Pertemuan Spiritual dalam Proses Berkesenian

Pada bulan April lalu saya ikut ambil bagian dalam pementasan untuk sebuah kelompok musisi di Berlin. Pementasan yang akan diberi judul “Kiamat” tersebut merupakan sebuah interpretasi album berjudul Alkisah dari sebuah band bernama Senyawa. Saya ditugaskan menulis sebuah prosa untuk pementasan itu.

Sebelum ikut pementasan tersebut, saya tidak pernah mendengar sama sekali tentang band Senyawa. Kawan saya kemudian menjelaskan bahwa Senyawa merupakan band yang berbasis di Yogyakarta dan sudah eksis lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Band ini terdiri dari dua musisi yakni Wukir Suryadi dan Rully Shabara. Lewat lagu-lagu eksperimental dan lirik yang kebanyakan berbahasa Indonesia, mereka telah malang melintang berkonser di berbagai negara. Pada bulan Mei 2022 ini mereka akan kembali berkonser di Berlin. Mungkin bagi anda yang tertarik untuk mendengarkan musik yang unik dan otentik, silakan menilik karya-karya mereka.

Kiamat merupakan salah satu lagu dalam album berjudul Alkisah oleh band Senyawa ini. Selain Kiamat, lagu lainnya dalam album tersebut ialah Kekuasaan, Alkisah I, Menuju Muara, Istana, Kabau, Fasih, dan Alkisah II. Lirik lagu-lagu tersebut saling berkaitan. Salah satunya menggambarkan keadaaan sebuah negara yang kacau balau karena penguasa yang serakah. Pada lagu yang lain menceritakan negeri yang indah dan masih kekeluargaan. Lalu dalam lirik lagu lain diilustrasikan penguasa yang merusak negeri karena ketamakannya. Demikianlah hingga tidak sadar bahwa hari kiamat sudah dekat.

Proses kreatif yang mengikuti emosi dan rasa membuat musik mereka kaya dengan nuansa spiritualitas. Nada yang dihasilkan dalam musik mereka pun begitu khas. Lirik-liriknya pun bisa cukup singkat dan unik. Misalnya dalam salah satu lagu Senyawa berjudul Sujud yang liriknya hanya satu bait seperti berikut:

Saya juga membaca lirik beberapa lagu lain karya Senyawa yang bagi saya sangat menarik. Musik mereka memang cukup khas, bisa dibilang satu terobosan baru sehingga sering disebut-sebut sebagai musik eksperimental. Musik mereka terdengar begitu mistis. Namun yang paling menarik bagi saya adalah lirik-lirik lagunya. Hampir semua lirik lagunya berbahasa Indonesia. Meskipun ada juga ada lirik yang berbahasa daerah. Namun lirik lagu berbahasa Indonesia ini rupanya tidak menghambat para pendengar untuk menikmati musik mereka. Musik mereka sangat bisa diterima, bahkan mendapat sambutan antusias oleh pendengar di luar negeri. Dalam menghasilkan karya lagu, Senyawa mengeksplorasi dan berimprovisasi dengan berbagai bunyi-bunyian. Proses kreatif yang mengikuti emosi dan rasa membuat musik mereka kaya dengan nuansa spiritualitas. Nada yang dihasilkan dalam musik mereka pun begitu khas. Lirik-liriknya pun bisa cukup singkat dan unik. Misalnya dalam salah satu lagu Senyawa berjudul Sujud yang liriknya hanya satu bait seperti berikut:

Kepada bumi kami menghadap

Jatuhkan dahi menuju tanah

Mengubur cahaya di balik mata

Menatap hampa

Meruang angkasa

Lirik itu jelas menggambarkan keadaan orang yang bersujud, yakni ketika dahi mengenai tanah dan mata terpejam. Dalam frase “menatap hampa” dan “meruang angkasa” saya menangkap itu sebagai bentuk kepasrahan, kepasrahan orang yang sedang bersujud. Lirik yang singkat namun bisa membuka sebuah interpretasi yang lebih luas.

Selain bereksperimen dengan teknik musiknya, duo Senyawa juga mencoba bereksperimen dalam sistem mendistribusikan karyanya. Jika biasanya sebuah album dari seorang musisi hanya dibeli atau kontrak oleh satu label musik atau produser saja, Senyawa justru membuka lebar berbagai label untuk merilis albumnya. Dalam album Alkisah ini, mereka melepaskan hak cipta karya mereka dengan memberi kesempatan berbagai label musik atau produser untuk memproduksi dan mendistribusikan lagu mereka, juga mengambil keuntungan darinya. Mereka berharap bahwa melalui sistem distribusi seperti ini, tidak terjadi monopoli dari satu label sehingga label-label kecil juga dapat hidup. Setelah dilepas di tahun 2021 lalu, tercatat sekitar 40-an label musik dari seluruh dunia telah merilis album tersebut. Sistem ini justru tidak memberi kesempatan adanya pembajakan karena karya mereka tidak dimonopoli dan begitu mudah diakses.

Kembali ke proses pementasan saya, salah satu musisi dalam pementasan kami menginformasikan bahwa selain dalam Islam, konsep tentang hari kiamat juga tertulis dalam kitab suci agama Kristen dan Yahudi. Namun untuk kebutuhan pementasa ini, saya cenderung menggunakan perspektif agama Islam. Saya menggunakan perspektif agama Islam karena selain lebih familiar, agama Islam juga merupakan agama mayoritas di Indonesia yang kemungkinan besar memberi pengaruh pada konteks tema kiamat dalam lagu Senyawa.

Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia merupakan fenomena yang unik bagi saya. Seperti kita semua ketahui, Islam lahir dari negara Arab. Namun kini Indonesia menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Melihat sejarahnya, Islam memang telah disebarkan sejak ratusan tahun lalu. Selain ke Indonesia, Islam juga sempat menyentuh benua Eropa lewat Spanyol. Ketika itu kerajaan Ottoman telah mencapai dan berusaha menguasai daerah tersebut. Mungkin karena kemudian Ottoman dikalahkan oleh Spanyol, Islam tidak sempat menyebar luas ke wilayah Eropa lain. Mungkin karena itu juga Islam tidak dipraktekan oleh mayoritas masyarakat di Eropa kini. Meskipun demikian, bekas-bekas kekuasan Islam masih bisa dilihat di Spanyol misalnya masjid Cordoba di Andalusia. Sementara dalam kasus di Indonesia yang dulunya, menurut sejarah, merupakan bekas kejayaan kerajaan Hindu-Budha, kini malah mayoritasnya penduduknya Islam. Pertanyaannya, mengapa Islam begitu diterima oleh Indonesia? Jika Islam disebarkan lewat perdagangan, apakah hanya dengan hubungan dagang masyarakat bisa semudah itu berpindah agama? Saya juga sering mendengar bahwa Islam disebarkan secara damai ke Indonesia, lewat budaya misalnya. Pertanyaanya, mengapa ke Indonesia Islam datang secara damai? Mengapa Islam juga tidak datang dengan cara yang sama ke Eropa? Sepertinya ada banyak cerita yanng masih belum terungkap, mengapa Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia. Terlepas dari semua itu, Islam kini telah mempengaruhi berbagai segi kehidupan dan kebudayaan Indonesia.

Kembali ke proses kreatif saya untuk menulis prosa dalam pementasan ini, saya kemudian mengambil Al-qur’an sebagai sumber referensi. Rupanya saya mendapatkan inspirasi yang luar biasa dari ayat-ayat Al-qur’an. Al-qur’an menyebutkan banyak informasi tentang hari kiamat yang tersebar secara sporadis dalam ayat-ayatnya. Tema tentang hari Kiamat pun memiliki berbagai nama atau sebutan yang beragam. Disana dijelaskan apakah hari kiamat itu, apa yang akan terjadi, peringatan dan harapan bagi manusia. Semuanya tertulis dengan bahasa yang gamblang namun tetap indah. Saya begitu terpukau dengan rangkaian kata-kata yang begitu mistis nan puitis dalam ayat-ayat Al-qur’an. Gaya bahasanya tersaji seperti sebuah cerita yang dapat membangun imajinasi pembacanya. Terinspirasi dari ayat-ayat Al-qur’an tersebut, saya pun dapat merangkai 7 bait prosa.

Saya begitu terpukau dengan rangkaian kata-kata yang begitu mistis nan puitis dalam ayat-ayat Al-qur’an. Gaya bahasanya tersaji seperti sebuah cerita yang dapat membangun imajinasi pembacanya. Terinspirasi dari ayat-ayat Al-qur’an tersebut, saya pun dapat merangkai 7 bait prosa.

Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa lewat lagu Kiamat oleh Senyawa, disambung dengan proses pementasan saya, saya dapat melihat Islam dari perspektif yang lain. Di Indonesia, saya tahu umat muslim cukup dipermudah, misalnya ada banyak masjid, jam kerja yang cukup ramah dengan jam ibadah solat, dan sebagainya. Namun masih juga ada masalah misalnya agama minoritas kadang masih mendapat diskriminasi. Fenomena sebaliknya terjadi ketika saya berada di Jerman. Kemudahan-kemudahan bagi muslim tidak saya dapatkan seperti di Indonesia. Selain juga harus menghadapi pandangan masyarakat yang tidak begitu ramah dengan muslim. Saya masih mendengar prasangka dan ketidak-ramahan dengan muslim. Kedua fenomena yang bertolak belakang itu justru membawa saya untuk mencari tahu, apa sebenarnya arti menjadi muslim, dan apa itu Islam. Selama ini apa yang saya dapatkan tentang Islam di Indonesia memang lebih banyak hafalan, tanpa tahu maksud apa dibaliknya. Membaca Al-qur’an menjadi pelatuk bagi saya untuk mencari tahu maksud dari ajaran Islam dengan pemikiran logis. Sehingga, dan semoga, saya tidak terjebak pada kepatuhan yang buta.

Dari grup Senyawa saya juga belajar, bahwa musik adalah sesuatu yang universal. Bahkan dengan lirik berbahasa Indonesia pun, musik mereka bisa mendapat sambutan yang begitu antusias di berbagai negara. Selain itu saya juga mendapat perspektif lain mengenai arti seniman dan karyanya. Karya hendaknya bukan lagi menjadi alat untuk memonopoli, yang seringkali bisa dimanfaatkan oleh pemilik modal. Senyawa semacam “mengikhlaskan” karyanya lewat album Alkisah untuk diapresiasi dan dimanfaatkan seluas-luasnya bagi penikmatnya. Melalui sistem baru itu mereka juga membuka harapan, bahwa dominasi tidak akan hidup, desentralisasi adalah sistem di masa depan.


Foto Ilustrasi by; Insan Kamil

Umi Maisaroh
Tengah mengerjakan master-tesis di Freie Universität Berlin, tinggal di Berlin, namun pikirannya tak henti melanglang buana. Instagram: umilaut