Memasuki Kamar Ini: Puisi Rikard Diku


Memasuki Kamar Ini

Memasuki kamar ini sendiri
Sunyi berdiri di empat penjuru mata angin
Buku-buku yang berantakan dibaca oleh mata lampu
Foto yang dipaku berjejer pada dinding
Benang merah, putih dan hijau dalam buku harian
Penanda cerita-cerita yang tidak dilupakan
Jubin berdebu dari remah-remah masa lalu yang belum disapu waktu
Kau bersembunyi di antara halaman-halaman buku puisi
Setelah dilahirkan penyair pada malam-malam yang lupa tidur
Dan mata jendela mencatat rahasia-rahasia dengan jujur
Pulang ke dalam tubuh ini sendiri
Di hadapan meja dan kursi dan kita
Adalah kamar pengakuan

(2021)

Berita

Tanah-tanah warisan merana
Penghuni adalah hutan dan hantu
Tuhan menjauhkan airmata
Menerima peti jenazah dari negeri seberang
Tempat memburu rezeki
Seseorang yang menjunjung mimpi bagai penjudi
Dini hari ditemukan mati tanpa celana
Berita dan derita tersiar sampai ke pohon telinga
Negara dan agama rebut merebut kuasa
Para pekerja menyalibkan rasa sakit di tiang listrik
Pengemis berdoa Bapa Kami: berilah kami rezeki pada hari ini
Hulubalang menyepak pantat TKI yang illegal
Seniman memahat wajah negara
Wartawan sibuk mencari data dan kehilangan kita
Penyair menganyam kata untuk membungkus luka
Nasib dan kita bermain teka-teki silang
Saling bersaing menemukan jawaban dan kekalahan-kekalahan
Dan pertanyaan-pertanyaan

(2021)


Perempuan Masa Lalu

Selepas meninggalkan bandara dan peta alamatmu

Ayat-ayat rindu seperti tamat untuk dibaca

Kita menjelma jadi buku kosong yang lupa dilukai pena penyair

Lampu jalanan yang muram dan terlantar oleh kota

Kata-kata seperti enggan dieja tubir bibir                             

Mawar telah tumbuh di dada dan menusuk aorta

Cinta ini tercipta bukan dari pertemuan-pertemuan ‘kan?

Sendiri-sendiri mulai menyiasati sepi

Puisi tak lagi membaca secangkir kopi

Atau jarak yang mengukur kesibukan-kesibukan

Selepas meninggalkan bandara dan peta alamatmu

Kalimat yang bisa kucatat ketika sepi menancap

Di kaki-kaki kursi adalah apa kabarmu yang pergi?

Meski sejak aku menulis sajak tentang perpisahan

Perempuan itu _kamu_ belum pernah menanyakan

“Apa kabarmu, puisi?”

Selepas meninggalkan bandara dan peta alamatmu

Aku belum menemukan kehilangan lain selain hilangnya kabar

Meski sebenarnya kau seumpama roh untuk puisi-puisi yang berkibar

(2021)


Rahasia

Setiap menatap hal ihwal yang membuat mata

Berkaca-kaca kau menangkap rahasia dengan memotret

Langit biru, kabel listrik, gedung tua, sepotong bulan

Keindahan seperti terbit dari tangan mungil

Yang diam-diam menutup sepasang mata jendela

Ketika senja yang merah seperti darah anak domba

Mendamba bayang-bayang hari tak lekas pergi

Seperti kucing kecil di kamarmu

Terus mengeong sebelum sisik ikan teri

Kaulempar ke bawah sisi kursi

Ketika tidur melupakanmu dan hujan

Dan lonceng gereja menjatuhkan peristiwa sedih

Sudah pergi bayangan di telapak kaki

(2021)


Perihal Badai

Pukul 00:00 dini hari hujan turun

Jalanan sepi; sesepi-sepinya nyanyian kodok di sungai

Langkah lunglai menginjak becek bekas kaki becak

Lampu-lampu jalanan menjatuhkan airmata

Kota mendadak seperti tak berpenduduk

Kau duduk menggenggam jari-jari hujan

Membahasakan dingin yang mengikat telapak tangan

Dan angin dari selatan yang kesetanan

Menyeret seluruh tubuh dan mimpi kita

Doa-doa yang tumbuh dari hati yang memar

Melesat ke langit seperti anak panah tentara mesir

Berdesir bunyi puisi di pohon telinga untuk mencatat

Kekalahan kita terhadap hutan

Penghabisan kali ini kau membaca mantra

Agar ritual-ritual diaminkan tuhan seperti pada hari

Daud mengalahkan Goliat, seperti Israel menyaksikan

Bangsa Mesir yang marah ditelan laut merah

Seperti badai yang reda di Genesaret

(2021)


Ilustration: Water Drops: Paintings by Kim Tschang-Yeul

Buku Langgar Shop
Rikard Diku
(Rikard Diku, penikmat sastra. Sedang study Filsafat di STFK Ledalero, Maumere-NTT. Puisi dan cerpennya tersiar di berbagai koran dan media daring. Ia bisa dijumpai via FB: Rikard Diku, Instagram: @rikard_diku).