Sawab kawruh wus anunggil |
sinung nama Amongraga |
pan wus karan nama Êsèh |…

Konon, atau bahkan telah marak dipercaya, di dalam kehidupan setelah kehidupan, yang pintu masuknya adalah kematian, kita pertama-tama akan berjumpa dengan malaikat penjaga alam kubur. Layaknya interogasi petugas sekuriti pada penumpang yang hendak naik pesawat, atau sewaktu ingin memasuki perbatasan negara, kita akan diperiksa malaikat dengan luar biasa teliti. Baru setelahnya, bagaikan terdakwa, kita akan menghadapi bertubi-tubi pertanyaan demi pertanyaan. Mungkin saja tidak sesadis mafia yang tak ragu-ragu buat mencabut kukumu, hingga jarimu satu persatu, pun reserse kriminal yang minimal menjepitkan kedua kakimu di bawah kaki kursi yang kau duduki sendiri, sambil sesekali diinjak atau dinaiki, semata-mata demi sebuah pengakuan jujur, bahkan sangat umum kita dipaksa mengakui perkara yang sebenarnya tak dilakukan.

Beruntunglah, malaikat bukan polisi. Malaikat makhluk yang fair-play. Layaknya robot Tuhan, ia didesain melaksanakan sesuai perintah dan tentu tak akan curang. Permasalahannya, saat itu kita tak bisa lagi berbohong. Bahkan, dipercaya bahwa semua anggota badan akan berbicara. Bayangkan saja, andaikata bibir-bibir muncul dari organ demi organ tubuh dan mengeluarkan suara. Lalu memberikan pertanggungjawaban kata atas segala sejarah laku hidup kita. Namun ini toh cuma berimajinasi. Hanya saja satu hal yang bisa dipastikan, bahwa tubuh telah jamak diyakini sebagai arsip kehidupan. Tubuh sanggup menyimpan pesan. Tak ayal, tubuh pun punya hak berbicara.

Kembali kepada kehidupan yang sedang kita jalani, maka kita sadari betul bahwa mulut kita hanya satu. Dan organ-organ tubuh tak bisa bicara secerewet bibir. Lantas ketika tubuh harus bicara, dapat dipastikan gerak-lah bahasanya. Manakala gerak menjadi rutinitas yang terus-menerus kita lakukan dalam sehari-hari, terjelmakan bahasa-tubuh kehidupan yang turut membangun kebudayaan. Maka boleh jadi, gerak yang dihimpun dan disusun sedemikian rupa menjadi sebentuk tarian, tak lain adalah cara bahasa-tubuh hendak berpuisi. Jika memang benar demikian, lantas syair-tubuh apakah yang tersembunyi di dalam koreografi “Senthir”? Makna apakah yang tersirat di dalam sajak-gerak, yang dibawakan kelima perempuan bergelung, berkebaya hitam dan berjarik itu? Dan lagi, mengapa hadir di tengah-tengah riuh rendah publik kafe?

Ketika Percakapan Tubuh Menginterupsi Ruang Publik

Baiklah. Aku mulai menduga. Mula-mula muncul barisan lima wanita. Keluar berbaris berurutan dari dalam ruang tak jauh dari meja kasir kafe “Kopi Paste”. Mereka melakukan lampahan, berjalan dengan langkah dan gestur yang teratur. Menyusuri lorong kafe, mengitari sisi barat dan ke timur menuju ke dalam. Di sana telah siap Nia (penata suara) dan Irfan (penata bunyi). Terlebih dahulu, di dalam lampahan menuju ruang dalam tadi, Si Thenk (Penata Laku) turut serta menembangkan kidung Kutut Manggung. Lampahan sembari kedua tangan merentang, namun tak penuh, seperti sayap burung yang membuka setengah; Dengan masing-masing tangan memperagakan jarinya secara khusus, yang disebut Ngiting.

Lampahan tersebut pun berakhir di bagian dalam yang menjelma “panggung inti”. Kelima wanita itu mengambil posisi. Posisi kelima wanita itu membentuk formasi yang identik dengan titik mata angin. “Sedulur Papat Lima Pancer” ungkap Si Thenk ketika pertama kalinya aku menyertai latihan. Dari formasi itu, lalu paha dan lutut merapat dan perlahan menurunkan pantat. Setelah pantat diletakkan di lantai, perlahan ke sisi kanannya, maka kedua kaki yang berada di sisi kirinya bersambung menuju pose bersila. Posisi bersila tidak penuh, sebab dengan menggunakan jarik, relatif terbatasi kemungkinan gerak bagi para “penubuh”. Begitulah, Sang Art selalu menyebut personal performer geraknya, yakni sebagai penubuh. Sedang performans geraknya disebut seni gerak, “dibilang teater gerak juga bisa,” terang Si Thenk, yang lebih akrab kupanggil Mak Thenk.

Dari posisi bersila yang kena tanggung itu, kedua tangan dari masing-masing penubuh dirapatkan guna melakukan gerak sembahan. Setelah sembahan selesai, seketika bergerak mulai dari kedua kaki masing-masing penubuh bergeser di sisi kanan, lalu memijakkan kaki, hingga perlahan berdiri. Susunan kereografi berlanjut hingga kelima penubuh mendekati masing-masing kursi, dan memutarkan badan. Gerakan memutar ini bertumpu pada kedua kaki dengan menjadikan sebagian kaki sebagai poros dan tapak memutarkan dengan menggesekannya pada lantai. Dengan demikian kursi yang awalnya berada di depan masing-masing penubuh, kemudian berada di belakang tubuh. Dan secara perlahan kelima penubuh itu meletakkan pantatnya pada muka kursi. Akhirnya posisi duduk dimulai, dengan kedua tangan diletakkan di atas paha. Dari situlah Gitar akustik mulai dipetikkan Irfan dan Nia mulai menyanyikan lagu karya band Geisha yang populer dengan judul “Cobalah Mengerti”.

Foto saat latihan terakhir di pendopo Sang Art

“Senthir” pun mulai dalam formasi puncaknya, kelima penubuh yang telah duduk, seperti dipandu oleh nyala senthir yang ada di kursi paling depan, di antara posisi Putri dan Suci. Dari sini bahasa-tubuh yang gemulai namun halus perlahan lagi ritmik mulai berbicara. Penonton dipastikan akan memperhitungkan nyanyian sebagai pemandu gerakan bak ritual itu. Namun memang sebagaimana dalam latihan, rangkaian gerakan ini sungguh dirancang oleh Thira (Penata Gerak), sebagai sebuah porsi koreografi di dalam keheningan. Kelima penubuh pun sejak awal terus berlatih mengolah gerak, dengan bersandar pada hitungan batin. Dari sini tubuh dipaksa bergerak dalam tata koreografi, dan mengatur tempo dalam detil-detil perpindahan gerakan. Sehingga tanpa iringan lagu dan musik pun, koreografi “Senthir” bisa berdiri sendiri.

Memang di dalam keutuhan pertunjukkan Senthir, musik dan lagu sengaja dipilih, sehingga menjadi dance coustic, alias tari-akustik. Kendati sekali lagi, Sang Art lebih menyukai bahwa performance yang ditampilkannya adalah sebagai seni gerak atau teater gerak. Kolaborasi Sang Art dan musisi dari UKM Kesenian STMIK Akakom inilah yang sengaja dijuduli Mak Thenk sebagai: “Senthir”. Bisa dipastikan bahwa “Senthir” menjelma presentasi bahasa tubuh yang bercakap-cakap dengan tatapan penonton. Penonton akan tergoda mengaitkan makna lagu dengan koreografinya. Sementara jalinan makna atau pesan yang tersembunyi di dalam gerakan itu menjadi pertanyan terbesar. Katakanlah, jika bahasa-tubuh kerap dianggap sebagai ekspresi manusia yang paling universal; Dengan dalih bahwa bahasa-tubuh dianggap tidak terkungkung di dalam batas-batas teritori geo-kultural suatu bahasa tutur. Akan tetapi, sanggupkah penonton di tengah kafe yang biasanya beratmosfer kebisingan hiruk-pikuk, kemudian menangkap jejaring makna di dalam pertunjukkan bahasa-tubuh nan halus-ritmik berjudul “Senthir” ini?

Sejak kemunculan perdana gerakan lima penubuh, para pengunjung kafe tentu tersita perhatiannya. Buat mereka yang telah siap sebagai penonton, artinya datang oleh sebab adanya undangan maupun informasi ataupun poster pertunjukkan Senthir di media sosial; Tentu sedikit banyak telah menyiapkan diri selaku penonton. Sementara mereka yang datang sebagai pengunjung kafe, serta merta menjadi penonton yang terpancing atau bahkan terpaksa menonton. Dari sini tarian Senthir menjadi performance yang menginterupsi, atau bahkan mengintervensi kafe, sebuah ruang publik urban. Dalam performance studies, misalnya Richard Schechner memandang bahwa dalam performance art, terdapat upaya menciptakan kesadaran mengenai pertautan antara pemain dan penonton, kendati secara konseptual berjarak dengan realitas drama itu sendiri. Demikian pula dengan realitas pertunjukkan “Senthir” kali ini, baik penubuh dengan penonton mengalami pertautan yang mencipta peristiwa di dalam ruang publik kafe.

Di satu sisi, kelima penubuh membawakan gerak tubuhnya, bersamaan dengan nyanyian yang ditembangkan. Di sisi lain, di dalam kafe Kopi Paste pada Minggu (17/11) menjelang lingsir wengi itu, hiruk pikuk pengunjung kafe dengan berbagai kepentingannya saling bersua di meja kafe, memesan kopi hingga aneka makanan, seketika berbaur dengan pengunjung kafe yang sejak awal asyik-masyuk sebagai penonton yang telah siap dan tiba sedari awal. Bisa dipastikan bahwa sebagai subjek, penonton berlaku ganda. Baik sebagai subjek ruang publik kafe, maupun sekaligus sebagai subjek penonton yang tenggelam dalam gaze (tatapan) memperhatikan sekaligus mendengarkan berlangsungnya pertunjukkan “Senthir”. Ringkasnya, subjek penonton “Senthir” di kafe Kopi Paste berada dalam situasi lentur. Sesekali masuk sebagai penonton, sesekali pula sebagai warga kafe yang menikmati seruput kopinya, mengunyah cemilan goregan sambil bercakap-cakap, bersenda gurau dengan kawan-kawannya layaknya aktivitas lumrah di dalam kafe. Akan tetapi, fleksibilitas peran penonton inilah yang kemudian membawa keunikan tersendiri, kalau bukan adanya suatu kemungkinan ketaksaan penonton alias perhatian yang mengambang.

Jika kemudian para pengunjung kafe meninggalkan meja-mejanya dan menumpuk berjejal memenuhi bagian ruang belakang, maka pertunjukkan “Senthir” berhasil mutlak menyihir ruang publik kafe. Semua tatapan penonton serta merta menerima jalinan makna yang dihadirkan pertunjukkan Senthir, dengan konsekuensi menanggalkan laku subjek ruang publik kafe, menjelma subjek penonton seutuhnya. Namun jika tidak demikian, maka penonton yang ada akan terus berlaku ganda. Artinya sesekali tetap berhiruk-pikuk dengan subjek yang lain, dan sesekali pula memperhatikan pertunjukkan. Bahkan tentu ada saja subjek ruang publik kafe yang setia sebagai pengunjung dengan kepentingannya mendatangi kafe semata, artinya peduli setan dengan adanya “Senthir”. Walhasil, bisa disimpulkan bahwa “Senthir” adalah intervensi ruang publik kafe yang berhasil merelatifkan atau melabilkan subjek-subjek di dalam Kafe Kopi Paste. Dari sini pula sensibilitas penonton menjadi pertaruhan. Penonton pun bisa saja memilih untuk mendengarkan dan melihat penampil musiknya saja, atau menikmati kesatuan keduanya. Inilah yang dinamakan kebenaran spektator.

Tentunya hal tersebut bukan tanpa aftermath. Sebab konsekuensi bagi para penubuh maupun penampilan musik, adalah gagal paham sebagai dampak dari labilitas penonton itu sendiri. Sebab mau bagaimanapun, memilih Kafe sebagai panggung terang menghadapi resiko diduakan penonton. Pilihan Sang Art ini jelas suatu provokasi yang tak sederhana. Sang Art sebagai ruang kreatifitas penciptaan koreografi atau teater tubuh, secara konsisten memilih ruang publik sebagai sasaran pertunjukkan. “Aku mbiyen nggowo bocah-bocah njoged nang pinggir dalan, pas lampu merah” ungkap Mak Thenk dengan nada blakasuta. Pilihan tersebut mencerminkan ideologi Sang Art yang memilih untuk mengunjungi penonton, maupun menciptakan penonton melalui intervensi ruang publik. Dalam mana, berbeda dengan pakem konvensional pertunjukkan yang mengundang penonton sepenuhnya ke dalam gedung pertunjukkan atau sejenis Concert Hall, yang memang lumrahnya ruang audiens. Pilihan Sang Art inilah yang sebenarnya juga merupakan salah satu kecenderungan utama di dalam teater kontemporer Yogyakarta.

Menariknya, Sang Art menjadwalkan untuk segera melakukan diskusi publik seusai pertunjukkan. Bukankah itu merupakan sikap keberanian sekaligus keterbukaan suatu seni pertunjukkan, yang mendudukkan penonton sebagai publik yang berhak penuh mengomentari suatu performans. Dengan kata lain, Senthir menawarkan percakapan tubuh demi meraup sebuah dialog antara penubuh dengan penonton. Sikap demikian jelas menempatkan wacana kesenian sebagai gagasan terbuka yang musti dibahas secara egaliter. Akhirnya, upaya diskusi pasca pentas menjadi bukti penghormatan terhadap subjek-subjek penonton, sekaligus kesadaran penuh Sang Art tentang ‘seni sebagai peristiwa’, yang mana mengelindankan aktor dengan spektator. Tabik!

Kelahiran Penubuh sebagai Re-Edukasi Manusia Urban

Hampir setiap sebelum latihan, kelima wanita sibuk itu, satu persatu sengaja meluangkan waktu buat datang ke Rumah Mak Thenk. Kira-kira jelang senja usai waktu Magrib. Dikatakan sibuk, memanglah demikian adanya. Kelima penubuh jelas memiliki rutinitas padat. Ada yang bekerja full time, pagi sampai sore, seperti Nidya, Desti dan Putri. Putri sendiri bahkan telah berkeluarga. Lalu pekerjaan wirausaha seperti Suci yang tak kalah sibuk. Tak ketinggalan Herlina yang di sela kesibukannya, masih harus menghadapi rutinitas menempuh studi pasca sarjana.

Setelah kelimanya berkumpul, dan memasuki pukul 19:00, biasanya Thira mulai mengajak untuk turun ke pendapa Sang Art. Saat pertama menonton latihan, aku menemu Desti sedang menyapu lapangan yang seukuran untuk olah raga takraw, yang menjadi halaman depan pendapa Sang Art. Lalu di hari lain, ketika latihan, giliran Suci menyapu seluruh pendapa. “Menyapu menjadi salah satu pemanasan sekaligus latihan tersendiri di dalam seni gerak, sebab kita melakukan pekerjaan yang tidak berbicara” imbuh Mak Thenk padaku waktu itu.

Beberapa kali kuikuti prosesi latihan, kelima penubuh selalu dengan konstan mengikuti arahan koreografi dari Thira. Thira mengaku merangkai gerakan demi gerakan dengan mengambil dari khazanah di dalam seni Tari tradisi Jawa. Baru kesemuanya diinovasikan sendiri, kalau bukan diapropriasi. Thira mendeformasi pakem-pakem, sebab memang demikianlah cara Sang Art menghadirkan seni gerak atau teater tubuh, Thira sendiri merancang dengan metode tersendiri, “pencarianku itu pencarian yang meditatif, pakai roso” terang Thira. Temuan-temuan Thira kerap didiskusikan dengan Mak Thenk maupun Nilam. Kesemuanya dilakukan dengan pertimbangan dan penyesuaian terhadap para penubuh yang ada. Saat pertama kalinya aku tiba di sana, terhitung telah hampir satu setengah bulan mereka berlatih. Dengan catatan, bulan pertama berlatih seminggu tiga kali, hingga menjelang seminggu sebelum pementasan, porsi latihan menjadi setiap hari.

Berlatih pada babak awal senja, antara pukul 19:00 hingga 21:00. Praktis sekitar dua jam, kelima penubuh menghabiskan waktu latihan rutinnya; Atau kadang bisa sampai dua setengah hingga tiga jam, karena biasanya selalu asik bercengkrama seusai latihan. Tentu bukan perkara sederhana, ketika meluangkan waktu di sela pekerjaan harian, untuk mengikuti latihan. Baik Thira, Nilam hingga kelima penubuh memiliki kesibukan pekerjaan harian yang menyita konsentrasi dan tenaga. Sementara malamnya, dilanjutkan latihan. Perjuangan masing-masing penubuh yang kesemuanya mengaku pemula dalam seni tari maupun teater gerak itu sendiri, menjelma riwayat prosesi yang sungguh tidak remeh, terlebih dengan tubuh masing-masing. Pendeknya, latar belakang sejarah rutinitas tubuh, alias arsip-tubuh tiap-tiap personal, kemudian berpaut untuk dikondisikan atau bahkan memaksa diri menuruti sekuen gerak tubuh yang ada.

Kalau diperhatikan, susunan gerak dalam “Senthir” memiliki beberapa tahapan yang menarik. Seperti disinggung sebelumnya, setelah lampahan hingga sembahan. Segera berlanjut gerakan ketika duduk di atas kursi. Mulai dari paha sampai lutut merapat, sebagaimana mestinya karena menggunakan jarik. Posisi paha dan lutut yang relatif merapat ini sendiri telah terjadi sejak awal tarian. “Ngawet Nduk” ujar Mak Thenk ketika sesekali mengingatkan para penubuh di tengah latihan. “Ngawet atau ngempet nguyuh, gerak ini membuat lurus langkah” terang Mak Thenk padaku.

Ada penyesuaian tubuh yang tidak selalu mudah. Demikian pula saat proses gerak demi gerak yang dipresentasikan kelima penubuh di kursi. Pinggang harus selalu tetap tegak, dan ini dapat dibilang terbantu dikondisikan oleh ikatan stagen.

Perlahan kelima penubuh mengembangkan kedua tangan dengan masing-masing tangan membentuk pose Ngiting. Ringkasnya, keseluruhan gerak tubuh sekuensial selama di atas kursi, adalah gerakan-gerakan tangan yang dikombinasikan baik ngiting, ngruji, ngukel dan lain sebagainya, dengan menggerakkan organ bahu hingga pundak. Memang kombinasi-kombinasi gerak ini beberapa akrab dalam khazanah tari klasik. Namun “Senthir” sengaja memilah dan menyajikan dalam warna dan susunan yang khusus, belum lagi dengan kostum kebaya hitam, serta jarik batik tertentu. Disusul pemanfaatan kursi maupun kolaborasinya dengan penata suara dan bunyi. Performance “Senthir” pun secara utuh hendak mempresentasikan mozaik gerakan tubuh bak ritus tertentu yang halus nan ritmik. Pertunjukkan kontemporer yang buatku, merepresentasikan keheningan tersendiri, yang agaknya akhir-akhir ini memang menjadi khas di dalam seni gerak ala Sang Art.

Gerakan demi gerakan tubuh, yang boleh jadi dianggap sebagian orang sekilas tampak sederhana tersebut, pada hakikatnya menjadi bahasa tubuh yang menyimpan banyak isyarat. Bahkan keseluruhan koreografi itu membentuk olah rasa (baca: roso) melalui olah raga (baca: rogo). Menurut penjelasan Mak Thenk; Setiap latihan, kendati dengan gerakan yang itu-itu saja, akan mencerminkan rasa yang berbeda. Roso ini bergantung pada masing-masing perasaan para penubuh setiap harinya. “Kowe nek lagi emosi dino iki, kuwi bakal ketok pas nari Nduk, minimal ketok seko raimu” timpal Mak Thenk, manakala rehat dalam salah sesi latihan yang ketiga kalinya kuhadiri. Mimik yang misalnya tampak lelah, hingga yang tampak bahagia, rupanya menjadi cermin kondisi batin dan memberi pengaruh pada gerakan yang terjadi saat menari. Tak heran berkali kali diperingatkan untuk selalu mengolah batin, melatih kesabaran dan ketabahan dalam mengontrol perasaan yang dibawa dari kesibukan bahkan mungkin kepenatan kerja siang hari, untuk kemudian dikelola dalam latihan malam hari, sehingga mudah menstabilkan gerakan. Badan pun harus tetap rileks dan tentu saja tak boleh muncul rasa panik yang bisa meluruhkan ritme gerak. Kontrol demikianlah yang membuat gerak tubuh sekuensial di dalam “Senthir”, di istilahkan Mak Thenk sebagai Ngamong Seni Nêng Raga.

Ngamong Seni Nêng Raga, kata itu keluar dari bibir Mak Thenk saat santai ngobrol. Kucoba merenungi kalimat itu. Mak Thenk melanjutkan berbagai penjelasan, sambil sesekali kusendok semangkuk soto di meja dapur rumahnya. “Masing-masing kata kuwi iso berdiri sendiri-sendiri” terangnya. Cara Mak Thenk berbicara memang sangat blakasuta, jadi wajar jika sesekali mencampur bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia. “Ora kabeh iso dijelaskan dengan bahasa publik, Indonesia, kudu nggo cara Jawa” tegasnya.

Campur-campur bahasa itu mengingatkan pula bagaimana performance senthir sendiri ditampilkan kelima penubuh dengan campuran gestur. Kelima perempuan itu memiliki postur dan karakter tubuh bawaan yang berbeda-beda. Ini jelas mendobrak pakem di dalam seni tari misalnya, yang mana kerap menonjolkan keserasian bentuk tubuh para penari. Artinya ada proses seleksi tubuh. Hal yang nyaris tak pernah dilakukan di dalam Sang Art. Melalui “Senthir” sendiri, Sang Art terbukti menjadi ruang olah tubuh bagi kelima perempuan dengan keragaman gesture bawaan, berikut latar belakang masing-masing. “Mereka perlahan datang sendiri-sendiri, satu persatu” jawab Mak Thenk.

Melalui olah tubuh, Sang Art mengajak para penubuh yang kebetulan perempuan itu untuk meresapi lagi olah roso melalui pencerapan bahasa tubuh halus dan ritmik, yang sebenarnya merupakan ingatan dalam kebudayaan kita yang kadang terlupa. Ingatan untuk terus mencerminkan diri. Sebab gerak dunia yang kian cepat, melalui medium komunikasi, demi komersialisasi lintas lokal dan mengglobal, yang kian bit kian menjalar dan merangsek hingga ke segi-segi kehidupan paling privat. Apalagi kalau bukan tubuh. Tubuh-tubuh yang berada di dalam arus kompleksitas urban inilah yang seakan diingatkan kembali melalui intervensi bahasa penubuh di hadapan ruang publik Kafe.

Aku pun tergoda untuk memaknai penampilan “Senthir”, dengan representasi ‘dian’ Senthir yang temaram. Boleh jadi menjelma metafora posisi manusia urban yang terpencil di dalam laju habitus kebudayaan mutakhir, yang katanya ‘revolusi industri 4.0’, yang akrab dengan serba klik, dan hidup bak sisipus, mendedikasikan eksistensi demi mendaki gunungan big data. Manusia urban selalu tampak latah ibarat nyala dian senthir yang malu-malu, menghadapi rayuan kapitalisme berbulu janji-janji deteritorialisasi bin kosmopolitanisme. Manusia urban dengan kecanggihan komunikasi hingga transportasi, merasa sebagai warga dunia, namun sejatinya rentan, oleh sebab kehilangan akar, yang boleh jadi lama tergadaikan.

Tak heran ketika manusia-manusia urban terobsesi dan terburu mengejar pergaulan global, maka tanpa sadar memencilkan kalau bukan melenyapkan detil-detil terdekat, bahkan tak sedikit yang menyita keintiman keluarga dan adatnya, leluhurnya. Maka keserbacepatan inilah yang gagal memaknai hal-hal paling intim di sekitarnya, yang harus disiasati dengan cara melambankan diri, setidaknya lewat perenungan di dalam gerakan-gerakan halus nan ritmik. Pada hematku, “Senthir” menjelma peristiwa yang hendak melakukan interupsi terhadap manusia urban. Baik di dalam dunia penonton di kafe, maupun khususnya para penubuh yang perempuan, untuk terus mengedukasi diri. Rutinitas urban di tengah kemampatan kapitalisme hingga kemapanan mitos-mitos konsumsi hingga kecantikan, kerap menyaru alienasi perempuan di dalam kultur kerja buruh tiada akhir, digincu ke dalam akutnya insomnia industri hiburan.

Gerakan perlahan dalam tempo yang diresapi dan diukur tubuh dengan batin yang mawas diri itulah; yang kemudian menjadikan penampilan percakapan-tubuh kelima penubuh, bukanlah sebagai suatu kelembutan dan kehalusan yang senyap, oleh sebab represi. Namun sebagai suatu ajakan, kalau bukan peringatan, tentang keserbacepatan yang mesti direfleksikan kembali. Ketika tubuh-tubuh asyik masyuk tenggelam dalam rutinitas urban dan segala keserbacepatan dunia buruh, kerap memenjarakan pencerapan tubuh yang sejatinya membutuhkan permenungan. Bahasa-bahasa tubuh yang dirangsang kembali mengobati kerinduan terhadap taksu, agar lebih jernih memosisikan diri dan mengenali jati diri. Barangkali inilah yang agaknya hendak diisyaratkan di dalam mozaik gerak maupun bangunan koreografi yang ditampilkan kelima penubuh. Baik Putri, Suci, Desti, Nidya dan Herlina pun menjalin pemaknaan sendiri-sendiri yang tak bisa kutafsir seenaknya. Sebab setiap personal memiliki cara dan pengalamannya sendiri menggali kesejatian diri.

Pun pada akhirnya, ketika harus menerka apa yang menjadi bangunan peristiwa seni gerak di dalam ruang publik kafe; Tak lain adalah bagaimana membaca pengalaman-pengalaman masing-masing performer atau penubuh, hingga para penonton. Ini akan lebih banyak terjawab di dalam diskusi bersama para penubuh. Sedang menyangkut perspektif jender, dengan citra performance tubuh perempuan yang ada, hematku bukan lagi secara parsial menyangkut soal tubuh perempuan semata. Tetapi perlu ditarik meluas menjadi peristiwa bagi realitas manusia urban. Sebab ruang publik kafe sebagai kenyataan urban didesak untuk merespon “Intervensi Senthir” yang muncul. Kafe sebagai ruang publik urban yang mendadak disulap menjadi panggung, melahirkan fleksibilitas beserta kompleksitas, yang meramu pengalaman para penonton maupun performer ke dalam persitiwa seni.

Apabila peristiwa yang merangkum kelima manusia perempuan urban itu secara personal sengaja menggerakkan tubuh dan menjelma sebagai “penubuh”. Maka sekali lagi perlu ditegaskan bahwa makna penubuh adalah mereka yang mencoba membuat tubuh secara aktif berbicara. Dalam mana koreografi Senthir, paling tidak berhasil mengajak perempuan-perempuan urban ini menghadirkan percakapan tubuh yang intim. Untuk kemudian didialogkan dengan ruang publik, maupun khususnya dengan hasrat dirinya sendiri. Mengingat bahwa “Tubuh mereka itu tubuh-tubuh yang dewasa, yang berusaha untuk mencapai harapan tinggi” terka Mak Thenk. Sehingga menjadi unik ketika frasa “cobalah mengerti” di dalam lagu, seakan diapropriasi ke dalam pertunjukkan senthir, menjadi ajakan untuk mengerti diri dan mengerti liyan.

Maka tubuh sebagai arsip hidup, kemudian dilahirkan melalui perform Senthir sebagai penubuh yang merepresentasikan re-edukasi. Re-edukasi tubuh melalui gugahan gerak yang mengajak siapapun, baik penonton maupun khususnya penubuh, untuk membuka-buka lembaran kalimat maupun suara-suara yang ada di balik tubuh. Suara-suara maupun teks-teks yang selama ini tersembunyi, terlipat di dalam kekangan gerak keseharian. Kekangan rutinitas yang melipat-lipat perasaan. Bahkan tak jarang menyaru dan mensensor keluh-kesah tangisan, kesedihan, kemarahan, kegundahan, hingga kepuasan dan kebahagiaan sekalipun. Melalui latihan kembali di dalam meresapi gerakan halus nan ritmik inilah, para penubuh melakukan re-edukasi tubuh kembali yang kerap terlalu malu-malu atau bahkan kelewat over move. Dimana ekspresi-ekspresi tubuh yang kerap diteriakan secara serampangan dan acak di dalam pusaran konsumsi urban, rupanya membawa tubuh menjadi angkuh.

Ngamong Seni Nêng Raga boleh pula dimaknai sebagai mengolah batin dalam bahasa tubuh. Sehingga kredo tersebut menjadi wacana utama yang tampaknya ingin selalu dilakukan Sang Art. Menelaah ‘pendisiplinan tubuh’ di dalam tradisi Foucauldian, adalah semata-mata sebagai suatu bagian dari represi kuasa yang ditubuhkan menjadi docile bodies. Alias tubuh yang jinak lagi patuh. Dalam hal ini, teramat disayangkan ketika ada yang terburu memakai pendekatan Michel Foucault tersebut, untuk menilai bahwa gestur halus dan lembut yang salah satunya dimiliki perempuan Jawa; Adalah sebentuk kepatuhan akibatrepresi kuasa patriarkis dalam “feodalisme” Jawa.

Bagiku, pertunjukkan Senthir kali ini, salah satunya justru hendak melampaui, kalau bukan membantah, kesempitan pandangan tersebut. Sehingga seni gerak tubuh yang ditawarkan “Senthir” menjadi bermakna kontekstual. Artinya “Senthir” hendak mengajak para “penubuh” untuk Ngamong Seni Nêng Raga di tengah represi rutinitas kehidupan urban. Sebuah seni gerak tubuh sebagai perlawanan atas bahasa-tubuh yang terbungkam rutinitas buruh.

Pendisiplinan tubuh di dalam latihan gerak tubuh menjadi berfungsi edukatif, bukannya represif. Sebab disamping memecah kekakuan tubuh di dalam rutinitas kerja dunia urban; Juga kelima manusia perempuan itu pun hadir untuk menjadi penubuh, sepenuhnya dengan sukarela, begitupun adanya pelatihan yang dilakukan Sang Art. Dengan begitu proses kreatif Sang Art telah mengambil jarak dari rutinitas maupun konstruksi ruang kapitalisme. Singkatnya, kini di hadapan penonton di dalam ‘ruang publik’ kafe Kopi Paste, Sang Art menawarkan “Seni Gerak untuk Kemanusiaan”!

Melalui Ngamong Seni Nêng Raga ini pula, para penubuh jelas dipanggil untuk ngamong (mengasuh), Seni dalam hal ini bisa bermakna Hidup. Mengasuh hidup atau kehidupan yang telah lama nêng (meneng/ terdiam) terdiam di dalam raga yakni tubuh kita. Ibarat sukma yang memenuhi Tubuh. Tubuh-tubuh yang terjebak rutinitas dunia buruh, boleh jadi membuat kekakuan tersendiri. Hal mana batin atau hati yang menjadi jantung sukma pun menjadi demikian gagu dalam membaca isyarat akan hakikat kedirian. Kedirian yang terkadang luput berintrospeksi, sehingga telah terlampau angkuh. Walhasil kerap lupa mengeja kemungkinan-kemungkinan takdir-Nya. Dan melalui misteri olah rasa atau olah batin atau hati di dalam gerakan para penubuh, aku merasa terpanggil untuk menggali kembali kedirian, yang tidak bisa tidak, mesti menempatkan diri di hadapan rahasia setelah rahasia. Saripati segala hulu dan hilir. Sangkan paraning dumadi.

Afterward: Tancep Kayon!

Dalam salah satu kisah pengembaraan Raden Jayengresmi, setelah kekalahan kerajaan Giri Kedaton oleh kerjasama kerajaan Surabaya dan kerajaan Mataram. Tibalah pengembaraan Raden Jayengresmi di barat, persisnya di Karangkagungan, Banten. Raden Jayengresmi pun menimba ilmu beberapa lama, di bawah asuhan Ki Ageng Karang. Hingga di suatu hari, ketika ilmu sudah dianggap cukup, Ki Ageng Karang kemudian meminta Jayengresmi mengubah namanya menjadi Seh atau Syekh Amongraga.

Ki Ageng Karang sempat berpesan pada Seh Amongraga, bahwa segala pengetahuan tentang aturan-aturan yang menyangkut baik dan buruk, iya dan tidak, maupun segala yang tampak dan tak tampak, beserta segala lawan fenomena maupun lawan jenis telah dipahami (baca: Syariat). Tinggal kemudian terus menguatkan hakikat diri di hadapan-Nya (baca: Tauhid). Diri yang sejatinya ada, namun juga tidak akan ada tanpa Sang Ada yang sejati, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Sajatine iku iya, pan yêktine iya dede.

Maka Among atau Ngamong Raga, menjadi bermakna suatu keharusan mengelola dan mengasuh wadag, atau keseluruhan jiwa raga ini, melalui kebenaran di dalam suatu tindakan. Melalui praktik. Sehingga bukan sekedar wacana, atau ucapan semata. Tetapi menjadi langkah kongkret yang dilakoni. Semata-mata agar memperbaiki diri sekaligus menjadi suri tauladan. Bukan aneh jika di dalam penjelasan Ki Ageng Karang kepada Syekh Amongraga, ditulis para pujangga melalui Asmaradana. Kalu boleh diudar sebagai Asmara Dahana, alias luapan cinta yang bergelora. Maka berarti sebuah keniscayaan cinta sejati yang mesti tidak berhenti kepada lawan jenis maupun sesama manusia, tetapi untuk digerakkan kembali menuju hakekat kedirian.

Hakikat kedirian yang bisa diresapi di dalam tubuh, sebab sedaya sampun kadhadha, segalanya sudah tertanam di dalam diri, atau bermakna, telah merasuk di dalam batin nurani, hati sanubari. Sehingga kembali pada kebijaksanaan diri alias lelaku. Mbah Kadi, seorang seniman penghayat Jawa, sekaligus maestro penembang, siang itu menjelaskan padaku bahwa “Ngajarke mboten mung ngangem pengucap, ananging ngagem pengamalan.” Matur sembah nuwun.

Lan dudu iku ya iki |
sajatine iku iya |
pan yêktine iya dede |
apa mêksih rubêd nyawa |
kang linengan tur sêmbah |
inggih ing sawab pukulun |
sadaya sampun kadhadha ||
ɣ ɣ ɣ

Ledhok-Bantaran Gajah Wong,
16 November 2019

Naskah ini merupakan tulisan pendamping pertunjukkan sekaligus pemantik diskusi setelah pentas, yang mana kesemuanya berlangsung di kafe Kopi Paste, Yogyakarta, 17 November 2019.)

Bacaan Pendamping
Serat Centhini Jilid 5, Pupuh 333 Asmaradana, Padha 9 dan 11. Serat Centhini merupakan gubahan Ki Ngabei Ranggasutrasna, Raden Ngabei Yasadipura II alias Tumenggung Sastranagara dan Raden Ngabei Sastradipura, atas perintah dari Sunan Pakubuwana V. Centhini yang saya gunakan merupakan versi huruf latin yang disadur oleh H. Karkono K. Partokusumo alias Kamajaya (Yogyakarta: Yayasan Centhini, 1985), kaca: 52. Asmaradana dicirikan terdiri dari tujuh gatra atau tujuh larik. Secara pribadi saya meminta maaf dikarenakan belum sanggup mengakses naskah asli, atau yang berarti di dalam aksara jawa. Sebab, sebaik-baik mengerti suatu karya adalah di dalam wujud bahasa dan aksara aslinya.

Ikun Sri Kuncoro, penyunting. 2013. Ideologi Teater: Gagasan dan Hasrat Teater Yogyakarta. Yogyakarta: Kalabuku.
Richard Schechner. 2006. Performance Studies: An Introduction. New York: Routledge.
Risa Permanadeli. 2015. Dadi Wong Wadon: Representasi Sosial Perempuan Jawa di Era Modern. Yogyakarta: Pustaka Ifada.
Sara Mills. 2005. Michel Foucault. London and New York: Routledge.
St. Sunardi.2012.Vodka dan Birahi Seorang Nabi: Esai-esai Seni dan Estetika. Yogyakarta: Jalasutra.