Penderitaan Bangsa Linglung

Seberapa sering Anda menonton atau membaca berita dalam sehari? Seberapa sering pula Anda memaki dan mencaci drama politik yang dimainkan para pejabat akrobatik di dalam berita tersebut? Mereka berjungkir-balik saling menudingkan kesalahan terhadap lawan politik dan menepis diri dari tuduhan kejahatan pada diri mereka sendiri. Ibarat permainan sirkus yang terus disajikan secara berulang, kebosanan pun menghinggap rongga dada dan cangkang pikiran kita. Kebosanan akan perilaku korup para elit pemerintahan dan lemahnya sistem hukum negara ini. Rakyat terus-menerus diajak bergoyang di atas perahu ketidakpastian negara kita sampai mual!

Mungkinkah ini sebuah kebuntuan reformasi? Yang dahulu begitu kita sembah ketika rezim Soeharto berhasil ditundukkan di bawah telapak kaki reformis yang mengaku gundah dengan segala kebrengsekan rezim tersebut. Toh pada akhirnya, rezim-rezim pemerintahan yang berganti kemudian, tidak atau belum dapat mendudukan rakyat dan negara Indonesia ini di dalam suatu wadah pemerintahan yang stabil dan bebas dari jaring-jaring korupsi. Rakyat hanya dihadiahi permen lollipop di awal kemenangan partai politik yang didukungnya, setelah itu hanya menghisap jempol belaka. Artinya, rakyat hanya diberi kesenangan sesaat sebagai hadiah dari partai politik karena mereka telah berhasil membawakan partai tersebut mahkota kekuasaan. Selebihnya, yang menganggur tetap menganggur; yang mengais sampah, tetap mengais sampah.

Pada akhirnya, sedikit demi sedikit kepercayaan rakyat pun meluntur seiring dengan janji-janji pemerintah yang berhembus kian-kemari tidak berbekas. Rakyat menjadi apatis dengan segala perkembangan politik dan pemerintahan, sedangkan di sisi lain para elit di atas sana semakin maruk berebut kue kekuasaan. Kemiskinan membuat rakyat menggeser norma hukum dan etika demi mempertahankan kelangsungan hidupnnya. Kehidupan sosial-budaya semakin semrawut tidak terarah. Semua bergerak demi kepentingan-kepentingan pragmatik, menuju Tuhan baru: yakni materi dan pencitraan.

Pada titik inilah kehidupan bangsa kita mengalami kegalauan. Gamang menghadapi berbagai kemandekan politik, dinamika sosial-budaya, perubahan lingkungan, yang datang baik dari dalam negeri sendiri, maupun yang berasal dari luar. Kita menjadi begitu asing menghadapi diri kita sendiri. Ketiadaan jati diri, hingga tidak mampu mengenali siapa sosok yang dihadirkan cermin kehidupan di muka kita.

Pada akhirnya, sedikit demi sedikit kepercayaan rakyat pun meluntur seiring dengan janji-janji pemerintah yang berhembus kian-kemari tidak berbekas. Rakyat menjadi apatis dengan segala perkembangan politik dan pemerintahan, sedangkan di sisi lain para elit di atas sana semakin maruk berebut kue kekuasaan.

Solusi Budaya

Dengan segala kecerdasan dan keluhuran niatnya, seorang Jadul Maula, inisiator kebudayaan, yang dibantu santri-santrinya dari Pesantren Kaliopak – Piyungan Yogyakarta, membuat suatu rangkaian acara kebudayaan yang berlangsung dari tanggal 18 – 31 Juli 2011. Acara kebudayaan ini mengambil tema “Peringatan 500th Sunan Kalijaga”. Keseluruhan rangkaian acara yang berjalan hampir dua minggu itu berusaha untuk mengangkat dan mengingatkan kembali keluhuran nilai-nilai ajaran Sunan Kalijaga kepada masyarakat luas – khususnya masyarakat Jawa – yang selama berabad-abad sebelumnya dipegang teguh demi keseimbangan kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

Kegiatan Sunan Kalijaga ini terdiri dari beberapa rangkaian acara. Simbol yang digunakan untuk menyatukan keseluruhan rangkaian acara yang beragam itu ialah air. Dimana air tersebut diambil dari Sendang Banyu Urip, kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kendi besar yang terbuat dari tanah liat yang diukir. Di setiap pementasan dan pagelaran budaya selanjutnya, keberadaan kendi tersebut mutlak untuk selalu berada di tengah kegiatan, agar peserta yang menikmati acara seni tersebut selalu melihatnya dan dapat mengaitkan keberadaan kendi itu dengan makna yang berusaha dipancarkannya.

Kegiatan yang mengusung kendi air itu dimulai dari Kupatan Jolosutro (Merti Desa di Jolosutro); kemudian Lampah Ratri (Jalan Bisu), dari (Piyungan – Pesantren Kaliopak –, Wot Galeh, Kota Gede, sampai Keraton Yogyakarta di alun-alun utara); pagelaran wayang selama 11 malam, dari tanggal 21-31 Juli 2011; hingga kemudian mengantarkan kendi tersebut ke lereng Merapi untuk mengalirkan air suci, yang telah bersemayam 15 hari di dalam kendi, ke perut bumi dimana ia dilahirkan sebelumnya.

Pertanyaan yang muncul di benak kita mungkin berkenaan dengan seluruh rangkaian acara budaya ini, antara lain: mengapa mengambil sosok seorang Sunan Kalijaga sebagai diskursus utama di dalam kegiatan budaya yang baru diadakan pertama kali ini? Mengapa pula air yang digunakan sebagai simbol yang mengikat keseluruhan kegiatan 500th Sunan Kalijaga? Mengapa kegiatan itu mengambil jalur-jalur dari Sendang Banyu Urip, desa Jolosutro, sampai kemudian berakhir ke lereng Merapi? Lalu apa kaitan kedua hal tersebut dengan persoalan kegamangan bangsa yang saya paparkan sedikit di bagian awal tulisan ini? Ini semua hanya beberapa pertanyaan-pertanyaan pemicu yang berusaha saya jawab satu per satu melalui penjelasan dari beragam kegiatan itu, tentunya dengan segenap keterbatasan saya.

Di Balik Layar

Seorang Sunan Kalijaga, yang bernama asli Raden Said (1450) merupakan tokoh sentral di dalam kehidupan orang Jawa yang pada masa lalu berhasil menanamkan agama Islam kepada orang Jawa. Kentalnya budaya Hindu-Buddha yang mewarnai kehidupan orang Jawa pada masa itu, memaksa Sunan Kalijaga mempergunakan kejeniusannya demi memasukkan nilai-nilai Islam yang lentur ke dalam beragam seni-budaya untuk diperkenalkan kepada orang Jawa. Di samping mereka merasa terhibur, mereka pun dapat memetik beragam ajaran luhur mengenai etika dan sikap hidup, pandangan tentang semesta, tata cara berperilaku dengan sesama manusia, dengan Sang Pencipta, dengan binatang, tumbuhan, dan lingkungannya.

Sunan Kalijaga sebagai orang pertama yang memperkenalkan kesenian gamelan dan wayang kulit kepada orang Jawa, yang melalui itu, ia berusaha mengajarkan filosofi kehidupan berasaskan Islam kepada mereka. Hal yang mendasari kesuksesan Sunan Kalijaga dalam menyampaikan ajarannya hingga kemudian diterima dengan baik oleh orang-orang Jawa, ialah karena ia memasukkan nilai-nilai ajarannya tersebut ke dalam kesenian yang merupakan makanan sehari-hari mereka. Berupaya menyatukan nilai-nilai Islam yang universal ke ranah lokalitas budaya. Tidak semata-mata memaksakan agama Islam sebagaimana keutuhannya di negeri agama itu berbenih dan lahir, namun dengan mencangkokkan inti ajaran Islam tersebut ke pohon budaya masyarakat Jawa, hingga kemudian ia tumbuh mengikuti pola ranting dan dedaunan seni dan gaya hidup mereka.

Hal yang mendasari kesuksesan Sunan Kalijaga dalam menyampaikan ajarannya hingga kemudian diterima dengan baik oleh orang-orang Jawa, ialah karena ia memasukkan nilai-nilai ajarannya tersebut ke dalam kesenian yang merupakan makanan sehari-hari mereka. Berupaya menyatukan nilai-nilai Islam yang universal ke ranah lokalitas budaya.

Di sinilah terjadi sinkretisme agama, dimana agama dan kebudayaan terpaut erat bagai tutup dengan wadahnya. Apa yang menjadi kepercayaan mereka tidak mungkin terlepas dari lakon budaya yang mereka jalani dalam kehidupan sehari-hari. Maka, tidak heran bila kemudian Sunan Kalijaga dijadikan tokoh sentral, karena ia memiliki otoritas agama sebagai seorang Wali, otoritas budaya sebagai seniman, dan sebagai seorang priyayi, ia pun memiliki otoritas politik sebagai Raja di tanah Jawa.

Di Sendang Banyu Urip, sumber air yang kami gunakan di dalam rangkaian acara budaya Sunan Kalijaga, merupakan Sendang yang dibuat oleh Sunan Kalijaga pada masa hidupnya. Konon cerita, di saat penduduk desa mengalami wabah kekeringan, Sunan Kalijaga dengan izin Allah menghentakkan tongkatnya ke atas tanah tandus tersebut, hingga kemudian air jernih memancar keluar dari lubang yang ditancapkan Sunan Kalijaga di atasnya.

Air tersebut tidak pernah berhenti memancar dari waktu ke waktu, menjadi sumber mata air abadi sampai saat ini. Semua penduduk desa sekitar Sendang Banyu Urip dapat memanfaatkan air tersebut untuk kehidupannya, dari hal-hal yang bertujuan baik, maupun buruk. Sesungguhnya dapat pula kita maknai bahwa keberadaan air dan manfaat yang selalu memancar darinya, diibaratkan sebagai segala macam pengetahuan yang diajarkan Sunan Kalijaga kepada orang-orang Jawa. Ilmu dan pengetahuan yang tidak pernah habis, tidak pernah mati, namun selalu menghadirkan relevansinya terhadap kehidupan manusia sampai detik ini.

Mendaki Kupatan Jolosutro

Air yang telah dikucurkan ke dalam kendi, didoakan sejenak untuk meminta restu dari Yang Maha Kuasa agar kegiatan budaya yang akan dilaksanakan nanti, dengan meminjam air dari Sendang Banyu Urip ini, dapat tercapai semua tujuan luhurnya.

Keesokan siang, kendi air di bawa ke desa Jolosutro yang sedang menyelenggarakan merti desa. Merti desa memang diadakan setiap tahunnya, namun baru tahun ini, perayaannya disisipkan ritual lain dari acara peringatan 500th Sunan Kalijaga. Kendi air yang menjadi bagian dari 500th Sunan Kalijaga memiliki kaitan dengan festival merti desa karena di serangkaian acaranya, semua bahan-bahan makanan hasil bumi dari beberapa desa di sekitar Jolosutro diusung di dalam wadah peti berwarna-warni ke atas bukit Jolosutro, kemudian dibawa ke makam Sunan Geseng sebagai akhir dari perayaan. Sunan Geseng merupakan salah satu murid Sunan Kalijaga, maka ritual 500th Sunan Kalijaga pun perlu masuk untuk menjadikan Kupatan Jolosutro ini sebagai bagian dari ritual secara keseluruhan.

Rasa syukur atas segala berkah Tuhan berupa hasil panen yang melimpah, dituangkan melalui acara merti desa yang kegiatannya juga sekaligus merayakan kemenangan desa Jolosutro di dalam lomba karang taruna antar desa. Kegiatan yang dinamakan Kupatan Jolosutro ini dihadiri oleh petinggi-petinggi desa, pejabat DPRD, sampai Pembayun (anak sulung Sultan Yogyakarta). Upacara dan tari-tarian diadakan di tengah alun-alun Jolosutro, setelah itu semua arak-arakan berjalan menuju bukit Jolosutro, dimana makam keramat Sunan Geseng berada.

Dari atas dataran yang lebih tinggi, arak-arakan berbentuk seperti kelokan sungai yang panjang. Beraneka warna, karena terdiri dari kelompok-kelompok berbagai desa yang memakai baju adatnya masing-masing. Mereka mengusung semacam peti berbentuk limas, di dalamnya ada ragam jenis jajanan dan makanan hasil bumi yang dipersembahkan pula untuk bumi. Warna-warni arakan berjalan dengan cepat ke atas bukit terjal, melangkahi batu-batu gunung, hingga akhirnya sampai di puncak bukit yang agak lapang. Di atasnya, batu-batu nisan mencuat dari dalam tanah, dan di bukit yang tertinggi, makam Sunan Geseng menampakkan wujudnya sebagai pusat anutan. Peti-peti limasan dan kendi air diletakkan di tanah datar di dekat kumpulan makam-makam. Seorang abdi dalam Keraton membacakan petuahnya menggunakan bahasa Jawa alus atau krama Inggil (baca: kromo inggil).

Di atasnya, batu-batu nisan mencuat dari dalam tanah, dan di bukit yang tertinggi, makam Sunan Geseng menampakkan wujudnya sebagai pusat anutan.

Di sekeliling peti-peti, para penduduk desa menanti dengan sabar, hingga kemudian petuah itu berakhir, mereka menyerbu peti-peti, menguak tutupnya, mengeruk jajanan yang berada di dalamnya semampu cengkeraman mereka. Usaha merampas makanan itu seakan terlihat begitu garang dan buas, namun mereka sangat menikmati perebutan tersebut dengan tawa riang, tidak ada kekecewaan dan dendam yang muncul dari aksi mereka.

Setelah peti-peti kosong, sampah makanan tersebar di tanah sekitar makam-makam, barulah kendi air dibawa naik ke hadapan makan Sunan Geseng. Di atas kekokohan batu nisannya, perwakilan dari Pesantren Kaliopak – Faisal Kamandobat – dan dari abdi dalam Keraton, saling menjabatkan tangan sepanjang seorang tetua adat membacakan sekilas ajaran-ajaran Sunan Kalijaga dan menyanyikan suluknya. Permohonan doa ini sebagai titik awal dari rangkaian panjang ritual peringatan 500th Sunan Kalijaga.

Lampah Ratri di Kesunyian Malam

Malamnya, sekitar pukul 9 malam, lampah ratri (tapak bisu/ jalan sunyi) dilakukan. Dimulai dari Piyungan, tempat dimana Pesantren Kaliopak bersemayam. Masing-masing orang memakai baju adat atau baju santri. Di urutan paling depan dari arak-arakan, para tetua adat yang memakai baju adat Jawa dengan memegang spanduk besar bertuliskan “Peringatan 500th Sunan Kalijaga”, didampingi oleh pembawa bendera merah-putih, dan garuda Pancasila. Di belakangnya, serombongan orang-orang yang memakai baju adat berwarna merah. Setelah itu para pembawa wayang yang terdiri dari santri-santri Kaliopak dan teman-teman dari Antropologi UI, saya sendiri membawa wayang Arjuna. Di belakang kami ialah penduduk desa berusia sekolah yang memakai baju santri, di belakang mereka barulah pengusung kendi yang berjalan tertatih-tatih memanggul berat di satu sisi bahu mereka, itu juga terdiri dari mahasiswa-mahasiswa Antropologi. Sedangkan rombongan yang terakhir adalah para partisipan acara 500th Sunan Kalijaga ini, yang didampingi oleh kendaraan medis dan keamanan. Kami berjalan kaki berkilo-kilo, dan di sepanjang perjalanan, orang-orang yang sedang melintas di jalan yang sama atau yang sedang menikmati kopi di angkringan-angkringan pinggir jalan, melongokan kepala dengan heran. Terbersit tatapan ingin tahu dari wajah mereka.

foto dokumentasi Pesantren Kaliopak saat lampah latri 2011

Pada masa lalu, ritual lampah ratri ini dilakukan tanpa memakai sandal. Para perempuan memakai baju adat kemben. Fisik benar-benar diuji berdasarkan kebulatan tekad masing-masing. Namun saat ini, kami dapat melakukannya dengan memakai sandal dan bagi perempuan, tidak perlu kemben, yang penting adalah batik sebagai instrumen penting pakaian adat Jawa. Di malam yang cerah kala itu, rombongan kami berjalan bisu, tidak boleh bicara, makan, minum, ataupun merokok sampai titik perhentian. Perjalanan sunyi itu dihibur oleh api obor yang menari-menari digelitik angin, nyalanya menemani kebisuan langkah kami. Keheningan semacam itu sengaja dibuat, agar pikiran dan hati kami dapat lapang, bukannya kosong, melainkan khusyuk memikirkan beragam laku kami di sepanjang kitab hidup yang telah kami jalani. Apakah segalanya telah sesuai dengan nilai-nilai Islam yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga. Ini merupakan upaya refleksi sebagaimana kita melakukannya di dalam meditasi.

Di malam yang cerah kala itu, rombongan kami berjalan bisu, tidak boleh bicara, makan, minum, ataupun merokok sampai titik perhentian. Perjalanan sunyi itu dihibur oleh api obor yang menari-menari digelitik angin, nyalanya menemani kebisuan langkah kami. Keheningan semacam itu sengaja dibuat, agar pikiran dan hati kami dapat lapang, bukannya kosong, melainkan khusyuk memikirkan beragam laku kami di sepanjang kitab hidup yang telah kami jalani.

Aku merasakan sendiri, dihajar oleh angin malam, langkah tiada henti, kebosanan karena senyap, dan cahaya obor yang temaram, kehadiran kantuk memang sangat tidak terhindarkan. Sayup-sayup kelopak mataku tertutup, berjalan sekian langkah di dalam tidur, hingga kemudian kaki dan badanku terantuk sesuatu, mataku membuka kembali, terkejut karena tidurnya terganggu. Namun betapa herannya aku melihat sekelilingku yang begitu ramai, wajah-wajah tanpa ekspresi, tubuh-tubuh yang berjalan dalam keremangan obor, tangan-tangan yang menegakkan wayang. Barulah aku sadar, bahwa aku masih menjalani lampah ratri. Beberapa kali kejadian ini berulang. Bisa jadi ini disebabkan kurangnya fokusku untuk merefleksikan berbagai hal di dalam diri sendiri. Diperlukan niat hati yang begitu kuat, fokus pikiran yang begitu mantap untuk menjalani ritual lampah ratri tersebut, agar gangguan-gangguan semacam kantuk dan rasa lelah dapat terhindarkan.

Bayangkan, kami berjalan kaki sepanjang 15 km dari Piyungan sampai alun-alun utara Keraton Ngayogyakarta. Sebagian ada yang membawa spanduk dua meter, bendera merah-putih, patung besar garuda Pancasila, sebagian lagi membawa wayang, dan yang paling mengesankan adalah mereka yang membopong kendi air di atas bahunya. Cobaan-cobaan itu harus mampu dilalui sampai titik perhentian berikutnya yang berjarak 5 km dari titik perhentian satu ke titik perhentian lain. Di titik perhentian ini, barulah kami dapat melepas lelah, makan-minum, merokok, dan terutama, bebas bersuara.

Di perhentian pertama setelah Piyungan adalah Wot Galeh. Wot Galeh merupakan tempat makam-makam leluhur Raja Mataram. Di sini terdapat makam Pangeran Purboyo dan Pangeran Wot Galeh yang masih keturunan dari Sunan Kalijaga.

Pada malam lampah ratri tersebut, kami menjumpai Sultan Palembang yang kebetulan hari itu sedang berziarah ke Wot Galeh. Di Wot galeh ini, para pemegang wayang dan kendi air berganti peranan. Teman-teman Kaliopak dan Antropologi UI digantikan oleh teman-teman dari kelompok lain untuk membawa wayang dan kendi air itu ke titik perhentian selanjutnya di Kota Gede. Namun demikian, kami masih tetap berlampah ratri sampai ke sana.

Di Kota Gede, kami disambut oleh nyanyian suluk yang digemakan oleh para abdi dalam Keraton yang duduk mengelilingi gamelan. Kota Gede merupakan Keraton Mataram awal. Baik di Wot Galeh, maupun Kota Gede, ritual yang berlangsung terjadi di dalam kedua masjid yang besar peninggalan Sunan Kalijaga yang berada di masing-masing wilayah tersebut.

Sekitar pukul setengah 3 dini hari, lampah ratri pun dilanjutkan ke alun-alun utara Keraton Ngayogyakarta. Malam beranjak makin dingin, namun para rombongan pejuang budaya dan ajaran Sunan Kalijaga yang mengikuti tapak bisu ini tetap berjalan dengan langkah tegap dan kepala tegak, menyongsong Keraton Ngayogyakarta sebagai akhir dari perjalanan sunyi malam ini.

Sesampainya di alun-alun utara, jarum jam di tangan kiriku menunjukkan waktu menjelang subuh, angin berhembus begitu dingin, rombongan kami tiba dan berdiri di depan gerbang Keraton Ngayogyakarta. Gerbang itu masih tertutup dengan angkuhnya, menantang arak-arakan kami yang mengantarkan kendi air ke bawah hidungnya. Sekian waktu kami menunggu, gerbang masihlah tertutup. Maka kami menyelesaikan ritual terakhir dengan mendendangkan suluk Sunan Kalijaga di depan gerbang tersebut, berdoa, kemudian arak-arakan bubar, kembali ke kediamannya masing-masing.

Sesampainya di alun-alun utara, jarum jam di tangan kiriku menunjukkan waktu menjelang subuh, angin berhembus begitu dingin, rombongan kami tiba dan berdiri di depan gerbang Keraton Ngayogyakarta. Gerbang itu masih tertutup dengan angkuhnya, menantang arak-arakan kami yang mengantarkan kendi air ke bawah hidungnya. Sekian waktu kami menunggu, gerbang masihlah tertutup.

Jalur lampah ratri yang ditetapkan Jadul Maula, sebagai penggagas kegiatan budaya peringatan 500th Sunan Kalijaga,  dari Piyungan, Wot Galeh, Kota Gede, sampai Keraton, tak mungkin tiada beralasan. Jalur ini merupakan jalur yang ditempuh oleh Sunan Kalijaga dan pasukan Demak ketika mencari keberadaan Keraton Mataram di masa lalu. Jalur dari Piyungan, Wot Galeh, Kota Gede, sampai Keraton adalah jalur dimana Sunan Kalijaga menempuh perjalanan sekaligus menyebarkan agama Islam kepada warga Yogyakarta yang ketika itu masih beragama Hindu-Buddha. Dengan demikian dari jalur inilah, yang kemudian dipilih sebagai alur perjalanan tapak bisu (lampah ratri) untuk mengenang kembali perjuangan Sunan Kalijaga ketika ia menyebarkan nilai-nilai luhur Islam. Merefleksikan apakah perilaku hidup kita telah sesuai dengan filosofi yang ia ajarkan.

Sebagai manusia kita selalu tergerus oleh perbuatan-perbuatan khilaf dan dosa, sehingga sudah sepantasnya jika kita harus terus-menerus memaksa diri untuk mempertanyakan kembali makna hidup kita di dunia dan agar kita kembali menghayati tiap butir-butir kebajikan yang dahulu diajarkan Sunan Kalijaga. Sesuai dengan tujuan dan itikad baik tersebut, maka ritual lampah ratri di malam selasa yang bersahaja ini diberi tema “Merti Luhuring Laku Sunan kalijaga”.

Sabetan-sabetan Wayang 11 Malam

Ritual tidak berhenti sampai di situ. Kendi air yang telah mengecap festival Kupatan Jolosutro, dan Lampah Ratri dari Piyungan sampai alun-alun utara Keraton Ngyogyakarta, kemudian ditempatkan di tengah panggung pagelaran wayang kulit selama 11 malam. Pagelaran wayang kulit ini memainkan lakon-lakon Sunan Kalijaga. Melalui wayang kulit inilah, Sunan Kalijaga dahulu berhasil memperkenalkan Islam kepada penduduk desa. Wayang Carangan istilahnya, yakni wayang pakem yang disisipkan ajaran-ajaran Sunan Kalijaga. Wayang pakem sendiri merupakan jenis lakon wayangan yang ceritanya menyadur dari cerita klasik Ramayana dan Mahabrata, meski terdapat perubahan cerita yang disesuaikan dengan konteks Jawa, sehingga membuatnya berbeda dari versi aslinya yang berasal dari India, namun lakon wayang pakem tersebut selalu dipentaskan secara turun-temurun. Pada awalnya, pagelaran wayang pakem memang khusus dipertontonkan di acara-acara Keraton.

Menurut Herman Sinung Janutama, selaku pengamat wayang yang bertempat tinggal di Yogyakarta, wayang sebelumnya merupakan kesenian yang begitu sakral dan elitis karena hanya dapat dimainkan di depan kompleks candi. Seseorang yang ingin mempelajari wayang harus mendatangi candi tersebut dengan metode tirakat dan prihatin. Akan tetapi, setelah Sunan kalijaga dan Wali Allah lainnya muncul untuk mengajarkan Islam di tanah Jawa, wayang tersebut menjadi kesenian rakyat yang dapat dipertontonkan di berbagai pelosok tempat oleh golongan manapun. Dengan kata lain, tidak lagi semata-mata menjadi milik Raja-raja dan para elit Keraton[1].

Dalam lakon wayang pakem Jawa, seperti Ramayana dan Mahabrata, ada hal mendasar yang membedakannya dengan wayang carangan kreasi dari Sunan Kalijaga, yaitu sisipan lakonnya yang berupa goro-goro. Goro-goro terdapat di pertengahan cerita, jika wayang dimulai pukul 8 malam, maka goro-goro dipentaskan kira-kira sekitar tengah malam sampai jam 2 pagi. Tokoh-tokoh yang berlakon di goro-goro adalah Punakawan, yakni tokoh khas di dalam legenda masyarakat Jawa yang terdiri dari Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong.

Para penonton wayang pada umumnya, lebih menantikan pertunjukkan goro-goro dibandingkan bagian lakon lain dalam kesatuan cerita di pementasan wayang. Pertama, karena goro-goro menggunakan bahasa Jawa Ngoko yang memang dipergunakan sebagian masyarakat Jawa sehari-hari. Sedangkan pada bagian lakon selain goro-goro, umumnya menggunakan bahasa Jawa tinggi/ alus (krama inggil) dan bahasa pendalangan atau Jawa Kawi (sanskerta) yang hanya dikenal dan dipergunakan di kalangan dalang dan elit Keraton. Kedua, di dalam goro-goro, Punakawan berlakon komedik, sehingga sukses mengundang segenap tawa dari para penontonnya. Ketiga, inti ajaran carangan (sisipan) dari Sunan Kalijaga dirangkum dengan pengemasan yang ringan dan jenaka di sini, sehingga penonton mudah memahami pokok-pokok ajaran yang menjadi acuan laku hidup masyarakat Jawa. Keunikan goro-goro karena petuah dan ajaran-ajaran Islam maupun filsafat hidup yang mungkin sulit dipahami dan asing, dapat disajikan dengan ringan dan riang oleh tokoh-tokoh Punakawan. Secara tidak langsung, mereka dapat mengerti dan menerima setiap ajaran itu dengan hati terbuka, seiring dengan gegap-gempita tawa mereka.

 

Panggung wayang berdiri dengan megah di depan Keraton Ngayogyakarta, alun-alun utara. Dua  tenda panitia berjejer di bagian kiri panggung. Di depannya, bangku-bangku penonton disusun 10-15 deret. Di atasnya melengkung tenda untuk memayunginya dari hujan. Dari malam ke malam, pertunjukkan wayang semakin ramai. Orang berbondong-bondong mendatangi alun-alun utara, duduk memenuhi bangku penonton, menggelar Koran, duduk di atas motor atau becaknya, atau sekedar berdiri di sekitar panggung. Para pedagang angkringan yang sehari-hari bekerja di alun-alun utara mendapatkan rejeki nomplok karena kebanjiran pembeli sampai subuh, ketika acara wayangan selesai. Dalang, sinden, dan pemain gamelan duduk di panggung menghadap layar, memunggungi penonton. Banyak pula para penonton yang turut duduk di atas panggung – berdampingan dengan para pemain gamelan – agar dapat menyaksikan sabetan-sabetan wayang lebih dekat. Atau dari belakang layar, menyaksikan pergulatan bayangannya, sehingga esensi menonton wayangnya lebih nyata.

Suasana pagelaran begitu ramai, tetapi entah mengapa, aku merasa dingin yang berbeda dan asing di tengah keramaian tersebut. Mungkinkah ini efek mistis yang konon lekat dengan pertunjukkan wayang? Dari obrolan-obrolan bersama Pak Herman, beliau menyatakan bahwa di setiap pementasan wayang, para penonton yang berdatangan untuk menonton, tidaklah semuanya terdiri dari manusia, melainkan ada pula makhluk-makhluk gaib Allah lainnya. Mereka bisa berwujud apa saja, dari manusia normal, orang gila, ataupun mungkin wujud aslinya yang tidak kasat mata.

Memang aku perhatikan di malam-malam pertunjukkan wayang, terutama saat malam keenam, malam pertengahan dari sebelas malam, saat itu tanggal 25 Juli, malam selasa Kliwon, ketika dalang Ki Mas Lurah Cermo Radyo Harsono memainkan lakon “Dewa Ruci”, tidak seperti malam-malam biasanya, saat itu banyak sekali orang gila yang berkeliaran di alun-alun utara, hilir-mudik di antara para penonton lainnya, ikut menyemarakan pementasan wayang. Entah benar atau tidak apa yang dikatakan oleh Pak Herman, namun begitulah suasana yang aku temui di lapangan.

Kiai Jadul Maula bersama Ki Seno Nugroho pada malam terakhir acara 500 tahun Sunan Kalijaga

Ada sebelas lakon yang dimainkan oleh sebelas dalang selama sebelas hari. Terbentuknya sebelas lakon ini merupakan hasil musyawarah para dalang yang sebelumnya telah berkumpul untuk merumuskan lakon-lakon carangan Sunan Kalijaga. Lucunya, dari sekian puluh dalang yang diundang untuk datang berkumpul dan rapat untuk menentukan cerita atau lakon dari pagelaran wayang nanti, satu per satu mereka terseleksi alam dengan sendirinya. Panggilan untuk datang rapat secara terus-menerus selama beberapa hari, waktu bermusyawarah yang panjang dan melelahkan, membuat sebagai dalang yang diundang, mundur perlahan dari partisipasinya di kegiatan peringatan 500th Sunan Kalijaga ini. Hingga kemudian, dalang yang tersisa, yang senantiasa datang dan sanggup bertahan menjalani rapat berhari-hari itu, berjumlah sebelas orang. Jumlah tersebut sesuai dengan jumlah lakon yang mereka musyawarahkan sendiri. Tanpa disengaja, entah mengapa jumlah dari kehadiran dalang tersebut sama persis dengan jumlah lakon yang telah disusun. Suatu kebetulan yang mungkin petunjuk dari Yang Ilahi. Maka waktu pagelaran wayang pun dibuat sebelas malam. Jadi satu lakon dimainkan selama semalam suntuk. Jumlah sebelas lakon, sebelas dalang, dan sebelas malam ini pun mungkin dapat pula dikaitkan dengan tahun dimana kegiatan peringatan 500th Sunan Kalijaga ini berlangsung, yakni 2011. Ada hubungannya atau tidak, semua kesamaan jumlah dari angka sebelas ini menjadi sesuatu yang menarik.

Lucunya, dari sekian puluh dalang yang diundang untuk datang berkumpul dan rapat untuk menentukan cerita atau lakon dari pagelaran wayang nanti, satu per satu mereka terseleksi alam dengan sendirinya.

Sebelas lakon yang berhasil disusun oleh para dalang yang difasilitasi oleh panitia Pesantren Kaliopak sebagai penyelenggara acara peringatan 500th Sunan Kalijaga, antara lain: Lahire Bethara Kala (Rabu, 20 Juli), Jumenengan Yudhistira (Kamis, 21 Juli), Kumbayana (Jumat, 22 Juli), Kartapiyoga MalingSemar Mbarang Jantur – (Sabtu, 23 Juli), Mustakaweni (Minggu, 24 Juli), Dewa Ruci (Senin, 25 Juli), Wahyu Makutarama (Selasa, 26 Juli), Ganda Wardaya (Rabu, 27 Juli), Semar Minta Bagus (Kamis, 28 Juli), Pandhu Swarga (Jumat, 29 Juli), dan Pandhawa Moksa (Sabtu, 30 Juli). Lakon-lakon ini dimainkan secara berturut-turut oleh dalang yang paling senior dan tua, sampai ke dalang yang baru dan muda. Lakon pertama, sebagai lakon pembukaan dan juga merupakan lakon yang paling rumit, yakni “lahire bethara kala”, dimainkan oleh dalang senior Ki Mas Lurah Cermo Sutedjo. Gelar Ki Mas Lurah Cermo merupakan gelar yang disematkan oleh Keraton Yogyakarta kepada dalang-dalang yang telah mengabdikan dirinya sebagai dalang abdi dalam Keraton. Dalang yang memperoleh gelar tersebut adalah dalang yang selama belasan sampai puluhan tahun sudah mementaskan wayang pakem di berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Keraton.

Di malam terakhir, dalang Ki Seno Nugroho, menutup keseluruhan acara pagelaran wayangan sebelas malam di alun-alun utara Keraton Ngayogyakarta dengan penampilan yang begitu memukau. Dalang Ki Seno Nugroho memang dalang junior, yang termuda di antara semuanya, namun pada masa kini popularitasnya sedang meranjak naik sebagai dalang yang paling banyak ditanggap di berbagai acara di Yogyakarta. Darah mudanya, kegesitan sabetannya, kekayaan ekspresi dan power intonasi suaranya, serta lelucon-lelucon segar yang disemburkan selama pagelaran wayangnya, membuat ia begitu digemari dan dielu-elukan oleh penikmat wayang saat ini. Penampilan yang ia sajikan ke hadapan penonton di malam terakhir peringatan 500th Sunan Kalijaga sangat memukau, menjadi malam penutupan yang gemilang, menandakan kesuksesan dari acara ini. Malam itu menjadi malam dengan penonton terbanyak dan terheboh, karena tidak henti-hentinya gelegak tawa terburai ke udara sampai menjelang subuh. Tidak mempedulikan angin malam alun-alun utara yang berhembus ganas, maupun debu-pasir yang berterbangan menampar wajah dan tubuh mereka.

~~Bersambung~~

 


[1] Herman Sinung Janutama dalam “Lakon-lakon Wayang Carangan Karya Kanjeng Sunan Kalijaga”, hal: 22.

*Tulisan ini pernah dipublikasikan di kebunmakna.blogspot.com, sebagai hasil dari catatan etnografis Sarah Monica, dalam acara 500 tahun Sunan Kalijaga pada tahun 2011 yang diselenggarakan oleh Pesantren Kaliopak, Lesbumi Yogya, dibantu Mahasiswa Jurusan Antropologi Universitas Indonesia. Tulisan ini dipublikasikan ulang oleh redaksi Langgar.co untuk mengingat peristiwa kebudayaan yang penting dan pernah terjadi di Yogyakarta, sebagai upaya memperteguh kembali khasanah pengetahuan Nusantara.

Selain itu tulisan ini akan dupublikasikan dalam dua seri. Selamat membaca…

Sarah Monica
Penikmat Seni-Budaya, Pegiat komunitas LITERASHINTA di Abdurrahman Wahid Centre for Peace & Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Pengajar di Pondok Pesantren.