Songsong gora candraning hartati// lwir winidyan saro seng parasdya// ringa-ringa pangriptante// tan darbe labdreng kawruh// angruruhi wenganing budi// kang mirong ruhareng tyas// jaga angkara nung// minta luwaring duhkita// aywa kongsi kewran lukiteng kinteki// kang kata ginupita (Ranggawarsita, 1987:237).

Pesan pembuka dalam Serat Cemporet ini begitu anggun, indah dan mempesona bagaikan nilai-nilai adiluhung tiada duanya dan bagaikan mutiara tiada tandinganya. Ditulis dengan bahasa Jawa krama halus yang sulit dimengerti bagi masyarakat Jawa tingkat bawah. Tidak jarang serat ini banyak celaan dan ejekan karena bahasa sastranya terlalu tinggi dan tidak jarang pula ada yang mengatakan serat ini hanya halusinasi dan kepura-puraan.

Serat Cemporet ini ditulis sebelum masyarakat Jepang datang ke Indonesia bahkan sampai sekarang serta ini masih digemari. Cerita yang dihadirkan dalam serat ini begitu sangat memikat dan memukau para pembaca. Pintarnya sang pujangga dalam menghubungkan cerita memang mumpuni, tidak heran setelah sang pujangga meninggal tidak ada lagi yang bisa menggantikan posisinya dalam pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat. Lakon yang dimunculkan dalam serat ini tidak hanya manusia saja, tetapi juga menghadirkan penghuni atau para lelembut dunia ghaib beserta hewan-hewan.

Point of view dalam serat ini sebenarnya bukan cerita yang dihadirkan oleh sang pujangga mengenai sejarah kerajaan-kerajan kuno seperti kerajaan Purwacarita di bawah raja Sri Maha Punggung tetapi poin pentingnya dalam Serat Cemporet ini, sang pujangga ingin memberikan nilai-nilai adiluhung atau petuah-petuah arif dari nenek moyang yang harus dilaksanakan oleh generasi sekarang yang sudang mengindahkan petuah-petuah arif dari nenek moyang terdahulu.

Amikanken ing reh pudyastuti// myang pangkataning panatagama// matrap darmeng kotamamne// kang paman Sri Matahun// Prabu Jayakusuma nguni// memradi madu basa// basukining laku// amengku reh natapraja// kang dadya wit santosaning narapati// kretarta wiratama(Ranggawarsita, 1987:276).

Ilmu pengetahuan Weda gunanya untuk mengetahui masalah puji serta sembah// tataran dalam jabatan keagamaan// melaksanakan darma yang utama. Sedangkan pamannya Sri Matahun// yang bergelar Prabu Jayakusuma// mendidik dalam masalah kebahasaan yang baik// perilkau yang menjurus ke arah keselamatan// ilmu pemerintahan// yang menjadi pangkal keselamatan raja// untuk menciptakan kewiraan yang utama.

Dalam bait ini ketika ditarik dalam persoalan agama Islam, generasi sekarang sudah mulai mengindahkan ilmu pengetahuan agama yang membimbing dirinya menuju keselamatan di dunia dan di akhirat. Mereka yang sudah dikuasai oleh alat telekomunikasi dalam soal ilmu agama tidak mau belajar kepada ulama yang sanad keilmuannya sudah dipastikan validitasnya. Mereka lebih suka belajar ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama melalui dunia maya (google) yang mana terkait sanad keilmuannya tidak jelas dan bahkan tidak ada.

Pesan yang tersirat dalam bait ini menjadi jelas ketika di era sekarang banyak sekali orang yang tidak mengetahui ilmu agama menjadi seorang pendakwah yang mensyiarkan agama Islam. Maka yang ada hanya kegaduhan-kegaduhan dilapisan masyarakat paling bawah karena terbawa narasi yang disampiakan oleh juru dakwah yang tidak mengetahui ilmu agama. Tidak heran kiranya sang pujangga meramalkan zaman ini sebagai zaman “edan” yang penuh kegilaan di semua lini terutama lini syiar Islam.

Sang Pujangga Pungkasan

Sebagai seroang pujangga yang dibesarkan di dalam keraton Surakarta, Bagus Burham dikenal sebagai anak kecil yang mbalelo dan bebel dalam menerima ilmu pengetahuan terutama menerima ilmu-ilmu agama yang diajarkan oleh kakeknya. Yasadipira II adalah kakek sekaligus guru pengasuh Bagus Burham yang mendidik Ronggowarsito sejak kecil, karena ayah sang pujangga meninggal semenjak Bagus Burham usia masih muda (Simuh, 1988:25).

Raden Ngabehi Ronggowarsito dilahirkan dari pasangan RM. Ng. Pajangsworo dan Nyai Ageng Ronggowarsito, lahir pada tanggal 14 Maret 1802 M bertetapatan dengan tahun meninggalnya kakek buyutnya yaitu Yasadipura I. Ranggawarsito tumbuh dan besar dari keluarga yang akrab dengan dunia sastra dan tulis menulis, kemuian   dianggap langka pada saat itu. Ayahnya Ranggawarsita II menjadi juru tulis kerajaan dan kakeknya menjadi pujangga kerajaan Surakarta Hadiningrat pada saat itu. Jadi tidak heran ketika Ranggawarsita menjadi penerus dari ayah dan kakeknya sebagai pujangga besar dalam tradisi keraton Kasunanan Surakarta.

Ranggawarsita III inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita yang sebenarnya nama pemberian raja, sesusai dengan jabatnnya sebagai kliwon carik di Keraton Surakarta. Tokoh Ranggawarsita sangat dikeramatkan oleh generasi sesudahnya, dengan berbagai cerita yang dihubungkan-hubungkan dengan kehidupannya. Bahkan C. F Winter yang bergaul dengan Ranggawarsita tidak berani memberikan komentar terhadap kehidupan sang punjangga pungkasan.

Tokoh Ranggawarsita sangat dikeramatkan oleh generasi sesudahnya, dengan berbagai cerita yang dihubungkan-hubungkan dengan kehidupannya. Bahkan C. F Winter yang bergaul dengan Ranggawarsita tidak berani memberikan komentar terhadap kehidupan sang punjangga pungkasan.

Sebagai seorang Islam-Jawa dengan tradisi yang berlaku dalam keluarga pujangga Keraton Surakarta, Ranggawarsita muda harus mengeyam pendidikan agama seperti ayah dan kakeknya. Maka dalam usia dua belas tahun Ranggawarsita dikirimkan ke pondok pesantren Gerbang Tinatar, yang ada di Tegalsari, Ponorogo. Pesantren tersebut diasuh oleh Kiai Kasan Besari, seorang ulama jadug yang terkenal dengan keluasan ilmunya. Kasan Besari adalah menantu PB IV, dan pernah menuntut ilmu dengan Satronagoro, kakek Bagus Burham. Karena pemiliknya menantu PB, maka Gerbang Tinatar sebagai lumbung dari santri anak-anak bangsawan.

Setelah selesai dari pesantren Tegalsari, Bagus Burham mengabdikan diri di Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam pengabdiannya Bagus Burham banyak mengalami kendala karena masa peralihan raja dari PB V ke PB VI, ditambah suasana politik meninggi akibat kebijakan Belanda yang dirasa menggila sehingga menyebabkan rakyat semakin sengsara. Ditambah sewaktu masa PB IX hubungannya dengan raja tidak harmonis karena ada peristiwa yang tidak bisa dilupakan oleh Ranggawarsita ketika wajahnya dilempar kotak kecil oleh Baginda raja PB IX (Yasasusatra, 2008:450)

Meskipun begitu, sebagai pujangga pungkasan banyak karya-karya yang dihasilkan sebagai pitutur luhur untuk generasi mendatang. Kurang lebih ada lima puluh karya yang dihasilkan diantaranya Serat Wirid Hidayajati, Serat Paramasastra, Serat Jaka Lodang, Serat Jayeng Baya, Serat Pustaka Raja, Serat Aji Pamasa, Serat Cemporet dan lain sebagainya. Dengan begitu banyaknya karya yang dihasilkan tidak ada generasi berikutnya yang menandingi kemashuran Bagus Burham dalam dunia literasi atau kesusatraan di dalam keraton Surakarta, tidak berlebihan jika Ranggawarsita disebut sebagai pujangga pungkasan Keratoan Surakarta Hadiningrat.

Pitutur Luhur Ranggawarsita Dalam Serat Cemporet

Wong aguna srana satya wani// mangka kanthining nata sudibya// wuwuh luhur karatone// yen rukun sawadya gung// datan ana kang sanggarunggi// narendra bisa mangkat// matah matrap mandum// iwiring mangka kalungguhan// myang babasan amet pantes angraketi// ing prenah sowang-sowang (Ranggawarsita, 1987:275).

Membina manusia-manusia berpengetahuan// yang merupakan sarana setia dan berani/ sebagai pendamping raja yang kuat, agar kerajaan semakin luhur// jika seluruh rakyat rukun// tanpa da perasaan curiga mencurigai// sehingga raja dapat akan mangkat// matah, matrap, serta mandum// mangkat berarti mengatur kedudukan // dan panggilan seseorang berdasarkan kepantasannya// untuk mempererat kesatuan menurut kedudukan masing-masing.

Mengenai soal pemerintahan Ranggawarsita menitahkan dalam bait ini supaya orang-orang yang memiliki wawasan yang luas untuk menempati posisi-posisi strategis sesuai dengan bidang dan kemampunnya dalam mendampingi sang raja untuk menjalankan roda pemerintahan. Ditambah memiliki kesetiaan terhadap negara dan pemimpinnya,  serta berani mengambil kebijakan yang menguntungkan bagi masyarakat secara umum sehingga masyarakat menjadi rukun dan sentosa tanpa ada rasa saling mencurigai satu dengan yang lain.

Tidak itu saja, dengan membina manusia-manusia berpengetahuan yang luas, raja tidak susah payah dalam memilih bawahannya untuk menduduki posisi yang dibutuhkan dalam memerintah. Karena manusia-manusia berpengetahuan ditempatkan diposisi manapun mereka akan menjalankan tugasnya sebaik mungkin dan mereka akan bersatu padu dalam menjalankan roda pemerintahan. Berbeda di zaman sekarang, misalnya kedudukan menteri negara, mereka berebut posisi-posisi strategis dalam kenegaraan, tanpa dilandasi kemampuan dan wawasan yang luas. Dengan begitu, mereka tidak akan berbuat adil dan bijaksana dalam segala keputusannya.

Luwih malih lamun anuhoni// nganggo awas emut barang karya// mrih sambadeng kasidane// denira ngreh amengku// ing santana wadya gung alit// lwire kang awaskitha// maring laku-laku// solah bawaning sapraja// dadi bisa niteni kang ala becik// terus lan peparikan (Ranggwarsita, 1987:275).

Lebih baik lagi dalam menegakkan keadilan// disertai dengan kebijaksaan dan kesadaran dalam segala hal// agar keputusan yang diambil// benar-benar adil dan tepat selaras dengan hukum dan pengoyman bagi seluruh rakyat// bijaksana artinya// mengetahui segala perilaku// serta gerak-gerik seluruh negeri// sehingga dapat melihat yang buruk dan yang baik// sebagai bahan pertimbangan dalam pemeriksaan.

Kita tadi sudah melihat dalam pitutur sebelumnya bahwa orang yang memiliki wawasan yang luas dan berbudi luhur secara pasti dia akan menegakan keadilan untuk semua kalangan. Ranggawarsita dalam bait ini, dia memaparkan bagi siapa saja ketika menduduki suatu jabatan harus berbuat adil dalam setiap keputusan dan tindakan. Keputusan dan tindakan mereka harus disertai dengan sifat bijaksana dan penuh kesadaran agar keputusan yang diambil benar-benar adil dan tepat sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Keputusan dan tindakan mereka harus disertai dengan sifat bijaksana dan penuh kesadaran agar keputusan yang diambil benar-benar adil dan tepat sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Sebagai penegak keadilan, raja dan jajarannya dalam menjalankan roda pemerintahan tidak tebang pilih dalam mengayomi masyarakat. Mereka harus berbuat bijaksana, dalam artian mereka (raja dan jajarannya) harus mengetahui segala perilaku baik itu perilaku baik ataupun perilaku buruk sekecil apapun mereka harus mengetahui itu. Ketika mereka tidak mengetahui perilkau baik ataupun buruk sampai sedetail-detailnya, mereka secara otomatis tidak bisa memutuskan perkara secara adil. Karena sifat adil ini harus dibarengi dengan pengetahuan yang luas yang mendalam serta kesadaran dalam diri seseorang.

Pitutur luhur ini kiranya sekarang jarang sekali dipakai oleh jajaran pemerintahan yang suka berebut kedudukan. Mereka saya rasa harus banyak membaca, menelaah dan mengamalkan ajaran-ajaran pujangga pungkasan ini. Saya rasa, andaikan jajaran pemerintahan mau meneladani sosok Ranggawarsita dengan segala petuahnya, tidak ada lagi kemiskinan di negara sebesar Indonesia, yang ada hanya kemakmuran-kemakmuran untuk rakyatnya. Dan keadilan-keadilan merata bagi semua lapisan masyarakat.