Doa: Puisi Mohammad Thoriq

Doa

Tak bernyawa dan tak bisa apa-apa
tapi mampu menyelematkan manusia
dari takut hingga resah
bagi yang percaya.
(Tulungagung, 2020)

 

Sebelum Pulang

Laut lepas,
samudera, dan langit luas
yang biru. Sesungguhnya adalah hatimu
Yang berusaha tak menanam benci-benci baru.

 

Sedang keteduhan, ketenangan, dan keindahan.
Sesungguhnya telah dipersatukan
dalam senyuman.

 

Tersenyumlah
sebelum pulang
menuju kematian.
(Tulungagung, 2020)

 

Dongeng

Selain matahari yang tergelincir
aku melihat ada ribuan mulut
yang sering mengutuk takdir.

 

Selain kesempatan yang kerap hilang
aku merasakan ada juga janji
yang bermain-main di balik ilalang.

 

Selain laut yang luas tak bertepi
aku menyaksikan sendiri
ribuan orang membakar diri
dengan keinginan yang berapi-api
semuanya dibeli, demi harga diri.

 

Selain tanah yang luas tak berpenghuni
aku mengintip dari kedalaman sepi
jutaan hati dipenuhi iri dan benci
padahal mereka adalah para pakar dan ahli.

 

Sebenarnya semua ini nyata
atau hanya dongeng belaka
o, dunia.
(Tulungagung, 2020)

 

Sebagaimana

Sebagaimana air, telah ditugaskan
menjadi juru selamat atas kerinduan
bagi mereka yang sudah lama kekeringan.

 

Sebagaimana api, telah dinyalakan
menjadi tanda-tanda kehidupan
bagi mereka yang kedinginan.

 

Sebagaimana puisi, telah dituliskan
menjadi tempat pekuburan
bagi segala kejadian.

 

Sebagaimana senyuman
yang dicipta sebagai jalan
menuju Sang Yang Tuhan.
(Tulungagung, 2020)

 

Kedipan Mata

Tak siapapun bisa menduga
dalam setiap kedip mata
tersimpan jutaan rahasia.
Salah satunya:
Tuhan benar-benar ada.
(2020)

Ilustration : Turbulence: Immersive Art Installation by Melt

Mohammad Thoriq Miftahuddin
lahir di Jombang. Nyantri dan bergiat di komunitas sastra pesantren (KSP). Buku puisinya “Semesta Lesap Dalam Senyuman” masih dalam antrean terbit.