Legenda menuturkan, atas perintah Sunan Bonang, Begal Lokajaya selama bertahun-tahun duduk di tepi sungai, menjaga tongkat sang sunan yang ditancapkan ke tanah. Dalam momen meditatif tersebut, apa yang Lokajaya lihat? Dan apa yang dia temukan?

Mari kita bayangkan dengan imajinasi yang lugu saja. Lokajaya tentu melihat tongkat. Sudah pasti dia melihat sungai dan seluruh lakon kehidupan di dalam dan di sekitarnya. Jangan lupa, dia juga melihat air yang mengalir. Jika sedang purnama, air yang jernih menjadi cermin yang memantulkan bayangan wajah indah bulan. Bergoyang-goyang seirama riak dan gelombang air.

Dari sudut pandang semiotika spiritual, semua penglihatan bermakna tersebut mengandung kawruh tersembunyi. Tak semua penglihatan Lokajaya bisa kita telusuri seluk-beluk perlambangannya dalam artikel pendek ini. Karena itu, kita kupas dua penglihatan saja, yaitu lakon kehidupan di lingkungan sungai dan air yang mengalir.

Di sungai, ada katak. Saat lapar, lidahnya menyambar lalat lewat. Dalam perisitiwa ini, siapa yang baik dan siapa yang jahat? Siapa yang benar dan siapa yang salah?

Lalat jelas tidak salah. Di pihak lain, katak pun tak bisa disalahkan. Dia hanya lapar. Dan lapar bagi katak merupakan gejala alamiah. Justru kalau dia lapar tetapi tak makan walaupun ada santapan, sikap bertarak brata itu malah tidak alamiah. Apa katak, yang bertindak selaras dengan kodrat alam, layak disalahkan?

Itu pertimbangan pertama. Pertimbangan kedua untuk menilai benar salahnya perbuatan katak terhadap lalat adalah siklus rantai makanan. Lalat dimakan katak. Katak dimakan ular. Ular dimakan elang. Setelah mati dan menjadi bangkai, elang dimakan lalat. Jadi, salahkah katak bila dia memangsa lalat? Salahkah lalat bila dia menyantap daging elang yang telah busuk?

Tentang hal ini, ada satu cerita. Suatu hari, dia tetangga Nasruddin Koja berdebat sengit. Awalnya, mereka hanya berbincang tentang isu kontroversial yang sedang hangat di kampung.

Opini mereka ternyata bertentangan. Si Fulan memihak ke sini. Si Falun membela ke sana. Kedua merasa benar, bahkan yakin dengan kebenarannya masing-masing.

Tambah lama, berdebat tambah mengkontras. Tak tampak titik temu. Perdebatan seakan tanpa ujung.

Karena sudah lelah beradu lidah, mereka menunda kelanjutan debat. Pulang ke rumah masing-masing.

Rupanya, mereka tak langsung pulang. Tanpa saling mengetahui rencana di kepala “lawan”, mereka datang ke rumah Nasruddin. Satu-satu. Sendiri-sendiri. Kebetulan tak berpapasan di jalan. Tak pula bertemu di kediaman Nasruddin.

Pertama-tama, Fulan yang bertamu. Di hadapan Nasruddin, dia memaparkan alur debat secara runtut dan rinci.

“Bagaimana, Kiai?,” tanya Fulan, “Saya ‘kan yang benar? Falun salah, ‘kan?”

“Iya, kamu benar,” jawab Nasruddin. Tanpa berpikir panjang. Mungkin malah tanpa berpikir sama sekali.

Fatimah, istri Nasruddin, menguping percakapan di ruang tamu dari balik tembok. Fulan lega dengan pembenaran dan pembelaan dari Nasruddin, yang katanya orang paling pintar seantero kampung. Fulan pulang membawa piala kemenangan di hatinya.

Satu jam kemudian, Falun sampai di rumah Nasruddin. Sebagaimana Fulan, Falun pun mengisahkan alur debat, dari awal yang jelas hingga akhir yang tak selesai.

“Aku yakin sekali,” ujar Falun, “akulah yang benar. Bukan begitu, Kiai?”

“Iya, kamu benar,” ucap Nasruddin. Ringan sekali. Falun pun pulang dengan dada yang bangga, penuh berisi rasa menang.

Fatimah, yang mencuri dengar obrolan Nasruddin dan Falun, segera menghampiri suaminya yang membingungkan.

“Mas, tadi Fulan dibenarkan. Sekarang Falun juga dibenarkan. Mana mungkin dua-duanya benar.”

“Benar, Fatimah. Kamu juga benar.”

Tidak sukar memahami anekdot ini. Nasruddin melambangkan pikiran tercerahkan.

Dalam konteks psikis (bukan dalam konteks sosial, hukum, dan sains), pikiran setidaknya terbagi menjadi tiga tingkat. Tingkat paling bawah adalah pikiran kaku yang dalam kitab kuning disebut qalbun qasiyy, bertalian dengan nafsu lawwamah (blaming soul). Tingkat berikutnya adalah pikiran lentur, yang dalam kitab kuning diistilahkan qalbun layyin. Pikiran lentur berada di fase transisi antara nafsu lawwamah dan nafsu muthmainnah (peaceful soul). Tingkat paling atas adalah pikiran tercerahkan yang berkorelasi dengan nafsu muthmainnah.

Pikiran kaku berkata, “Pokoknya, pendapat ini salah. Hanya pendapat itu yang benar.” Pikiran lentur berkata, “Pendapat ini bisa jadi salah. Tapi, mungkin mengandung kebenaran. Pendapat itu benar. Tapi,
barangkali tak bersih dari noda kesalahan.” Pikiran tercerahkan berkata, “Pendapat ini benar. Pendapat itu benar. Yang mempertanyakan kok dua-duanya benar, dia juga benar.”

Fulan, Falun, dan Fatimah menilai sesuatu dengan pikiran yang kaku, yang hitam putih. Ini adalah modus sekaligus maqam berpikir yang sepanjang sejarah telah terbukti melemparkan manusia ke dalam neraka peperangan.

Sementara itu, Nasruddin melihat realitas dengan pikiran yang tercerahkan. Dalam Buddhisme Zen, maqam berpikir ini disebut “pikiran pemula”. Seperti kanak-kanak, kita menyaksikan realitas dengan polos.

Tanpa terbebani penilaian atau pun penghakiman yang membelenggu.
Gunung, misalnya, pada kenyataannya adalah gunung saja. Tidak ada gunung yang baik atau yang jahat.

Tidak ada gunung yang benar atau yang salah. Tidak ada gunung yang indah atau yang jelek. Gunung berada di sana dalam posisi netral. Manusia, yang disetir nafsu lawwamah, menempelkan nilai tertentu kepadanya.

Katak yang memangsa lalat, dia tidak salah tetapi juga tidak benar. Tidak jahat. Baik juga tidak.

Realitasnya, dia adalah katak. Hanya seekor katak yang menjalankan peran kehidupan sebagai katak. Saat memangsa lalat karena lapar, katak sekadar menjalankan titah Semesta.

Sekali lagi ditegaskan, realitas pada dasarnya netral dan utuh. Pikiran manusialah yang memilah, membagi, memperingkat, dan mengevaluasi realitas. Wawasan tentang netralitas realitas ini dalam Buddhisme Zen disebut sunyata, dalam Hinduisme terangkum dalam doktrin advaita (nondualitas), dan dalam sufisme barangkali merupakan implikasi akliah doktrin wahdatul wujud.

Sebagai catatan dengan tinta merah, wawasan ini dalam ranah hukum tak bisa digunakan sebagai dalil untuk melegitimasi kesalahan manusia sebagai makhluk berpikir yang bertanggung jawab. Netralitas realitas adalah kawruh atau vidya, yaitu wawasan untuk menata kejiwaan kita. Kebenaran suatu kawruh bersifat kontekstual. Kawruh adalah wawasan bener yang harus diterapkan secara pener.

Kembali pada soal katak memangsa lalat yang kita bayangkan dilihat Lokajaya saat duduk di tepi sungai.

Setelah melihat, mengamati, dan merenungkan fenomena tersebut, barangkali Lokajaya juga sampai pada insight bahwa katak tak salah tetapi juga tak benar.

Namun demikian, untuk mengkomunikasikan hal itu secara tak membingungkan, dikatakan bahwa katak benar saat memangsa lalat. Ular benar saat memangsa katak. Elang benar saat memangsa ular. Dan akhirnya, lalat benar saat menyantap bangkai elang.

Bila pikiran telah tercerahkan, maka tindak-tanduknya bagai air sungai yang mengalir. Nglaras ilining banyu. Ngeli ning ora keli. Itulah pesan yang terdapat dalam Serat Lokajaya. Menyelaraskan diri dengan aliran air sungai. Mengalir tetapi tak hanyut.

Saat menjaga tongkat Sunan Bonang, Lokajaya tentu melihat air sungai yang mengalir. Sangat mungkin bahwa dia juga merenungi makna “guru simbolis” tersebut dalam meditasinya yang tak disengaja.

Dengan penglihatan dan perenungan yang liberatif dari segi kejiwaan/kebatinan itu, tidak aneh bila ternyata kelak Lokajaya diangkat menjadi ulul albab bergelar Sunan Kalijaga. Pikirannya telah berada dalam alam nafsu muthmainnah.

Pasti dia tak seperti kita yang suka menghakimi, yang sedikit-sedikit marah, yang suka bertengkar buta. Sunan Kalijaga adalah cermin bening yang membuat kita, terutama saya, tertunduk malu setelah menatap betapa bopengnya bayangan wajah sendiri. Dia bagai permukaan air sungai yang memantulkan secara jujur bayangan benda dan makhluk di sekitarnya. Barangkali begitu.

Rahayu. Rahayu. Rahayu.