Rentang tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an, pesantren merupakan salah satu objek yang banyak dikaji, ditelaah, didiskusikan, dan dibicarakan oleh para akademisi, cendekia, dan ilmuwan, baik asing maupun dalam negeri, melalui berbagai penelitian, diskusi, seminar, buku dan bentuk-bentuk publikasi ilmiah lainnya. Terlepas dari berbagai motif dan alasannya, intensitas dan gairah yang begitu tinggi semacam itu memang layak didapatkan pesantren mengingat bahwa pesantren merupakan bagian teramat penting dari Islam Indonesia.

Potret Pesantren di Layar Perak

Jika kita menelusuri jejak masa lalu pesantren, kita akan selalu sampai pada Islam Nusantara, sebuah jaringan kerja yang dijalin oleh para wali dan ulama masa lalu. Jaringan ini merupakan organisme aktif yang memiliki sistem kerja yang canggih, berspektrum luas–budaya, reliji, edukasi, politik, sosial–dengan cakupan geografis yang juga tidak kalah luasnya; secara regional, jaringan kerja ini meliputi wilayah yang kini kita sebut sebagai ASEAN, sementara secara internasional, para ulama Nusantara tampil sebagai aktor yang mewarnai panggung sejarah dunia Islam, sebuah peran yang sayangnya hingga saat ini belum pernah dimainkan lagi oleh umat Muslim Indonesia. Jaringan inilah yang merawat apa yang pernah dibangun oleh Majapahit di masa lalu, dan membentuk pandangan dunia (Wawasan Nusantara) mengenai kesatuan geografis, budaya, sosial, politik bagi kita sebagai sebuah bangsa di masa sekarang ini.

Menarik untuk melihat bagaimana pandangan-pandangan dan definisi tersebut terartikulasi dalam berbagai bentuk: mulai dari kebijakan negara, program-program pemberdayaan pesantren yang dilakukan oleh banyak LSM, hingga seni. Studi mengenai kebijakan negara terhadap pesantren telah banyak  dilakukan dan dapat ditemukan secara melimpah di berbagai perpustakaan, demikian juga studi mengenai program-program pemberdayaan.

Saat ini, kita akan melihat bagaimana pesantren diartikulasikan melalui seni, khususnya film–tanpa perlu larut dalam perdebatan mengenai capaian estetisnya atau apakah film adalah fine art atau entertaint.

Film merupakan media yang dengan mudah dapat disimak, baik dengan serius maupun secara sambil lalu (disambi), oleh banyak orang. Selain itu, rekaman realitas dalam film juga meninggalkan jejak yang lebih dalamketimbang bentuk-bentuk lainnya.

Merekam Pesantren: Dekade 1990-an hingga Generasi Noceng

Selain masih dicirikan dengan membanjirnya film-film komedi seks, horor seks, dan roman-roman percintaan menjurus seks–seperti halnya dekade 1980-an–dekade 1990-an juga tercatat sebagai titik mula kelesuan dunia perfilman Indonesia. Lesunya film dalam negeri ini membuat film-film impor dari berbagai negara merajai pasar perfilman kita. Selain Hollywood, yang memang telah menguasai pasar perfilman sejak masa-masa yang sangat awal, pasar film dekade 1990-an juga dipenuhi oleh film-film produksi Hong Kong, atau lazim disebut sebagai film Mandarin, dan film-film India. Di samping itu, masa ini juga mencatat adanya penyusutan jumlah bioskop yang terjadi secara luar biasa. Jaringan bioskop yang pada masa-masa sebelumnya dapat kita temui di kota-kota kabupaten, bahkan kecamatan (di wilayah kecamatan saya sendiri terdapat dua buah bioskop), satu persatu gulung tikar, sementara bioskop-bioskop di kota besar pun mulai kehilangan penonton. Selain barangkali karena jenuh dengan film yang bertema itu-itu saja, banyak pengamat mengatakan bahwa merebaknya stasiun televisi swasta dan teknologi cakram padat (VCD) turut memberi andil dalam fenomena keruntuhan bioskop ini.

Namun, di tengah suasana prihatin tersebut, kita masih bisa mendapatkan film dengan latar pesantren: Nada dan Dakwah, yang lagi-lagi disutradarai oleh Chaerul Umam dan ditulis oleh Asrul Sani. Masih dengan kecenderungan menjauhi tema-tema mainstream,produksi film ini menampilkan dua sosok paling populer pada masa itu: Rhoma Irama dan K.H. Zainuddin M. Z.

Entah pertimbangan apa yang melatari keikutsertaan keduanya, terutama Kyai Zainuddin, dalam film ini, namun yang jelas film ini menuai sukses di mana-mana. Kyai Zainuddin bahkan dinominasikan sebagai pemeran pembantu terbaik pada FFI, namun beliau secara pribadi mengundurkan diri dari penominasian tersebut setelah umat keberatan ada seorang kyai bermain film.

Dalam film ini, sekali lagi kita mendapat gambaran mengenai komitmen sosial pesantren, bahkan kali ini dipertegas dengan sedikit menyinggung efek pembangunan yang digulirkan secara membabi-buta oleh rejim Orde Baru. Kisah film ini berpusar pada upaya penggusuran lahan penduduk suatu desa yang kemudian dilawan oleh penduduk dengan bantuan pesantren. Upaya tersebut berhasil. Warga desa selamat dari penggusuran, dan film ini sendiri tidak mendapat larangan dari pemerintah, meski isinya sedikit menyindir pemerintah. Dengan keberhasilan film yang ketiga ini, tak pelak duet Chaerul Umam dan Asrul Sani menjadi duet paling berhasil dalam menggarap film-film semacam itu–barangkali, keberhasilan duet ini hanya bisa disaingi oleh sinetron-sinetron religi Dedi Mizwar.

Di luar bidang perfilman, tahun 1990-an juga mencatat terjadinya diseminasi massif dari ide-ide tentang demokrasi, kesetaraan, pluralisme, feminisme, dan ide-ide baru lainnya berkenaan dengan pembentukan masyarakat sipil (atau dalam versi ICMI, masyarakat madani). Tekanan pemerintah yang begitu ketat membuat ide-ide tersebut laris manis dikonsumsi. Tahun 1998 ketika Presiden Suharto akhirnya dijatuhkan oleh gerakan mahasiswa, wacana dan ide-ide impor tersebut semakin mendapat tempat di Indonesia yang baru saja sukses melakukan Reformasi–namun belum berhasil lepas dari berbagai jebakan krisis. Hingga saat itu, para sineas belum tergerak untuk merespon ide-ide tersebut. Meski demikian, benih-benih ide-ide tersebut telah tersemai di kepala para pembuat film masa depan dan siap diartikulasikan dalam karya mereka kelak.

Barangkali perlu juga dicatat bahwa masa-masa itu adalah masa-masa maraknya Mtv, sebuah stasiun musik luar negeri. Mungkin karena Mtv, atau hal-hal lain, para musisi kita berlomba-lomba membuat video yang bagus untuk karya musik mereka. Di tengah lesunya produksi perfilman, industri video klip merupakan ladang baru yang dapat menghidupi para sineas dan calon sineas, sekaligus tempat untuk memupuk kemampuan teknis membuat film. Tumbuhnya berbagai stasiun televisi swasta juga menjadi ladang bagi para sineas, selain juga maraknya iklan–yang berarti ladang lain lagi bagi para calon sineas.

Pada sekitar tahun 1997, terdapat eksperimen-eksperimen film pendek yang cukup mendapat sambutan dari publik yang tengah haus film-film di luar tema pasaran. Kuldesak dan Bintang Jatuh adalah dua di antara film-film yang menunjukkan adanya bakat-bakat menjanjikan, meski dunia film kita tengah lesu darah. Dan, tidak lama setelah eksperimen-eksperimen tersebut, muncullah film Ada Apa Dengan Cinta (AADC), sebuah film remaja yang meramaikan kembali dunia perfilman kita. Saat itu, banyak orang tersadar akan adanya bakat-bakat baru dunia film yang eksperimennya layak untuk disimak dan diapresiasi.

Sukses AADC–saya masih ingat betapa panjangnya antrian untuk mendapat tiket film ini–mendorong kemunculan film-film Indonesia lainnya. Ditambah beberapa faktor lain, booming film pun melanda Indonesia. Namun, telikungan kaum industrialis yang terlalu dahsyat membuat harapan-harapan akan kemunculan film Indonesia yang bermutu segera padam. Kurang dari sepuluh tahun setelah kemunculan AADC, rumah-rumah produksi film di negara ini menjadi tempat kelahiran berbagai macam film hantu, seks, dan para pelawak yang, dalam bahasa gaul masa itu, jayus banget. Demikianlah, gejala yang terjadi pada masa-masa sebelumnya kembali menimpa: horor lagi, seks lagi, komedi tak lucu lagi. Herannya, rentang dekade seolah tak membuat para industrialis menjadi kreatif untuk menemukan formula baru dalam menciptakan film yang laku (hampir tiga dekade formula hantu, seks, dan komedi bodoh dipakai terus). Dan, penonton pun bosan, film Indonesia kalah lagi, dijauhi penonton yang lebih memilih film impor (dengan harga tiket bioskop yang sama, tentu menonton film impor lebih memuaskan ketimbang melihat hantu, seks yang nanggung, dan komedi bodoh yang tidak lucu).

Namun, tidak semuanya berjalan demikian. Masih ada nama-nama seperti Mira Lesmana, Riri Riza, Rudi Soejarwo, Joko Anwar, suami istri Sihasale, Hanung Bramantyo, dan beberapa nama lain yang masih berupaya tidak larut dalam arus yang diciptakan para industrialis sehingga eksperimen-eksperimen mereka layak untuk disimak. Di antara nama-nama tersebut Hanung muncul sebagai sutradara yang mengangkat film bertema religi,beberapa di antaranya berlatar pesantren. Hanung, seorang pegiat teater dari Jogja yang kemudian menggeluti film di Jakarta, dianggap sementara kalangan sebagai salah satu sutradara menjanjikan ketika dia meluncurkan film debutnya. Meski pada awal kariernya Hanung lebih banyak mengangkat tema-tema “sekuler,”namun pada fase berikutnya dia justru lebih banyak membuat film-film bertema religi.

Film religi pertamanya, Perempuan Berkalung Surban (PBS) sukses mengundang kontroversi, sementara film religi keduanya Ayat-ayat Cinta yang diadaptasi dari novel laris berjudul sama, sukses meraih keuntungan finansial fantastis. Hanung juga menggarap tema-tema yang dekat dengan religi ketika membuat film Sang Pencerah, Tanda Tanya, dan Cinta Tapi Beda.

Dan, film Hanung yang mengangkat tema pesantren dan sukses menyulut kontroversi adalah PBS. Film yang diadaptasi dari novel ini, sarat dengan tema tentang feminisme dan ide-ide turunannya, atau kerinduan perempuan untuk menciptakan lingkungan yang adil bagi eksistensinya. Kontroversi muncul karena Hanung menjadikan lingkungan pesantren sebagai latar dari filmnya, atau yang lebih tepat idenya tentang feminisme, tanpa disertai observasi yang mendalam.

Rekaman tentang dunia pesantren lainnya datang dari sutradara Nurman Hakim melalui film 3 Doa 3 Cinta. Ditilik dari kariernya, Nurman boleh disebut sebagai sutradara baru di dunia perfilman nasional. Film 3 Doa 3 Cinta adalah film panjang perdana sutradara muda ini, dan film inilah yang mengangkat namanya dalam kancah perfilman nasional. Berbeda dengan Hanung, Nurman adalah seorang yang akrab dengan lingkungan pesantren–dalam beberapa wawancara dia mengaku pernah tinggal di sebuah pesantren. Bagusnya, film ini tidak larut dalam dramatisasi yang keterlaluan. Untuk itu, sutradara menghadirkan dua tokoh lain yang memiliki latar belakang tidak sedramatis tokoh pertama. Seorang santri lain berasal dari keluarga berkecukupan sementara satunya lagi berasal dari keluarga miskin yang terpaksa melepaskan satu persatu harta keluarga demi biaya pengobatan ayahnya yang tengah sakit. Strategi menghindar dari dramatisasi yang keterlaluan juga dilakukan dengan cara menggambarkan aktivitas ketiga santri tersebut. Di luar kegiatan mengaji dan ibadah yang lazim berlangsung di pesantren, mereka bertiga adalah para remaja yang menjalani hidup seperti umumnya remaja lain. Maka, dalam film ini kita melihat kenakalan-kenakalan khas remaja ketika mereka menyelinap keluar dari pesantren untuk menonton pentas dangdut, menonton film misbar (gerimis bubar atau layar tancap), menguntit kelompok layar tancap, atau bahkan diam-diam mendapat ciuman dari sang penyanyi dangdut.

Penting dicatat bahwa ketika film ini dibuat, isu tentang terorisme tengah mendapatkan aksentuasinya dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dan, entah bagaimana, isu tersebut secara tidak langsung dilekatkan pada pesantren. Fenomena ini direspon oleh Nurman Hakim dalam filmnya ini–film terbaru Nurman Hakim, Khalifa, bahkan secara khusus mengangkat tentang kelompok radikal. Suatu hari, secara kebetulan ketiga sahabat ini mengikuti pengajian sebuah kelompok lain, yang saat ini lazim kita sebut sebagai Islam garis keras. Sepulang dari pengajian tersebut, dua santri langsung merasa tidak cocok dengan pengajaran yang berlangsung di sana karena dianggap berbeda dengan apa yang disampaikan kyai mereka. Sementara, si santri yang berasal dari keluarga miskin merasa mendapat pencerahan dan tertarik dengan ajaran yang disampaikan dalam pengajian tersebut.

Kita melihat bagaimana film ini menampilkan pesantren sebagai sebuah dunia yang akrab, sebagai sebuah realitas yang mendekati sebenarnya. Tanpa dibebani dengan prasangka-prasangka tertentu, kamera merekam apa yang lazim terjadi di pesantren: latar belakang para penghuninya, aktivitasnya, termasuk kenakalan-kenakalan santri-santrinya. Gambaran semacam ini barangkali tidak akan didapat seandainya tidak ada kedekatan tertentu antara sutradara dengan dunia pesantren. Lewat “kebersahajaan” semacam itu pula sutradara menyangkal anggapan bahwa pesantren adalah sarang teroris. Kita melihat bagaimana sutradara berupaya menyampaikan bahwa meski barangkali ajaran yang disampaikan di pesantren dan jamaah pengajian “radikal” sama, namun penafsiran dari kedua “kubu”tersebut sangat berbeda. Di samping itu, ketertarikan orang pada gerakan-gerakan “radikal” tidak semata-mata didorong oleh ajaran, namun juga kecenderungan pribadi. Dalam kasus film ini, kita melihat kedua orang santri yang lebih “santai” menerima ajaran dari pengajian semacam itu. Sementara satu orang santri, dapat menerima ajaran “radikal”karena, agaknya, lebih sesuai dengan pengalaman personalnya.

Sebenarnya, masih ada beberapa film tentang pesantren di luar ketiga film yang kita bahas di atas. Namun,kita dapat mengamati satu gejala yang sama dalam film-film semacam itu, terutama yang diproduksi pada era 2000-an. Berbeda dengan era-era sebelumnya yang cenderung menggambarkan adanya suatu “visi sosial pesantren”–di mana pesantren berkomitmen terhadap isu-isu sosial dan secara aktif berupaya mencari solusi atas persoalan sosial yang menimpa masyarakat–film pesantren produksi era 2000-an cenderung mengamputasi komitmen sosial semacam itu. Dalam hal ini, lensa diarahkan sepenuhnya untuk “meliput” kehidupan para santri di dalam pesantren, seolah ingin memperkenalkan pada para penonton seperti inilah rupa sebuah komunitas yang oleh Gus Dur disebut sebagai sub kultur ini.

Daripada menggambarkan streotipe-streotipe mengenai pesantren yang tertinggal, tradisional, tidak peka modernitas, kolot, dan atribut-atribut negatif lainnya, film-film berlatar pesantren produksi era 2000-an lebih menampilkan potret santri sebagai prototipe manusia unggulan: pintar, saleh, terpuji, tampan, dan memiliki potensi untuk mendapat kehidupan yang beruntung di dunia dan akhirat kelak. Sebuah potret yang memang digandrungi di tengah masyarakat yang semakin konsumtif terhadap segala hal yang berbau agama ini.

Pemuda-pemuda seperti Fahri dalam Ayat-ayat Cinta tentulah banyak mengisi imajinasi para wanita untuk dijadikan sebagai kekasih atau suaminya dan menjadi harapan orang tua masa kini terhadap sosok anaknya. Sayangnya, kita tidak melihat lagi adanya komitmen sosial dari para santri “cakep” tersebut.

Akhirnya, kita bisa mendapati bahwa di era 2000-an ini para produsen film telah menemukan formula lain untuk menciptakan film laris: sosok religius yang mumpuni dalam segala bidang kehidupan yang dihasilkan dari pesantren. Namun bagaimana nasib pesantren dan para santrinya sendiri? Tampaknya, di luar eksperimen yang dilakukan oleh Nurman Hakim melalui 3 Doa 3 Cinta, nasib pesantren belum bergeser jauh: dari sasaran streotipikasi menjadi sebuah komoditas.

Namun, semoga saja kita bisa membaca gejala ini sebagai sebuah proses dalam membentuk pandangan yang lebih dewasa terhadap pesantren. Semoga. Paling tidak, setiap masa mempunyai generasi dan pola usahanya sendiri. Untuknya,selain memang diperlukan ketekunan, tirakat, pula tentunya penting untuk kemudian mendudukkan bersama antar stakeholder untuk kembali menggairahkan proses pembentukan pandang terhadap pesantren. Setidaknya,tidak hanya sebagai komodifikasi atau pelahuran streotifikasi, tapi pula mengembangkan segmentasi di wilayah tersebut pula memperluas varian dalam dunia perfilman itu sendiri. Demikian kira-kira harapannya.