Kuburan Bahasa: Kumpulan Puisi Teguh Tri Fauzi
Kuburan Bahasa skriptorium itu waktu nisan titah purba yang digoreskan ibu di embun kalbu namaku. Skriptorium di rumah panggung yang bertiangbambu-bambu dan beratap ijuk kawung Ki...
Kuburan Bahasa
skriptorium itu waktu
nisan titah purba
yang digoreskan ibu
di embun kalbu
namaku.
Skriptorium
di rumah panggung yang bertiang
bambu-bambu dan beratap ijuk kawung
Ki Gembang melantunkan carita pantun*
dengan penuh khidmat
malam bagai lakon anak kecil
yang tak sabar ingin mendengar
cerita pengantar tidur
“dikisahkan”, begitu mula-mula
ucapannya menggema di beranda
malam
“para Resi di kabuyutan Cicanggong
menyalin peristiwa para putera rama
dan rahwana yang kalah telak oleh waktu…”
gema suara petikan kecapi
nyanyi tonggeret di pinggir kali
Ki Gembang menarik napas panjang
tubuhnya bungkuk bagai buku sejarah tua
yang kering berdebu
merindu-rindu pelukan anak-cucu
“karena waktu, mereka terjebak di medan laga
antara dendam dan cinta. perang berkepanjangan,
pedang warisan saling adu kekuatan. dan waktu
merenggut nyawa mereka dengan sebilah puisi
yang tertancap di jantung hati…”
angin menyapu malam dengan perlahan
anak kecil meniduri mimpi
ketika kisah baru dimulai.
*cerita lisan (sunda) yang dituturkan juru pantun
Mempuasai Nuh
di atas tanah perjanjian manusia
lautan kini merindukan banjirNya
ketika kota membendung lajur sungai
dan ketika desa membabat pohon-pohon:
segala rindu macet di tengah jalan
sebab kenangan dan iman lenyap
tenggelam
tak ada lagi bahtera, apalagi kata-kata.
Mempuasai Ibrahim
berapa pun mahalnya perjalanan menujuMu
walau sakitnya mengendarai waktu
api rindu yang membakarku tak
akan mampu menghalau
cintaku padaMu
bagaimana pun
tak terhingganya perjalanan
menujuMu walau mesti melewati
pegunungan dendam dan lembah penderitaan
segalanya akan kuterjang–segalanya akan kutempuh
Surat Pwah Naga Nagini
: refleksi Kawih Katanian
sejak lama aku menderita
dan tak lagi berdaya:
sebagai dewi bumi, sebagai perempuan suci, aku kian ternodai
Ambu, aku mengadu padamu
para manusia itu memperkosaku
kelaminku mereka tambang
susuku mereka peras
dan tubuhku, lihatlah tubuhku
: menderita dan penuh luka
sejak lama Ambu, dan kini aku
mengadu padamu:
mengapa Kahyangan tak menengok
derita dan kesakitanku
para dewa itu, Ambu, para Bapak Langit itu,
mengapa hanya peduli padaauman ageung*,
ini tidak adil, Ambu! aku benar-benar marah
dan tak bisa menahan gejolak amarah ini:
aku marah kepada para dewa di Kahyangan! aku marah kepada Bapak Langit! dan aku mengutuk para manusia! aku mengutuk kehidupan ini!
akan kuguncangkan keseimbangan bumi, akan kubalikan daratan dan lautan, tepat ketika auman ageung dilangsungkan
derita, kesakitan, dan hilangnya kesucianku,
Ambu, hanya kepadamu aku mengadu;
hentikan roda waktu, hentikan roda waktu!
Bogor, 2026
*pertemuan akbar
Kelopak Bunga Teratai
walau masih tak kutemukan
di mana letak hatimu itu, Tuhan
kucoba menerka makna
yang tersembunyi di dalam
candi Jiwa*, pada malam hari
kelopak teratai itu sanggup
menyembunyikan keindahannya
Aku pelajari Buddha
kucari di mana letak
hati Tuhan. Kutemukan
makna pencerahan
lalu aku pelajari Hindu
kucari di mana letak
hati Tuhan. Kudapati
makna kesempurnaan
apakah itu artinya
kebangkitan hidup
diawali dengan berakhirnya
keindahan atau keindahanlah
yang menjadi media cinta
dari kebangkitan jalanku
menggapai rahasia
letak hatimu
walau tak akan pernah kutemukan
di mana letak hatimu itu, Tuhan
kutemukan cara lain agar aku
melebur masuk ke dalam ketiadaan
hatimu: dengan menyusuri jalan
puasa dan mengendarai puisi.
*candi yang terletak di Karawang, yang menurut para sejarawan merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanagara.








