Slamet Gundodo Meng-Garba

Tulisan ini saya buat untuk mengenang Slamet Gundono yang tepat pada 31 Maret 2010 yang lalu, bertempat di pelataran Lemah Putih milik seniman tari Mbah Prapto Suryodarmo, menggelar wayang tanah dengan lakon Shinta: Jahitan Tanah.

Pertunjukan yang didukung oleh komposer handal Dedek Wahyudi dan sinden Ida Lala ini mengisahkan tentang keinginan Rahwana untuk menikahi bayi yang dikandung istrinya, Bandunsari, karena jabang bayi tersebut dianggap titisan Dewi Widyowati.

Keinginan tak lazim Rahwana ini ditentang oleh Kumbokarna. Ia pun meminta tolong Togog agar Rahwana diberi minuman yang memabukkan. Togog berhasil menyekoki Rahwana, sehingga ketika istrinya, Bandunsari melahirkan, jabang bayinya ditukar Togog dengan bayi laki-laki. Bayi yang asli disembunyikan Togog.

Ketika mengetahui bayinya bukan perempuan, Rahwana marah bukan kepalang. Ia mencari Togog sampai ketemu dan akan membunuhnya. Namun, Togog tak ditemukan, Rahwana pun menangis sepanjang hari.

Satu tahun sebelumnya, dengan tema yang sama, Slamet Gundono pernah membuat pementasan dengan judul Semar Meteng dalam rangka pembukaan Pameran Keramik Patung karya  F. Widiyanto bertajuk Semarak 30 Semar di Galeri Nasional, Jakarta (5/6/2009).  Semar Meteng berkisah tentang Semar, tanah yang sedang hamil. Sebagai sang pamomong sejati, jabang bayinya adalah tunas yang kelak akan melanjutkannya menjadi ‘sang penjaga dunia’. Sayang, proses kehamilannya yang kadang selama seabad atau bahkan tiga abad, tak lagi cocok dengan dunia yang sedang berderap cepat, dunia pasar. Akhirnya Semar harus mempercepat kelahirannya. Karena bimbang, Semar menghadap ayahnya, Hyang Tunggal untuk meminta nasihat bagaimana dia harus bersikap. Semar diminta untuk kembali ke bumi dan menyadari bahwa dunia memang sedang berubah. [1]

Semar Meteng berkisah tentang Semar, tanah yang sedang hamil. Sebagai sang pamomong sejati, jabang bayinya adalah tunas yang kelak akan melanjutkannya menjadi ‘sang penjaga dunia’. Sayang, proses kehamilannya yang kadang selama seabad atau bahkan tiga abad, tak lagi cocok dengan dunia yang sedang berderap cepat, dunia pasar.

#

Slamet Gundono (1966-2014) lahir di desa kecil bernama Dukuhsalam, Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dari pasangan Suwati dan Sumarti. Suwati berasal dari Madura, Jawa Timur, sedangkan Sumarti gadis desa asli Dukuhsalam.

Slamet Gundono sebenarnya sedari lahir hanya diberi nama Gundono saja. Namun, ketika masa kecilnya penuh dengan cobaan hidup bertubi-tubi (ditinggal mati ibunya sejak umur 40 hari, kemudian ditinggal mati bapaknya saat umur 2 bulan, lalu ditinggal mati nenek yang mengasuhnya saat ia kelas 4 SD) , orangtua angkat dan guru sekolah dasarnya menambahkan nama Slamet di depan namanya, jadilah namanya Slamet Gundono. Penambahan nama Slamet diniatkan sebagai doa agar Gundono hidupnya slamet, selain juga sluman dan slumun.

Sejak kecil hingga dewasa, Slamet Gundono lekat dengan tradisi Jawa.  Bapaknya, Suwati, adalah seorang dalang wayang kulit, penari, dan pemain sepak bola. Neneknya, Mbah Karwi, perempuan perajin dan penjual batik. Kakak kandungnya, Gunawan, juga seorang dalang wayang kulit. Kelak Slamet Gundono juga dikenal sebagai dalang wayang suket, tetapi ia juga mahir mendalang wayang kulit. Menurut pengakuannya sendiri (pun demikian pengakuan sejawatnya), ia meniru suluk Dalang Ki Anom Suroto dengan suara dengung yang merdu.

Selain itu, sejak kecil Slamet Gundono belajar mengaji di langgar kampungnya, gurunya bernama Pak Umar. Bersama teman akrabnya, Teguh Puji, Gundono mengaji hingga larut malam, terkadang disambung mengobrol di rumah Pak Umar. Sepulangnya, terkadang ia mampir ke rumah gadis pujaannya, atau main gitar di rumah Teguh Puji.

Selain mahir mendalang, Slamet Gundono juga lihai bermain teater, menari, menulis, menyanyi, dan mengarang tembang, serta menulis lakon pementasan. Kemahiran berteater diperolehnya dari kuliah satu semester di Institut Seni Jakarta (IKJ) dan berharap bertemu dengan sastrawan pujaannya waktu muda, W.S. Rendra, serta berteman dengan tokoh teater seperti Joko Bibit (teater ruang), Jarot, Hanindawan, dan lain-lain.

Kelenturan menari diperolehnya dari belajar sendiri dan belajar kepada penari-penari tenar di Solo, seperti Mbah Prapto Suryodarmo (Padepokan Lemah Puith), Mbah Mugi (Mugiono Kasido), Eko Supriyanto (mantan penari latar Madona), Didik Nini Thowok, dan lain-lain.

Kreatifitas menulisnya, baik artikel maupun lakon pementasan diperolehnya dari banyak membaca dan bergaul dengan teman-teman penulis, seperti para wartawan di Solo. Tulisan artikelnya yang diberi nama wayang lindur pernah menghiasi Koran Jawa Pos satu minggu sekali.

Adapun kehebatannya dalam mengarang sekar atau tembang serta bermusik diperolehnya dengan belajar sendiri dan bergaul dengan seniman-seniman seperti Sujiwo Tejo, Jaduk Ferianto, Dewa Bujana, Tohpati, Max (pemilik gambus hijau kemudian diberikan kepada Slamet Gundono), orang-orang Arab pemain gambus, dan lain-lain.

Beragam kemampuan seni tersebut diperoleh Slamet Gundono dengan satu modal saja, yaitu berteman dengan siapa saja dan tidak malu bertanya. Itulah yang dilakukan Slamet Gundono selama kehidupan kesenimanannya di Solo selepas dan sepanjang menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Seni Surakarta (STSI) jurusan pedalangan hingga meninggalnya di tahun 2015.

Beragam kemampuan seni tersebut diperoleh Slamet Gundono dengan satu modal saja, yaitu berteman dengan siapa saja dan tidak malu bertanya.

#

Dalam pencermatan saya, selama menjalani kesenimannya, Slamet Gundono sebenarnya sedang menjalankan tugas menggarba (mengandung). Jalan kesenimannya adalah jalan garba, mbobot, mengandung, memelihara dan memangku dengan kasih sayang laksana seorang ibu mengandung janinnya.

Hal itu tampak dari sikap dan perilaku kesenimanannya (berproses panjang) hingga melahirkan karya berbobot. Karyanya mencerminkan bahwa dirinya sedang menjalankan kodrat atau peran hamemayu hayuning bawana (sebagai orang Jawa) dan rahmatan lilalamin (sebagai santri Islam). Dua identitas tersebut, orang Jawa dan santri Islam, sangat lekat dengan Slamet Gundono.

Kodrat tersebut ia jalankan dengan meneladani sosok ibu yang sedang garba (mengandung). Janin yang digarba akan lahir dengan matang (mateng, meteng) selama sembilan bulan sepuluh hari. Jika janin lahir kurang dari waktu tersebut, maka–dahulu–bayi akan mengalami kelemahan. Misalnya, bobotnya kurang atau kesehatannya terganggu.[2]

Namun, seiring perkembangan zaman, kini hal tersebut dapat diatasi dengan beragam teknologi kesehatan bayi. Misalnya, sang ibu diberikan vitamin agar bayi dapat mencapai bobot cukup meskipun harus dilahirkan sebelum sembilan bulan sepuluh hari. Apalagi sang ibu menginginkan bayi dilahirkan dengan cara operasi sesar, karena menginginkan dengan kenangan waktu tertentu (special moment), atau takut sakit jika lahir normal.

Dalam kosmologi Jawa, garba sejatinya mengajarkan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini memiliki ruang dan waktu sempurna sendiri-sendiri, karena alam (sesuai hukum ilahi) telah mengatur itu dengan sisik melik (rahasia) yang tak dapat dijangkau akal manusia.

Garba mengajarkan bahwa segala sesuatu di dunia ini akan bermuara pada keilahian, oleh karenanya membutuhkan proses setapak demi setapak, tak bisa cepat (instant).

Garba mengajarkan bahwa segala sesuatu di dunia ini akan bermuara pada keilahian, oleh karenanya membutuhkan proses setapak demi setapak, tak bisa cepat (instant). Memang rekayasa (teknologi) modern dapat melakukan percepatan, akan tetapi tak semua dalam kehidupan ini dapat dipercepat. Jika hal itu dipaksakan, maka akan merusak tatanan lain, sehingga tak tercapai hayuning bawana atau rahmatan lilalamin.

Dalam hal kebudayaan misalnya, terutama kesenian, Slamet Gundono telah mencermati dan memahami hal tersebut. Dalam pemahamannya, berkesenian tak dapat nirgarba. Berkesenian harus meng-garba; mbobot (berproses), bercumbu (menggeluti dengan serius), bercinta (bercengkerama dan belajar dengan seniman apapun dan siapapun), dan memangku (mengelola perbedaan dengan kasih sayang).

Bagi Slamet Gundono, berkesenian (juga urip/hidup) harus menggarba, tanpa itu, terutama manusia Jawa, akan kehilangan ikatan dengan leluhurnya, terutama ibu. Ibu, simbok, uma, siti, tanah, bumi adalah yang “melahirkan” kehidupan, melahirkan kebudayaan. Jika keterikatan dengan ibu hilang, maka rusaklah tatanan kebudayaan, juga keilahian.

Tugas menggarba ini sebenarnya juga dicontohkan dalam kasusastran Jawa, yaitu dengan adanya tembung garba, yakni penyatuan atau pemisahan dua tembung atau lebih yang dijadikan satu. Contoh tembung garba antara lain sitinggil dari tembung siti (tanah) dan inggil (tinggi), priyagung dari priya (laki-laki) dan agung (terhormat, besar), sinom dari iseh (masih) dan enom (muda), atau maharaja dari maha (paling, zat) dan raja (pemimpin).[3]

Garba adalah juga salah satu cara orang Jawa membaca manuskrip (tulisan tangan) leluhurnya yang penuh dengan makna simbolik yang harus dibedah.

Garba adalah juga salah satu cara orang Jawa membaca manuskrip (tulisan tangan) leluhurnya yang penuh dengan makna simbolik yang harus dibedah. Garba hanya salah satu cara saja. Selain garba ada cara membaca dengan kosok balen (lawan kata), kirata basa (pemaknaan kata yang mirip), dasanama (persaman atau padanan kata), atau jarwa dhosok (pemaknaan dengan persangkaan baik pada Tuhan). Menurut Ki Herman Sinung, jarwa dhosok ini mirip dengan uthak athik gathuk, tetapi dalam mengoperasikannya harus selalu bergayut kepada persangkaan baik. [4]

Masih menurut Ki Herman, tembung garba adalah penggabungan dan pemisahan dua atau lebih kata dan istilah. Dalam bahasa Sanskerta istilah ini sering disebut sebagai sansandhi. Konsekuensi dari operasi ini adalah jumbuhnya dua suku kata yang sama. Misalnya, nuswantara=nuswa+swa+(sw)anta+tata+tara. Nuswa (kepulauan), swa (mandiri), anta (ksatria), tata (aturan), dan tara (suci). [5]

Istilah garba dalam khazanah Jawa juga digunakan untuk menyebut kandungan seorang ibu. Garba adalah tempat di mana janin digembol (dibawa kesana ke mari) ibu hingga sembilan bulan sepuluh hari sebelum dilahirkan ke dunia. Bagi orang Jawa, garba ibarat sebuah gua tempat janin bersemedi dalam lindungan kasih sayang ibu. Slamet Gundono menyebut dalam sekarnya dengan istilah gua garba (Album Mystical, 2007).

Sebagai orang Jawa dan santri, Slamet Gundono sepertinya ngugemi (memegang erat) ajaran ini.

Wallahualam bisssawab.

 

[1] Cek https://persinggahan.wordpress.com/2009/06/07/semar-yang-mengglobal/ atau https://www.solopos.com/slamet-gundono-siapkan-semar-meteng-599).

[2] Istilah kodrat ini merujuk pada ajaran Kanjeng Jayabaya dalam Serat Jayabaya yang disarah oleh Sunan Giri Prapen III dalam Kitab Musarar (sekitar tahun 1613 M). Menurut orang Jawa, Tuhan menciptakan manusia di dunia ini sesuai dengan kodratnya masing-masing yang tak bisa diubah (tan kena wiradat), berupa karakter yang berbeda-beda. Ada tiga kodrat tan keno wirodat, yaitu kodrat diri, kodrat bangsa, dan kodrat nagari.

[3] Tentang paramsastra dan tetembungan dapat dibaca buku karangan R. Palguno dan Sri Rahayu, berjudul Pinter Pepak Basa Jawa, terbitan Anugerah, Surabaya (tanpa tahun).

[4] Artikel Ki Herman Sinung Janutama, Raden Ngabehi Ranggawarsita. Kalam 28/2016.

[5] Bandingkan dengan istilah Atlantis untuk menyebut bangsa yang memiliki peradaban tinggi yang konon pernah hidup di Nusantara, dan pernah ditulis oleh Aryso Santos (geolog dan fisikawan nuklir dari Brasil) dalam bukunya yang berjudul Atlantis The Lost Continent Finaly Found (2010).

Yusuf Efendi
Alumni Pesantren Miftahul Huda, Tangerang (1993-1995), alumni Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil, Pasuruan (1995-1998).