Saya, dan Sasi Mulud

Tahun 80-an, saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), saya pernah diajak ibu menonton sekaten di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Sepulangnya, ibu membelikanku contong suruh, ndog abang sangga buana, pecut, dan boneka pring jaran kepang. Saat itu harganya masih 2000 rupiah perbuahnya. Penjualnya simbah-simbah tua yang duduk kelesotan sembari menginang dan sesekali memuncratkan dubang ke tanah dari mulutnya.

Sesampainya di rumah, suruh diberikan kepada simbahku untuk menginang, mbako dicampur cengkeh oleh bapakku kemudian dirokok, kembang kantil diselipkan ibuku dilipatan rukuhnya (mukena) agar selalu harum saat mau digunakan salat, sidik diselipkan dikopyah bapakku, daun pisang digunakan simbahku untuk jualan pecel, ndog abang saya makan, dan pecut serta boneka jaran kepang saya gunakan untuk bermain dengan Parno, teman mainku. Bahagia sekali rasanya saat itu.

Sebelum ibu saya meninggal, dua tahun sebelum saya lulus kuliah, beliau pernah berpesan:

Wong Jawa kui kudu dadi contong suruh lan ndog abang sangga buana, lee.” Orang Jawa itu harus jadi contong suruh dan telur merah sangga buana.

Menurut ibuku, dari dua belas bulan Jawa dalam satu tahun yang terdiri dari Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, Dulkangidah, dan Besar, ada tiga bulan besar yang penting untuk dijadikan sebagai kesadaran hidup, yaitu Sasi Mulud (Bulan maulud), Sasi Besar (Bulan Dulhijah/hari raya kurban), dan Sasi Sura (Bulan Muharam). ketiganya biasa disebut dengan grebeg agung.

Dalam siklus perjalanan hidup selama setahun, leluhur Jawa menjadikan Sasi Mulud sebagai penanda untuk “memulai hidup.” Sasi mulud adalah bulan saat Kanjeng Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Dengan begitu, orang Jawa berharap dapat meneladani sosok Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai bekal hidup di bulan-bulan setelah Sasi Mulud.

“Oleh karenanya, wong Jawa menyebutnya Sasi Bakda Mulud, lee.” begitu kata ibu saya waktu itu.

Di Keraton Yogyakarta, Sasi Mulud dihormati dengan gelaran Sekaten. Saat itu, gamelan Kyai Naga Wilaga dan Kyai Guntur Madu ditabuh, rayahan gunungan di akhir bulan, dan pasar rakyat di Alun-alun Lor digelar. Di pasar itulah dahulu ibu saya membelikan contong suruh (corong dari daun pisang dan daun suruh), ndog abang sangga buana (telur merah penyangga dunia), dan pecut jaran kepang (kuda kepang).

Contong suruh adalah benda berbentuk corong (seperti bentuk pengeras suara) yang terbuat dari godhong gedang (daun pisang) yang ditusuk dengan sidik (lidi). Di dalam contong terdapat daun suruh (sirih), mbako (tembakau), dan kembang kantil. Saat itu, ibuku menerangkan begini:

“Contong itu simbol omongan, ucapan, atau bicara. Suruh atau sedah (sirih) itu artinya perintah atau nasehat. Sidik itu dari Bahasa Arab, artinya jujur. Maksudnya, omongan, perintah, atau nasehat yang baik harus dilandasi kejujuran. Contong itu terbuat dari godhong gedang.  Secara mardikawi diartikan digeged nganti padang (digigit sampai jelas). Maksudnya agar omongan dapat dipercaya, maka segala yang akan diomongkan harus diendapkan dahulu hingga pikiran terang dan jernih (padang).”

Mbako (tembakau) dari Bahasa Arab, baqo, artinya abadi, kekal. Maksudnya, jika omongan, perintah, nasehat dilandasi kejujuran, maka pasti akan abadi, kekal, dan dikenang. Kantil, kemantil dari Bahasa Jawa artinya ikut, taat. Maksudnya,  jika omongan, perintah, nasehat dilandasi kejujuran, maka orang lain pasti akan ikut dan taat, tidak perlu dipaksa.”

“Kabeh simbol kui mau sejatine ana neng Kanjeng Nabi Muhammad kabeh, lee. Contong suruh kui ming carane wong Jawa menjawakan maksud empat sifat mulia Kanjeng Nabi Muhammad, yaiku sidik, amanah, tablig, fatonah. Ben kabeh wong Jawa nuladani Kanjeng Nabi.”

Dahulu saya sering mendengarkan dongeng ibuku ini sambil terkantuk-kantuk. Lalu, sesekali sadar dan bertanya; nek ndog abang artine apa, mbok? Sembari diusap-usap kepalaku, ibu saya mendongeng lagi.

Tugase wong Jawa neng dunya kuwi jebule abot, lee. Ndog abang sangga buana kuwi simbole. Artinya, wong Jawa harus menjadi penyangga dunia. Wong Jawa kudu iso mangku kepentingan wong sak dunya kanti budi pekerti sing apik. Ndog itu terdiri dari tiga elemen, yaitu ndog (telur), abang (merah), dan pring kuning (bambu kuning). Ndog dari Bahasa Jawa artinya telur. Kata telur jika dibaca secara mardikawi, maka akan menjadi telu ‘R’ (tiga R). Dalam Bahasa Jawa, ndog juga disebut tigan. Secara mardikawi dibaca menjadi Tiga ‘N’. Maksudnya, ndog, telur, tigan, itu disusun oleh tiga elemen, yaitu kulit telur, putih telur, dan kuning telur.”

“Kulit telur dimaknai sebagai jagad manusia, putih telur jagad lelembut, dan kuning telur jagad ruh. Pemaknaan ini sama dengan pemaknaan terhadap atap masjid bersusun tiga kalijagan. Ndog yang berbentuk bulat itu diibaratkan buana/jagad (dunia); dunia besar (jagad gede) yakni alam semesta dan dunia kecil (jagad cilik) yakni manusia. Visinya, manusia sebagai jagad kecil harus mampu menjadi penyangga jagad besar.”

“Warna abang (merah) kui simbol getihe (darah) manusia. Nek pring kuning (bambu kuning) kui simbol penyangga atau orang Jawa itu sendiri. Pring kuning jika dibaca secara mardikawi berarti paringono kukuh lan wening (berilah kekuatan dan ketulusan). Muga-muga wong Jawa kuat nglakoni tugas iki, lee.

“Inilah yang oleh para leluhur disebut dengan iman daya mukti sebagai modal bebrayan ageng (hidup bersama). Makane, lee, seluruh ratu Jawa gelarnya menunjukkan tugas ini. Misalnya, Samaratungga; samara (pecinta), rat (dunia), dan tungga (penyangga/tiang), Tri Buana Tungga Dewi, Mangku Bumi, Mangku Negara, Paku Buwana, Hamengku Buwana, dan Paku Alam.”

Tugas iki abot tenan, lee. Makane, uripe (kebudayaan) wong Jawa kui kudu isa mangasah mingising budhi (mengasah budi pekerti). Artinya, orang Jawa harus terus mengasah ketajaman budi pekertinya. Kudu mamasuh malaning bumi (membasuh malapetaka dunia). Artinya, dengan budi pekerti yang tajam, maka orang Jawa harus mampu membasuh malapetaka yang menimpa bumi/semesta. Lan kudu mamayu hayuning bawana (mempercantik dunia yang sudah cantik). Artinya, dengan budi pekerti yang tajam untuk membasuh malapetaka semesta, maka dunia diharapkan akan semakin indah dari sebelumnya yang memang sudah indah.”

Tugas iki abot tenan, lee. Makane, uripe (kebudayaan) wong Jawa kui kudu iso mangasah mingising budhi (mengasah budi pekerti). Artinya, orang Jawa harus terus mengasah ketajaman budi pekertinya. Kudu mamasuh malaning bumi (membasuh malapetaka dunia).

“Telu kui kudu dadi laku. Ora mung dipahami. Kudu dadi budi pekerti (budaya) neng upacara adat lan hukum adate urip. Mulai lahir, tetak (khitan), rabi (menikah), sampai mati (meninggal). Kabeh kui mau wis dicontohke dening Kanjeng Nabi, lee. Kui sahadate wong Jawa, sekatene.

Biasanya, ibu saya akan berhenti medongeng setelah jarik (kain batik) yang dipakai ibuku basah karena ilerku. Aku sendiri tak berkutik. Melongo sembari mendengkur.  Wallahualam bissawab.

Sungkem kagem Kanjeng Nabi Muhammad. Allahuma salli alla muhammad wa ala alihi sayidina Muhammad.

Yusuf Efendi
Alumni Pesantren Miftahul Huda, Tangerang (1993-1995), alumni Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil, Pasuruan (1995-1998).