Tiriq dan Perayaan Maulid di Pelosok Mandar

Sumber foto: ANTARA/SahrulMandaTikupadang

Jumat lalu, Ibu saya menelfon pagi-pagi sekali. Karena di rumah tidak ada sinyal, Ibu saya pasti ke ‘bukit sinyal’ di pagi yang tentu masih dalam cuaca sangat dingin. Bukan untuk menanyakan kabar atau menanyakan ketersedian uang saku saya, tapi mengingatkan bahwa bulan ini sudah masuk bulan maulid, peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Ibu bercerita kalau warga kampung sudah siap-siap menyambut perayaan maulid. Beberapa persiapan telah disediakan: penceramah, bahan makanan; gula merah, pisang, telur dan pare pulu. Bahan-bahan ini wajib ada pada saat perayaan maulid di kampung saya.

Warga kampung, kata Ibu saya, masing-masing mendatangi loko-nya (lumbung padinya) di ladang. Mengeluarkan padi hasil panen tahun lalu, yang khusus dipersiapkan untuk acara-acara kampung, termasuk maulid nabi.

Di kampng saya, ada jenis padi yang tidak dikonsumsi setiap saat, diambil hanya pada perayaan tertentu. Istilah kampungnya: pare pulu, atau dikenal luas dengan nama beras ketan. Janis pare pulu termasuk langkah di kampung saya, bahkan jadi indikator keberhasilan panen tahunan. Banyaknya pare pulu di loko petanda keberhasilan panen. Alasannya, karena pare pulu termasuk jenis padi ladang yang sulit dalam hal pemeliharaannya. Ia bisa saja tumbuh dengan subur, namun tak menghasilkan bijian sempurna.

Warga di kampung saya tidak begitu agamis secara penampilan. Di sana tidak akan Anda jumpai orang bersurban, apalagi bergamis seperti orang Arab. Ibadah lima waktu pun tidak selalu dilaksanakan secara berjamaah. Seluruh warganya petani. Selepas subuh mereka berangkat ke kebun, mendekati magrib baru pulang. Kebanyakan ibadah lima waktu dilaksanakan di gubuk kebun. Kalau ternyata tidak punya gubuk kebun, batu-batu disungai atau daun pisang jadi sajadah alternatif.

Namun, ketika memasuki hari perayaan maulid, semua warga akan meliburkan kegiatan berkebun. Bagi warga kampung saya, perayaan maulid adalah tradisi yang tidak bisa ditinggalkan. Kehadirannya juga sangat dinanti setiap warga kampung. Mereka akan menyisihkan hasil panen atau hasil kebun lainnya agar turut serta dalam perayaan maulid tersebut.

Tradisi perayaan maulid di kampung saya diperkirakan ada sejak bersentuhan dengan seorang ulama karismatik, orang kampung saya mengenalnya dengan nama To Salama di Bulo-Bulo. Menurut jejak yang diceritakan secara turun-temurun, To Salam di Bulo-Bulo ini juga berhubungan dengan KH. Muhammad Thahir, atau Imam Lapeo, seorang ulama besar penyebar Islam di tanah Mandar.

Tradisi perayaan maulid di kampung saya diperkirakan ada sejak bersentuhan dengan seorang ulama karismatik, orang kampung saya mengenalnya dengan nama To Salama di Bulo-Bulo. Menurut jejak yang diceritakan secara turun-temurun, To Salam di Bulo-Bulo ini juga berhubungan dengan KH. Muhammad Tahir, atau Imam Lapeo, seorang ulama besar penyebar Islam di tanah Mandar.

Saat perayaan maulid tiba, warga di kampung saya akan beramai-ramai datang ke masjid, membawa berbagai rupa makanan dari hasil kebun-kebun mereka. Lalu, pemangku agama atau di tempat saya disebut Pua Imang, akan membacakan kisah-kisah Nabi SAW., zikir dan sholawat-sholawat dari Kitab Barzanji.

Beberapa bab Barzanji yang saya ingat sering ditilawakan Pua Imang adalah bab Aljannatu Wa Na’imha pada bagian Ath Thirillah dan bab Assalamu ‘alaika di bagian Nadzam.

Seselesainya Pua Imang membacakan sholawat, semua warga kampung yang hadir akan kebagian barakka atau berkat dalam bahasa Indonesia. Barakka ini berbentuk bingkisan, isinya berbagai macam makanan atau hasil pertanian dari warga lain.

Dari sekian banyak jenis makanan, ada satu jenis yang selalu ada di dalam masjid setiap perayaan maulid di kampung saya: tiriq. Tiriq ini menyerupai wadah atau tempat penampungan makanan, sekelilingnya ditancapi bermacam sajian: telur, baje (makanan khas Mandar, terbuat dari beras ketan, kalapa dan gula merah), dan sokkol (beras ketan yang dimasak lalu dibaluri santan, dan dibungkus daun pisang)

Tiriq adalah pohon pisang yang diikat berdiri di tiang tengah masjid. Batangnya ditancapi telur yang sebelumnya telah dihiasi dengan kertas tipis berwarna, lalu ditusuk bambu, semacam membuat sate, tapi ini memakai telur rebus.

Pohon tiriq tidak hanya ditancapi telur dan berbagi jenis makanan, tapi juga uang dan hasil pertanian: padi, kakao, kopi, rambutan, dan durian. Semua ditancapkan ke batang pisang secara horizontal menggunakan lidi bambu. Jadilah makanan dan hasil pertanian bergelantungan di pohon pisang tersebut. Pohon pisangnya berdiri vertikal, bambu sebagai tusukan telur dan makanan lain tertancap secara horizontal.

Sekitar 20 tahun lalu, pohon tiriq ini jadi satu-satunya alasan anak-anak sepantaran saya tidak sabar menanti bulan maulid. Cita-cita utamanya adalah dapat tusukan telur, dan selembar uang monyet yang bergelantungan di pohon itu. Masuk masjid lebih awal, memilih posisi duduk yang strategis, dekat dengan pohon tiriq. Supaya, ketika Pua Imang kelar membacakan solawatnya, dengan cekatan kami akan berebut telur, uang monyet atau makan apa saja yang ditemukan tangan di tengah kerumunan.

Kalau apes, kita akan nangis dan mengadu ke ibu karena tidak dapat telur. Teman lain yang diilhami sifat Qarun pasti dapat banyak, sekaligus siap menangung resiko tertusuk ujung bambu yang dibentuk menyerupai tusuk sate itu. Kuncinya satu: “Siapa cepat dan tinggi, dia akan dapat banyak.”

Meski niatnya hanya makan dan uang monyet, perayaan maulid tersebut meninggalkan jejak di hati saya sebagai anak kecil bahwa Nabi Muhammad SAW. dilahirkan perempuan bernama Siti Aminah, dan telah yatim sejak dalam kandungan.

Memahami Tiriq

Belakangan saya paham, ternyata tiriq pada perayaan maulid di kampung saya itu mengandung filosofi atau makna tersendiri. Bukan hanya supaya anak-anak, seperti saya, tertarik mendengarkan kisah nabi, lalu berebutan barakka (berkat).

Kampung saya sendiri, berada di pelosok Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Sekitar 80 kilo meter dari pusat kabupaten, dengan kondisi jalan yang hanya bisa dilewati mobil Jeep dan motor trail.  Masa kecil saya baru paham kalau kampung saya masuk kawasan Indonesia, saat kepala desa membagikan bendera merah putih untuk dipajang depan rumah warga.

Kampung saya sendiri, berada di pelosok Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Sekitar 80 kilo meter dari pusat kabupaten, dengan kondisi jalan yang hanya bisa dilewati mobil Jeep dan motor trail.  Masa kecil saya baru paham kalau kampung saya masuk kawasan Indonesia, saat kepala desa membagikan bendera merah putih untuk dipajang depan rumah warga.

“Ini bendera Indonesia,” kata pak desa dalam bahasa kampung. Saat itu, warga di kampung saya sangat jarang yang mengerti bahasa Indonesia.

Kembali ke tiriq, sampai saya duduk di bangku madrasah, saya belum paham kenapa setiap maulid di kampung saya selalu ada tiriq, telur dan hasil panen lainnya. Saya pernah bertanya tentang itu ke bapak saya, tapi hanya dijawab sekenanya.

“Itu simbol. Nanti juga kalau kamu besar tau sendiri,” begitu kira-kira jawaban bapak saya kalau dibahasan dalam kalimat Indonesia.

Setelah beberapa lama di Yogyakarta, saya mulai menggali kembali cerita-cerita kecil saya di kampung. Soal tiriq salah satunya. Kapan waktu, saya bertemu dengan salah satu mahasiswa pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga yang pernah meneliti tradisi tiriq pada perayaan maulid di Mandar. Namanya Muhammad Arif Yunus, dia menyelesaikan sarjananya di Ilmu Tafsir UIN Alauddin Makassar. Arif juga berasal dari kabupaten sama dengan saya.

Dalam penjelasanannya, Arif bilang bahwa tiriq yang dikenal dalam Bahasa Mandar, bisa dianalogikan sebagai tariqoh. Secara istilah Arab, tariqoh berarti jalan, metode, sistem, dan cara. Jadi, tiriq menyimbolkan jalan menuju kepada sang pencipta.

Dalam penjelasanannya, Arif bilang bahwa tiriq yang dikenal dalam Bahasa Mandar, bisa dianalogikan sebagai tariqoh. Secara istilah Arab, tariqoh berarti jalan, metode, sistem, dan cara. Jadi, tiriq menyimbolkan jalan menuju kepada sang pencipta.

Posisi tiriq yang vertikal, dengan tancapan tusukan secara horizontal menyimbolkan hablun minallah wa hablun minannas, (hubungan dengan Tuhan, dan kepada manusia juga pada alam). Untuk sampai kepada-Nya, hubugan pada sesama manusia dan alam juga harus dijaga secara harmonis.

Selain itu kata Arif, bahan-bahan yang digunakan dalam kreasi tiriq mengandung makna sendiri-sendiri. Pohon pisang misalnya, pohon yang hidupnya fleksibel, bisa hidup di tanah gambut dan basah. Pohon pisang, dalam keadaan normal, tidak akan mati sebelum melahirkan tunas yang baru, sifatnya hidup dan menghidupi. Sebagaimana hidup, kita setidaknya meniru cara pisang hidup. Hidup dan berguna bagi manusia, alam dan seisinya.

Selain pisang, juga ada telur. Menurut Arif, filosofi telur: “Jika telur pecah karena faktor dari luar, maka kehidupan berakhir. Tapi, jika telur pecah karena energi dari dalam maka kehidupan dimulai.”

Ini memberi gambaran bahwa, sebelum berbuat hal-hal besar, manusia harus mengenali dirinya terlebih dahulu. Menyadari diri dan kediriannya lebih awal. Dorongan dari kesadaran diri mampu memulai kehidupan. Namun, sebaliknya membirakan faktor luar menguasai diri bisa berujung pada kehilangan jalan. Lebih dari itu, telur menyimbolkan keislaman, keimanan dan ihsan. Kulit telur disimbolkan Islam, putihnya sebagai Iman, dan kuning jadi ihsan.

Bahan pembuatan tiriq adalah bambu. Penggunaan bambu sebagai tusuk telurnya dianggap sebagai penyanggah yang kokoh. Mencontoh bambu yang meski memiliki akar kuat, tapi mereka tetap hidup secara bergerombol sekaligus bersatu. Saling menguatkan satu sama lain. Bambu tidak akan hidup sendiri, kecuali kalau ditanam dalam pot beton.

Satu lagi yang selalu ada dalam tiriq: ketupat, katupe kalau bahasa di kampung saya. Dari penjelasan Arif, saya menangkap bahwa ketupat ini mewakili kesucian jiwa. Sebeb, dalam tradisi Mandar, ketupat harus dibuka dengan cara membelah dua ketupat tersebut. Tidak boleh mengupas pembungkusnya, supaya nasi putih di dalamnya ketika dibelah langsung memperlihatkan lembaran putih. Jadi, yang terlihat pertama kali adalah warna putih. Ini mengisyaratkan, kelahiran dan kembali lagi kepada Tuhan harus dalam kadaan bersih, putih.

Tambahan hasil-hasil pertanian pada tiriq sebagai bentuk syukur pada segala yang menghidupi manusia. Melalui padi, kakao, kopi, rembutan, durian, dan lada putih, warga di kampung saya bisa menyambungkan hidup.

Seperti tariqoh, tiriq juga menyimbolkan jalan menuju Tuhan.

Sebelum menutup telfonya, Ibu saya meminta saran orang atau penceramah untuk membawakan hikmah maulid di masjid kampung [.]

***

الّهّمَّ صلِّ وسلِّم وباركْ عليْه
Naiya Suruga anna pappenyamanganna, (iyamo) asannangan iya naappunnai tau iya massalawa’, merau amasagenang anna barakka’ lao (di nawitta Muhammad S.A.W.)
Bongi dipiananganna (nawitta SAW.) mambawa
Arionga pa’mai’ anna amawarranna agama

 

E to dielo’i asalamakang (amasagenang) di sesemu
Salam’ (pammasena Puang Allah Taala) di sesemu
 
I’omo mataallo, I’omo bula tepu
I’omo tayang makketayang
 
I’omo salaka (menjari bulawang) masuli’
I’omo pa’jannangan/pallang ate

 

Surga dan kenikmatannya itu bagi orang yang memohon rahmat, kesejahtraan dan keberkatan atasnya (Nabi Muhammad)

 

Malam kelahiran beliau (Muhammad SAW.) membawa kegembiraan
dan kemegahan bagi agama

 

Wahai kekasih Allah keselamatan atasmu
Rahmat Allah semoga melimpah atasmu

 

Engkau matahari, engkau bulan purnama
Engkau cahaya di atas cahaya

 

Engkau emas murni yang sangat mahal
Engkau pelita diseluruh hati 

Kepada pembaca yang memiliki refrensi atau penelitian tertulis tentang To Salama di Bulo-Bulo mohon bisa menghubungi penulis. Kami membutuhkan naskah-naskah atau jejak beliau untuk digali lebih dalam.

Hedi Basri Malliwang
Penulis adalah Mahasiswa rantau dari Pedalaman Mandar, Tutar, Sulawesi Barat. Selain menulis ia juga aktif menghayati pergulatan masyarakatnya sebagai bekal kembali ke kampung halamanya. Penulis bisa disapa melalui akun media sosial Facebook: Hedi Instagram: @hedibasri