Tirakat Air; Fendi Kachonk

Tirakat Air

Menemukanmu di tempat menuai benih,
menyiram luka tanah sehabis kemarau
mengirimkan kabar: panen telah gagal
dan sejuta risalah dibawa ke pancuran
semacam merawat segala kenangan.

 

Menemukanmu lagi, di hutan-hutan
cahaya, membawamu ke pucuk daun;
malih rupa kepada bentuk tumbuhan,
melewati rumah akar muncul tiap pagi
sebagai embun mensucikan tapak kaki.

 

Menemukanmu, riang bersama hujan
menyebar doa langit ke ladang jagung,
mengantarkan burung pulang ke sarang;
kehidupan terus menceritakan keadaan
orang-orang dilahirkan dan dipulangkan.

 

Menemukanmu mengalir hingga ke hilir
mengapungkan bentuk berubah seketika
di gelas menjelma, di kaleng menjelma,
pun di mata yatim, basah di musim gugur
menjelma lukamu dalam segala lukaku.

 

Agama Air

               Hanya ada waktu yang tepat
               mengirim pesan sampai jauh
               turun ke ladang-ladangmu

 

Hanya diberi kesempatan
menyiram akar naik ke pucuk daun
tempat burung membangun sarang
             Hanya begitu saja tugasku
             membasahi dahaganya kemarau
             mengajarkan pentingnya dingin

 

Hanya begitu, ya begitulah
aku tak peduli domba dan anjing
setiap haus aku berikan tubuhku

 

            Hanya dengan begitu
            sediakan hujan untuk pengantin
            meredam amarah dengan mimpi

 

Hanya begitu caraku itu
temani nelayan menangkap ikan-ikan
menidurkan gelombang sendirian

 

             Hanya begitu saja, begitulah
             aku menidurkan air mataku ini
             demi sampai ke muara-muara sunyi.

 

 

Rumah Air Mata

Aku pandangi kembali rumah ini:
sesuatu yang tak pernah terbayang
aku rindu semua yang sudah terjadi
suara bayi, tangisan juga panggilan

 

Aku pandangi kembali rumah ini:
pintu halaman, pohon, pot bunga
serta sisa-sisa gerimis dari kanopi
menetes, berulang juga, di mataku.

 

Aku pandangi kembali rumah ini:
segala isi: perabotan serta lemari
foto-foto melahirkan kenangannya
menjadi pajangan di ruang keluarga.

 

Aku pandangi kembali rumah ini:
tempat lahir, diberi nama, remaja
pun akhirnya tumbuh, menjadi tua;
menyisir lagi ingatan yang kian sir;

 

Kepada Puisi

 

Kau adalah malam yang sunyi
dan aku adalah penari di kamarmu
kita berdua hanya berpagar cahaya
lilin yang membungkus bayangan

 

Kau adalah malam yang sunyi
aku adalah keceriaan menemanimu
dalam setiap pelukan dan cumbuan
sampai pagi, sampai pagi, nanti.

 

Hujan

 

Tetes air dari langit;
dari matamu

 

Tetes air dari langit;
dari matamu

 

Di pipiku,
di pipi mereka

 

Saat sedih
saat duka

 

Kematian
seperti banjir

 

Berulang-ulang,
mencari
jalan pulang.

Ilustration:
Mixed Media Three-Dimensional Artworks by Shintaro Ohata
Buku Langgar Shop
Fendi Kachonk
lahir dan menetap di Desa Moncek, Sumenep. Mendirikan Komunitas Kampoeng Jerami (KKJ) dan Forum Belajar Sastra. Buku puisinya yang sudah terbit, antara lain Surat dari Timur dan Halaman yang Lain.