Ruang Tamu dan Kesadaran Ekologis

Pertunjukan teater dokumenter tapak tilas tanah basah mengangkat narasi kecil soal permasalahan ekologis di Rancaekek. Menjadikan ruang tamu sebagai ruang pertukaran pemahaman, pengalaman, dan pengetahuan.

****

Tikar dihamparkan serupa huruf U, mengitari dua kursi dan satu meja yang diletakkan berjauhan di kiri dan kanan panggung pertunjukan. Tiap baris tikar diberi jarak, cukup untuk berjalan dua orang. Dua gelas breaker berisi tanah basah, selendang batik, serta piring gerabah yang di atasnya ada tungku dupa, roti, bunga kamboja kuning, dua sisir pisang, kemenyan, dan korek api gas diletakkan di antara tikar.

Shinta Shantana, seorang perempuan paruh baya asal Bandung, mempersilakan penonton program Rubik dalam Festival Seni Gugus Bagong 2022, menyantap rengginang yang disuguhkan dalam piring-piring rotan. “Dibawa langsung dari Rancaekek,” ujarnya sambil tersenyum ramah, menyambut penonton yang telah duduk rapi di “ruang tamu”. Shinta dan Wawan Kaswan, dua penampil malam itu (16/11/2022), mengawali pertunjukan teater dokumenter tapak tilas tanah basah, dengan memperkenalkan diri sebagai pasangan suami istri asal Rancaekek, sebuah kawasan di pinggir timur Kota Bandung, Jawa Barat.

Masa Silam – Masa Kini: Dari Agrikultur ke Manufaktur

Gamelan degung Sunda diperdengarkan, Pak Wawan menari di depan bentangan kanvas pemandangan sawah yang hijau, keringatnya bercucuran. Dua foto diri lawas berwarna kecoklatan di tengah layar, menjadi penghubung antara memori masa lalu dengan kesadaran masa kini. Seusai menari, ia melepas sarung dan hiasan kepala merah serta selendang kuning, lalu duduk kembali di kursi. 

Bu Shinta lantas mengajak penonton memasuki ruang Rancaekek melalui bentang layar. Peta topografi wilayah, visual rawa-rawa yang hijau sebagai asal dari nama ranca (rawa: Sunda), suara cericit burung, kecipak air dan klontong kerbau, membawa penonton lesap dalam ruang yang berbeda, nun jauh di Jawa Barat sana.

Pak Wawan tengah menari di depan dua foto dirinya.

Pak Wawan yang lahir, besar, dan tinggal di Rancaekek, menimpali kisah Bu Shinta. Sembari menerawang, ia mengenang hamparan sawah hijau dan rawa-rawa di Rancaekek yang menjadi ruang hidup berbagai binatang endemik, termasuk burung ekek. Puluhan tahun yang lalu, beras Rancaekek terkenal pulen, lezat, dan tak mudah busuk. Meski panen raya hanya dilakukan sekali dalam satu tahun, lumbung-lumbung selalu penuh, mereka tak pernah kekurangan beras. Namun kini yang tersisa hanyalah gembok lumbung yang tua nan berkarat.

Di layar, terpampang foto hitam putih petani yang tengah membajak sawah dengan kerbau. Pak Wawan berdiri dari duduknya, mengambil sebilah ranting, dan mulai berjalan di antara penonton. Tangan kanannya menyabet ranting ke ruang kosong, sementara tangan kirinya mengulur ke depan, seakan tengah berusaha mengarahkan kerbau.

Sembari berjalan, ia tak henti-hentinya menembang dan berceletuk kocak dalam bahasa Sunda. Suasana panggung menjadi semarak. Begitu juga saat ia menirukan para ibu-ibu yang menanam padi sambil bergosip. Sontak, penonton tertawa terpingkal-pingkal.

Ketika Pak Wawan mulai menyalakan dupa dan berdoa untuk Nyi Pohaci (dewi padi dalam kepercayaan Sunda kuno) seperti yang dahulu dilakukan para petani sebelum masa tanam/panen, penonton pun larut dalam khusyuk. Menghayati suasana Rancaekek puluhan tahun lalu, ketika alamnya masih subur.

Pemandangan lumrah tersebut perlahan hilang ketika kebijakan revolusi hijau mulai digaungkan pada masa pemerintahan Suharto. Modernisasi pertanian yang berorientasi pada peningkatan produksi, memaksa petani meninggalkan cara-cara tradisional dalam mengolah tanah. Bibit unggul, pestisida, pupuk kimia, dan traktor menjerat petani dalam ilusi pembangunan dan kemajuan yang harus dibayar mahal: kerusakan ekosistem, kepunahan binatang endemik, dan jerat kapitalisme yang kian mencekik.

Pemandangan lumrah tersebut perlahan hilang ketika kebijakan revolusi hijau mulai digaungkan pada masa pemerintahan Suharto. Modernisasi pertanian yang berorientasi pada peningkatan produksi, memaksa petani meninggalkan cara-cara tradisional dalam mengolah tanah.

Bentang alam dan lanskap sosial Rancaekek pun terus berubah. Wilayah Rancaekek yang sebenarnya merupakan zona hijau dengan peruntukan pertanian, kini penuh sesak dengan pabrik, terutama pabrik tekstil. Berdirinya pabrik tekstil selalu dibarengi dengan permasalahan klasik: limbah.

Limbah yang dihasilkan oleh industri tekstil berasal dari sisa-sisa proses pengolahan dan pewarnaan kain yang menggunakan berbagai zat kimia tak ramah lingkungan. Tiap-tiap proses menghasilkan polutan dalam bentuk cair, mulai dari desizing/pelepasan kanji, scouring/pencelupan, bleaching, mercerization, dying/pewarnaan, hingga finishing. Polutan limbah tekstil tersebut biasanya berwarna dan mengandung logam berat ataupun materi yang berbahaya.

Di Rancaekek, limbah cair tersebut dibuang ke saluran air dan sungai-sungai kecil yang juga dimanfaatkan untuk mengairi sawah. Limbah berwarna hitam pekat tampak kontras dengan air kali yang kecoklatan, tergambar jelas dalam layar. Pak Wawan mengangkat dua gelas breaker berisi air limbah hitam dan air jernih, lalu mengedarkannya kepada para penonton secara bergantian. Saya meraih gelas breaker berisi air hitam pekat. Bau air yang bercampur dengan limbah, busuk menyengat.

Rancaekek yang dibawa oleh Bu Shinta, Pak Wawan, bersama dengan Riyadhus Shalihin dkk ke ruang pertunjukan ini punya dua wajah yang kontras: masa silam dan masa kini. Rawa-rawa dan persawahan yang hijau, kini sudah berubah menjadi deretan pabrik. Tak terdengar lagi kaok burung ekek, riang obrolan petani, lenguhan kerbau, dan cericit burung pipit. Yang kini terdengar hanyalah riuh bunyi mesin dan suara ribuan pekerja pabrik, bak dengung lebah yang keluar dari sarangnya tiap sore hari. Di ruang tamu mereka, kesadaran saya tergedor.

Di layar, terpampang foto Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto mengangkat seikat tanaman padi saat menghadiri panen raya di lokasi transmigrasi Tanah Miring III, Kab. Manokwari, Irian Jaya pada 1994 (dokumentasi Antara).

Ruang Tamu dan Tubuh sebagai Arsip Ekologis

Narasi tentang persoalan ekologis kerap kali disajikan dalam bentuk data-data yang kaku, menggunakan ukuran atau skala. Sebagai intisari dari kondisi faktual yang melibatkan interaksi antara lingkungan dengan masyarakatnya.

Sedangkan masyarakat yang ruang hidupnya terdampak, seringkali dianggap tak mampu “berbicara” akan permasalahannya sendiri. Pengalaman dan ketubuhan mereka perlu diwakili oleh data atau bahkan juru bicara yang berasal dari luar masyarakat tersebut. Misalnya, saat ibu-ibu petani dari Kendeng menyemen kakinya di depan istana pada 2017 lalu, sebagai bentuk protes pendirian pabrik semen Heidelbergcement, tak sedikit yang mempertanyakan validitas aspirasi mereka.

Namun, teater dokumenter tapak tilas tanah basah, tidak menggunakan logika semacam itu. Persoalan ekologis Rancaekek karena perubahan wilayah agrikultur menjadi manufaktur sejak kebijakan pembangunan ekonomi digaungkan oleh Orba, disampaikan langsung oleh masyarakat setempat, Pak Wawan dan Bu Shinta. Sebuah narasi kecil dari pinggiran yang selama ini terabaikan, diberi ruang dalam sebuah panggung pertunjukan.

Ruang ekologi Rancaekek dibawa masuk ke dalam sebuah setting ruang tamu di panggung Paguyuban Seni Bagong Kusudiarjo (PSBK). Penonton ditempatkan sebagai tamu, pihak luar. Sementara Pak Wawan dan Bu Shinta dihadirkan untuk menyampaikan kesaksian dari dalam. Di ruang tamu, terjadi pertukaran pemahaman antara pihak luar – pihak dalam yang menghasilkan empati terhadap persoalan ekologis di Rancaekek. Ruang tamu menjadi gudang peristiwa dan memori, tempat pengalaman dan pengetahuan dipertukarkan.

Keputusan artistik tersebut merupakan pilihan sadar dari Riyadhus Shalihin (sutradara), Afida Rahmati (skenografer), dan Faiz Azhari (periset). Mereka membuat skenografi dan menyusun dramaturgi pertunjukan dengan menempatkan diri sebagai tamu, yang ngangsu kawruh (belajar/memohon pencerahan: Jawa) kepada Pak Wawan dan Bu Shinta. Mereka pun menempatkan keduanya sebagai subjek yang mampu dan berhak berbicara akan permasalahannya sendiri.

Hal itu terbukti lewat proporsi pertunjukan yang seimbang. Seluruh visual, soundscape, dan properti yang dihadirkan dalam panggung pertunjukan, memperkuat keberadaan dua subjek utama. Meski tak banyak, seluruh properti panggung berfungsi secara maksimal untuk menyampaikan cerita (story telling). Pak Wawan dan Bu Shinta pun mampu bersetia pada susunan dramaturgi pertunjukan, sehingga berhasil membangun suasana “ruang tamu” yang diinginkan.

Saat pertunjukan berlangsung (sebagai penonton sekaligus tamu), saya merasa dibawa ke suasana puluhan tahun yang lalu saat Pak Wawan memeragakan ritual seren taun untuk Nyi Pohaci. Saya dapat membayangkan suasana sawah di Rancaekek saat Pak Wawan berkeliling mengarahkan kerbau untuk membajak secara imajiner.

Saat pertunjukan berlangsung (sebagai penonton sekaligus tamu), saya merasa dibawa ke suasana puluhan tahun yang lalu saat Pak Wawan memeragakan ritual seren taun untuk Nyi Pohaci. Saya dapat membayangkan suasana sawah di Rancaekek saat Pak Wawan berkeliling mengarahkan kerbau untuk membajak secara imajiner. Saya seakan menyaksikan secara langsung ibu-ibu yang menanam padi sambil bergosip dari celetukan kocak Pak Wawan dalam bahasa Sunda.

Meski sempat tinggal selama dua bulan di Bandung, kosakata bahasa Sunda saya terbatas pada “nuhun teh, nuhun a’, punten, naon, sabaraha, dan saha ieu” saja. Namun gestur, ekspresi, dan gerak Pak Wawan dan Bu Shinta sungguh telah melampaui sekat-sekat bahasa.

Tubuh keduanya menyimpan memori sebagai arsip ekologis Rancaekek dan menciptakan bahasa universal yang dapat dipahami bersama, meskipun saya tak memahami bahasa Sunda. Sebentuk bahasa yang tidak mungkin lahir tanpa kemauan seluruh kolaborator karya untuk saling mendengar, memahami, dan belajar dengan rendah hati.