Menu
Irfan Afifi
Deskripsi gambar
Bilik
Irfan Afifi
Pendiri Langgar.co sebuah laboratium pemikiran, kajian, dan ruang kreatif penciptaan pada isu-isu kebudayaan dan keindonesiaan.
Semua Tulisan Langgar

Menonton film Monisme di Festival film terbesar di Indonesia, Jogja-Netpac Asian Film Festival 2023 (JAFF 18th) yang dihadiri lebih dari 20.000 penonton dan Forum Film Dokumenter (@ffdjogja) tahun 2023 di Jogjakarta, tidak pernah terpikir sebelumnya oleh penulis akan mendapatkan sensasi menonton film yang berbeda dari biasanya.

Ulasan film Monisme sendiri sebenarnya sudah banyak kita temukan di berbagai platfom media. Namun demikian, penulis merasa perlu menambahkan beberapa hal, karena masih ada unsur menarik lainnya yang bisa dielaborasi lebih mendalam dari film ini. Menurut penulis, sebagai film hasil karya anak bangsa Indonesia Monisme telah berhasil mendapatkan banyak apresiasi salah satunya dari mengikuti kompetisi di kategori Kompetisi Panjang Internasional di Festival Film Dokumenter 2023. Film yang disutradarai oleh Riar Rizaldi ini, adalah satu-satunya film Indonesia yang masuk dalam sesi “Main competition section”, ( kompetisi utama).

Film Monisme telah mengikuti perjalanan kompetisi panjang di berbagai festival film Internasional di banyak negara, antara lain; Adelaide Film Festival @adlfilmfest, Bucharest International Experimental Film Festival, dan memenangkan Best Feature Film Award @bieff2023, Festival Film Perancis @fidmarseille, UK Festival Film , Open City Documentary Festival@opencitydocs di London, Black Canvas Contemporary Film Festival di kota Mexico @blackcanvasfest, Sao Paulo International Film Festival@mostrasp47th, dan masih terus diputar di manca negara yang lainnya sampai saat ini (2024).

Menariknya menonton film festival adalah adanya kesempatan untuk berdialog dengan kru produksi filmnya, yang digelar setelah menonton film tersebut. Dalam forum itu, beberapa  pertanyaan diajukan oleh penonton dalam konteks memahami cerita. Penonton mengalami kesulitan dalam menangkap cerita antara batas cerita  fiksi yang berdasarkan imajinasi dengan fakta nyata seperti dalam konteks film dokumenter yang menyajikan kejadian kehidupan yang sesungguhnya tentang manusia, tema atau topik tertentu.

Menurut pengalaman penulis, menonton film Monisme sejak awal mengalami sensasi ketegangan yang bisa meningkatkan hormon adrenalin. Seperti sensasi menonton film Batman- “The Dark Knight Rises” di awal cerita yang menyuguhkan penculikan dan pembajakan pesawat yang mematahkan  badan pesawatnya satu per satu di atas udara.

Di awal cerita film Monisme  menampilkan sisi kekerasan yang menonjol seperti adegan kekerasan fisik yang brutal dan di cerita selanjutnya menggambarkan adegan pemerkosaan yang dilakukan oleh sekelompok paramiliter yang hidup di seputar kaki Gunung Merapi yang  mencari penghidupan dan keuntungan di situ. Adegan ini digambarkan sangat jahat atau pure evil. Menurut produser film Monisme, B.M Anggana mengatakan bahwa film bukanlah hal yang suci-suci amat. Dalam film Monisme kekerasan memang digambarkan secara keras dan gamblang. Karena  jika kejahatan tersebut digambarkan dengan subtil, narasi yang akan disampaikan tidak akan sampai.

Menurut produser film Monisme, B.M Anggana mengatakan bahwa film bukanlah hal yang suci-suci amat. Dalam film Monisme kekerasan memang digambarkan secara keras dan gamblang. Karena  jika kejahatan tersebut digambarkan dengan subtil, narasi yang akan disampaikan tidak akan sampai.

Diciptakannya adegan kekerasan brutal yang memuncak di tahap permulaan cerita yang dibuat dengan hiperbola itu berhasil membawa suasana mencekam yang memicu emosi penonton dan larut untuk terus mengikuti alur cerita selanjutnya. Walaupun di dalam proses penelitian di lapangan yang sebenarnya, menurut B.M Anggana, mengatakan  tidak ada keterlibatan perempuan.

Dalam diskusi membahas Monisme dengan penonton, B.M Anggana mengatakan memang tidak dimaksudkan membuat sekat antara film fiksi dan dokumenter dan dibiarkan bermain di wilayah bias. Kekerasan yang ditampilkan di film tersebut menurutnya bisa dijadikan semacam refleksi bersama, mengingat kenyataan tentang kekerasan juga bisa terjadi di masyarakat. Adegan pemerkosaan tersebut ingin memberikan gambaran bahwa adanya represi brutal terhadap eksistensi perempuan di lapangan.

Tentang film Monisme, Riar Rizaldi mengatakan kepada penulis sebagia berikut: ” Ide awalnya, karena kami semua yg terlibat dalam film hidup dekat dengan Gunung Merapi, baik yg  memang lahir dan besar di sana maupun yang pendatang (seperti saya) dan hidup di sana”. 

Film Monisme sendiri dalam proses pembuatannya sudah dimulai sejak 2018 dalam pengumpulan datanya di lapangan. Pembuatan konsep film panjang tentang Gunung Merapi baru dilakukan di tahun 2020, yang  memotret Gunung Merapi sebagai protagonis dengan menghadirkan cara pandang dari sisi sains, ekonomi (mata pencaharian) dan spiritualisme secara utuh di areanya. Pengumpulan data yang bersifat sains didapat dari Yulianto pengawas Gunung Merapi di Pos Babadan di Magelang-Jawa Tengah, dan lokasi penambangan pasir di Sleman. Pelibatan grup Jatilan sendiri menurut B.M Anggana  muncul belakangan dan digunakan untuk ditautkan dengan kehidupan spiritualisme yang diyakini oleh masyarakat yang tinggal di seputar kaki Gunung Merapi.

Di perhelatan JAFF18, Monisme akhirnya diputar  di tempat asal film ini dilahirkan dan memenangkan penghargaan Golden Hanoman Award, dengan mendapatkan apresiasi dari para juri yang beranggotakan : Kristy Matheson, Mandy Maharimin dan Park Ki Yong. Berikut adalah kutipan pendapat dari para juri tersebut:

“Monisme is an incredibly assured feature debute. The jury was unanimous in our appreciation of the film; in particular, we admired the bold experimentation and the bravery of its movement between genres and different types of footage. Monisme is a complex story that can only be told through the medium of cinema and heralds a very exciting cinematic voice in contemporary cinema”.

(Monisme adalah sebuah karya debut film panjang yang sangat menjanjikan. Para juri sepakat dalam mengapresiasi film tersebut, pada khususnya, kami mengagumi keberaniannya dalam bereksperimen dan  dalam menggerakkan antara genre-genre dan jenis-jenis footage yang berbeda. Monisme adalah sebuah cerita yang kompleks yang hanya bisa dituturkan  melalui medium sinema, dan dapat menyuarakan gagasan sinematik yang sangat menarik di ranah sinema kontemporer).

Monisme menyajikan tiga cerita  yang merepresentasikan tiga sudut pandang dalam melihat Gunung Merapi seperti yang dikatakan oleh Riar, yaitu dari sains , ekonomi dan spiritual. Semua tokoh utamanya diperankan oleh Rendra Bagus Pamungkas. Rendra Bagus Pamungkas berperan sebagai seorang ilmuwan (geolog) yang sedang meneliti perkembangan aktivitas Gunung Merapi. Dari sudut pandang sisi ekonomi Rendra Bagus Pamungkas memerankan seorang penambang pasir yang mengalami problem seputar penambangan di wilayah Gunung Merapi, dan dari sisi spiritual memerankan tokoh mistik yang menggunakan medium Jathilan (seni Kuda Kepang) dalam mengekspresikan kegiatan spiritualnya yang sudah menjadi bagian dari kehidupan yang bersifat naluriah dan melekat pada kepercayaan masyarakat di wilayah kaki Gunung Merapi.

Karakter- karakter itu mewakili tiga sudut pandang tentang kehidupan manusia dalam hubungannya dengan alam yang direpresentasikan oleh Gunung Merapi. Relasi hidup manusia dalam tiga peran  itu selalu berhadap-hadapan dengan otoritas pemerintah dalam memperlakukan Gunung Merapi. Otoritas ini  diwujudkan dalam bentuk paramiliter yang diperankan tetap oleh Whanidarmawan dan kawan-kawan. Penggarapan jalinan ceritanya berhasil ditampilkan  mengaduk emosi penonton di keseluruhan cerita. Sebuah eksperimen sangat berani dalam menerabas  alur “pakem”. Memberikan pengalaman  pembebasan berimajinasi kepada penonton untuk menikmati alur film di luar kebiasaan.  Alur yang kaitannya  tidak bisa dinalar dengan jelas membawa emosi penonton pada wilayah perbatasan remang-remang yang menegangkan.

Film Monisme berhasil menjadi film eksperimental hybrid. Para juri Hanoman Award memujinya dalam hal keberaniannya mencangkokkan genre- genre dan bermacam jenis footage yg berbeda. Namun demikian, kepada penulis Riar mengatakan bahwa Monisme  bukanlah sebuah genre baru. Kenyataan jalinan cerita dalam film Monisme bisa mengaduk  emosi penonton, memang dikatakan oleh Riar bahwa menurutnya film itu bukan cuma cerita tapi juga perasaan dan pengalaman. “Jadi saya lebih fokus ke dua hal itu dibandingkan ceritanya”, begitu katanya melengkapi.

Film panjang eksperimental garapan Riar Rizaldi yang menghasilkan banyak apresiasi ini bisa menjadi sajian menarik karena memang diramu oleh Riar yang praktik artistiknya menurut ulasan dari Forum Film Dokumenter adalah banyak berfokus pada hubungan antara modal dan teknologi, tenaga kerja dan alam, pandangan dunia, genre sinema, dan potensi fiksi teoretis. Penggarapan pada cerita fiksi dan dokumenter dalam Monisme ini adalah hasil kepiawaian Riar dalam meramu dan menuangkan semua bidang artistiknya tersebut.

Ditilik dari filsafat “Monisme” menurut filsuf Belanda Baruch Spinoza dalam ulasan Morris tentang film Monisme, mengatakan bahwa dunia terdiri dari substansi yang tunggal, dan substansi itu adalalah Tuhan. Kecuali Tuhan seperti yang dituliskan di risalah Etik-nya Spinoza, tidak ada substansi lain atau sesuatu yg dapat dikandung.

Menarik filsafat ini dengan acuan adanya  singularitas sebagai pusat dari semuanya, maka film Monisme karya Riar bisa diparalelkan dengan ide Riar yang mengatakan  bahwa Monisme dibikin dengan konsep semua hal menjadi satu. Dalam artian dunia di  Monisme melebur tidak mengikuti logika film narasi fiksi ataupun dokumenter, di mana karakter itu jelas siapa pemerannya dan apa subyeknya. Dan yang utamanya kecuali Gunung Merapi sebagai peran utama, karakter itu bisa diperankan oleh siapa saja. Yang paling penting, setiap karakter ini merepresentasikan cara pikir mereka terhadap Gunung Merapi.

Pandangan  singularitas Riar dalam filmnya Monisme ini yang menjadikan Gunung Merapi sebagai pusat segalanya dari semua yang berhubungan dengan Gunung Merapi, sudah dinarasikan sejak awal cerita. ”Merapi bukan hanya sekedar bentuk fisik, konsep waktu dan peristiwa yg kita alami sehari-hari semuanya berdasarkan dari perhitungan kapan Merapi erupsi”.

Ditilik dari sisi konsep waktu dan peristiwa yang mengiringinya, Gunung Merapi yg merepresentasikan alam tempat hidup manusia selalu berhadapan dengan semua kepentingan manusia yg hidup di sekelilingnya. Perjalanan waktu telah membawa evolusi kehidupan manusia dari jaman pemburu pengumpul sejak 100-150 tahun yang lalu hingga mencapai abad digital di abad 21, telah menunjukkan bahwa manusia masih gagap dalam menyesuaikan diri dengan perubahan jaman. Mulai dari masa pertanian, revolusi industri, revolusi pengetahuan ilmiah hingga  mengalami kemajuan sains dan teknologi dalam bentuk revolusi kembar digital di bidang teknologi biologi dan teknologi informasi. Lompatan kognitif ini selalu membuat manusia masih gagap dalam menghadapinya sehubungan dengan memepertahankan keberlangsungan hidupnya di bumi. Hubungan manusia dengan alam telah mengalami perubahan drastis dimana manusia tidak lagi merawat ekosistemnya untuk menopang kehidupannya, tapi justru memperlakukan alam cenderung mengekploitasi. Otoritas pemerintah disini sebenarnya diperlukan berperan sebagai pihak stakeholder pengontrolnya, tetapi praktiknya di lapangan justru memprihatinkan. Kasus yang digambarkan oleh penambang dalam cerita di Monisme ini bisa berbicara tentang hal tersebut.

Hubungan manusia dengan alam telah mengalami perubahan drastis dimana manusia tidak lagi merawat ekosistemnya untuk menopang kehidupannya, tapi justru memperlakukan alam cenderung mengekploitasi. Otoritas pemerintah disini sebenarnya diperlukan berperan sebagai pihak stakeholder pengontrolnya, tetapi praktiknya di lapangan justru memprihatinkan. Kasus yang digambarkan oleh penambang dalam cerita di Monisme ini bisa berbicara tentang hal tersebut.

Kemajuan sains dan teknologi di bidang komunikasi dengan adanya Artificial Intelligent perlu diwaspadaidalam memperburuk keadaan di ranah hubungan antara manusia dan alam. Kecenderungan eksploitatif dalam memenuhi tuntutan kemajuan jaman yang selalu berkembang dan membutuhkan sumber daya alam yang besar bisa menjadi ironis. Karena  kemajuan yang pesat di bidang sains dan teknologi itu, justru menghadapkan  manusia pada pertanyaan tentang kelanjutan ekistensinya di alam yang menghidupinya ketika tidak lagi bisa menopang. Hal ini berhubungan dengan populasi di dunia yang menurut Divisi Populasi PBB sudah mencapai 8 miliar pada 15 November 2022. Disinilah perlunya memikirkan manajemen global dalam mencukupi kebutuhan semua manusia yang terus berkembang dengan segala kebutuhannya, sementara alam yng menopangnya adalah tetap dan terbatas.

Seperti yang dikatakan Morris  dalam ulasannya tentang film Monisme untuk FIDMarseille 2023, bahwa “..As the onset of Western rationalism and its imperial enterprise paved the way for a world neatly segmented into its material and spiritual constituents.Where God exists, He does so beyond the purview of the scientific method; where science thrives, similarly, folklore and intuition have little place.”

(Ketika serangan rasionalisme dan institusi bersifat imperialisme Barat sukses mengkotakkan  dunia menjadi komponen material dan spiritual, dimana Tuhan ada, maka Tuhan berada di luar ruang lingkup metode sains; dimana sains tumbuh subur, kondisinya mirip, folklore dan intuisi juga mendapatkan ruang yang sempit).

Monismenya Riar yang menampilkan kompleksitas masalah yang dialami oleh manusia  yang berkorelasi langsung dengan kondisi alam, membutuhkan kesadaran pada penggunaan kecerdasan emosi untuk meyeimbangkan pemikiran yang bersumber pada rasionalitas. Semua kemajuan manusia di bidang sains dan teknologi saat ini telah membawa manusia hidup lebih condong menggunakan kognitif dan  merasionalkan semua aspek kehidupan untuk kemajuan. Penyeimbangan pemikiran dengan kesadaran dalam mengelola hidup bersama dengan manusia lain secara luas, perlu diperhatikan sehubungnan dengan perlakuan manusia kepada alam dalam mencukupi kebutuhannya.

Dunia sains, menurut Karlina Supeli, menerapkan cara berpikir yang sistematis dan bertopang pada pernyataan-pernyataan yang bisa diuji kepada setiap orang yang mau belajar metodenya. Sains menghindari subyektifitas dan bekerja secara obyektif. Dalam film Monime keberadaan sains dihadapkan pada otoritas yang menindas dimana menyiratkan bahwa segala sesuatu yang terukur  belum bisa diterima sebagai cara  hidup dalam masyarakat. Di film Monisme ketika berbicara dari sudut pandang sains maka ditunjukkan cara kerja geolog yang berhubungan dengan metodologi dan alat pengukur seperti seismograf. Ini menyimbolkan  ciri kerja dari sains yang menerapkan metode dengan melakukan observasi data empiris secara obyektif dalam memecahkan masalah.

Sedangkan dari sisi sudut pandang spiritual, manusia yang mempraktekkan hidup mengandalkan intuisi dan keyakinan yang bergantung pada alam, saat ini juga mengalami persoalan ketika dunia berkembang pada ranah rasionalisme. Karena ketika sains yang tumbuh subur maka akan menhghasilkan hubungan yang tidak seimbang antara hidup yang bisa dirasionalisasi dan hidup yang berdasarkan keyakinan dan intuisi.

Menurut teori evolusi manusia yang mencapai seratus ribu sampai seratus limapuluh ribu tahun yang lalu, manusia sebagai species homo sapiens sudah beradaptasi dengan hidup bersama alam sejak masa pemburu pengumpul yang mengandalkan intuisi dan realitas subyektif manusia. Tidak menganggap  realitas obyektif benar dan salah menjadi faktor utama yang dipertimbangkan dalam mengambil tindakan.

Sisi spiritualisme  sebenernya bisa berhubungan dengan bentuk mitigasi bencana yang dimiliki oleh nenek moyang bangsa Indonesia, sebagai ilmu titen dalam bentuk meme. Metode yang digunakan sejak turun temurun dalam bentuk folklor yang bersifat takhayul bagi sains. Folklor dan ilmu titen memang  datanya bersifat kepercayaan atau praktek tentang hal ikhwal yang ada dalam khayalan. Jathilan dalam film Monisme adalah bentuk folklor yang digunakan sebagai representasi spiritual yang di sini digambarkan mendapat tekanan dari otoritas yang menguasai Gunung Merapi.

 Di kawasan Gunung Merapi pernah memiliki sosok Mbah Marijan yang melegenda dalam kesetiaannya mengabdi kepada Gunung Merapi. Mbah Maridjan adalah sosok spiritual yang hidupnya menjaga Gunung Merapi dari semua usaha manusia yang mencoba merusaknya. Mbah Maridjan dan para leluhur sebelumnya yang tinggal di kaki Gunung Merapi membuat sistem mitigasi bencana dalam menjaga Merapi dari pengrusakan manusia dengan menciptakan mitos adanya Eyang Merapi yang marah, dan perlunya memberi penghormatan kepada Merapi.

Mbah Maridjan juga berani menentang otoritas pemerintah terhadap Gunung Merapi ketika  wilayah Merapi dikeruk pasirnya dengan alat berat  atau begho (eskavator), yang baginya ini adalah bentuk eksploitasi terhadap alam Gunung Merapi secara berlebihan. Di tahun 2006, Mbah Maridjan sempat menghimbau kepada para Bupati Sleman, Magelang, Boyolali dan Klaten untuk mengusir bekho-bekho (ekskavator) yang mengeruk pasir Gunung Merapi dan mengatakan bahwa yang akan ikut datang adalah awan panas jika tidak mengusir bekho-bekho itu. Mbah Maridjan mengatakan bahwa Gunung Merapi tidak akan merusak manusia selama manusia tidak merusak sekitar Gunung Merapi. Menurutnya menggunakan alat berat bekho adalah sebagai pantangan karena bisa merusak Jogja.

Demikianlah cara Mbah Maridjan, tokoh spiritual yang mencoba berkontribusi untuk menjaga alam Gunung Merapi dari eksploitasi manusia yang setia mengabdi sampai akhir hayatnya di bawah guguran lava Merapi. “Merapi kuwi sumber banyu lan pangan” (Merapi itu sumber air dan sumber penghidupan), begitu kata mbah Maridjan kepada seorang wartawan yang mewawancarainya.

Di sisi lain Merapi pun bisa menjadi sumber bencana yg pernah menewaskan 353  termasuk Mbah Maridjan dan mengungsikan 320.090 jiwa ditahun 2010 dalam 100 tahun terakhir erupsinya. Bahkan menurut ilmu geologi, Gunung Merapi juga punya potensi bisa menjadi sumber kepunahan semua species dalam lingkup jangkauannya jika belajar dari letusan-letusan dahsyat dari gunung-gunung berapi lainnya di dunia yang pernah terjadi.

Sosok paramiliter yang ditampilkan di film Monisme adalah merepresentasikan semua otoritas yang menguasai Gunung Merapi dan selalu berbenturan dengan semua sisi dari tiga sudut pandang yang merepresentasikan hubungan manusia dengan alam tersebut. Cerita di Monisme adalah mempertontonkan narasi yang membebaskan penonton untuk mencerna dan menyikapinya sendiri.

Sisi menariknya dari film Monisme yaitu adanya pelibatan atau partisipasi masyarakat di sekitar Gunung Merapi untuk ikut serta dalam proses pembuatan filmnya. Bahkan skenarionya dan bentuk penulisannya dibuat bersama oleh masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Merapi. Terobosan mewadahi pendapat masyarakat dalam pembuatan film ini adalah sangat menarik dan menggembirakan. Data foto-foto dan CCTV  juga digunakan dari lokasi Gunung Merapi.

Di acara JAFF18 orang-orang atau masyarakat yang terlibat dalam pembuatan film Monisme yang tinggal di kaki Gunung Merapi juga diundang untuk merayakan kemenangan Golden Hanoman sebagai kemenangan bersama. Karena itulah film Monisme menurut penulis adalah bukan film biasa.

Apresiasi juri yg mengatakan bahwa Monisme adalah film yg menjanjikan dan dapat menyuarakan gagasan sinematik yang sangat menarik di ranah sinema kontemporer, mestinya menjadikan penyemangat dan pemantik kreativitas bagi para sineas Indonesia. Perlunya mengembangkan karya-karyanya dan melakukan terobosan- terobosan melalui karya film dalam memperkuat ekosistem perfilman Indonesia.  Mengingat film bisa digunakan sebagai media perjuangan di bidang kebudayaan dalam memperkenalkan budaya indonesia di dunia.






Pendukung film Monisme

Sutradara: Riar Rizaldi

Kru & Pemain

Perusahaan Produksi: New Pessimism Studio

Producer: B.M Anggana

Main Cast: Rendra Bagus Pamungkas, Kidung Paramadita, Whani Darmawan, Puthut Juritno, Yulianto, Suparno

Naskah Skenario: Orang-orang yang hidup di di bawah kaki Gunung Merapi

Sinematografer: Aditya Krisnawan

Editor: Riar Rizaldi

Pencapaian Penting : Bakat Asia Baru- Sutradara Terbaik|Shanghai Festival Film

Kontak: rizaldiriar@gmail.com

Lama tayang 115 menit|2023|Indonesia, Qatar|Eksperimental|Indonesia, Jawa| Inggris Terjemahan|21+

Negara produksi: Indonesia, Qatar

Diputar di Jaff18 tgl 1 Desember 2023, bioskop Empire,dan gedung ex Bioskop Permata, 6 Desember 2023,



Referensi:

Athallah,Tuffahati. 6 Desember 2023. Seluruh yang Utuh dalam Rekam Nafas Merapi. Diakses 12 Februari 2024 dari https://ffd.or.id>Berita

Bonivasios,Dwi, Tirza Kanya, Vanis. Monisme(2023):Riuh Kisah Magis Yang Tak Gaduh. 2023. FFD|Monisme. Diakses 10 Feb 2024 dari https://ffd.or.id > Film

Guruji,DS Contributor Team. 2024. What is the Difference Between Documentary and Feature Film. Diakses pada 13 Januari 2024 dari disguruji.com

Jendela Ilmu.Darimana Asalnya Otak Spiritual bersama Ryu Hasan dan Abu Marlo.You Tube Video, 1:16:00. 7 Mei 2021. Dari www.youtube.com

Kisah Mbah Maridjan dan 4 Kata Pantangan. 2006.Diakses 9 Februari 2024 dari https://news.detik.com>berita

KPG Book Publisher. Kenali Ragam Akalbudi bersama Ryu Hasan dan Nirwan Ahmad Arsuka|Buka Buku KPG.You Tube Video, 1:59:35. 22 Oktober 2020. Dari  www.youtube.com

Kuliah Umum. Dr. Karlina Supeli: Kuliah Umum Filsafat dari Masyarakat Takhayul, Hingga Matinya Kepakaran. You Tube Video, 1:06:09. 6 Agustus 2021. Dari www.youtube.com

Kumparan.2023. Film Monisme Karya Riar Rizaldi Tayang di SGIFF 2023. Diakses 12 Februari 2024 dari https://m.kumparan.com>kumparanhits

Monisme-18th JAFF|Jogja Netpac Asian Film Festival 2023. Diakses 12 Februari 2024 dari https://jaff.filmfest.org>monisme

Sugianto. 2022.Alasan Mbah Marijan Tidak Mengungsi Saat Gunung Merapi Meletus, Begini Kisahnya. Diakses 10 Februari 2024 dari https://bondowoso.jatimnetwork.com

Trisnanti, Septi Dian. 04/12/ 2023. Monisme Film Terbaik Jogja-Netpac Asian Film Festival 2023. Diakses pada  10  Januari 2024 dari https://infoscreening.co>monisme

Yam, Morris.2023.Film- Monisme- Riar Rizaldi{FIDMARSEILLE’23 Review. Diakses pada 9 Februari 2024 dari https://Inreviewonline.com>monisme

(Tentang Cucu dari Santri Syaikhona Muhammad Kholil al-Bankalany)

Sinopsis:

Meeting people who move at the bottom of society, as well as capturing the pulse of society. Meeting people, by chance, gaining wisdom and experience. Yusron Aminulloh, one of Emha Ainun Nadjib’s younger brothers, embarks on a journey amidst the current of change in society. “When you are in trouble, go to someone who is in more trouble. If you are having financial difficulties, give the rest of your money to people who need it. “If you want to be calm, accompany the little ones, visit the sick, attend funerals,” were among the testaments of Muhammad, his late father. It turns out that the emotional relationship between Yusron and Gus Dur is tied to one scientific link: both of his grandfathers were students of Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Lathif al-Bangkaly.

(Menjumpai orang-orang yang bergerak di masyarakat bawah, sekaligus menangkap denyut nadi keumatan. Bertemu orang-orang, secara kebetulan, menangkap hikmah-hikmah dan pengalaman. Yusron Aminulloh, salah seorang di antara adik dari Emha Ainun Nadjib, menapaki perjalanan di tengah arus perubahan di masyarakat. “Bila kau susah, datangi orang yang lebih susah. Bila kau sedang sulit ekonomi, kasih sisa uangmu pada orang yang membutuhkan. Bila bantinmu ingin tenang, temani orang kecil, jenguk orang sakit, ikuti pemakaman”, di antara wasiat Muhammad, almarhum ayahandanya. Relasi emosional Yusron dan Gus Dur, ternyata terikat dalam satu sanad keilmuan: kedua kakeknya adalah santri dari Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Lathif al-Bangkaly.)

BISAKAH kita bayangkan bila tidak ada kopi? Tentu hidup tetap berjalan normal, tapi kurang asyik. Kurang membahagiakan. Kurang mengakrabkan pergaulan.

Kopi,  betapa pun, adalah satu di antara minuman yang menjadi bagian penting dalam keluarga kami. Ibu saya, misalnya, dalam sehari mesti menghabiskan secangkir kopi. Belum lagi ayah saya yang petani penggarap, sebelum berangkat ke sawah harus menyeruput kopi, meskipun secangkir tak habis dalam sekali duduk.

Begitu pentingnya kopi menjadi pengiring dalam setiap pertemuan, santai maupun pertemuan serius. Bagi orang-orang santri, kopi menjadi bagian penting membangun intimitas dalam pergaulan. Bahkan, ada anjuran saat menyeduh kopi untuk berkirim Al-Fatihah kepada ‘sahibul qahwa’, Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili, pendiri Tarekat Syadziliyah. Baru setelah itu, kopi disajikan dan siap diminum.

Dalam duduk seraya menyeruput kopi itulah, saya membayangkan kembali pertemuan awal ketika Yusron Aminulloh datang bersama Bambang Sujiyono (almarhum, pendiri Bengkel Muda Surabaya) di sanggar di kompleks Balai Pemuda.  Di kompleks gedung yang — pada zaman Hindia Belanda terpampang papan bertuliskan ‘Verboden voor honden en inlander’ (Anjing dan pribumi dilarang masuk) — menjadi tempat mangkal para seniman, aktivis dan intelektual, terdapat gedung yang bersebelahan dengan gedung utama.

Sanggar itu dinaungi seonggok pohon nangka yang cukup besar menjadikan rindang dalam suasana siang. Di samping kiri gedung menghadap ke timur itu, terdapat Masjid As-Sakinah, kantin dan gedung galeri Dewan Kesenian Surabaya, serta Lokaseni — pada akhirnya, seluruh gedung tersebut harus digusur untuk pembangunan Gedung DPRD Kota Surabaya. Saat itu, gedung utama Balai Pemuda masih menjadi aktivitas pameran barang-barang kelontong yang, karena konsep inilah kerap bersitegang dengan para seniman karena fungsi gedung bersejarah itu semata-mata untuk kepentingan bisnis dan perolehan untuk mempertebal PAD (Pendapatan Asli Daerah).

Di tengah gemuruh pameran seni dan pameran barang-barang kelontong, saya menyaksikan orang-orang sepi yang terus bekerja memeras otak dan keringatnya untuk memahami perubahan-perubahan di tengah masyarakat. Perubahan secara fisikal, kami menyaksikan bersama digusurnya gedung-gedung di kompleks Balai Pemuda, pada pertengahan 1990-an dan kemudian berdiri gedung lembaga wakil rakyat yang tak lagi ramah. Para seniman dan bersama para penjual kopi dan mie goreng di trotoar, harus hilang dari lokasi itu. Trotoar harus bebas dan menjadikan suasana kering tanpa diskusi orang-orang sepi, para seniman dan intelektual trotoar itu, yang saat itu begitu kritis terhadap suasana tirani di bawah kaki kekuasaan Soeharto. Kekrititan menggemuruh sebagai bagian dari kegelisahan intelektual orang-orang terpelajar, yang dieskpresikan lewat karya seni, baik pemanggungan sastra, teater dan musik. Juga tari, yang tumbuh subuh kreativitas di kawasan yang kini disebut alun-alun kota itu.

Pengenalan saya dengan Yusron Aminulloh, tak lepas dari isu yang berkembang saat itu soal bantuan gedung kesenian dari Ny Toety Aziz dari Surabaya Post, yang disampaikan kepada Wali Kota Surabaya, Sunarto Sumoprawiro. Dus, sebelum benar-benar berdiri gedung legislatif Surabaya, beredar informasi soal bantuan senilai Rp.1 Miliar dari tokoh pers yang juga pendiri suratkabar lengedaris itu. Sayangnya, kemudian terjadi masalah sehingga tidak bisa diwujudkan gedung kesenian yang menjadi harapan para seniman dan orang-orang sepi yang menggemuruh bersikap kritis pada masa itu.

Perubahan dari Diri Sendiri

Berkarib dengan Yusron Aminulloh saya kemudian tersadarkan akan makna perubahan dan pembaruan. Istilah terakhir ini dapat dipandang sebagai manisfestasi dari perubahan. Perubahan selalu mengalir tanpa henti. Ia memunculkan semacam adagium: “yang tetap adalah perubahan itu sediri” atau istilah Goenawan Mohamad, “perubahan adalah kekal”. Seperti waktu, perubahan selalu bergerak tanpa dapat dibendung oleh apa dan siapa pun. Begitulah, Yusron Aminulloh mencoba memaknai perubahan pada dirinya sendiri.

Intelektual Muslim, Mālik bin Nabi memberi gambaran: Waktu adalah sungai purba yang mengalir di dunia sejak azali. Ia mengalir di kota-kota dan menghidupkan aktivitasnya dengan energinya yang abadi, atau membuatnya tidur pulas dininabobokkan oleh senandung waktu yang lenyap entah kemana. Ia juga membanjiri setiap jengkal bumi semua bangsa, dan memasuki setiap bidang individu, dengan arus waktunya sehari-hari yang tak mungkin bisa dihentikan. Sekali ia melahirkan revolusi dan kali lain mengubahnya dengan ketiadaan. Waktu menyelusup di sela-sela kehidupan dan menyebarkan nilai-nilai di dalam apabila di situ muncul suatu kerja.

Keelokan konsep ini, kerja dimaknai dalam suatu masa atau membarengi waktu. Kerja adalah merupakan kata kunci dari perubahan. Dan dalam tataran lebih lanjut, perubahan (dalam arti positif atau dalam istilah Yusron Aminulloh, menyerap “energi positif”) merupakan salah satu kata kunci dari pembaruan, termasuk tentunya dalam kawasan pendidikan Islam dalam arti yang paling umum. Kesadaran semacam itu pulalah nampaknya yang lebih lanjut memberi inspirasi bagi upaya memungut kembali potensi ideologis yang terpendam dalam diri Islam yang digunakan sebagai tenaga penggerak bagi gagasan revivalisasi Islam sejak awal.

Dalam tegukan kopi pahit, saya teringat figur cerdas yang menghiasi jagat intelektual Indonesia pada tahun 1990: Marwah Daud Ibrahim. Meskipun ia termasuk bidan lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) pada awal Desember pada tahun itu, ia tampil sederhana dengan rambut yang terurai wajar — tanpa kerudung atau jilbab. Tapi, Yusron Aminulloh berhasil menghadirkan pandangan-pandangan yang cukup mengejutkan: Bukan emansipasi wanita yang betul emansipasi manusia. Ia berkisah soal proses sejarah, banyak peluang untuk belajar, berpendidikan baik sehingga ia yakin kondisi ideal akan hadir mengikutinya. Perempuan bisa maju tanpa harus titik balik bagi kemunduran laki-laki. Titik perimbangan yang harus dikembangkan.

Kita tersadarkan soal Revolusi Informasi yang terus berlangsung. Perempuan yang tak berkesempatan keluar rumah pun bisa mendapatkan informasi ke ruang-ruang rumah, melalui televisi maupun media cetak lainnya — kini mengalami senjakala. Bila kemudian terdapat informasi soal perempuan menjadi Perdana Menteri, seperti Margareth Thatcher di Inggris, Corazon Aquino yang menjadi Presiden Filipina, tentu akan menginspirasi perempuan Indonesia yang mengambil peluang-peluang dalam meraih pendidikan. Investasi masa depan inilah yang mengiringi kesadaran bagi setiap orang, tanpa harus melihat perempuan atau lelaki.

Yusron akhirnya mempunyai kedekatan emosional dengan Marwah Daud Ibrahim. Saat Marwah menjadi presidium di ICMI, Yusron pun aktif di organisasi para pemikir yang selalu gelisah soal perubahan itu. Demikian pula ketika sejarah bergulir dan reformasi mencapai titik baliknya, Marwah Daud Ibrahim mengambil kesempatan untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden. Ia termasuk politikus yang galak ketika B.J. Habibie, saat menjadi presiden, ditolak pertanggungjawabannya di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), saat ketika Abdurrahman Wahid tampil menjadi presiden pada 1999.

Seruputan kopi dan Gus Dur

Dalam seruputan kopi, saya pun teringat ketika Yusron Aminulloh mempunyai kedekatan dengan KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.  Ketika Gus Dur terborgol Emha Ainun Nadjib, kakak kandung Yusron, mendambakan cucu Kiai Hasyim Asy’ari dari Tebuireng itu, menjadi lembaga sejarah yang objektivitas, ketegasan, dan kewibawaannya mengatasi hierarki budaya kekuasaan. Tokoh yang tak lagi sekadar pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) melainkan pemimpin bangsa Indonesia. Gus Dur membuka telinga-telinga raksasa yang telah lama tuli dan mata kekuasaan yang membuta. Gus Dur dengan jiwa besar, berada tidak di bawah siapa pun dan apa pun kecuali Allah Ta’ala yang diwiridkannya setiap saat.

Gus Dur membuka telinga-telinga raksasa yang telah lama tuli dan mata kekuasaan yang membuta. Gus Dur dengan jiwa besar, berada tidak di bawah siapa pun dan apa pun kecuali Allah Ta’ala yang diwiridkannya setiap saat.

Dalam seruputan kopi, saya teringat ketika Yusron berdialog dengan seorang kiai yang tak terkenal tapi mempunyai penglihatan batin (basyirah) menjangkau yang tak tanpak di mata orang awam.

Demikian konflik selalu beriringan dengan sejarah NU, organisasi yang pernah dipimpin Gus Dur.  Konflik di tengah masyarakat selalu sulit dipahami kaum awam. Rakyat jelata kerap tergagap-gagap karena peliknya masalah di kalangan suatu elite masyarakat.

Seorang guru ngaji di suatu desa memberi gambaran dengan mudah: antara kintir dan ngintir. K(Ng)intir. Seseorang yang kintir berarti sudah tak lagi mampu mengendalikan diri. Arus sungai yang deras menyeretnya ke mana-mana tanpa sedikit pun bisa ditawar. Bila sudah kintir kekuatan seseorang akan pupus dengan sendirinya. Ia tak lebih hanya menjadi bagian dari setitik air di tengah derasnya sungai. Ia tak bisa menolak ketika digiring arus untuk ke kanan dan ke kiri. Ia tak mampu lagi melihat apakah ke kanan yang baik atau ke kiri yang baik. Ia dikendalikan sebebas yang mengendalikan.

Bila orang kintir tak lagi mempunyai kesadaran diri, maka orang yang ngintir mempunyai kesadaran yang teguh, bahwa ia sengaja ngintir. Artinya, ia masih bisa melihat apa yang ada di depannya. Ketika ada batu besar di depannya, ia masih bisa menghindar. Ia bisa memilih arah dan membedakan kapan arus air itu menyesatkan dan kapan tidak. Kesadaran semacam ini, saya kira, tak hanya dimiliki oleh Gus Dur, tapi juga pemimpin NU sebelumnya, seperti KH Idham Chalid, almaghfurlah. Ia menyadari berada di tengah arus, tapi tidak larut dalam derasnya arus.

Saya sempat terkejut ketika Yusron mengupayakan pertemuan karya seni rupa Amang Rahman dan D. Zawawi Imron, di sebuah hotel di Surabaya. Dalam pameran itu, dibuka Presiden Abdurrahman Wahid. Anekdot pun muncul, seorang presiden yang tak normal penglihatannya membuka pameran seni rupa.

Yusron Aminulloh mempunyai apresiasi bagi Gus Dur dan NU. Saya kira, karena relasi emosional karena kedua kakek, Yusron dan Gus Dur, mengambil berkah dari sumber ilmu yang sama: Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Lathif al-Bangkalany.  Kakek Gus Dur, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan kakek Yusron Aminulloh & Emha Ainun Nadjib, KH Ahmad Zahid, sama-sama berguru pada Sang Guru Ulama Pesantren di Jawa itu.  

Pada gemuruhnya Muktamar ke-33 NU di Jombang, 1-5 Agustus 2015, saya sempat terkejut dengan dihadirkannya ratusan koleksi foto Gus Dur yang dipamerkan atas keringat Yusron Aminulloh. Pameran foto yang diikuti beberapa wartawan istana negara di era Gus Dur berkuasa. Mereka menampilkan koleksi terbaik dari foto Gus Dur dan belum pernah dipulikasikan. Mereka adalah Agus Wahyudi dari Jawa Pos, Dodok HW Harian Surya, Mukhtar Zakaria dari AP, Agus Mulyawan dari Media Indonesia, Dadang Tri Mulyo dari Blomberg, Trisnadi AP, dan Iwan Hananto Surabaya Post. Dari foto-foto itu, terliha jelas ekpresi kepedulian sosial, ketegasan, kewibawaan dan egaliter yang selalu melekat dari sosok Gus Dur di Rumah Budaya Menebar Energi Positif (MEP) Jl. Agus Salim No.09 Jombang selama lima hari, yakni tanggal 1-5 Agustus mulai pukul 10.00- hingga 22.00 WIB.

Saya pun teringat ketika, atas undangan Yusron, berkunjung ke tempat ini bersama mas Wiek Herwiyatmo (almarhum), berdiskusi tentang kerja kreativitas dan perkembangan budaya pada 20 Juli 2014. Saya teringat, sambil menunggu keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Juli, kami ngobrol soal “harga anak masuk sekolah”, perguruan tinggi yang mematok mahasiswa baru (sulit terjangkau dengan kemampuan ekonomi orangtua yang terbatas) dengan puluhan juta rupiah, bahkan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, bukankah harapan kita terletak pada masa depan anak-anak kita? Mungkinkah presiden yang baru mengubah kebijakan dari “pendidikan berorientasi bisnis” menjadi “pelayan warga”? Ya, saat itu saya tengah berada di tengah gemuruh orang-orang sepi, yang terus beraharap adanya perubahan. Harapan dan kenyataan tak selalu sepadan, ternyata.

Menyeruput kopi, saya teringat ketika ngobrol-ngobrol di suatu rumah di kawasan YKP Surabaya. Ada Didit Gatut Kusumo, Saiful Hadjar, Mardi Luhung (dua nama terakhir Penyair), Farid Syamlan (dramawan), Wisjnubroto Herputranto (aktivis social), tentang pelbagai soal kehidupan. Mereka adalah orang-orang sepi yang selalu menggemuruh kegelisahan intelektual mendambakan perubahan.

Bersama Yusron, saya pun berdikusi dengan Prof. Daniel M. Rosyid — guru besar kelautan ITS yang lebih dikenal sebagai pakar pendidikan — tentang menjadikan masa pensiun sebagai posisi emas. Ya, tempatnya pun di Balai Pemuda, ketika itu setelah Jumatan, 27 Desember 2013. Kami sama-sama prihatin, banyak tokoh Indonesia, setelah pensiun dalam kondisi tidak bermartabat dan tersandung masalah hukum. Nama dan reputasinya yang dibangun puluhan tahun, hancur karena harus diseret Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan berakhir di penjara. Bersama terbitan bukunya, Yusron mengingatkan pentingnya keseimbangan hidup, agar hidup di masa tua tetap terhormat, dan jadikan masa pensiun sebagai posisi emas.

Saya bertugas membagi alur pembicaraan dala diskusi itu, selain Prof Dr Daniel Rosyid, ada Wiek Herwiyatmo, yang sepakat mengajak untuk memegang prinsip, tidak ada pensiun bagi pejuang hidup. Yusron memajukan paradigma, bahwa konsep persiapan pensiun jangan hanya menjelang pensiun, namun jauh hari sebelumnya. Untuk itu perlu ditata hati, pikiran setiap orang. Bagi Daniel Rosyid, sebelum pensiun, 10 tahun lalu, telah mempersiapkan diri. Demikian hendaknya siapa pun sudah harus mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelumnya.

Kami sama-sama prihatin, banyak tokoh Indonesia, setelah pensiun dalam kondisi tidak bermartabat dan tersandung masalah hukum. Nama dan reputasinya yang dibangun puluhan tahun, hancur karena harus diseret Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan berakhir di penjara.

Orang pensiun di Indonesia hanya sekitar 5 juta setiap tahunnya. Maka, persoalannya orang pensiun itu beban atau potensi. Bahkan orang yang memasuki pensiun itu bisa dua perspektif. Sebuah berkah, atau malah bencana.  Dari buku Yusron memberikan frame berbeda kepada calon pensiunan. Agar mereka siapkan diri tidak hanya planning usaha pascapensiun, namun yang lebih penting adalah kesiapan mental, hati dan keberanian. Bahkan, orang perlu berfikir untuk menjadikan masa pensiun sebagai posisi bagus, baik untuk konteks keluarga maupun personal kaitanya dengan kedekatan dirinya terhadap Sang Pencipta.

Wiek dan Kopi

Dalam seruputan kopi bersama Yusron Aminulloh, saya teringat mas Wiek Herwiyatmo. Ia mempunyai kedekatan dengan elite sosialis di Surabaya, Gatut Kusumo dan Kadaruslan. Seseorang yang merasa dirinya sebagai bagian masyarakat terpelajar, tentu mengenalnya. Paling tidak, mengenal namanya.

Sebagai aktivis mahasiswa, Wiek Herwiyatmo (lahir Lumajang, 18 Desember 1946 meninggal dunia 2017). Kisah-kisah yang saya dengar bersama Yusron, ia pernah duduk di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga pada 1968 merasa penasaran dengan sosok yang akrab dipanggil Papa itu. Maka, pertemuannya di tempat tinggal Gatut Kusumo di bilangan Jalan W.R. Supratman Surabaya, telah mengantarkannya pada pergaulan dan pergumulan serius dalam menenggelamkan dirinya di tengah persoalan masyarakatnya.

Ia sempat (seolah dites) ketika diajak dialog soal permasalah aktual masyarakat saat itu. Watak kritisnya pada rezim Sukarno dan rezim Soeharto, mencerminkan sikap seorang intelektual yang khas. Begitu, Wiek Herwiyatmo terhadap sang mentor. Di sinilah, ia kerap bertemu dengan sejumlah nama yang sama-sama bergaul di seputaran tokoh Gatut Kusumo. Seperti: Wisjnubroto, Anto Prijatno, Tomy Pakasi, Ferry Suharianto (Cak Pei), Soesilo, Dwijo Sukatmo, Kadaruslan (Cak Kadar). Dari kalangan pers, muncul pula kemudian sosok nama Agil Haji Ali, yang cukup intens bergaul dengan mereka. Mereka itu pula yang kemudian kami kenal.

Dalam pergaulan di sini, dan serangkaian diskusi sambil menyeruput kopi, sesekali kami menyinggung karya pemikiran Gatut Kusumo, di antara pergulatan dan pengalamannya tertuang dalam karyanya, Pita Merah di Lengan Kiri.

Roman itu, Pita Merah di Lengan Kiri, secara jelas memang  lahir berdasarkan pengalaman pengarangnya sendiri, terbit ketika usia 53 tahun.  Ia turut dalam perjuangan bersenjata di dalam dan di sekitar kota. Kalau kita perkirakan selesainya naskah roman sebentar sebelum terbitnya pada tahun ini, maka cukup lama waktu yang dibutuhkan Gatut untuk menulis karyanya.

Tapi justru jarak waktu itu telah memberinya kesempatan mengendapkan pengalaman-pengalamannya. Dengan demikian ia telah sanggup melihat kembali segala sesuatu secara jernih dan lurus –dengan menempatkan kejadian-kejadian pada proporsi yang sebenarnya. Akibatnya, dalam roman ini tidak ada sikap yang menonjolkan kepahlawanan atau semangat perjuangan yang meluap-luap yang bisa membengkokkan gambaran tentang kenyataan yang ada.

Ceritanya pun sederhana: mengenai pelajar-pelajar sekolah menengah yang bergabung pada Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Dengan sukarela mereka melibatkan diri dalam perang gerilya.

Memang, peristiwa di  zaman perjuangan kemerdekaan sudah merupakan sejarah. Penelitian sejarah akan memilih dan mencatat kejadian penting pada masa itu, yang menentukan perkembangan manusia di negeri kita. Pokok perhatian ahli sejarah adalah garis besar perkembangan itu. Sebaliknya, kesusastraan lebih banyak tertarik pada titik-titik yang memungkinkan adanya garis-garis besar itu — yang dalam roman berupa individu-individu yang terlibat dalam kejadian sejarah. Bersama dengan pencatatan sejarah, kesusastraan dapat mengikuti kenyataan secara teliti dan objektif. Ketika mengikuti kejadian, ahli sejarah dituntun oleh tafsirannya tentang sejarah. Sedang pengarang dituntun oleh tafsirannya apakah itu sastra.

Dalam penulisan roman atau cerita pendek, pengarang bisa memperlakukan kejadian-kejadian sebagai bahan belaka untuk menyokong kebenaran wawasan sejarahnya. Atau, ia dapat menurut saja kepada kehendak tokoh ceritanya yang menentukan perkembangan sejarah. Subagio Sastrowardoyo menyebut karya Idrus, sebagai contoh jenis pertama.  Sedang yang kedua kita lihat pada Pita Merah di Lengan Kiri karangan Gatut Kusumo. Kedua buah karya sastra itu mengambil lokasi dan waktu yang boleh dikata sama. Yakni, di Surabaya dan sekitarnya pada saat pasukan Inggris dan kemudian Belanda menyerbu dan menduduki kota pada permulaan revolusi.

Lepas dari karya Gatut Kusumo, kami mengenal Wiek Herwiyatmo, sebagai bagian dari figur “orang-orang pergerakan” itu terus berjalan seiring perkembangan dan denyut nadi masyarakat. Pembelaannya terhadap orang-orang kalah dan dikalahkan di masa kekuasaan tiran Soeharto, dibuktikan dengan aktivitasnya dalam kegiatan sosial: mendiskusikan permasalah, mencari titik temu penyelesaiannya, hingga melakukan advokasi terhadap mereka yang tertindas secara sosial itu.

Juga pembelaannya terhadap kondisi sosial, baik ketika terjadi pembunuhan misterius (Petrus) pada 1980an dan korban-korban dukun santet, empatinya terhadap nilai-nilai hakiki kemanusiaan pun tergugah. Perkenalannya dengan kalangan jurnalis, seperti Peter A. Rohi, Choirul Anam, Yunani Prawiranegara, Gerson Poyk, Aco Manafe, makin membangun pergumulan dan pergaulan luas, dalam menyatakan kegelisahannya terhadap persoalan kemasyarakat dan kemanusiaan.

Surabaya, sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur, menjadi titik sentral perhatian mereka, dalam memahami watak dan perkembangan kota. Di tangan orang-orang “seputaran Gatut Kusumo”,  Surabaya setiap tahun menghadirkan Festival Seni Surabaya, dirayakan sejak 1996. Di ruang publik  itu, merupakan tradisi yang telah dirintis para orang-orang yang peduli terhadap terbukanya ruang-ruang ekspresi kesenian secara terbuka. Penjelahan dalam berkesenian, memperoleh penghargaan yang tinggi, sebagaimana kita memahami nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki: sebuah apresiasi dan keanggunan menawarkan ide-ide imajinatif.

Di tangan orang-orang “seputaran Gatut Kusumo”,  Surabaya setiap tahun menghadirkan Festival Seni Surabaya, dirayakan sejak 1996. Di ruang publik  itu, merupakan tradisi yang telah dirintis para orang-orang yang peduli terhadap terbukanya ruang-ruang ekspresi kesenian secara terbuka.

Festival Seni Surabaya, pernah dianggap sebagai tradisi digelar setiap tahun, memungkinkan kota ini berkembang dengan torehan kreativitas yang ajek, yang diadakan atas dana kepedulian masyarakat — bukan pemerintah semata. Memang, beberapa tahun kemudian, kita mengenal Pekan Kesenian Bali (PKB), Festival Kesenian Yogya (FKY), namun kontinyuitasnya bermasalah, bahkan ada yang terhenti sama sekali.

Kota Surabaya berusia 700 tahun ketika awal keterlibatan seniman dan kalangan intelektual, seperti Kadaruslan, Wiek Herwiyatmo, Wisjnubroto, Peter A. Rohi, Arif Rofiq, Achmad Fauzi,  menggelar perhelatan yang menjadi cikal-bakal Festival Seni Surabaya (FSS). Perhelatan itu, Pekan Seni Surabaya (PSS) 700, yang pembukannya dilakukan olehWalikota Surabaya, dr. H. Poernomo Kasidi pada 31 Mei 1993 di kompleks Balai Pemuda. Ketika itu, jejak kerajaan terbesar di Nusantara, Kerajaan Majapahit, tepat pula genap 700 tahun. Saat itu, perhelatan tersebut mampu menyatukan dua kelompok di Surabaya, antara Akademi Seni Rupa Surabaya  (Aksera, yakni orang-orang di seputaran Gatut Kusumo) dan aktivis kesenian Bengkel Muda Surabaya (BMS).

Sastra dan Ibunda. Dalam studi sastra, terdapat pernyataan bahwa manusia, di samping menjadi homo sapiens, homo faber, homo loquens, juga homo fabulans (makhluk bercerita atau makhluk bersastra). Di pangkuan ibu manusia sudah menjadi manusia bersastra.

Spontan saya pun teringat Yusron Aminulloh dan keluarganya. Mereka hidup dan dibesarkan oleh ibundanya, menyusul wafatnya sang ayah di waktu mereka masih kanak. Secangkir kopi yang saya seruput, yang tersisa adalah ampasnya. Tapi, saya membayangkan seorang ibu sedang “bersastra” ketika anak-anak dalam pangkuan ibu dengan syair ini:

Keplok ami-ami

Walang kupu-kupu

Awan maem roti

Bengi mimik susu

Artinya:

Bertepuk telapak tangan

Belalang kupu-kupu

Silang makan roti

Malam minum susu

Ternyata, berkait dengan ibu, saya belajar dari sikap Yusron. Ia begitu menghormati perempuan yang pernah melahirkannya. Menghormati sepenuh jiwanya, yang kini sang ibunda telah menghadap ke Rahmatullah. Memperingati hari kelahiran, saya kira, sekaligus merayakan kehadiran ibunda yang telah melahirkan.

Saya belajar dari Yusron Aminulloh, tentang ibunda. Kehadiran ibunda yang menjadi tenaga sebelum langkah mengawali perubahan. Lewat doa-doa ibunda, restu ibunda, langkah itu memperoleh jalan mudah. Salah satu lokasi di Wonosalam, Jombang, DeDurian, dibangun atas jernih payahnya, tak lepas dari eksistensi perempuan itu. Eksistensi yang selalu hadir, dalam wirid dan doa yang mengiringi denyut nadi kita, sebelum mengambil sikap dan langkah ke arah perubahan.

Yusron Aminulloh adalah laku perubahan itu.

Sambil merasakan sisa-sisa kopi pahit, saya mengingatnya. Mengingat sedikit pengalaman pernah bersentuhan dengan perjalanan hidupnya, meski dari kejauhan. Salamku, ya bos!

Surabaya, 13 Desember 2023.

Seorang ilmuwan ahli vulkanologi datang untuk mempelajari aktivitas Gunung merapi. Ia dengan sungguh mencari tahu apakah mungkin, Gunung Merapi bisa menjadi titik akhir kehidupan manusia, layaknya Gunung Toba. Lalu seorang seniman perempuan pembuat Film mencari tahu bagaimana eksploitasi lingkungan berjalan dengan tambang pasir yang menjadi tumpuan hidup warga di sana. Kehidupan di sekitar merapi terus bergulir, kepercayaan ruhani masyarakat atas berbagai mitologi yang terus membayangi mereka juga terus hidup dan dihidupi. Begitulah film monisme akhirnya hadir dan tayang perdana di Jogja Asian Film Festival JAFF (2/12), Yogyakarta, setelah hampir setahun film garapan Riar Rizaldi ini menyambangi berbagai festival film internasional di berbagai negara.

Film Monisme diawali dari adegan pembantaian seorang manusia yang diseret ke tengah hutan dengan tali menjerat leher dengan kepala tertutup oleh para preman. Mereka para preman, dengan nada kasar agak senonoh dan penuh intimidasi itu lalu menggantungkan tali yang mengikat leher korban ke dahan pohon besar. Tanpa pikir panjang bos dari preman yang tampak tidak sabar, melayangkan batu besar dengan brutal ke kepala korban. Dan nyawa korban itu akhirnya melayang.

Gambar guguran lava Gunung Merapi tampak begitu dekat membawa penonton ke adegan selanjutnya. Teknik pengambilan gambar yang cukup untuk memotret gunung yang mempunyai ketinggian 2,910 itu, membuat penonton hanyut di dalamnya. Tampaknya Riar Rizaldi ingin membawa penonton pada eksperiens visual stratovolcano disertai audio yang dibuat mencekam lagi menggelegar. Entah kenapa, pada saat itu saya hanyut pada visual dan audio Merapi yang dipertontonkan, saya kemudian teringat pada letusan Merapi pada tahun 2010 yang mencekam itu. Waktu itu saya belum terlalu dewasa, tetapi melalui sepenggal adegan awal film ini saya jadi merasakan bagaimana kedigdayaan Merapi saat meluluhlantakkan Yogyakarta dan sekitarnya.

Film feature panjang yang disutradarai oleh Riar Rizaldi dengan produser BM Anggana ini memang menjadi debut pertama mereka berdua. Dengan bentuk film eksperimental, Riar mencoba menggabungkan gagasan antara film dokumenter dengan fiksi dan fiksi yang dokumenter. Sehingga komposisi fakta yang digali dari pengalaman subyek masyarakat sekitar ditambah dengan upaya observasi yang mendalam, dijadikan Riar sebagai bangunan cerita dalam film ini. Dari hal itulah kemudian fiksi terbentuk merangkai cerita antara aktualitas dengan mitos dan legenda sebagai ruh film ini. Bentuk film yang cukup eksploratif tersebut, akhirnya membawa film ini menyabet beberapa penghargaan di beberapa festival film internasional. Pada gelaran JAFF sendiri film ini membawa pulang Golden Hanoman penghargaan tertinggi di ajang tersebut.

Bentuk film yang cukup eksploratif tersebut, akhirnya membawa film ini menyabet beberapa penghargaan di beberapa festival film internasional. Pada gelaran JAFF sendiri film ini membawa pulang Golden Hanoman penghargaan tertinggi di ajang tersebut.

Kemudian cerita berlanjut. Seorang ilmuwan ahli vulkanologi (Rendra Bagus Pamungkas) ditemani asistennya (Kidung Paramadita) bercengkrama memandang Merapi dari sudut yang jauh. Sang ilmuwan tampaknya mempunyai obsesi yang tinggi tentang hukum rasionalitas, bagaimana materi dengan segala partikel yang membentuknya menciptakan kehidupan. Percakapannya mendalam, mereka berupaya memecahkan satu pertanyaan besar tentang Gunung Merapi sebagai sumber kehidupan atau sember punahnya peradaban.

Sang vulkanolog terus mencari tahu, bagaimana relasi manusia dan alam sesungguhnya. Melalui penelitiannya, ia berusaha membangun argumentasi bahwa manusia seharusnya bisa berdampingan dengan alam. Salah satu dialog menarik dari keduanya yang berhasil saya catat seperti di bawah ini;

“Manusia itu sama seperti cacing versi lebih besar dan kompleks saja” ungkap peneliti.

“Cacing yang mempunyai moral?” Sanggah sang asisten.

“Cacing mungkin lebih bermoral dari manusia,” tegas peneliti.

Dari dialog tersebut saya akhirnya mempunyai gambaran, tentang bagaimana film ini. Melalui tokoh peneliti, film ini sepertinya ingin menyuguhkan satu argumentasi secara ilmiah tentang Gunung Merapi sebagai unsur yang hidup dalam siklus dan ekosistem kehidupan ini. Dalam hal ini Merapi tidak hanya sebagai objek pun lanskap alam, ia adalah ruang dan waktu.

Lalu cerita berlanjut pada rekaman wawancara Yulianto sebagai petugas pengamatan Gunung Merapi. Ia dengan wajah masih tertutup masker menceritakan aktivitasnya selama ini menjadi garda depan informasi tentang aktivitas Gunung Merapi. Yulianto menjalani profesi ini memang mengikuti jejak ayahnya yang dulu juga menjadi penjaga pos pengamatan Merapi. Ketertarikannya dengan Merapi diawali ketika sejak kecil, ia sering ke kantor dan ikut kerja ayahnya. Semenjak itulah akhirnya ia menjalani profesinya sebagai bentuk tanggung jawab seperti yang sudah diwariskan oleh keluarganya terdahulu.

Dalam wawancara ini, Yulianto banyak menjelaskan secara vulkanologi gerak dan aktivitas Merapi. Bagaimana post pengamatan menetapkan status Merapi, ukurannya apa, lalu siasat apa yang harus dilakukan ketika melihat kondisi Merapi sudah dalam titik rawan. Ia juga tampak menjelaskan beberapa fungsi alat yang digunakan untuk memotret kondisi Merapi. Namun, dari semua itu yang menarik justru ada pada statementnya. Bahwa bagaimanapun alat ciptaan manusia untuk mengamati Merapi tetapi pada dasarnya tidak ada satupun orang yang benar-benar tahu atau bisa memprediksi kapan Merapi akan erupsi. Karena itulah Merapi sampai sekarang masih menyimpan sejuta misteri. Dari hal itu juga masih banyak kemungkinan untuk setiap orang memiliki daya untuk memahami dan menjelajahi.

Sementara itu gambar bergeser pada asisten peneliti (Kidung Paramadita). Sebagai pemeran pembantu dalam film ini, ia mempunyai peran yang vital untuk menghidupkan cerita dalam setiap babaknya. Dalam babak pertama ini, ia (Kidung Paramadita) asisten peneliti diberi porsi Riar untuk mengalami pengalaman mistik ketika menjalani penelitian di Merapi. Dalam salah satu scene adegan di tengah malam, ia tinggal di rumah di sekitar lereng Merapi. Saat itu ia mengalami pengalaman horor ketika dalam kondisi masih tertidur, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya terguncang merasakan getaran seperti hal nya gempa bumi berkekuatan tinggi. Ruangan dalam adegan itu juga ikut terguncang, semuanya bergetar, sehingga membuat ia terbangun dari tidurnya. Ia bingung dengan kondisi yang sedang ia alami. Dari hal itu ia bergegas, bangkit dari tidur mengamati jendela kamarnya dengan desain minimalis itu. Di sanalah ia melihat peristiwa yang tidak wajar ada di tengah malam, yaitu pawai gunungan bertubuhkan manusia. Iring-iringan itu memang di luar nalar. Dengan iringan musik bergada (prajurit Mataram) dengan beberapa pengiringnya berwajahkan aneh lagi menyeramkan.

Adegan ini tampak ingin menggambarkan satu peristiwa yang banyak diyakini masyarakat di sana. Sebuah misteri tentang makhluk gaib yang ada dan hadir menghiasi memori kolektif mereka. Bentuknya bisa bermacam-macam, namun variasi cerita yang ada tentang mistisisme mahluk gaib di Merapi seperti menjadi bagian lain dari kesakralan Merapi itu sendiri. Tentu kita bisa percaya atau tidak dengan adanya kepercayaan semacam itu. Tetapi banyak masyarakat di sana sebagian besar meyakini hal tersebut. Dan film ini berhasil memotretnya sebagai bagian dari realitas yang muncul menjadi bumbu penyedap dalam film ini.

Adegan ini tampak ingin menggambarkan satu peristiwa yang banyak diyakini masyarakat di sana. Sebuah misteri tentang makhluk gaib yang ada dan hadir menghiasi memori kolektif mereka. Bentuknya bisa bermacam-macam, namun variasi cerita yang ada tentang mistisisme mahluk gaib di Merapi seperti menjadi bagian lain dari kesakralan Merapi itu sendiri.

Lalu cerita berakhir dengan tindakan tragis sekumpulan preman yang mengintimidasi peneliti dan asistennya saat mereka melakukan riset di suatu malam di hutan Merapi. Naasnya mereka bertemu dengan para preman yang sedang melakukan patroli. Para preman yang berwajah sama seperti dalam adegan pertama. Awalnya mereka sempat menyangkal bahwa tindakan mereka tidak melanggar aturan. Perdebatan terjadi di antara mereka. Namun sayang, para preman bertindak lebih ganas dari yang dibayangkan. Dengan kejam bos preman dengan wajah garang (Whani Darmawan) memperkosa asisten peneliti. Sedangkan peneliti tampak tidak berdaya, ia dikeroyok, mulutnya berulang kali dijejali dengan senapan. dan cerita mereka berdua selesai pada adegan itu juga.

Antara Realitas Sosial dan Potret Pilu di Dalamnya

Babak kedua dalam film Monisme menawarkan sudut pandang realisme yang cukup kuat. Beberapa adegan tidak banyak dipoles sedemikian rupa. Karakter muncul dengan pemeran yang sama. Kali ini Rendra Bagus Pamungkas hadir sebagai penambang pasir dengan wajah lusuh dengan debu. Sedangkan Kidung Paramadita memerankan karakter sebagai seorang seniman pembuat film. Bagi Rendra, entah bagaimana ia memerankan karakter yang sangat berbeda dengan karakter sebelumnya sebagai peneliti. Tetapi seperti adegan sebelumnya ia tampak cukup menghayati perannya tersebut. Sedangkan Kidung dengan tampilan eksentrik khas seorang seniman, berhasil menghidupkan karakter yang diembannya.

Gambaran kondisi dan dilema penambang pasir di sekitar Merapi menjadi gagasan utama dalam babak kedua ini. Eksploitasi alam yang mengancam ekosistem lingkungan dalam kasus film ini memang menjadi permasalahan yang cukup pelik. Penambangan pasir di Merapi dalam satu sisi memang mengancam kondisi lingkungan di sana. Tetapi disisi lain untuk menutupi kebutuhan ekonomi, banyak warga disana, sangat bergantung dengan aktivitas penambangan pasir ini.

Eksploitasi alam yang mengancam ekosistem lingkungan dalam kasus film ini memang menjadi permasalahan yang cukup pelik. Penambangan pasir di Merapi dalam satu sisi memang mengancam kondisi lingkungan di sana. Tetapi disisi lain untuk menutupi kebutuhan ekonomi, banyak warga disana, sangat bergantung dengan aktivitas penambangan pasir ini.

Sang seniman hadir dengan seorang teman untuk wawancara penambang pasir. Dialognya sederhana, singkat dan tidak berbelit. Awalnya mereka berada di sebuah warung makan untuk mengambil gambar penambang pasir dengan baju yang masih sama, lusuh. Dalam dialognya sang penambang pasir tak banyak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Tentang bagaimana penambangan pasir selama ini berjalan, siapa saja dibelakangnya dan apa resiko penambangan yang mereka kerjakan. Penambang pasir tetap bergeming. Ia menjawab singkat dan membuat kecewa sang seniman yang merasa tak puas dengan hasil wawancaranya. lalu ia membeli makan untuk menetralkan suasana. Mungkin penambang pasir sedang lapar. Dan ia tak semangat menjawabnya.

Selepas makan, mereka siap mengambil gambar kembali. Namun di belakang mereka para preman tiba-tiba hadir di warung sederhana itu. Komplotan preman yang masih sama di babak pertama. Awalnya tidak ada masalah datangnya preman itu. Mereka tetap menjalankan wawancara. Para preman tampaknya mulai terganggu dengan aktivitas wawancara itu, mereka mendekat mempertanyakan aktivitas mereka. Dengan nada kesal, preman mengintimidasi sang seniman. Preman itu berusaha meminta izin aktivitasnya itu. Sang seniman menjelaskan maksud dan tujuannya, mereka sedang membuat film dokumenter soal tambang di Gunung Merapi. Mendengar hal itu para preman merasa hal itu tidak perlu.  Sebagai penguasa wilayah di sana mestinya ia meminta izin kepada para preman itu. Sang seniman tetap ngotot bahwa ia tidak akan menyinggung kekuasaan mereka. Preman tampak tidak peduli soal hal itu. Penambang pasir berusaha membantu menjelaskan. Tetapi tetap gagal. File hasil wawancara diminta preman untuk di hapus, lalu mereka diusir dari warung itu.

Adegan berganti, para penambang pasir tampak berkumpul melepas lelah. Mereka bercerita soal aktivitas menambang pasir Merapi selama ini. Banyak dilema pilu mendengar cerita mereka. Bukan tanpa peduli, ia paham betul resiko penambangan yang mereka lakukan. Krisis air menjadi hal yang paling mencuat dari aktivitas yang mereka lakukan. Namun, apa boleh buat, tak ada pilihan lain bagi mereka. Kebutuhan ekonomi yang mendesak menjadi alasan kuat agar kehidupan mereka terus berjalan. Saat itulah letusan Merapi tak lagi mencekam bagi mereka. Justru saat Merapi mengeluarkan banyak material dari perutnya, di sana mereka mendulang banyak keuntungan. Adegan wawancara dokumenter itu selesai, dengan tatapan panjang menunggu kapan rezeki guguran material itu datang.

Kembali pada seniman pembuat film dan penambang pasir yang meratapi nasib buruknya. Berada di dalam kepala truk, penambang pasir itu berjejalan dengan sang seniman.  Berada di tengah, diapit sopir dan perempuan seniman itu. Dengan posisi duduk yang tidak begitu nyaman. Entah kenapa penambang pasir menceritakan semuanya. Ia meminta seniman merekam semua omongannya. Terlanjur basah ungkapnya, biarkan sekalian tidak usah menyembunyikan identitasnya. Penambang pasir dengan wajah emosional dengan sebatang rokok yang tak lepas dari mulutnya, ia mengungkap siapa dalang di balik penambangan pasir di sana. Para elit politik pemegang kekuasaan yang rakus lah sebenarnya yang memberi jalan penambangan pasir itu ada. Merekalah sebenarnya para cukong sesungguhnya, mereka juga yang memberi izin dan sekaligus yang paling mendapat banyak keuntungan dari aktivitas penambangan pasir ini. Tegas penambang pasir ini dengan wajah geram. Lalu nasib penambang kecil yang sebatas kuli buruh angkut pasir seperti dirinya, tentu tak sebanding jika dibandingkan dengan keuntungan yang didulang para pemodal di atasnya. Ia tetap miskin, dan tidak ada pilihan lain untuk tidak tetap bekerja di sana.

Penambang pasir mengambil nafas panjang. Ia melanjutkan ceritanya. Lalu para preman yang mereka temui di warung tadi adalah orang yang hidup dari para bandar besar konglomerat yang berlindung dibalik kekuasaan politik mereka. Mereka para preman, memang dipelihara untuk mengintimidasi siapapun yang mengancam kepentingan penambangan yang mereka jalankan. Nasib para preman itu sebenarnya tak ubahnya seperti kuli penambang pasir itu, berada di bawah dan kapanpun bisa dilenyapkan ketika ia mulai tidak patuh dengan majikannya. Cerita selesai, seniman perempuan itu gemetar memegang handycam yang tak lepas di tangannya.

Merapi dan Semesta Mistiknya

Babak terakhir dalam film ini tentu lebih tidak terduga. Riar berusaha menghadirkan perspektif mistisisme dari para pelaku spiritualis dalam bahasa lain bisa disebut, dukun, orang pintar, atau semacamnya. Mereka dihadirkan dalam bentuk praktik dan laku hidup yang mungkin bagi banyak orang sulit dipahami. Tetapi mereka ada, yakin dan teguh dengan pendiriannya. Beberapa praktik memunculkan laku performatif dengan penghayatan yang dalam. Lagi-lagi Rendra Bagus Pamungkas hadir sebagai pemeran utamanya. Ia menjadi spiritualis yang begitu menghayati kepercayaannya.

Gunung Merapi memang bagi sebagian orang bukan hanya subyek yang mati. Gunung ini juga dipercaya mempunyai nyawa, ia hidup sama seperti makhluk Tuhan yang lainnya. Bukannya dalam sebuah kitab suci diterangkan bahwa semua ciptaan Tuhan memang sebenarnya hidup dalam ordernya masing-masing. Dari hal itulah, layaknya dalam sebuah relasi satu dengan yang lainnya harus saling menyapa dan menghargai. Babak ketiga dalam film ini, sependek yang saya pahami, tampaknya ingin menggambarkan bagaimana relasi manusia dengan alam (Merapi) melalui pendekatan spiritualitas yang masyarakat miliki.

Dalam sebuah adegan tokoh spiritualis digambarkan sebagai sosok orang tua yang tampil dengan sedikit kata. Hampir setiap adegan ia membisu, namun dengan ekspresi yang kuat karakter tokoh ini menjadi hidup. Suasana horor menyelimuti setiap adegan dalam babak ketiga ini. Dalam kegelapan malam, tokoh ini seperti membawa sesaji, berdialog secara batin dengan mahluk-mahluk penghuni Merapi. Adegan yang sangat epik muncul ketika tokoh spiritualis berada di atas semacam tanggul di bantaran sebuah kali. Ia berjalan di atas tanggul dengan suasana senja yang mulai tenggelam. Dengan background Gunung Merapi yang tampak gagah dan perkasa. Ia meletakan sebuah sesaji sebagai bentuk penghormatan mahluk-mahluk yang ada di sana. Namun kalimat pendek yang muncul dari tokoh spiritualis ini bisa menjadi satu gambaran sikap dari sang spiritualis yang diam. Ia menyebut kalimat “Allah hu Alam, Alam hu Allah”. Kalimat yang singkat, tapi mengisyaratkan sikap yang mendalam. Tentang esensi alam dan ke maha mutlakan kuasa Tuhan.

Namun kalimat pendek yang muncul dari tokoh spiritualis ini bisa menjadi satu gambaran sikap dari sang spiritualis yang diam. Ia menyebut kalimat “Allah hu Alam, Alam hu Allah”. Kalimat yang singkat, tapi mengisyaratkan sikap yang mendalam. Tentang esensi alam dan ke maha mutlakan kuasa Tuhan.

Ketika ia beranjak pergi, sesaji yang ditinggalkan kemudian dikerubungi sosok mahluk halus penunggu berperawakan perempuan. Wajahnya menyeramkan dengan tata kostum khas setan-setan Jawa pada umumnya. Para setan mahluk halus atau apapun sebutannya, tampak lahap menyantap sesaji yang ditinggalkan. Sedangkan tokoh spiritualis tampak mengamati dari kejauhan. Kemudian melenggang pergi.

Adegan berganti pada wawancara dokumenter kepada tokoh spiritualis sesungguhnya. Ia merupakan pemimpin kelompok Jathilan klasik Kudho Taruno Desa Wonolelo dari lereng Merapi. Puthut Juritno namanya, lelaki paruh baya itu menceritakan bagaimana profesinya selama ini sebagai pawang jathilan dan orang yang dianggap tahu soal hal-hal mistik di sekitar Merapi. Baginya Gunung Merapi memang bukan gunung sembarangan, ia meyakini kita sebagai manusia harus tahu tata aturan dan sopan santun ketika berada di Gunung Merapi. Begitu juga ketika ia ketika akan menggelar sebuah pertunjukan jathilan bersama kelompoknya. Tentu ia akan melakukan ritual khusus, seperti puasa atau tirakat lainnya sembari menyiapkan sesaji yang sudah ditetapkan sebelum pentas digelar.  Hal itu semata ia lakukan agar pertunjukan yang ia gelar berjalan lancar.

Tidak semua pertanyaan bisa Juritno jawab dengan gamblang. Yang jelas dari wawancara ini ia menegaskan bahwa di Gunung Merapi ada sosok penunggu yang mesti kita hormati. Penghormatan yang lazim tentu dilakukan dengan terus menjaga adat tradisi seperti merti dusun, nyadran, dan labuhan Merapi. Semua bentuk tradisi itu sebagai bentuk upaya untuk menjaga relasi dengan Merapi itu sendiri.

Lalu adegan dilanjutkan dengan pentas Jathilan. Tabuh gamelan disertai tarian prajurit perang Mataraman menjadi sajian dari sebuah pentas Jathilan. Kesenian ini sendiri awalnya berangkat dari sebuah latihan peperangan di masa perang Jawa meletus tahun 1830 an. Sejarahnya panjang. Yang pasti kekalahan Pangeran Diponegoro saat perang Jawa menjadi salah satu titik penting kesenian ini berkembang. Kemudian tarian kolosal dengan ritme tabuhan gamelan yang rampak dengan nada yang terus berulang menghasilkan nada yang menghanyutkan. Bahkan di titik tertentu membawa pendengarnya sampai trans bahasa lain dari ndadi atau kesurupan. Saat itulah dipercaya mahluk halus memasuki jasad penari sehingga kehilangan kesadaran. Dalam film ini, pentas jathilan ini digambarkan seperti pentas pada umumnya, maksudnya tidak settingan. Saat beberapa penari mulai kesurupan, tokoh spiritualis masuk ke dalam gelanggang pentas. Ia menari, sambil tetap membawa sesaji. Kemudian menghilang.

Film Monisme diakhiri dengan munculnya gerombolan preman yang dengan brutal menghabisi spiritualis. Alur film kembali pada adegan awal. Pembunuhan tragis di tengah hutan di bagian awal film ini, akhirnya terungkap apa sebabnya dan siapa sosok yang dihilangkan nyawanya dengan keji itu. Ia adalah sosok spiritualis yang dengan teguh memegang keyakinannya tentang daya besar Merapi. Keyakinan dan kepercayaan yang selalu dihadapkan dengan kepentingan modal. Begitulah tampaknya kenyataan selalu berjalan. Atau justru melalui kontradiksi-kontradiksi yang ada, harapan baik akan terus dilambungkan. Film ini berhasil membawa penonton pada satu kesimpulan, setidaknya bagi saya, bahwa kenyataan memang tidak selalu seperti yang kita  ideal kan. Dan film ini mempertegas itu semua dengan kompleksitas cerita yang ada.

Film berakhir. Soundtrack film Monisme berjudul “Semayam” karya Bin Idris membuat, sekali lagi, suasana akhir film ini menjadi sangat haru. Dengan nadanya yang mendalam ditambah liriknya yang jenaka, membuat film ini menjadi lengkap dan penuh. Agar pembaca tulisan ini merasakan getarannya. Saya sematkan lirik lagu di bawah sekaligus sebagai penutup tulisan ini.

Berjejak pada tanah
bergulir dan merekah
beriring dalam bising
sunyi

di bawah kakimu berdesakan, berjejalan, berhimpitan, membentuk barisan
menunggu giliran
di dalam dinginnya dekapanmu berselimut bebatuan dan lebur perlahan

berpulang tanah
berdiam dan merebah
dan hening tak bergeming
sunyi
MENANAM PUISI

kutanam puisi 
semoga jadi 
peneduh hati 
di taman rohani

Denpasar, 13/2023


POHON DI TEPI KOLAM

daun yang gugur ke kolam subuh tadi 
kujadikan perahu samadi
berlayar ke bandar-bandar hari
seekor anggang memintal sunyi
mengukur jeram luka hati

rasa sayang
beri angin pulang
waktu tak bermimpi
ruang menawarkan sengketa 
keturunan adam-hawa 
di tanah luka
hutan khuldi
belantara duniawi
pohon merindangkan daun 
mengokohkan akarnya
 
Denpasar, 98/2018 

POHON DI HALAMAN RUMAHLEBAH

mohon maaf kepada penjaga alam
pohon di halaman rumahlebah kami tebang 
karena banyak orang merinding ketakutan
ketika lewat di jalan kecil di depan
rumah yang sudah lama kami tinggal

orang sekitar bilang tiap malam mencium 
wewangian seperti aroma kembang kuburan 
“Mungkin ada penjaganya,” bisik mereka 
meyakinkan bahwa pohon di halaman itu 
sarang mahluk halus numpang tinggal

rumah suwung itu memang dijaga roh para tua
jiwa pujangga yang bersemayam di buku sastra 
dulu mereka sering berjumpa bersulang rasa
bicara tentang kesejatian hidup dan cinta
sekarang mereka menjadi wali semesta
mengembara ke seantero jagatraya
menyampaikan firman jiwa 
mengharumkan dunia 

Yogyakarta, 16 Agustus 2018

DONGENG TENTANG PENYIHIR HUTAN

(1)
“Biarkan rohani mengurus dirinya sendiri 
kita gemukkan cinta agar bertahan di hati,”
pesan singkat sahabat di kampung tempo hari
 
Orang-orang di sekelilingnya sibuk 
hilir-mudik membabat-menjarah hutan 
menyulap pohon menjadi 
meja-kursi-almari-sova-buvet-dipan
“Pestapora orang-orang kemaruk 
ingin kaya mendadak
Mereka sedang dibuai mimpi 
hingga abai dan lupa diri
menjadi orang kaya baru
seperti kere munggah balai,”
ceritanya lagi 

Lain hari, ketika pulang kampung 
kusaksikan orang-orang di sekeliling  
berlomba-lomba mengejar uang
bersaing menumpuk kekayaan
dengan menyulap pohon dan hutan 
jadi barang dagangan

Aku tercengang, kelimpungan
seperti monyet kehilangan sarang 
gela dan ngeri hingga pergi lagi
Lari ke pangasingan. 
menjadi penari kendang
babad-babad penopengan
babak-babak rupiah yang bikin lelah

sebagai monyet tak mungkin aku diam
duduk di kursi goyang bekas pohon 
hutan sarangku yang dibabat orang 

(2)
di pengasingan kudengar kabar
anak-anak di kampung tak khusuk belajar 
di sekolah tak peduli pada pelajaran 
juga tak menghiraukan guru ngaji
mengajarkan Alqur’an dan santapan rohani
sebab hati-pikirannya dikebiri duniawi 
dan dubuai mimpi 
seperti orangtuanya asyik menikmati 
kemewahan hasil menyulap hutan dan
pohonan menjadi harta berlimpah 
rumah gedung magrong-magrong
mobil banyak yang kinclong 
sehari-hari bergaya hidup kelas tinggi
petetang-petenteng berlagak selebriti
“Selamat tinggal hutan rindu, pohon cintaku  
di pengasingan waktu pesanggrahan kalbu
aku monyet hanya bisa mengenangmu!”
gumamku tersedu

(3)
“Akhirnya waktu memberi jawaban
seperti yang dulu kau ramalkan,”
pesan singkat dari sahabat tersebut kemarin
 
Ia menceritakan: 
setelah tak ada lagi hutan yang bisa diganyang 
dan pohon habis ditebang untuk diuangkan
orang-orang kelimpungan, bahkan ada yang 
stress dan linglung karena terjerat utang 
mereka yang tempo hari berlomba-lomba menjadi 
orang kaya baru seperti kere munggah balai
sekarang turun kembali ke lantai seperti dulu lagi! 

“Pulanglah monyet rupawan
jangan lalai dan keasyikan 
jadi penari kendang di perantauan
telah kubuatkan rumah pohon
belantara jiwa di kampung kita
untuk menyiapkan hari tua
rumah cinta yang baka!” tuturnya

Denpasar, 2009 - 2019 

CERITA DARI PARANGTRITIS

di semak rumpun perdu pesisir itu 
aku tersengat putri malu 
seorang penyair madu mengajakku 
menguak segara waktu
dengan doa mahabbah jiwa
“jangankan si anu, ombak pun akan 
takluk padamu,” bisiknya menghiburku

saat hendak berangkat ke rantau 
sengatan putri malu masih terasa ngilu 
“zikir bisa mengusir ngilu dan malu
ikuti saja arus cintamu
jangan lupa kembali saudaraku
Jogja rumah puisimu!” 

ya, pada saatnya nanti 
aku pasti ke Jogja lagi  
siapa tahu ada melati 
memberi harum-wangi 
atau worawari bersalam sepanjang hari  

Jogja/Denpasar, 10/23


JEMBATAN CINTA KALI WISA

jembatan cinta lintasan segala yang melaju
dari masa lalu sepanjang waktu 
di muara sungai itu, tanjung kalbu 
kularung cinta mengusung rindu 

aku jukung takberdayung 
perahu takberlayar
terapung murung 
di ujung tanjung

titipkan sauh 
sandarkan letih 
tambatkan cinta dan harapan
kenangan yang hilang

masa lalu menjadi indah setelah terlupakan 
setelah ditinggalkan masa sekarang 
dan esok yang kelak jadi kenangan

aku tak sedang melacak jejak yang hilang 
sebab setiap jejak telah menjadi sejarah 
yang tak terhapus jejak lain

kota ini menjadi sesak
hirukpikuk, rupek dan sumpek 
semenanjung utara sejarah maritim jawa 
yang telah berubah perangainya
menjadi pelimbahan hutan
dan bangkai pohonan
tanah sawah menjelma rama-rama beton 
dan pabrik penangkaran keserakahan
“kau telah lama enyah ke entah
tak berhak meminta kenangan 
mencari masa lalu yang hilang!” 
hardik jembatan 

jembatan cinta di atas
sungai kota yang membara 
jiwa-jiwa buas-gerah-panas
aku hanya boleh melintas 
numpang lewat sesaat 
dengan perasaan gamang
pikiran ciut, hati bergolak 
dan jantung berdetak-detak

Jepara - Denpasar, 15/23


PURNAMA DI TENSUT BEDAHULU

sampai kapan terjaga purnama hati
orang-orang datang dan pergi
mengusung gelisah mengantar sunyi
ibu-ibu menyunggi sesaji 
ke pura di tepi kali
dan pohon besar berdaun warnawarni
akarnya menjulur ke kedung kali
di bawahnya ikan-ikan sembunyi
bidadari-bidadari belia hingga nini-nini 
mandi di bantaran kali 

malam nanti 
purnama membumbung tinggi 
bayangannya ngambang di kedung 
angin membimbing malam
menuruni rindu kasmaran
daun-daun menari
bunga berguguran ke kali
memberkati putri bulan
yang kau intip malam-malam
“bidadari, bidadari,
aku naksir kamu bidadari
perawan bulan berbodi bali
cantik nian harum melati

bidadari, bidadari
aku gandrung kamu bidadari
dewi impian dari langit surgawi
berkendara angin menuruni hati!”

dadanya yang ranum mengingatkanmu
pada ibu yang menyusui dan menggendongmu 
pada masa kanak dulu. ”O, lemparkanlah selendang 
kasih agar aku digendong ke langit!” 

dewa-dewa tertawa mendengar doamu
bumi lindu kau terjatuh dari pohon jambu 
di halaman rumah Tensut Bedahulu 
tempatmu ngintip perempuan mandi 
sambil memetik dan makan buah 
jambu yang ranum dan montog  
kau bayangkan puting susu
bidadari molek itu

purnama naik sempurna
wangi dupa mengharumi semesta
asap membumbung ke angkasa
mengiringi menerangi dunia
melukis malam rupawarna
purnama jiwa
cinta

Denpasar, 98/23


    

ia lepaskan lendir penuh tuba. Lendir yang

merekatkan air dan malam, air dan karang-karang

kerakal. Sebuah sirkulasi mengalir dari kisah air dan

sihir. Ubur-ubur merah mengurai darah,

memperlihatkan jantung dan usus yang berdetak. Usus

dan jantung yang merekam gemuruh air dan

takdir. Berlarihlah ubur-ubur ke permukaan. Matahari

(Puisi Ubur-ubur Merah)

Penggalan puisi Ubur-ubur Merah di atas adalah karya Hidayat Raharja—penyair asal Madura kelahiran tahun 1966—yang dimuat buletin Pawon edisi #50 tahun X/2017. Ketika membaca penggalan puisi Ubur-ubur Merah, aku menangkap keberadaan ubur-ubur yang penuh misteri dan dingin, seperti /…Lendir yang merekatkan air dan malam, air dan karang-karang/ kerakal…./ atau /…Usus dan jantung yang merekam gemuruh air dan/ takdir…/. Apalagi, dua kata kerja (merekatkan dan merekam) ditimbulkan ubur-ubur (lendir, usus, dan jantung) yang bereaksi antara air dengan malam, atau karang-karang kerakal, atau takdir.

Ubur-ubur yang dipuisikan Hidayat Raharja bukan sekadar tempelan belaka. Sebab, selain imajinasi, ada identifikasi dalam puisi Ubur-ubur Merah, misal mengetahui ubur-ubur mengeluarkan lendir. Identifikasi menandakan Hidayat Raharja begitu akrab mengenal ubur-ubur sebagai bahannya menulis puisi. Keakraban mengenal ubur-ubur dapat aku mafhumi dengan menengok latar belakang Hidayat Raharja sebagai guru biologi. Artinya, pengetahuan biologi menambah daya kreativitas bagi kepenyairannya.

Penyair dan guru biologi: dua bidang yang berbeda itu telah dikolaborasikan Hidayat Raharja. Tidak heran, setelah membaca utuh puisi Ubur-ubur Merah, aku menemukan penyebutan plankton, sarcodina, lili laut, bintang ular, dan bintang laut. Puisi Ubur-ubur Merah membuka penggambaran pernak-pernik biota laut di sekeliling kehidupan ubur-ubur. Kolaborasi yang dilakukan Hidayat Raharja seolah eksperimen terhadap dunia-yang-menjadi yang bebas memasukkan aneka makhluk tanpa menyebut aku-lirik.

Begitulah, aku menggaris Hidayat Raharja yang memanfaatkan dua bidangnya untuk menulis puisi Ubur-ubur Merah. Penggarisanku tersebut muncul demi mengaitkan hasil pembacaanku pada beberapa esai perihal pengalaman dan pengamatan Hidayat Raharja, selaku guru Biologi dan kepala sekolah SMA Negeri 4 Sampang, seperti permasalahan sekolah, metode pengajaran guru, hingga kegiatan peserta didik. Beberapa esai itu termaktub dalam naskah Ruang Kelas yang Terus Bergerak karya Hidayat Raharja yang aku layout (tata) menjadi buku.

Hidayat Raharja menulis bahwa SMA Negeri 4 Sampang bersama sekolah yang ada di sekitarnya saling bersaing mendapatkan peserta didik. Juga, persoalan lain dari SMA Negeri 4 Sampang, yaitu: keterbatasan fasilitas. Persaingan dan persoalan lain tersebut harus diminimalisir SMA Negeri 4 Sampang dengan kolaborasi. Hidayat Raharja—dalam esai Hari Ini Belajar Sejarah: Alternatif Panggung Pembelajaran yang Merdeka—menulis: “…Di sinilah kerja kolaboratif berlangsung dan menjadikan belajar sebagai sebuah aktivitas menarik, ruang kelas lebih fleksibel serta pembelajaran lebih kondusif mengikuti kemauan siswa.

Lalu, apa kaitan antara Hidayat Raharja yang menulis puisi Ubur-ubur Merah dengan SMA Negeri 4 Sampang yang mencanangkan kolaborasi? Aku menganggap benang merah dari kaitan tersebut adalah kesadaran pemanfaatan sesuatu yang dekat. Berbeda dengan Hidayat Raharja yang sadar memanfaatkan dua bidangnya, para guru di SMA Negeri 4 Sampang harus mengetahui ketertarikan peserta didik. Sebab itu, Hidayat Raharja menganalisis apa kebutuhan peserta didik di SMA Negeri 4 Sampang.

Salah satu analisis Hidayat Raharja adalah mengetahui beberapa peserta didik begitu asing dengan buku ketika SMA Negeri 4 Sampang menerapkan program Jumat Literasi. Hidayat Raharja tidak menyalahkan beberapa peserta didik yang begitu asing dengan buku. Justru, Hidayat Raharja—dalam esai Jumat Literasi—menulis: “…Inilah anak-anak istimewa yang saya miliki, memendam potensi dan belum mampu kami ungkapkan…” Artinya, guru harus hadir sebagai kunci untuk membuka pintu wawasan peserta didik.

Upaya membuka pintu wawasan peserta didik telah dilakukan para guru SMA Negeri 4 Sampang. Lewat esai Pohon Tanah Tandus, Hidayat Raharja berkisah pembelajaran yang menghubungkan materi pengajaran dengan dunia nyata, seperti Bu Melli yang berangkat dari pengalaman peserta didik untuk memasuki permasalahan ekonomi secara luas, atau Bu Tika melakukan pendekatan personal karena peserta didik yang heterogen. Serta, lewat esai Ruang Kelas yang Luas dan Terbuka, Hidayat Raharja berkisah pembelajaran tidak hanya dalam kelas, seperti Bu Purnamawati memberikan tugas resume kepada peserta didik terhadap kompetensi dasar fisika melalui aplikasi Tiktok, Bu Fauziyah Wahyuni—ketika suatu tatap muka terbatas di kelas—membawa tanaman Pterydophyta (paku-pakuan) demi menerangkan strutur tubuh tanaman secara kongkret kepada peserta didik, Bu Musdalifah—pengajar pelajaran pendidikan kewirausahaan—mengajak peserta didik untuk mengelola kebun mini, atau Bu Debby Eka Wulandari mengajak murid ke situs sejarah lokal sebagai sumber pengetahuan.

Dalam pengamatanku, pengajaran para guru tersebut—di paragraf atas—ternyata sama-sama memiliki satu tujuan, yaitu: Berharap peserta didik tidak lagi berjarak menerima pengajaran guru. Karena pengajaran bisa berada di luar kelas dan tidak lagi kaku, guru memanfaatkan sesuatu yang dekat bagi peserta didik. Dan, muncul kreativitas antar guru untuk kolaborasi pelajaran—juga kolaborasi dengan instansi atau praktisi dari luar sekolah—demi mengingatkan peserta didik, bahwa ilmu pengetahuan begitu lekat dengan kehidupan. Yang terpenting dalam pengajaran, peserta didik bukanlah obyek, melainkan subyek yang mampu mengembangkan diri sesuai kemampuan dan potensi.

Kolaborasi

Kolaborasi, merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002), adalah (perbuatan) kerja sama (dengan musuh dan sebagainya). Entah kenapa pengertian tersebut mengandung “musuh” yang mencitrakan pertentangan. Meski begitu, aku menganggap maksud “musuh” sebagai beberapa bidang berlainan yang memiliki kesamaan tujuan. Sehingga, kerja sama antar beberapa bidang berlainan dapat membentuk lawan-duet, bukan lawan-adu. Dan, lawan-duet tidak menunjukkan kekontrasan, justru menghasilkan keharmonisan.

Dalam naskah Ruang Kelas yang Terus Bergerak karya Hidayat Raharja, kolaborasi seolah strategi pendidikan. Jadi, kolaborasi memungkinkan perbedaan pelajaran yang diajarkan setiap guru tidak lagi berdiri sendiri. Juga, kolaborasi menciptakan kreativitas bagi setiap guru untuk meletupkan potensi peserta didik, dan mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan bersinambungan dengan kehidupan. Sekarang, aku mengutip salah satu paragraf yang ditulis oleh Hidayat Raharja dalam esai Pembelajaran Kolaboratif, yaitu:

Pada kesempatan yang lain saya pernah menghubungkan antara pelajaran biologi, bahasa, dan pendidikan kewirausahaan. Sebuah irisan di antara ketiganya berangkat dari teknologi pangan, kewirausahaan dan pelajaran Bahasa Indonesia. Berangkat dari Kompetensi Dasar teknologi pengolahan pangan (Bioteknologi) saya mengambil topik mengenai fermentasi. Kami mengajak siswa untuk membuat fermentasi pisang kepok. Hasil fermentasi pisang itu harus mereka olah menjadi kue untuk mata pelajaran kewirausahaan. Dan, dari proses hingga hasil fermentasi pisang, juga pengolahannya, harus dijadikan laporan kegiatan mereka untuk dinilai dan didiskusikan saat pelajaran bahasa Indonesia.

Kutipan di atas bercerita pengalaman Hidayat Raharja perihal kolaborasi tiga pelajaran (biologi, bahasa, dan pendidikan kewirausahaan) di SMA Negeri 1 Sumenep (sebelum menjadi guru dan kepala sekolah di SMA Negeri 4 Sampang). Aku mengetahui kolaborasi tiga pelajaran terhubung ke beberapa proses kegiatan belajar, mulai dari fermentasi pisang kepok dan mengolahnya sebagai kue, lalu berakhir pada laporan yang didiskusikan peserta didik. Aku menangkap beberapa proses kegiatan belajar itu dapat memberikan gambaran kepada peserta didik perihal ilmu pengetahuan di kehidupan.

Lewat pisang kepok, aku menemukan kesinambungan antara ilmu pengetehuan dengan kehidupan. Tapi, aku menengok kolaborasi tiga pelajaran dilakukan peserta didik dari kelas IPA. Aku membayangkan peserta didik dari kelas IPS bisa terlibat dengan mengganti pelajaran biologi dengan ekonomi. Mirip Bu Melli yang mengajar pelajaran ekonomi, peserta didik dapat mensimulasi berapa harga produksi, harga jual, serta keuntungan apabila menjual olahan pisang kepok di kantin atau warung terdekat. Aku menimbang cara kolaborasi dapat saling menyatukan antar pelajaran sesuai konteks ilmu pengetahuan yang disampaikan guru.

Dari pengalaman di SMA Negeri 1 Sumenep, Hidayat Raharja turut menceritakan kolaborasi di SMA Negeri 4 Sampang. Lewat esai Mengembangkan Bakat Siswa SMA Negeri 4 Sampang Bersama DoubleK Batik, aku membaca kolaborasi tidak hanya pelajaran belaka. Ekstrakurikuler (kegiatan tambahan di luar jam pelajaran) dapat berkolaborasi dengan instansi atau praktisi di luar sekolah demi mengajarkan sesuatu apa yang tidak diperoleh di kelas, seperti Bu Dewi Wahyuni dan Bapak Abd. Wahid Hamidullah berkolaborasi dengan DoubleK Batik, home industry dari Sampang.

Keterangan: Siswa SMA Negeri 4 Sampang berlatih membatik di DoubleK BatikFoto: Hidayat Raharja  

Hidayat Raharja menulis tujuan kolaborasi DoubleK Batik adalah peserta didik SMA Negeri 4 Sampang mampu mengendalikan diri dan mengembangkan kreativitas. Peserta didik SMA Negeri 4 Sampang belajar membuat pola, memalam, dan mewarnai. Lain itu, peserta didik dapat belajar memahami makna tanggung jawab, seperti disiplin waktu. Bu Sri Krisna dan Pak Kikana Rahman (pemilik DoubleK Batik) turut membuka peluang bagi peserta didik SMA Negeri 4 Sampang yang antusias dapat langsung belajar di DoubleK Batik.

Aku juga membaca catatan Hidayat Raharja perihal SMA Negeri 4 Sampang menerima kolaborasi dari instansi atau praktisi dari luar sekolah, seperti Tanglok Art Forum yang mempresentasikan hasil riset Pangeran Trunojoyo berupa lecture performance, pertunjukan tari, dan pameran seni rupa. Aku mengetahui peserta didik SMA Negeri 4 Sampang (dan kehadiran peserta didik dari sekolah yang lain) dapat belajar mengenai sosok Pangeran Trunojoyo yang direpresentasikan hasil riset para seniman partisipan.

Dalam esai Hari Ini Belajar Sejarah: Alternatif Panggung Pembelajaran yang Merdeka, Hidayat Raharja menulis salah satu manfaat peserta didik terhadap kehadiran Tanglok Art Forum: “…Ruang belajar yang memungkinkan untuk menghubungkan antar hal antara seni, estetika, sejarah, dan distribusi pengetahuan yang simpang siur di antara mereka…” Apa yang ditulis oleh Hidayat Raharja tersebut mengubah pengertian ruang, yaitu: bidang-bidang (alas, dinding, dan langit-langit) yang saling bersambung membentuk volume.

Keterangan: Kegiatan diskusi Hari Ini Belajar Sejarah.Foto: Muhammad Azmil Ramadhan  

Pengertian ruang yang berubah telah memvisualisasikan ruang belajar bagi peserta didik bukan lagi menunjuk kelas yang berisi kursi, meja, atau papan tulis. Tapi, peserta didik masuk ke ruang belajar lain, yaitu: panggung pertunjukan dan ruang pameran. Aku membayangkan peserta didik dapat menyerap ilmu pengetahuan dari karya seni yang meletupkan impresi dan interpretasi. Dan, peserta didik menerima pantulan pengalaman intelektual lewat presentasi hasil riset dari Tanglok Art Forum.

Pembacaanku pada naskah Ruang Kelas yang Terus Bergerak karya Hidayat Raharja menambah pemahamanku perihal ruang yang diinginkan penghuni. Mengetahui keistimewaan peserta didik SMA Negeri 4 Sampang, Hidayat Raharja mengabarkan bagaimana para guru ikut berperan merancang ruang belajar sesuai kebutuhan dan aktivitas. Ruang belajar itu diharapkan tidak mati. Justru, mendidihkan keingintahuan peserta didik. Kolaborasi adalah cara SMA Negeri 4 Sampang untuk menghidupkan ruang belajar.**


Catatan: Tulisan ini merupakan pembacaan pembuka untuk buku Ruang Kelas yang Terus Bergerak karya Hidayat Raharja yang segera terbit.

Daftar Pustaka

Hasan Alwi—Pimpinan Redaksi (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Buletin Pawon edisi #50 tahun X/2017

Angin semilir berhembus menerpa lautan pasir yang luas membentang. Butiran pasir pun tak ayal berterbangan mengenai permukaan badan. Untungnya, cuaca di pagi hari yang sejuk cenderung dingin seakan menihilkan keringnya lautan pasir.

Tapi, mungkin tidak ada yang terganggu dengan butiran pasir yang tidak henti mengenai pakaian atau anggota badan. Panorama lautan pasir dan kokohnya Gunung Buthak di seberangnya, serta keinginan untuk mendaki Gunung Bromo pasti jauh lebih mendominasi pikiran.

Sembari berjalan dan menatap ke arah Gunung Buthak, tetiba saya teringat penggalan novel Sabda Palon yang pernah saya baca beberapa waktu silam. Damar Shashangka, penulis novel tersebut, menggambarkan perjalanan Bhre Kertabhumi untuk bersemadi di Pertapaan Gunung Semeru yang melintasi daerah Bromo beserta lautan pasirnya.

Saya memang agak lupa detailnya, tapi sekelabat ingatan itu menyentil saya. Ah, betapa laku tirakat begitu akrab dengan keseharian orang Jawa. Jangankan rakyat jelata, para raja pun, yang biasanya hidup bergelimang harta, sering kali diceritakan melakukan semadi setiap akan mengambil keputusan penting dalam pemerintahannya.

Sepemahaman saya, kata tirakat identik dengan menahan hawa nafsu yang dilakukan untuk mewujudkan sesuatu yang diinginkan. Bentuk tirakat bisa berupa banyak hal, bisa puasa, bisa zikir ataupun ibadah-ibadah lain. Sepengetahuan saya lho ya. Dulu, Ibu saya sering sekali berpuasa ketika saya atau adik-adik sedang mau ujian sekolah. Atau Embah saya. Tapi sayangnya, itu terhenti begitu saja. Di titik saya.

Itulah mengapa di awal saya menyebut tersentil. Sesuatu yang dulunya merupakan keseharian, kok sekarang terasa begitu asing ya. Jangankan berlaku tirakat dengan melakukan puasa berhari-hari, mengganti puasa Ramadhan pun seringkali dilakukan ketika mendekati waktu puasa Ramadhan tahun berikutnya.

Mungkin beberapa orang ada yang berkomentar tentang kesesuaian laku tirakat dengan ajaran agama. Mungkin itu ada benarnya. Tapi, dari kacamata awam saya, ada hal menarik berkaitan dengan kebiasaan tirakat jika dibandingkan dengan saya atau generasi saat ini.

Kalau kita browsing atau baca-baca singkat tentang tirakat, yang muncul adalah tentang berbagai upaya spiritual menahan hawa nafsu demi mencapai sesuatu yang diinginkan. Dari titik ini saja, rasanya sudah kurang relevan jika dikaitkan dengan masa sekarang. Ya iyalah Buk, masak kepingin punya uang harus puasa? Kalau kepingin punya uang ya bekerjalah!

Mungkin semacam itu komentar yang akan muncul pada generasi kita saat ini. Komentar itu tidak salah. Tapi, sepertinya ada sedikit yang terlupa. Bahwa simbah-simbah kita dulu juga kuat berpuasa di tengah-tengah keseharian dan pekerjaan mereka.

Bagi simbah-simbah dulu, mungkin berpuasa adalah salah satu laku tirakat yang demikian erat dengan keseharian dan sudah biasa dilakukan. Ya, memang, bahan pangan waktu itu juga bukan sesuatu yang mudah didapatkan seperti sekarang ini. Tapi, kemampuan para simbah dalam menerima dan mengelola keadaan mereka saat itu dan menjalaninya sebagai bentuk tirakat merupakan hal bagus yang seharusnya tidak kita lupakan.

Tapi, kemampuan para simbah dalam menerima dan mengelola keadaan mereka saat itu dan menjalaninya sebagai bentuk tirakat merupakan hal bagus yang seharusnya tidak kita lupakan.

Di era kemudahan informasi seperti sekarang, rasanya mudah sekali bagi kita untuk berganti keinginan. Atau bahkan menambah daftar keinginan. Ada postingan makanan viral misalnya, tiba-tiba kepingin ikut mencoba. Ada war ticket, tiba-tiba ingin ikut-ikutan. Belum lagi kalau pingin jalan-jalan alias healing tipis-tipis. Hal yang pada awalnya bukan keinginan kita, tiba-tiba bisa menjadi sesuatu yang kita idam-idamkan.

Punya keinginan tentu bukan hal yang salah. Itu wajar-wajar saja sebagai seorang manusia. Tapi, mungkin di sinilah kita perlu belajar kepada para simbah kita tentang tirakat itu. Kita mungkin kesulitan untuk melakukan laku tirakat seperti mereka. Tapi setidaknya kita belajar dulu untuk menahan dan mengelola keinginan kita .

Tentu tidak semua keinginan kita harus dituruti. Dan tentu kita perlu berusaha untuk mengelola emosi ketika tidak bisa memperoleh hal yang kita inginkan. Sepertinya teknik mengelola emosi inilah yang berbeda antara kita dengan simbah kita. Kalau mereka mungkin berusaha untuk menerima dengan lapang tetapi juga berusaha, baik spiritual maupun lahiriah, kalau kita, yaaa denial dulu lah sedikit. Kalau tidak yaa, healing dulu lah, biar ndak sumpek!

Akhir-akhir ini kita akrab sekali dengan istilah inner child, love yourself, reward untuk diri sendiri dan sebagainya. Kita akrab dengan berbagai hal yang dialamatkan untuk menyenangkan diri kita, semacam healing, hadiah karena telah melakukan sesuatu dan semacamnya. Tapi, tanpa disadari, kita lupa bahwa kadangkala diri kita membutuhkan semacam situasi yang ‘tidak enak’ agar bisa mengeluarkan potensi terbaiknya.

Kita akrab dengan berbagai hal yang dialamatkan untuk menyenangkan diri kita, semacam healing, hadiah karena telah melakukan sesuatu dan semacamnya. Tapi, tanpa disadari, kita lupa bahwa kadangkala diri kita membutuhkan semacam situasi yang ‘tidak enak’ agar bisa mengeluarkan potensi terbaiknya.

Keakraban kita dengan berbagai hal untuk menyenangkan diri membuat kita langsung menolak semua hal yang terlihat menyusahkan diri kita. Sebenarnya ini sifat alami juga sih. Mana ada orang yang ingin bersusah-susah?

Dan agaknya, banyak orang lupa bahwa suatu ketika, di suatu masa dalam hidup kita kemungkinan untuk berada pada posisi yang tidak menyenangkan itu.

Pada kondisi itulah, ada baiknya kita mengingat kembali simbah kita dengan laku tirakatnya. Simbah kita dengan pengelolaan hawa nafsunya dalam melewati kondisi yang tidak menyenangkan itu.

Mungkin saja, dengan mempelajari cara manajemen emosi lewat lelaku tirakat para simbah, kita bisa menemukan solusi atas permasalahan mental yang sering kita temui akhir-akhir ini. Atau mungkinkah kita sudah demikian tercerabut dari akar kita, sehingga sangat jauh bagi kita untuk mempelajarinya kembali?