” dari akronim “Monster, Gurita, Sigarantang”. Dari hal itu, Mulyana ingin belajar berekspresi dalam bentuk baru dengan material limbah seperti tekstil dan tali plastik yang lebih realis dengan gagasan lokal dan kebudayaan yang lebih luas.

Sebagai seniman Mulyana memang terkenal dengan karya-karya yang cenderung imajinatif dengan karya MOGUS dengan sajian instalasi figurasi ala medan kehidupan bawah laut serta biota yang ada di dalamnya. Namun seperti diungkapkan Ignatia dalam catatan kuratorialnya bahwa pameran kali ini merupakan titik berangkat baru Mulyana untuk menjelajahi laut dan samudra luas sebagai laboratorium dan sumber-sumber pustaka bagi karya-karya selanjutnya.

Ignatia juga menambahkan bahwa proyek pameran kali ini sebagai proyek rintisan yang dilakukan Mulyana untuk mencoba belajar keluar dari dunia fiksi ke sesuatu yang lebih realis. Dari hal itu, dalam penggarapan pameran ini, Mulyana beberapa kali melakukan observasi ke lapangan di pantai Parangkusumo untuk melihat langsung bagaimana laut dan kebudayaan masyarakat yang berkembang di sana.

Seniman yang sempat menjadi perbincangan dengan karya Sea Remembers yang menjadi The Best ArtJog tahun 2018 ini memang identik dengan karya yang memiliki kesan ceria melalui warna mencolok yang selalu hadir di setiap karyanya. Tetapi hal tersebut ternyata tidak selalu mewakili apa yang Mulyana gelisahkan sebagai basis proses kreatifnya. Hal ini diungkapkan Mulyana dalam diskusi bedah karya bersama ST Sunardi dan Ignatia Nilu sebagai moderator  (26/10). Pemilihan teknik rajut serta warna-warna ceria yang dipilih awalnya bagian dari alter-ego Mulyana. Pengalaman masa lalu dirinya yang sempat menjadi obyek bullying saat remajanya menjadikan pilihan-pilihan tersebut sebagai ruang ekspresinya.

“Pengalaman masa lalu saya yang sering di-bully karena dianggap terlalu feminin. Lalu ketika di Pondok, saya seperti menemukan ruang untuk mengekspresikan kegelisahan saya tersebut dengan membuat karya dari mixed dalam majalah dinding,” tutur Mulyana.

Mulyana memang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Gontor Jawa Timur. Tidak seperti kesadaran orang lain pada umumnya yang menganggap pondok pesantren tidak terlalu apresiatif dengan kesenian atau bahkan terlalu mengekang. Tetapi uniknya saat di pondok, Mulyana justru menemukan ruang untuk mengekspresikan jiwa seninya. Hingga akhirnya saat ia menempuh jurusan pendidikan seni rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung, ia semakin yakin dengan jalan hidupnya untuk menjadi seniman.

Sementara itu ST Sunardi melihat karya Mulyana memiliki makna yang berlapis-lapis. Setiap lapisannya selalu mengajak kita untuk selalu menimbang-nimbang antara yang mistis dan juga ekologis. Mengenai latar belakang Mulyana sendiri ia melihat sosok Mulyana merupakan sosok yang bisa menggabungkan tiga dimensi sekaligus, yaitu spiritualitas (agama) dengan latar pondok, seni sebagai seorang seniman, dan kebudayaan sebagai masyarakat.

Terlepas dari latar belakang Mulyana yang diliputi cerita getir di masa sebelumnya, apa yang dimunculkan dalam pameran Bahtera Rahayu ini adalah bentuk dari laku kesenian Mulyana dalam upaya membaca fenomena yang ada di laut sekaligus membaca diri-nya. Walaupun makna dan bentuk visual yang ia munculkan tidak semuanya bisa ia jelaskan. Mulyana ingin mengajak kita semua dalam prosesi labuhan sebagai medium kesadaran ekologis, spiritual, dan kebudayaan yang telah membentuk dirinya. Tidak hanya itu melalui Laut dengan segudang narasi-narasi luhur di belakangnya, apa yang dilakukan Mulyana juga berarti doa sebagai penyambung antara manusia dan sumber kekuatan agung Tuhan alam semesta.

Doel Rohim
Redaktur langgar.co, bergelut di PP Budaya Kaliopak. Bisa disapa via Twiter @doelrohim961 Ig: Doel_96