SEBUAH PELAJARAN MEMBACA: PUISI SARAH MONICA

Creative Portraits; by Alexander Khokhlov

PENYAIR

 

Kita hanya nama-nama
dari kesunyian serupa
saling memagut duka
memeras makna
dalam ruh kata-kata

 

Jakarta, Agustus 2017

 

SEBUAH PELAJARAN MEMBACA

 

Aku bagai mengenalmu
dari asal mula waktu
saat surga menjadi terlarang
dan Adam-Hawa mengembara
dalam rintih penyesalan.

 

Di nanar matamu
gema rindu mengetuk kalbu
mengundang para pencinta
menyanyikan lagu nestapa,
langit pun bergetar
menanggung beban doa
yang diterbangkan kata-kata.

 

Pada akhirnya, kita percaya
doa leluhur akan terus menetas
dalam rahim kemurnian
di rentang tua peradaban,
membuka tiap lapis rahasia
dari lumbung perjumpaan.

 

Tiada yang lebih terluka
selain menatap diri
di cermin jiwa
milik jasad yang berbeda
menukar cangkir duka
untuk ditenggak bersama.

 

O labirin gelapmu,
jalan persembunyianmu
melahirkan anak-anak jiwa
dari tubuh waktu.

 

Puisi, bagimu
gairah persetubuhan tanpa henti
dengan segala ironi.

 

Bogor, September 2017

 

KATA-KATA

 

Kutanggung engkau wahai resah
dalam buku yang telanjang
di rapuh tanganku.
Kata-kata tumbuh bermekaran
menarikan makna tanpa batas
mengikat potongan jiwa sang pengelana.

 

Kutitipkan getar laparku
di tubuh kata-kata
demi jutaan perut kemiskinan
dari mereka yang terlupakan.

 

Kata-kata membuka pintu malam
menggiring doa para nestapa
bersujud di hening kuil tuhan.

 

Deritaku luruh padam
maut yang menghantuiku lenyap
dalam kuasa kata-kata.

 

Jogja, 2015-2017

 

TATAPAN

 

Sepasang kubur di matamu
mematri namaku di nisan waktu
siang kian mencekam
malam menjadi candu.

 

Betapa dalam kubur itu
neraka dan surga hadir bersama
gigil dan membeku
lembut kedalamannya
menelanjangiku
merenggut sekujur darahku.

 

Waktu pun membara di sekeliling kita
bayang tanggal dari jasadnya
hidup dan mati
bukan lagi tanya.

 

Ada semesta lahir
dimana nafasmu menjadi nafasku
denyutku menjadi denyutmu
dan di atas segalanya
hasrat kita tertawa.

 

Depok, 2011-2020

 

BERAGAMA DI MASA KINI

Di sebuah arena perlombaan
kita bersaing mencari kebenaran
tetapi kebenaran selalu menjelma
jadi beribu-ribu wajah
tertanam dan tumbuh
tersembunyi dan tampil
wujud kontestasi duniawi.

 

Diam-diam langit terpana
ragam laku manusia
gairah beribadah
menyisakan hati
yang tak mampu diduga
yang tengah didamba
ah, menyembah-Mu Tuhan
kami selalu payah dalam berserah!

 

Dalam lalu-lalang sejarah
simbol-simbol agama
kerap menghiasi
jubah dan raga
sebuah persembahan iman.

 

Betapa hidup menanggung resah
kita pun berbondong memohon petuah
dakwah para alim ulama
demi redam jiwa dahaga

 

Tapi oh, betapa suram agama
bila hanya dibayangi
gertak ancam dan dosa
apakah kita berambisi
demi menjadi suci
apakah mampu hati
larut dalam kasih Ilahi.

 

Bogor, Januari 2020

 

PERTANDA ALAM

Barangkali kita masih terlelap
saat angin utara berhembus
mengutus para malaikat maut
berjaga atas tiap nama
dalam cengkeraman corona.

 

Inilah realita kuasa
alam menebar pertanda
gelombang amarah wabah
ruang dan waktu terhenti
kita tenggelam di sungai misteri
lebih asing dari mimpi.

 

Wajah peradaban muram
lelah menyambut kematian
atau sekarat dalam kemiskinan
masa depan kian buram
di reruntuhan ambisi dan angan.

 

Lantas hidup ditafsirkan ulang
tuhan dirindukan
di tengah kemalangan
kita, manusia,
tercekat nafas
terguncang di batas
waras.

 

Bogor, Agustus 2020
Sarah Monica
Penikmat Seni-Budaya, Pegiat komunitas LITERASHINTA di Abdurrahman Wahid Centre for Peace & Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Mahasiswa Pasca Antropologi UI.