Ratu Sima: Puisi-puisi Lamuh Syamsuar

Ratu Sima

harumlah namamu yang telah melahirkan
ibu dan ibu dari mata rantai raja-raja jawa
ratu adil yang kukira selamanya
menjadi cahaya mata Mataram
Jogja, 2021

 

Kepundan Air

seorang penyair urban
dengan tuah dan tulah di tangannya
membaca puisi. puisi kesayangannya
adalah epitaf yang terpahat di kepundan air
relif sunyi di bawah langit amaravati

 

ibu kota dan rama-rama tumbuh di matanya
Mataram, katanya akan terus
diasuh ibu ratu dan ibu datu.
dipelihara sendang dari 8 penjuru
yang mengalirkan berkat tiada henti
 
lengannya selalu hangus, memeluk
waktu. mendekap syahadat
yang tak sanggup diejanya.
“ibu bumi sudah memberi
ibu bumi yang mengadili”*

 

Jogja, 2021
*lirik-lirik doa Gunretno dan Sukinah ‒petani kendeng‒ yang dibacakan pada acara Mata Najwa.

 

Lukisan Puisi Umami

Umami, lukisan yang kau peluk itu
adalah dunia yang riuh di tubuhku
pohon hayat seluas pendar plasma
nukleus, cangkang siput, kuda laut,
mamalia berkaki enam, dan kupu-kupu fana
mengaum dari kanvasmu. menuding tubuhku
seperti kanak-kanak yang tak ingin
menggambar makna dengan puisi
 
Umami, kuas yang kau gerus
sampai titik tinta penghabisan itu
adalah darah Agni, tempat matahari berekor
berakhir. tempat mimpimu mendarat di Planet Mars
tepat di genggamanku yang buta warna, seorang
penyair yang sudah harus menggali kubur
untuk puisinya yang baru lahir
persis di perayaan upacara air matamu

 

Jogja, 2021

Berziarah ke Dusun Sade

Umami, kau datang ke Sade
setelah melintasi sepasang selat sunyi
mengenakan mata kupu-kupu bening.
semalam, sebelah sayapmu tertinggal
setelah singgah di gili garam.
di gili, kau menyelam ke langit kirmizi
arsitektur rumah ibadah,  candi abu,
pura api bawah laut, terumbu karang
dan boneka kura-kura sejauh 24 jam
 
sampai di rumah alang-alang kau membuka suara
kau pegang pundak penenun tua yang selamanya muda
yang mengenakan giwang cahaya, gelang akar bahar
dengan bibir hangus ‒mengunyah sirih‒
rambutnya bau pudak dan kembang sandat
“perkenalkan, namaku Sekar Kedaton” katamu.

 

ia menatapmu dengan mata tertup
“anakku, alirkan merah Jawa ke tubuhku.
aku sudah lama hidup tanpa ayah. setiap hari
aku menenun darah, menenun kinanti,
asmarandana, gambuh, dandanggula, durma
pangkur, megatruh, matahari dan rembulan” katanya.

 

tiba-tiba seekor kupu-kupu baka
hinggap di tanganmu. kupu-kupu
itu menuntun matamu, ke arah rumah alang
“ikutilah ia menenun ke dalam bale dalam bale
sebab, Tuhan yang kau cari bersemayam
di bilik sangken paraning dumadhi” katanya.
 
Jogja, 2021

 

Sepasang Sajak Kecil untuk Sita

I/  Luka Bunga
Sita. bagi bunga, mekar atau kuncup sama saja pedihnya
tapi ia, selalu tiba di hadapan kita dengan wajah yang teduh
dengan radang perih yang ia sembunyikan rapat-rapat

 

II/  Pertemuan Pertama
Sita, aku terhempas di dinding mural ini
di sudut terpencil dari matamu
 
warnapun pergi, dan barangkali
aku sudah tak dapat mengingat lagi
 
bagaimana pertemuan pertama kita
yang menggetarkan itu
 
Jogja, 2021

 

Mata Turun Tangis

seekor burung nuri tersenyum
mengenakan warna bunga naga di bibirnya
ia kembali ke sarang mata angin.       saat
langit Jogja tiba-tiba mekar seperti tembikar
seperti bunga matahari terbakar        embun
sementara, di kota raja ia meninggalkan
seorang  penyair menulis puisi
puisi yang tak sanggup menulis kisahnya

 

sebab, telah lama ia berkenan
tak memberi arti pada kata-kata
tetapi, lukisan sepasang kupu-kupu
birahi beradu di balik hujan, menusuknya
seekor burung nuri telah kembali ke sarangnya
meninggalkan bayangan mata turun tangis
meninggalkan bayangan mata Dewi Rengganis

 

Jogja, 2021

 

Perjamuan Cahaya di Kaliopak

                        : M. Jadul Maula

di limasan lusuh itu, aku temui
seorang lelaki paruh baya yang selalu muda
ia mengandung sebatang pohon cahaya
pohon yang akarnya dari langit
pohon yang dahannya turun ke tingkap  hati
pohon yang buahnya menghunjam tanah
pohon yang mekar di sitinggil kerajaan diri

 

seperti mata air yang berzikir sepanjang lakunya
ia mudakan kembali usia tuaku
usia yang bukan hak milikku
usia yang tumbuh sebagai isyarat berbagi kisah kasih

 

“aku manunggal dengan cipta
rasa dan karsa maka aku ada”

 

ditanamnya candi air
candi yang senantiasa
basah terbasuh cinta
 
dipeliharanya taman sari,
madu lebah dan rumah ibadah
untuk siapa saja, cahaya mengambil terangnya

 

didirikannya tenda
kemah sunyi untuk musafir malam
padang rembulan, sebagai pelitanya
 
sedang aku yang didera dahaga
senantiasa lega, minum perjamuan cahayanya
“hidup memang untuk singgah minum, Nak” katanya.

 

setiap subuh ia bangunkan
Da Hiyang Semar dalam tubuhku
membangunkan pewarah zaman
yang mengenakan kaca sebagai air mukanya
sebagai cermin diri bagi segenap jiwa jawi
jalan lahir sampai jalan kembali
ke haribaan Sang Rahman, Sang Rahim

 

Kaliopak, 2021

Buku Langgar Shop
Lamuh Syamsuar
Alumni Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga yang senang mengaji di Langgar dan suka menulis puisi.