Menimba Mata Air Keteladanan Dari Sikap Kosmopolitan Leluhur Jawa

Ketika saya mengikuti acara Ngaji Posonan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Yogjakarta. Saya merasa mengalami kesulitan menemukan relevansi dari materi-materi yang disampaikan dengan kehidupan diri saya sendiri. Memang, pengajian yang berlangsung selama kurang lebih 17 hari 17 malam itu mengangkat tema besar “Islam Berkebudayaan, Menemukan Jati Diri Secara Kosmopolitan”. Namun, saya sebagai orang Lombok atau orang bukan Jawa, cukup sulit menemukan posisi saya di antara kekayaan tradisi budaya Jawa? Karena dari seluruh materi pengajian yang disampaikan, cenderung dimulai dari latar belakang sosio-kultur atau sosio-historis Jawa.  

Manunggaling Cipta, Rasa Lan Karsa Gawe Rahayuning Bangsa.” Saya kira, kalimat tersebut adalah devinisi dari budaya yang paling representatif, sependek yang saya pahami tentang arti budaya. Devinisi yang untuk pertama kalinya saya dengar dalam Ngaji Posonan itu cukup membantu saya, untuk memehami simpul-simpul pemaknaan dari rangkaian materi yang disampaikan.

Kata orang, selama kita masih hidup, jati diri itu seperti air sungai yang mengalir,  tidak pernah tetap, selalu berubah-ubah. Artinya, jati diri saya saat ini, bukanlah jati diri saya beberapa waktu yang lalu. Sipalah saya ini, yang mencoba mencari hikmah di taman sari pengetahuan Jawa yang amat luasnya itu?

Namun, dari keikut-sertaan saya sebagai “santri” dalam acara Ngaji Posonan itu, setidaknya saya menggaris bawahi dua peristiwa penting yang menandai perkembangan atau persebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Peristiwa penting itu adalah perjanjian antara Syeh Subakir dengan Da Hiyang Semar, dan kesuksesan dakwah Wali Songo melalui jalan kultural.

Orang Jawa mungkin sudah tidak asing lagi dengan kisah, perjanjian antara Syeh Subakir, pendakwah Islam yang diutus oleh Sultan Mahmud I, Turki untuk menumbali Pulau Jawa, yang terkenal wingit, angker atau keramat karena dikuasai oleh mahluk halus yang memangsa belasan ribu umat muslim yang diutus oleh Sultan Mahmud I, sebelum kedatangan Syeh Subakir.

Setelah Syeh Subakir memasang tumbal di Gunung Tidar, mahluk-mahluk halus penghuni Pulau Jawa itu merasa kepanasan, mereka berhamburan terbang, tunggang langgang dan melapor ke Da Hiyang Semar. Mahluk spiritual penjaga Pulau Jawa itu pun turun dari pertapaannya yang telah berlangsung selama 8000-an tahun lamanya. Semar kemudian mencari sumber bencana yang menimpa mahluk halus, sebangsanya. Semar menampakkan dirinya dengan menyamar, menyerupai manusia.

Pertarungan pun tak terelakkan ketika Pamong Tanah Jawa itu bertemu dengan Syeh Subakir. Adu kesaktian itu, konon berlangsung selama 40 hari 40 malam. Tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang. Keduanya sama-sama sakti. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan “genjatan senjata” dan mulai membuka dialog. Hingga diperoleh kesepakatan atau perjanjian.

Isi perjanjian Syeh Subakir dengan Semar terdiri dari beberapa hal yang saya kira penting, untuk disinggung dalam kesempatan ini, di antaranya: Pertama, Da Hiyang Semar akhirnya memberi izin kepada Syeh Subakir menyebarkan Agama Islam, dengan syarat tidak boleh memaksa. Kedua, Islam diizinkan berkembang namun jangan sampai Orang Jawa berubah menjadi “Orang Arab”. Ketiga, Islam boleh berkembang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an, namun adat dan tradisi budaya Jawa yang sudah ada dan tidak bertentangan dengan Ajaran Islam juga harus tetap dipertahankan.

Pada periode selanjutnya, di era Wali Songo penyebaran Islam di pulau Jawa semakin masif dan hampir merata ke seluruh penjuru Jawa. Keberhasilan dakwah Walisongo ini tidak terlepas dari strategi dakwah yang diambilnya. Para wali Tanah Jawa ini bersepakat untuk memilih jalur kultural sebagai sarana dakwahnya.

Sekilas, jika dicermati strategi yang digunakan oleh Syeh Subakir dan Wali Songo nampak berbeda. Hal ini bisa dimengerti, karena Syeh Subakir dan Wali Songo berdakwah pada era yang berbeda, selain itu juga mereka sepertinya menghadapi situasi dan kondisi masyarakat Jawa yang berbeda pula. Namun, pada dasarnya esensinya sama. Baik Syeh Subakir dan Wali Songo sama-sama membuka ruang untuk mendialogkan Ajaran Islam dengan penghuni Pulau Jawa.

Tidak sedikit orang Jawa menafsirkan perjanjian Syeh Subakir dengan Semar sebagai simbol diterimanya Islam oleh “Alam Jawa” secara lahir-batin. Selain anggapan itu, ada juga yang menangkap, bahwa peristiwa itu sebagi tonggak pengenalan Ajaran Tauhid yang dibawa oleh Islam kepada masyarakat Jawa.

Tidak sedikit orang Jawa menafsirkan perjanjian Syeh Subakir dengan Semar sebagai simbol diterimanya Islam oleh “Alam Jawa” secara lahir-batin. Selain anggapan itu, ada juga yang menangkap, bahwa peristiwa itu sebagi tonggak pengenalan Ajaran Tauhid yang dibawa oleh Islam kepada masyarakat Jawa. Karena sebelum Islam datang, masyarakat Jawa pada umumnya, memuja banyak dewa (politeisme) dan meng-keramatkan alam layaknya dewa, menganggap alam Jawa mengandung daya magis yang dapat mencelakakan hidup mereka, jika mereka tidak melayaninya dengan menghaturkan sesajen bagi pohon-pohon besar, gunung-gunung, sungai-sungai dan tempat angker lain-lain.

Sedangkan dakwah Wali Songo yang memanfaatkan instrumen tradisi kebudayaan Jawa sebagai medianya, berijtihad untuk merubah struktur pandangan dunia masyarakat Jawa, dengan ajaran Tauhid dan ajaran yang mengembalikan kemuliaan derajat manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, yang kedudukannya lebih tinggi dari pada alam dan atau mahluk ciptaan lainnya. Para wali juga berijtihad menyesuaikan bentuk-bentuk kebudayaan Jawa dengan ajaran Islam. Sehingga ajaran Islam semakin mudah diterima dan terserap kedalam sistem kebudayaan Jawa.

Faktor keberhasilan pribumisasi Islam oleh Wali Songo juga disebabkan karena ajaran Islam tidak disampaikan dengan bahasa “kekerasan” atau paksaan. Melainkan datang dengan lemah lembut dan didialogkan terlebih dahulu. Sehingga nilai-nilai lokal yang memiliki keselarasan dengan Islam, bisa dipertahankan. Mungkin karena hal itu, masyarakat Jawa memiliki corak kebudayaan yang sangat kompleks dan luwes, tetapi secara bersamaan memiliki akar filosofis yang tertanam kuat. Salah satu contoh yang paling mudah untuk saya sebutkan adalah wayang.

Meskipun wayang merupakan seni pertunjukan yang mengadopsi Epos Ramayana dan Mahabarata dari tradisi sastra Hindu sebagai latar ceritanya. Namun, wayang secara simplisitis hanya dianggap sebagai tontonan, dan tidak untuk disembah. Dengan kata lain, lakon-lakon dalam permaian wayang hanya dimaknai sebagai alegori kehidupan orang Jawa yang menampilkan ekspresi tingkah laku dalam kehidupan keseharian mereka sendiri.

Sebab, dalam permainan wayang para wali memodifikasi kedudukan dewa-dewa hingga sejajar dengan posisi manusia atau mahluk ciptaan Tuhan. Caranya, para wali memasukkan tokoh-tokoh dewa dalam daftar silsilah atau keturunan Nabi Adam, Nabi Sis, hingga bersambung pada leluhur orang Jawa dan raja-raja Jawa terdahulu. Dengan kata lain, dewa-dewa yang awalnya menjadi sesembahan (Tuhan) posisinya digegser, sehingga sejajar dengan kedudukan manusia. Sementara eksistensi Tuhan itu sendiri, hanya diungkapkan melalui penggambaran atau penyebutan sifat-sifatnya saja, tidak ditampilkan wujudnya. Misalnya, Sang Hiyang Wenang, Sang Hiyang Tunggal, Gusti Kang Akarya Jagad, Gusti Kang Murbeng Dhumadhi dan seterusnya.

Perubahan mendasar ini berdampak besar bagi perubahan cara pandang masyarakat Jawa memaknai transformasi dua epos termasyhur dari India tersebut. Implikasinya, meskipun masyarakat Jawa amat menggemari wayang. Walaupun lakon wayang itu tetap mempertahankan keterlibatan dewa-dewa dalam sistem kepercayaan Hindu.  Namun, masyarakat Jawa yang beragama Islam tidak akan sampai menganggap dewa-dewa yang menjadi tokoh-tokoh dalam pementasan wayang itu sebagai Tuhan.

Tidak berhenti pada “rekonstruksi” pemaknaan kesenian wayang saja, para wali dan begawan atau para pujangga selanjutnya, juga terus berijtihad mengembangkan bentuk-bentuk kesenian maupun wiracarita yang lainnya, mereka menggarap wiracarita (cerita kepahlawanan) dengan menggunakan pahlawan-pahlawan lokal dan pahlawan-pahlawan dari dunia Islam. Misalnya dalam Kidung Panji, ada cerita Panji Kuda Sumirang, Panji Angreni, Panji Asmara, Panji Laras dan Cerita Panji lainnya. Kemudian wiracarita yang mengangkat tokoh-tokoh Islam, seperti Hikayat Iskandar Zulkarnain, Serat Ambiya, Serat Menak (Hikayat Amir Hamzah) dan seterusnya. Dua jenis wiracarita yang saya sebutkan terakhir, tidak hanya masyhur di pulau Jawa, melainkan kepopulerannya meluas hingga luar Pulau Jawa.  Misalnya di daerah Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Sumatra dan seterusnya.

Demikianlah beberapa bentuk refleksi yang memadukan ajaran-ajaran universal dari luar dengan kosmologi pengetahuan Jawa (budaya) yang mengantarkan “Islam Jawa” pada puncak kejayaannya. Namun, di luar itu semua, faktor yang tidak kalah penting untuk direnungkan dalam kesempatan ini adalah, sikap keterbukaan (kosmopolitan) masyarakat Jawa itu sendiri. Tentu saja kosmopolitan yang dimaksud dalam konteks ini adalah kosmopolitan dalam arti luas. Sikap kosmopolit yang membuka diri untuk mendialogkan gagasan-gagasan dari luar dengan gagasan-gagasan yang dimiliki, kemudian menemukan relevansinya untuk mewujudkan cita-cita bersama, untuk membangun peradaban bersama.

Saya kira, sikap kosmopolitan adalah kunci sukses para pendahulu Jawa membangun peradaban. Tanpa refleksi sikap kosmopolitan orang Jawa tersebut, uraian panjang lebar tentang kesuksesan Syeh Subakir dan Wali Songo menyebarkan Islam di Tanah Jawa, maupun capaian-capaian peradaban sebelumnya seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan dan lainnya, hanya terkesan bernostalgia saja.

Saya kira, sikap kosmopolitan adalah kunci sukses para pendahulu Jawa membangun peradaban.

Sepertinya, karakteristik kosmopolitan ini juga menjadi ciri khas yang melekat pada masyarakat Nusantara di daerah lainnya (selain Jawa), mengingat tradisi kebudayaan daerah lain, juga tidak kalah kaya ragamnya. Di luar Pulau Jawa, ekspresi keberislaman masyaratnya juga bisa sangat beragam, namun orientasinya masih tetap sama yakni ajaran Tauhid, Ajaran Kemanusiaan dan Islam Rahmatan Lil Alamin.   

Pada titik inilah saya seperti menemukan relevansi materi-materi yang disampaikan dalam Ngaji Posonan dengan diri saya, dan urgensinya dengan persoalan-persoalan sosial masyarakat dewasa ini. Mengingat fenomena kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara dewasa ini, sepertinya sudah mulai mengalami kebekuan.

Dewasa ini, hampir semua pihak merasa paling benar, merasa paling berhak untuk berbicara, betapapun ia bukan ahlinya. Kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara tujuannya bukan lagi demi kemaslahatan bersama, melainkan pemenuhan hasrat berkuasa atau kepentingan personalnya semata. Agama, SAINS dan budaya di negeri ini, terkesan seperti dibentur-benturkan.

Ironisnya lagi, justru di di zaman yang serba moderen ini, kita mersa kesulitan menemukan sosok tauladan yang memiliki kebesaran jiwa, seperti leluhur kita di masa lalu. Berkarya, beragama, berkesenian dan berkebudayaan demi tujuan “katarsis”. Menjaga harmonisasi hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan alam. Bersedia membuka dialog dengan pihak manapun, demi mencapai tujuan atau cita-cita bersama, dan mengatasi persoalan bersama.

Pada titik inilah saya mulai sedikit mengerti, bahwa arah dari Ngaji Posonan itu sebenarnya hendak menyadarkan saya bahwa akar permasalahan yang dihadapi negeri ini adalah, krisis “mata air ketauladanan” yang memiliki wawasan kosmopolitan, karena sikap masyarakat dan mungkin saya juga yang terkesan, lebih cenderung menutup diri.

Wallahua’alam!

Buku Langgar Shop
Lamuh Syamsuar
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang senang mengaji di Langgar dan suka menulis puisi.