Menu

Sabdapalon Nayagenggong: Pembelahan Masyarakat Jawa

Jika seseorang pada hari ini membayangkan Sabdapalon sebagai semata sosok kisah mitos, barangkali ia akan segera terperangah. Karena melalui tokoh yang disangka “mitologis” ini, bangsa Indonesia, atau lebih tepatnya Jawa, akan mengalami denyut perubahan yang begitu dahsyat, yang tak lagi punya preseden sebelumnya. Sosok mitologis yang telah membuat sejarah Jawa bergemuruh secara keras yang memaksa kita untuk menengok ulang sejarah kita. Lalu siapa dan bagaimana kisah yang telah mengombang-ambingkan kita dalam pusaran sejarah bangsa?

Dalam Serat Dharmagandhul (menurut keterangan Hoofdenschool di Prabalingga, ditulis pada tahun 1879), Sabdapalon Nayagenggong ialah sosok emban atau pamomong raja Jawa sejak zaman dahulu

Narenda kawula emong                      Para raja, saya momong
punika karyaningwang                       
Itulah pekerjaanku

Seorang tokoh yang dikatakan serat ini sebagai “raja dari semua mahluk halus yang menjaga tanah Jawa” atau bahasa serat ini berbunyi “ratuning dhanyang kang rumeksa tanah Jawi”. Ya, Seorang dhanyang tanah Jawi, sang ratu makhluk gaibnya tanah Jawi, seseorang yang ditegaskan sendiri oleh karya lain bernama Serat Dharmagandhul sebagai ”yang sering dikenal dengan nama Semar”.

Nama ulun nami Ki Lurah Semar                    Namaku bernama Ki Lurah Semar
Ulun nglimputi Salire kang samar wujud        Saya yang melimputi seluruh yang samar dari keberadaan

Seorang yang menurut sumber Babad Kadhiri (ditulis Sumasentika tahun 1873), sebagai “pengawal” yang menyertai kepergian Raja Brawijaya mengungsi ke pulau Bali, setelah kerajaan tersebut hancur diserang–menurut olok-olok dalam karya ini–”Sang anak durhaka bernama Raden Patah”. Seseorang yang oleh orang kebanyakan hari ini, dianggap tokoh gaib yang meramalkan bahwa “Jawa akan berpindah agama dari Islam ke Kawruh Buda” setelah 400 tahun, yakni dari sejak tahun keruntuhan kerajaan Majapahit: Saka dari tahun 1400-ke tahun 1800 atau tahun Masehi dari 1478—ke 1878. 

Sabdapalon dalam Naskah

Menurut jelajah terbatas terkait naskah-naskah tua, sosok tokoh dengan karakternya sebagai seorang tokoh sakti bin gaib sebagaimana kita lukiskan pada sosok Sabdapalon, kita tidak pernah menjumpainya. Kita misalnya, hanya menemukan sosok dengan nama sama namun berbeda karakter dan wataknya. Di Serat Damarwulan, misalnya, tokoh ini muncul sebagai pelayan raja Damarwulan, yang tak memiliki kelebihan apapun, selain ia hanya sebatas seorang pelayan.

Namun, baru di abad 19-an sajalah kita menemukan sosok “Sabdopalon” sebagaimana menjadi imaji “sosok gaib” seperti dibayangkan orang-orang hari ini. Alias, ia produk baru yang sengaja diciptakan, dan relatif berhasil menjadi ‘kenyataan mental” bangsa Jawa, yang bahkan masih dirawat hingga kini. Lalu kapan sosok tokoh sakti-bin gaib ini muncul. Sosok ini pertama kali ini muncul dalam manuskrip berjudul Babad Kadhiri, yang ditulis Mas Sumasentika, pensiunan wedana daerah Lengkong (Kabupaten Nganjuk, Kediri hari ini), yang selesai menuliskannya pada tahun 1873.

Babad ini merupakan sebuah manuskrip yang untuk pertama kalinya berani menggambarkan bahwa proses perubahan Jawa menjadi Islam adalah sebuah kesalahan. Menurut narasi babad ini, Islamisasi di Jawa yang disebarkan oleh sosok-sosok para walinya (Walisanga) digambarkan sebagai seekor tikus, “datang diberi kebaikan, di belakang menggerogoti”. Pada babad ini pulalah, untuk pertama kalinya dalam sumber sejarah, mengatakan bahwa proses Islamisasi di Jawa, yakni melalui raja pertamanya, Raden Patah, cerita islamisasi jawa dilukiskan berubah menjadi cerita tentang kedurhakaan seorang anak bernama Raden Patah yang memberontak terhadap ayahnya, Brawijaya. Atau ringkasnya, sebuah manuskrip yang menandai sikap “anti-Islam” untuk pertama kalinya di tahun 1870an.

Menurut narasi babad ini, Islamisasi di Jawa yang disebarkan oleh sosok-sosok para walinya (Walisanga) digambarkan sebagai seekor tikus, “datang diberi kebaikan, di belakang menggerogoti”

Babad Kadhiri (1873)

Lalu bagaimana cerita tentang munculnya naskah ini? Menurut keterangan pengantar manuskrip ini sendiri, Babad ini ditulis atas permintaan pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1832, alias pasca Perang Jawa 1825-1830, yang mendesak adipati Kedhiri saat itu untuk menuliskan sejarah-nya. Permintaan ini mendapat sambutan bupati Kediri yang saat itu berkuasa. Bupati Kediri saat itu, M. Ng. Purbawijaya, segera memanggil Ki Dermakanda, seorang dalang wayang klitik saat itu yang  dikira mengetahui banyak hal untuk menerangkan sejarah Kediri (Jawa). Dalang itu ternyata tak tahu, namun segera menjanjikan untuk segera mencari sumber atau sosok yang bisa menceritakan.

Ki Dermakandha tak begitu lama datang lagi bersama cantrik “niyaga”-nya bernama Ki Sondhong ke kediaman sang Bupati. Singkat cerita, Ki Sondhong kemudian dijadikan media-kerasukan yang bisa dimasuki oleh seorang Raja Jin Gunung Kelud (Gua Selabale) bernama “Ki Buthalocaya”. Sang raja jin Buthalocaya inilah yang akan bercerita, melalui mulut Ki Sondhong yang telah dirasuki, ihwal segala hal terkait sejarah Jawa. Ki Buthalocaya sang “dhanyang”-nya Kota Kediri inilah yang bercerita melalui mulut Ki Sondhong. Dari penuturan sosok “sang ratu makhluk halus” inilah sejarah Jawa versi babad ini kemudian dicatat, ditulis, dan menjadi karya yang hari ini kita kenal sebagai Babad Kedhiri.

Keseluruhan cerita Babad ini intinya terkait proses yang salah dari berubahnya agama orang Jawa ke Islam. Proses Islamisasi digambarkan dimulai oleh penyerangan Demak atas Majapahit, yang didorong oleh dorongan jahat Sunan Bonang dan Giri. Yakni penyerangan dari seorang anak durhaka terhadap ayahnya (Raden Patah). Dengan penambahan unsur dramatis tertentu, cerita Islamisasi juga dilukiskan sebagai “perilaku barbar” dimana seluruh kitab-kitab “Agama Buda” dihancurkan semua. Akibatnya orang Jawa tak lagi bisa mengenali dan mengakses agama leluhurnya. Bahkan saking sedihnya, raja Brawijaya dalam menyaksikan perilaku durhaka anaknya, akhirnya memilih mengungsi menuju ke Bali ditemani pengawalnya yang setia bernama Sabdapalon Nayagenggong.

Dengan penambahan unsur dramatis tertentu, cerita Islamisasi juga dilukiskan sebagai “perilaku barbar” dimana seluruh kitab-kitab “Agama Buda” dihancurkan semua.

Tak selesai di situ. Babad ini juga menggambarkan adegan Raden Patah setelah mengalahkan Majapahit, yang segera menuju ke Ampel, sowan dan meminta restu ke Istri Sunan Ampel yang masih hidup. Segera saja Ia dimarahi karena berani menyerang dan berperilaku durhaka kepada ayahnya. Pemberotakannya, kata istri Ampel, adalah sebuah kesalahan besar. Sang Istri Ampel ini meminta Patah segera mengembalikan lagi ‘tahta kerajaan’ kepada Brawijaya.

Sunan Kalijaga yang menyaksikan hal ini semua, segera tanggap. Ia dengan segera menyusul Brawijaya ke arah timur dan memintakan maaf Patah terhadap Sang Raja, dan meminta kembali menjadi raja, namun Sang Raja tak berkenan. Keputusan telah dijatuhkan (secara harfiah dalam bahasa Jawanya berbunyi “sabda palon”). Seorang raja, pantang menjilat ludah-nya (keputusannya) yang telah keluar. Namun begitu, dalam sebuah percakapan yang tampak intim, Sunan Kalijaga kemudian berhasil membujuk sang raja ini, Brawijaya, menyatakan masuk Islam. Bahkan sang raja juga mengajak pelayannya “Sabdapalon” untuk ikut serta masuk dalam agama ini.

Namun justru karena hal inilah yang menyebabkan Sabdapalon marah dan semenjak saat itu tidak mau lagi mendampingi rajanya, alias meninggalkan sang raja untuk selamanya, karena telah meninggalkan agama leluhur, “agama Buda” atau “agama budi”. Sang pengawal ini, benar-benar menyesali kenapa rajanya berpindah ke agama padang pasir yang tandus dan nyaris tak pernah hujan. Ia benar-benar menolak diajak memeluk agama Islam, dan mengatakan bahwa “agama saya adalah agama leluhur, agama Buda. Agama buda adalah agama budi”.

Sebelum meninggalkan rajanya, Sabdapalon kemudian bersumpah bahwa “Saya akan mendatangkan orang asing ke Jawa, Orang Jawa yang berkelakuan buruk akan saya buang ke luar. Saya tak akan berhenti berbuat sesuatu, sebelum keturunan Jawa kembali kepada Budinya. Hingga mereka bisa minum lagi alkohol dan daging babi, seperti di zaman Majapahit. Sampai mereka mengetahui untung dan rugi” [baca: Kawruh Eropa]. Nah di babad inilah tokoh Sabdapalon dan Nayagenggong untuk pertama kalinya muncul dalam manuskrip. Seseorang pelayan sakti nan “linuwih” yang bisa menjangka peralihan tanah Jawa kembali ke agama leluhurnya.

Gatholoco dan Dharmaghandul: Melanjutkan Narasi

Setelah terbitnya Babad Kedhiri, terdapat kesusastraan Suluk maupun Serat yang sengaja mengulang narasi Babad Kedhiri ini. Ia secara terang-terangan nyaris secara keseluruhan mengulang argumen yang pernah keluar di babad ini. Bahkan dalam beberapa hal, ia mencomot tokoh-tokoh yang telah disebut, dan kemudian mengeksplorasinya secara lebih panjang, dengan detail yang lebih dramatis dan filmis.

Sebuah karya suluk yang mengulang cerita dan narasi Babad adalah “Suluk Gatholoco”. Karya ini terbit pada tahun 1870an, menurut keterangan misionaris Belanda C. Poensen, yang saat itu sedang berkunjung ke wilayah Kediri. Suluk ini berkisah dan semata mengulang isi Babad Kadhiri bahwa agama Islam adalah agama padang pasir yang jarang hujan (1 tahun sekali). Agama yang tak akan pernah cocog bagi penduduk Jawa yang diliputi kesuburan dan hujan yang melimpah. Bahkan dalam sebuah sarkasme yang menghentak, suluk ini menggambarkan, tuhannya orang padang pasir adalah tuhan barbar; “Allah tidak punya Budi”, kata suluk ini. Sejak dahulu kala hingga di era zaman Majapahit orang Jawa telah beragama Buda. Dan baru kali inilah [di masa Islam], agama leluhur orang Jawa lalu berubah dan ditinggalkan.

Semua celaan dari karya Gatholoco ini seluruhnya muncul dari mulut sosok dekil, jembel, bermuka jelek, yang dalam kesehariannya selalu berpegangan dan menghisap opium di tangannya. Seorang yang  mengenalkan dirinya sebagai bernama “Gatholoco”, sebuah nama yang secara asosiatif menunjuk “alat kelamin pria yang digosok”, mendebat keras, serta menjatuhkan para lawan musuh debatnya, yakni tiga orang santri bernama Ngabdul Jabbar, Ngabdul Manab, dan Amat Ngarib. Bahkan sang tokoh protagonis ini, menurut alur rekaan khayal cerita “Gatholoco” ini, berhasil mengalahkan Kyai Kasan Besari (guru sang pujangga Ranggawarsita) dalam sebuah debat Ilmu. Sungguh sebuah reka-penggambaran yang sengaja keluar dari narasi sejarah utama.

Di babak akhir cerita, Gatholoco diceritakan mengalahkan musuh debat terakhirnya, yakni seorang pertapa wanita bernama “Dewi Perjiwati”, yang secara literal berarti “alat kelamin perempuan”, dan segera saja memperistrinya. Sejak saat itulah, Gatholoco mengganti namanya menjadi Kanjeng Gusti “Kalamulah”, yang ia plesetkan maknanya sebagai bermakna “Penis Budi yang telah masuk”, dan bukannya menunjuk makna “firman Allah”. Oleh karenanya ia kemudian menjadi “Buda”, seorang yang telah tercerahkan [terasuki] oleh budi”. Penis budi yang telah masuk ke vagina Dewi Perjiwati. Seorang Buda.

Serat Darmagandhul (1879)

Selain kisah di atas, juga terdapat manuskrip berjudul “Serat Dharmagandhul” yang tidak hanya mengulangi narasi Babad Kedhiri (1873), melainkan juga mengulang cerita Gatholoco (1870an). Serat ini sengaja mencomot gelar Gatholoco, yakni “kalamulah”, dan menggantinya dengan kata-kata lain yang bermakna mirip, yakni “Kalam-Wadi”. Dalam Serat Dharmagandhul ini, sosok sang “Kalam-Wadi” [alias Gatholoco yang bergelar “kalamulah”] diposisikan sebagai penutur cerita, alias gurunya tokoh baru yang dimunculkan bernama: Dhermagandhul, yang secara asosiasi bunyi juga bermakna sosok yang tugasnya selalu bergelantungan (penis).

Serat ini Ia juga memunculkan lagi tokoh Ki Buta Locaya yang telah sejak awal muncul di Babad Kedhiri. Ia bahkan juga menuliskan secara lebih panjang kisah tentang Sabdo-Palon Naya Genggong yang sebenarnya hanya mengulang cerita babad ini.

Dalam narasinya secara umum, serat ini dalam nada yang sama, menyerukan ulang untuk kembali ke agama Buda, sembari mengejek agama Islam. Bahkan dalam serat ini justru memuji dan menyarankan berpindah ke agama Kristen, karena dianggap lebih dekat ke agama Budi Jawa. Sehingga menjadi tak aneh jika misalnya banyak orang menduga dan berspekulasi lebih lanjut jika hal ini merupakan bagian dari kerja misionarisme Kristen di Jawa, yang memang saat itu sedang berkembang di daerah lereng bukit Wilis dan Kelud, Kediri, Nganjuk, dan sekitarnya.

Narasi Anti Islamisasi

Dari pembacaaan ketiga sumber Manuskrip tadi 1) Babad Kedhiri (ditulis 1873), 2) Suluk Gatholoco (1870-an, 3) Serat Darmagandhul (1879) semuanya seolah menandai fase baru wacana dan aspirasi ketidakrelaan sebagian orang Jawa, kenapa Jawa berpindah ke ajaran Islam. Dan sosok “Sabdopalon Nayagenggong” sengaja muncul dan dimunculkan sebagai narasi utama di tiga manuskrip tadi, dan selanjutnya akan disadur secara berantai secara tak terkendali selanjutnya, dan bahkan berkembang menjadi cerita mandiri yang beraneka, yang secara tak terelakkan, juga turut membentuk kesadaran baru pada realitas mental orang Jawa.

Sosok tokoh gaib Sabdopalon yang sengaja dimunculkan di akhir abad 19 ini akhirnya menjadi lambang yang mewakili aspirasi sekelumit orang Jawa yang hendak ingin kembali kepada agama Buda. Namun perlu disebutkan, bahwa sejak dibentuk Institut Bahasa dan Budaya Jawa di Surakarta setelah kekalahan Jawa (1825-1830) yakni lembaga Javanologi yang pertama kali diciptakan kolonial di Surakarta, sebelum dipindahkan ke Delf dan Leiden, masyarakat Jawa jajahan mulai terbantu membayangkan masa lalunya yang lebih jauh [pada era Majapahit ke belakang], lewat bantuan temuan-temuan arkeologi dan filologi kolonial.

Semenjak usaha Javanologi untuk meneliti masa jauh zaman Majapahit yang sebenarnya telah lama terkubur, yakni dengan menemukan manuskrip Kekawin-kekawin penting yang masih tersebar di Lombok dan Bali, ulasan-ulasan akademiknya akan banyak membangkitkan kembali dan mempengaruhi jangkauan imaji bangsawan Jawa dalam membayangkan masa-lalunya yang telah hilang. Dengan bantuan temuan arkeologi dan filologi kolonial inilah (akhir abad 19 dan awal 20), bangsawan Jawa mulai berani membayangkan untuk kembali kepada masa lalunya yang sangat jauh. Dan saya kira, Sabdapalon adalah simbol yang mewakili jangkaun imaji yang memang telah didiktekan oleh kolonial untuk menuntun orang Jawa kembali kepada agama leluhurnya (Hindu-Budha zaman Majapahit)–seturut keterangan Nancy K. Florida–yakni persis sebagaimana diimajikan para arsitek kolonial Javanologi Surakarta, sebagai sebuah prototipe “kejawaan yang jinak”, “sebuah kejawaan yang belum terintrusi oleh aspek revolusioner agama padang pasir”, yang terus-saja memberontak kepada Belanda, dengan slogan “kapir landa”-nya.

Dan hal ini menurut keterangan Ricklefs di bukunya “Polarizing Javanese Society”, kisah tentang Sabdapalon sebagai sebentuk gugatan tentang narasi Islamisasi akhirnya bertemu dan saling bersambut dengan kepentingan misionaris Kristen di Jawa di wilayah Kediri dan sekitar lereng Wilis dan Kelud, yang memang sejak perang Jawa telah menjadi pusat misionarismenya, yakni dengan sosoknya bernama R. Coolen di lembah Ngara [kecamatan Nganjuk, Kediri]. Dari pusat lereng inilah kita mengenal Kyai Tunggul Wulung yang berpaut dengan cerita Butha Locaya, Paulus Tosari, dan bahkan bersambung hingga Kyai Sadrah. Spekulasi ini perlu mendapat konfirmasi penelitian yang lebih dalam.

Namun begitu, pusat produksi manuskrip-manuskrip ini, seperti yang dikatakan M.R.C Ricklefs, memang berada atau setidaknya isinya berasal dari lereng bukit Wilis dan Kelud seperti yang telah dijelaskan. Oleh karenanya spekulasi-spekulasi terkait hubungan ini, kadang bisa sedikit dimaklumi.

Yang jelas memang sejak kekalahan masyarakat Jawa setelah berakhirnya Perang Diponegara (1825-1830), masyarakat Jawa tunduk total pada penjajah Belanda, dan sejak perubahan kuasa inilah, Jawa benar-benar akan berubah secara drastis menuju kemungkinan yang belum ada presedennya di masa lalu. Seperti telah banyak disebutkan pada karyanya Mystic Synthesis in Jawa (2006), masyarakat Jawa, setidaknya dari masa Demak hingga Mataram pada akhirnya menerima Islam sebagai identitas kejawaannya. Dalam istilah Ricklefs “Orang Jawa…,” setidaknya hingga masa perjanjian Giyanti 1755, “…telah diikat dalam kesatuan bingkai pandangan dunia Islam, dan tidak lagi bisa membayangkan kejawaannya di luar Islam”.

Namun sejak kekalahan masyarakat Jawa 1830, bangsa dan keraton Jawa akhirnya tunduk kepada penjajah barunya bernama Belanda. Sejak ketundukan inilah Islam mendapat tantangan keras alias tak lagi kuat menyatukan bangun masyarakat dalam satu payung-padu, seiring konstelasi perubahan kekuasaan. Bahkan, dalam beberapa analisis, politik pecah-belah masyarakat Jawa yang awalnya diikat oleh identitas Islam ini, sengaja diciptakan kolonial lewat perangkat politik pengetahuannya [salah satunya melalui lembaga Javanologi-nya yang terus berevolusi], yang pelan tapi pasti segera mendesak Islam ke pinggiran. Selama Islam masih menjadi identitas kejawaan, selama itu pula kekuasaan kolonial tak akan pernah tenang, Kuasa kolonial akan terus mendengar pekik-pemberontakan Jawa dengan semboyan “perang sabilolah”. Politik pengetahuan dan kebudayaan yang diterapkan kolonial bergayung-sambut dengan perubahan konstelasi pemahaman Islam melalui gerakan modernisme Islamnya di pusat negara Islam Mekkah maupun Mesir. Akhirnya masyarakat Jawa dalam proses pengutuban menaik akhirnya terbelah menjadi tiga golongan yang saling bermusuhan: Santri, Abangan, Priyayi di akhir abad 19,  meski ketiganya masih meyakini diri mereka sebagai Muslim.

Namun begitu, baru pada akhir abad 19 lah mulai terdapat sekelumit lapisan masyarakat Jawa yang memilih jalur ekstremnya. Mereka mulai berani mempertanyakan ulang Islam dan Islamisasi yang tentunya dengan bantuan temuan-temuan arkeologi dan filologi Belanda, dan segera saja membuat mereka bisa menautkan visi mereka untuk kembali ke masa lalu yang jauh: agama Buda. Saya kira dalam konteks Itulah makhluk gaib Sabdapalon dan Nayagenggong muncul dan dihadirkan. Dan saya kira makhluk ini akan terus menghantui Indonesia. Allahu A’lam.

Keterangan: Tulisan ini adalah materi acara yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY 14 Juni 2023. Dimuat kembali di sini untuk tujuan pendidikan.

Daftar Pustaka

B.R.T. Tandhanagara, Darmagandhul Gancaran, Penerbit Sadu Budi, Sala, tanpa tahun.

Damar Sasangka, Darmagandhul, (penerjemah), Jakarta Selatan, Dolphin, 2011.

M. Hariwijaya, Suluk Gatholoco, Berdasar Naskah Koleksi Perpustakaan Sono Budhoyo, Nomor PBA 179, (PBE 34), Yogyakarta, 2006.

Prawirataruna, Balsafah Gatholotjo, Ngemot Balfasah Kawruh Kawaskitan, Miturut Gubahan sdr. Prawirataruna, ing awale abad 20 Masehi, diperiksa dan dialihaksarakan oleh R. Tanoyo, Penerbit Mulyo, Solo, Tanpa Tahun.

M.R.C. Ricklefs, Mystic Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to the Early Nineteenth Centuries, (Norwalk, CT: EastBridge, 2006).

________________, Polarizing Javanese Society, Islamic and other Visions (c. 1830-1930), NUS Press (Singapore: 2007).

——————-, Islamisation and Its Opponents in Java, A Political, Social, Cultural, and Religious History C. 1930 to the Present, NUS Press (Singapore: 2012).

——————-, The Seen and Unseen World in Java, 1726-1746, History, Literature, and Islam in the Court of Pakubuwana II, University of Hawai Press, 1998.

P.W. van der Broek (ed. transl.), De Geschieden van het rijk Kediri, opgeteekend in het Jaar 1873 door mas Soema-Sentika, gepensioneerd Wedana van het district Lengkong, Leiden, E.J. Brill, 1902

M.Ng. Mangoenwidjoyo, Serat Babad Kadhiri, Boekhandel Tan Khoen Swie, Kediri, Tahun 1932.

Mas Ngabei Purbawidjaja & Mas Ngabei Mangunwidjaja, Serat Babad Kadhiri, Kisah Berdirinya Sebuah Kerajaan, Penerjemah Siti Halimah Soeparno, Yogyakarta, Matara Communication, 2008.

Nancy K. Florida, Jawa-Islam di Masa Kolonial; Suluk, Santri, dan Pujangga Jawa, (penerjemah dan editor Irfan Afifi), Buku Langgar, Yogyakarta, 2021.

0
1761
Buku Langgar

Universitas Kagungan Dalem Bathara Guru – Sebuah Pengantar

Izinkan pada awal tulisan ini, saya membuat disclaimer bahwa seluruh isi tulisan pengantar ini, anggap saja sejenis sendau-gurau juga sebuah racauan. Dan oleh karena itu, para pembaca tak perlu menganggapnya terlalu serius, apalagi membatinkannya dalam sebuah permenungan yang menyendiri.

Karena hal ini berkait dengan seorang sosok dan juga terkait sebuah ajaran yang begitu luhur, wingit, serta lungid, yakni sosok bernama Ki Ageng Suryomentaram dengan ajaran “Kawruh Jiwa”-nya, dimana dari sejak dini pada saripati-inti ajaran tokoh ini sendiri, mewanti-wanti para pembacanya untuk tak menjadikannya sebagai semata ‘diskursus’: bahan permenungan, alih-alih intellectual exercise yang tanpa ujung. Ia, Ki Ageng Suryomentaram, semata menyodorkan aksioma-aksioma [baca: sebuah ajakan] sebagai pelecut yang bisa membantu seseorang untuk segera masuk mengenali dan mengawasi realitas kediriannya sendiri. Tak lebih dari itu.

Karena, jika anda telah menyambut ajakannya ini, hati-hati, bukan saja Anda akan tergetar dan terkesima menyaksikan realitas diri Anda sendiri yang begitu mengagumkan, namun Anda juga akan mengalami transformasi diri yang tanpa terkatakan [tan kena kinira ngapa], yakni sebuah perubahan diri yang tidak memiliki capaian presedennya sebelumnya. Bagi Anda yang belum siap membaca tulisan ini, awas, urat Anda bisa putus.

****

Lepas dari kaidah “Kawruh Jiwa” [baca: ajaran Ki Ageng] yang akan segera diuraikan secara melimpah dalam buku ini, saya akan menyingggung sedikit terkait pijkan dasar spiritualitas [dasar bentangan ilmu ruhani], yang sayangnya bahkan sering dibaikan oleh para pelajar Kawruh Jiwa sendiri [baca: para pengikut Ki Ageng], yakni terutama persis seperti telah dijelaskan dalam dokumen surat-surat “pra-Kawruh Jiwanya” Ki Ageng yang berjudul “Buku Langgar 1920-1928” [belum diterbitkan].

Dengan menyinggung ulang dokumen awal tulisan Ki Ageng Suryomentaram ini, bukan saja kita bisa memblejeti dasar-pijakan spiritual macam apa yang membuat Ki Ageng bisa merumuskan Kawruh Jiwa-nya, melainkan juga kita bisa merunut cadangan kultural macam apa yang memungkinkan sosok agung ini muncul dan hadir, sekaligus bagaimana prasyarat cadangan-cadangan tersebut memungkinkan ajaran Kawruh Jiwa-nya bisa melampaui kelemahan ajaran spiritual-ruhani sebelumnya, serta pada saat bersamaan, juga sekaligus bisa menemukan signifikansi orisionalitas gagasannya sendiri.

Saking wingit dan sakralnya, Ki Ageng Suryomentaram berusaha memeras pijakan kawruhnya [rumusan pengetahuannya] dalam Buku Langgar—sebagaimana tertera dalam salah satu tulisan ‘surat’-nya yang berjudul “Pedagogie”—dengan rumusan yang agak berani sekaligus simbolik. Ia mengatakan bahwa basis pijakan pengetahuan yang ia rumuskan, adalah semata merupakan “pijakan atau bekal manusia untuk menjalankan unsur-unsur kedewataan dalam dirinya” [sanguning manungsa supados anetepi Kadewatanipun].

Rumusan ini berangkaat dari asumsi sederhana bahwa di dalam diri manusia terdapat dua unsur yang saling berperang yakni,

[1] unsur ke-buto-an atau sifat raksasa [atau katakanlah unsur kehewanan dalam diri, diri kecil, dan nafsu], sedangkan yang kedua,

[2] unsur ke-dewa-an atau unsur ‘ketuhanan’ atau ‘kemalaikatan’ di dalam diri terdalam manusia. Ini adalah unsur fitrah jiwa terdalam manusia, hati nurani [pancaran cahaya Tuhan yang bersemayam dalam diri: Nur Muhammad].

Nah ilmu mengenali diri atau sering disebut ilmu ‘mawas diri’ ini sejatinya —sebagai langkah mendasar sekaligus puncak untuk mengenali hakikat kenyataan dan hidup ini—adalah ilmu untuk mengenali hakikat sejati terdalam dari diri, plus usaha mengeluarkan, merealisasikan, dan menegakkan pancaran unsur kedewataan yang bersemayam dalam diri manusia itu sendiri [baca: ilmu ruhani, khalifatullah}.

Kendaraan atau wahana untuk mencapai derajat pengenalan diri ini [plus realisasinya] oleh Ki Ageng dinamai dengan apa yang diistilahkannya sebagai Sih atau rasa welas asih atau cinta. Yakni sebuah daya yang sebenarnya berasal atau masih berada dalam area kuasa yang memancar dari Kraton Surga [inggih punika Sih ingkang kabawani Kraton Swarga]. Alias, sebuah daya untuk menundukkan dan ‘menguasai bumi seisinya’ [smarabumi]. Meminjam kalimat Suryomentaram sendiri,

“Apakah kalian sudah tahu, jika pada alam semesta-keseluruhan ini tidak ada daya yang bisa mengunguli ketinggian daya dibanding rasa cinta-sejati?”

[Punapa sampeyan sampun mangertos yen ing jagad sawegung punika mboten wonten daya ingkang nglangkungi luhuripun katimbang raos sih sejati?]

Karena, menurutnya, pada dasarnya kebutuhan manusia di dunia ini selain makan tak lain hanya rasa cinta. Berjuta-juta orang dengan susah payah mencari harta benda [semat], kehormatan-pangkat [drajat] dan kuasa-jabatan [pangkat] agar dikasihi dan mendapat cinta dari yang lain. Namun ternyata apa yang didapatinya justru sebaliknya: perselisihan, iri-hati, sombong, rasa benci atas jalan hidupnya sendiri, juga rasa benci terhadap orang lain karena tidak mencintai dan mengasihinya. Model pencarian kebahagian yang seperti inilah yang akan mengantarkannya kepada ‘neraka kesengsaraan’.   

Sungguh ini dikarenakan ketidakmengertian akan hakikat gerakan hidup, alias ketiadaan pengetahuan dan ilmu, dimana gerakan kodrati hidup tadi dipaksa tunduk pada keinginan dan kehendak sewenang pribadinya sendiri [kehendak-nafsu]; tanpa ilmu nyata. Oleh karenanya Ki Ageng menyarankan, untuk sampai kepada pengetahuan terkait hakikat hidup [meruhi dat-ing dumadi: Ilmu hakikat], seseorang harus mengambil jalan lurus siratalmustaqim bernama pengetahuan “mengenali dirinya sendiri” [ilmu ma’rifat], karena sumber segala kesengsaraan kita adalah ketidakmengertian akan realitas diri ini.

Dalam bahasa pasemon pewayangan, apa yang ingin dikerjakan oleh Ki Ageng Suryomentaram adalah mengajarkan ilmu kedewataan [baca: ilmu ruhani] supaya tergelar di alam dunia mayapada ini, alias alam semesta dunia ini. Atau dalam bahasa yang lebih simbolis, ia mendapat mandat dari Bathara Guru, yakni melalui penasehatnya Bathara Narada, penguasa kayangan Dewata, untuk mendirikan Univeritas Kagungan Dalem Bathara Guru, yakni sebuah universitas yang akan mengajarkan ilmu kedewataan atau ilmu ruhani, supaya tegak dan berdiri di alam mayapada dunia ini [angadekaken unipersitit kaagungan dalem jumeneng wonten ngarcapada].

Sebuah ilmu yang menuntun para mahasiswanya untuk mengenali realitas hakikat kediriannya sendiri [baca: man arafa nafsahu] yang belakangan akan dinamai oleh Ki Ageng Suryomentaram sendiri dengan nama “mawas diri” atau “pangawikan pribadi” [alias ilmu tentang mengawasi dan mengenali diri sendiri]. Siapa yang telah mengenali diri sejatinya akan sampai kepada unsur atau pancaran hakikat kedewataan yang bersemayam dalam diri ini [jumeneng pribadi]. Di belakang hari, penamaan ilmu ini berganti lagi menjadi bernama “Kawruh Jiwa” untuk mengeliminasi konotasi dan jebakan mistifikasinya.

Dalam konteks ini pula, perlu kita dicatat bahwa usaha Ki Ageng Suryomentaram menelurkan “Kawruh Jiwa” ini oleh karenanya juga harus dibaca dalam rentang rangkaian tradisi keilmuan ruhani sebelumnya [baca: surat wiridan], yakni sebagai sebentuk cadangan kultural ke-Jawa-an yang memungkinkan sosok ini menelurkan gagasan orisionalnya, yang secara bersamaan juga telah terolah secara matang bahkan melampaui tradisi spiritual sebelumnya sekaligus. Dalam hal ini, Ki Ageng Suryomentaram bisa juga kita anggap merupakan rantai kristalisasi puncak dari bentang rangkaian ajaran keruhanian Jawa sebelumnya tersebut.

Dan hanya di tangannya sematalah, yakni melalui metode rasional-objektifnya, ia bisa menepis aspek mistifikasi ajaran keruhanian maupun spiritualitas lama yang pekat dengan jebakan irrasionalitas dan normativitas sendiri yang melenakan. Pada Kawruh Jiwa-lah ajaran keruhanian lama mencapai kematangan rasional objektifnya, sebut saja begitu, sehingga bisa menjadi suguhan makanan ruhani [pengetahuan obyektif, alih-alih normatif] yang dapat diambil oleh siapapun tanpa membedakan baju tempelan identitas suku, kelompok, agama, maupun kebangsaan apapun. Alias telah menjangkau aspek universalitasnya bagi kemanusiaan seluruhnya.

Namun begitu, ajaran yang ditelurkannnya, sekali lagi tak boleh dilupa, masih merupakan rangkaian benang yang sama dari ajaran spiritual-ruhaniyah kemanusiaan sebelumnya [Jawa-Islam]. Dalam jalur pengatahuan “mawas diri” atau “pangawikan pribadi”-nya misalnya [baca: ilmu pengenalan akan dirinya sendiri], tema ini hampir ditemukan merata dalam tradisi spiritual-ruhani sebelumnya.

Bahkan dalam ulasan yang lebih eksplisit serta padat pada ajaran Bangkokan Kawruh Jiwa-nya bernama “Buku Langgar”, Ki Ageng sendiri dengan sadar berusaha menilik ulang dan me-review saripati ajaran-ajaran tradisi sebelumnya ini, yakni dimulai dari ajaran sejak zaman akhir Prabu Brawijaya, zaman Demak akhir, masa Sultan Agung beserta Sastra Gendhing-nya, masa Mataram Akhir, Kartasura Akhir, serta pada zaman Giyanti, hingga zaman Penjajahan Belanda pada masa ia hidup. Ia menunjukkan kelebihan ajaran-ajaran yang terselenggara pada setiap masa-masa tersebut, plus menunjukkan jebakan-jebakannya.

Bahkan tokoh agung ini juga mengulas secara terpisah saripati ajaran pada masa “Sekolahan Gaib Zaman Islam” [jaman kuwalen: zaman para wali], yang sering dikenal sebagai masa dimana para wali tanah Jawi menyebarkan ajaran ruhaninya, yang relatif ia beri porsi ulasan yang cukup padat, untuk sekali lagi menimbang kelebihan serta potensi jebakannya. Tak hanya itu, ia juga membandingkan dengan tradisi ajaran Budhisme, serta memberi tambahan ulasan kritik terkait kecenderungan kultifikasi benda-benda gaib [kultus benda] seperti dilakukan oleh para pelaku dan penganut Theosofi, yang memang pada saat itu, awal abad 20, mulai menyebar di tanah jajahan Hindia Belanda.

Hal ini, bagi saya, bukan sesuatu yang mencengangkan. Karena, dalam dokumen Primbon 9 jilid yang dikeluarkan Keraton Surakarta, bernama “Kitab Primbon seri-Adam Makna” yang telah banyak beredar, dimana dikatakan pada pengantar pendahuluannya, bahwa Ki Ageng Suryomentaram merupakan cucu dari seseroang pangeran pemilik berjubel-jubel kitab dan manuskrip kuno tinggalan warisan kesusateran Kraton Jawa Mataram Islam: Pangeran Harjo Tjakraningrat. Dan Suryomentaram, konon mendapat limpahan kepustakaan ini dari kakeknya tersebut. Juga dari koleksi manuskrip milik kakeknya ini pulalah, 9 jilid Kitab Primbon yang telah disebut, akhirnya bisa diterbitkan dalam edisi latin dan tersebar di kalangan masyarakat.

Signifikansi informasi barusan sebenarnya hanya ingin meletakkan kesadaraan terkait satu hal: Ki Ageng Suryomentaram bukan hidup dalam ruang vakum dalam menelurkan gagasan-gagasannya. Plus hal ini terkait ide mendasar, bahwa Ki Ageng benar-benar berinteraksi dengan gagasan dan ajaran ruhani zamannya.

Bahkan, dalam riwayat hidupnya, ia pernah terseret secara kuat dalam laku “lelana-brata” [baca: santri lelana], dalam pengelanaan ruhani dan tirakat ke makam dan petilasan-petilasan keramat di banyak tempat pada masanya [gua langse, dll]. Juga terkait keputusannya ‘keluar’ [melarikan diri] dari kenyamanan keraton dalam lelaku asketiknya: seperti menjadi penggali sumur, kuli angkut koper, berdagang kain keliling di daerah Banyumas, menanggalkan gelar resmi kepangeranannya, mendesak pemerintah kolonial untuk menuruti permintaan berhajinya ke Makkah, menyerahkan sebagian besar harta bendanya kepada pelayannya, hingga menjadi petani biasa sampai umur tuanya di Desa Bringin, Salatiga. Laku-laku inilah, latar penting yang memungkinkan sosok ini melahirkan gagasan-gagasan ‘orisionil’ Kawruh Jiwanya di belakang hari.

Dari cadangan kultural kejawaan inilah yang mumungkinkan sosok Ki Ageng bisa menyandingkan dan menukil secara enak pengetahuan-pengetahuan lama-lama tersebut. Juga dalam konteks ilmu pengenalan diri sendiri, Ki Ageng dengan enak bisa memeras dan mengambil saripati ajaran-ajaran lama Jawa-Islam dengan pengetahuan pangawikan pribadi-nya sendiri, yakni dengan cara mengeluarkan signifikansi mistis makna selubung ‘rahasia’ tokoh semacam Siti Jenar dengan kisah cacingnya, maupun Kanjeng Kyai Kopek sang sosok macan-nya Sultan Agung, maupun signifikansi mistik-simbolis jembatan kayu melintang [wot galinggang] yang dipakai Sunan Kalijaga saat bertapa di Pulau Upih.

Semua simbol ini mengacu pada perjalanan atau dalam bahasa lamanya disebut ‘lelaku’ ruhani dalam rangka mengenali dan menemui diri sejatinya sendiri. Persis seperti perjalanan ruhani sosok Bima dalam pewayangan dalam usahanya menemui ‘dirinya sendiri’ dalam wujud sosok kecilnya [baca: Dewa Ruci]. Sebuah perjalanan ruhani untuk menemui Diri-nya sendiri atau sering disebut ‘suluk’ [dimana istilah tasawuf ini telah diserap dalam bahasa Jawa untuk menamai genre tembang alit macapat dalam tradisi Jawa—baca kesusateraan Suluk].

Dan dalam galur bentangan keilmuan ruhani inilah Kawruh Jiwa ini harus ditempatkan sebagai masih dalam rangkaian kontinum keilmuan lama untuk mengenali jiwa terdalam diri manusia [baca: mulat sarira]. Yakni tentu dengan kebaruan sodoran metodologi obyektifnya, alias alih-alih normatif dan mistis seperti tradisi ruhani sebelumnya, dan oleh karenanya, Kawruh Jiwa dengan begitu bisa dikatakan merupakan pematangan gagasan-gagasan objektif dari tradisi ilmu ruhani sebelumnya.

Hal ini sekaligus memberi arti dan signifikansi baru kenapa Ki Ageng lebih memilih kata ‘kawruh’ yang lebih berkononotasi obyektif-empiris, daripada kata ‘ngilmu’ yang lebih berkonotasi mistik dan normatif misalnya. Alias secara ringkas ia berhasil menelurkan prinsip-prinsip objektif keilmuan, dengan maksud memperluas pengandaian cakupan universalitasnya, terkait perangkat pengetahuan akan pengenalan realitas diri yang bisa membantu manusia Jawa juga Indonesia atau bahkan dunia secara luas, dengan sodoran metode barunya.

Juga penting ditilik, bahkan sejak pertalian erat juga relasi persaudaranya dengan Ki Hajar Dewantara, yakni jauh sebelum pertemuan rutin “Selasa Kliwon” pada tahun-tahun yang mendahului dalam menelurkan pendirian Taman Siswa dimana ia terlibat, Ki Ageng Suryomentaram telah berinteraksi secara intens dengan gagasan-gagasan filsafat Barat zamannya. Dalam sebuah suratnya ia menyinggung hal ini secara implisit:

Aku kelingan dek Paman Ajar isih sekolah. Sok Bengkat barang, mungsuhe Nabi Kilir, Kanjeng Sultan Agung, Kanjeng Sunan Kali. Nek Lud-ludan Pei karo Batara Narada lan Sidarta Kapilawastu. Jing Ngloco Pitagoras utawa Plato. Nek Bas-basan janji karo Prabu Brawijaya, betah sawengi. Nek mul-mulan adate mungsuhe Laose dibut loro karo Konghuchu. Jing tukang mungsuhake Aristoteles karo Kant.”

Artinya,

“Aku masih ingat saat paman Ajar [Ki Hajar Dewantara; pen.] masih sekolah, kadang bermain pedang-pedangan juga. Musuhnya Nabi Khidir, Kanjeng Sultan Agung, Kanjeng Sunan Kalijaga. Kalau bermain kartu bersama Bathara Narada dan Sidarta Kapilawastu. Yang mengocok Pitagoras dan Plato. Jika bermain bas-basan, janjian sama Prabu Brawijaya. Tahan semalaman. Kalau bermain gulat biasanya musuhnya Laotse, dikeroyok bareng Konfusius. Yang menjadi tukang adunya Aristoteles bersama Immanuel Kant.”

Kutipan di atas ingin menyodorkan keterangan implisit, bahwa Ki Ageng bukan saja tidak mengisolasi diri dari gagasan-gagasan besar dunia zamannya—seperti dugaan banyak orang—dan malah ia sebenarnya berada tepat pada pusaran aliraan deras gagasan-gagasan besar zamannya tersebut, namun ia memilih tak larut dan melarutkan diri. Bahkan ia malah membentuk pusarannya sendiri. Karena seturut perkataannya sendiri, jika hanya terseret arus dalam relasi perhubungan yang semakin meningkat antar-bangsa, bangsa yang tidak dapat memberi sumbangan gagasannya kepada dunia [alias cuma mengunyah teori dari luar] akan sirna tanpa guna [dene bangsa ingkan mboten saged urun bade sirna].

***

Buku Trilogi Ki Ageng Suryomentaram yang ditulis oleh Muhaji Fikriono ini adalah rangkaian panjang lelaku sang penulis dalam menyajikan suguhan makanan ruhani “Kawruh Jiwa”-nya Ki Ageng Suryomentaram, agar dapat dicicipi siapapun dalam merasakan buah penerapan Kawruh Jiwanya Ki Ageng. Konon Muhaji Fikriono katanya dalam usaha menuliskan karyanya ini perlu menunggu umur kematangan ruhani di usia 50. Juga, Trilogi buku ini juga semacam elaborasi terkait cadangan kultural ilmu ruhani ke-Jawa-an, seperti yang telah disebut, yang membentuk dan memungkinkan Ki Ageng Suryomentaram menelurkan Kawruh Jiwanya yang begitu orisinil, namun juga masih merupakan jejak bentangan benang tradisi keilmuan ruhani yang berturutan sebelumnya.

Pembacaan rentang tradisi pengetahuan ruhani kejawaan ini sangat diperlukan bukan semata untuk mendudukkan latar kultural yang memungkinkan sosok agung Suryomentaram lahir, namun juga dalam bahasa tokoh ini sendiri, agar bangsa Jawa pada khususnya, mampu, tentu dengan cadangan-cadangan kulturalnya yang kaya tersebut, untuk merumuskan tata-sosial baru yang lebih mulia [saged tata bebrayan enggal ingkang langkung mulyo].

Karena, bagaimanapun, usaha menyelenggarakan keilmuan ruhani dari mandat kayangan Dewata, punya kendala dan rintangannya sendiri, meski tradisi keilmuan ruhani ini merupakan warisan kaya yang dimiliki bangsa Jawa juga Indonesia secara umum. Namun begitu, bangunan Universitas Keilmuan Diri-Ruhani di masa yang lama, menurut Ki Ageng, atapnya sudah banyak yang retak, patah, dan rompal di sana-sini [unipersitit kina ingkang pager-payonipun sampun sami popol].

Banyak para maha-guru dan professornya yang ikut merawat dan menjaga universitas ruhani tersebut telah banyak yang terserang oleh ‘cacing kebencian’ [kremi gething], serta banyak papan dan dinding kayu universitasnya telah tergerogoti oleh rayap ‘merasa unggul sendiri’, serta telah dihinggapi kesombongan dan rasa jumawa [ama pambegan], sehingga urgensi pendirian universitas pengetahuan diri yang baru [baca: Universitas Kagungan Dalem Bathara Guru] perlu disegerakan. Dan dalam latar seperti itulah Ki Ageng Suryomentaram hadir.

Karena, penghalang terbesar untuk mengenali kenyataan diri—yang akan membawa pada keadaan bahagia bersama [baca: zaman windukencana]—adalah sebuah rasa “merasa lebih dari yang lain”, rasa sombong, rasa ‘lebih unggul dari yang lain’, juga rasa iri. Rasa-rasa ini muncul dikarenakan sebagai penanda akan betapa tidak tahunya dia akan kenyataan dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

Dan melihat diri melalui ‘pangawikan pribadi’-nya Ki Ageng berguna untuk membedol rasa-rasa ini sampai kepada akar-akarnya, yang akan mengantarkan seseorang masuk kepada surga ‘rasa-tentram’ dan kedamaian. Karena tercapainya rasa tentram diri ini pulalah yang membuatnya akan bisa menyaksikan dan rajin mengawasi rasanya orang lain, sehingga menemukan cermin ‘rasa yang sama’ terhadap yang lain.

Juga dari jalur pengenalan diri inilah, orang mulai bisa mendeteksi asal sumber kesengsaraan manusia, alias rasa tak pernah cukup dari keinginannya [karep/karsa]. Dikarenakan sifat keinginan ini memang memiliki kondisi kekukarangan, celaka, dan sengsara terus-menerus [dat-ing karep punika cilaka]. Setiap kali melihat orang miskin, orang kaya, orang rendahan, orang berpangkat, orang pandai, orang bodoh, seseorang bisa merasakan kesengsaraan yang sama yang diderita mereka, karena telah menyatu dengan keinginan yang membuatnya memasuki kondisi rasa kekurangan tanpa ujung.

Dalam penglihatan diri ini, ia mulai bisa menyaksikan bahwa terpenuhinya keinginaan tidak akan membuat orang bahagia, karena segera akan mengingini sesuatu yang lebih, tak puas [baca: mulur]. Dan memang begitulah keinginan. Namun, dari jalur ini pula, seseorang akan mulai bisa memilah antara “Aku” sebagai pengawas-keinginan dengan keinginan dan rasa-rasa yang ditimbulkannya sebagai objek awasannya. Aku yang mengawasi keinginan, ternyata mandiri dan terbebas dari kesengsaraan yang dimunculkannya [aku dudu karep].

Akhirnya sang-Aku bisa mengawasi keinginan [karep] se-enaaknya [tanpa perlu mengubahnya], alias tidak khawatir lagi, karena terpenuhi maupun tidak terpenuhinya keinginan tersebut, tidak akan menyebabkan kebahagian seterusnya maupun kesusasahan seterusnya: senang sebentar, lalu susah lagi [karena keinginannya mengembang; mulur], atau jika tidak terpenuhi susah, lalu senang kembali [karena keinginannya mengempis: mungkret].  

Kesadaran sang-Aku pengawas [Diri besar] yang tak lagi terbelit dengan gerakan keinginaan subyektifnya akhinya muncul ke permukaan. Ia sekarang bisa mengawasi keinginannya sendiri, yang secara alami memang memiliki sifat “sewenang-wenang” serta “tak mau bersusah payah” dalam pemenuhannya [alias tak bisa diubah], yang ini jelas melawan prinsip alamiah kenyataan hidup itu sendiri.

Ketika, sang rasa “Aku” telah muncul ke permukaan [sampun medal saking korining pikiran] ia bisa merasakan rasa tentram yang tanpa kira, yakni sejenis rasa damai yang bukan dikarenakan terpenuhinya keinginan, melainkan rasa Aku yang telah terbebas, dan telah bisa menerima sifat kinginaan yang ‘maha lucu’ itu [tanpa perlu lagi mengubahnya], yang pada dasarnya tidak bisa lagi membuat Aku sengsara [karena aku hanya mengawasi].

Pada saat inilah akan muncul rasa tangguh [raos tatag], serta telah bisa menerima keadaan dan kejadian yang telah terjadi di masa lalu [musnahnya rasa sesal—getun], serta telah siap menghadapi apa yang akan berlangsung di masa mendatang [rasa khawatir hilang—sumelang], karena baik terpenuhi maupun tidak terpenuhinya keinginan, tidak akan membuat kebahagiaan yang bersifat terus-menerus [dalam arti rasa senang terus-terusan] maupun kesengsaraan yang terus-menerus [sedih yang terus-terusan]: karena rasa senang dan susah ini pada dasarnya terus-menerus bergantian seiring gerakan keinginan yang bersifat mengembang-mengempis [mulur-mungkret].

Kondisi inilah yang akan mengantarkan kita pada terpilahnya watak-watak kehewanan atau ke-buto-an yang telah berpisah dengan watak kedewataannya [andadosaken sigaring pilahipun wateg-wateg kahewanan lan wateg-wateg kadewatan].

Seseorang akhirnya berdiri tegak dalam berpengetahuan sebagai pribadi [baca: madeg pribadi kawruh] dalam mengawasi kenyataan. Pengetahuan dan proses mengetahuinya tidak lagi digunakan semata sebagai perabot yang tunduk pada pemenuhan keinginannya [penilaian subyektifnya], yang sayangnya jika dibiarkan bisa menyuburkan pengetahuan “kata-katanya” [katanya kitab, katanya buku, katanya teori, katanya orang, dll] maupun pengetahuan “pantas-pantasnya’, alias pengetahuan berdasar kebiasaan dari yang apa dinyakininya [gugon-tuhon], melainkan telah bergerak kepada pengetahuan yang sudah terlepas dari unsur subyektivitas keinginan dan kehendaknya, alias Kawruh Nyata [Ilmu Nyata]. Yakni sejenis ilmu pengetahuan yang telah dimengerti, diketahui, dan dirasakannya sendiri berdasar prinsip obyektif kenyataan hidup yang telah teralami [baca: kasunyatan, hakikat, kahanan jati].

Dalam amsal pewayangan, orang yang telah menegakkan sang Aku ini akan manunggal dengan Batara Wisnu [tetep sarira Bethara Wisnu], memakai mahkota “merasa benar sendiri” [ngrasuk makutha rumaos leres], alias sudah mengerti, mengetahui, dan merasakan sendiri, karena telah duduk di singgasana Kawruh Nyata atau Ilmu Nyata [lenggah ing dampar kawruh nyata], serta kemudian menjadi sang Aku yang maha serba tahu [semuanya kuketahui, bahkan termasuk yang tidak kuketahuipun, aku tahu].

Namun setiap kali sang Aku melihat yang lain, ia ternyata melihat orang lain seperti bayangannya sendiri yang juga “merasa benar sendiri’ [tiap orang pasti begitu], meskipun dasar penyangga pengetahuan “merasa benar sendiri”-nya tersebut adalah pengetahuan yang “kata-katanya” [jare-jare] atau “menurut ini-menurut itu” [biridan], maupun “pengetahuan pantas-pantasnya berdasar semata kebiasaan yang dinyakininya” [gugon tuhon].

Ia melihat orang lain juga ‘merasa benar sendiri’ meskipun belepotan di sana-sini. Padahal, siapapun yang bersikeras memaksa orang lain untuk supaya “merasa keliru” tanpa didampingi suguhan sajen Dewi Sinta bernama ‘rasa welas asih’ yang sempurna, tentu pasti akan kwalat” [pramila tiyang ingkang ngogek-ngogek dating tiyang sanes, ingkang supados rumaos klentu mboten mawi Dewi Sinta, Sih ingkang sampurna, tamtu kwalat].

Rasa Aku-mengawasi yang telah muncul dalam diri seseorang inilah yang dikatakan oleh “Kawruh Jiwa” bisa menjadi pandu dalam mengawasi dan menimang gerak naik-turunnya rasa-rasa beragam dalam hati yang terus berseliweran, plus untuk membedol dan mencabuti rasa-rasa ruwet yang telah berurat akar di dalamnya. Rasa tentram akhirnya akan bersemayam, karena telah bisa menerima dan mengawasi rasa-rasa yang berwarna tadi, yang memang berlangsung seturut hukum kejadian dan sifat keinginan.

Jika rasa tentram ini semakin bertambah dan mengakar dalam diri, ia bisa berdiri sebagai pribadi [jumeneng pribadi], alias tidak membutuhkan ‘rasa-welas-asih’ dari orang lain, karena dalam hatinya telah berlimpah dan kelebihan rasa cinta [sugih sih-kaya cinta], yakni sebagai hasil buah tanaman pengetahuan yang tumbuh dari pengenalan kenyataan dirinya sendiri. Jika buah ini telah matang, ia bahkan bisa membagikannya sebagai suguhan makanan bagi setiap makhluk di bumi untuk memetiknya.

Sang Maha-Kaya-“Cinta” ini [orang yang telah berkecukupan cinta, karena saking melimpahnya di dalam hatinya] kemudian juga bisa mulai bertani, menanamkan benih pengetahuan [kawruh] ke dalam hati orang lain dengan cara membajaknya dengan simpati, melembutkan tanah pertaniannya dengan alat garu bernama sabar, dan menyiangi gulmanya dengan rasa welas-asih.

Sabar dikarenakan berasal dari terang penglihatannya, bahwa menanam padi pasti akan menumbuhkan padi. Sedangkan simpati adalah penglihatan jiwanya dalam memandang orang lain, tidak ada lagi sekat-pemisah yang tidak mungkin bisa ditembus oleh kekuatan simpati. Jika anak panah simpati telah dilepaskan, semua yang berkerlipan akan termurnikan; sebuah senjata prabu Niwatakawaca dalam pewayangan, dimana saat sang Arjuna telah bisa mengalahkan sosok ini, ia disebut “lelananing jagad’ [sang pria sejatinya jagad raya].

Mungkin dalam rangka menjelaskan ajaran mulya pengenalan diri-ruhani inilah, penulis buku Trilogi Suryomentaram ini: Muhaji fikriono, bertungkus-lumus menuliskannya dalam tiga jilid tebal yang serba melingkupi sehingga memudahkan para pembaca. Dan, seperti sering dikatakan penulis buku ini kepada saya, bahwa ‘sudah saatnya’ ajaran ini perlu diwedar dan dijelentrehkan tanpa harus ditutup-tutupi lagi karena kekhawatiran akan efek getarnya bagi tradisi pengetahuan normatif ruhani sebelumnya.

***

Pesan Seri Buku Ki Ageng Suryomentaram Karya Muhaji Fikriono [Klik Link]

Namun, sebelum beranjak mengatamkan rangkaian buku trilogi ini, saya ingin mengingatkan kepada para pembaca, bahwa rangkaian ajaran yang akan Anda dapatkan dari hasil ‘membaca’ buku Suryomentaram ini, pada akhirnya adalah baru semata ‘katanya’ Suryomentaram [ilmu jare-jare dan biridan]. Alias Anda belum mengetahui dan merasakannya sendiri [mengerti, mengetahui, atau merasakan sendiri—Kawruh Nyata].

Maka, setelah selesei, segeralah lupakan ‘katanya’ Suryomentaram, tepislah pengetahuan ‘menurut’ Suryomentaram. Segeralah, mulai saat ini, di sini, dan dalam keadaan seperti ini [saiki, kene, ngene] mengenali dan mengawasi realitas diri Anda sendiri. Karena tak ada siapapun, makhluk bumi manapun, yang bisa mengajari Anda–tidak guru manapun, tidak kitab, tidak buku, tidak tulisan, atau tidak siapapun—dalam usaha mengenali realitas diri anda sendiri.

Wejangan Suryomentaram di bawah ini barangkali tepat untuk memungkasi paragraf pengantar tulisan ini:

Saya mengingatkan kepada semua yang mendengar

[Kulo pepenget dateng sedaya ingkang mirengaken],

Jangan pernah menjalankan ajaran-ajaran di atas

[sampun ngantos anglampahi wulangan punika],

Malah akan mendapat kesusahan yang tak terkira

[mindak angsal kesusahan ingkang tanpa upami].

Ajaran-ajaran di atas hanya untuk tiang-sandaran saat duduk semata

[wulangan punika namung kangge cagak lenggahan kemawon],

Atau semata sebagai suguhan pengiring saat wedangan

[utawi pacitan wedangan],

Jangan sampai dibaca saat sendiri

[sampun dipun waos ijen-ijenan],

Sebab nanti kalau ada setan yang lewat, juga akan ikut tertarik untuk mengamalkannya

[sabab mangke yen wonten setan langkung lajeng kapingin nglampahi],

Akhirnya bisa membahayakan, rusak dunia-akhiratnya

[wasana kadrawasan, risak donya-ngakeratipun].

Akhir kata selamat membaca. Langeng bungah-susah!

Klandungan, Malang. 26 Januari 2024

Irfan Afifi

Pelajar Kawruh Jiwa, ngiras-ngirus Tukang Sapu Langgar.co

*** Tulisan pengantar ini ditulis untuk mengenang momen ‘kasendal-mayang’ rasa gemetar diri yang tak terkira karena membolak-balik “Buku Langgar 1920-1928” [belum terbit] selama masa tiga tahun.

Bocah Cilik Gambar Jagad – Catatan Etnografi Biografi Slamet Gundono

Rp 120.000

Jika Proses keberislaman adalah proses berkebudayaan itu sendiri dalam arti upaya peyempurnaan manusia dalam keempat fakultas dirinya yakni cipta, karsa, jiwa dan rasa, maka proses yang seperti itu dalam kenyataan konkrit dapat disimak dalam kisah hidup Slamet Gundono yang ditulis secara etnografis oleh Yusuf Efendi dalam buku ini.
Karya yang bercerita kisah perjalanan Ki Slamet Gundono ini, akan mengajak kita manyusuri lika-liku kehidupan seorang seniman dari latar belakangnya yang rinci dan pelik, hingga gagasan-gagasannya yang asik, renyah lagi dalam. Kompleksitas tersebut disusun dalam alur metrum macapat dalam kesusastraan Jawa yang saling terkait satu sama lain. Sinom, Kinanthi, Asmaradana, Gambuh, Dhandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, Pocung dan Sekar dijadikan penanda oleh penulis untuk menceritakan fase-fase perjalanan tokoh tersebut.
Penerbitan buku ini bagi kami adalah usaha untuk memotret suluk kehidupan seorang seniman yang mempunyai ciri khas kuat lagi berkarakter. karya-karya yang diciptakan berakar di jantung tradisi masyarakat bernafaskan spritualitas Islam, di sisi lain tak kehilangan relevansinya dengan sepirit zaman kontemporer. Dan menurut kami sosok ki Slamet Gundono adalah prototipe utama seorang seniman dalam galur Islam Berkebudayaan. Dan besar harapan kami kedepan dengan adanya buku ini bisa memberi gambaran sekaligus inspirasi bagi seniman-seniman lebih muda.

Penulis : Yusuf Efendi
Editor : Taufik Ahmad
Tata letak : Mugi Pengki
Penerbit : Buku Langgar
Tahun terbit : April, 2022

Spesifikasi Buku

Ukuran : 13 X 19 cm
Halaman : 420 hlm

Kecendekiaan Jawa – Pesantren, Kitab dan Tarekat Abad XV-XVI

Rp 200000 Rp 175.000

Kecendekiaan Jawa – Pesantren, Kitab dan Tarekat Abad XV-XVI – Nur Khalik Ridwan

Sinopsis:

Aspek penting yang menggerakkan para wali di Jawa abad XV-XVI adalah batin-tasawuf-tarekat, tetapi sering luput dalam analisis para Orientalis. Dengan aspek tasawuf-tarekat itu, para wali penyebar Islam di Jawa abad XV-XVI melakukan berbagai upaya pribumisasi islam, pembacaan atas Jawa, dan memformulasikan Jawa dengan tetap memelihara apa-apa yang yang diperlukan dari masa lalu.

Aspek batin itu diolah dari tarekat-tarekat mereka, yang buahnya adalah mendidik kader, menggerakkan perubahan, mengacu-menyusun karya-karya, menyuburkan amal-amal baik, mem-bangun jejaring dan mengolah dzikir-dzikir untuk ke-mashlahatan manusia Jawa.