…Saur taan Ajung Larang: “Jo(m)pong sia pulang deui, ini bawa pa(ngi)riming,

bawa ma ka tuang a(m)bu. Ci(ng) kurang na picarekeun: “Seupaheun pananya tineung, ti na Taan Ajung Larang Sakean Kilat Bancana.

…Dingaran si Jompong Larang,  saa(ng)geus katalatahan

saleu(m)pang ti kadatuan, leu(m)pangna sasuhun ebun, teher nanggeuy pasileman, tehema saais boeh….

…Putri Ajung Larang berkata: “Jompong, kembalilah. Ambil benda-benda ini (sebagai hadiah dariku),

bawa benda-benda ini pada ibu. Tolong beri tahu atas namaku: “(ini adalah) sugi untuk mengingatkan akan diriku,

dari Putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana.

…Dia yang bernama Jompong Larang, setelah menerima perintah itu, meninggalkan istana, berjalan dengan peti di atas kepalanya, membawa baki berisi pinang di tangannya, memegang pakaian di tangannya yang lain….

 

Syahdan, selepas mendengar informasi mengenai Ameng Layaran dari si Jompong Larang, Putri Ajung Larang Sakéan Kilat Bancana pun terpesona dan terpikat hatinya oleh laki-laki itu. Meskipun belum berjumpa secara langsung, penggambaran mengenai tampilan fisik dan kepribadian Ameng Layaran oleh si Jompong Larang membuat sang putri merasa bahwa jejaka itulah yang selama ini ia idam-idamkan.

Oleh karena itu, Ajung Larang pun bergegas menyiapkan sirih-pinang—seupaheun—serta benda-benda lainnya seperti perabotan, kain-kain, minyak wangi, serta keris guna dikirimkan kepada Ameng Layaran melalui utusannya, si Jompong Larang. Melalui tanda mata itu, ia mengirimkan pesannya dengan jelas: Putri Ajung Larang memiliki maksud tertentu terhadap sang jejaka; dan jika Ameng Layaran berkenan, sang putri sendirilah nanti yang akan menghadapnya secara langsung.

Demikianlah sekelumit kisah yang terekam dalam naskah Bujangga Manik. Sebuah naskah berbahasa Sunda Kuna yang ditulis pada daun lontar dan diperkirakan berasal dari abad keenam belas. Secara umum, naskah tersebut mengisahkan perjalanan hidup Bujangga Manik atau Ameng Layaran, seorang pangeran yang berasal dari Pakuan—suatu kawasan yang saat ini masuk wilayah Bogor.

Selain mengetengahkan kisah pengelanaan Pangeran Jaya Pakuan—nama lain Bujangga Manik—ke berbagai wilayah di Pulau Jawa hingga Bali, naskah tersebut juga memotret sebagian perilaku kehidupan sosial masyarakat Sunda saat itu. Salah satu perilaku tersebut adalah—sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya—penggunaan pinang-sirih sebagai media komunikasi antara seseorang dengan lainnya saat ia memiliki keperluan khusus tertentu terhadap liyan.

Demikian disebutkan di dalam naskah itu, bahwa kemudian si Jompong Larang berangkat menghadap Ameng layaran dan ibunya di kediaman mereka. Ia menghadap dengan membawa seupaheun dan tambahan benda-benda lainnya seraya menghaturkan pesan yang dititipkan Puteri Ajung Larang. Menurut naskah tersebut, Ameng layaran menolak keinginan sang puteri. Ia pun mengutus ibunya untuk menghadap Ajung Larang guna menyampaikan jawabannya. Tentu saja dengan membawa kembali seupaheun dan barang-barang lainnya itu.

Seperti itulah gambaran cara komunikasi yang dibangun pada masyarakat Sunda dahulu kala. Saat seseorang menghendaki sesuatu yang ada hubungannya dengan orang lain, ia akan mengirim utusan dengan membawa seupaheun dan barang-barang tambahan lainnya. Segera setelah pesan itu diterima dan disetujui, jika memang diperlukan, maka seseorang itu akan menemui pihak lain tersebut secara langsung. Seupaheun memainkan peran penting di dalam menjalin komunikasi antar person dalam relasi sosialnya.

Saat seseorang menghendaki sesuatu yang ada hubungannya dengan orang lain, ia akan mengirim utusan dengan membawa seupaheun

Seupaheun

Seupaheun dan Tumpang Seupaheun sebagai Sasajen

Terpaut ratusan tahun kemudian setelah penulisan naskah Bujangga Manik tersebut, cara komunikasi masyarakat Sunda lama semacam itu masih dapat dilacak keberadaan dan praktiknya di—salah satunya—Kasepuhan Girang, salah satu dari sekian kasepuhan yang tergabung dalam Kesatuan Adat Banten Kidul. Di dalam tata kehidupan sosial masyarakat Kasepuhan Girang, penggunaan sirih-pinang atau seupaheun dalam komunikasi adalah hal yang lumrah dilakukan.

Saat seorang warga Kasepuhan memiliki keperluan tertentu terhadap Abah selaku pimpinan Kasepuhan, misalnya, maka ia akan meminta salah seorang baris kolot untuk melakukan carita—berbicara menyampaikan maksud dan tujuannya—kepada Abah di kediamannya dengan membawa seupaheun—laiknya disebutkan pada naskah Bujangga Manik—dan tambahan benda-benda lainnya yang dalam bahasa mereka disebut sebagai tumpang seupaheun. Tumpang seupaheun ini dapat berupa uang, kue-kue, kain atau barang lainnya, bahkan meski hanya sebungkus rokok sekalipun, tergantung kemampuan dan kesanggupan masing-masing orang.

Setelah seupaheun dan tumpang seupaheun serta maksud dan tujuan yang dikehendaki disampaikan oleh baris kolot yang jadi utusan itu dan kemudian hal tersebutditerima oleh Abah, maka barulah kemudian orang yang bersangkutan dapat berkomunikasi langsung dengan Abah. Demikian pula jika ada orang luar yang hendak mengunjungi Kasepuhan. Ia akan didampingi oleh baris kolot atau petugas khusus yang akan menjadi utusan atau perantara dirinya dengan Abah. Prosesi penyerahan seupaheun dan tumpang seupaheun ini berlangsung secara khidmat melalui salaman khusus dan umpak carita—susunan kata-kata khusus—yang dihaturkan guna menjelaskan keperluan yang dibawa.

Di dalam komunikasi antarwarga juga demikian. Saat seseorang hendak melakukan hajatan atau ruwatan dengan pantun, misalnya, maka sebelum pantun digelar, ia akan menghadap juru pantun dengan seperangkat perlengkapan berupa pinang-sirih serta kue-kue, rurujakan, dan lainnya. Ia lalu akan bersalaman secara khusus dan memasrahkan bawaannya sebelum kemudian mengucapkan umpak caritaguna menyampaikan maksudnya, meminta ki jurupantun meruwat dalam acara hajatan yang dihelatnya.

Singkatnya, dalam relasi sosial mereka, saat seseorang memiliki keperluan khusus terhadap orang lain, maka ia akan menghadap atau mengirim utusan untuk menghadap kepada orang tersebut guna melakukan carita yang biasanya dilengkapi dengan membawa seupaheun dan tumpang seupaheun. Bahkan, dalam siklus tahunan kehidupan masyarakat Kasepuhan, prosesi caritaini—yang rutin dan mudah diobservasi—akan dilangsungkan terhadap orang tua mereka setidaknya tiga kali. Ketigacarita itu adalah carita ngaseuk sebelum menanam padi, carita mipit sebelum memanen padi, serta carita balik di saat ponggokan—masa jeda antara panen dan upacara seren taun. Dalam praktiknya, carita ini memiliki banyak variannya, tergantung terhadap siapa carita itu dilakukan. Carita ini dapat berupa umpak carita, doa amit, sadi buhun, atau sekadar ngabasaan.

Demikianlah, di dalam cara komunikasi pada kehidupan sosial masyarakat Kasepuhan Girang, prosesi carita, seupaheun dan tumpang seupaheun memainkan peranan penting. Bahkan menariknya, prosesi carita lengkap dengan membawa seupaheun dan tumpang seupaheun di dalam komunikasi ini tidak hanya dilakukan terhadap sesama manusia, melainkan juga terhadap wujud-wujud di luar manusia, misalnya terhadap tanah, pohon, padi, hewan, atau sesuatu yang intangible seperti karuhun—leluhur—dan makhluk tak kasat mata lainnya. Dalam hal ini, biasanya orang-orang kerap mengidentifikasi perilaku tersebut sebagai, misalnya, persembahan sasajen—sesaji.

Menelusuri bagaimana sesungguhnya makna dari sasajen pada cara komunikasi yang dilakukan oleh masyarakat Kasepuhan Girang ini sangatlah menarik. Sebab, hal itu sangat unik, berbeda dari kebiasaan masyarakat kebanyakan. Bahkan, perilaku yang demikian itu—terutama dalam praktik sasajen—rawan disalahpahami dan dilabeli negatif. Sasajen—dalam pandangan mayoritas masyarakat—kerap dipahami sebagai simbol relasi hierarkis antara dua subjek berbeda.

Sasajen—dalam pandangan mayoritas masyarakat—kerap dipahami sebagai simbol relasi hierarkis antara dua subjek berbeda.

Guna mengetahui makna sasajen pada cara komunikasi yang dipraktikkan oleh masyarakat Kasepuhan Girang, adalah penting untuk memahami terlebih dahulu worldview atau pandangan dunia mereka. Dengan begitu, akan diketahui bagaimana mereka mengidentifikasi diri serta liyan dan jemalin relasi yang terbentuk di dalamnya. Dengan memahami hal itu, maka perilaku mereka di dalam berkomunikasi akan dapat dipahami secara utuh.

Seupaheun dan tumpang seupaheun dalam bokor.

Masyarakat Kasepuhan Girang dan Person Lain Selain Manusia

Secara umum, masyarakat Kasepuhan Girang adalah petani. Berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya, bertani bagi mereka adalah kewajiban dan jalan hidup; bukan profesi yang ditekuni semata-mata guna menghasilkan uang dan memenuhi kebutuhan serta keinginan. Bertani adalah rurukan, pokok. Mereka boleh menjadi pedagang, menjadi guru, wiraswasta atau profesi lainnya, tetapi bertani adalah hal yang tak boleh ditinggalkan—wajib.

Berbeda dengan mayoritas petani yang ada, masyarakat Kasepuhan tidak menghelat pertaniannya berdasarkan pada ketersediaan air atau musim, melainkan pada siklus rasi bintang tertentu. Ada dua rasi bintang yang dijadikan patokan di dalam pertanian mereka, yakni rasi bintang Kidang dan Kerti—Orion dan Pleides. Oleh sebab itu, mereka hanya bertanam sekali dalam setahun, sesuai dengan siklus kemunculan dan tenggelamnya kedua rasi bintang tersebut.

Huma adalah rurukan dalam bertani, di samping sawah. Berbeda dengan sawah yang monokultur, huma adalah pertanian polikultur yang bermediakan lahan kering di bukit-bukit. Dalam sistem pertanian huma, beragam tanaman dipelihara pada lahan yang sama, mulai dari padi, sayur-mayur, herba, hingga kayu keras. Pertanian huma juga tidak mensyaratkan pengubahan kontur lahan. Bukit-bukit yang dijadikan huma utuh pada bentuk asalnya, tidak perlu dibuat terasering atau semacamnya. Begitu pula, pohonan kayu yang sudah sejak semula tumbuh di lahan tidak perlu ditebang. Sistem pengairan huma sepenuhnya mengandalkan hujan, sehingga tidak boros air seperti sawah.

Sistem pertanian yang dilangsungkan oleh masyarakat Kasepuhan Girang membuat mereka memiliki relasi yang sangat lekat dengan tanah, hutan, gunung dan lingkungan alam sekitarnya. Kelekatan relasi ini bahkan tidak hanya berhenti pada beragam wujud yang ada di bumi seperti yang telah disebutkan tadi, melainkan juga terhadap wujud-wujud di angkasa semisal kedua rasi bintang yang dijadikan patokan dalam pertanian serta benda-benda langit lainnya.

Kelekatan relasi mereka dengan wujud-wujud tersebut membuat masyarakat Kasepuhan memahami karakter masing-masing wujud itu. Akumulasi pengalaman langsung mereka dalam relasi yang dibangun maupun pengetahuan yang diturunkan dari generasi ke generasi melalui, misalnya, cacahan dan pantun membuat identifikasi mereka atas wujud-wujud selain manusia itu berbeda dengan orang kebanyakan. Bagi mereka, wujud-wujud semisal tanah, air, hutan, hewan, atau bintang adalah subjek yang serupa dengan mereka, lengkap dengan segala karakter dan kehendaknya. Dengan begitu, mereka memahami bahwa apa yang mereka perbuat terhadap wujud-wujud tersebut akan direspon oleh wujud-wujud itu dan berefek terhadap kehidupan mereka serta semesta, baik efek negatif maupun positif.

Oleh karena itu, bagi mereka, wujud-wujud selain manusia tersebut—yang biasa disebut alam—bukanlah benda-benda mati yang tak berarti, melainkan suatu subjek yang memiliki hidup dan kehidupannya masing-masing. Gunung dan hutan, misalnya, adalah subjek yang memberi mereka suplai air, buah-buahan dan binatang untuk diambil manfaatnya. Saat manusia berani mengganggu keduanya, maka mereka akan merespons dengan cara mereka yang itu dimengerti oleh masyarakat Kasepuhan sebab adanya kelekatan relasi di antara mereka.

Begitu pula dengan tanah atau bumi yang menjadi media tumbuhnya padi, pohon dan makhluk-makhluk lainnya. Bagi masyarakat Kasepuhan, bumi adalah ibu sebab memang ia berkarakter ibu dalam pemahaman mereka. Bumilah yang mengandung, melahirkan, dan mengasuh padi hingga tumbuh dengan baik dan menghasilkan beras—begitu pula dengan tanaman lainnya. Bumilah yang mengasuh dan mengayomi hampir seluruh wujud yang hidup di atasnya, termasuk manusia, tanpa pilih kasih dan menuntut balas.

Bagi masyarakat Kasepuhan, bumi adalah ibu sebab memang ia berkarakter ibu… Bumilah yang mengandung, melahirkan, dan mengasuh padi hingga tumbuh dengan baik… Bumilah yang mengasuh dan mengayomi hampir seluruh wujud yang hidup di atasnya, termasuk manusia, tanpa pilih kasih dan menuntut balas.

Demikian pula, langit adalah bapak yang mencurahkan kasih sayangnya berupa air hujan kepada ibu bumi, yang dengan itu bumi memberikan nutrisi demi tumbuhnya beragam tanaman dan pohonan yang berguna bagi manusia dan juga binatang.  Benda-benda angkasa semisal rasi bintang Kidang dan Kerti diidentifikasi sebagai Guru Desa. Guru dalam artian sebenarnya sebab kehadirannya membawa petunjuk dan pengetahuan bagi mereka guna menghelat pertanian.

Siloka—peribahasa—tanggal Kerti turun wesi, tanggal Kidang turun kujang atau surup Kidang turun kungkang adalah pengetahuan yang dibawa oleh Guru Desa tersebut. Tanggal Kerti turun wesi (saat bintang Kerti muncul, waktunya besi turun) berarti patokan waktu bagi mereka mempersiapkan peralatan pertanian; tanggal Kidang turun kujang (saat bintang Kidang muncul, waktunya kujang turun) berarti waktu mengolah lahan dan bertanam sudah tiba; surup Kidang turun kungkang (saat bintang Kidang tenggelam, waktunya hama muncul) berarti waktu bagi mereka untuk segera memanen tanaman dan tidak boleh menanam lagi hingga muncul tanda berikutnya karena hama akan datang merusak. Siloka hasil dari belajar kepada Guru Desa tersebut benar-benar dipraktikkan di tengah-tengah mereka. Tidak ada yang berani melanggar.

Begitu pula dengan padi. Padilah adalah Sri, bukan karena ada spirit tertentu yang menguasai atau menunggunya, melainkan karena peran dan fungsinya yang vital di dalam kehidupan mereka. Padi memberi kehidupan kepada mereka, menjadi sumber tenaga atau energi. Jadi getih, jadi daging, jadi bayah kalilipa, demikian ungkapan yang populer di tengah-tengah mereka. Mereka tak bisa hidup tanpa padi, sebab beras adalah makanan pokoknya. Juga sebaliknya,tanpa mereka, padi tak akan tumbuh. Sebab itulah padi dinamai Sri, karena—menurut mereka—padi itu sama dengan manusia. Sama-sama subjek yang saling memerlukan; subjek yang hidup dengan peran dan fungsinya tersendiri di dunia ini laiknya manusia.

Ungkapan hirup na eling, hirup na nyaring dan hirup na cicing yang dikenal di tengah masyarakat Kasepuhan menandai pengakuan akan hadirnya subjektivitas wujud-wujud nonmanusia semacam padi, bumi, bintang, atau hutan pada semesta ini. Hirup na eling berarti “hidup berdasarkan pada kesadaran dan alam pikirnya”. Menurut mereka, inilah posisi manusia. Hirup na nyaring berarti “hidup berdasarkan pada geraknya”, inilah hidup para binatang dan wujud bergerak lainnya. Adapun hirup na cicing berarti “hidup berdasarkan pada diamnya”, inilah hidup wujud-wujud semacam batu, pohonan dan wujud lain yang semisalnya. Bagi mereka, wujud-wujud nonmanusia itu—berdasarkan fungsi dan perannya—sama-sama hidup dan memiliki karakternya masing-masing. Mereka adalah—meminjam istilah Hallowell—other-than human persons, personperson lain selain manusia.

Mereka memahami bahwa di luar manusa sebagai diri yang subjektif ada juga subjek lain salian ti manusa.

Demikianlah masyarakat Kasepuhan Girang mengidentifikasi diri dan liyan. Mereka memahami bahwa di luar manusa sebagai diri yang subjektif ada juga subjek lain salian ti manusa. Kelekatan relasi mereka dengan wujud-wujud di luar diri pada semesta ini membuat mereka mengidentifikasi hadirnya sosok-sosok lain selain manusia. Terkait dengan tema pembahasan kali ini, penting kemudian untuk mengetahui bagaimana relasi yang terjalin di antara masyarakat Kasepuhan Girang dengan para subjek atau para person selain manusia tersebut. Guna mengetahui hal itu, memahami kosmologi mereka adalah pintu masuk yang harus dilalui selanjutnya.

Kosmologi dan Worldview Masyarakat Kasepuhan Girang

Secara kosmologis, masyarakat Kasepuhan Girang membagi semesta ini ke dalam tiga bagian utama, yakni apa yang mereka sebut sebagai alam lahir, alam batin, serta alam padang poe panjang. Secara ringkas, alam lahir dapat dipahami sebagai dunia dengan seluruh wujudnya yang tangible, dapat diindra; alam batin adalah alam bagi wujud-wujud yang intangible namun eksistensinya dapat diketahui dan dirasakan; sedangkan alam padang poe panjang adalah alam yang berada di luar ruang dan waktu, berbeda dengan dua alam sebelumnya yang terikat ruang dan waktu.

Para penghuni alam lahir sangatlah banyak jenis dan wujudnya, misalnya manusia, binatang, tumbuhan, benda padat dan cair, planet dan matahari serta lain sebagainya. Demikian pula dengan para penghuni alam batin, misalnya karuhun, silumanatausileman. Adapun penghuni alam padang poe panjang adalah Dia anu gaduhna—pemilik segalanya. Dia yang kepadanya seluruh kehidupan akan kembali.

Bagi masyarakat Kasepuhan, beragam wujud dan jenis dari penghuni ketiga alam pada semesta ini—baik yang teriindera maupun tidak—secara garis besar terbagi menjadi dua, yakni manusahuman beings—dan salian ti manusa, non-human beings. Dalam hal ini, terhadap wujud-wujud tertentu dari kelompok salian ti manusa, mereka kerap menggunakan terma batur—suatu kinship term dalam bahasa Sunda yang merujuk kepada person lain yang tidak memiliki hubungan darah dan kekerabatan dengan diri/ego.

Contoh penggunaan terma batur ini misalnya alih-alih menyebut hama terhadap wereng, belalang, tikus atau babi, mereka justru menyebutnya sebagai batur. Begitu pula terhadap beberapa wujud intangible tertentu dari kelompok salian ti manusa, misalnya terhadap siluman atau sileman, terma batur ini kerap dialamatkan. Penggunaan kinship term terhadap wujud-wujud tertentu dari kelompok salian ti manusa ini menguatkan tanda bagi adanya kategori person atau subjek lain selain manusia.

Dalam pandangan masyarakat Kasepuhan Girang, ketiga alam kosmologis beserta seluruh wujud yang ada di dalamnya itu tidaklah terpisah atau berjarak. Baik alam lahir, alam batin, maupun alam padang poe panjang beserta seluruh wujud di dalamnya senantiasa terelasi dan terkoneksi antara satu dengan lainnya.

Dalam pandangan masyarakat Kasepuhan Girang, ketiga alam kosmologis beserta seluruh wujud yang ada di dalamnya itu tidaklah terpisah atau berjarak. Baik alam lahir, alam batin, maupun alam padang poe panjang beserta seluruh wujud di dalamnya senantiasa terelasi dan terkoneksi antara satu dengan lainnya. Bagi mereka, para penghuni ketiga alam tersebut tetap dapat menjalin hubungan maupun saling berbagi. Karenanya, tak heran jika—misalnya—karuhun yang berada di alam batin senantiasa dimintai restunya melalui upacara-upacara tertentu. Dalam hal ini, masyarakat Kasepuhan memahami adanya keterpaduan dan interdependensi semesta.

Secara konseptual, pandangan masyarakat Kasepuhan Girangakan keterpaduan dan interdependensi semesta dalam konstruksi kosmologisnya ini tampak pada silokatilu sapamulu yang popular di tengah-tengah mereka. Lengkapnya, siloka tersebut berbunyi tilu sapamulu, dua sakarupa, hiji eta keneh. Secara bebas, bunyi siloka tersebut dapat diterjemahkan menjadi “tiga pada mulanya, dua sewajah, satu ya itu-itu juga”. Dalam konsep tilu sapamulu ini, segala bebagian dalam semesta dipahami sebagai suatu kesatuan utuh. Tilu adalah simbol bagi yang jamak, di mana yang jamak ini selalu dipahami sebagai dua sakarupa atau pasangan koeksistensial, dan karena itulah maka ia dipahami sebagai suatu kesatuan utuh atau hiji eta keneh.

Bagi masyarakat Kasepuhan Girang, kehidupan pada semesta ini senantiasa diidentifikasi dalam pola tilu sapumulu tersebut. Karenanya, bagi mereka, ketiga alam kosmologis itu—beserta seluruh penghuninya—adalah sakuren atau pasangan koeksistensial—dua sakarupa—di mana jika salah salah satunya hilang maka ambruklah seluruh eksistensi ini. Dalam hal ini, ketiga alam tersebut tidak dipahami sebagai hal yang berbeda dan tersekat, apalagi beroposisi biner, melainkan pasangan yang saling mengadakan, terikat dalam relasi yang interdependen. Karena itu, ketiga alam kosmologis yang merupakan pasangan itu—bagi mereka—pada hakikatnya adalah satu, hiji eta keneh.

Keselamatan manusia hanya bisa digapai dengan cara menjaga keselamatan bersama secara bersama-sama dengan subjek-subjek lain selain manusia itu.

Untuk itulah, bagi mereka, tidak ada cara lain yang dapat dilakukan guna menjaga eksistensi dan keselamatan manusia selain dari menjaga keselarasan atau keseimbangan semesta. Tidak ada keselamatan hanya bagi manusia. Keselamatan manusia hanya bisa digapai dengan cara menjaga keselamatan bersama secara bersama-sama dengan subjek-subjek lain selain manusia itu. Saling menjaga satu sama lain di antara wujud-wujud yang ada di ketiga alam ini adalah kunci bagi kelangsungan eksistensi semesta, termasuk manusia di dalamnya. Jika ada satu saja pihak yang terganggu, tersakiti atau punah, maka keseimbangan semesta akan terganggu, dan itu artinya ancaman bagi kelangsungan hidup dan keselamatan manusia. Dalam hal ini, mereka memahami bahwa manusia tidak dapat berdiri sendiri atau menyelamatkan dirinya sendiri dengan cara membiarkan liyan menjadi rusak atau punah.Caina herang, laukna beunang—menangkap ikan tanpa harus membuat keruh airnya. Demikian ungkapan dalam bahasa Sunda yang cukup popular.

Guna mewujudkan keseimbangan semesta yang berarti keselamatan bersama ini, maka—bagi masyarakat Kasepuhan—seluruh wujud baik itu dari kelompok manusia maupun nonmanusia mesti bekerja sama, saling berbagi, dan saling menghormati. Tanpa hal-hal tersebut, maka bahaya, bencana, serta beragam kesulitan hidup hingga kepunahan manusia akan senantiasa mengancam.

Berdasarkan pandangan dunia semacam ini, maka wujud-wujud di dalam semesta ini—bagi masyarakat Kasepuhan—baik dari golongan manusia maupun nonmanusia adalah subjek-subjek aktif dan memiliki peran penting laiknya manusia. Maka dengan begitu, relasi yang terjalin di antara mereka kemudian adalah relasi antarsubjek yang setata antara satu dengan lainnya dengan tugas dan fungsi khususnya masing-masing di dalam semesta. Relasi yang demikian ini dapat disebut sebagai—meminjam istilah Morrison—relasi intersubjektif.

Dalam kategori antarsubjek ini, maka relasi hierarkis antara manusia dan wujud-wujud tangible lainnya seperti sungai, gunung, hutan atau—apa yang disebut oleh sebagian orang sebagai—alam tidak dipahami di dalam pandangan dunia masyarakat Kasepuhan. Alam bukan subordinat bagi manusia. Begitu pula dengan relasi terhadap wujud-wujud yang intangible semisal karuhun. Sebab, mereka semua adalah subjek yang sama dengan manusia, yang memiliki peran dan fungsinya masing-masing di dalam semesta ini. Hal yang hadir dalam relasi mereka adalah penghormatan atas masing-masing subjek dalam konteks saling menjaga, berbagi dan tanggung jawab—mupusti. Demikianlah pandangan dunia masyarakat Kasepuhan Girang yang menjadi landasan bagi perilaku mereka di dalam semesta ini.

 Sasajen, Saajen

Berdasarkan pandangan dunia semacam itu, maka bukanlah suatu hal yang mengherankan jika kemudian masyarakat Kasepuhan melakukan carita dengan membawa seupaheun dan tumpang seupaheun—yang kerap disebut sasajen—terhadap wujud-wujud selain manusia saat mereka memiliki keperluan tertentu terhadap wujud-wujud itu. Karena bagi mereka, wujud-wujud selain manusia itu adalah subjek atau person laiknya manusia. Misalnya, saat hendak menanam padi, mereka akan melakukan carita di huma terhadap tanah, padi, angin, air serta hewan dengan menghadirkan seupaheun. Hal semacam itu mereka lakukan sebagai suatu upaya guna membangun relasi dan koneksi dengan—serta menunjukkan penghormatan terhadap—wujud-wujud atau para person selain manusia tersebut. Karenanya, cara komunikasi yang dilakukan pun tak berbeda dengan cara komunikasi yang mereka lakukan terhadap tetangganya di kampung, sesama manusia.

… bagi mereka, manusia hanyalah dapat menanam benih dan membersihkan huma, sedangkan yang memberi nutrisi makanan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup padi adalah tanah, air dan angin.

Di dalam doa amit yang dibacakan di huma, mereka akan menitipkan benih padi terhadap tanah, angin dan air untuk diasuh dan dibesarkan bersama. Sebab, bagi mereka, manusia hanyalah dapat menanam benih dan membersihkan huma, sedangkan yang memberi nutrisi makanan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup padi adalah tanah, air dan angin. Terhadap hewan, mereka juga akan meminta untuk tidak mengganggu lahan pertanian itu. Bagi masyarakat Kasepuhan, mereka semua itu adalah subjek-subjek lain selain manusia yang memang dibutuhkan untuk terlibat di dalam pertanian itu—berbagi, saling menjaga dan saling menghormati. Karenanya, wajar jika mereka disebut dalam carita.

Selain itu, dengan pandangan dunia semacam ini, maka relasi hierarkis yang senantiasa dipahami oleh kebanyakan orang atas perilaku komunikasi—sasajen—yang dilakukan masyarakat Kasepuhan semacam itu menjadi jauh panggang dari api. Prinsip interdependensi dan keterpaduan semesta dalam siloka tilu sapamulu yang dipahami mereka mementahkan klaim relasi hierarkis tersebut.Karenanya, praktik sasajen yang dilakukan di kalangan masyarakat Kasepuhan tidaklah bermakna migusti—menyembah—melainkan suatu perilaku mupusti—penghormatan. Dalam hal ini, sasajen menjadi simbol saajen—kesetataan. Carita—dengan seupaheun dan tumpang seupaheun-nya—yang dihelat antara manusa dan salian manusa, dalam konteks yang demikian ini, bukanlah suatu ritus peribadatan, melainkan suatu rekontekstualisasi relasi di antara para person yang setata demi keselamatan dan keseimbangan semesta. []

 

Daftar Pustaka

Darsa, Undang A. dan Edi S. Ekadjati. 2006. Gambaran Kosmologi Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Hallowell, A. Irving. 1960. “Ojibwa Ontology, Behaviour, and Worldview”, Culture and History. New York: Columbia University Press.

Harvey, Graham at. all. 2000. “The Cosmos as Intersubjective: Native American Other-thanhuman Persons”, Indigenous Religions a Companion. London and New York: Cassell.

Maarif, Samsul. 2017. Pasang Surut Rekognisi Agama Leluhur dalam Politik Agama di Indonesia. Yogyakarta: CRCS.

Masuzawa, Tomoko. 2005. The Invention of World Religions. Chicago and London: The University of Chicago Press.

Sumardjo, Jakob. 2003. Simbol-Simbol Artefak Budaya Sunda. Bandung: Kelir.

———–. 2015. Sunda; Pola Rasionalitas Budaya. Bandung: Kelir.

A. S. Sudjatna
A. S. Sudjatna, kelahiran Subang, Jawa Barat. Penikmat sastra dan acara-acara budaya serta pemerhati agama lokal. Alumni Kajian Agama dan Lintas Budaya UGM, Yogyakarta. Saat ini bekerja sebagai peneliti dan editor lepas.