Kaktus Hangus: Puisi Faris Al Faisal

Beautiful Illustrations by Nino Bosikashvili

TAMSIL BEE ORCHID

Bayi-bayi mungil tiarap

Memeluk mahkota anggrek lebah

Bulan memerah di langit Syiria

Ibu meninggalkan gendongannya

Ini bukan hari kiamat

Sebuah bom rakitan meledak

Di taman yang lain

Tempat Adam Hawa berladang

Bunga-bunga mekar tumbuh

Kita pun adalah bayi-bayi kecil

Menjadi tamsil bee orchid 

Dunia yang berharap penuh kasih

Indramayu, 2019   


TANGKAI BUDDHIST UDUMBARA

Seorang biarawati bermain

Tangkai Buddhist Udumbara

Di tangannya terletak keajaiban

Pohonan putih nan suci 

Di sini saya mencari

Bunga yang jatuh dari surga

Di pinggir telaga bening

Terbayang wajah yang kebingungan

Pada dedaunan dan bebiji jatuh

Kau adalah embun yang termenung

Kita pun kemudian memilih menjadi puisi

Terlahir kembali ribuan tahun lagi

Indramayu, 2019   


KAKTUS HANGUS

Tak usah kau menjadi kaktus hangus

Di selingkung rimbun matahari

Tumbuh jauh di kesepian gurun

Diselimuti lelehan cairan lilin

Sebab dunia tropis penuh bunga

Berkembang dengan sejuta warna

Kaubisa menjalar lebih indah

Dikuntumi aroma dua musim

Kaubisa memilih hujan atau kemarau

Air menyegarkan dan cahaya menghangatkan

Dengan begitu kautemukan duniamu

Saya pun bisa bahagia melihatnya   

Indramayu, 2019 


AMSAL KUNTUM LITHOPS WEBERI

Pada kuntum lithops weberi

Kau tak berbeda dengan batuan

Terlalu kukuh

Sekeras hatimu

Saya kini tak lebih hanya angin

Sesekali membelai dan menderu

Di kesunyian kata

            Di kedalaman jiwa

Apakah akan ada rindu?

Menyanyi di bukit-bukit tandus  

Di antara larik-larik puisi

Sedang kita masih berupa gumpal awan

            Memang akan ada waktu

Memetik kebahagiaan di sini

Menghimpun tangkainya dengan keharuman

Sepanjang melapuknya kekerasan hati

Indramayu, 2019   


GETAH POPPY           

Dalam kuntum bunga opium

Secangkir sajak menetes dari getah poppy

Melarutkan kenangan lama di sana

Penyair mabuk kata-kata

Ucapannya melantur berima-rima

Kepedihan disembunyikan dalam jiwa

Saya belajar menyusun bahasa

Dari serbuknya yang tersisa

Kerinduan melambungkan selarik puisi

Kau kemudian membacanya perlahan

Menikmati sayap-sayap yang menerbangkan

Mengira itu kasidah Arab lama

Maka atas nama gurun berpasir

Kita adalah musafir yang mencari jalan pulang

Menuntun dan naik unta dengan cinta 

Indramayu, 2019


Beautiful Illustrations by Nino Bosikashvili( https://www.behance.net/NinoBosikashvili)

Buku Langgar Shop
Faris Al Faisal
lahir dan berdikari di Indramayu, Jawa Barat. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika, Bandung (2019), Anugerah Puisi Umum Terbaik Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Puisinya juga tersebar luas di surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian (Rumah Pustaka 2018).