Kembang api tiba-tiba meluncur dari atas melewati penonton menuju ke atas panggung. Penonton dibuat terkaget-kaget ketika sebuah lingkaran besi terjatuh kemudian terbelah pas di tengah. Dibarengi dengan kilatan lampu, dengan efek visual yang memukau, suara tawa anak-anak dari tujuh aktor membuat fragmen pertama dari pertunjukan “Pancering Penjuru” dari Teater Eska dimulai bertempat di Gelangang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga malam (25/11).

Fragmen pertama dari pentas ini saya seperti masuk ke dalam dimensi penciptaan manusia ketika nyala cahaya kembang api ibarat Tuhan memberikan ruh kepada jasad manusia. Jatuhnya lingkaran tadi dengan terbelah seperti halnya manusia ketika dilahirkan ke bumi terbelah di antara kebingungan, ketidaktahuan dengan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tangis tak bisa dihindarkan dari seorang yang baru dilahirkan karena di sana sebenarnya ada beban. Begitu pun tawa menjadi sebuah harapan dari seorang yang diberi mandat sebuah keturunan.
Setidaknya begitulah fragmen pertama yang saya pahami dari pertunjukan tersebut. Kemudian muncul seorang tokoh dengan gaya monolog dengan gerak lincah mempresentasikan kerusakan yang dibuat manusia atas realitas sekitarnya. Namun sayang dengan bahasa puitis yang dalam saya gagal menangkap pesan lugas yang ingin disampaikan. Kemudian juga muncul tokoh selanjutnya dari sebuah lingkaran di belakang, dengan gaya reportoar, sang tokoh mengunakan bahasa-bahasa langit, sepenangkap pemahaman saya tokoh tersebut sedang megalami kebingungan dengan kerusakan alam yang dibuat oleh manusia.

Sampai fragmen kedua ini dahi saya mulai mengerut. Saya mulai kehilangan fokus dan konsentrasi. Beberapa dialog menjadi terkesan sangat lama. Mungkin karena saya lagi-lagi gagal mencerna apa dialog yang ingin disampaikan. Tapi dengan pelan-pelan saya memulai memahami pentas ini menurut tafsiran saya membicarakan pergulatan manusia dengan kerusakan alam yang sedang terjadi.

Di fragmen ketiga, mungkin sampai akhir pementasan saya benar-benar kehilangan fokus. Saya mulai tidak nyaman dengan dialog-dialog puitis yang gagal saya pahami maknanya. Kemudian saya hanya berusaha menikmati koreografi dan lighting yang disuguhkan pada pementasan ini.

Sedulur Papat Lima Pancer

Terlepas dari pertunjukan yang saya gagal pahami, saya mencoba mencerna gagasan wacana yang ditawarkan dalam pertunjukan ini. Karena bagaimanapun bagi saya sebuah pertunjukan tanpa ada konsep yang matang dan dapat dipertagungjawabkan secara teoritik dan konseptual secara tidak langsung akan mengeliminir pertunjukan yang disuguhkan. Hal ini juga bukan berarti saya menihilkan teknis pemanggungan yang sebenarnya dasar dari sebuah pertunjukan seni, tapi keduanya antara konsep/gagasan dan teknis pertunjukan merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Sehingga nantinya pertunjukan tidak hanya semata memperlihatkan keindahan artistik panggung tapi juga memiliki nilai hiburan dan juga tuntunan. Mungkin juga tidak seideal itu, tapi setidaknya itu menjadi standar dimana pertunjukan dapat dinikmati.

Kembali pada sedulur papat lima pancer yang menjadi basis epistemik dari pementasan “Pancering Penjuru” kali ini, saya melihat ada sebuah kebuntuan di hari ini dalam menyikapi problem sosial masyarakat terutama terkait isu lingkungan, sehingga pengetahuan tradisi masyarakat terutama Jawa di eskavasi kembali.

Kembali pada sedulur papat lima pancer yang menjadi basis epistemik dari pementasan “Pancering Penjuru” kali ini, saya melihat ada sebuah kebuntuan di hari ini dalam menyikapi problem sosial masyarakat terutama terkait isu lingkungan, sehingga pengetahuan tradisi masyarakat terutama Jawa di eskavasi kembali. Hal ini juga menunjukan bahwa “Barat” dengan idiologi moderitasnya tidak semata-mata membawa kemajuan tetapi juga membawa kerusakan hampir di semua sisi kehidupan termasuk yang mendesak kerusakan alam. Payahnya, problem kerusakan alam ini tidak kunjung menemukan jawaban seperti apa seharusnya disikapi, ketika banyak kesepakatan dunia yang sudah dirancang oleh PBB tidak membuahkan hasil karena laju ekonomi kapital merangsek menjadi kepentingan dari negara-negara yang memegang status quo dari organisasi dunia ini.

Kondisi ini mengakibatkan banyak orang putar balik mencari jawaban atas problem kemanusiaan ini ke dalam tradisi lokal masyarakat dimana kita berpijak. Gerakan ini biasanya dinarasikan dengan kata back to nature mendorong manusia untuk kembali ke alam, walaupun gerakan ini juga masih sarat dengan kepentingan kapital. Hal ini yang juga mungkin menjadi spirit dari Teater Eska untuk mengambil konsep sedulur papat lima pancer untuk kemudian dipentasakan.

Konsep ini sebenarnya bukan hal baru di kalangan masyarakat Jawa secara umum. Bahkan konsep ini sudah menjadi pengetahuan umum di ruang kesadaran terdalam (episteme), menjadi laku keseharian, menjadi repertoire di tengah-tengah masyarakat, sehingga melekat di alam fikir masyarakat Jawa sejak ratusan tahun yang lalu.

Namun seiring berjalannya waktu, pengetahuan ini seperti diredam, dikubur dalam-dalam di ruang sunyi batin masyarakat kita. Arus perubahan zaman dibarengi dengan perkembangan filsafat Barat yang menuhankan akal (rasionalitas), sampai-sampai membunuh Tuhan, yang akhirnya menjadikan alam sebagai obyek material panca indra (sains), tidak membuat lebih baik kehidupan namun sebaliknya. Hingga pengetahuan lama kita tak memiliki tempat, hanya menjadi serpihan-serpihan di ruang pengajaran pendidikan kita selama ini.

Kemudian secara letterlijk sampai saat ini saya belum menemukan siapa yang membawa ajaran ini, namun yang jelas ajaran ini seperti ditunjukan oleh Irfan Afifi dalam buku (saya, jawa, dan Islam, 2019), diajarkan oleh para wali (penyebar agama islam) Jawa di tengah masyarakat. Ajaran sedulur papat lima pancer ini tak ubahnya konsep diri yang memiliki makna cukup dalam untuk mendefinisikan kecenderungan psikologis dari perjalanan hidup manusia. Kalau kita ingin lebih dalam menelisik gagasan mendasar dari ajaran ini sebenarnya disandarkan pada pemaknaan tentang keberadaan hidup masyarakat Jawa yang sebenarnya terkumpul dalam ungkapan “sangkan paraning dumadi”. Sebuah ungkapan yang sebenarnya ingin mengingatkan keberadaan etis manusia serta tujuan teleologis akhirnya selama ia hidup atau ber”ada” di dunia ini, (Irfan Afifi, 2019). Dan itu semua sebenarnya didasarkan pada sebuah ayat dalam Al Quran “Inalillahi wainna ilahi rojiun”.

Dari sana bisa dipahami bahwa konsep sedulur papat lima pancer itu adalah konsep pengenalan diri untuk menjadi pengingat, bahwa tujuan penciptaan manusia itu tidak lain hanya untuk kembali pada pencipta-Nya. Ketika manusia tahu dari mana ia diciptakan dan untuk apa tujuan penciptaan sampai tahu akan ke mana akhir kehidupan, manusia jadi mengerti apa saja persiapan/bekal atau bahkan siasat untuk mencapai itu semua. Namun manusia termasuk kita sering kali lupa, bahkan tidak tahu tujuan akhir kehidupan ini semua, sehingga kebingungan dan ketidaktahuan mengakibatkan kerusakan pada diri dan lingkungan sekitar kita.

Pada akhirnya konsep perjalanan mulai dari kelahiran menuju kematian atau dari Allah menuju Allah ini oleh para wali Jawa disebut laku, mlaku, lelaku, lelakon yang artinya “berjalan” dalam kredo pemahaman orang Jawa disebut suluk perjalanan yang dalam kopsep tasawuf merupakan kata kunci dari perjalanan spiritual seseorang. Disisi lain penamaan suluk (perjalanan) sebagai genre tembang Macapat yang merupakan genre utama menulis kesustraan serat maupun wirid terkofirmasi dari makna yang terkandung disetiap tembang yang berjumlah 11. Ada Maskumambang (dalam kandungan), Mijil (lahir), Sinom (anak muda), Kinanthi (ditemani perkembangan ilmu dan moralnya), Asmaradhana (asmara/cinta), Gambuh (menikah), Dhandhanggula (mengalami pasang-surut, jatuh bangunnya kehidupan), Durma (medermakan diri pada masyarakat), Pangkur (mundur dan mengambil jarak pada gemerlapnya dunia), Megatruh, (terlepasnya roh kita wafat), dan yang terahir Pocung (jasad kita terbungkus kain kafan). Begitulah rangkaian sebuah perjalanan suluk manusia mulai sejak lahir sampai menuju kematian, atau bisa disebut suluk untuk menuju sangkan paraning dumadi.

Dari hal di atas kita perlu mengenal, dan mengawasi unsur empat nafsu dalam diri kita (Macapat/membaca empat), agar bisa terbebas dalam rangka kembali kepada-Nya. Hal ini dilakukan agar diri sejatinya menjadi pancer, pengendali dalam mengatur laku perjalanannya (sedulur papat, lima pancer). Sedangkan dalam konsep tasawuf apa yang sedang dilakukan bagian dari proses untuk mendirikan dan memanunggalkan sifat/asma Tuhan dalam dirinya untuk menjadi Insal Kamil (manusia yang utuh kemanusianya).

Maka setelah manusia bisa mengendalikan kecenderungan buruk yang dasarnya berangkat dalam dirinya, ia baru bisa menghalau kerusakan pada alam, lingkungan dan membawa kebaikan kepada yang liyan. Bukan alam yang menjadi obyek tapi diri sendiri transformasi perubahan itu dapat dilakukan.

Seni dan Tantanganya

Setelah panjang saya uraikan di atas bagaimana gagasan yang diusung oleh Teater Eska menurut saya nilai plus, di tengah kekeringan banyak aktivitas kesenian terutama teater kampus di Yogyakarta yang terjebak pada kerangka pengetahuan Barat untuk mendiskripsikan persoalan. Begitu pun tidak dibarengi dengan riset yang matang dan mendalam mengakibatkan obyek persoalan tidak pernah tuntas terdefinisikan, apalagi alternatif jawaban yang diberikan.

Dalam konteks ini, Teater Eska dengan pentas “Pancering Penjuru” sudah berani memulai untuk menengok kembali khazanah pengetahuan tradisi dan masyarakat kita untuk dijadikan titik pijak di dalam proses kreatif berkesenian terutama teater. Walaupun seperti itu, bukan berarti Teater Eska berhasil mengkomunikasikan gagasannya dengan penonton yang datang. Seperti saya singgung di awal tadi, masih banyak beberapa hal mendasar seperti tingkat pemahaman pada isu, konteks, dan kerangka konseptual gagasan yang di angkat tidak benar-benar tuntas dipahami oleh setiap pelaku proses terutama aktor yang terlibat mengakibatkan energi, rasa, dan gairah pesan tidak bisa diterima oleh penonton.

Mengapa hal itu penting, jika kita masih sepakat mengatakan bahwa seni meupakan media komunikasi, untuk berefleksi dan membaca diri, apapun jenisnya itu teater, musik, seni rupa dan banyak ragam yang lainya. Yang tidak bisa ditinggalkan adalah “ketersampaian pesan” kepada penonton dan penikmat seni. Di sanalah kesenian menjadi ruh penting dari kehidupan di tengah absurditas kehidupan dan tarik ulur kepentingan. Ruang kesenian adalah ruang imajinal yang paling merdeka untuk menyuarakan berbagai kegelisahan untuk menjadi titik pijak trasformasi sosial.

Dalam konteks ini Teater Eska dengan pentas “Pancering Penjuru” ini sudah berani memulai untuk menengok kembali khazanah pengetahuan tradisi dan masyarakat kita untuk dijadikan titik pijak di dalam proses kreatif berkesenian terutama teater.

Begitupun sebaliknya, jika ruang kesenian ini hanya sebagai panggung dengan gemerlap lampu warna-warni terpasang, kemudian setelah pentas riuh selfie penunjang eksistensi bertebaran, apa bedanya proses kesenian dengan riuh pasar ditengah ramainya kota. Padahal melalui medium inilah relung sunyi keresahan, ketidakberdayaan, keterasingan, diberi ruang untuk menjadi bahan perenungan dan refleksi personal. Di sana juga kita bisa mengatakan bahwa hidup tidak semata-mata terkait kapital. Bahwa hidup tidak hanya terkait salah dan benar, kalah dan menang, tapi ada kedamaian dan cinta yang melekat di setiap insan, jika itu terkomunikasikan tingkat terjauh seni menjadi media penebar kasih sayang dan perekat diantara friksi sosial. Semoga.

 

Keterangan:

Semua foto adalah dokumentasi Zahid Asmara.

Doel Rohim
Mahasiswa tingkat akhir Sejarah Kebudayaan Islam UIN Suka, santri Ponpes Kaliopak, bergelut di langgar.co.