Mengeja Kisah Nabi Sebagai Jalan Menemukan Diri

Kediri adalah kota kelahiran saya. Sebuah kota kecil di Jawa Timur, serupa kota-kota kecil lainnya di era modern, yang berupaya membangun diri menjadi metropolis. Mal dan bioskop menjadi bagian representasi salah satu syarat kemetropolitan. Saya menyatakan begitu, karena  setiap kali ditanya dari mana saya berasal, lalu menjawab Kediri, kawan saya akan bertanya, “Apakah di sana ada Mal? Berapa banyak? Bioskop juga ada?” Seringnya pertanyaan itu membuat saya berpikir, nampaknya eksistensi mal dan bioskop sangat diperhitungkan untuk memenuhi identitas standar kota besar. Ah, apapun itu tidak terlalu penting, yang nampaknya akan cukup penting adalah kisah saya selanjutnya.

Setelah berumur 18 tahun, saya berpamitan pada Bapak untuk pergi ke Yogyakarta. Pamitan yang bukan tiba-tiba kok, yang didahului dengan musyawarah dan pembacaan. Begitulah Bapak saya orangnya cukup moderat. Bapak mengajak saya ke toko buku dengan arsitektur kuno di selatan Sungai Brantas, Sirah Nabawiyah-Ibnu Hisyam, hadiah saya untuk berangkat ke Yogya. “Ya, Pa, saya hendak mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam” kata saya yang saat itu berhasrat sekali menjadi anak sulung yang sholihah. Dalam perjalanannya, imaji kesholihahan saya berubah.

 Belum lama meniti hidup di tanah rantau, saya dipertemukan dengan organisasi kiri mentok, dengan beberapa jargon yang sering diucapkan oleh senior saya waktu itu. Hmm, salah satunya, “Agama adalah candu, ia meninabubukkan masyarakat dari permasalahan real. Untuk apa sholat jika tetangga kita kelaparan?” Saya yang berangkat dari Aliyah dengan Fiqih kental tetiba dihadapkan dengan organisasi seperti itu membuat saya oleng. Bukan mendramatisir, tetapi bahkan sampai sekarang, teman-teman saya yang menyaksikan dan mengingat masih bertanya, “Sudah enggak jalan-jalan tengah malam lagi, Pin?”

Sejak berkenalan dengan organisasi itu, saya sering jalan-jalan tengah malam seorang diri. Rasanya ada yang menyumpal di dalam kepala. Ya, semakin berkenalan dengan organisasi tersebut, semakin saya mendapat banyak kisah tentang kemiskinan, ketertindasan, kekuasaan uang atau ekonomi: bahwa apa yang kita lihat di permukaan, tentang praktik keagamaan, pendidikan, kebudayaan, bahkan nasib seorang manusia tidak lain merupakan pengaruh besar dari ekonomi politik sistem kapitalis. Tuhan, saya begitu percaya dengan takdir. Kenapa kali ini ada pengetahuan yang membuat saya pun harus percaya uang menyayangi takdir. Saya ingin membuang yang menyumpal kepala saya. Salah satu cara yang saat itu bisa saya lakukan hanyalah berjalan-jalan tengah malam di area Sorowajan atau pun Jalan Solo, melihat orang dan keadaan. Bahwa pikiran yang menyumpal kepala saya tidaklah senyata orang dan keadaan yang saya temui. Begitulah Teman, jika kamu ingin tahu definisi berjalan dengan kosong, saya pernah melakukannya. Mungkin juga banyak yang melakukannya, bukan suatu kebanggaan, hehe.

Begitulah Teman, jika kamu ingin tahu definisi berjalan dengan kosong, saya pernah melakukannya. Mungkin juga banyak yang melakukannya, bukan suatu kebanggaan, hehe.

Itu tahun pertama saya di Yogyakarta, saya membaca Marxisme dengan sangat polos, membaca Islam juga dengan sangat polos. Tapi setidaknya dua kepolosan ini menyelamatkan saya di wilayah akademik. Saya mempelajari keduanya dengan sangat tekstual, efeknya cukup baik: ini tidak mengganggu pertanyaan-pertanyaan dosen atau soal-soal UAS. Belajar dengan tekstual membuat saya kaku, saya tidak perlu mensintesakan Marxisme dengan Islam, Sejarah Islam Khususnya. Di tahun ini saya mendapatkan IP yang sangat bagus sepanjang sejarah perkuliahan saya. Setidaknya keadaan itu membuat Bapak saya percaya, saya masih amanah.

Hal tadi memang sisi baik belajar secara tekstual, tapi sisi buruknya kepala saya semakin tersumpal dan tidak terdamaikan. Saya berpikir, bila Budhe-budhe saya melihat keponakannya berjalan-jalan tengah malam untuk alasan yang aneh, mereka akan apa? Saya ingat, saya punya banyak Budhe juga Tante. Ketika berpamitan ke Yogya kala itu, mereka adalah garda depan yang mengekspresikan kekhawatirannya kepada saya. Saya mendoa, “Tunjukilah jalan, Tuhan!”

Tidak lama dari doa itu, saya melihat poster hitam putih murahan yang tertempel di tiang listrik area parkiran Fakultas Adab dan Budaya. Karikatur dalam poster cukup rumit untuk dipahami oleh saya. Namun saya terpantik untuk mengikuti ajakan dari poster itu: Ya, menggabungkan diri di organisasi tulis-menulis. Memasuki organisasi ke dua saya ini, lagi-lagi saya tersentak, saya bertemu lagi dengan Marxisme, namun kali ini tidak hanya itu, ada banyak isme lainnya. Sejak saat itu, saya tidak pernah atau jarang sekali berjalan tengah malam seorang diri. Jika ada yang menyumpal di kepala saya, saya mendatangi organisasi tulis menulis ini untuk diskusi, jika pun penyumpalan dalam kepala itu telah cukup tenang, saya membuka laptop dan menuliskannya agar damai. Kemudian saya lupakan. Pastinya banyak tulisan saya yang ditolak redaktur. Tapi setidaknya kepala saya telah kosong, ringan.

Sekarang, sudah tujuh tahun saya di Yogya. Pastinya saya sudah lulus, meskipun baru kemarin. Baru-baru ini Teman saya (sekarang mendedikasikan diri sebagai aktivis kebudayaan di Pondok Pesantren Kaliopak) memberikan tawaran ngopi, saya mengiyakan. Lepas malam pengkopian itu, saya membuka WhatsApp dan mendapati statusnya. Ia bercerita bahwa tujuh tahun kami telah berteman. Saya tersentak, bukan karena statusnya, tetapi karena kuliah saya molor tiga tahun dari bayangan sebelumnya. Bahkan saat itu, ketika Bapak dikebumikan, saya belum lulus, materi kuliah yang harus saya tempuh masih banyak karena sering bolos kelas. Ini sedih, sungguh.

Tapi dari pada melakukan ritus menyesal, sebaiknya saya bersyukur atas apa yang sudah terlewati: mensyukuri atas kesempatan dan jalan yang telah saya tempuh. Ritus pensyukuran terdekat, saya lakukan dengan jalan menyusun tulisan ini.  Saya akan mencoba mengingat buku hadiah Mendiang Bapak sebelum saya berangkat ke Yogya : Sirah Nabawiyah: Perjalanan Kisah Hidup Nabi Muhammad, begitu arti yang saya ingat dari penjelasan Ibu Dosen. Ditambah dengan bertepatan  Bulan Suci Romadhan yang datang sebentar lagi, saya ingin melakukan wisata sejarah. Napak tilas atas perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Menelusur kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Bulan Romadhon semasa Hidup Nabi Muhammad SAW: Penuntun dan Teladan Umat Islam.

Tapi dari pada melakukan ritus menyesal, sebaiknya saya bersyukur atas apa yang sudah terlewati: mensyukuri atas kesempatan dan jalan yang telah saya tempuh. Ritus pensyukuran terdekat, saya lakukan dengan jalan menyusun tulisan ini. 

Dalam Sirah Nabawiyah, terdapat tiga peristiwa besar di masa hidup Rosulullah yang terjadi pada Bulan Ramadhan. Ketiga peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah Islam tersebut adalah: Nuzulul Quran, Perang Badar dan Fathu Makkah. Mari kita telusur bersama satu persatu, karena setiap peristiwa tidak datang sendirian, namun terkadung pesan dan refleksi yang berharga.

Nuzulul Quran

Nuzulul Quran adalah moment yang menandai kenabian Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib, manusia pilihan Allah untuk memimpin jalan kebaikan umat manusia.  Tiga tahun sebelum berusia 40, Ia sering menyendiri di Gua Hira, sebuah gua yang memiliki ukuran kelebaran 1,5 m, panjang 3 m dan tinggi 2 m. Gua kecil yang terletak di Jabal Nur, sebuah gunung bebatuan yang berjarak 4 km arah timur laut dari Masjidil Haram, Makkah. Lebih tepatnya berada di jalur jalan Thaif (Sael).  Jabal Nur memiliki ketinggian 281 m di atas permukaan air dengan panjang track pendakian 645 m. Meski tidak terlalu tinggi namun untuk sampai pada titik Gua Hira, kala itu cukup sulit, karena batu-batu besar maupun kecil akan berguguran sewaktu-waktu dari Gunung Cahaya ini.

Di tempat itulah Muhammad mensetiai proses uzlahnya. Ia merenungi keadaan, kekuasaan Allah, juga bertahanus. Jalan mengasingkan diri, berjarak dari hiruk pikuk peradaban Makkah abad ke 7, jauh dari keluarga adalah proses yang berat, mengasing, terasing, sepi, ketakutan. Namun, betapapun jalan itu, Ia tempuh selama tiga tahun hingga turun wahyu pertama.

Dari H.R Bukhari Muslim, Aisyah Rodhiallahuanha menyebutkan: Awal turunnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulai dengan ar ru’ya ash shadiqah (mimpi yang benar dalam tidur). Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi rasa ingin untuk menyendiri. Nabi pun memilih gua Hira dan ber-tahannuts. Yaitu ibadah di malam hari dalam beberapa waktu.

Kemudian beliau kembali kepada keluarganya untuk mempersiapkan bekal untuk ber-tahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hira. Malaikat Jibril datang dan berkata: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah)” (HR. Bukhari no. 6982, Muslim no. 160).

Turunnya Q.S Al-‘alaq 1-5 adalah titik Ajaran dan nilai-nilai  Islam dimulai, ditanamkan dan diserukan. Tanah Makkah, gurun pasir yang gersang dan panas dengan hujan yang sedikit,  namun bangunan kubus bernama Ka’bah itu menjadi pusat spiritual sejak ribuan tahun sebelum Muhammad lahir.  Sistem perdagangan yang maju juga turut menghidupi kota itu. Banyak saudagar dari Afrika, Cina dan Eropa mengunjungi Makkah untuk mengupayakan keuntungan di musim tertentu.

Diapit oleh dua peradaban besar, Persia dan Romawi, dalam konteks sistem ekonomi, peradaban Jazirah Arab tidaklah kalah jauh. Akan tetapi dalam tatanan bersosial, Bangsa Arab kala itu memiliki budaya yang membuat nurani berdarah. Budaya yang penuh teror itu beberapa di antaranya dipraktikkan dalam dua hal; pertama, menandang seorang perempuan bukan sebagai makhluk Tuhan yang utuh, pun justru menyerupai komoditas. Hak berpendapat dan mengaktualisasikan diri cukup jauh bahkan dari mimpi sekalipun, kala itu. Menurut Philip KHitty dalam History of The Arab nya, perempuan bebas dinikahi oleh siapun tanpa persyaratan yang memanusiawikan. Menikah berarti mengambil perempuan sebagai kepemilikannya, jika sang suami tak lagi menginginkan, perempuan akan diwariskan  kepada anak sulung atau pun saudaranya, juga dijadikan jaminan jika kalah dalam berperang, bahkan beberapa suku Arab menolak kehadiran perempuan sejak bayi, dengan menguburkannya hidup-hidup.

Praktik Jahl yang kedua adalah fanatisme al-‘Ashabiyah atau fanatisme kabilah, sehingga hal tersebut sering menimbulkan percekcokan dengan kabilah lain yang berujung pada peperangan bahkan dalam hal sepele sekalipun, kalah dalam pacuan kuda misalnya, atau persengketaan hewan ternak, mata air atau padang rumput.

Di tengah kemelut tatanan sosial yang seperti itu, wahyu pertama turun, menandai kenabian Muhammad. “Bacalah!” perintah pertama yang diberikan Tuhan kepadanya. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.

Sebelum perjuangan yang lebih terjal disematkan dalam pundaknya, Manusia pilihan, Teladan kita, Muhammad diberi tugas untuk membaca asal mula kediriannya yang juga mewakili asal mula seluruh manusia. Pertangungjawaban segumpal darah, dan pertolongan Tuhan yang Maha Pemurah.

Nuzulul Quran, membuat saya mengingat kembali pertanyaan konyol saya semasa kecil, saya belum mengetahui apa arti Kitab Suci pada saat itu. Mengapa Al-Quran, mukjizat Nabi ku? Kisah-kisah pengantar tidur yang diceritakan Bapak, Nabi-nabi lain dianugrahi mukjizat yang ajaib. Musa, dapat membelah lautan, tangannya bersinar dan mengubah tongkat menjadi ular raksasa. Isa, semasa Ia bayi telah dapat berbicara memberi penjelasan kepada orang-orang yang menghina Ibunya hingga menghidupkan kembali orang yang telah meninggal untuk menjadi sanksi sebuah pengadilan. Yunus, ketika hendak dibuang oleh kaumnya dari kapal, ikan Paus mendatangi dan menyimpan dalam perutnya selama 40 hari. Letak keajaiban Al-Quran ada pada apa? Pertanyaan bodoh saya.

Hiya, belajar sejarah Islam setidaknya membangun imajinasi saya untuk bisa membuat gambar tentang jejak-jejak Nabi saya dengan lebih dekat dan tidak asing. Budaya bersyair, mencintai syair yang dijalankan Bangsa Arab beratus-ratus tahun ini tentu mengakar kuat dan masih terus dirawat di masa hidup Nabi Muhammad.  Sastra, itulah yang menjadi simbol kekayaan intelektual Bangsa Arab. Pasar-pasar tahunan seperti Ukaz, Dzul Majaz dan Mihnah mengadakan perlombaan rutin dalam syair-syair dan puisi-puisi Arab. Pemenang dalam perlombaan akan mendapat kehormatan dengan dituliskan  syairnya menggunakan tinta emas yang digantungkan di Ka’bah.

Keagungan ayat-ayat Al-Quran, membuat Suku Qurais Kafir memprasangkai bahwa Al-Quran yang dibacakan Muhammad di sekitar Kakbah kala itu tidak lain hanyalah sihir belaka. Dan mereka menyaksikan beramai-ramai dengan spontan, penduduk Makah yang saat itu berada di sekitar Kakbah turut mengikuti Nabi melafalkan ayat-ayat Al-Quran yang dibacanya. Beberapa orang lagi berlarian menjadi berat dan gila, ketika hati tertutup. Seajaib itu Al-Quran ternyata, Ia adalah mukjizat yang sunyi dan simbolik, makna tersingkap dengan lembut dan diam-diam, ketika hati telah rela, tidak instan. Nuzulul Quran yang terjadi di bulan Romadhon adalah simbol untuk kembali mengaji diri dan keadaan, diperlengkap dengan ritus menahan dan atau membersihkan dalam praktik berpuasa.

Perang Badar

Peristiwa yang kedua adalah Perang Badar. Di titik ini daya saya hampir habis. Tapi saya tetap akan menuliskannya, merapal sebuah penebusan untuk tujuh tahun itu. Perang Badar terjadi dua tahun setelah Nabi Muhammad dan Kaum Muslimin Makah berhijrah ke Madinah. Kita mengingat bagaimana strategi Muhammad dan kaum muslimin untuk menghindari kejaran yang bermotif maut dari kaum Kafir Qurais ketika Nabi dan Umat Muslim hendak berhijrah. Bahkan dua tahun di Tanah Hijrah pengancaman itu masih berlangsung, yang puncaknya adalah terjadi Perang Badar. Kita tahu, jumlah jiwa kaum muslimin kala itu 300an Jiwa, dan dihadapkan dengan tentara Qurais yang berjumlah 1.000 dengan 600 persenjataan lengkap, 700 unta dan 300 kuda. Kaum Muslim hanya memiliki 8 pedang, 6 baju perang, 70 unta dan 2 ekor kuda. Perbandingan perbekalan yang jauh. Akan tetapi keimanan dapat mengalahkan bekal-bekal materil itu pada akhirnya. Allah mencabut rasa takut umat muslim. Perang yang dipimpin langsung Nabi Muhammad ini menggunakan strategi pintar, kaum muslim membuat format barisan di dekat mata air, dengan begitu akan memberi banyak pertolongan dalam keadaan terdesak. Pasukan pemanah yang menyamarkan keberadaanya di balik bebatuan melepaskan anak panah mereka, menembus kecongakan pasukan Abu Jahal.

Peristiwa yang kedua adalah Perang Badar. Di titik ini daya saya hampir habis. Tapi saya tetap akan menuliskannya, merapal sebuah penebusan untuk tujuh tahun itu.

Dua jam setelah gala peperangan berlangsung, Kaum Kafir Qurais telah banyak yang tumbang. Para pemimpin pun menyeru sebuah komando untuk lari kembali ke Makkah. Pasukan Kaum Muslim tidak diperintahkan Nabi untuk mengejar, mengupayakan perdamaian adalah jalan yang Ia ajar.

Pastinya tidak seperti di film-film atau dalam teks-teks induk sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah dengan framing kaku dan menekankan pada eksplorasi detail-detail cerita  kekerasan dari peristiwa ini.  Bahkan dari pemilihan kata, saya berusaha hati-hati, tidak hendak menciptakan narasi  yang mengeksplorasi kegagahan lewat kekejaman, seperti buku-buku yang telah saya lahap di sekolah ataupun kuliah.

Betapapun, Tuhan menciptakan kekerasan dan kelembutan, kadang jalan yang keras harus ditempuh untuk menemukan arti kelembutan, kelembuatan yang serupa dekapan Ibu: melindungi. Makna itulah yang seharusnya kita eksplor bukan deskripsi peristiwa pertumpahan darahnya.

Perang Badar yang terjadi pada 17 Romadhon 2 Hijriah tersebut, saya membacanya adalah simbol, merujuk pada hadis yang diucapkan Nabi seusai peperangan berakhir: “Kita baru kembali dari Jihad kecil (peperangan itu) dan menuju Jihad yang lebih besar, perjuangan melawan diri sendiri.” Iya, perjuangan yang lebih sulit memang, mereformasi diri sebagai subjek pengantar  mereformasi ekosistem.

Perang Badar adalah simbol fisik perjuangan untuk mempertahankan diri di Jalan Allah. Mengapa simbol fisik diperlukan? Untuk membangun ritus pada jiwa sehingga dapat membuka hal yang lebih kompleks, yaitu perjuangan di bidang intelektual, sosial, ekonomi, spiritual dan domestik. Hal ini dibuktikan secara nyata, bahwa usai peperangan fisik tersebut, banyak Penduduk Madinah yang akhirnya memeluk Islam, mengakui Muhammad sebagai pemimpin karena telah melindungi Oasis Penduduk Madinah. Kemudian menjadi pintu Nabi Muhammad melakukan pembaharuan-pembaharuan sistem sosial, ekonomi, politik, menamkan ajaran Islam, dan membangun budaya-budaya dengan nilai keadilan dan apik.

Perang Badar adalah simbol fisik perjuangan untuk mempertahankan diri di Jalan Allah. Mengapa simbol fisik diperlukan? Untuk membangun ritus pada jiwa sehingga dapat membuka hal yang lebih kompleks, yaitu perjuangan di bidang intelektual, sosial, ekonomi, spiritual dan domestik.

Jadi, mari menengok diri, seberapa teguh kita menyusur jalan jihad di era yang bahkan beberapa menyebut paska postmo ini.

Fathu Makah

Peristiwa terakhir adalah Fathu Makkah atau Pembebasan Mekah yang pastinya terjadi tanpa pertumpahan darah sedikit pun. Peristiwa ini terjadi pertengahan Bulan Ramadhan, 6 tahun setelah kejadian Perang Badar. Pada hari itu, Umat Muslim dengan jiwa yang telah banyak, memasuki Makah untuk melakukan Thowaf. Melihat jumlah kaum Muslimin yang banyak, penduduk Kafir Makah ketakutan, mereka mengira akan terjadi genjatan senjata. Nabi dan Umat Islam membalas tatapan ketakutan dengan tatapan sayang dan belas kasih. Dalam gelombang rasa takut Kaum Kafir Qurais itu, Nabi Muhammad justru menyeru: “Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”

“Siapa yang masuk masjidil haram maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”

“Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap, sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”

Sejak peristiwa Pembebasan Makah yang tanpa tetes darah, Makah menjadi negeri Islam. Penduduk Makah banyak yang bersyahadat mengakui keesaan Allah dan Muhammad sebagai utusanNya. Sejak itu tidak ada lagi hijrah dari Makah ke Madinah, penduduk Makah telah mengikuti ajaran Muhammad SAW. Nabi dan Kaum Muslim yang berangkat dari Madinah kembali ke negerinya setelah 9 hari di Makah. Penduduk Makah pun rindu Nabi. Muhammadnya yang lahir di Tanah Makah.

Selanjutnya saya mengambil makna, Fathu Makah dengan segala yang diucapkan Nabi dalam peristiwa itu adalah simbol untuk menjaga ingatan serta penyaringan jiwa kita tentang jalan yang haq dan yang batil, yang harus kita jalani dan yang harus kita jauhi. Penyaringan adalah proses yang hati-hati, berpuasa adalah sebagai ritus fisik untuk sampai pada jiwa yang hati-hati.

Sekian dongeng jelang puasa ini. Puasa yang sedikit sunyi di tengah pandemi. Namun dalam kesunyian doa yang terapal terasa lebih merdu. Mendoa apa kawan, di bulan suci ini? Semoga doa mu terijabahi. Selamat menyambut puasa, harus hepi.

Menghayati Kisah mu, Nabi Agung Saya, menengok langkah saya 7 tahun ke belakang, sebelum menjadi seliberal pada masanya. Ya, kisah selalu menyimpan banyak simbol. Terima kasih.

Buku Langgar Shop