Ziarah, Rumah, Rantau: Membaca ‘Api Bawah Tanah’ | Raudal Tanjung Banua

Lewat tangan daratan
yang terjulur ke laut
kami memandang tanah seberang
bangsa-bangsa, aneka suku
membayang.”
(Bait-bait Kepulauan, Raudal Tanjung Banua dalam Api Bawah Tanah, Akar Indonesia 2013, h. 3).

 

“Putih layar itu dan sepi
Pada biru abadi berkabut;
Lari dari apa di pangkalan sendiri?
Apa dicari dalam yang baru?

 

Ombak-ombak menggila dan angin melulung
Dan tiang-tiang gemeretakan.
Sayang! Ia bukan m’luput sial
Pun bukan memburu kemujuran.

 

Di bawahnya: arus, gelombang lazwardi,
Di atasnya: dada emas mentari.
Tapi ia, pemberontak –mengajak badai
Seakan ada damai di dalam badai.”
(Layar di Laut, Mikhail Yuryawitz Lermontow dalam Puisi Dunia Gema Jiwa Slavia dan Latin Jilid 1 oleh M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1993 h. 25).

Hasrat untuk meninggalkan rumah dan kembali ke rumah merupakan bawaan purba manusia. Sebagaimana karya sastra itu sendiri merupakan buah dari ziarah (menimba pengalaman dan perjumpaan dengan dan bersama semesta kehidupan) dan perenungan penulis atau pengarangnya. Begitu pulalah puisi: lahir dan ditulis oleh penyairnya dari ziarah dan sekaligus dari sebuah ‘rumah’. Ziarah bisa berupa ‘pelancongan’ atau ‘petualangan’ seorang penyair atau penulis menjumpai kehidupan keseharian manusiawi atau pun ‘menjumpai’ alam dan bisa juga perjumpaan dengan teks atau karya-karya para penulis lain. Dengan demikian, karya sastra memang selalu memiliki dimensi individual sekaligus dimensi sosial yang ditulis dalam ‘ketersituasian’.

Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua yang terhimpun dalam buku Api Bawah Tanah adalah suara-suara dan narasi dari ziarah dan perantauan sekaligus ‘kenangan’ dan ‘kerinduan’ kepada ‘rumah’. Dan rumah itu, selain kampung halaman penyairnya, adalah Indonesia: gugusan kepulauan yang dipisahkan sekaligus ‘disatukan’ oleh laut dan selat-selatnya. Indonesia yang oleh Denys Lombard disebut sebagai salah-satu lalulintas utama ‘Jaringan Asia’ sebelum ditemukan orang-orang Eropa sebagai bagian dari ‘Jalur Sutra’ (Silk Road) perdagangan maritim dunia.

Adapun rumah itu sendiri memiliki ragam makna, seperti perbedaan antara house dan home dalam kosakata Bahasa Inggris, sebagai contohnya. Yang pertama hanya sekedar gedung atau bangunan, sementara yang kedua merupakan suatu tempat dan hunian yang telah membuat betah dan senantiasa dirindukan bila ditinggalkan. Sehingga, rumah juga dikatakan sebagai space of staying (ruang tinggal) bagi pemilik atau penghuninya:

“mereka yang tak berumah
tak akan membangun lagi
tapi di Bantul,
mereka yang tak membangun
tentu tak akan berumah lagi.

 

maka dengarlah suara
bambu, bata, dan paku-paku
gergaji dan palu
pada berlagu
tentang rumah kecil papa
menjengkal segala lupa.”
(Mereka yang Tak Berumah tak Akan Membangun Lagi, Raudal Tanjung Banua dalam Api Bawah Tanah h. 57).

Puisi yang berjudul Mereka yang Tak Berumah (tak) Akan Membangun Lagi  itu adalah suatu narasi tentang masyarakat Bantul paska gempa Jogja tahun 2006 yang harus membangun rumah mereka meski sederhana atau bersahaja, sebab manusia memerlukan tempat rehat sekaligus perlindungan dari kondisi dan situasi yang akan ‘menghantam’ tubuhnya. Puisi tersebut memberitahu kepada kita, para pembaca, bahwa saat kejadian gempa di Jogja itu, penyairnya teringat puisi Herbsttag-nya Rainer Maria Rilke,

“Mereka yang tak berumah,
tak akan membangun lagi.
Mereka yang sendiri, akan lama menyendiri,
akan jaga, membaca, menulis surat panjang
dan akan melangkah hilir mudik di jalanan
gelisah, bila dedaunan beterbangan.”
(Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Krista Saloh-Forster).

Bila kita baca sekilas, paragraf terakhir puisi Herbsttag-nya Rainer Maria Rilke dan puisi ‘Mereka yang Tak Berumah (tak) Akan Membangun Lagi’-nya Raudal Tanjung Banua tersebut seakan tidak ada perbedaan yang penting secara stilistik dan dari sudut ‘dunia’ dan ‘kosmologi’-nya. Tetapi, bila kita simak secara seksama, nampaklah bahwa puisi Raudal Tanjung Banua lebih kuat bunyi pantunnya, sedangkan puisinya Rilke menggabungkan keseimbangan bunyi lirik dan pantun. Tentu saja, dua puisi tersebut juga berbicara tentang konteks dan peristiwa yang berbeda: Rilke bercerita tentang seseorang, yang dalam hal ini Rainer Maria Rilke sendiri, sebagai orang asing yang merasa kesepian dan senantiasa dalam situasi dan kondisi ‘perantauan’, yang pada saat bersamaan ia bandingkan dengan nasib orang-orang yang terasing dan terusir, sementara Raudal Tanjung Banua berusaha menghadirkan makna dan arti rumah sebagai ‘ruang tinggal’ atau space of staying sekaligus sebagai space of going (ruang kepergian) ketika si penyair melakukan komparasi pada dirinya sendiri sebagai seorang yang ‘hijrah’ dan melakukan ‘ziarah’ dari tanah kelahirannya pada satu sisi, dan pada sisi lainnya tentang pentingnya rumah bagi para settler, bagi orang-orang yang telah lama ‘tinggal’ yang menjadikan dan memaknakan rumah sebagai tempat berlindung satu-satunya yang sekaligus makna ‘rumah’ bagi si penyair sebagai sesuatu dan ruang yang intim sekaligus asing.

Dalam puisi tersebut, penyairnya juga tampak sengaja mengaburkan makna “rumah” sebagai tempat dan ruang tinggal dan sebagai “kampung halaman”. Namun, baik puisinya Rainer Maria Rilke dan Raudal Tanjung Banua sama-sama “mengimajinasikan” dan “menggambarkan” rumah sebagai “ruang batin” dan tempat yang telah melahirkan kebetahan dan kerinduan:

“kemarau dengan lebuh debu
telah berlalu di langit dukuh
bersama rumah-rumah yang dulu
tak kuasa menanggung berat derita bumi
kini semua tegak kembali
merekat yang lama dan yang baru
yang manis, retak dan kelabu.

 

mereka yang sendiriΙ
mungkin akan lama menyendiri
di sudut rumah rindu minta dihuni
dan mereka yang pergi
tentu tak akan membangun lagi
karena rumah, karena rumah,
hanyalah tanda kasih, kecil-papa,
jauh di bumi.”
(Mereka yang Tak Berumah tak Akan Membangun Lagi, Raudal Tanjung Banua dalam Api Bawah Tanah h. 57-58)

Teranglah kepada kita, bila kita baca sekali lagi, kita akan menemukan makna “rumah” dalam arti yang lebih luas, yaitu ekologi dan lingkungan, yang dalam puisi tersebut digambarkan sebagai “derita bumi” yang tentu saja dapat kita artikan sebagai “kerusakan ekologi” yang menyebabkan rusaknya keseimbangan dan ekosistem yang berdampak pada “bencana”. Ternyata, dalam puisi, kata “rumah” yang selama ini hanya kita anggap sebagai “kata benda” bisa juga memiliki arti dan makna “kata keterangan” dan ‘kata sifat’ yang memancarkan ragam arti dan “pemaknaan” sesuai dengan konteks puisi dan struktur “teks” puisi itu sendiri. Karena itulah, seringkali dikatakan, sebuah puisi atau teks sastra secara umum, menciptakan “dunia”, “kosmologi”, dan “realitasnya” sendiri, yang bahkan acapkali lepas dari intensi dan “niat pemaknaan” yang dikehendaki oleh penulis atau pengarangnya. Bila kita meminjam wawasan hermeneutika, teks sastra mengalami dan mendapatkan dirinya “otonom” atau terbebas dari penulisnya. Sebab, karya sastra dan “teks” yang telah dituliskan atau “fixed writing” telah memiliki kemungkinan pembacaannya sendiri, meski kita dapat saja menelusuri sejarah konteks penulisan dan latar belakang penulisnya sekedar untuk mengetahui konteks sosiologis atau politis dan kultural sebuah teks sastra sebelum kita membaca teks sastra itu sendiri.

Sebab, karya sastra dan “teks” yang telah dituliskan atau “fixed writing” telah memiliki kemungkinan pembacaannya sendiri, meski kita dapat saja menelusuri sejarah konteks penulisan dan latar belakang penulisnya sekedar untuk mengetahui konteks sosiologis atau politis dan kultural sebuah teks sastra sebelum kita membaca teks sastra itu sendiri.Ι

Secara umum, puisi-puisi Raudal Tanjung Banua yang terkumpul dalam buku Api Bawah Tanah masih setia mempertahankan bentuk dan bunyi pantun dan mantra, sebagaimana dalam buku pertamanya yang berjudul Gugusan Mata Ibu. Kita tahu pantun merupakan bentuk yang tertib dan dapat melahirkan sugesti dan “aura” magis bunyi mantra karena repetisi rimanya, sebuah unsur yang juga lazim ada pada seni musik. Repetisi inilah yang membuat sebuah bunyi dan narasi puisi menjelma musik yang menggunakan kata-kata dan bahasa sebagai instrumen musikalnya. Selain unsur musik, yang terkandung dalam pantun adalah juga permainan, terutama permainan bunyi dan rima yang tentu juga mensyaratkan kecerdikan dan kemahiran seorang penyair untuk menulis sebuah puisi pantun yang tidak aus alias sekedar mengulang khazanah lama tanpa melakukan upaya “penulisan” kembali yang sejalan dengan perkembangan bahasa dan ujaran kita saat ini.

Pada konteks inilah puisi-puisi Raudal Tanjung Banua berusaha “mengaktualkan” khazanah pantun dan mantra yang merupakan khazanah warisan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Melayu, yang tentu telah diakrabinya secara sangat baik sebagai seorang penyair yang lahir dari “tradisi” tersebut, sebuah tradisi yang juga telah diakrabi dan diolah para penyair Indonesia di masa lalu semisal Amir Hamzah yang puisi-puisinya juga mencerminkan kematangan “penggabungan” khazanah lirik dan pantun. Sebagaimana dapat kita baca dalam buku Api Bawah Tanah dan Gugusan Mata Ibu, tanah kelahiran penyairnya, kampung halamannya, yang dapat kita artikan juga sebagai “tradisi” dan “khazanah hidup”, atau tentang tempat-tempat yang minimal telah dianggapnya sebagai “kampung halaman” secara bathin serta ingatan tentang itu semua menjadi bahan material dan perenungan banyak dari puisi-puisinya, meski penyairnya telah lama tinggal dan bergelut di Jogjakarta, yang sebagai perwakilannya dapat kita contohkan dengan puisinya yang berjudul Ziarah Pohon:

“Di Wangka, sepanjang Sungaiiliat dan Belinyu
dari Tanjung Penyusuk ke Tanjung Ru
aku berziarah. Bukan ke Gua Maria
bukit Moh Thian Liang, bukan ke Bakit
makam Hotaman Rasyid, bukan ke Liang San Phak
dan makam keramat Kapitan Bong
di klenteng dan sunyi Benteng Kutopanji.

 

Aku berziarah ke pohon-pohon masa kecilku
yang berderet mengurung
halaman kampung –kampung halaman
jauh terpencil.

 

Durian nangka cempedak hutan
daun-daunnya gugur di angin santer
langsat manggis duku
pucuk-rantingnya sayup di awan.
Semak rangsam di pinggir jalan
rumpun sagu di rawa selokan
cengkeh dan mete rimbun daun
di pantai ketapang mencumbu karang
bambu-pimping-paku bergoyangan di tebing
berpakis haji. Jambu-kweni-ambacang
jatuh berdebum di halaman klenteng dan surau kampung
bangunkan lelap muazin dan penggerek lonceng.
Kantong semar memerangkap serangga
dan kupu-kupu, diam-diam,
hingga mumbang jatuh kelapa jatuh
di pantai itu!

 

Begitulah kuziarahi pohon-pohon hayatku
yang menyatu sebagai liat tubuh ibu
bayang-bayangnya melindap
meneduhi bunga dan akar yang kurawat.”
(Ziarah Pohon, Raudal Tanjung Banua dalam Api Bawah Tanah h. 41-42).

Seperti terasa jelas kepada kita sebagai pembaca, “ziarah” yang ditawarkan puisi berjudul Ziarah Pohon tersebut adalah ziarah batin, menziarahi segala hal yang telah akrab bagi penyairnya, bukan ziarah kepada monumen-monumen dan tugu-tugu bisu yang tidak berkaitan dengan pengalaman hidup dan pengalaman batin seorang penyair, di mana seorang peziarahnya tak lain adalah seorang penyairnya sendiri. Apa saja yang diziarahinya? Bila kita mengacu kepada puisi Ziarah Pohon tersebut, si penyairnya menziarahi detil-detil tempat dan benda-benda yang pernah dijumpai, dihidupi, dan diintiminya: “tanah kelahiran” dan “kampung halaman” bathin-nya, sebelum seorang penyairnya hijrah dan meninggalkannya, yang karena “tanah kelahiran” dan “kampung halaman” itu telah sedemikian nyatanya, minimal secara batin, membuatnya tetap nyata dan akrab meski telah ditinggalkan, menjadi ingatan dan kenangan batin, menjadi “space of staying” batin. Ia tidak “menziarahi” tempat-tempat, tugu-tugu, dan monumen-monumen yang tidak “berkenaan” dengan pengalaman hidup dan kenangan serta ingatan batinnya sebagai seorang penyair.

Begitu pun, dalam puisi Ziarah Pohon tersebut, penyairnya hendak memberikan pemaknaan bahwa “ziarah” bukanlah semata “wisata” yang sifatnya sekedar menjumpai “eksotisme” atau “masa silam” yang tidak “menyumbangkan” kosmik subjektif dan pengalaman individual bagi “historiografi personal” si penyairnya.

Ruang Kreatif Penyair

Seorang penyair yang telah bertahun-tahun bergelut dengan penulisan puisi dan “pengembaraan batin” serta “ziarah intelektual” tentulah memiliki fondasi dan prinsip yang didasarkan dan dilandasi oleh pilihan sadar ketika menjadikan “bentuk dan material estetika” tertentu bagi dan dalam kerja kreatif kepenulisannya. Seorang penyair memang bekerja dan berkarya berdasarkan pilihan “rasa” dan “imajinasi”, namun bukan berarti tidak ada logika dan “keteraturan” dalam karya-karya puisi yang ditulisnya. Bila kita meminjam telaah Friedrich Nietzsche tentang seni dan teater Yunani kuno, contohnya, estetika dan sastra adalah perwujudan dimensi spirit apollonian dan spirit dionisian. Yang pertama adalah keteraturan, logika, dan ciri yang tenang, sedangkan yang kedua merupakan unsur-unsur keliaran, gairah, spontanitas, dan ketakteraturan. Puisi dan seni biasanya merupakan hasil kompromi (perpaduan), bahkan konfrontasi antara keduanya. Ada saat-saat tertentu seorang penyair menulis puisinya dengan spontan seakan ia sedang mendapatkan ‘ilham’ yang deras dan membuncah. Namun, tak jarang seorang penyair menulis puisi tak ubahnya seorang pengukir yang berusaha memahat kata-kata, kalimat, dan bahasa. Kedua hal itu lazim dialami dan dilakukan seorang penyair, sehingga puisi-puisi seorang penyair biasanya lahir dan ditulis dalam dua “moment” tersebut, karena inspirasi yang kuat dan karena ketekunan (craftsmanship), atau bahkan gabungan keduanya: inspirasi dan ketekunan.

Meskipun demikian, puisi tidaklah lahir dari “kekosongan” di luar dunia. Ia lahir dan ditulis dari “sebuah dunia” yang diamati, dilihat, dan dirasakan seorang penyair, entah menyangkut pengalaman dan kenangan penyairnya atau menyangkut ikhtiar intelektualnya yang kemudian di-rekonstruksi dan di-imajinasikan dengan daya pikir dan daya rasa, yang lalu ditulis dan disuarakan dengan rima dan bahasa. Saat mengimajinasi itulah seorang penyair berusaha “memahat” dan “mengukir” kata, kalimat, frase menjelma kiasan dan narasi. Puisi lahir dan ditulis dalam ‘ketersituasian’.

Seorang penyair bisa saja menggunakan pilihan bentuk yang sudah ada dengan berusaha memperbaharuinya secara segar berdasarkan perkembangan bahasa dan ujaran mutakhir yang tidak lagi klise dan aus. Pengalaman pembacaan dengan karya-karya sebelumnya atau yang sezamannya, intertekstualitas, atau jam terbang “ziarah”-nya atas karya-karya orang lain dan dirinya sendiri biasanya akan memperkaya dan mematangkannya. Hal-hal tersebut, saya kira, telah ada dan dimiliki oleh Raudal Tanjung Banua, ketika puisi-puisinya berusaha melakukan penyegaran dan “penulisan ulang” pantun, lirik, dan mantra, utamanya dalam buku puisi keduanya setelah Gugusan Mata Ibu, yaitu Api Bawah Tanah.

Sementara itu, pergulatan kepenulisan dan kepengarangan itu sendiri biasanya terkait pada soal kecakapan dan kemahiran mengolah tema atau isu pada satu sisi dan kecerdasan dan serta kecerdikan menyampaikan dan menarasikannya dengan menghadirkan strategi tutur dan bentuk atau gaya penulisan. Penyair bergulat dan bergelut dengan bahasa setelah memiliki bahan material dan isu untuk ia tuliskan menjadi puisi.

Penyair dan Bahasa

Perkembangan (kemajuan atau pun kemunduran) bahasa sangat terkait dan terkoneksi, lahir dan dibentuk, bersamaan dengan perkembangan pengetahuan dan peradaban dalam sejarah manusia itu sendiri. Sebagai contoh perkembangan tekhnologi informasi saat ini telah pula melahirkan kata-kata baru, meski kata-kata itu adalah kata benda dan kata teknis, seperti gawai (gadget), warganet (para pengguna aktif internet dan media sosial seperti facebook, twitter, instagram dan yang sejenisnya), dan lain-lain. Perkembangan tekhnologi informasi ini tentu saja membentuk pemahaman dan sensualitas baru sejauh menyangkut interaksi dan komunikasi keseharian orang-orang, yang bahkan melahirkan ‘bahasa baru’ versi sosial media atau media sosial tersebut. Selain media sosial itu juga menjadi ‘media’ dan ‘instrument’ publikasi ‘tak resmi’ ribuan puisi yang acapkali ditulis oleh mereka yang sesungguhnya ‘bukan penyair’, yang sayangnya media sosial ini malah justru menghidupkan ‘budaya oral’ dan ‘budaya instan’, semisal kemalasan untuk berlaku dan bersikap kritis dan analitis atas sejumlah sebaran informasi dan berita, mungkin karena informasi dan berita tersebut begitu cepat silih berganti dalam hitungan detik.

Selain media sosial itu juga menjadi ‘media’ dan ‘instrument’ publikasi ‘tak resmi’ ribuan puisi yang acapkali ditulis oleh mereka yang sesungguhnya ‘bukan penyair’, yang sayangnya media sosial ini malah justru menghidupkan ‘budaya oral’ dan ‘budaya instan’, semisal kemalasan untuk berlaku dan bersikap kritis dan analitis atas sejumlah sebaran informasi dan berita, mungkin karena informasi dan berita tersebut begitu cepat silih berganti dalam hitungan detik.

Diksi yang digunakan dan dipilih penyair pastilah tak lepas dari pengalaman hidup si penyair dan perenungan subjektifnya saat menulis atau sebelum menulis puisi-puisinya. Acapkali ia harus melawan dan bahkan menghancurkan ‘bahasa’ yang telah menjadi sedemikian ideologis dan telah menjadi ‘rezim penanda’, seperti bahasa yang telah ‘dibakukan’ secara birokratis demi kepentingan politis dan propaganda. Contohnya adalah bahasa dan wacana yang disebarkan demi melanggengkan stereotip-stereotip politis yang sepihak dan ‘menindas’ sesama manusia. Sementara di sisi lain, sebagaimana sudah jamak dimaphumi, bahasa sastra tidak menggunakan bahasa umum yang aus dan dogmatis, tetapi mengolah bahasa dan narasi tulisan dengan sejumlah ‘perangkat retorik’ dan modus ujaran, seperti memaksimalkan ‘permainan retorik’ dan metafora.

Menziarahi Indonesia

Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua yang terhimpun dalam buku antologi keduanya berjudul Api Bawah Tanah berusaha setia pada bentuk puitika pantun sembari memadukannya dengan lirisisme yang dikontekskan dengan ‘situasi kebahasaan’ saat ini, ketika puisi-puisinya itu berusaha ‘menarasikan Indonesia’ lewat pengisahan perjumpaan penyair dengan banyak tempat di sejumlah pulau dan provinsinya. Indonesia yang acapkali dinarasikan secara ironis dan dari sudut nestapa sebagai upaya menghadirkan kritik secara halus:

“Jadi padang basah ini berasap
bukan tanpa sebab. Langit yang tabah
menerima pengaduan
sudah mencatat: setelah pohon-pohon diupacarai
lalu ditebangi, huma digusur kota dibangun
jadi kebun seluas bumi….”
(Api Bawah Tanah, Raudal Tanjung Banua dalam Api Bawah Tanah h. 60)

Puisi Api Bawah Tanah itu mengingatkan saya pada film besutannya Dandhy Dwi Laksono, Sexy Killers, yang sempat heboh dan menelanjangi ‘kejahatan’ korporasi di sejumlah tempat di Indonesia, yang versi youtube film itu telah ditonton puluhan juta kali. Film yang juga sempat dikritik timses dua kandidat capres-cawapres pada Pilpres 2019 lalu karena mengungkap jaringan dan koneksi korporasi mereka, terutama dengan perusahaan-perusahaan tambang yang meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang sangat parah dan sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan kehidupan di masa depan. Dan yang juga mengancam ekologi lingkungan dan hutan adalah korporasi perkebunan sawit:

“di tengah kuasa pelepah sawit
yang merentang tangan dari rawa ke bukit-bukit
di Pahang, pohon-pohon karet tua
masih tegak berjaga
ditakik penyadap di pagi buta
ditampung di tempurung, getah mengalir
dan mengendap seperti air mata….”
(Pahang, Raudal Tanjung Banua dalam Api Bawah Tanah h. 119).

Adalah menarik bahwa nada dan suasana ironis dalam puisi berjudul Pahang itu secara implisit atau tersirat sesungguhnya ‘mewacanakan’ keprihatinan ekologis, entah disadari atau pun tidak oleh si penyairnya, entah disengaja atau tak ia niatkan. Kita tahu bahwa ada dua perkembangan dalam dunia modern yang memiliki dampak tak terabaikan bagi masyarakat. Pertama, kebangkitan kapitalisme global yang bersamanya muncul kerusakan lingkungan dan produksi sampah (residu) serta polusi dalam skala yang mengkhawatirkan, dan yang Kedua adalah lahirnya kesadaran ekologis, di mana yang pertama dan yang kedua tersebut saling bertentangan dan bertolak-belakang satu sama lain:

“(Tak ada ikan dan terumbu,
tak ada penyu dan kepiting liar. Semua telah terusir,
mungkin ke Midai, sisanya tersangkut di Natuna
di Terempa, jadi misteri Laut Cina Selatan
sebelum akhirnya terjaring pukat harimau
nelayan Siam –dan tak ada lagi rahasia)

 

Juga di Bubus, semua lampus, pekat laut
tak tertembus cahaya
matahari api dewa jauh di langit tak berkarib
Maka menyelamlah lebih dalam; sedot dan alirkan
pasir dasar laut ke ponton-ponton labu,
ke kapal-kapal tongkang yang lintas di atas kepalamu.”
(Bubus, Raudal Tanjung Banua dalam Api Bawah Tanah h. 38).

Suara kepedulian ekologis dalam puisi berjudul Bubus yang mengkritik kerusakan ekosistem laut akibat aktivitas korporasi pertambangan dan pengerukan Sumber Daya Alam (SDA) demi keuntungan dan kepentingan para korporat itu telah menjadikan penulisnya, Raudal Tanjung Banua, sebagai penyair yang memposisikan diri diantara sedikit penyair, sebagai seorang warga negara Indonesia yang peduli pada kelangsungan atau keberlanjutan lingkungan bagi masa depan kehidupan kita. Kepedulian, yang seperti telah disebutkan, yang dalam dunia sinema (yang dalam hal ini film bergagrak dokumenter) dihadirkan dan disuarakan oleh Dandhy Dwi Laksono melalui film-film dokumenter ‘Ekspedisi Biru’-nya, termasuk tentu saja yang paling banyak ditonton itu: Sexy Killers. Dalam kadar tertentu, sejumlah puisi Raudal Tanjung Banua yang terhimpun dalam buku berjudul Api Bawah Tanah itu adalah juga ‘jurnalisme puitik’ yang ditulis ketika atau setelah menziarahi dan melancongi sejumlah pulau dan tempat sebagai bagian dari ‘kerja intelektual’ penyairnya. Perjumpaan-perjumpaan dari dan dalam ‘perantauan’ itu oleh penyairnya dinarasikan dan dikisahkan dengan nada dan suasana ironis, demi menyampaikan dan mengutarakan kritik halus dan demi menggugah para pembaca puisinya untuk peka dan peduli kepada tanah air mereka yang ‘tercakup’ dalam nama Indonesia:

“Kami berladang di tanah
dan hutan-hutan lambang perawan
jagad makna penuh kemungkinan
yang tak sepenuhnya terbaca dan terumuskan

 

Tanpa peta dan patokan. Kami jadi terbiasa akrab
dengan apa pun yang tumbuh dan melata di tanah
meski belum bernama. Di sekeliling kami
batas dan tepi betul-betul belum digariskan

 

Mungkin sekali mata bajak baru dikenal
ani-ani masih sembunyi di hangat jangat telapak tangan
bijian tumbuh dari lontaran paruh burung
yang kicaunya pernah didengar –entah di mana…..”
(Kami Membuat Sorga dari Ladang dan Hutan Kenangan, Raudal Tanjung Banua dalam Api Bawah Tanah h. 79).

Yang Lama dan Yang Baru

Puisi-puisi yang terhimpun dalam buku Api Bawah Tanah karya Raudal Tanjung Banua memang bukan karya-karya yang mengagetkan atau mengejutkan. Puisi-puisi itu meneruskan ‘tradisi’ bentuk dan gaya penuturan khazanah pantun dan lirisisme yang sudah lama dipraktikkan oleh para penyair sebelumnya dan yang sejaman dengan penyair, sembari berusaha untuk menjadi ‘terasa baru’ bagi pembacaan dan praktik ke-bahasa-an saat ini. Puisi-puisi dalam buku itu bahkan tak jauh berbeda dengan puisi-puisi yang ditulis para penyair dari pulau Sumatra, utamanya para penyair dari Sumatra Barat. Tetapi penting juga untuk dimaphumi, bahwa kebaruan bisa dilihat dari ragam perspektif. Misalnya dari keunikan isu dan tema yang diangkat, semisal isu-isu ekologis, yang entah disengaja atau pun tak disengaja oleh penyairnya, merupakan isu dan tema yang jarang diangkat para penyair Indonesia.

Kebaruan juga dapat saja dimengerti dalam konteks ‘memoles’ dan ‘menghadirkan’ yang lama menjadi hal dan sesuatu yang baru di jaman ketika bahasa saat ini sedemikian mekanis, dikuasai dunia komodifikasi dan merebaknya kembali budaya oral dan instan justru di jaman ketika informasi begitu menyebar dengan cepat dan di era ketika kemajuan tekhnologi informasi telah dinikmati dan diakses oleh banyak orang. Memang, dulu sebagai contohnya, Sutan Takdir Alisyahbana mengkritik para penyair yang kerapkali sedemikian rupa mementingkan rima dan bunyi yang melangit dan mangawan-awang sehingga tak lebih menjadi sebuah puisi lamunan yang malah jauh dari keseharian manusiawi dan justru melupakan ‘kepekaan’ untuk menangkap sekaligus mengungkap dan menyingkap realitas kemanusiaan di jamannya. Para penyair yang oleh Sutan Takdir Alisyahbana disebut sebagai para pembuat perbandingan yang gagal yang tak jelas ujung pangkalnya. Para penyair seperti ini asyik dengan dunia lamunannya sendiri yang terlepas dari realitas dan kehidupan manusia yang oleh Sutan Takdir Alisyahbana sebagai mereka yang terjebak dan terjerembab dalam belitan absurd perumpamaan tapi menepiskan inti kemanusiaan. Dan anehnya, ideal kepenulisan puisi dan kepenyairan yang ditawarkan Sutan Takdir Alisyahbana ini justru diwujudkan oleh penyair yang sempat dikritiknya, yaitu Chairil Anwar yang puisi-puisinya memang senantiasa menggunakan pembahasan dan wacana yang manusiawi (riil) dan mengetengahkan persoalan kemanusiaan dengan nada dan suasana personal puisi-puisinya saat menyingkap kesan dan derita dalam kehidupan keseharian. Puisi-puisi Chairil Anwar juga acapkali menghunjam langsung pada pokok soal yang manusiawi dengan tidak menuliskan atau membuat metafor yang tidak tepat.

Karena pilihan gaya kepenulisan puisi dan kepenyairannya itulah Chairil Anwar kemudian didapuk sebagai ‘pendiri’ dan ‘pencipta’ angkatan baru dalam Sejarah Kesusastraan Indonesia, semisal oleh Hans Bague Jassin atau H.B. Jassin. Jalan kepenulisan puisi dan kepenyairan yang sesungguhnya berusaha untuk senantiasa afirmatif pada kondisi dan perkembangan jaman. Sejumlah puisi-puisi Raudal Tanjung Banua yang terkumpul dalam buku Api Bawah Tanah menyuarakan ironi dan kritik atas bangsanya, yaitu Indonesia, seperti soal kemiskinan yang melanda warganya dan isu-isu lingkungan (ekologis) yang terkandung dalam beberapa puisinya, entah disadari atau pun tidak, disengaja atau pun tidak disengaja oleh penyairnya. Dan tentu saja, di jaman ini, para penyair bebas untuk menulis tentang apa saja. Semisal tentang masalah ekologi atau semisal tentang kondisi dan situasi kemanusiaan di jaman komoditas dan perkembangan tekhnologi informasi saat ini. Seperti juga halnya banyak yang mempublikasi puisi-puisi mereka, atau apa yang mereka anggap sebagai puisi, di media sosial dan di blog-blog milik mereka. Sehingga soal yang lama dan yang baru tentulah menyangkut kemampuan dan kecerdikan untuk bersikap afirmatif dan adaptif untuk senantiasa menghadirkan ‘kesegaran’ terkait isi dan bentuk secara padu dan bersamaan. Dan sebagaimana tulisan ini diawali dengan sebuah puisi, pun demikian tulisan ini diakhiri dengan sebuah puisi pula:

“Aku datangi apa yang layak aku datangi
Jalan berkelok dan berhenti
dekat lapangan pasar malam, aku lalu masuk
sepenuh degup hati
ke kampung-kampung penuh kilang
tempat saudaraku, perantau tanah seberang,
memeras dan menyuling asin keringat
sekaligus rasa asingnya pada tanah dan langit
yang tak kunjung merendah
bagai menyuling minyak nilam dan air mata
di ladang-ladang yang jauh
di punggung bukit hutan Sumatera.

 

Aku masuki setiap pintu yang terbuka,
rumah dan kamar seadanya
Betapa bahagia bertemu saudara dan kawan lama
bersalaman dengan tangan keras dan kapalan,
terasa lebih pasti makna berita. Wajah yang tampak tua
saat bertatapan, tiada lain isyarat derita
yang hendak dibagi dan ditanggungkan.

 

Tiada yang lebih baru ketika seorang Ibu berseru
di balik pagar kilang kursi rotan, menyebut nama masa kecilku
yang lama tak terucapkan. Dari gudang tukang las
seorang laki-laki mengulangnya dengan dentang besi
dan percik api. Seorang lain menekan amplas lebih keras
ke kayu kusen, di mana sepasang mata kami jadi kaca
berhadapan, jadi aksen baru pengucapan.

 

Tak ada yang leleh atau cair,
seperti es krim yang dijajakan
dari Ijok, Rawang, Bukit Rotan sampai Batang Bajuntai
suka-cita kami tak terlerai. Utuh, penuh
Dan kini sebelum berangkulan,
tangan kenangan sudah lebih dulu melingkar di pundak
atau bahu yang dulu lepas dan direnggutkan
jalan tunggang yang kejam.

 

Kini kami bertemu, dicambuk batang-batang tebu
pagar halaman. Tak ada sepah terbuang, tak ada miang
yang gatal. Dalam diam, dera itu kami tahankan
deru di hati kami simpankan:
Telah aku datangi apa yang layak aku datangi
dan kau jalani apa yang layak kau jalani
Jalan berkelok dan berhenti
dekat pasar malam, yang perlahan usai,
saat kampung rantauan itu aku tinggalkan
dengan sisa tawar-menawar
yang membubungkan gema larut kepulangan.”
(Payajaras, Raudal Tanjung Banua dalam Api Bawah Tanah h. 117-118).

 


Pustaka

[A] Buku:

Denys Lombard, Nusa Jawa (Silang Budaya) 2: Jaringan Asia, Gramedia 1996.

Friedrich Nietzsche, The Birth of Tragedy (Lahirnya Tragedi). Penerj. Saut Pasaribu, Bentang Budaya 2002.

Michael Ryan, Teori Sastra: Sebuah Pengantar Praktis (penerj. Bethari Anisa Ismayasari), Jalasutra 2011.

  1. Taslim Ali, Puisi Dunia Gema Jiwa Slavia dan Latin Jilid 1, Balai Pustaka 1993.

Rainer Maria Rilke, Padamkan Mataku, penerj. Kristan Saloh-Forster, Horison 2003.

Raudal Tanjung Banua, Api Bawah Tanah, Akar Indonesia 2013.

Raudal Tanjung Banua, Gugusan Mata Ibu, Bentang Budaya 2005.

Rumah Lebah #03/2012 Ruang Puisi, Komunitas Rumahlebah Yogyakarta 2012.

[B] Jurnal, Majalah, dan Koran:

Majalah Sastra Horison Edisi Juli-Agustus-September 2018.

Majalah Sastra Horison Edisi Januari-Februari-Maret 2019.

Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Provinsi Banten Edisi I –Mei 2016.

Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Provinsi Banten Edisi IV –April 2017.

Jurnal Ulumul Qur’an Nomor 1/VIII/1998.

Jurnal Balairung Edisi 38 Tahun XX 2006.

Koran Banten Raya Edisi 23 September 2014.

 

Buku Langgar Shop
Sulaiman Djaya
lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, dan lain-lain.