“Sebagai amanat dari Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, sistem pendidikan harus mengarah bukan hanya pada kecerdasan intelektual semata, melainkan kecerdasan emosional dan spiritual.”

Dalam pada itu, kekayaan metode atau pendekatan pembelajaran menjadi keniscayaan. Salah satunya melalui pendekatan kesastraan. Masyarakat luas lebih memahami sastra sebagai tulisan fiksi yang berimplikasi bahwa kata-kata dalam teks tidak dimaknai menunjukan realitas tertentu apapun dalam dunia empirik namun, hanya menyajikan sesuatu yang belum ada. Faktanya, sastra tidak sesederhana itu. Ahmadun Yosi Herfanda menegaskan bahwa sastra memiliki potensi besar untuk membawa masyarakat ke arah perubahan, termasuk perubahan karakter.

Setidaknya, gema Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk anggitan Buya Hamka, roman Atheis tulisan Achdiat K. Mihardja, dan Bumi Manusia milik Pramoedya Ananta Toer masih terasa hingga sekarang, baik gema politik, budaya, agama hingga pendidikan. Dan tentunya, menjadi simbol perubahan di masyarakat. Sastra memiliki nilai keabadian. Maknanya dapat dipersepsi dan diposisikan sejurus alur dan perkembangan zaman. Sampai-sampai Horatius mengemukakan istilah dulce et utile dalam karya tulisnya berjudul Arts Poetica. Artinya, sastra mempunyai fungsi ganda, yakni menghibur dan memberikan manfaat bagi si pembaca. Sastra menghibur dengan menyajikan estetika, memberikan esensi terhadap kehidupan (kematian, kenestapaan, maupun kebahagiaan). Bagi banyak orang, misalnya karya sastra juga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan berupa kebenaran atau keburukan. Tidak sampai di situ, sastra yang dipadukan melalui dunia pendidikan, akan menstimulus aspek kognitif, afektif, psikomotorik dan character building.

Pada wilayah tersebut, kekayaan (tradisi) Nusantara menjadi nilai dan pandangan hidup untuk membangun generasi terdidik. Kearifan dunia pesantren (sastra pesantren) menjadi contoh. Sebagai sub-kultur, kata Gus Dur, pesantren memiliki karakteristik yang khas. Bahkan, Gus Dur mencatat, di era 50-an, sastra pesantren cukup menggeliat, diawali dengan karya Djamil Suherman. Tentunya, perkembangan sastra di pesantren melaju pesat sampai saat ini. Sebagai pendekatan pembelajaran, karya sastra yang berangkat dari nilai pesantren menjadi “alternatif” untuk membangun generasi terdidik dan berkarakter.

Hal inilah yang dilakukan oleh Kyai Achmad Sa’dulloh Majdi (Mbah Sa’dulloh) melalui syair sun ngawiti. Mbah Sa’dulloh lahir pada tanggal 10 Oktober 1929 di  Desa Pasir Kidul, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kyai Sa’dulloh adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Majdi sedangkan ibunya bernama Natem. Masa mudanya dilalui dengan banyak mendalami ilmu agama. Sehingga, Sa’dulloh muda tumbuh dengan kepandaian dan kecerdasan. Pada usia 15 tahun, beliau berkelana mencari ilmu ke berbagai pesantren. Hal ini dilakukan karena rasa hausnya akan ilmu pengetahuan. Beberapa pesantren yang beliau singgahi antara lain: Pesantren As-Suniyah (Sokaraja), Pesantren Leler (Banyumas), Pesantren Tebuireng (Jombang), nyantri kepada Syekh Idris, Kyai Baidhowi dan Hadrstussyekh Hasyim Asy’ari. Pesantren Darul Hikam (Bendo Pare, Kediri). Di sini beliau khidmat kepada Syekh Khozin dan Kyai Hayatul Maki. Pesantren Sarang, Rembang, ngaji dengan Kyai Zubaer Dahlan, dan Pesantren Termas (Pacitan), nyantri kepada Kyai Dimyati. Uniknya, saat di Sarang, beliau satu majlis dengan Almarhum Kyai Maemun Zubair.

Syair Sun Ngawiti Sebuah Penjelasan

Pada tahun 1958 Kyai Sa’dulloh mendirikan madrasah di Desa Pasir Kidul yang diberi nama Madrasah Al-Ittihad. Madrasah ini merupakan sebuah sekolah non-formal yang berisikan materi-materi agama. Kyai Sa’dulloh meramu (manajemen) madrasah secara modern, namun, kurikulum tetap berparadigma tradisional, yaitu materi khas pesantren. Di dalam madrasah, beliau membuat sebuah konsep mencari ilmu dalam bentuk syair. Syair ini diberi nama sun ngawiti. Sun ngawiti merupakan masterpiece dari Mbah Sa’dulloh. Setiap baris dari syair sun ngawiti mengandung makna simbolik. Pengarang begitu apik dan sangkil dalam menyusun kata pada setiap barisnya.

Syair sun ngawiti digunakan sebagai hapalan wajib, saat santri menuntut ilmu di Madrasah Al-Ittihad. Madrasah Al-Ittihad terletak di desa Pasir Kidul, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Syair sun ngawiti menjadi semacam spirit bagi para santri untuk menuntut ilmu di Madrasah Al-Ittihad. Secara bentuk, syair sun ngawiti disusun menggunakan bahasa Jawa dan terdiri dari 15 bait. Di dalam syair ini, pengarang membangun  konsep mencari ilmu dan tahapan-tahapan dalam menuntut ilmu. Syair sun ngawiti merupakan perpaduan antara pendidikan dan sastra. Dalam bait pertama berbunyi;

 “Sun ngawiti klawan muji dzat kang asih, rohmat salam katuro nabi kekasih. Opo dene wargo dalem lan sohabat, sarto kabeh wong kang tresno lan kang tongat.” Artinya, “aku memulai dengan memuji Dzat Maha Asih, Rahmat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi yang terkasih.”

Kata sun merupakan kependekan dari ingsun yang bermakna saya. Dalam bait pertamanya, tak lupa Mbah Sa’dulloh mengawali pembuatan syair sun ngawiti dengan menyebut dan memuji asma Allah. Ungkapan dalam bait pertama, memiliki makna dengan ungkapan basmallah dan hamdallah. Barangkali pengarang mengisyaratkan kepada pembaca syair, agar setiap menuntut ilmu hendaknya diawali dengan menyebut asma Allah, dan memuji asma Allah. Tidak lupa pula agar selalu bershalawat kepada Muhammad Sang Kekasih.

Ungkapan di atas  menunjukan betapa sayang dan cintanya beliau terhadap baginda Nabi. Sehingga, dalam bait tersebut, memuat dimensi keilahian (ketuhanan) dan dimensi profetik (kenabian). “Opo dene wargo dalem lan sohabat, sarto kabeh wong kang tresno lan kang tongat”. Artinya, “Begitu juga keluarganya, para sahabat nabi, serta semua orang yang cinta kepadanya dan taat.” Bukan hanya Nabi saja, akan tetapi, keluarga, para sahabat dan orang yang cinta terhadapnya didoakan mendapat rahmat dari Allah. Bait syair ini ditujukan kepada orang-orang yang menuntut ilmu agar senantiasa mengawali segala aktifitasnya dengan menyebut asma Allah dan bershalawat kepada Nabi. Dalam syair sun ngawiti juga terdapat seruan untuk mencari ilmu yakni, “Ayo konco podo mlebu ing madrasah, nggolet ilmu aja wedi susah payah.” Artinya, “mari teman masuk madrasah, mencari ilmu jangan takut susah payah.” Bait ini sesuai dengan hadits Nabi yakni ”mencari ilmu wajib bagi setiap orang Islam.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabrani, Abu Ya’la, Al-Qudha’i dan Abu Nu’aim Al-Ashbahani). Mencari ilmu sama halnya dengan berjihad di jalan Allah. Di dalam mencari ilmu, terdapat banyak rintangan yang harus dilalui bagi thalib agar mencapai ma’rifat.

Dalam mencari ilmu, seorang thalib akan dihadapkan dengan berbagai kesusahan. Orang yang menuntut ilmu akan mengorbankan banyak waktunya seperti untuk bermain, bersantai, berlibur dan berbagai waktu yang sifatnya menyenangkan. Namun, hal itulah yang harus dibayarkan apabila thalib menginginkan suatu hasil maksud dari ilmu. Sesuai dengan maqolah Imam Syafi’i, “Apabila engkau tidak mampu menahan beratnya mencari ilmu, maka engkau akan menanggung kepedihan akibat kebodohanmu.” Maqolah tersebut sepadan dalam bait syair sun ngawiti yang berbunyi nggolek ilmu ojo wedi susah payah. Menuntut ilmu tidak mengenal batas waktu, sebagaimana perkataan ulama salaf “menuntut ilmu itu dari ayunan sampai ke liang kubur.”

Batas berakhirnya seseorang mencari ilmu yakni kematian. Refleksi inilah yang kemudian melatarbelakangi Mbah Sa’dulloh menciptakan bait dalam syair sun ngawiti yang berbunyi Mumpung kito durung kasep ing wektune, yen wis kasep ora guna pigetune. Artinya, “Selagi kita masih belum terlambat, jika terlambat akan menyesal tiada tara.” Ada pepatah yang mengatakan bahwa belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, sedangkan belajar di waktu senja bagaikan mengukir di atas air. Menuntut ilmu itu mudah, hendaknya dilakukan ketika masih kecil mumpung durung kasep dan juga mumpung jembar dalanane. Karena waktu kecil merupakan waktu yang luang, belum ada kesibukan yang mengganggu dalam menuntut ilmu, sehingga untuk berpikir itu jembar.

Refleksi inilah yang kemudian melatarbelakangi Mbah Sa’dulloh menciptakan bait dalam syair sun ngawiti yang berbunyi Mumpung kito durung kasep ing wektune, yen wis kasep ora guna pigetune. Artinya, “Selagi kita masih belum terlambat, jika terlambat akan menyesal tiada tara.”

Dalam bait selanjutnya, “Nggolet ilmu iku dawuhe njeng rosul, mulo wajib kito reti serto qobul.” Artinya, “mencari ilmu itu merupakan perintah dari Nabi, maka wajib bagi kita sekalian untuk paham”. Bait ini merupakan pengejawantahan atas hadits Nabi tentang kewajiban mencari ilmu bagi setiap muslim. Rupanya Mbah Sa’dulloh secara implisit memberikan stimulus terhadap  murid atau bahkan pembaca syair untuk bersemangat mencari ilmu, karena pada hakikatnya perintah mencari ilmu berasal dari Nabi. Ilmu yang dipelajari harus tahu akan substansinya (reti serto qobul).

Syarat agar mampu menempati maqom yang mulia dalam mencari ilmu, menurut Kyai Sa’dulloh seperti dalam syairnya yakni “Ojo nganti kito mampang ing panutan, rino wengi isuk sore manut setan.” Artinya, “Jangan sampai kita menuruti hawa nafsu, siang malam pagi sore ikut setan.” Nafsu dalam diri manusia selalu ada dan mengarah kepada keburukan. Karena, pada dasarnya, nafsu itu bersumber dari jasmani dan pikiran. Apabila nafsu itu dituruti pasti tak akan ada habisnya. Badan dan pikiran manusia itu picik, hanya memberikan tawaran yang semu berupa kesenangan sesaat. Badan dan pikiran manusia selalu membohongi diri sendiri dengan mengajak manusia untuk bersenang-senang padahal itu hanya kesenangan sesaat saja yang tidak langgeng.

Agar tidak terbawa oleh bujuk rayu setan, hendaknya manusia menuruti suara batinnya. Karena suara batin manusia selalu jujur dan akan membawa kepada kesenangan yang hakiki. Bujuk rayu setan akan selalu mengarah kepada kerusakan. Mbah Sa’dulloh mencandrakan perilaku setan dalam larik bait sun ngawiti berupa “Ngertiyo yen setan iku ngrusakake, ngalor ngidul ngetan ngulon nasarake.” Setan akan selalu menggoda manusia selama di dunia. Karena hal inilah yang menjadi tugas setan saat di dunia dengan mencari sebanyak-banyaknya teman dari golongan manusia. Agar terhindar dari segala bujuk rayu setan, maka manusia harus memposisikan setan sebagai musuh yang utama. Setan juga menggoda manusia yang sedang mencari ilmu (wong sinau). Karena, pada dasarnya setan tidak sudi melihat manusia sukses di dunia, keinginan setan hanyalah menjerumuskan manusia. Mbah Sa’dulloh dalam larik bait sun ngawiti mewanti-wanti kepada orang yang belajar yakni “Wong sinahu wajib sregep lan tumemen, ojo maju mundur noleh ngiwo nengen.” Artinya, “orang yang sedang belajar harus rajin dan bersungguh-sungguh, jangan maju mundur lihat kanan kiri.”

Dalam segala usaha apapun, kesungguhan menjadi kunci utama kesuksesan. Dengan mengutip pada pepetah Arab man jadda wa jada (barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan mendapatkannya). Menghadapi zaman yang disruptif (tercerabut) seperti ini memang banyak godaan dalam mencari ilmu. Dibutuhkan sebuah kesungguhan ekstra agar tetap konsisten (ojo maju mundur noleh ngiwo nengen) dalam belajar. Jadi, Mbah Sa’dulloh menulis sendiri larik bait sun ngawiti ini sesuai dengan perasaannya sendiri. Atas dua larik bait ini, saya menyimpulkan bahwa ini ungkapan optimismenya yang telah merasakan buah dari proses belajar (ngaji). Dalam berkelana mencari ilmu, halangan dan rintangan pasti ada. Mbah Sa’dulloh menghadapinya dengan kesabaran dan tawakal. Sebagaimana dalam larik bait sun ngawiti yang berbunyi “Sabar tawakal ngadepi kasengsaran, pasrah kabeh pakewuhe ing pangeran. Kuwat nandang werna-wernae rintangan, opo dene kurange sandang lan pangan.” Artinya, “Sabar tawakal dalam menghadapi kenestapaan, pasrahkan semuanya kepada Allah. Kuat menghadapi berbagai rintangan walaupun kekurangan pakaian dan makanan.”

Sebagaimana dalam larik bait sun ngawiti yang berbunyi “Sabar tawakal ngadepi kasengsaran, pasrah kabeh pakewuhe ing pangeran. Kuwat nandang werna-wernae rintangan, opo dene kurange sandang lan pangan.” Artinya, “Sabar tawakal dalam menghadapi kenestapaan, pasrahkan semuanya kepada Allah. Kuat menghadapi berbagai rintangan walaupun kekurangan pakaian dan makanan.”

Berbekal jiwa sabar, pola berpikir mandiri dan sikap mental tawakal, wong sinau memasrahkan dirinya hanya kepada Allah. Wong sinau wajib meyakini pernyataan Allah. Misalnya, “Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (Q.S al-Baqoroh ayat 153), “Barang siapa bertawakal kepada Allah, Ia berjanji akan membimbingnya dengan perhitungan-Nya.” (Q.S al-Hud ayat 56). Ke manapun wong sinau berada, akan dijaga keselamatannya. Tawakal bermakna kita mewakilkan, memasrahkan semua urusan kita kepada Allah, urusan kita pasti akan diselesaikan oleh-Nya. Senada dengan bunyi bait dalam syair sun ngawiti, “pasrah kabeh pakewuhe ing pangeran, Kuwat nandang werna-wernae rintangan, opo dene kurange sandang lan pangan.” Allah juga memberi pernyataan terhadap orang yang bertaqwa, misalnya, “Barang siapa bertaqwa kepada Allah maka, ia akan melindunginya dan memberi jalan keluar atas masalah yang menimpanya.” Dan bahkan, “menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka” (Q.S at-Talaq ayat 3). Jadi, kurange sandang lan pangan adalah bentuk ujian dari Allah kepada orang bertakwa supaya sabar dan tawakal.

Ngelmu Sebagai Jalan Ketuhanan

Bagi wong sinau, mencari ilmu harus menjadi skala prioritas dalam hidupnya. Sebab ilmu akan memberi cahaya (kemuliaan) terhadap pemilikinya sebagaimana ungkapan al-ilmu nuurun (ilmu adalah cahaya). Cahaya ilmu inilah yang menuntun manusia menuju jalan lurus (shirat al-mustaqim) yang bermuara kepada kebahagian. Meminjam istilah dalam syair sun ngawiti,”ilmu iku tondho-tondhone kabejan, saka Allah uga juga tengere karidloan.” Artinya, “ilmu itu menjadi tanda-tanda kebahagian dari Allah dan tanda keridhoan Allah.” Misalnya, seperti kisah Nabi Sulaiman yang diberi pilihan oleh Allah untuk memilih harta atau ilmu. Pilihan Nabi Sulaiman memutuskan ilmu dibanding harta. Dengan ilmu yang dianugrahi oleh Allah, Nabi Sulaiman mampu berbicara dengan hewan, mampu membangun istana yang megah dan menjadi raja. Dalam bait selanjutnya, Kyai Sa’dulloh mendefiniskan ilmu dalam syair sun ngawiti ,” sebab ilmu mau wathone gondelan, tanpa ilmu kito sasar ing dedalan.” Artinya, “karena pada dasarnya ilmu adalah petunjuk, tanpa ilmu kita akan tersesat.”

Secara kebahasaan, ilmu berasal dari akar kata ‘ilm yang diartikan sebagai tanda, penunjuk, atau petunjuk agar sesuatu atau seseorang dikenal. Demikian juga ma’lam, artinya tanda jalan atau sesuatu agar seseorang membimbing dirinya atau sesuatu yang membimbing seseorang. Selain itu, ‘alam juga dapat diartikan sebagai penunjuk jalan. Kata ilmu dengan berbagai bentuk terulang 854 kali dalam al-Quran. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. Dalam pandangan al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan (Q.S al-Baqarah [2]: 31-32).

Ilmu yang melekat dalam diri seseorang, akan menjadi petunjuk/tanda tatkala diamalkan. Buah dari pengamalan ilmu menjadikan si pemiliknya selamat dari kesesatan di dunia. Kemudian Kyai Sa’dulloh menyerukan agar lebih giat lagi dalam menuntut ilmu, dalam syair sun ngawiti berbunyi “mulo ayo kito kabeh bebalapan, ngudi ilmu ojo nganti kekasepan.” Artinya, “mari kita berlomba-lomba mencari ilmu jangan sampai terlambat.” Hal ini merupakan bentuk stimulus semangat kepada wong sinau agar mencari ilmu dengan sungguh-sungguh. Beliau menyerukan fastabiqul khoirot dengan kalimat ayo kito bebalapan ngudi ilmu (berlomba-lomba mencari ilmu). Mencari ilmu merupakan hal yang wajib bagi kaum muslimin sebagaiman sabda Nabi, “apabila seseorang mampu menuntut ilmu, maka besar pahala yang didapatnya” (HR.Muslim: 7028).

Selagi masih berada di dunia, manusia wajib menyiapkan amal kebajikan sebagai bekal di kehidupan akhirat. Kehidupan dunia teramat singkat. Orang Jawa mengistilahkannya sebagaimana wong mampir ngombe (orang yang berhenti untuk minum). Dunia merupakan ladang akhirat, maka pergunakanlah sebaik-baiknya agar nanti pulang ke akhirat membawa bekal yang banyak. Mbah Sa’dulloh mengkiaskan kehidupan manusia di dunia sebagai orang yang ngumbara (berkelana). Dalam syairnya Kyai Sa’dulloh berucap “Elingo yen kito kabeh mung ngumbara, liyo wektu mesti sowan ing bendoro.” Artinya, “ingatlah bahwa kita hidup di  dunia sebagai pengembara, suatu saat pasti akan pulang ke hadapan Allah.” Oleh karenanya, kita hanyalah tamu yang mampir ngombe dalam mengembara mencari rumah untuk pulang. Kita ngombe untuk menyesap pengetahuan hidup sebagai bekal untuk perjalanan dan pengembaraan itu sendiri. Dalam bait ini, saya terbawa ke dalam term ilmu yang menurut istilah orang Jawa ilmu sangkan paraning dumadi.

Oleh karenanya, kita hanyalah tamu yang mampir ngombe dalam mengembara mencari rumah untuk pulang. Kita ngombe untuk menyesap pengetahuan hidup sebagai bekal untuk perjalanan dan pengembaraan itu sendiri. Dalam bait ini, saya terbawa ke dalam term ilmu yang menurut istilah orang Jawa ilmu sangkan paraning dumadi.

Kata sangkan paraning dumadi, berasal dari bahasa Jawa sangkan berarti dari, paraning berarti arah tujuan, dan dumadi yang berarti kejadian. Sangkan paraning dumadi memberikan pengetahuan tentang dari mana asal kejadian ini dan  akan kemana akhirnya. Ilmu sangkan paraning dumadi erat dengan ajaran tasawuf mengenal diri sebagai upaya manusia untuk mengenal dan mendekat atau bahkan menyatu dengan tuhan (wahdatul wujud atau manunggaling kawula gusti). Dalam ajaran tasawuf, orang harus mengenal lebih dulu tentang dirinya sendiri. Katanya “Bagaimana bisa dia mengenal Tuhan, sedangkan terhadap dirinya sendiri dia belum kenal?”. Karena itu katanya pula: “Kenalilalah dirimu dulu, nanti kamu akan kenal kepada Tuhan.

Kehidupan dewasa ini telah membawa manusia menjadi materialistis. Manusia modern sudah lupa akan jati diri yang sebenarnya (sangkan paran), dan secara tidak sadar telah menjadi budak modernitas yang membelenggu jiwanya. Dari sinilah kompleksitas toxic yang mencemari kemanusiaan dimulai. Secara kolektif manusia modern mengalami gejala keterasingan jiwa (alienasi) atau keterbelahan jiwa (split personality). Manusia modern rindu akan nilai-nilai universal, yaitu nilai-nilai ketuhanan yang dibawanya sejak ia diciptakan. Dalam konteks yang demikian, pengaruh berupa modernitas dan teknologi industri tidak bisa tidak telah memicu hilangnya kefitrahan manusia. Tidak adanya pengetahuan tentang Allah mengakibatkan ketidaktahuan tentang dirinya sendiri dan kemaslahatan serta apa yang membersihkan dan mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya di dunia dan di akhirat kelak.

Mbah Sa’dulloh dalam bait terakhir sun ngawiti memberikan sebuah rumusan dalam menghadapi situasi zaman yang tidak menentu seperti ini. Sebagaimana dalam syairnya, “temen-temen kudu eling ojo lali, mbok menawa siro bisa dadi wali.” Artinya, “teman-teman harus ingat dan jangan lupa, siapa tahu anda bisa jadi wali.” Situasi zaman seperti ini, jika meminjam istilah dari pujangga Ronggowarsito dinamakan zaman edan. Melalui serat kalathida yang terdiri dari 12 bait, Ronggowarsito mengemukakan situasi zaman edan. Zaman edan menurutnya, zaman atau masa yang serba tidak jelas, rusak, penuh dengan kekhawatiran dan ragu-ragu untuk bertindak. Dalam serat kalathida, dijelaskan tentang hal-hal yang dapat kita perbuat dalam menghadapi zaman edan. Menurutnya, dalam menghadapi zaman edan, seseorang harus memiliki sikap eling lan waspada (sadar dan waspada). Kita dituntut untuk dapat selalu eling lan waspada. Eling berarti kita senantiasa sadar untuk berbakti kepada Tuhan. Salah satu caranya adalah selalu berzikir kepada tuhan dimana pun kita berada, baik itu sedang duduk, sedang dalam perjalanan, sedang berdiri, sedang tiduran, maupun sedang bekerja.

Waspada berarti mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Kita senantiasa diberi weweka kehati-hatian dapat membedakan mana emas dan tanah liat, mana berlian dan mana batu pasir. Eling lan waspada merupakan output dari seorang yang bertaqwa. Ciri dari orang yang bertaqwa adalah adalah eling dalam menjalankan apa yang diperintahkan dan mewaspadai akan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Siklus dari sikap eling lan waspada akan berwujud terhadap kemulian individu di hadapan Allah, yang oleh Mbah Sa’dulloh diterjemahkan mbok menowo siro bisa dadi wali (siapa tahu bisa menjadi wali). Abu Na’im al-Ashfahaniy dalam Hilyat al-Awliya’ memaknai wali sebagai orang-orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah, mereka terjaga dari fitnah zaman dan hidup fakir, dalam artian tidak hidup dalam tirani syahwat. Mereka adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Allah. Mereka orang yang paling dimuliakan Allah setelah nabi dan rasul.

Ruap-ruap makna syair sun ngawiti karya Mbah Sa’dulloh memiliki kontekstualisasi dalam perkembangan pendidikan hari ini, khusunya pendidikan Islam. Pertama, hakikat ilmu untuk membuka tabir atau rahasia ketuhanan yang sublim. Sehingga, manusia bisa memposisikan diri sebagai hamba paripurna. Kedua, kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw menjadi ekspresi religius yang sakral. Kanjeng Nabi menjadi simbol akhlak dan perikemanusiaan agung. Ketiga, pentingnya guru dan proses yang panjang dalam memperoleh ilmu (etos dan logos). Keempat, revitalisasi moral dan etika di era modern, berdasarkan tradisi. Dengan demikian, syair sun ngawiti menjadi media refleksi dan sublimasi dalam menerapkan proses belajar yang bijaksana dan estetik. Secara kualitatif, pesantren menjadi kawah candradimuka untuk menerapkan dan mengimplementasikan model pendidikan demikian, meskipun, tidak menutup kemungkinan, sekolah formal membangun konsep pembelajaran berbasis tradisi atau budaya.

Chubbi Syauqi
lahir di Banyumas, 1 Maret 2000. Dia tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Tarbiyah, Prodi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Purwokerto. Dia tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan (HMJ MPI), dan tergabung dalam anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), serta terdaftar sebagai anggota Sastra Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto.