Menu

Sabdapalon Nayagenggong: Pembelahan Masyarakat Jawa

Jika seseorang pada hari ini membayangkan Sabdapalon sebagai semata sosok kisah mitos, barangkali ia akan segera terperangah. Karena melalui tokoh yang disangka “mitologis” ini, bangsa Indonesia, atau lebih tepatnya Jawa, akan mengalami denyut perubahan yang begitu dahsyat, yang tak lagi punya preseden sebelumnya. Sosok mitologis yang telah membuat sejarah Jawa bergemuruh secara keras yang memaksa kita untuk menengok ulang sejarah kita. Lalu siapa dan bagaimana kisah yang telah mengombang-ambingkan kita dalam pusaran sejarah bangsa?

Dalam Serat Dharmagandhul (menurut keterangan Hoofdenschool di Prabalingga, ditulis pada tahun 1879), Sabdapalon Nayagenggong ialah sosok emban atau pamomong raja Jawa sejak zaman dahulu

Narenda kawula emong                      Para raja, saya momong
punika karyaningwang                       
Itulah pekerjaanku

Seorang tokoh yang dikatakan serat ini sebagai “raja dari semua mahluk halus yang menjaga tanah Jawa” atau bahasa serat ini berbunyi “ratuning dhanyang kang rumeksa tanah Jawi”. Ya, Seorang dhanyang tanah Jawi, sang ratu makhluk gaibnya tanah Jawi, seseorang yang ditegaskan sendiri oleh karya lain bernama Serat Dharmagandhul sebagai ”yang sering dikenal dengan nama Semar”.

Nama ulun nami Ki Lurah Semar                    Namaku bernama Ki Lurah Semar
Ulun nglimputi Salire kang samar wujud        Saya yang melimputi seluruh yang samar dari keberadaan

Seorang yang menurut sumber Babad Kadhiri (ditulis Sumasentika tahun 1873), sebagai “pengawal” yang menyertai kepergian Raja Brawijaya mengungsi ke pulau Bali, setelah kerajaan tersebut hancur diserang–menurut olok-olok dalam karya ini–”Sang anak durhaka bernama Raden Patah”. Seseorang yang oleh orang kebanyakan hari ini, dianggap tokoh gaib yang meramalkan bahwa “Jawa akan berpindah agama dari Islam ke Kawruh Buda” setelah 400 tahun, yakni dari sejak tahun keruntuhan kerajaan Majapahit: Saka dari tahun 1400-ke tahun 1800 atau tahun Masehi dari 1478—ke 1878. 

Sabdapalon dalam Naskah

Menurut jelajah terbatas terkait naskah-naskah tua, sosok tokoh dengan karakternya sebagai seorang tokoh sakti bin gaib sebagaimana kita lukiskan pada sosok Sabdapalon, kita tidak pernah menjumpainya. Kita misalnya, hanya menemukan sosok dengan nama sama namun berbeda karakter dan wataknya. Di Serat Damarwulan, misalnya, tokoh ini muncul sebagai pelayan raja Damarwulan, yang tak memiliki kelebihan apapun, selain ia hanya sebatas seorang pelayan.

Namun, baru di abad 19-an sajalah kita menemukan sosok “Sabdopalon” sebagaimana menjadi imaji “sosok gaib” seperti dibayangkan orang-orang hari ini. Alias, ia produk baru yang sengaja diciptakan, dan relatif berhasil menjadi ‘kenyataan mental” bangsa Jawa, yang bahkan masih dirawat hingga kini. Lalu kapan sosok tokoh sakti-bin gaib ini muncul. Sosok ini pertama kali ini muncul dalam manuskrip berjudul Babad Kadhiri, yang ditulis Mas Sumasentika, pensiunan wedana daerah Lengkong (Kabupaten Nganjuk, Kediri hari ini), yang selesai menuliskannya pada tahun 1873.

Babad ini merupakan sebuah manuskrip yang untuk pertama kalinya berani menggambarkan bahwa proses perubahan Jawa menjadi Islam adalah sebuah kesalahan. Menurut narasi babad ini, Islamisasi di Jawa yang disebarkan oleh sosok-sosok para walinya (Walisanga) digambarkan sebagai seekor tikus, “datang diberi kebaikan, di belakang menggerogoti”. Pada babad ini pulalah, untuk pertama kalinya dalam sumber sejarah, mengatakan bahwa proses Islamisasi di Jawa, yakni melalui raja pertamanya, Raden Patah, cerita islamisasi jawa dilukiskan berubah menjadi cerita tentang kedurhakaan seorang anak bernama Raden Patah yang memberontak terhadap ayahnya, Brawijaya. Atau ringkasnya, sebuah manuskrip yang menandai sikap “anti-Islam” untuk pertama kalinya di tahun 1870an.

Menurut narasi babad ini, Islamisasi di Jawa yang disebarkan oleh sosok-sosok para walinya (Walisanga) digambarkan sebagai seekor tikus, “datang diberi kebaikan, di belakang menggerogoti”

Babad Kadhiri (1873)

Lalu bagaimana cerita tentang munculnya naskah ini? Menurut keterangan pengantar manuskrip ini sendiri, Babad ini ditulis atas permintaan pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1832, alias pasca Perang Jawa 1825-1830, yang mendesak adipati Kedhiri saat itu untuk menuliskan sejarah-nya. Permintaan ini mendapat sambutan bupati Kediri yang saat itu berkuasa. Bupati Kediri saat itu, M. Ng. Purbawijaya, segera memanggil Ki Dermakanda, seorang dalang wayang klitik saat itu yang  dikira mengetahui banyak hal untuk menerangkan sejarah Kediri (Jawa). Dalang itu ternyata tak tahu, namun segera menjanjikan untuk segera mencari sumber atau sosok yang bisa menceritakan.

Ki Dermakandha tak begitu lama datang lagi bersama cantrik “niyaga”-nya bernama Ki Sondhong ke kediaman sang Bupati. Singkat cerita, Ki Sondhong kemudian dijadikan media-kerasukan yang bisa dimasuki oleh seorang Raja Jin Gunung Kelud (Gua Selabale) bernama “Ki Buthalocaya”. Sang raja jin Buthalocaya inilah yang akan bercerita, melalui mulut Ki Sondhong yang telah dirasuki, ihwal segala hal terkait sejarah Jawa. Ki Buthalocaya sang “dhanyang”-nya Kota Kediri inilah yang bercerita melalui mulut Ki Sondhong. Dari penuturan sosok “sang ratu makhluk halus” inilah sejarah Jawa versi babad ini kemudian dicatat, ditulis, dan menjadi karya yang hari ini kita kenal sebagai Babad Kedhiri.

Keseluruhan cerita Babad ini intinya terkait proses yang salah dari berubahnya agama orang Jawa ke Islam. Proses Islamisasi digambarkan dimulai oleh penyerangan Demak atas Majapahit, yang didorong oleh dorongan jahat Sunan Bonang dan Giri. Yakni penyerangan dari seorang anak durhaka terhadap ayahnya (Raden Patah). Dengan penambahan unsur dramatis tertentu, cerita Islamisasi juga dilukiskan sebagai “perilaku barbar” dimana seluruh kitab-kitab “Agama Buda” dihancurkan semua. Akibatnya orang Jawa tak lagi bisa mengenali dan mengakses agama leluhurnya. Bahkan saking sedihnya, raja Brawijaya dalam menyaksikan perilaku durhaka anaknya, akhirnya memilih mengungsi menuju ke Bali ditemani pengawalnya yang setia bernama Sabdapalon Nayagenggong.

Dengan penambahan unsur dramatis tertentu, cerita Islamisasi juga dilukiskan sebagai “perilaku barbar” dimana seluruh kitab-kitab “Agama Buda” dihancurkan semua.

Tak selesai di situ. Babad ini juga menggambarkan adegan Raden Patah setelah mengalahkan Majapahit, yang segera menuju ke Ampel, sowan dan meminta restu ke Istri Sunan Ampel yang masih hidup. Segera saja Ia dimarahi karena berani menyerang dan berperilaku durhaka kepada ayahnya. Pemberotakannya, kata istri Ampel, adalah sebuah kesalahan besar. Sang Istri Ampel ini meminta Patah segera mengembalikan lagi ‘tahta kerajaan’ kepada Brawijaya.

Sunan Kalijaga yang menyaksikan hal ini semua, segera tanggap. Ia dengan segera menyusul Brawijaya ke arah timur dan memintakan maaf Patah terhadap Sang Raja, dan meminta kembali menjadi raja, namun Sang Raja tak berkenan. Keputusan telah dijatuhkan (secara harfiah dalam bahasa Jawanya berbunyi “sabda palon”). Seorang raja, pantang menjilat ludah-nya (keputusannya) yang telah keluar. Namun begitu, dalam sebuah percakapan yang tampak intim, Sunan Kalijaga kemudian berhasil membujuk sang raja ini, Brawijaya, menyatakan masuk Islam. Bahkan sang raja juga mengajak pelayannya “Sabdapalon” untuk ikut serta masuk dalam agama ini.

Namun justru karena hal inilah yang menyebabkan Sabdapalon marah dan semenjak saat itu tidak mau lagi mendampingi rajanya, alias meninggalkan sang raja untuk selamanya, karena telah meninggalkan agama leluhur, “agama Buda” atau “agama budi”. Sang pengawal ini, benar-benar menyesali kenapa rajanya berpindah ke agama padang pasir yang tandus dan nyaris tak pernah hujan. Ia benar-benar menolak diajak memeluk agama Islam, dan mengatakan bahwa “agama saya adalah agama leluhur, agama Buda. Agama buda adalah agama budi”.

Sebelum meninggalkan rajanya, Sabdapalon kemudian bersumpah bahwa “Saya akan mendatangkan orang asing ke Jawa, Orang Jawa yang berkelakuan buruk akan saya buang ke luar. Saya tak akan berhenti berbuat sesuatu, sebelum keturunan Jawa kembali kepada Budinya. Hingga mereka bisa minum lagi alkohol dan daging babi, seperti di zaman Majapahit. Sampai mereka mengetahui untung dan rugi” [baca: Kawruh Eropa]. Nah di babad inilah tokoh Sabdapalon dan Nayagenggong untuk pertama kalinya muncul dalam manuskrip. Seseorang pelayan sakti nan “linuwih” yang bisa menjangka peralihan tanah Jawa kembali ke agama leluhurnya.

Gatholoco dan Dharmaghandul: Melanjutkan Narasi

Setelah terbitnya Babad Kedhiri, terdapat kesusastraan Suluk maupun Serat yang sengaja mengulang narasi Babad Kedhiri ini. Ia secara terang-terangan nyaris secara keseluruhan mengulang argumen yang pernah keluar di babad ini. Bahkan dalam beberapa hal, ia mencomot tokoh-tokoh yang telah disebut, dan kemudian mengeksplorasinya secara lebih panjang, dengan detail yang lebih dramatis dan filmis.

Sebuah karya suluk yang mengulang cerita dan narasi Babad adalah “Suluk Gatholoco”. Karya ini terbit pada tahun 1870an, menurut keterangan misionaris Belanda C. Poensen, yang saat itu sedang berkunjung ke wilayah Kediri. Suluk ini berkisah dan semata mengulang isi Babad Kadhiri bahwa agama Islam adalah agama padang pasir yang jarang hujan (1 tahun sekali). Agama yang tak akan pernah cocog bagi penduduk Jawa yang diliputi kesuburan dan hujan yang melimpah. Bahkan dalam sebuah sarkasme yang menghentak, suluk ini menggambarkan, tuhannya orang padang pasir adalah tuhan barbar; “Allah tidak punya Budi”, kata suluk ini. Sejak dahulu kala hingga di era zaman Majapahit orang Jawa telah beragama Buda. Dan baru kali inilah [di masa Islam], agama leluhur orang Jawa lalu berubah dan ditinggalkan.

Semua celaan dari karya Gatholoco ini seluruhnya muncul dari mulut sosok dekil, jembel, bermuka jelek, yang dalam kesehariannya selalu berpegangan dan menghisap opium di tangannya. Seorang yang  mengenalkan dirinya sebagai bernama “Gatholoco”, sebuah nama yang secara asosiatif menunjuk “alat kelamin pria yang digosok”, mendebat keras, serta menjatuhkan para lawan musuh debatnya, yakni tiga orang santri bernama Ngabdul Jabbar, Ngabdul Manab, dan Amat Ngarib. Bahkan sang tokoh protagonis ini, menurut alur rekaan khayal cerita “Gatholoco” ini, berhasil mengalahkan Kyai Kasan Besari (guru sang pujangga Ranggawarsita) dalam sebuah debat Ilmu. Sungguh sebuah reka-penggambaran yang sengaja keluar dari narasi sejarah utama.

Di babak akhir cerita, Gatholoco diceritakan mengalahkan musuh debat terakhirnya, yakni seorang pertapa wanita bernama “Dewi Perjiwati”, yang secara literal berarti “alat kelamin perempuan”, dan segera saja memperistrinya. Sejak saat itulah, Gatholoco mengganti namanya menjadi Kanjeng Gusti “Kalamulah”, yang ia plesetkan maknanya sebagai bermakna “Penis Budi yang telah masuk”, dan bukannya menunjuk makna “firman Allah”. Oleh karenanya ia kemudian menjadi “Buda”, seorang yang telah tercerahkan [terasuki] oleh budi”. Penis budi yang telah masuk ke vagina Dewi Perjiwati. Seorang Buda.

Serat Darmagandhul (1879)

Selain kisah di atas, juga terdapat manuskrip berjudul “Serat Dharmagandhul” yang tidak hanya mengulangi narasi Babad Kedhiri (1873), melainkan juga mengulang cerita Gatholoco (1870an). Serat ini sengaja mencomot gelar Gatholoco, yakni “kalamulah”, dan menggantinya dengan kata-kata lain yang bermakna mirip, yakni “Kalam-Wadi”. Dalam Serat Dharmagandhul ini, sosok sang “Kalam-Wadi” [alias Gatholoco yang bergelar “kalamulah”] diposisikan sebagai penutur cerita, alias gurunya tokoh baru yang dimunculkan bernama: Dhermagandhul, yang secara asosiasi bunyi juga bermakna sosok yang tugasnya selalu bergelantungan (penis).

Serat ini Ia juga memunculkan lagi tokoh Ki Buta Locaya yang telah sejak awal muncul di Babad Kedhiri. Ia bahkan juga menuliskan secara lebih panjang kisah tentang Sabdo-Palon Naya Genggong yang sebenarnya hanya mengulang cerita babad ini.

Dalam narasinya secara umum, serat ini dalam nada yang sama, menyerukan ulang untuk kembali ke agama Buda, sembari mengejek agama Islam. Bahkan dalam serat ini justru memuji dan menyarankan berpindah ke agama Kristen, karena dianggap lebih dekat ke agama Budi Jawa. Sehingga menjadi tak aneh jika misalnya banyak orang menduga dan berspekulasi lebih lanjut jika hal ini merupakan bagian dari kerja misionarisme Kristen di Jawa, yang memang saat itu sedang berkembang di daerah lereng bukit Wilis dan Kelud, Kediri, Nganjuk, dan sekitarnya.

Narasi Anti Islamisasi

Dari pembacaaan ketiga sumber Manuskrip tadi 1) Babad Kedhiri (ditulis 1873), 2) Suluk Gatholoco (1870-an, 3) Serat Darmagandhul (1879) semuanya seolah menandai fase baru wacana dan aspirasi ketidakrelaan sebagian orang Jawa, kenapa Jawa berpindah ke ajaran Islam. Dan sosok “Sabdopalon Nayagenggong” sengaja muncul dan dimunculkan sebagai narasi utama di tiga manuskrip tadi, dan selanjutnya akan disadur secara berantai secara tak terkendali selanjutnya, dan bahkan berkembang menjadi cerita mandiri yang beraneka, yang secara tak terelakkan, juga turut membentuk kesadaran baru pada realitas mental orang Jawa.

Sosok tokoh gaib Sabdopalon yang sengaja dimunculkan di akhir abad 19 ini akhirnya menjadi lambang yang mewakili aspirasi sekelumit orang Jawa yang hendak ingin kembali kepada agama Buda. Namun perlu disebutkan, bahwa sejak dibentuk Institut Bahasa dan Budaya Jawa di Surakarta setelah kekalahan Jawa (1825-1830) yakni lembaga Javanologi yang pertama kali diciptakan kolonial di Surakarta, sebelum dipindahkan ke Delf dan Leiden, masyarakat Jawa jajahan mulai terbantu membayangkan masa lalunya yang lebih jauh [pada era Majapahit ke belakang], lewat bantuan temuan-temuan arkeologi dan filologi kolonial.

Semenjak usaha Javanologi untuk meneliti masa jauh zaman Majapahit yang sebenarnya telah lama terkubur, yakni dengan menemukan manuskrip Kekawin-kekawin penting yang masih tersebar di Lombok dan Bali, ulasan-ulasan akademiknya akan banyak membangkitkan kembali dan mempengaruhi jangkauan imaji bangsawan Jawa dalam membayangkan masa-lalunya yang telah hilang. Dengan bantuan temuan arkeologi dan filologi kolonial inilah (akhir abad 19 dan awal 20), bangsawan Jawa mulai berani membayangkan untuk kembali kepada masa lalunya yang sangat jauh. Dan saya kira, Sabdapalon adalah simbol yang mewakili jangkaun imaji yang memang telah didiktekan oleh kolonial untuk menuntun orang Jawa kembali kepada agama leluhurnya (Hindu-Budha zaman Majapahit)–seturut keterangan Nancy K. Florida–yakni persis sebagaimana diimajikan para arsitek kolonial Javanologi Surakarta, sebagai sebuah prototipe “kejawaan yang jinak”, “sebuah kejawaan yang belum terintrusi oleh aspek revolusioner agama padang pasir”, yang terus-saja memberontak kepada Belanda, dengan slogan “kapir landa”-nya.

Dan hal ini menurut keterangan Ricklefs di bukunya “Polarizing Javanese Society”, kisah tentang Sabdapalon sebagai sebentuk gugatan tentang narasi Islamisasi akhirnya bertemu dan saling bersambut dengan kepentingan misionaris Kristen di Jawa di wilayah Kediri dan sekitar lereng Wilis dan Kelud, yang memang sejak perang Jawa telah menjadi pusat misionarismenya, yakni dengan sosoknya bernama R. Coolen di lembah Ngara [kecamatan Nganjuk, Kediri]. Dari pusat lereng inilah kita mengenal Kyai Tunggul Wulung yang berpaut dengan cerita Butha Locaya, Paulus Tosari, dan bahkan bersambung hingga Kyai Sadrah. Spekulasi ini perlu mendapat konfirmasi penelitian yang lebih dalam.

Namun begitu, pusat produksi manuskrip-manuskrip ini, seperti yang dikatakan M.R.C Ricklefs, memang berada atau setidaknya isinya berasal dari lereng bukit Wilis dan Kelud seperti yang telah dijelaskan. Oleh karenanya spekulasi-spekulasi terkait hubungan ini, kadang bisa sedikit dimaklumi.

Yang jelas memang sejak kekalahan masyarakat Jawa setelah berakhirnya Perang Diponegara (1825-1830), masyarakat Jawa tunduk total pada penjajah Belanda, dan sejak perubahan kuasa inilah, Jawa benar-benar akan berubah secara drastis menuju kemungkinan yang belum ada presedennya di masa lalu. Seperti telah banyak disebutkan pada karyanya Mystic Synthesis in Jawa (2006), masyarakat Jawa, setidaknya dari masa Demak hingga Mataram pada akhirnya menerima Islam sebagai identitas kejawaannya. Dalam istilah Ricklefs “Orang Jawa…,” setidaknya hingga masa perjanjian Giyanti 1755, “…telah diikat dalam kesatuan bingkai pandangan dunia Islam, dan tidak lagi bisa membayangkan kejawaannya di luar Islam”.

Namun sejak kekalahan masyarakat Jawa 1830, bangsa dan keraton Jawa akhirnya tunduk kepada penjajah barunya bernama Belanda. Sejak ketundukan inilah Islam mendapat tantangan keras alias tak lagi kuat menyatukan bangun masyarakat dalam satu payung-padu, seiring konstelasi perubahan kekuasaan. Bahkan, dalam beberapa analisis, politik pecah-belah masyarakat Jawa yang awalnya diikat oleh identitas Islam ini, sengaja diciptakan kolonial lewat perangkat politik pengetahuannya [salah satunya melalui lembaga Javanologi-nya yang terus berevolusi], yang pelan tapi pasti segera mendesak Islam ke pinggiran. Selama Islam masih menjadi identitas kejawaan, selama itu pula kekuasaan kolonial tak akan pernah tenang, Kuasa kolonial akan terus mendengar pekik-pemberontakan Jawa dengan semboyan “perang sabilolah”. Politik pengetahuan dan kebudayaan yang diterapkan kolonial bergayung-sambut dengan perubahan konstelasi pemahaman Islam melalui gerakan modernisme Islamnya di pusat negara Islam Mekkah maupun Mesir. Akhirnya masyarakat Jawa dalam proses pengutuban menaik akhirnya terbelah menjadi tiga golongan yang saling bermusuhan: Santri, Abangan, Priyayi di akhir abad 19,  meski ketiganya masih meyakini diri mereka sebagai Muslim.

Namun begitu, baru pada akhir abad 19 lah mulai terdapat sekelumit lapisan masyarakat Jawa yang memilih jalur ekstremnya. Mereka mulai berani mempertanyakan ulang Islam dan Islamisasi yang tentunya dengan bantuan temuan-temuan arkeologi dan filologi Belanda, dan segera saja membuat mereka bisa menautkan visi mereka untuk kembali ke masa lalu yang jauh: agama Buda. Saya kira dalam konteks Itulah makhluk gaib Sabdapalon dan Nayagenggong muncul dan dihadirkan. Dan saya kira makhluk ini akan terus menghantui Indonesia. Allahu A’lam.

Keterangan: Tulisan ini adalah materi acara yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY 14 Juni 2023. Dimuat kembali di sini untuk tujuan pendidikan.

Daftar Pustaka

B.R.T. Tandhanagara, Darmagandhul Gancaran, Penerbit Sadu Budi, Sala, tanpa tahun.

Damar Sasangka, Darmagandhul, (penerjemah), Jakarta Selatan, Dolphin, 2011.

M. Hariwijaya, Suluk Gatholoco, Berdasar Naskah Koleksi Perpustakaan Sono Budhoyo, Nomor PBA 179, (PBE 34), Yogyakarta, 2006.

Prawirataruna, Balsafah Gatholotjo, Ngemot Balfasah Kawruh Kawaskitan, Miturut Gubahan sdr. Prawirataruna, ing awale abad 20 Masehi, diperiksa dan dialihaksarakan oleh R. Tanoyo, Penerbit Mulyo, Solo, Tanpa Tahun.

M.R.C. Ricklefs, Mystic Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to the Early Nineteenth Centuries, (Norwalk, CT: EastBridge, 2006).

________________, Polarizing Javanese Society, Islamic and other Visions (c. 1830-1930), NUS Press (Singapore: 2007).

——————-, Islamisation and Its Opponents in Java, A Political, Social, Cultural, and Religious History C. 1930 to the Present, NUS Press (Singapore: 2012).

——————-, The Seen and Unseen World in Java, 1726-1746, History, Literature, and Islam in the Court of Pakubuwana II, University of Hawai Press, 1998.

P.W. van der Broek (ed. transl.), De Geschieden van het rijk Kediri, opgeteekend in het Jaar 1873 door mas Soema-Sentika, gepensioneerd Wedana van het district Lengkong, Leiden, E.J. Brill, 1902

M.Ng. Mangoenwidjoyo, Serat Babad Kadhiri, Boekhandel Tan Khoen Swie, Kediri, Tahun 1932.

Mas Ngabei Purbawidjaja & Mas Ngabei Mangunwidjaja, Serat Babad Kadhiri, Kisah Berdirinya Sebuah Kerajaan, Penerjemah Siti Halimah Soeparno, Yogyakarta, Matara Communication, 2008.

Nancy K. Florida, Jawa-Islam di Masa Kolonial; Suluk, Santri, dan Pujangga Jawa, (penerjemah dan editor Irfan Afifi), Buku Langgar, Yogyakarta, 2021.

0
231