Atine Bolong

Di bulan puasa yang tenang, marilah kita berdendang tembang dolanan bocah karya dalang Ki Slamet Gundono yang riang. Bagi yang pernah mendengarkan bagaimana tembang ini dilantunkan, tentu imajinasi anda akan melayang. Namun bagi yang belum, semoga bisa meresapi maknanya yang terdalam.

Sebelum dimulai, bayangkan anda seperti diiringi petikan gitar mandolin Slamet Gundono. Baik, kita mulai, yaa…

Atine bolong

Atine kosong

Atine mlompong

(hatinya bolong

Hatinya kosong

Hatinya melompong)

Neng langit  ana lintang

Lintang….lintang luku

Ana bocah…

Ana bocah…

Bocah cilik gambar jagad

(di langit ada bintang

Bintang..bintang luku

Ada anak

Ada anak

Anak kecil melukis dunia)

Reff.

Cantel neng lintang

Sampir neng mbulan

Pepe neng srengenge

(gantungkan di bintang

Sampirkan di bulan

Jemur di matahari)

Ana bocah…..

Ana bocah…

Bocah cilik…

Bocah cilik gambar jagad

(ada anak

Ada anak

Anak kecil melukis dunia).

Tembang sederhana ini terinspirasi dari masa kecil Slamet Gundono yang sering bermain-main di sawah kampungnya. Bersama teman-temannya, Gundono kecil berlarian menyusuri pematang sawah. Setelah lelah, mereka akan menyebur ke Kali Gung yang saat itu masih dipenuhi air yang bening, hingga ikan-ikan masih tertangkap mata telanjang dan mudah ditangkap dengan tangan. Sembari mandi di kali, mereka mencari ikan dengan kedua telapak tangannya. Atau dengan menyusuri padas tempat ikan bersembunyi, mengamati lubangnya, kemudian saat ikan atau udang keluar, jari mungil mereka segera menarik buntut ikan atau udang tersebut.

Setelah memperoleh ikan atau udang, mereka akan membakarnya dengan klaras (daun pisang kering) di pinggir kali, kemudian memakannya beramai-ramai. Ketika mereka saling menatap, mereka tergelak bersama-sama karena saling melihat mulut mereka hitam penuh jelaga. Satu orang kemudian ada yang usil. Tangan mereka mengambil jelaga, kemudian diusapkan ke wajah temannya. Mereka kembali terbahak, kemudian berlariang dan..byuuurr….terjun ke kali lagi. Sungguh indah masa-masa itu.

Suasana seperti ini dalam bayangan Slamet Gundono dewasa dibaca sebagai suasana ketika anak-anak sedang melukis dunia, nggambar jagad. Kelak saat dewasa, lukisan mereka akan muncul lagi dan menginspirasi mereka dalam melakoni urip. Urip kui pancen mung dolanan. Laibun walahwun. Hal itulah yang dialami dan dirasakan Slamet Gundono selama hidupnya. Masa kecilnya memberikan banyak inspirasi dalam membuat karya lakon dan sekar. Masa kecil dan suasan kampung ternyata membuatnya jejeg menyangga tubuhnya yang besar dan beban hidupnya yang berat.

Kelak saat dewasa, lukisan mereka akan muncul lagi dan menginspirasi mereka dalam melakoni urip. Urip kui pancen mung dolanan.

Tembang di atas ini ditulis ketika Slamet Gundono sudah dewasa. Oleh karenanya, sekar ini merupakan imajinasi balik Slamet Gundono. Saat dewasa, ia telah mengalami lika liku hidup penuh warna; susah, senang, penat, bosan, muak, bahagia, atau sedih. Pait legi wis dilek. Baik terhadap sesuatu di luar dirinya maupun terhadap dirinya sendiri. Imajinasi ini secara psikologis menjadi mekanisme pertahanan dirinya (ego deffens mechanism) agar tak larut dengan masalah hidup, meskipun tak dimungkiri masalahnya membuat kesehatannya menurun dan penyakit kaki gajahnya semakin parah.

Mekanisme pertahanan diri umum diajarkan dalam kajian psikologi. Teori yang dicetuskan oleh Sigmund Freud, filosof perang dunia ke II dari Jerman ini menunjuk pada proses tak sadar yang melindungi seseorang dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan. Namun menurut Freud pula, pada dasarnya cara ini tak mengubah kenyataan, melainkan hanya mengubah persepsi seseorang terhadap masalah tersebut.  Jadi, cara ini hanya bentuk penipuan diri.

Menurut Freud, ada sepuluh cara seseorang mempertahankan egonya, yaitu represi (menekan kecemasan), supresi (menahan kecemasan), reaksi formasi (mengubah mimik wajah), fiksasi (meminta tolong orang lain), regresi (kembali ke masa lalu yang indah), denial (menyangkal), proyeksi (menyalahkan hal lain), sublimasi (mengalihkan ke hal positif), rasionalisasi (membuat masuk akal perilakunya), displasment (mengelak), menarik diri, fantasi (melamun), dan intelektualisasi (menganalisa).

Teori ini tentu saja tak semuanya tepat, karena mekanisme pertahanan ini hanyalah istilah Freud saja. Bagi orang Jawa, regresi, fantasi, atau sublimasi misalnya, justru dibutuhkan untuk membangun kejujuran dan ketulusan diri (bolong, mlompong, kosong), bukan menipu diri. Yaa, seperti yang dilakukan Slamet Gundono ini. Ia tak mungkin menghasilkan karya-karya besar, seperti tembang ini, kalau ia tak berfantasi, kembali, dan mengendapkan pengalaman masa kecilnya dan pikiran dan hatinya. Dengan ego deffens mechanism, Slamet Gundono sekar nggambar jagad.

Dalam tembang ini, Slamet Gundono menggunakan kata kosong, mlompong, dan bolong untuk melukiskan hati yang ikhlas, jujur, dan apa adanya. Hati seperti ini hanya dimiliki oleh anak-anak, karena mereka masih suci, fitri, dan belum teracuni oleh beragam pengetahuan. Ikhlas, jujur, dan apa adanya oleh orang Jawa diterjemahkan dalam sikap semeleh atau narima ing pandhum. Sikap semeleh atau narima ing pandhum dianggap sebagai puncak kecerdasan manusia Jawa setelah seseorang mendayagunakan seluruh kemampuannya di hadapan pemilik kehidupan. Lahaula wala quata illa billahil ngaliyil adzim.       

Dalam psikologi terdapat juga teori yang disebut dengan tabula rasa. Menurut teori ini, setiap bayi lahir itu ibarat batu tulis yang bersih. Perilaku selanjutnya akan dipengaruhi pengalamannya. Teori ini merupakan epistimologi yang dicetuskan oleh filosof Inggris abad 17, John Locke, bahwa manusia yang lahir tak memiliki mental bawaan dari leluhurnya.

Dalam kehidupan nyata, teori ini juga tak sepenuhnya tepat. Di Jawa, pengaruh genetik dari orangtua justru dianggap berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Bahkan, orang Jawa sangat perhatian dengan apa yang disebut rah ayu, darah yang ayu, artinya keturunan yang baik. Adapun roh ayu (ruh baik) dan reh ayu (kemulyaan) menjadi hak Gustialah.

Terhadap rah ayu (kemudian menjadi salam rahayu), para leluhur Jawa mengajarkan, hendaknya manusia Jawa mempersiapkan dengan serius jika ingin memiliki keturunan yang baik. Apalagi jika itu menyangkut kepemimpinan, maka dikenal peribahasa trahing kusumo rembesing madu. Bahwa pemimpin harus berasal dari bibit yang baik agar dapat melahirkan ajaran dan kepemimpinan (tauladan) yang baik.

Trah (dari Bahasa Arab itroh yang artinya keluarga atau keturunan) sangat penting dalam kepemimpinan Jawa. Dalam sebuah diskusi, Ki Herman Sinung Janutama menyatakan, setidaknya ada lima laku yang harus dilakukan dan dipersiapkan oleh calon pemimpin dalam ajaran Jawa, yaitu lelana (mencari ilmu), tedak sungging atau susur leluhur (jelas leluhurnya), manages (menegaskan atau memantapkan diri), jumeneng (disahkan), dan lengser (tahu diri kapan harus turun tahta).Tahap-tahap ini bukan untuk gagah-gagahan atau eksklusif, melainkan agar terjamin kualitas bobot, bibit, bebet-nya. Meskipun demikian, tersebab oleh kondisi zamannya, terkadang ada juga trah ratu yang seharusnya menjadi ratu tetapi memilih menjadi pujangga atau rakyat biasa.

Untuk menyiapkan rah ayu nanti derivasinya akan menurunkan beragam aturan dan upacara daur hidup yang ketat dan sangat berat. Dari mulai memilih calon istri, mendidik anak, hingga pendidikannya. Dalam konteks ini, dengan tujuan agar kosmologi Islam Jawa ini semakin merasuk dalam uripe wong Jawa, maka Kanjeng Sultang Agung Anyakrakusumo (1593-1645 M) pada tahun 1633 M (1555 saka), memerintahkan seluruh Kesultanan Mataram yang meliputi seluruh Pulau Jawa, Madura (kecuali Banten Batavia, dan Blambangan) untuk menggunakan sistem penanggalan (kalender) lunar (yang berdasar perputaran bulan). Tujuannya tentu saja agar kehidupan sehari-hari orang Jawa tersambung dengan ajaran Islam dan Jawa. Tentu saja hal ini terkait dengan cara hidup orang Jawa sesuai kosmologinya.

Melaui tembang ini, dalam pemahaman Slamet Gundono, semua itu hanya akan disandang oleh mereka yang hatinya bolong, mlompong, dan kosong. Yakni, orang yang manah (hati) selalu terikat dengan lemah (tanah) dan Gustialah (Tuhan). Ati, bumi, Gusti. Kosong bukan berarti tak berisi. Pun demikian, Sebaliknya, kosong itu isi, dan agar berisi harus kosong. Atine bolong, kosong, mlompong.

Melaui tembang ini, dalam pemahaman Slamet Gundono, semua itu hanya akan disandang oleh mereka yang hatinya bolong, mlompong, dan kosong. Yakni, orang yang manah (hati) selalu terikat dengan lemah (tanah) dan Gustialah (Tuhan). Ati, bumi, Gusti.

Dalam kalender Sultan Agungan (Islam Jawa), wulan pasa (puasa/ramadan) itu diartikan madya, apa adanya, semeleh. Sedangkan wulan besar (haji) diartikan kosong, suwung. Jika disambungkan dengan urutan dalam rukun Islam, maka ini dapat ditafsirkan, agar kelak manusia Jawa setelah madya di wulan pasa, ditambah membersihkan diri dengan zakat, dapat benar-benar kosong/suwung di wulan besar. Dengan begitu, kita akan tetap menjadi bocah cilik yang atine tetep bolong, sehingga mampu nggambar jagad

Atine bolong

Atine kosong

Atine mlompong

Ana bocah…..

Ana bocah…

Bocah cilik…

Bocah cilik gambar jagad

Selamat menikmati ibadah puasa 1443 H.

Wallahua’lam bissawab.


*Baca Lengkap Tulisan Yusuf Effendi terkait Ki Selamet Gundono dalam Buku Bocah Cilik Gambar Jagad