PUISI | THURSDAY, 5 MARCH 2026 | 00:41 WIB

Teguh Tri Fauzi

Teguh Tri Fauzi lahir di Bogor, 20 Oktober 1998. Ia...

Kuburan Bahasa: Kumpulan Puisi Teguh Tri Fauzi

Kuburan Bahasa skriptorium itu waktu  nisan titah purba yang digoreskan ibu   di embun kalbu namaku. Skriptorium  di rumah panggung yang bertiangbambu-bambu dan beratap ijuk kawung Ki...

Kuburan Bahasa


skriptorium itu waktu
  nisan titah purba

yang digoreskan ibu
   di embun kalbu

namaku.

Skriptorium 


di rumah panggung yang bertiang
bambu-bambu dan beratap ijuk kawung

Ki Gembang melantunkan carita pantun*

dengan penuh khidmat
     malam bagai lakon anak kecil
yang tak sabar ingin mendengar
     cerita pengantar tidur

“dikisahkan”, begitu mula-mula
ucapannya menggema di beranda
     malam

“para Resi di kabuyutan Cicanggong
menyalin peristiwa para putera rama
dan rahwana yang kalah telak oleh waktu…”

gema suara petikan kecapi
nyanyi tonggeret di pinggir kali

Ki Gembang menarik napas panjang
tubuhnya bungkuk bagai buku sejarah tua
   yang kering berdebu 

merindu-rindu pelukan anak-cucu

“karena waktu, mereka terjebak di medan laga
antara dendam dan cinta. perang berkepanjangan,
pedang warisan saling adu kekuatan. dan waktu 
merenggut nyawa mereka dengan sebilah puisi
yang tertancap di jantung hati…”

angin menyapu malam dengan perlahan
anak kecil meniduri mimpi 
    ketika kisah baru dimulai.

*cerita lisan (sunda) yang dituturkan juru pantun

Mempuasai Nuh

di atas tanah perjanjian manusia
lautan kini merindukan banjirNya
ketika kota membendung lajur sungai
dan ketika desa membabat pohon-pohon:
segala rindu macet di tengah jalan
sebab kenangan dan iman lenyap
tenggelam

tak ada lagi bahtera, apalagi kata-kata.

Mempuasai Ibrahim

berapa pun mahalnya perjalanan menujuMu
walau sakitnya mengendarai waktu
api rindu yang membakarku tak
akan mampu menghalau
cintaku padaMu

bagaimana pun
tak terhingganya perjalanan
menujuMu walau mesti melewati
pegunungan dendam dan lembah penderitaan
segalanya akan kuterjang–segalanya akan kutempuh

Surat Pwah Naga Nagini
: refleksi Kawih Katanian

sejak lama aku menderita
dan tak lagi berdaya:
sebagai dewi bumi, sebagai perempuan suci, aku kian ternodai

Ambu, aku mengadu padamu 
para manusia itu memperkosaku
kelaminku mereka tambang
susuku mereka peras 
dan tubuhku, lihatlah tubuhku
: menderita dan penuh luka

sejak lama Ambu, dan kini aku
mengadu padamu:
mengapa Kahyangan tak menengok
derita dan kesakitanku

para dewa itu, Ambu, para Bapak Langit itu,
mengapa hanya peduli padaauman ageung*,
ini tidak adil, Ambu! aku benar-benar marah
dan tak bisa menahan gejolak amarah ini:

aku marah kepada para dewa di Kahyangan! aku marah kepada Bapak Langit! dan aku mengutuk para manusia! aku mengutuk kehidupan ini!

akan kuguncangkan keseimbangan bumi, akan kubalikan daratan dan lautan, tepat ketika auman ageung dilangsungkan

derita, kesakitan, dan hilangnya kesucianku,
Ambu, hanya kepadamu aku mengadu;
hentikan roda waktu, hentikan roda waktu!

Bogor, 2026

*pertemuan akbar

Kelopak Bunga Teratai

walau masih tak kutemukan
di mana letak hatimu itu, Tuhan

kucoba menerka makna
yang tersembunyi di dalam
candi Jiwa*, pada malam hari
kelopak teratai itu sanggup
menyembunyikan keindahannya

Aku pelajari Buddha
kucari di mana letak
hati Tuhan. Kutemukan
makna pencerahan

lalu aku pelajari Hindu
kucari di mana letak
hati Tuhan. Kudapati
makna kesempurnaan

apakah itu artinya
kebangkitan hidup
diawali dengan berakhirnya
keindahan atau keindahanlah
yang menjadi media cinta
dari kebangkitan jalanku
menggapai rahasia
letak hatimu

walau tak akan pernah kutemukan
di mana letak hatimu itu, Tuhan
kutemukan cara lain agar aku
melebur masuk ke dalam ketiadaan
hatimu: dengan menyusuri jalan
puasa dan mengendarai puisi.

*candi yang terletak di Karawang, yang menurut para sejarawan merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanagara.

7
Rekomendasi