Minang-isasi Rantau

Ilustration bay ozant for Pintres

 

Karatau madang diulu (Karatau masak di hulu/pangkal)

Babuah babungo balun (Berbuah berbunga belum)

Karantau bujang dahulu (Ke rantau anak dahulu)

Dikampuang baguno balun (Di kampung berguna belum)

Kutipan pepatah di atas bagi orang Minang memiliki makna yang sangat dalam. Mengandung filosofi bahwa setiap anak haruslah bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. Jika belum, dianjurkan pergi meninggalkan kampung halaman untuk mencari ilmu, pengalaman, serta keperibadian yang kokoh di daerah perantauan. Agar kelak semua yang sudah didapatkan bisa dibawa pulang ke kampung halaman.

Pepatah itu secara otomatis juga sebagai bantahan dari berbagai pendapat yang mengatakan bahwa orang Minang yang pergi merantau itu disebabkan oleh faktor internal-situasional. Seperti berlakunya sistem kekerabatan matrilineal, konflik internal keluarga, dan atau imbas dari tragedi PRRI di Sumatera Barat. Padahal, merantau sesungguhnya adalah bagian dari tradisi adat. Sebuah aktivitas yang bertujuan untuk menunaikan nilai-nilai luhur kebudayaan Minangkabau. Di samping itu, merantau bagi seorang Minang juga sebagai bentuk perwujudan pengakuannya terhadap kebesaran alam semesta. Sehingga kalimat dikampuang alah baguno (dikampung telah berguna) adalah misi yang utama dalam proses perantauannya.

Tiba di Rantau

Sesampai di daerah perantauan, sebelum mereka menjalankan filosofi adat dan sebelum mereka masuk ke berbagai okupasi pekerjaan, yang mula-mula mereka lakukan adalah mancari suku jo hindu (mencari suku dan keluarga) sebagai tempat berpijak awal. Dari tempat ini, kemudian terbentuk ikatan modal sosial dan jaringan perantauan. Sebuah ikatan yang terbentuk dari hubungan karena mereka merasa sekeluarga, seagama, dan sebudaya. Sehingga dengan begitu, seorang perantau yang telah menjalin hubungan dengan dua ikatan tersebut, akan banyak mendapatkan peluang dan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri yang dimilikinya.

Oleh Pierre Bourdieu, ikatan yang dibentuk oleh perantau Minang di perantauan itu disebut sebagai sumber daya aktual dan potensial. Ikatan tersebut terlembagakan dan berlangsung secara terus menerus dalam bentuk pengakuan dan perkenalan timbal balik (atau dengan kata lain; keanggotaan dalam kelompok sosial) yang, memberikan manfaat kepada anggotanya dalam berbagai bentuk dukungan kolektif.

Ikatan tersebut terlembagakan dan berlangsung secara terus menerus dalam bentuk pengakuan dan perkenalan timbal balik (atau dengan kata lain; keanggotaan dalam kelompok sosial) yang, memberikan manfaat kepada anggotanya dalam berbagai bentuk dukungan kolektif.

Di tamah perantauan, modal sosial dan jaringan perantauan mereka konstruksi melalui sistem kekerabatan matrilineal yang bermula dari hubungan semande, seperut, seniniek, sekaum dan sesuku. Semande menunjuk pada hubungan yang tercipta karena mereka dilahirkan dari seorang ibu yang sama. Seperut merupakan jaringan hubungan yang muncul karena sekelompok perantauan memiliki satu nenek yang sama.

Seniniek mencakup jaringan hubungan yang muncul dari kenyataan bahwa mereka berasal dari niniek yang sama. Sekaum adalah jaringan hubungan dari suku (marga/klan) yang sama dan dapat ditelusuri kaitan hubungan mereka. Sedangkan sesuku merupakan jaringan hubungan yang terbentuk karena memiliki satu suku (marga/klan) yang sama, namun kaitan hubungannya sudah sukar ditelusuri, misalnya sesama marga Chaniago, namun berasal dari nagari yang berbeda.

Tidak sampai di situ, ikatan tersebut dapat lagi diperluas dengan hubungan horizontal lokalitas etnik. Seperti menjadi hubungan senagari, seluhak sampai seminangkabau. Senagari merupakan jaringan hubungan lokalitas yang mencakup jaringan hubungan dari beberapa jorong (korong) atau Desa dalam suatu nagari. Sedangkan seluhak merupakan jaringan hubungan lokalitas yang meliputi satu daerah inti budaya Minangkabau.

Dalam konteks Minangkabau tradisional, daerah inti meliputi Luhak Tanah Data, Luhak Agam, dan Luhak Limopuluah Koto. Sementara dalam konteks Minangkabau kontemporer, konsep Luhak telah digantikan oleh hubungan lokalitas administratif pemerintahan seperti Kabupaten dan Kota, misalnya sesama orang Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, Kota Solok, Kota Padang panjang, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, dan lain sebagainya.

Sedangkan seminangkabau menunjuk pada hubungan lokalitas atau cakupan wilayah budaya Minangkabau. Pada konteks ini, makin kecil lingkaran semakin kohesif jaringan hubungan dan semakin tinggi pula kemungkinan untuk terciptanya saling percaya.

Filosofi Adat Mereka Tunaikan di Rantau

Tidak semua perantau Minang bisa kembali lagi ke kampung halaman. Kebanyakan dari mereka justru menetap di daerah rantau (marantau cino). Siklus kehidupan rupanya tidak lagi membawa mereka secara fisik kembali ke geografis Minangkabau. Hal ini dikarenakan oleh banyak faktor; Seperti pekerjaan, keluarga inti, dan lain sebagainya. Sekalipun demikian, keterikatan psikologis dengan kampung halaman di Minangkabau tidak terputus.

Dalam keadaan seperti itu, untuk menunaikan pepatah adat di atas, mereka menjadikan daerah tujuan tersebut menjadi “kampung halaman” secara turun-temurun. Pertanyaannya, bagaimana mereka membuktikan bahwa pribadinya telah dianggap berguna oleh budaya Minangkabau? Yaitu dengan cara menjadi tokoh masyarakat, memimpin, menjadi guru, dosen, dokter, dan berbagai profesi “baguno” lainnya di daerah tujuan rantau.]

Pertanyaannya, bagaimana mereka membuktikan bahwa pribadinya telah dianggap berguna oleh budaya Minangkabau? Yaitu dengan cara menjadi tokoh masyarakat, memimpin, menjadi guru, dosen, dokter, dan berbagai profesi “baguno” lainnya di daerah tujuan rantau.

Hal itu terlihat jelas hampir di semua daerah yang mereka jajaki. Mulai dari daerah-daerah regional Indonesia maupun daerah-daerah yang ada di mancanegara. Di Negeri Sembilan, Malaysia, misalnya, adalah daerah yang didatangi oleh perantau Minangkabau sebelum abad 19.  Sampai saat ini, Negeri Sembilan memiliki fenomena sosial keminangan dan dianggap bagian dari “alam Minangkabau”. Sementara untuk daerah rantau di Indonesia, dapat dikemukakan seperti daerah di pantai Barat Tapanuli dan Aceh. Di kawasan Pulau Jawa dan bagian Timur Indonesia, kurang lebih sama dengan apa yang terjadi di daerah-daerah yang telah penulis utarakan sebelumnya.

Dengan adanya kecenderungan-kecenderungan seperti itu, maka apa yang ditegaskan oleh guru saya, Sjafri Sairin, Antropolog UGM, bahwa pepatah “dima aia di sauak, di sinan rantiang di patah” (di mana air di timba, di situ ranting di patah) dan “dima bumi dipijak, di situ langik dijunjuang” (dimanapun daerah yang ditempati, maka di sana pula tempat kita menjadi), adalah sebuah keniscayaan bagi kehidupan orang Minangkabau perantauan dimanapun mereka berada. Termasuk dua pepatah terakhir ini adalah titik pijak dan titik tuju untuk pembuktian kebergunaan seorang Minang.

Jufri Naldo
Penulis Berkeinginan Menjadi Antropolog, lahir di Medan Sumatera Barat, sekarang beraktivitas menjadi dosen di salah satu kampus di daerahnya.