Sekar Putut Gelut: Belajar Dari Slamet Gundono

Sebelum kita berbincang lebih panjang, marilah kita mendendangkan sekar karya Slamet Gundono di bawah ini. Sekar berjudul Putut Gelut ini ditulis tahun 2007 dan terangkum dalam album Blues Pesisir. Jika anda pernah mendengar  atau menonton dalang tambun itu melantunkan tembang ini, mari kita mulai mendendangkannya dengan gembira.

ana simbok mbakar geni
ngobong lintang dadi abang
ngobong bulan dadi areng
kepranan neng ati tentrem
(Ada seorang ibu membakar api
Membakar bintang jadi merah
Membakar bulan jadi arang
Jadilah hati tentram)

Satu bait di atas didendangkan tanpa iringan alat musik apapun. Jadi, Slamet Gundono dengan pengrawitnya seperti paduan suara, atau mungkin malah seperti membaca mantra doa. Ia menggambarkan seorang ibu yang sedang membakar api untuk membakar bintang dan rembulan. Keduanya jadi arang, tetapi justru menjadikan hati tentram. Ini tentu saja bahasa simbolik. Ibu bisa jadi benar-benar sosok manusia atau bisa jadi sanepan dari bumi, air, kehidupan yang dalam kosmologi Jawa merupakan simbol dari ibu atau perempuan. Pun demikian, ibu tersebut tidaklah benar-benar secara nyata membakar bintang dan rembulan. Membakar dalam hal ini bisa jadi meredam angkara murka dunia (kesombongan, keserakahan, dan segala perasaan paling hebat), karena sifat seorang ibu adalah melindungi, mengayomi, meredam, dan mengasihi. Jika demikian, maka benar hati jadi tentram.

Membakar dalam hal ini bisa jadi meredam angkara murka dunia (kesombongan, keserakahan, dan segala perasaan paling hebat), karena sifat seorang ibu adalah melindungi, mengayomi, meredam, dan mengasihi. Jika demikian, maka benar hati jadi tentram.

Setelah bait syair di atas sampai terakhir nanti (kecuali ada bait syait seperti di atas), Slamet Gundono mendendangkanya dengan iringan gamelan yang rancak seperti iringan gamelan Bali, Banyumas, atau Banyuwangi, dan di sela-sela tembang diselingi dengan celotehan dan dialog antarpengrawit untuk menggambarkan (juga menafsirkan)  arti putut gelut yang dimaksud dalam tembang ini. Baik, mari berdendang lagi.

putut gelut
mbelani kyaine 2x
rambak dadi bubur
ora ngerti lamur
kyaine rebutan bosok
(Rakyat bertengkar
Membela kyainya… 2x
Beras jadi bubur
Tak jelas
Kyainya berebut barang busuk)

 

putut gelut
mbelani kyaine.. 2x
ampyak awur-awur
amung dadi tumbal
tumbale kahanan
(Rakyat bertengkar
Membela kyainya… 2x
Hancur lebur
Hanya jadi tumbal
Tumbal keadaaan)

 

putut gelut
mbelani kyaine 2x
mung kayak jago tarung
wulune mbrodoli
getihe runtak nang bumi
(Rakyat bertengkar
Membela kyainya…2x
Laksana jago tarung
Bulunya rontok
Darahnya tumpah ke bumi)

 

putut gelut
mbelani kyaine2x
mbelani pemimpine
ampyak awur awur
mung dadi bubur
ora ngerti tujuane
(Rakyat bertengkar
Membela kyainya… 2x
Membela pemimpinnya
Hancur lebur
Hanya jadi bubur
Tak tahu tujuannya)

 

putut gelut
mbelaini kyaine2x
ampyak awur awur
amung adi tumbal
tumbale kahanan
(Rakyat bertengkar
Membela kyainya… 2x
Hancur lebur
Hanya jadi tumbal
Tumbal keadaaan)

 

Putut gelut
mbelani kyaine.. 2x
mbelani pemimpine
mung dadi jago tarung
korbane pertarungan
(Rakyat bertengkar
Membela kyainya 2x
Membela pemimpinnya
Hanya jadi jago tarung
Korban pertarungan)

 

ono simbok mbakar geni
ngobong lintang dadi abang
ngobong bulan dadi areng
kepranan neng ati tentrem 2x
(Seorang ibu membakar api
Membakar bintang jadi merah
Membakar bulan jadi arang
berharap hati tentram.. 2x)

 

putut gelut
wong sing neng ngisor
ora ngerti pertarungane wong sing nduwur
pertarungane wong nduwur
mung ngacurna wong sing ra ngerti apa apa
(Rakyat bertengkar
Orang yang di bawah
Tak tahu pertarungan orang yang di atas
Pertarungan orang atas
Hanya menghancurkan orang yang tak tahu apa-apa)

 

ono simbok mbakar geni
ngobong lintang dadi abang
ngobong bulan dadi areng
kepranan neng ati seneng… 2x
(Seorang ibu membakar api
Membakar bintang jadi merah
Membakar bulan jadi arang
Jadilah hati senang)

 

Pada syair terakhir ini, baris terakhir dalam tembangnya, kata seneng oleh Slamet Gundono terkadang diganti dengan kata senep yang artinya sakit perut. Pengubahan ini dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa kondisi putut gelut ini akan selalu ada sepanjang sejarah manusia, sampai-sampai membuat senep memikirkannya. Homo homini lupus.

***

Putut dalam Bahasa Indonesia berarti pemelihara sanggar yang bertugas memelihara dan melengkapi sesaji pemujaan; peputut. Adapun kata putut dalam sekar ini bermakna simbolik. Jika dicerna dari syair-syairnya, putut artinya rakyat.  Sesajian pemujaan umumnya berisi bunga, kemenyan, dan buah-buahan. Semua itu dimaknai sebagai simbol kebaktian kepada Tuhannya. Seorang putut harus setia dengan aturan pembuatan sesaji dan siapa yang berhak diberi sesajian. Namun, ketika putut saling berbeda keinginannya, atau bahkan melawan aturan tersebut, maka tentu akan ditentang oleh sesama putut sendiri, karena akan mengakibatkan proses persembahyangan atau kesetiaan terganggu dan bubrah (rusak). Para putut ini sebenarnya adalah rakyat, karena sejatinya para pemelihara ‘sanggar’ (baca: bangsa negara) ini adalah rakyat itu sendiri.

Sekar putut gelut terinspirasi dari fenomena politik tanah air (juga dunia) yang hanya diisi oleh perebutan kekuasaan, terutama pasca tumbangnya orde baru kemudian dilanjutkan dengan orde reformasi, baik ditingkat politik nasional, lokal, maupun organisasi sosial, bahkan lembaga pendidikan. Akibatnya, rakyat hanya menjadi tumbal dan korban (baca: dikorbankan). Fenomena rebutan kuasa juga terjadi di dunia. Adanya kaum penjajah (kolonialisme) yang ingin menguasai dunia menjadi bukti, bahwa negara-negara besar saling berebut pengaruh untuk menjadi nomer satu di dunia. Dengan menjadi negara paling berpengaruh, mereka akan menguasai dunia.

Dalam perkembangannya, negara-negara besar berebut pengaruh lagi dengan orang-orang kaya di dunia, yang juga ingin menjadi penguasa dunia. Para orang kaya ini konon hanya segelintir, tetapi mereka memenangkan perebutan dan akhirnya mampu mengendalikan negara-negara dan lembaga-lembaga donor besar sebagai kaki tangannya. Para elit adalah orang kaya serakah yang mampu menggandakan kekayaan (kapitalisme) hingga akhirnya memonopoli ekonomi dunia. Mereka kemudian masuk mempengaruhi negara-negara besar untuk dijadikan kaki tangannya agar menjaga kekayaan mereka dari rongrongan orang, kelompok, atau negara yang tak setuju dengan agenda mereka (William Still, 1990. New World Order: The Ancient Plan of Secret Societies. Huntington House Publishers).

Dalam kegelisahan memahami putut gelut ini, Slamet Gundono menulis sekar ini sebagai upaya untuk mengingatkan dirinya sendiri dan masyarakat banyak, agar berhati-hati karena jika para putut bertengkar, maka rakyat juga yang akan jadi tumbal sia-sia. Satu hal yang digelisahkan Slamet Gundono sebagai seorang santri adalah masuknya para kyai dalam gelanggang perebutan kuasa. Akibatnya, umat bingung karena para kyai panutan mereka saling bertengkar.

Satu hal yang digelisahkan Slamet Gundono sebagai seorang santri adalah masuknya para kyai dalam gelanggang perebutan kuasa. Akibatnya, umat bingung karena para kyai panutan mereka saling bertengkar.

Oleh para wali, sebenarnya hal ini sudah diketahui sejak di zaman mereka. Para wali mengetahui agenda para kolonial untuk menguasai Nusantara dengan cara mengadu domba antarumat dan rakyat. Faktanya, Belanda menjalankan politik pecah belah (defide et impera) selama menguasai negeri ini. Oleh karena itu, para wali menulis tembang lir ilir atau gundul-gundul pacul, misalnya. Atau para pujangga menulis Serat Kalabendu atau Serat Kalatidha. Atau Kanjeng Brawijaya V menulis sesanti; sirna ilang kertaning bhumi.

Rakyat dan umat mungkin tak tahu secara rinci apa agenda para penguasa yang menguasai dunia, menggerakkan para penguasa di bawahnya untuk saling sikut dan bertengkar. Artinya, kekuasaan itu bertingkat, pun dengan penguasanya. Dengan demikian, penguasa puncaklah yang paling kuasa. Dialah yang menjadi dalang menggerakkan pencari kuasa di bawahnya. Dialah the one seperti dalam lagu Metalica. Dalam konteks ini, manusia yang tak tahu apa-apa hanya akan menjadi tumbal. Ketika darah tertumpah di bumi, maka itu adalah darah rakyat yang mayoritas tak mengetahui apa agenda utama para perebut kekuasaan itu. Rakyat bawah tak mengerti pertarungan orang atas. Padahal pertarungan orang atas hanya akan menghancurkan orang yang tak mengerti apa-apa.

Mari eling lan waspada. Eling; meneliti, membaca, dan mempelajari sejarah leluhur. Waspada; hati-hati dan bijak menghadapi zaman, agar tak terjebak putut gelut.

Wallahualam bissawab.


 

Yusuf Efendi
Alumni Pesantren Miftahul Huda, Tangerang (1993-1995), alumni Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil, Pasuruan (1995-1998).