Pengajar(an) Buruh di Jawa

Sejarah Indonesia mengandung sejarah getir buruh. Sejarah mencatat jejak ajaran-ajaran tentang buruh, bermisi pengabdian atas kekuasaan dan hidup. Pengabdian sering ambigu, berpengertian sadar sebagai takdir atau pilihan untuk melakoni hidup dengan afirmasi hierarki sosial, ekonomi, teologi, politik, dan kultural. Buruh menjadi pokok dan tokoh: menjelaskan kisah manusia, dari zaman ke zaman. Buruh adalah manusia dengan derita, tawa, impian, air mata, doa, keluhan, kepasrahan, ketulusan.

Ki Ageng Suryomentaram (1985) menuturkan bahwa jiwa buruh adalah realisasi unsur-unsur pendidikan, pengalaman, pergaulan, dan pandangan hidup. Olahan pelbagai unsur membuat jiwa buruh tampil dalam corak-corak berbeda.  Buruh sering identik dengan golongan asor atau rendah. Buruh ada dalam inferiorisasi tapi memiliki akses meraih martabat: konsekuensi dan kompensasi utopis. Kualitas kerja buruh bisa diakumulasi sebagai modal, menaikkan posisi meski realisasi jiwa buruh masih terkekang dan teriikat oleh “pengabdian.” Buruh hidup dengan keterbatasan. Ikhtiar “mengatasi” dilakukan melalui afirmasi terhadap pelbagai nilai-nilai mengacu pada tatanan hidup kalangan elite.

Buruh ada dalam inferiorisasi tapi memiliki akses meraih martabat: konsekuensi dan kompensasi utopis.

Istilah buruh melekat ke pelbagai jenis pekerjaan. Nilai pengabdian buruh dalam anutan kultural Jawa dilegitimasi oleh penguasa sebagai kebajikan tertinggi dan terhormat. Pengabdian hampir seperti takdir, bersesuaian dengan referensi feodalistik. Pengajaran “jiwa buruh”  dan pengabdian memang halus, memakai medium sastra dan seni sebagai suguhan hiburan, edukasi, dan indoktrinasi. Buruh pun terjinakkan saat posisi mengawang untuk menggapai nilai-nilai formalistik-feodalistik, berbingkai kekuasaan, etika, estetika, filosofi.

Eksistensi dan kadar kepuasan buruh menentukan keberlangsungan tipe peradaban dalam jejaring ekonomi, politik, agama, hukum, pendidikan, dan seni. Sejarah Jawa tampil lugas, mengesankan puncak-puncak dan keruntuhan peradaban menggunakan acuan peran atau otoritas kelas penguasa. Buruh absen dari pembacaan peradaban. Jiwa buruh memang diajarkan secara intensif dalam pelbagai teks sastra Jawa tapi jarang tercatat sebagai subjek menentukan dalam kronik peradaban. Sekian teks sastra Jawa gamblang mengandung ajaran mengenai kodrat, mekanisme pengabdian, pamrih, berkah, dan kepasrahan.

Buruh pada masa lalu mungkin bisa disejajarkan dengan posisi abdi meski tak mutlak sama.

Buruh pada masa lalu mungkin bisa disejajarkan dengan posisi abdi meski tak mutlak sama. Serat Wulangreh gubahan Paku Buwono IV mengandung ajaran-ajaran untuk abdi: mengekspresikan pengabdian dengan pelbagai pembenaran dan janji muluk. Abdi menemukan makna kehadiran saat mengabdikan diri pada raja. Hidup dan mati dalam doktrin pengabdian  dikesankan seperti pencapaian tingkat kerohanian, mengacu ke kosmologi dan teologi. Pengabdian dikenai dalil-dalil profan dan sakral. Keringat buruh dan ketataatan pada Tuhan terepresentasikan dalam pengabdian pada raja.

Jiwa buruh tampak tampil dalam pembagian jenis perkerjaan atau pola pangkat (jabatan). Jiwa buruh terus mengalami penguatan dan pembentukan ulang sesuai situasi zaman. Nilai pengabdian buruh pun terukur melalui angka berkonteks ekonomi-politik. Penghitungan kualitatif bernalar kekuasaan tradisional segera dialihkan ke jenis kekuasan modern. Perubahan terjadi melalui klaim sosialisme, kapitalisme, modernisasi, demokratisasi, pembangunan, dan globalisasi. Jiwa buruh masih belum menemukan pintu kemerdekaan akibat  dominasi dari intruksi, imperatif, dan represi.

Ajaran menjadi abdi (buruh) dalam tarikan masa lalu terkandung dalam Serat Sasanasunu gubahan Yasadipura II. Abdi cenderung diartikan sebagai sebutan untuk calon priyayi (Sukri, 2004: 265). Yasadipuro II menulis: Kalamun tinitah sira/ angabdi jroning nagari/ den taberia sewaka/ yen durung pinaring sabin/ aywa sira angincih/ mrih mbalendung ingkang wadhuk/ pandhuk sadaya daya/ yen tak durung potong kardi/ tekdena awisma neg pasewakan (Jika engkau ditakdirkan/ menjadi abdi kerajaan/ hendaklah engkau rajin menghadap/ jika belum diberi sawah/ janganlah engkau bernafsu untuk memperoleh/ untuk menuruti keinginan perutmu/ atau ingin cepat memperoleh hasil/ jika engkau belum memperlihatkan kerja/ niatkanlah tinggal di paseban). Jiwa buruh dalam impian martabat kepriyayian terasakan dalam ajaran-ajaran dengan sentuhan kerohanian Jawa.

Misi dan nilai pengabdian malah tampil dalam eksplisitas pamrih tapi ada pengekangan etis dan politis pada diri buruh.

Misi dan nilai pengabdian malah tampil dalam eksplisitas pamrih tapi ada pengekangan etis dan politis pada diri buruh. Impian mesti dirawat dengan formalitas takdir, diacukan ke penguasa. Nilai dan makna kehadiran diri buruh hampir tak memiliki otonomi akibat kesenjangan pemberian-penerimaan. Model lawas disalin dalam kehidupan modern. Pemerolehan ijazah dari jenjang pendidikan tinggi tak sanggup menghapus mentalitas dan jiwa buruh demi pengabdian ber pamrih materialistik dan pragmatis. Jiwa buruh tanpa otonomi diri justru dilanggengkan, berdalil modern melalui institusi pendidikan, politik, ekonomi, media massa, atau keluarga.

Jiwa buruh pada masa sekarang identik dengan inferiorisasi dan mengandung stigma buram. Pola hubungan buruh-majikan masih diliputi godaan-godaan negatif dan destruktif. Ki Ageng Suryomentaram menuturkan: “Seorang buruh berjiwa persahabatan akan memandang majikan sebagai teman untuk mencukupi kebutuhan hidup bersama, teman untuk memberantas malas dan boros bersama, dan menjaga jangan sampai ada kekayaan digunakan untuk sewenang-wenang.” Tuturan mengandung kebajikan tapi susah direalisasikan pada zaman sekarang. Majikan nakal dan korupsi adalah kelumrahan. Buruh marah dan menderita adalah konsekuensi. Ajaran itu dimaksudkan untuk mencapai jiwa buruh merdeka dan bahagia. Begitu.

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi, Solo. Ia rutin menulis esai-esai kebudayaan yang sering menghiasi di berbagai surat kabar. Beberapa buku yang telah diterbitkannya antara lain: Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), dan Sepah Sahaja (2018).