Mencari Gorontalo


(Bagian I)

Setiap orang punya perjalanan epistemiknya sendiri-sendiri. Itu bagian dari pergulatannya, pencariannya, proses yang masih akan terus “menjadi”. Tulisan ini tentang mencari Gorontalo, mencari diri saya sendiri sebagai orang Gorontalo, dari mana dan hendak ke mana. Sangat subyektif. Bacalah jika benar-benar berminat. Tulisan ini akan bersambung sebab ini proses pencarian, bersifat terus-menerus, saya tak mungkin merampungkan pengalaman ini sekali tarikan napas. Mungkin tak akan selesai. Saya beri endnote untuk penyebutan berbahasa Gorontalo agar orang tidak terganggu membaca pengertian-pengertiannya bila disisipkan di badan tulisan.

***

Saya mencari Gorontalo baru 10 tahun belakangan, itu pun dengan terbata-bata. Berawal dari ketaksengajaan. Waktu itu, sekitar tahun 2010, saya sedang mencari bahan-bahan untuk tugas mata kuliah hukum adat di internet. Di sana saya menemukan sebuah tulisan yang menceritakan sedikit tentang sejarah Gorontalo. Ada marga saya, Polamolo, disebut-sebut dalam tulisan itu. Dikatakan di sana Polamolo merupakan putra dari ratu yang berkuasa di Pohala’a[1] Limboto, Moliye, dan raja yang berkuasa di Pohala’a Gorontalo, Wolango. Polamolo kemudian mewarisi kepemimpinan kedua orangtuanya, ia menjadi Olongia[2] keempat sesudah Yilahudu, Ilato, Wolango, yang memimpin dua negeri sekaligus: Limboto-Gorontalo—dengan gelar Ologia lo Balanga[3].

Saya tercenung beberapa saat di depan komputer. Kisah itu terdengar seperti cerita rakyat, mungkin dongeng, entahlah, saya kemudian mengacuhkannya begitu saja. Selama ini saya memang tak pernah mendengar bapak menceritakan asal-usul keluarga hingga jauh ke zaman raja-raja. Kami hidup sederhana di perantauan. Keluarga kecil kami biasa saja. Makan enak jika tempat jahit bapak sedang banjir orderan; jika sedang sepi, kami merayakannya dengan menyantap supermi.

Kami hidup sederhana di perantauan. Keluarga kecil kami biasa saja. Makan enak jika tempat jahit bapak sedang banjir orderan; jika sedang sepi, kami merayakannya dengan menyantap supermi.

***

Waktu berlalu dan satu per satu sumber sejarah Gorontalo saya temukan, juga tanpa disengaja. Sebagian sumber-sumber itu ternyata menjadi semacam a tool to confirm atas artikel yang pernah saya baca pada 2010, dan sialnya, malah mencuatkan sejumlah pertanyaan yang mendesak buat dicarikan jawabannya.

Pada tahun 2015, dalam sebuah kesempatan riset kebebasan beragama di Gorontalo, saya menyempatkan untuk menelisik asal-usul keluarga saya di Limboto (pusat marga Polamolo). Saya tak asing dengan daerah ini. Dulu, sekitar tahun 2003-2005, saya pernah kuliah di Universitas Gorontalo 3 semester, sebelum akhirnya berhenti karena lebih sering mabuk-mabukan daripada masuk kelas. Keparat memang. Itu masa-masa peralihan kehidupan remaja yang cukup berat. Jangankan memikirkan asal-usul, membereskan pikiran sendiri saja saya tak becus.

Di Limboto saya menemukan silsilah keluarga kami. Saya mencatatnya. Salah seorang mongopanggola[4] di Hunggaluwa menjelaskan kepada saya secara rinci garis silsilah kami. Saya berhutang sejarah silsilah kepada beliau (Ayah Kona). Memang belum cukup lengkap, tetapi itu cukup mengonfirmasi dari mana asal keluarga kami. Saya juga menemukan sejumlah buku penting dan klasik tentang Gorontalo dan apa yang terjadi kemudian adalah, alih-alih beres, minat saya bergeser ke soal yang lebih serius lagi.

Minat saya bukan lagi soal keturunan raja, sebagian besar nama-nama raja di Gorontalo sekarang dipakai oleh para keturunan raja sebagai marga mereka. Ini semua biasa saja. Saya tak lagi antusias dengan romantisme kemargaan. Maka saya ingin mencari lebih jauh lagi, lebih serius tentang diri saya sebagai orang Gorontalo. Siapa saya sebagai orang Gorontalo itu? Apakah Gorontalo yang animis (istilah yang sering digunakan mentah-mentah oleh sebagian sarjana Gorontalo), atau Gorontalo yang Islam? Bagaimana menjelaskan ini, tak semudah mengunyah kacang goreng sinkretisme.

Siapa saya sebagai orang Gorontalo itu? Apakah Gorontalo yang animis (istilah yang sering digunakan mentah-mentah oleh sebagian sarjana Gorontalo), atau Gorontalo yang Islam? Bagaimana menjelaskan ini, tak semudah mengunyah kacang goreng sinkretisme.

Maka saya pun terus melakukan pencarian. Seperti sebuah perjalanan batin. Dari Jawa saya melakukan perjalanan batin ini karena saya telah tinggal dan menetap di sini sejak 2007. Apa yang disebut Jawa juga bagian dari diri saya yang lain. Saya cerita sedikit soal ini.

Ibu saya (alm) adalah perempuan Jawa Tondano bermarga “Rivai”. Marga itu menandakan bahwa ibu saya keturunan Rivai (atau sering disebut juga “Rifa’i”, “Rifangi”—ini soal penyebutan saja). Siapa Rivai, tak kalah menarik dengan ketika saya menelusuri silsilah dari garis bapak. Rivai merupakan salah seorang punggawa yang ikut bertempur dalam perang Jawa bersama Pangeran Diponegoro dan Kiyai Mojo (R.M. Muslim Muhammad Halifa, atau dikenal sebagai Kiyai Guru Maja) yang pecah mulai tanggal 20 Juli 1825.

Rivai, atau Mas Rivai (sering ditulis bersamaan dengan nama Mas Hanafi) termasuk dalam rombongan pertama yang diasingkan Belanda bersama Kiyai Mojo ke Tondano. Total ada 63 orang yang diasingkan saat itu (rombongan ini berbeda dengan rombongan Pangeran Diponegoro). Kepada patuari[5] Wahid Kosasi, ahli nasab keluarga Jawa Tondano, saya sangat berterima kasih atas silsilah yang ia berikan. Singkat cerita, banyak dari rombongan tadi menikah dengan perempuan Tondano dan kemudian melahirkan keturunan percampuran suku yang unik bernama Jawa Tondano. Beberapa tradisi Jawa masih cukup kentara sampai saat ini. Bahasa Jawa telah bercampur dengan bahasa lokal.

Maka Jawa yang saya temukan dari garis ibu itu—pencarian saya belum dalam (saya menyisirnya di sela riset kebebasan beragama di Sulawesi Utara pada 2017)—mungkin Jawa yang sudah membangun dirinya lagi setelah dirusak kolonial dan hancur berkeping pasca perang Jawa. Tetapi cukup jelas yang saya saksikan adalah Jawa Islam (lain kesempatan saya buatkan tulisan khusus mengenai Jawa Tondano ini).

Bagaimana dengan Gorontalo?

***

Gorontalo yang saya jumpai pertama kali adalah Gorontalo yang saya lihat dalam diri bapak. Bapak saya bertato. Saya jarang melihatnya ke masjid. Bila Ramadan tiba, ia berpuasa. Tiga hari menjelang lebaran, ia menyalakan lampu minyak dan meletakannya di depan rumah (itu adalah tradisi tumbilotohe[6] untuk melepas bulan Ramadan). Ia sering pergi berguru. Bila hendak bepergian, atau hajatan, ia terlihat berhitung hari nahas (belakangan saya baru tahu jika itu konsep lowanga, kalisuwa—sistem kalender Gorontalo. Ada pula ilmu perbintangan Gorontalo disebut poliyama wopato, juga naga-naga—konfigurasi bintang).

Ketika masih berusia remaja, saya sering diam-diam menguping percakapan bapak dengan teman-temannya. Mereka menyebut-nyebut tarekat, ma’rifat, rasa, hu Allah, nur Allah nur Muhammad, dua cahaya yang saling melebur menjadi satu cahaya, “mololohe asali”,[7] dsb. Kadang saya melihat mereka melakukan semacam gerakan-gerakan aneh, tubuh mereka bergetar dan bergerak sendiri dengan jemari telunjuk tegak, tiga jari dilipat ke dalam telapak tangan dan jempol membuka ke samping. Ingatan saya samar-samar.

Ketika saya dan bapak bertemu di Halmahera Utara pada 2014 silam (waktu itu saya sedang riset kebebasan beragama di Maluku Utara), bapak bicara banyak hal tentang kehidupan yang sulit saya cerna. Percakapan jenis itu berulang ketika kami bertemu di Boroko, pada 2017, saat ibu meninggal.

Sangat sulit mengerti maksud bapak karena saya tak mengerti tarekat. Ia bicara tentang aspek-aspek fundamental “kedirian” sebagai seorang Gorontalo, sekaligus seorang muslim, dengan sistem pengetahuan yang unik tentang hidup, tentang diri sendiri, alam semesta, dan sang Pencipta. Saya berpikir, tak mungkin bisa masuk melewati “jalan” yang dilewati bapak itu sebab saya tak punya dasar apa pun seperti dirinya.

Maka sebagai seorang sarjana tata negara, yang menaruh minat serius di bidang ini, pencarian saya mulai dengan menilik tata negara Gorontalo di masa lampau. Saya pikir itu pintu masuk pertama yang sesuai kemampuan saya. Dan, jika beruntung, mungkin saya bisa tiba di ujung “jalan” yang sama di mana bapak berada.

Tata negara Gorontalo yang saya temukan sangat idiosinkratis tapi berkacau dengan label teoritik yang memancing pembaca, kalau bukan terjebak pada pemaknaan secara bias dan diskriminatif mana Gorontalo pra Islam (dianggap animis) dan mana pasca (tercerahkan), sinkretik, kita akan dibawa menyaksikan pertunjukan teoritik yang ganjil.

Kalau boleh mengomentari sedikit, banyak sekali teori tata negara yang memang lebih cocok dengan konteks sosial politik kontemporer—tidak untuk menjelaskan masa lalu tata negara seperti kasus Gorontalo. Memang kita membutuhkan kerja-kerja epistimologis untuk mengangkut sejarah ke permukaan, tetapi bukan dengan akrobat teoritik. Hampir semua sarjana tata negara melakukan hal konyol itu, termasuk saya ketika dengan congkaknya mengangkut sejarah tata negara hanya buat menjastifikasi teori-teori yang sama sekali tak ada kaitannya—kecuali pada ikhtisar belaka.

Tata negara Indonesia yang kita jalani sekarang sepenuhnya bukan kontinuitas dari tata negara di masa lalu. Sehingga kebanyakan dari tindakan menggali masa lalu menjadi sebuah gejala lain untuk memberi pondasi pada modernitas sosial politik yang oportunistik. Dengan itu seolah mau ditegaskan bahwa modernitas sosial politik hari ini punya akar jauh ke belakang. Padahal tidak demikian. Akar itu telah dibabat oleh Kolonial. Dan karena itu tampaklah sekarang ini adat, budaya, lebih sering digunakan bak gincu buat memoles para elit. Di Gorontalo, gejala semacam ini agak kronis.

Kembali ke topik. Pada suatu hari di tahun 2016, saya menemukan disertasi Samin Radjik Nur. Sudah lama saya memburu disertasinya—salah satu sumber primer yang hampir menjadi benda keramat karena sangat sulit untuk dipinjam apalagi di-fotocopy buat dikaji. Tak hanya itu, saya juga menemukan dokumen seminar adat-istiadat Gorontalo 1971. Saya semringah. Kepada Thariq Modanggu, mahasiswa S3 UIN Sunan Kalijaga yang sekarang menjadi Wakil Bupati Gorontalo Utara, saya berhutang dokumen penting ini.

Disertasi S.R. Nur membantu saya menyusun puzzle temuan-temuan sebelumnya. Ada yang sedikit saya sesalkan. Saya tak punya kredibilitas apa pun buat meringkus disertasi monumental itu, yang menurut saya, sangat kaya data tetapi sayang hanya digunakan buat menjastifikasi sejumlah teori Barat tentang konsep pemerintahan. Syarat dunia akademik kita untuk disebut ilmiah memang kadang menggelikkan. Mungkin S.R. Nur juga merasa keganjilan serupa. Terlepas dari itu semua, disertasi S.R. Nur ibarat sungai besar yang di dalamnya dapat menciptakan sungai-sungai baru karena data-data yang disodorkan di sana sangat berguna buat studi baru.

Dari kepingan puzzle yang mulai tersusun, pelan-pelan saya mendapatkan ilustrasi bahwa orang Gorontalo di masa lalu merumuskan tata negaranya tak hanya sebagai suatu institutional organs melainkan kekuasaan dipahami juga sebagai “institusi diri”, dimensi esoterik-batin—yang membimbing menemukan modus kebudayaan yang sesuai dengan “dirinya”. Inilah mengapa Gorontalo kemudian mengalami beberapa kali perubahan modus kebudayaannya (dari pusat kekuasaan) persis ketika terjadi pertembungan, kontak begitu, dengan Islam.

Modus pertama, falsafah “sara’a topa-topango to adati[8], dirumuskan oleh Olongia to Tilayo[9], Amai (1523). Modus kedua dilanjutkan putranya, juga Olongia to Tilayo, Matolodulakiki (1550-1585), menjadi “adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to adati[10]. Modus ketiga dirumuskan Eato (1673-1679), yang juga merupakan Olongia to Tilayo, menjadi “adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula-hula’a to Kitabullah[11].

Era Eato tampaknya puncak dari pencarian modus kebudayaan, dan melalui tasawuf, atau sufisme, kebudayaan Gorontalo direvolusi. Eato sendiri merupakan seorang penganut (sekaligus pengajar) tarekat Naqsabandiyah[12].

Pertanyaan pentingnya, apakah singularitas, atau mufrad syarak-Kitabullah saling melesapkan ketika bersinggungan dengan logos keadatan sebagai fakultas akal-budi orang Gorontalo selama proses ini berlangsung?

Bersambung…


End Note

[1] Perserikatan kerajaan-kerajaan kecil dalam satu keluarga serikat besar.

[2] Raja

[3] Raja dua negeri yang memimpin berbindah-pindah dari Limboto ke Gorontalo, Gorontalo ke Limboto. Sesudahnya, kepemimpinan dibedakan menjadi Olongia to Tilayo dan Olongia to Hulialiyo, atau raja hulu dan hilir, atau utara dan selatan.

[4] Orang tua-tua, sesepuh, yang dituakan.

[5] Saudara—sapaan kekerabatan.

[6] “Malam pasang lampu”, berkaitan dengan lailatul qadar, semangat memperbaiki perilaku, berkaitan penerangan jalan baik yang masih maupun yang sudah meninggal, dsb.

[7] Mencari asal, menemukan jalan pulang.

[8] Saya menerjemahkannya begini: syarak berasas adat.

[9] Artinya raja utara, sering disebut Olongia to Tilayo, Gorontalo, berarti raja atas, sumber air, atau hulu. Di bawah, atau hilir, ada Olongia to Hulialiyo, raja selatan, Limboto—yang dengan kata lain menerima perintah dari atas. Penyebutan ini agak mengganggu, apakah ia muncul sebelum atau sesudah perjanjian u duluwo limolo pohalaa, karena bisa diartikan “penaklukan” Gorontalo atas Limboto. Saya perlu menyelaminya lagi. Pembedaan semacam ini penting sebab banyak yang sering serampangan menyebut “raja Gorontalo” untuk menandai seluruh wilayah Gorontalo. Nyatanya tidak begitu. Gorontalo dan Limboto punya otoritas kekuasaan masing-masing (ini belum soal linula-linula). Penyebutannya berbeda dan baru berakhir tahun 1855. Oleh kolonial, kepemimpinan dijadikan satu di bawah raja Abdullah Monoarfa.

[10] Saya menerjemahkannya begini: Adat melebur dalam syarak, syarak manunggal dengan adat.

[11] Saya menerjemahkannya begini: Adat melebur dalam syarak, syarak berasaskan Kitabullah.

[12] Kitab-kitab tasawuf telah beredar di Gorontalo mungkin sejak era Olongia Amai (1500-an). Penginjil J.G.F. Riedel pada 1870 sempat singgah di Gorontalo dan mencatat 77 judul kitab tasawuf.

Buku Langgar Shop
Susanto Polamolo
lahir di Kotamobagu 8 Oktober 1985. Menyelesaikan S1 di FH-Univ. Proklamasi 45 Yogyakarta (2012). S2 diselesaikan di MIH Pascasarjana FH-Univ. Slamet Riyadi Surakarta (2015). Konsentrasi keilmuan hukum tata negara. Saat ini mengelola penerbitan Sabua Buku. Tinggal di Wangon, Banyumas.