Binar Mata, Menjumpa Rupa

Aku menduga, para pembaca tangguh punya keyakinan hampir paripurna bahwa buku-buku cukup membawa diri mereka pada ragam liburan. Kawan perempuanku yang sampai di usia 22 belum pernah ke pantai, konon meminjam bayangan pantai pada deskripsi Kartini. Yang lain patuh pada cerita rumah bertembok buku-buku di pinggir pantai dalam Rumah Kertas (Carlos Maria Dominguez, 2016). Menyusuri negeri yang tidak pernah punya pagi atawa bahkan terus-menerus berkabut. Mawar merah yang asyik diajak berbincang tapi tak tinggal di bumi. Itu semua dijumpa dalam bau aksara kertas-kertas hasil masakan penerbitan. Buku-buku menggelapkan mata. Di antara pembaca keras kepala ada yang hampir anti memindahkan raga menjelang pantai, pagi di perbatasan desa, gelap di ketinggian, dan beragam tempat ikhtiar raga menjumpa rupa-rupa. Buku itu segalanya!

Pembaca keras kepala lupa atawa sengaja abai pada pertemuan menjamu rupa-rupa: orang-orang baru, kelok-kelok jalanan, setapak yang terjal, asin air laut, gelombang pasang, anyir darah tergores batang pohon teh. Padahal buku-buku lahir dari intensitas perjumpaan dengan orang-orang, alam terkembang, kelahiran dan kematian, juga Tuhan. Begitu kata seorang kawan yang kuamini. Pertemuan-pertemuan mengasah kepekaan rasa. Rasa merasuk ke raga dan pikir. Bertaut dengan imajinasi, rasa menjadi bekal menulis puisi dan prosa. Bertaut dengan emosi dan kenangan pembacaan, rasa jadi bekal menulis esai. Pertemuan-pertemuan yang melibatkan raga pembaca sejatinya pintu bagi hamparan surga aksara.

 

Luka Lingsir

Di antara pembaca buku, ada yang menyukai jalan-jalan berbatu menuju silir angin laut. Laut tak bermaksud disaingi keasyikannya dengan buku. Maka, buku-buku absen turut dalam tas ransel. Buku-buku ditinggal di indekos di kota. Bersama kawan-kawan, raga memasak tambahan menu makan malam. Tikar dibentangkan untuk menjajar nasi dan lauk pauk yang ada. Raga-raga memilih duduk di pasir dengan kaki setengah terbenam ke dalamnya. Di malam hari, pasir tak nampak nubuat dari benda-benda laut yang berdentum dengan riak gelombang dan bebatuan. Jika telapak kaki tertusuk, tangan baru menjumput segenggam pasir dan mengamatinya dengan mata teliti.

Perjalanan dari kota menuju pantai menguji setiap diri dalam kelompok pertemanan. Egoisme diri sontak lebur meski terseok-seok demi kesepakatan awal menyelami pertemanan bermedium laut. Bertukar cerita dan kadang saling diam memainkan bulir-bulir pasir nyata membiakkan citarasa pertemanan. Sebab ceritalah yang paling penting, bab demi bab, hingga salah satu di antara kami terpejam, capai, dan kelelahan (Raudal Tanjung Banua, 2004: 61). Laut menjadi cerita kebersamaan, permenungan, mengikis kenangan-kenangan menyebalkan di hari lalu. Kesalahan-kesalahan diri dalam pertemanan lingsir oleh pemafhuman yang diajarkan gelombang laut. Pertemanan yang bermalam di pinggir laut lekas sehat. Menjadi amunisi penting menjelang kehidupan sehari-hari di kota.

Tak cuma laut, pertemanan yang bersepakat melaju pada perjumpaan-perjumpaan dengan alam (dalam arti seluas-luasnya) konon jarang terserang penyakit. Raga-raga yang mendaki ketinggian mengalami ujian menggauli setapak yang terjal, keadaan kawan-kawan selama pendakian. Pendakian mengikis egoisme pembaca yang gemar berdua saja dengan buku di kamar indekos. Pendakian membiakkan empati satu sama lain. Empati itu bahan bakar urup-nya jalinan pertemanan. Perjalanan-perjalanan jauh menyingkirkan bising kota ialah terapi membiakkan sifat-sifat baik menjelang pertemanan.

 Yang perlu diasah cuma pengertian, demikian kira-kira setiap diri membatin.

Perjumpaan

Perjumpaan dengan alam dan orang-orang baru mencipta kelindan emosi. Sekali lagi, melatih kepekaan rasa. Alam dan orang-orang baru ialah buku yang berdenyut nadinya. Menghampar tanda-tanda hidup dari yang nyata-nyata hidup. Saling pengertian yang dibangun oleh kedekatan dan kebersamaan, di mana peleburan jiwa lebih berbicara dibanding penalaran dengan akal yang penuh keterbatasan (Seno Gumira Ajidarma, 2017: 75). Pasca berasyik-masyuk dengan buku sebagai wujud egoisme diri, perjumpaan dengan orang-orang dan segala yang bernyawa itu segalanya!

Kendati masa kini, perjumpaan itu kerap menyebalkan. Raga-raga yang berjumpa susah puasa mengusap naik-turun linimasa. Ponsel melatih kita pamrih merekam perjumpaan. Kita tak tahan godaan membagikan kemesraan perjumpaan dengan orang-orang terkasih di kilas cerita atawa feed instagram. Kalau tak begitu, takut dikira warganet tak punya teman atawa hidup yang dijalani menjemukan sehingga alpa dari segala keindahan yang laik menjadi unggahan di akun media sosial. Merekam keberadaan raga itu tuntutan zaman digital yang kita amini saja. Hla wong kita ini sadar betul cuma makhluk yang lemah. Dengan begitu, yang digadaya cuma media sosial.

Kadang-kadang, ponsel dan mode kehidupan digital yang begitu itu memicu lingsirnya kebaikan pertemanan. Yang menahan godaan mengusap naik turun linimasa bermaksud menyesapi sepah manis perbincangan di depan mata. Yang tak tahan godaan bermaksud memberi pengumuman pada warga digital bahwasanya di era begini perjumpaan itu tetap perlu. Di antara raga yang berjumpa, masing-masing diri bergulat melawan pikiran buruk terhadap lainnya. Yang perlu diasah cuma pengertian, demikian kira-kira setiap diri membatin. Tsah! []

Buku Langgar Shop
Rizka Nur Laily Muallifa
Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak khusyuk. Mengeja kata di Diskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, dan Bentara Muda Solo. Berpamrih di @lailymuallifa