Menu

kebudayaan jawa

Bulan Desember lalu saya mendapat email dari orang yang saya kenal semata dari tulisannya, yaitu Sdr. Irfan Afifi, dengan tawaran agar kumpulan artikel ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia.  Lampiran pada email tersebut terdiri dari terjemahan awalnya Irfan. Tawaran ini pasti saya terima dengan senang hati, oleh karena sejak dulu pembaca yang saya bayangkan ketika saya menulis adalah orang Indonesia. Akhirnya mungkin bayangan saya itu bisa menjadi nyata.

Artikel-artikel ini diterbitkan pertama kali dalam bahasa Inggris sejak tahun 1987 sampai dengan bulan Desember tahun lalu (2019): jadi rentang waktu lebih dari tiga puluh tahun. Semua artikel ini berdasarkan naskah-naskah bahasa Jawa yang telah saya pelajari mulai sejak tahun 1970an di Surakarta. Dari awal saya jatuh cinta dengan karya sastra Jawa dan sampai sekarangpun masih begitu. Dari awal saya juga khususnya terpesona dengan karya yang mengajak kita untuk mempertanyakan pendapat atas sastra Jawa yang telah membeku dan untuk memperlihatkan karya yang membuka kepada pengertian baru –yang hidup– atas masa lalu, masa kini, dan masa depan Indonesia. Dan juga, harus saya akui, bahwa karya yang beraroma Sufi yang paling menarik hati saya dan jejak dari pembacaannya tetap tertulis di hati saya.

Dan juga, harus saya akui, bahwa karya yang beraroma Sufi yang paling menarik hati saya dan jejak dari pembacaannya tetap tertulis di hati saya.

Maka kumpulan artikel ini saya maksudkan sebagai sumbangan saya kepada wacana sastra, Islam, dan Jawa. Semoga sumbangan saya ini dapat menjadi semacam undangan kepada manusia Indonesia, khususnya manusia Jawa, untuk meneruskan usaha awal saya ini dengan menggali dengan sungguh-sungguh, sumber manuskrip dan pikiran Jawa dari masa dulu. Saya rasa kalau dibaca dan dirasakan dengan serius, sumber ini bisa melahirkan gagasan yang baru dan mencerahkan bagi hari depan kita semua. Dan hasil galian orang Indonesia sendiri atas sumber-sumber ini juga bisa menjadi sumbangan yang berarti kepada dunia Islam yang lebih luas.

Saya rasa kalau dibaca dan dirasakan dengan serius, sumber ini bisa melahirkan gagasan yang baru dan mencerahkan bagi hari depan kita semua. Dan hasil galian orang Indonesia sendiri atas sumber-sumber ini juga bisa menjadi sumbangan yang berarti kepada dunia Islam yang lebih luas.

Sekata dua patah kata atas proses penulisan kembali saya atas artikel saya sendiri: kerja kerasnya Sdr. Irfan dalam membuat terjemahan awal menjadi dasar kuat, yang di atasnya saya “menggubahnya kembali” supaya lebih terdengar seperti suara saya sendiri dan juga saya tambahkan di sana-sini sekaligus koreksi kesalahan-kesalahan yang saya temukan di dalam artikel aslinya. Namun pasti masih ada kesalahan dalam naskah ini; dan atas semua kesalahan dan kekurangan itu saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Cukup banyak kutipan dari puisi Jawa di dalam tulisan saya di dalam kumpulan ini. Terjemahan saya dari tembang Jawa ke bahasa Inggris dalam artikel asli, saya buang semua. Lebih enak, saya rasa, langsung dari Bahasa Jawa ke Indonesia. Kalau bahasa Jawanya padat, saya mencoba untuk mengulang kepadatan itu dalam bahasa Indonesia saya. Dan kalau yang ada di dalam bahasa Jawa ambigu atau “pakai semu,” saya sebisanya mencoba untuk mengutarakan ambiguitas itu di gubahan saya dalam bahasa Indonesia.

Akhirnya, saya ingin mengungkapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Sdr. Irfan Afifi dan Penerbit Buku Langgar, juga kepada semua teman saya di Indonesia yang pernah saya cintai dan yang masih saya sayangi.

 

Nancy K. Florida, Universitas Michigan, Februari 2020


Catatan:

Tulisan ini diambil dari pengantar penulis di buku yang baru saja terbit tanggal 15 Juli 2020, Nancy K. Florida, “Jawa-Islam di Masa Kolonial: Suluk, Santri, dan Pujangga Jawa,” Buku Langgar, Yogyakarta, Juli 2020. Buku Langgar, 2020, 14x21cm, 278 Hlm.

Pesan Buku Kontak No WA: 081229303896 (doel)

/1/

Marilah kita bersama-sama membayangkan diri sedang melakukan muhibah Budaya ke pelbagai geokultural Indonesia kita tercinta. Kita mulai dari ujung Barat Indonesia. Pada saat menjejakkan diri di bumi Serambi Mekkah, kita niscaya bersua dengan – apa yang disebut – budaya Aceh dan budaya Gayo. Pada saat tiba di Tapanuli, kita berjumpa dengan budaya Batak. Sesampai di Sumatra Barat, kita bertemu dengan – apa yang lazim disebut – budaya Minangkabau. Begitu menjejakkan kaki di Pekanbaru atau Jambi, kita bersua dengan elok budaya Melayu – tanah air bahasa Indonesia.

Beralih pulau, kemudian kita bermuhibah ke Kalimantan Selantan, di sini kita berkenalan dengan budaya Banjar dan budaya Dayak. Ketika melanjutkan perjalanan budaya ke bumi Celebes atau Sulawesi, kita berjumpa dengan budaya Bugis dan Makassar yang mirip, tetapi berbeda. Juga bersua budaya Toraja, Kawanua, Minahasa, Buton, dan lain-lain. Ketika menapakkan tilas-jejak di bumi Cendrawasih, kita berasyik-masyuk dengan budaya Dani, budaya Asmat, budaya Ekagi, budaya Waropen, dan lain-lain. Selanjutnya, sewaktu menyusuri wilayah selatan Indonesia, kita niscaya bersua budaya Sunda, budaya Jawa, budaya Bali, budaya Sasak, budaya Bima, budaya Rote, budaya Sumba, budaya Sabu, budaya Bajawa, dan lain-lain.Budaya-budaya lokal tersebut kian tampak kaya dan elok oleh matra-matra historis, sosiologis, sosiokultural, dan religiokultural. Oleh karena itu, sungguh, betapa luar biasa indah memukau-menakjubkan-mengesiapkan keanekaragaman dan kemajemukan atau kebhinekaan budaya di Indonesia, yang menjelma sebuah panorama ratna budaya nan permai tak tepermanai.

Memang, tak bisa dipungkiri, Indonesia berdiri atau terbentuk di atas pertiwi yang sudah lebih dahulu memiliki budaya yang sangat beraneka ragam dan majemuk – yang acap kita sebut budaya daerah, budaya etnis, atau di sini kita sebut budaya lokal. Budaya lokal yang beraneka ragam dan majemuk itu telah menjadi “bahan dasar-pokok yang sangat penting” dalam pendirian dan pembentukan, bahkan pengembangan Indonesia. Kendati desain keindonesiaan kita diwariskan oleh kolonialisme Belanda, tetapi desain keindonesiaan kita yang dikonstruksi oleh para pendiri bangsa dan bapak-ibu bangsa bertumpu pada imajinasi Majapahit atau Nusantara yang menerobos batas-batas desain kolonial Belanda berkat konstribusi budaya lokal dan pencapaian kebudayaan dan peradaban lokal nan gemilang. Itu sebabnya, budaya-budaya lokal menjadi bagian terpadu desain keindonesiaan kita atau Budaya Indonesia kita. Secara yuridis-formal, sebagaimana telah disuratkan secara gamblang dalam Undang-undang Dasar 45, budaya-budaya lokal itu sudah ditetapkan sebagai bagian terpadu keindonesiaan kita yang berarti pengakuan dan penerimaan keanekaragaman dan kemajemukan budaya. Karena itu, keberadaan, kelangsungan, dan kelanggengan Indonesia pun pasti beralaskan keanekaragaman dan kemajemukan budaya termasuk budaya-budaya lokal.

Itu sebabnya, budaya-budaya lokal menjadi bagian terpadu desain keindonesiaan kita atau budaya Indonesia kita.

Hal tersebut sudah menjadi suatu keniscayaan bagi Indonesia, yang tidak bisa ditolak, diingkari, dan atau dinafikan oleh siapapun manusia Indonesia – bahkan oleh bangsa lain. Pengingkaran, penolakan, apalagi penafian akan keanekaragaman dan kemajemukan budaya di Indonesia bisa meruntuhkan, malah melenyapkan “bangunan” Indonesia kita. Bukankah guncangan-guncangan budaya acap terjadi dan notabene telah merawankan bangunan keindonesiaan kita? Namun, Indonesia tetap eksis dan keindonesiaan tetap nyata, tak sampai runtuh. Mengapa demikian? Ini karena keanekaragaman atau kemajemukan budaya dan keindonesiaan sudah berkoeksistensi, bersimbiose mutualisme, membentuk jejaring budaya yang bertali-temali, bukan sekadar berkelindan.

Maka, benar belaka ketika nenek moyang kita dahulu secara cerdik-jitu mengungkai dan mengumandangkan sesanti: bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangruwo! Ini semua menyiratkan pesan bahwa landasan pluralisme dan multikulturalisme budaya telah membuat Indonesia tetap bertahan dan akan membuat kokoh-langgeng Indonesia pada masa depan. Karena itu, pluralisme dan multikulturalisme budaya perlu menjadi asas keindonesiaan  sekaligus, menjadi wawasan pembentukan dan penguatan keindonesiaan kita; pluralisme dan multikulturalisme budaya harus menjadi asas segenap lapangan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, misalnya kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan hukum.

/2/

Di bawah naungan terang asas pluralisme dan multikulturalisme budaya tersebut kita bisa memandang, menempatkan, dan memperlakukan beratus-ratus budaya lokal di Indonesia sekedudukan, setara, sederajat, dan atau sejajar. Kesetaraan, kesejajaran, dan kesederajatan budaya-budaya lokal itu niscaya dapat menjadi ragi tumbuhnya penghayatan, pemahaman, sikap, dan atau perilaku saling menghargai/menghormati budaya yang berbeda-beda di Indonesia di kalangan pemangku budaya. Lebih lanjut, hal tersebut dapat mengikis, malah dalam jangka panjang bisa menghilangkan prasangka sosial budaya yang acap masih merebak di Indonesia. Pada tahapan berikutnya niscaya akan tumbuh penghormatan atas hak hidup budaya di Indonesia khususnya budaya lokal.

Selanjutnya itu semua bakal mendorong berkembangnya kemauan dan kemampuan pemangku budaya lokal untuk merantau ke dalam budaya lain dan atau melakukan perantauan budaya (cultural passing over) untuk kemudian pulang kembali (coming back) ke dalam budaya lokal masing-masing dengan pandangan budaya yang segar dan sikap budaya yang konstruktif. Sebagai contoh, pemangku budaya Sasak mau dan mampu merantau ke dalam budaya Jawa yang kemudian berkembang menjadi kebiasaan merantau ke dalam budaya Jawa untuk kemudian kembali ke dalam budaya Sasak dengan pandangan budaya yang lebih segar dan sikap budaya yang sangat konstruktif. Jika semua pemangku budaya lokal di Indonesia dapat atau sudi berbuat demikian, maka keanekaragaman dan kemajemukan budaya Indonesia niscaya bertahan dan terpelihara, bahkan dapat berkembang baik di dalam masyarakat Indonesia. Inilah salah satu wujud kompetensi budaya atau kompetensi multikultural yang dibutuhkan dan perlu dikuasai oleh manusia Indonesia yang “beribu” budaya lokal sangat bermacam-macam; sebuah kompetensi multicultural yang bersari penghormatan kepada beranekaragam dan kemajemukan budaya di Indonesia.

Agar kompetensi multikultural tersebut berkembang secara positif-konstruktif, sudah barang tentu, pengenalan, penghayatan, pemahaman, dan apresiasi multi-budaya atau minimal lintas budaya harus terjadi atau berlangsung secara berkelanjutan, terbuka, dan bermakna di dalam diri manusia Indonesia atau komunitas Indonesia. Manusia Indonesia yang membentuk diri ke dalam gugusan-gugusan komunitas tertentu harus sudi membuka diri – bahkan memperkaya diri –untuk bisa mengenal, menghayati, dan memahami serta mengapresiasi budaya lain yang hidup dan berkembang di Indonesia khususnya budaya-budaya lokal yang beranekaragam dan majemuk. Hal tersebut dapat berlangsung atau terjadi secara intensif dan inspiratif dalam berbagai komunitas manusia Indonesia bilamana tersedia informasi mengenai budaya-budaya Indonesia khususnya budaya-budaya lokal secara memadai-mutakhir. Informasi yang dimaksud dapat berupa cetak dan elektronis, tidak sekadar informasi lisan. Selain itu, juga berlangsung muhibah-mubibah budaya, anjangsana-anjangsana budaya, perjalanan-perjalanan budaya, festival-festival budaya, dan atau apresiasi-apresiasi budaya di antara berbagai komunitas budaya di Indonesia. Ini semua tentu mempersyaratkan adanya politik (ke)budaya(an) yang multikultural dan pluralistis.

Dalam bingkai politik (ke)budaya(an) yang pluralistis dan multikultural itulah dapat tumbuh-berkembang subur – mengutip istilah Umar Kayam – semangat budaya yang pluralistis dan multikultural pada semua gugusan komunitas manusia Indonesia. Dalam semangat budaya seperti itulah tak ada lagi prasangka budaya, tak ada lagi perasaan inferioritas atau seperioritas budaya, tak ada lagi perasaan ketidakberdayaan budaya, dan atau tak ada lagi konfrontasi-agresi-hegemoni (perbenturan-penyerangan-penistaan) antar-budaya; yang ada saling menjunjung-menghormati antar-budaya, saling menghidupi-mengembangkan antar-budaya, saling memperkaya-memperelok antar-budaya, dan atau kolaborasi-sinergi antar-budaya serta solidaritas antar-budaya di Indonesia. Kendati mungkin dianggap utopia atau mimpi semata bagi banyak orang, hal tersebut jelas merupakan keadaan dan suasana budaya yang kita rindukan. Beralaskan hal tersebut kita dapat menempatkan budaya Jawa. Penempatan budaya Jawa seperti tersebut akan menampakkan adanya semangat budaya pluralistis dan multikultural yang sekaligus membuktikan berjalan atau berfungsinya politik budaya yang pluralistis dan multikultural.

Dalam bingkai politik (ke)budaya(an) yang pluralistis dan multikultural itulah dapat tumbuh-berkembang subur – mengutip istilah Umar Kayam – semangat budaya yang pluralistis dan multikultural pada semua gugusan komunitas manusia Indonesia.

/3/

Dalam konteks politik budaya yang pluralistis dan multikultural,  harus diakui dengan jujur-jernih bahwa jagat kebudayaan jawa sangatlah beranekaragam, majemuk, dan luar biasa kaya yang membentuk berbagai-bagai gugusan budaya Jawa; budaya Jawa tidaklah homogen, singular, monolitis, monodimensional, monodiversitas, atau monokultural sebagaimana pada umumnya dipahami. Secara geokultural, sosiokultural, religiokultural, historis, sosiologis, dan dimensional, budaya Jawa menampakkan kekayaan, keapikan, dan keelokan luar biasa. Betapa tidak! Secara sosiologis, kita bisa menyaksikan gugusan-gugusan budaya Jawa di dalam lingkaran konsentris pemerintahan Jawa masa lampau [Kerajaan Mataram] dan di luar lingkaran konsentris Kerajaan Mataram [sabrang – sabrang watan], budaya Jawa pusat dan pinggiran, budaya Jawa pedalaman dan pesisiran, dan budaya Jawa perdesaan dan perkotaan.

Secara historis, kita dapat menyaksikan gugusan-gugusan budaya Jawa pada masa pra-Hindu-Budha, pada masa Hindu-Budha, pada masa Islam, pada masa kolonialisme Barat [ekspansi bangsa Barat], dan pada masa negara-bangsa Indonesia, yang masing-masing saling menyatakan-menegaskan diri sekaligus saling mempengaruhi-meluluhkan diri ke dalam totalitas budaya Jawa. Secara religiokultural, kita bisa menyaksikan gugusan budaya Jawa komunitas santri dan abangan serta komunitas lain; secara sosiokultural, kita melihat gugusan budaya Jawa komunitas priyayi [tradisi besar] dan komunitas orang biasa (wong cilik) [tradisi kecil] serta komunitas menengah yang sedang tumbuh atau komunitas keraton yang terus bertahan; dan secara geokultural kita mendapati gugusan budaya Jawa Bagelan, budaya Jawa Cirebon-an dan Tegal-an, budaya Jawa Mataraman, budaya Jawa sabrang wetan [Jawa Timur-an, budaya Jawa komunitas transmigran, budaya Jawa Tondano, budaya Jawa Deli-Serdang, dan lain-lain.

Selain itu, secara dimensional-holistis, kita juga dapat menyaksikan sistem material [ekonomi dan teknologi] budaya Jawa, sistem sosial budaya Jawa, dan sistem simbolis [sistem gagasan, sistem makna, dan sistem nilai] budaya Jawa. Di samping memiliki pelbagai kesamaan-kemiripan, gugusan-gugusan budaya Jawa tersebut tentulah memiliki perbedaan-perbedaan yang jelas. Kesamaan-kemiripan budaya Jawa terjadi pada tataran “doktrin”, pesan dasar, visi dasar atau common platform, sedangkan perbedaan terjadi pada ranah dan matra aktualisasi, artikulasi, institusionalisasi, dan atau kontekstualisasi “doktrin” atau visi dasar budaya Jawa. Ini semua menunjukkan panorama “ke-ratna-mutu-makinam-an” budaya Jawa yang semburat apik.

Antara doktrin utama atau visi dasar nilai budaya Jawa dan aktualisasi-artikulasi-kontekstualisasi nilai budaya Jawa sebagaimana disebut di atas jelas ada jalinan hubungan yang menyatu, padu, dan tak terpisahkan. Dikatakan demikian sebab – meminjam istilah filsafat perenialnya Hossein Nasr – doktrin utama, pesan dasar atau visi dasar dengan aktualisasi-artikulasi-kontekstualisasi budaya Jawa selalu membentuk hubungan yang banyak dalam yang satu (the many in the one) dan sebaliknya hubungan yang satu dalam yang banyak (the one in the many). Lebih lanjut, hal ini membuktikan bahwa pada satu sisi terdapat pluralitas dan multikulturalitas. budaya Jawa pada tataran artikulatif-kontekstual, tetapi pada sisi lain terdapat singularitas dan homogenitas budaya Jawa pada tataran doktriner atau visi dasar. Singularitas dan homogenitas budaya Jawa pada tataran doktriner atau visi dasar secara niscaya menjadi common platform bagi pluralitas dan multikulturalitas budaya Jawa pada tataran artikulatif-kontekstual. Pluralitas dan multikulturalitas budaya Jawa pada tataran artikulatif-kontekstual tersebut bisa memberi kontribusi berarti atau bermakna pada kebersatuan-keutuhan budaya Jawa pada doktriner atau visi dasar.

Lebih jauh, hal tersebut di atas mengimplikasikan bahwa terdapat hubungan dinamis dan dialektis dalam budaya Jawa. Setidak-tidaknya ada 2 (dua) macam hubungan  dinamis dan dialektis, yaitu sebut saja hubungan vertikal dan horizontal. Pertama, secara vertikal, doktrin utama atau visi dasar nilai budaya Jawa dapat dibayangkan selalu berhubungan dinamis dan dialektis dengan artikulasi, dan atau kontekstualisasi nilai budaya Jawa. Bagaimanakah hubungan dinamis dan dialektis itu bisa berlangsung? Pada suatu saat, doktrin utama atau visi dasar nilai budaya Jawa dapat menjadi kompas, pumpunan, kemudi atau orientasi perubahan-perubahan transformatif budaya Jawa pada tataran aktual, artikulatif, dan atau kontekstual. Di sini aktualisasi, artikulasi atau kontekstualisasi nilai budaya Jawa bertransformasi sedemikian rupa tanpa harus mengubah, memengaruhi atau menggeser doktrin utama atau visi dasar nilai budaya Jawa. Misalnya, perubahan aktualisasi, artikulasi atau kontekstualisasi konsepsi toleransi dalam budaya Jawa tidak mengubah atau tidak memengaruhi doktrin nilai toleransi dalam budaya Jawa.

Di sini aktualisasi, artikulasi atau kontekstualisasi nilai budaya Jawa bertransformasi sedemikian rupa tanpa harus mengubah, memengaruhi atau menggeser doktrin utama atau visi dasar nilai budaya Jawa.

Akan tetapi, pada saat lain, bisa terjadi perubahan dinamis dan dialektif budaya Jawa pada tataran artikulatif dan kontekstual yang justru memengaruhi, mengubah, menggeser atau justru memperkaya doktrin utama atau visi dasar budaya Jawa. Di sini perubahan aktualisasi, artikulasi, dan atau kontekstualisasi budaya Jawa mampu menggoyahkan, meruyakkan, menggeser, memperkaya, memperluas, dan atau mempercanggih doktrin utama atau visi dasar budaya Jawa. Misalnya, perubahan aktualisasi, artikulasi atau kontekstualisasi nilai keperwiraan atau keutamaan dalam budaya Jawa membuat nilai tersebut diterima sebagai doktrin atau visi dasar budaya Jawa; atau artikulasi atau kontekstualisasi konsepsi ngluruk tanpa bolo menang tanpa ngasorake yang dicetuskan oleh Sosrokartono telah memperkaya etika keutamaan dalam doktrin atau visi dasar budaya Jawa.

Selain itu, kedua, secara horizontal hubungan dinamis dan dialektis juga dapat terjadi pada tataran aktualisasi, artikulasi, dan kontekstualisasi budaya Jawa dalam konteks geografis, geokultural, sosiokultural, sosiologis, dan historis. Secara geokultural, misalnya, gugusan budaya Jawa varian Mataraman memengaruhi, menggeser, bahkan mengubah gugusan budaya Jawa varian Arek karena demikian intensifnya mobilitas dan migrasi manusia Jawa Mataraman ke wilayah-wilayah budaya Jawa varian Arek. Demikian juga secara religiokultural, perjumpaan budaya Jawa varian santri dengan varian abangan telah membuat budaya Jawa varian abangan dipengaruhi, diperkaya, atau diubah oleh budaya Jawa varian santri. Bukti hal ini dikemukakan oleh Max Woordward dalam tulisan The Slametan: Textual Knowledge and Ritual Performance in Javanese Islam di mana doa (donga) slametan atau kenduren yang lazim dilaksanakan oleh kalangan abangan selalu membutuhkan kalangan santri [karena santri dianggap paling otoritatif dalam soal donga] pada satu pihak dan pada pihak lain kalangan santri selalu menerimanya.

Selain itu, secara sosiologis, perjumpaan budaya Jawa varian pusat [tradisi besar ala Refieldian] dengan budaya Jawa varian pinggiran [tradisi kecil ala Refieldian] telah membuat tradisi kecil Jawa merembes, menggeser, memperkaya, bahkan mengubah tradisi besar seperti terlihat pada berbagai bentuk kesenian. Selanjutnya, sebagai contoh berikutnya, secara historis berkembangnya budaya Jawa varian Islam telah memengaruhi, membongkar, menggeser, bahkan mengubah sekaligus menggantikan budaya Jawa varian Hindu-Buddha seperti ditunjukkan oleh Nancy K. Florida dalam tulisan Pada Tembok Keraton Ada Pintu: Unsur Santri dalam Dunia Kepujanggaan “Klasik” di Keraton Surakarta.

Selain itu, secara sosiologis, perjumpaan budaya Jawa varian pusat [tradisi besar ala Refieldian] dengan budaya Jawa varian pinggiran [tradisi kecil ala Refieldian] telah membuat tradisi kecil Jawa merembes, menggeser, memperkaya, bahkan mengubah tradisi besar seperti terlihat pada berbagai bentuk kesenian.

Dinamika dan dialektika hubungan di antara gugusan-gugusan atau varian-varian budaya Jawa – baik pada tataran doktriner atau visi dasar maupun pada tataran aktualisasi-artikulasi-kontekstualisasi – sebagaimana dikemukakan di atas jelas menunjukkan adanya transformasi budaya Jawa. Dalam pidato pengukuhan guru besar bertajuk Transformasi Budaya Kita [1989], Umar Kayam menunjukkan lekuk-liku proses transformasi budaya Jawa. Menurut Kayam, transformasi budaya Jawa relatif berhasil dalam batas-batas tertentu, tetapi juga berlangsung gamang dan kikuk, bahkan susah penuh masalah dalam hal-hal tertentu kendati pada akhirnya masalah itu dapat diatasi. Demikian juga Simuh dalam buku bertajuk Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa [KPG, 2019] telah memperlihatkan proses transformasi nilai religius budaya Jawa yang relatif berjalan mulus dan cukup berhasil meskipun ketegangan-ketegangan kecil terjadi yang kemudian dapat diatasi atau diselesaikan.

Sedangkan berlangsungnya transformasi budaya Jawa terutama nilai budaya Jawa ini jelaslah merupakan pertanda positif-konstruktif bagi budaya Jawa. Dikatakan demikian karena semua budaya – termasuk budaya Jawa – yang ingin eksis-kokoh secara terus-menerus dan berkelanjutan pasti mampu melaksanakan transformasi budaya secara kreatif-inovatif. Di samping itu, juga karena adanya transformasi budaya Jawa tersebut menandakan bahwa budaya Jawa mampu melaksanakan fitrah dan perintah kesejarahan setiap budaya, yaitu fitrah dan perintah untuk secara berkala bersedia bertransformasi. Budaya apapun dan manapun yang tidak bersedia, tidak mampu atau malah gagal bertransformasi niscaya bakal mundur, tenggelam, atau malah mati sebagaimana sudah terbukti pada budaya-budaya besar yang berjaya pada masa lalu.

Sedangkan berlangsungnya transformasi budaya Jawa terutama nilai budaya Jawa ini jelaslah merupakan pertanda positif-konstruktif bagi budaya Jawa.

Kemampuan budaya Jawa bertransformasi – termasuk mengatasi masalah-masalah seperti disintegrasi, disorientasi, dislokasi atau malah inersei budaya Jawa – membuktikan bahwa budaya Jawa masih tetap hidup dan eksis-kokoh pada satu sisi dan pada sisi lain membuktikan tumbuh atau berkembangnya kreativitas dan inovasi dalam budaya Jawa di tengah konteks keindonesiaan dan kesejagatan. Dari sini jelaslah bahwa kreativitas dan inovasi budaya itulah yang telah membuat budaya Jawa mampu bertransformasi, mampu mengatasi disintegrasi, disorientasi, dislokasi, dan bahkan involusi yang muncul selama proses transformasi budaya Jawa. Memang, tak bisa dipungkiri, dalam setiap transformasi budaya Jawa pasti terjadi disintegrasi, disorientasi, dan atau dislokasi budaya Jawa karena transformasi budaya Jawa pasti dimulai dengan pelapukan, peruyakan, perusakan, dan pembongkaran unsur-unsur atau aspek-aspek budaya Jawa yang hendak mengalami transformasi. Akan tetapi, hal tersebut tidak sampai mengakibatkan disintegrasi, disorientasi, dan atau dislokasi berkepanjangan dan berlarut-larut serta menuju jalan buntu; tidak sampai juga menimbulkan – meminjam istilah Clifford Geertz dalam buku Involusi Pertanian [Penerbit Bharata, 1983; Komunitas Bambu, 2018] – persoalan involusi budaya Jawa berkat berfungsi dan berperannya kreativitas dan inovasi dalam budaya Jawa. Jadi, kunci utama keselamatan dan keberhasilan suatu transformasi budaya – dalam hal ini transformasi budaya Jawa – adalah kreativitas dan inovasi budaya Jawa; ini berarti daya-cipta dan daya-temu budaya Jawa menjadi ruh atau jiwa transformasi budaya Jawa.

Tentu saja tidak hanya budaya Jawa, kreativitas dan inovasi budaya harus juga dikandung-dimiliki oleh budaya-budaya lokal di Indonesia yang demikian beraneka ragam, berwarna-warni dan majemuk. Mengapa demikian? Hal ini diperlukan oleh budaya-budaya lokal agar budaya-budaya lokal itu mampu melaksanakan transformasi budaya seperti halnya budaya Jawa. Kemampuan budaya-budaya lokal bertransformasi menandakan budaya-budaya lokal itu tetap hidup dan eksis-nyata di tengah-tengah konteks keindonesiaan dan kesejagatan. Untuk itu, sebagai condition sine qua non, kreativitas dan inovasi budaya harus ditumbuhkan, dikembangkan, dan dikuatkan dalam budaya-budaya lokal di Indonesia dengan berbagai jalur, media, dan siasat. Hidup, tumbuh, dan atau berkembangnya kreativitas dan inovasi dalam budaya-budaya lokal niscaya bakal membuat budaya-budaya lokal itu selamat dan berhasil bertransformasi sehingga bisa berfungsi secara optimal bagi para pemangku budaya lokal. Bilamana semua budaya lokal – tidak hanya budaya Jawa – mampu bertransformasi secara selamat dan berhasil berkat dorongan kreativitas dan inovasi, maka keanekaragaman dan kemajemukan budaya di Indonesia terwujud, terpelihara, dan terjaga.

Lebih lanjut, hal ini berarti pluralisme dan multikulturalisme budaya di Indonesia menjadi kian kuat-kokoh menghidupi keindonesiaan kita di tengah kelokalan dan kesejagatan (glokalisasi). Karena itu, obor kreativitas dan inovasi budaya harus terus-menerus dinyalakan-dibarakan demi terjaganya pluralisme dan multikulturalisme budaya.Di sini dapat dikatakan, berhubung budaya Jawa sudah berusaha menyalakan-membarakan obor kreativitas dan inovasi budaya Jawa sehingga mampu eksis-kokoh secara multicultural dan plural, maka budaya-budaya lokal lain dan budaya nasional Indonesia [kalau memang ada secara de facto] juga harus berusaha keras-cerdas dan sekuat daya-upaya menyalakan-membarakan obor kreativitas dan inovasi budaya supaya juga hidup-eksis secara multicultural dan plural. Kreativitas dan inovasi budaya di sini menjadi “motor atau mesin utama” transformasi budaya yang berasaskan multikulturalisme dan pluralisme. Di sinilah perhitungan budaya berlangsung. Di sini pulalah pertaruhan budaya kita lakukan: pluralisme dan multikulturalisme budaya di Indonesia tetap terjaga atau tenggelam-mati, menjelma monokulturalisme dan singularisme budaya di Indonesia. Kita harus hati-hati dalam hal ini karena taruhan kita adalah keindonesiaan dan kebangsaan kita.

 

Background

My young friend and colleague, Akhlis Syamsal Qomar (Madiun), asked me to reflect on how I had learnt my craft as an historian and who were the main influences on my intellectual development in the service of Clio. This is actually a big ask and I can only make a modest beginning. First let me start with a bit of background because my interest in history and things historical started a long way back—almost as soon as I started reading historical novels when I was at my Preparatory School (SD)—Temple Grove, near Uckfield in East Sussex (1955-61).

I was always interested in history. I have a very vivid imagination and devoured the historical novels about the Crusades by the French novelist and first woman ever elected as one of the French literary ‘immortals’ to the Académie française,  Marguerite Yourcenar (1903-87). I also have a very pictorial imagination—it is almost as though I can see things in 3-D, like a film-script unrolling before my eyes. I believe the past never dies but is a submerged presence in all our lives. Proust’s ‘In Search of Lost Time’ (À la Recherche du Temps Perdu, 1913) is a touchstone for me here with its ability to resurrect complete worlds with their sounds, smells and feel. Proust wrote that everyone who lives has an appel or a ‘calling’—mine was certainly history. I could have also been a filmmaker or a novelist, but I prefer real-life memoirs rather than novels because for me life is stranger than fiction. I also firmly believe in William Faulkner’s (1897-1962) famous phrase that ‘the past isn’t dead—it isn’t even past!’

My first training as an historian – Winchester College (1961-65)

My ‘baptism of fire’ as a budding historian was really at the age of 15-16 when I was at my High School—one of the UK’s so-called ‘public schools’, Winchester College—where I had a very remarkable history teacher. His name was Mark Stephenson—and I dedicated my 1992 book the British in Java, 1811-1816; A Javanese Account (Oxford: OUP) to him (‘For Mark Stephenson, my history master at Winchester, who first inspired me with an interest in chronicles’). He did this by teaching us to write essays on the ‘Time of Troubles’ or civil war  (1139-54) during the reign of the English King, Stephen (r.1135-54), known as the ‘Anarchy’, by using contemporary Latin chronicles: namely (1) the Gesta Regis Stephani, a mid-12th century Latin chronicle by an anonymous author (certainly a cleric, probably the Bishop of Bath), who was very pro-Stephen; and (2) the Historia Novella by William of Malmesbury (1095-1143), the greatest English historian of the 12th century, who was very critical of the king and in favour of his main opponent.

My ‘baptism of fire’ as a budding historian was really at the age of 15-16 when I was at my High School—one of the UK’s so-called ‘public schools’, Winchester College—where I had a very remarkable history teacher.

Obviously, we were not required to read the chronicles in the original Latin (that would have been impossible for me because my knowledge of Latin was poor), but we were expected to read the English translations carefully and come to our own conclusions citing the original texts. We were not allowed to sneak away and consult the key secondary texts like Dom David Knowles (1896-1974), Regius Professor of History at Cambridge (1954-63), magisterial history of the English church (The Monastic Order in England, 943-1216 [1949]), which had just been republished (1963) when I was studying at Winchester. If we did that, our essays would be torn up and thrown in the wastepaper basket. Actually, tutorial sessions with Mark were quite forbidding. For a start he looked like a version of Heathcliff from Emily Brontë’s famous 1847 novel, played by Laurence Olivier, with a great shock of black hair and piercing eyes:

Laurence Olivier (post-1947, Sir Laurence, 1907-89) as Heathcliff in the 1939 Samuel Goldwyn Hollywood film of Emily Brontë’s 1847 novel, Wuthering Heights. Photo: Wikipedia.

But his tutorials were also very invigorating. This was a one-on-one tutorial. We went to his study in ‘College’—the oldest (14th century) part of the school in a medieval building to talk about medieval history (!)—and he would usually have a tray laid for his dinner. If one did well and produced an essay based on one’s own reading of the original Latin texts (in English translation) with sensible conclusions one would be invited to share a part of his meal. If one tried to cheat by using secondary published works, then your essay was destined for the wastepaper basket! For a 15-year-old, this was a real ‘baptism of fire’, and it prepared me really well for dealing with Javanese chronicles relating to the Java War and the equally forbidding—Javanese Heathcliff—figure of Prince Diponegoro (1785-1855).

Studying medieval English history and the era when the throne of England was contested between an inept king, Stephen, and the Empress Matilda, daughter of the previous ruler, Henry I (r. 1100-35), was also a very good preparation for understanding the murderous intricacies of Javanese history and events like the First Javanese Succession War (1704-08) during which Amangkurat III’s bloody rule (1703-1708) was contested by his uncle (paklik) Pakubuwono I (r. 1704-19); or the bloody events in the Yogyakarta court when Diponegoro was coming to manhood (1808-1812) and the court was torn between the factions around the Kerajan (Raja Putra Narendra – future HB III) and the Kasepuhan (Sultan Sepuh/HB II) split in the Yogyakarta court during the reign of the Second Sultan (1792-1810/1811-12/1826-28).

So, this was what I took away from my Win. Coll. (Winchester College) education, which in many other respects was a purgatory for me because there was a great deal of violence (institutionalised bullying) and I was a shy and retiring lad. But for my evolution as an historian it was really massive—a foundation for my later training and career a Javanese historian as it really awakened me to the importance of respecting and using primary sources. Nothing I came across subsequent to that in Oxford, Leiden, Cornell or Yogyakarta really matched that.

But for my evolution as an historian it was really massive—a foundation for my later training and career a Javanese historian as it really awakened me to the importance of respecting and using primary sources.

Growing up in post-colonial Burma

I certainly think my upbringing in Burma counted for much in prompting my academic interest in Southeast Asia and Indonesia. My mother and father’s families both had a long association with Asia. My mother, Wendy (1915-2006), was born in Shanghai and grew up in China between 1915 and 1935. My father, Thomas Brian Carey (1910-70), meanwhile, although born in Liverpool, hailed from a family with a famous ancestor, William Carey (1761-1834), who was a Baptist missionary for 40 years in Kolkata/West Bengal and oversaw the translation of the Bible into 27 different Indian languages and dialects.

When we eventually returned to the ‘old country’ (UK) in 1955-56, all our close family friends had that shared experience in Asia, indeed they were nearly all old ‘Burma hands’. I grew up in a late colonial setting. I was also very lucky to win an English-Speaking Union (ESU) scholarship to undertake graduate studies at Cornell which then had a simply superb Southeast Asia program with plenty of opportunities to study SE Asian languages, Indonesian in particular. It was there in Ithaca in Upper State New York that I began my study of Malay/Bahasa there with native speakers. That year was also the start of my specific focus on Indonesia and I have written about this at length elsewhere.[2]

The Invisible Man – Oxford, Man and Boy (1966-2008)

Actually I was in Oxford—man and boy—for 42 years from 1966-2008, first as an undergraduate reading for an Honours Degree in Modern History at Trinity College (1966-69), then as a graduate student (1973-75) (after two years in Indonesia living in Jakarta and the Tejokusuman, 1971-73); then as a Research Fellow at Magdalen College (1974-79), when I finished my PhD thesis on ‘Pangeran Dipanagara and the Making of the Java War, 1825-30’ (supervised [1974-75] and examined by Merle Ricklefs, November 1975), and then as Fellow and Tutor at my old college Trinity, for the best part of 30 years (1979-2008). I eventually retired from Oxford in October 2008, after teaching there for 35 years, to settle permanently in Indonesia. This was also seminal for my development as an historian. We had well over 100 historians on the books of the History Faculty – amongst which were 90 permanent academic staff (of whom I was one), and fifteen statutory professors and readers (Assistant Professor). It was very impressive. Obviously the downside was that there was almost zero interest in Southeast Asian (still less Indonesian) history and I never had an Indonesian student who came to study for a PhD in history, but this was made up for in part by wonderful colleagues whom I found really impressive in their own fields. I just could not imagine what it would be like—as at present in one well known university here in Indonesia—to be in a Faculty full of plagiarists and sejarawan proyek-proyek! I would not want to continue as an historian in that situation, certainly not in an academic career—I would be a high school (SMA) history teacher!

 ~~~To Be Continued~~~

 

* Artikel To my teachers: A Reflection on 55 Years of Learning the Historian’s Craft (1964/65 – 2020) ini, bagian pertama dari 4 seri yang akan dipublikasikan di Langgar.co setiap hari Senin.


[1] Whatsapp Mas Akhlis Syamsal Qomar, 12 June 2020, reads: ‘Sugeng enjing Prof. Semoga Prof Peter dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan di tengah pandemic sekarang.Jika boleh sharing terkait perjalanan panjang sebagai seorang sejarawan dan intelektual publik yang diakui dedikasinya, kiranya siapa yang banyak membentuk dan mempengaruhi karier akademik Panjenengan sampai sekarang?'[‘Good morning, Professor, Here’s hoping that Prof. Peter and his family will always be given good health in the midst of the current pandemic. If you are agreeable, could you share something about your long journey as an historian and public intellectual whose dedication is recognised. So who exactly has shaped and influenced your academic career to date?’].

[2] See Peter Carey, “Menyusuri Jalan yang Jarang Dilalui, Sebuah Otobiografi Singkat”, in FX Domini BB Hera (ed.), Urip iku Urub; Untaian Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2019), pp.21-26.

Saya tak tahu sejak kapan Ijah akrab dengan (kata) Pasemon. Yang saya tahu, hidupnya, terutama separuh hidupnya terakhir, penuh dengan gejala-gejala yang membuat orang sekelilingnya menangkap bahwa ia hidup dan menghidupi lelakunya dalam pengertian penuh kata Jawa itu.

Kata itu, Pasemon, memang sering merujuk pada semacam cara ekspresi dalam kebudayaan jawa, bisa dalam sebuah cakapan verbal, tingkah, gestur, tindakan, atau sindiran, yang orang diminta menangkap pesan di balik apa yang tampak. Kata “semu” sendiri—sebagai kata dasar Pasemon/Pasemuan—memang berarti “samar” atau “yang mirip seperti (mengacu) itu, tapi (sekaligus) bukan itu”. Ya apa yang ada dibalik peristiwa, apa yang dibalik perbuatan juga pernyataan.

Mungkin ijah tak sendiri. Orang Jawa—mungkin juga sudah merembes dalam kebudayaan Indonesia secara umum—dari sejak dini dikenalkan untuk menerobos apa yang tampak. Ia dipaksa mengakrabi yang tersirat, metafora, sasmita, ketaklinieran, dan sanepa. Wujud puncak pasemon ini termanifes dalam bangun utuh Kesusasteraan Jawa yang sering ditembangkan secara populer di desa-desa itu. Ijah sepertinya tertanam dalam kebudayaan tersebut, dan sepertinya ia menyesap habis “kearifan” itu.

Beberapa momen, sejauh saya ingat, menunjukkan tanda yang menunjuk “gejala” itu. Dulu, ia sering bercerita, setiap orang, seperti diyakininya, mau tak mau harus memanen buah dari hasil perbuatannya. Ngunduh wohing pakerti, katanya. Mirip konsep kausalitas moral bernama “Karma” itu. Bukan dalam pengertian awam, jika anda mencuri, besok Anda akan dicuri. Melainkan, setiap perbuatan baik (pasti) akan memberi dampak baik atau menghasilkan konsekuensi baik, baik dalam waktu bersamaan maupun di kemudian hari. Begitu juga sebaliknya. Ringkasnya, setiap perbuatan—bahasa kerennya “Karma”—pasti akan menumbuhkan buah (phala, pahala): Karmaphala. Dan orang pasti memanen buah dari setiap perbuatan yang dijalankannya. Sebuah hukum kausalitas moral universal.

Pernah suatu kali, ia bercerita bahwa tetangga yang dulu menjadi aktor jagal PKI tahun ‘65 mati dengan cara mengenaskan. Ada yang mati terjatuh, menelungkup di kandang tahi bebek, menderita stroke yang melumpuhkan sekujur tubuhnya selama puluhan tahun, dan lain-lain. Menurutnya ini adalah pasemon dari perbuatan. Orang harus pintar-pintar menyesap pasemuan yang merentang dan terpapar dalam urip.

Mungkin Tuhan hendak mengajari kita dengan menyediakan lanskap agung semesta ini, sebagai sebuah pasemon Agung, sebagai sebuah sanepa, sasmita, serta tanda (baca: ayat), agar orang menembus yang tampak, agar orang tak berhenti pada yang tampak. Ijah selalu merindukan sasmita ini. Ya sebuah pasemon yang bisa mengantarkan pada-Nya.

Di sebuah acara pernikahan anaknya di Kebumen, misalnya, ia memarahi rombongan tetangga yang diajaknya ngiring manten di kota itu. Pasalnya, para rombongan tetangga, yang secara otomatis mewakili rombongan keluarganya, menyantap dua kali makan dan dengan bersemangatnya mengambil apa saja segala ragam jenis makanan yang tersedia.

Bagi Ijah, tindakan ini adalah pasemon yang buruk bagi keluarga besannya. Namun, kita tak tahu persis, apa respon besan itu apakah sedih, merendahkan, atau malah cukup senang. Bagi Ijah apa yang akan disiratkan dari sebuah tindakan harus dijaga sebaik mungkin agar tak menimbulkan siratan pasemon yang buruk oleh lawan. Dan itu sudah cukup alasan, dan orang-orang dituntut menerima logika itu.

Tak hanya perbuatan, bahkan baginya, kebenaran hanya, dalam konteks tertentu, selalu hadir dalam keadaan sublim juga subtil. Orang yang tak akrab dengan pasemon, alias selalu melihat dalam nuansa hitam-putih, akan gagal menerjemahkan ayat tuhan, sebuah pasemon agung semesta. Dengan cara itu tidak hanya keadilan akan direnggut, melainkan kearifan juga bisa disesap.

Ia pernah rasan-rasan tetangganya, yang menurutnya gagal menyerap kearifan dari peristiwa kecil. Tetangganya, seperti diceritakannya, suatu kali memperingatkan tetangga lain perihal ranting besar pohon yang menjuntai di atas gentingnya. Ia meminta ranting tersebut dipapras, karena takut patah menimpa gentingnya. Belum sempat terpotong, peringatannya terbenarkan, ranting patah menimpa deretan genting hingga pecah. Sang empu genteng menuntut. Dan sang tetangga lain segera mengganti genteng baru. Permasalahan selesei. Namun Ijah melihat, sembari menyindir sang korban genting yang juga merupakan pemuka agama, gagal berlaku arif. Ia, menurut ijah, seharusnya mengganti sebagian uang sebagai kompensasi berubahnya genteng lawas ke genteng baru.

Tindakan tokoh agama tersebut benar, tetapi kurang trap dan pener, alias kurang tepat, ungkapnya dalam sebuah kesempatan berbincang dengan saya.

Saya tak tahu persis kearifan apa yang sebenarnya ia ingin ajarkan pada saya. Saya samar-samar mencoba menangkapnya. Tak benar-benar bisa utuh. Mungkin bagi Ijah, kebenaran, dalam patrap tertentu, memang samar, seperti samar-nya Al Haqq, alias Tuhan itu sendiri. Belum lagi, pengetahuan manusia selalu berusaha menjerat ide-ide agung, layaknya kebenaraan, keindahan, kesusilaan, cinta, dan lain-lain, dalam bentuk definisi, yang sebenarnya pada saat bersamaan merupakan kategori yang memilah dan mengekslusi kenyataan bahkan kehidupan yang sebenarnya satu-kepaduan konsep yang tak terpilah.

Oleh karenaya, mungkin Tuhan hendak mengajari kita dengan menyediakan lanskap agung semesta ini, sebagai sebuah pasemon Agung, sebagai sebuah sanepa, sasmita, serta tanda (ayat), agar orang menembus yang tampak, agar orang tak berhenti pada yang tampak. Ijah selalu merindukan sasmita ini. Ya sebuah pasemon yang bisa mengantarkan pada-Nya.

Waktu dulu menunaikan haji, Ijah sering bercerita mengenai visi-visi spiritual. Tak semua gamblang ia ceritakan. Tapi, samar-samar ia bercerita, perilaku seluruh teman dan saudara yang berangkat bersama ke tanah haram menampilkan pasemon perilaku, tahapan, dan level perjuangan membakar ego yang telah tercapai, dan itu tergambar jelas saat mereka di kota suci ini. Ada seorang yang sering meningggalkan rombongan untuk memenuhi dan memperbanyak ibadah-ibadah yang diserukan, ada yang sibuk berbelanja, ada yang sibuk mengurusi sertifikat haji hingga obat perkasa khas tanah Arab.

Ijah bahkan bercerita tentang rombongan malaikat yang berjalan dengan gemuruh di atas-nya. Terlepas itu, ia sampai punya refleksi yang apik: orang yang tak menangkap pasemon saat menunaikan haji di tanah haram, bukanlah seorang Haji yang “mabrur”. Saya tak tahu apakah Ijah berkata dalam nada menyimpulkan, atau ia sedang ingin berbagi pengalaman.

Yang jelas di puluhan hari terakhir kehidupannya, Ijah bahkan mulai “meninggalkan” teks fikih yang dulu menjadi panduan yang menuntun detail-detail kehidupannya. Ini tak harus mengandaikan aktivitas mendaras Qur’an di sepanjang pagi dalam hampir seluruh hidupnya, ia tinggalkan. Juga aktivitas nafilah-nafilah yang lain, yang ia perlakukan sebagai kewajiaban. Ia ingin menilai kehidupan dengan pasemon-pasemon yang melingkunginya. Dan ia sadar fikih tak menjangkau pasemon-pasemon itu.

Di setiap penghujung malam, seperti diceritakannya, ia sering meminta pandu dan penilaian dari Tuhan, yang tidak ia peroleh lagi dari pendapat fikih, kyai desa di sekelilingnya, juga tokoh-tokoh agama yang dulu ia sangat hormati. Sinar hijau, merah, putih, dan kuning yang sering ia minta sebagai tanda percakapannya dengan Tuhan, sering ia dapatkan.

Puluhan tanda-tanda lain sering mengintrupsi keheningan riyadhoh ruhaniyah malam-malamnya. Namun lagi, meski begitu, Tuhan pun selalu menuntut kita tak berhenti pada “kejelasan”. Toh Tuhan selalu menantang hambanya, dalam sebuah tanda tanya yang tak pernah selesei. Sebuah pasemon berlapis, dan hamba diminta terus mengelupasnya, pelan-pelan, istiqomah, penuh takut dan penuh harap. Mungkin agar tuhan selalu hadir dan “menggetarkan” juga sekaligus “memesona” hati kawula-Nya. Ia adalah misteri yang menggetarkan yang terus mengundang sahaya-Nya (bandingkan dengan kata Saya) untuk menangkap keindahan juga kebenaran-Nya dalam lokus (madh-har) yang berpendar dari seluruh predisposisi (isti’dad) makhluk dan elemen semesta, tempat ejawantah-Nya.

Menjelang hari-hari wafatnya, Ijah memanggil salah satu anaknya: “Kamu hendak pulang ke Magelang kapan?” “Seminggu lagi, Buk,” jawab Nanang putra lanangnya. “Mbok jangan keburu, dua hari lagi keluarga kita ada gawe (acara).” Sang anak tak terlalu menghiraukan. Ia merasa ibu sudah lupa tanggal, karena tidak ada jadwal acara di hari itu. Waktu Bulik Sumil bertandang, Ijah juga bercerita dengan bungahnya: “Wah, saya gembira, seminggu lagi kita ada acara.” Bulik Sumil membalas senyuman Ijah dengan tanda tanya. Bulik Sumil buru-buru menemui putri Ijah, Titin, dan menanyakan apakah acara tadarus keliling puasa tiba pada minggu dan tanggal seperti disebutkan oleh Ijah. Titin menggeleng. Bukan.

Di hari terakhir, saat kalut karena gerakan-gerakan Ijah yang tak normal, yakni seperti tangannya yang bergerak seperti melakukan gerakan takbiratul ikhrom, kepala yang mengangguk layaknya bersujud, juga engah nafas yang mulai sengal, anak-anaknya memutuskan membawanya ke rumah sakit. Anak-anaknya yang mengerubunginya di pembaringan melihat dengan jelas di detik-detik terakhir saat mereka menuntun kalimah tayyibah di kupingnya, Ijah meneteskan air mata sembari tersenyum. Ia bahagia.

Setelah kepergian Ijah, anak-anaknya mulai paham di hari seperti yang disinggunggnya, yakni di sepuluh akhir hari-hari puasa, Keluarga besar Siti Chadijah punya gawe. Doa tahlil dan tadarus keliling yang dibarengkan. Dan seperti diutarakan sendiri, Ia bahagia dengan acara itu. Saya tak tahu sebenarnya ia sedang memberi pasemon apa?

Irfan Afifi
Tempursari, 4 Oktober 2015
Mengenang 100 hari kepergian Ibunda Siti Chadijah.