Sumur adalah kehidupan. Ia memanjangkan nafas-nafas manusia. Memanjangkan peristiwa, waktu, hari, bulan tahun dan segala hal yang melingkupinya. Di lembaran hidup, sumur adalah tempat kembali. Dan karena itulah kebaradaan manusia tergantung keberadaan sumur.

Mengapa ada sumur, saya tidak tahu. Tetapi, di bentangan kehidupan manusia sejak ia dilahirkannya, sumur adalah muara hidupnya. Kita bisa menjejak ragam sejarah sumur atau tentang sejarah kehidupan manusia, lagi-lagi sumur adalah yang paling dekat dan lekat pembentuk realitas hidupnya. Kenapa? Karena di dalam sumur ada air. Manusia tak mungkin lepas dari air ini, dari masa ke masa. Bahkan, ia berbuah ceceran kisah, sejarah, dan dinamika privat-sosial manusia yang magis. Atau, bisa dibilang pralambang sumur bisa menghadapi resesi krisis di lembaran perjalanan kehidupan manusia. Tulisan ini ingin memotret sumur tanpa mau mengutip ragam pustaka. Melainkan hanya ingin mengingat sumur semasa (kecil) di kampung: Sumenep.

Kita mungkin berhutang pada sumur. Sumur selama ini telah mau dan mampu memberikan segalanya atas kebutuhan dan tujuan-tujuan kita. Sumber air dapat membangun konsep secara sosial dalam konteks historis, geologis dan geografis. Karena itu, orang akan selalu berfikir bahwa sumur mesti perlu dilestarikan dalam tarikan kemajuan dunia. Kita bisa mempertimbangkan variabiltas sumur dan apa yang dianggap primordial di kehidupan kini dan kedepan.

Sumur pada mesa kecil telah mengantar pada lumbung keilmuan dan peradaban. Di masa itu, kita mesra dengan sumur. Mengaji tanpa mampir dulu ke sumur adalah sebuah kecatatan besar. Kenapa? Karena bila santri tidak mampir dulu ke sumur, maka jeding langgar akan kering. Wudhu pun tak akan bisa. Atau, bahkan hanya ingin membersihkan ketika usai buang air senipun juga tak mungkin bisa.

Ke sumur adalah pekerjaan wajib sehari-hari bagi santri. Menimba air di sumur sebentuk menimba ilmu ke guru. Atau, menimba ilmu ke guru seperti menimba air ke sumur. Kedalaman sumur adalah kedalaman keilmuan. Setiap garak tangan memegangi tali tampar sumur, yang di tarik ke atas dan ke bawah, yang kemudian di ayunkan ke ember, disitulah keikhlasan suluk keilmuan hadir dan ada. Sekaligus setiap tarikan nafas yang mengiringi timbaannya, ia mengajak kembali menemukan roh untuk bisa mengalirkan kebeningan kehidupan.

Menimba air di sumur sebentuk menimba ilmu ke guru. Atau, menimba ilmu ke guru seperti menimba air ke sumur. Kedalaman sumur adalah kedalaman keilmuan.

Pada masa dulu, bagi santri, nyela air ke sumur yang dilakukan setiap hari dan waktu merupakan tolak ukur perjuangan untuk mengatahui hakikat membela keilmuan. Atau, untuk jihad menghilangkan kebodohan. Di sana, kerja keras dan keinginan mencari ilmu dan kebarokahan menghuni di jiwa sang pencari ilmu: santri. Tak lain dan tak bukan, untuk visi pendermaan hidup sebagai sesama manusia.

Tetapi, tidak selamanya nyela air sebagian santri terjadi. Kemalasan juga kadang mampir. Ujian konsistensi kadangkala hadir ketika bahan-bahan seperti ember, timba, pekalan (palang terbuat dari bambu) tidak ada atau lagi bocor. Sebagian santri malas untuk nyela air atau hanya sekadar untuk meminjam timba ke tetangga. Malas dan kecemasan tertengok ke lubang usaha-usaha untuk  mencari alternatif supaya bisa mendapatkan air.

Saya masih ingat kejadian itu. Pada suatu hari, teman-teman santri pada tak hadir ke langgar. Sebab ada acara perhelatan gawe, teman-teman lihat penganten kuda. Sekitar, sebelasan orang santri hadir, tetapi mayoritas perempuan. Sekonyong-konyongnya tiga laki-laki yang hadir. Waktu itu, hanya perempuanlah yang membawa timba dari rumah. Dan timba-timba punya tiga santri lelaki itu pada bocor. Sejak itu perasaan cemas tak terkatakan. Karena kecemasan yang mengitari pikiran, maka mereka segera bersembuyi di balik sumur dan tidak dulu pergi ke langgar walau hanya sekadar naruk kitab dan Qur’an.

Demikianlah, guru merasa aneh, kenapa santri yang hadir tidak seperti biasanya. Maka itu, guru pasti bertanya kepada santri perempuan, “Adakah santri laki yang hadir dan menemani nyela air? Dan sudah pasti mereka mengatakan ada, tetapi hanya membantu proses pengambilan air dari dalam sumur, dan tidak berani membawanya ke jeding langgar. Menangkap hal itu, guru dengan tangkas dan kesadaran penuh membawa timba yang bocor dengan perlengkapan alat tambalnya ke sumur. Di situ, santri laki-laki merasa salah dan merasa ketakzimannya “hangus”. Santri diajari menambal timba dengan lem yang terbuat dari limbah plastik. Dengan itu pula, santri merasa sadar akan tanggungjawabnya sebagai santri.

Di situ, santri laki-laki merasa salah dan merasa ketakzimannya “hangus”. Santri diajari menambal timba dengan lem yang terbuat dari limbah plastik. Dengan itu pula, santri merasa sadar akan tanggungjawabnya sebagai santri.

Di kampung, jarak tempuh sumur dan langgar sekitar 300 meter. Dengan kedalaman mencapai dua ratus lima meter hingga seratus meter. Menimba air ke sumur harus istirahat berkali-kali. Tubuh basah disekujurnya dengan keringat. Penghiburan, kadang-kadang santri mengasyikkan bermain kejar-kejaran atau kadang ngadu kuat-kuatan. Siapa yang paling tangguh dan paling banyak meminggul air. Dengan permainan itu, semua jadi riuh. Selama perjalanan, santri-santri kadang saling bersimbur-simburan air. Songkok, baju, sarung dan tubuh basah.

Di hari tertentu, kadang santri juga memandikan sapi peliharaan guru. Sapi diikat di dua pohon kelapa dan siwalan. Disemburkan air pada sapi dan digaruk kotoran yang nempel di tubuhnya dengan batu gamping dan genting. Kadang juga mencuci tikar yang terbuat dari anyaman daun siwalan, blarak, atau tikar-tikar bekas penguburan jenazah. Di Sumenep, tikar jenazah tak diikutsertakan ke liang kubur. Ketika hari gelap, santri melepaskan lelah dan mulai belajar mengaji Al-Qur’an di gubuk langgar. Hari-hari itu memukau.

Kesadaran menimba air bukanlah sebagai prasyarat kewajiban bagi setiap santri. Tetapi, usaha-usaha penyadaran itu adalah ladang amal dan ladang pengalaman pembelajaran untuk menghadapi medan kehidupan dikemudian. Menjadi tua, baik  menjadi petani atau lainnya, sejauh manusia masih menyadarinya, pekerjaan bersumur tetap niscaya. Apalagi, berada dan hidup di bumi yang kering, pekerjaan menimba air di sumur bermakna. Pekerjaan bersumur menjadi seklasik dan pedoman dalam mengambil sikap. Bahwa berarti, setiap praktik kelakuan harus bersumber pada usaha-usaha yang mendalam dan harus di airi dengan sikap-sikap yang bening, segar, dan maslahat melimpah.

Pada lembar kehidupan, makna sumur terpasung. Orang kiranya berharap, sumur-sumur tetap mangalirkan air dan tidak mengeringkan kehidupan. Air sumur disamping rumah-rumah manusia, baik yang kaya dan miskin kiranya harus tetap ngesep, meresapkan kebaikan, rezeki dan suluh sosial. Siapa pun yang datang menimba air sumur, kiranya ia akan menjadi danging batin yang mewujud pada kesatuan wujud: kebaikan. Jalin mejalin dari tali sumur yang keras, yang mengalirkan mengangkut air dari dalam sumur, mewartakan bahwa manusia harus bertalian kuat di antara manusia yang lain dengan bersepakat di jalan yang satu: jaring kemanusiaan. Agar kesatuan itu, mengantarkan kita ketujuan akhirnya, yaitu kehidupan humanis di dunia dan di alam baka.

Di kampung, sumur yang di bangun dan direnovasi sekitar tahun 1992. Tali dan bangunannya terbuat dari tanah, batu dan kapur yang di bakar kemudian digali sendiri oleh masyarakat. Maka tampaklah tali dan bangunan itu sangat sederhana tapi kuat. Tali dan bangunan itulah nilai-nilai kesederhanaan, ketulusan tatapi menjadi kuat dalam prinsip berbagi atau menghadapi rona masalah zaman. Kekuatan prinsip itu adalah penyanggah dalam bangunan kehidupan manusia. Bahkan, penggarapan yang digali sendiri ke dalam kerak bumi, agar kita manusia selalu bersikap mendalam, rendah hati. Tidak mau mengambil porsi dari apapun yang bukan haknya. Hanya dengan sikap itulah, peradaban kehidupan terbit dan tenggelam dengan terang.

Di kampung, sumur untuk semua orang. Bangunan sumur di buat melingkar. Di amperannya, orang-orang bisa menyuci. Orang-orang saling ngantri, berbagi ruang, saling bantu dan sumur juga dijadikan wahana edukasi. Sebuah kehidupan yang kini jarang kita temui.

Rekaman sejarah sumur di kampung adalah rekaman sejarah kehidupan badan manusianya. Nilai-darma, manfaat, dan harga terabadikan dalam diri sumur. Tetapi, ia tidak sekadar menyimpan  keadilihungan atau sebaliknya. Sumur juga menjadi petunjuk ke mana arah manusia ia kini mengembara. Kiranya, selama sumur masih tetap memancarkan air, ia akan tetap dibutuhkan, apalagi di tengah arus kegelapan, komodifikasi pencahayaan di segala bidang kehidupan, kreativitas akumulasi bisnis dari sumur kehidupan, bahkan di tegah surplus sifat-sikap kelupaan dan ketamakan.

Agus Wedi
Agus Wedi, Tukang Sapu di Masjid Nurul Iman, Kartasura. Aktif di Komunitas Serambi Kata dan Bilik Literasi Surakarta. Tulisannya tersiar di koran Tempo, Suara Merdeka, Solopos, Koran Jakarta, Tribun Jateng, Kabar Madura, Radar Madura, Kedaulatan Rakyat, detik.com, Arnolduswea, KurungBuka, Iqra.id, Islam Santun, Harakatuna, dan beberapa lainnya.